Minggu, 25 Juli 2010

Sakit Hati Berbuah Penemuan Jati Diri

Sembilan tahun yang lalu... yup! sembilan tahun yang lalu!!! Masih tergambar jelas di benak gw... sebelum sembilan tahun yang lalu...di gereja gw termasuk aktivis yang dihormati dan dekat dengan aktivis-aktivis lainnya. Sebagai senior gw juga ga menjaga jarak dengan junior. Maka ga heran kalo gw bisa dekat dan akrab dengan generasi-generasi yang jauh dibawah gw. generasi demi generasi datang dan berlalu... sampai akhirnya datanglah satu generasi. Generasi terakhir aktivis gereja yang dekat dan mengisi hidup gw.

Setelah gw sukses menjadi ketua umum panitia natal, yang cukup besar-besaran dan menghabiskan dana yang tidak sedikit (sebelumnya ga pernah ada terobosan semacam ini di gereja gw). Sabtu pagi, di Bulan Januari tahun 2000, datanglah 5 orang anak laki-laki baru gede usia 15-16 tahunan ke rumah gw. Mereka tergabung dalam sebuah kelompok band. Mereka meminta gw membimbing dan menjadi manajer band mereka. Karena gw juga menyukai dunia musik, gw pun setuju. Even sebenernya ini proyek yang tidak menghasilkan uang, malah gw yang sering nombokin kekurangan budget mereka.

Semua jadwal latihan gw susun, disesuaikan dengan kegiatan dan kesibukan setiap personilnya. Untuk meningkatkan tekhnik bermusik, gw mewajibkan tiap personil untuk mengambil les musik. Pemain bass, drum, dan gitar berasal dari keluarga menengah sehingga tidak ada kendala mengambil kursus di tempat les musik terkenal. Sedangkan vokalis dan pemain keyboard berasal dari keluarga pas-pasan. Gw ga mau memberatkan mereka. Untuk pemain keyboard, gw meminta sahabat gw untuk memberi les privat gratisan, sedangkan untuk vokalis gw sendiri yang memberikan bimbingan tekhnik vokal.

Gw secara langsung membimbing dan memantau setiap kegiatan mereka. Mulai dari latihan, mengikuti festival, rekaman demo, sampai dengan kegiatan manggung (di acara pensi, di cafe, di kampus-kampus, acara wedding, termasuk bikin konser kecil-kecilan dll.).

Bersama berjalannya waktu, gw makin dekat dengan personil grup band ini, terutama sang keyboardis, sebut saja namanya Rio dan sang vokalis, sebut saja namanya Oscar. Mereka tak segan-segan berkeluh kesah tentang masalah pribadi mereka kepada gw.

Sejak bayi Rio hanya dirawat dan dibesarkan oleh neneknya, kedua orangtuanya bercerai ketika dia masih dalam kandungan. Kedua orangtua kandung Rio memilih untuk menikah lagi dan hidup bahagia dengan keluarga barunya. Tak heran kalo Rio menyimpan luka dan sakit hati kepada kedua orangtuanya, karena merasa telah dibuang dan disia-siakan. Seumur hidupnya Rio tidak pernah bertemu dengan ibunya. Kalo ayahnya masih suka sesekali datang ke rumahnya.
Gw berinisiatif mempertemukan Rio dengan ibunya. Perjuangan yang panjang dan penelusuran jejak, akhirnya membuahkan hasil alamat lengkap rumah sang ibu. Gw mengantarkan sendiri Rio ke rumah ibunya. Jarak yang jauh dengan beberapa kali naik angkutan umum tak menyurutkan langkah Rio untuk menemui ibunya. Namun apa mau dikata, bukan pertemuan penuh haru dan derai air mata bahagia yang terjadi. Tapi Rio hanya mendapat sambutan datar dan dingin dari sang ibu. Diruang tamu yang berantakan dengan sofa usang gw menjadi saksi hidup pertemuan Rio dan ibunya.
“Kenapa ga telpon dulu kalo kamu mau datang kesini?! Kalo papinya Roy tau kamu kesini, Mama bisa berabe!! Bisa jadi masalah besar, tau!!! Apa lagi keuangan keluarga mama lagi morat-marit gini!!!” Sahut ibunya.
“Oohh... maaf Ma, kalo kedatangan Rio sudah mengganggu... ” Nada suara Rio tergetar menahan sesak di dada.
"Gpp sih, tapi kamu harus ngerti. Sekarang Mama sudah punya keluarga baru. Jadi Mama ga bisa seenaknya bertindak semau Mama, Rio.” Lanjut ibunya.
“Ya, udah Ma, Rio pamit pulang aja...” Rio berusaha mengendalikan emosinya.
“Maaf ya Rio, Mama ga bisa ngasih kamu uang.”
“Mama! Rio kesini bukan mau minta uang..!! Rio Cuma pengen ketemu sama Mama...” Kata Rio mempertegas setiap kata yang dia ucapkan.
“Kak Farrel, kita pulang aja...” lanjutnya, mengajak gw segera beranjak dari tempat itu.
Pertemuan sesaat, yang tak sampai memakan waktu 15 menit itu, hambar, suram dan hampa... Menorehkan luka yang semakin dalam di bathin Rio.

Tanpa ada segelas air sebagai suguhan, tanpa ada tangis haru, bahkan tanpa senyuman ramah seorang ibu menyambut anaknya yang sudah belasan tahun tak pernah bertemu...
Disana kami hanya mendapatkan senyuman dan sapa ramah seorang gadis idiot, adik tiri Rio. Terbuat dari apakah hati ibunya Rio? Bahkan rasa rindu anak yang keluar dari rahimnya pun tak mampu meluluhkan hatinya...

Oscar juga berasal dari keluarga yang tak kalah berantakan. Bapak dan ibunya sering kawin cerai. Berkali-kali mereka telah kawin cerai dengan orang yang berbeda-beda. Oscar dibesarkan oleh ibunya yang telah menikah lagi. Oscar mempunyai 1 orang kakak laki-laki lain bapak, dan 4 adik lain bapak juga. Sang bapak tiri yang masih terikat pernikahan dengan istri tuanya, menambah panjang daftar kerumitan masalah keluarganya.
Bapaknya Oscar memiliki masalah yang tak kalah rumit. 3 kali kawin cerai dan berakali-kali terlibat intrik-intrik perelingkuhan menambah kelamnya riwayat hidup sang bapak.

Kedekatan Rio, Oscar dan gw terjadi begitu saja. Mereka yang kehilangan figur orang tua, merasa telah menemukan figur itu didalam diri gw. Perbedaan umur 10 tahun antara gw dan mereka, bukan penghalang untuk membuat kami saling dekat. Gw bisa jadi sahabat, kakak, guru, bahkan jadi ayah buat mereka. Jujur, gw peduli dan sayang sama Rio dan Oscar hanya sebagai kakak. Tanpa maksud dan niat buruk sedikitpun. Tidak ada bumbu-bumbu nafsu kotor yang menodai hubungan gw dan mereka. Walaupun mereka sering menginap dan tidur disamping gw, tak pernah sekali pun gw menyentuh dan memperdaya mereka.

Gw memang sudah lama sadar kalo gw merasa lebih tertarik dengan fisik sosok laki-laki. Tapi gw belum mengerti dan belum berani terjun ke dunia gay. Namun perasaan suka terhadap sesama jenis itu tak pernah sedikitpun gw lampiaskan kepada Rio dan Oscar. Sekali lagi gw menegaskan hubungan gw, Rio dan Oscar murni karena gw care sama mereka. Tak lebih!!

Hubungan kami yang semakin dekat, menimbulkan fitnah. Mungkin karena perbedaan umur yang jauh dan status gw yang tidak memiliki istri ataupun pacar, membuat salah satu tantenya Rio berpikiran negatif. Rossa, tantenya Rio sering menginterogasi Rio dan Oscar. Dia menyuruh Rio dan Oscar menjauh dari gw. Berkali-kali Rossa mengingatkan agar Rio dan Oscar tidak usah berhubungan lagi dengan gw. Berkali-kali juga Rossa mengintimidasi Rio dan Oscar, seakan-akan gw sosok srigala homo yang siap melahap mereka. Masalah ini memang tidak mencuat keluar. Dengan terang-terangan Rio dan Oscar membela gw.

“Kak Farrel, maaf ya kalo kami jadi membebani Kakak dengan masalah baru. Tante Rossa emang gitu, suka curigaan dan parno sendiri. Tenanglah Kak, Rio jauh lebih percaya sama Kakak daripada Tante Rossa. Rio yakin Kakak orang yang sangat baik dan ga mungkin mencelakakan kami”. Kata Rio meyakinkan gw. Gw hanya tersenyum pahit.
“Bener Kak, Oscar juga sangat percaya sama Kakak! Kami sangat sayang sama Kakak!” tambah Oscar membangun kembali kepercayaan diri gw, yang sempat diobrak-abrik kecurigaan Rossa.
Lalu meraka memeluk gw, sebuah pelukan sayang kepada kakaknya.
“Trust me! Kakak janji, ga akan menyia-nyiakan kepercayaan kalian berdua”.

Masalah gw dengan Rio dan Oscar memang selesai, tapi berbuntut rasa sakit hati yang masih lekat dan tertinggal di benak gw, dicurigai homo oleh Rossa. Padahal sudah 25 tahun gw menyimpan rasa itu. 25 tahun gw menahan diri tidak jatuh kedalam kelamnya dosa homoseksual. 25 tahun pula gw menjaga kesucian jiwa dan raga gw dengan menjadi orang yang relijius. Jujur, kerelijiusan gw itu bukanlah sebagai topeng, tapi sebuah sublimasi agar gw fokus dan tidak memikirkan keinginan nafsu ragawi gw.

Gw sedih dan kecewa. Ternyata perjuangan gw selama ini sia-sia. Gw menyerah. Gw hanya ingin lebih meyakinkan diri gw. Apakah gw ini gay atau bukan? Boleh percaya atau tidak, gw baru menonton blue film hetero juga setelah gw berumur 25 tahun.

Tahun 2001, warnet marak bermunculan. Gw mulai sering surfing dan browsing mencari informasi tentang dunia gay. Lewat searching di altavista dan hotbot (waktu itu gw belum tahu google). Gw akhirnya menemukan situs pertemanan gay: www.gayaddress.com dan www.guystats.com. Di situ-situs itulah gw mulai berkenalan dengan sesama gay, dan merasakan pengalaman untuk pertama kalinya berhubungan seks. Lalu dari kenalan-kenalan gay itulah, gw jadi tahu channel G*M di mirc, yang semakin lebar membuka mata gw tentang dunia gay.

Itulah kisah bagaimana gw menemukan jati diri dan mulai terjun ke dunia gay. Sejak itu gw semakin yakin kalo inilah pilihan hidup gw. Usia 25 tahun, mungkin termasuk usia yang sangat terlambat untuk meletek. Tapi gw belajar cepat, dan gw tancap gas mengejar semua ketertinggalan gw. I love my gay world!!!

Conclusions:
Langkah awal memang penting, tapi langkah akhirlah yang menentukan. Nikmatilah setiap langkah demi langkah hidup kita, temukan jati diri, dan jangan ada penyesalan.

12 komentar:

  1. saya selalu suka bagian conclusion-nya. menemukan jati diri sendiri dan hidup nyaman dengan itu adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidup ini.

    selamat hidup terus dalam dunia yang kamu temukan...

    BalasHapus
  2. @Apisindica: thx bro, aku juga suka tulisan" kamu, always give something new and inspired me...

    BalasHapus
  3. Lho... Umur 25 baru mulai ya? lah aku malah mulai umur 26, sebelumnya sih ya cuman maju mundur gitu deh.

    BalasHapus
  4. Well, kadang menyebalkan juga ya kalau dicurigai yang enggak-enggak. Setidaknya, dengan menemukan jati diri jadi berasa lebih nyaman....

    BalasHapus
  5. ini dia sejarahnya si farrel dari mulai cupu ampe mletek hahaha :p

    BalasHapus
  6. Bentar! Bentar! Crita barusan adalah Rio ma oscar waktu farrel blom coming out. Lha skarang mereka gmn? Kok tulisannya berhenti? Kok conclusionnya cuma di proses farrel ambil langkah pertama sampe menikmati hidup gaynya?? Lha soal nasib dua ponakan farrel tadi?? Conclusion dari nasib ponakan yang broken home gimana?? Ahhhhh.....kurang panjang ceritanya. Jadi kayak ejakulasi yang terputus!!!!!!

    BalasHapus
  7. @Bedjo: wah artinya kita sama" telat meletek ya? he he he... masih penasaran dengan maksud 'maju mundur' kamu wkwkwkwk...
    @Zhou Yu: Betul bro, dicurigai padahal kita ga ngelakuin hal" aneh memang menyakitkan. tapi berusaha mengambil hikmahnya aja, tanpa dia mungkin gw ga akan meletek" he he he...
    @Cah Angon Singo: akhirnya kebongkar juga ya he he he... kalo ga melewatkan setiap postingan ge, pasti km bakal tau gw secara utuh wkwkwk...
    @BaS: Rio & Oscar cuma kisah yang melatarbelakangi gw coming out, mereka tidak terlibat langsung proses meleteknya gw. sekarang mereka kerja di luar kota, gw udah jarang banget ketemu sama mereka. biarlah mereka tau gw sebagai gw yang dulu he he he...

    BalasHapus
  8. Moga Rio dan Oscar tlah menemukan kebahagiaanya sekarang.

    Baik banget ma orang kak, Lanjutkan selalau sikap kakak itu ya :) Q kan jadi pendukun setianya :)

    BalasHapus
  9. @cloud: amiiin, doain aja ya, agar aku jadi orang yang konsekuen untuk terus berusaha melakukan hal-hal baik.

    BalasHapus
  10. Farrel, gw juga sama kok seperti lo.
    Gw baru meletek di usia gw yg masuk 24 hampir 25 thn saat itu.

    Mungkin emang terbilang telat, tp menurut gw itu worth it. Mungkin kalo gw meletek lebih dini, lebih banyak masalah yg akan gw hadapi, yg belum tentu gw sanggup hadapi saat itu.

    Btw, boleh minta YM lo??

    BalasHapus
  11. Sipp, entar ku doakan slalu :)

    BalasHapus
  12. @Grey_S: iya gw setuju bro. telat ga masalah, yang penting bisa tancap gas mengejar ketertinggalan wkwkwkwk... YM-nya barusan udah gw add kok bro...
    @Cloud: siiip, thx ya...

    BalasHapus