Tampilkan postingan dengan label tahun baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tahun baru. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Januari 2013

Daaagggg... Jamur!!!



Ga ada yang spesial yang gw alami di malam penghujung tahun 2012 kemaren. Hujan yang terus-menerus mengguyur Bandung membuat gw malas pergi-pergian. Ditambah lagi hampir seluruh wilayah Bandung mengalami gelap gulita karena padamnya aliran listrik PLN (di daerah tempat gw tinggal, lampu padam dari pukul 19:00-21:30 WIB, katanya di wilayah lain ada yang baru terang lagi setelah pukul 23.00 WIB. Hal itu membuat gw dengan senang hati menarik selimut dan tidur lebih awal. Jadi malam tahun baruan kemaren gw ga sempet liat kembang api, boro-boro barbeque-an mah he he he... Gw hanya mendengar suara jedar jedor kembang api dan suara sember terompet dari balik hangatnya selimut. Itu pun hanya sebentar, coz gw keburu tewas gara-gara terserang kantuk...


Begitu juga tanggal 1 Januari, gw memutuskan ga pergi keluar rumah. Beberapa teman sih ada yang ngajak jalan, tapi gw lagi pengen di rumah aja. Gw hanya ingin menuntaskan pekerjaan rumah yang tertunda. Pekerjaan apaan tuh? Nah ini dia ceritaku, mana ceritamu?... lho?? Kok kaya iklan? wkwkwk...

O ya, gw belom cerita ya kalo gw udah 3 bulanan pindah rumah. Sekarang gw tinggal di sebuah rumah mungil dengan ibu gw. Uang gw cuma cukup membeli rumah ini. Sebuah rumah yang sederhana memang, tapi gw merasa jauh lebih betah disini.

Satu bulanan terakhir, hampir sepanjang siang dan malam Bandung selalu diguyur hujan. Sebelum hujan turun, udara serasa panaaaaas dan bikin gerah, lalu berubah menjadi dingiiiiin setelah hujan mengguyur. Hal itu membuat udara di dalam ruangan menjadi lembab. Dan efeknya, lemari pakaian dan dan rak buku di kamar gw diserang jamur. Kebetulan lemari dan rak buku gw terbuat dari bahan partikel blok yang katanya emang rentan terhadap udara lembab. Jamurnya seperti serbuk dan berwarna putih. Ada yang tumbuh membentuk lingkaran ada juga yang tumbuh ga beraturan.

Jamur di rak buku
Jamur di lemari 1
Jamur di lemari 2
Jamur di lemari 3

Awalnya gw hanya lap aja dengan kain kering. Tapi 2-3 hari kemudian timbul lagi. Akhirnya gw googling, dan dapatlah tipsnya yaitu lemarinya harus dilap dengan kain yang telah dibasahi dengan alkohol. Untuk mendapatkan alkohol, gw sampe harus keluar masuk toko bahan kimia berkali-kali (pada ga mau ngasih, disangka buat mabok kali ya? he he he...). Akhirnya gw dapet juga di sebuah toko bahan kimia di daerah Gardujati. Sebenernya gw nyari alkohol yang diatas 90% (sesuai dengan tipsnya), tapi gw hanya bisa membawa pulang alkohol 70% seharga Rp 52.500,-/liter. Sesampai di rumah gw keluarin semua isi lemari dan basmi tuh jamur pake alkohol biar mabok wkwkwk... tapi yang ada malah gw yang berasa mabok he he he... Tapi ternyata beberapa hari kemudian jamur-jamur sialan itu bermunculan kembali. Bener-bener jamur yang menyebalkan!! Gw benci jamur-jamur keparat itu. Kalo jamur punya cowok sih gw sukaaaaaa bangeeeeet!!! ha ha ha...

Alkohol 70%

Trus gw makin rajin googling lagi, cari cara paling efektif membasmi jamur-jamur itu. Gw ga mau kalo dibiarin terus, tar jamur-jamur itu bisa merusak pakaian-pakaian dan koleksi buku-buku gw. Lewat mbah google, akhirnya gw dapat tips membasmi jamur itu, dengan cara melapisi lemari-lemari itu dengan cairan finishing buat furniture yang mengandung melamin.

Tanggal 31 Desember 2012 gw mencari bahan-bahan itu di sebuah supermarket bahan bangunan. Sengaja belanja di sana biar bisa lebih jelas dan dapat barang yang tepat untuk membasmi jamur. Setelah tanya-tanya sama SPB yang lumayan unyu he he he... gw dikasih 2 pilihan: Mau cairan yang siap pakai yang bisa diaplikasikan dengan kuas, atau bahan yang terlebih dahulu harus dicampur dengan hardner plus thinner (yang ini tidak bisa memakai kuas tapi harus memakai alat semprot). Pilihan yang ke-2 harganya memang lebih murah, tapi lebih ribet dan gw harus beli alat semprot cat pula. Akhirnya gw memutuskan membeli pilihan yang pertama. Gw beli sekaleng Ultran Lasur seharga Rp 63.376,- plus sebuah kuas 1 inch Rp 2.900,-. Gw membeli yang Natural Gloss (pilihan lainnya ada yang dop dan semi dop). Gw sengaja memilih yang glossy biar gw bisa jelas ngelihat kalo ada yang terlewat oleh sapuan kuas.

Ultran Lasur
Kuas 1 Inch

Jadilah tanggal 1 Januari gw pakai buat acara basmi membasmi jamur. Pertama-tama tentu saja gw harus keluarin semua isi lemari 3 pintu dan isi dari 2 rak buku milik gw. Setelah itu, langsung gw lap menggunakan lap yang sudah dibasahi dengan alkohol. Dan pekerjaan memoles pun dimulai... O ya, terlebih dahulu gw ga lupa mengalasi lantai dengan kertas koran, supaya lantai terhindar dari cipratan cairan itu. Memoles 1  buah lemari tiga pintu dan 2 buah rak buku ternyata lumayan menguras tenaga.  Kurang lebih gw mengerjakannya selama 3,5 jam. Melelahkan memang, api gw lumayan enjoy ngerjainnya dan puas dengan hasilnya. 1 kaleng Ultran Lasur cukup buat melapisi sebuah lemari 3 pintu plus 2 buah rak buku milik gw. Lumayan irit kan? he he he...

Cairan itu memang cepat kering, tapi gw sengaja ngebiarin lemari dan rak-rak buku itu diangin-anginkan semalam supaya keringnya sempurna. Dan taraaaa... sekarang lemari dan rak buku gw bebas jamur dan menjadi konclong kaya baru beli he he he...

Dulu gw ga suka memasukkan kapur barus di lemari gw, coz gw ga suka baunya. Baunya suka bersaing dengan bau parfum gw. Tapi sekarang, gw harus pakai kapur barus buat jaga-jaga. Gpp lah baju jadi bau kapur barus, daripada rusak dan kekuningan gara-gara jamur.

Kapur Barus dengan background rak buku yang sudah kinclong

Selain memasukkan kapur barus, untuk menghindari kelembaban letakkan beberapa potong kapur tulis di tiap sudut lemari. Bisa juga sih meletakan produk anti lembab yang dijual di supermarket (tapi tentu saja harganya lebih mahal).

Semoga pengalaman gw ini bisa bermanfaat buat pembaca blog.

Conclusion:
Basmi jamur sesegera mungkin. Karena kalo dibiarkan selain mengganggu pemandangan dan merusak benda-benda kesayangan kita, juga bisa mengganggu kesehatan.

Selasa, 01 Februari 2011

Tradisi Imlek Dan Kenangan Tentang Papa

Sin Cia atau Tahun Baru Imlek 2562 sebentar lagi tiba. Kata Imlek (Im=bulan, Lek=penanggalan) berasal dari dialek Hokkian atau Bahasa Mandarin-nya Yin Li yang berarti kalender bulan (Lunar Newyear). Menurut sejarahnya, konon Sin Cia merupakan sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di China yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru.
Perayaan ini juga berkaitan erat dengan pesta menyambut musim semi. Perayaan imlek dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama atau yang lebih dikenal dengan istilah Cap Go Meh. Perayaan Imlek meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta/Thian (Thian=Tuhan dalam Bahasa Mandarin), dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari sembahyang Imlek adalah sebagai bentuk pengucapan syukur, doa dan harapan agar di tahun depan mendapat rezeki yang lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai media silaturahmi dengan keluarga dan kerabat.

Sin Cia seringkali mengingatkan gw kepada kenangan-kenangan gw waktu kecil. Terutama kenangan gw sama almarhum Papa, karena dialah yang memegang teguh tradisi imlek di keluarga gw.

Sehari sebelum Sin Cia, Papa selalu melakukan ritual sembahyang Imlek. Meja sembahyang dipenuhi oleh aneka makanan. Menurut tradisi, makanan itu ditujukan sebagai persembahan kepada leluhur.

Diatas meja persembahan selalu ada 2 lilin warna merah, dan mangkuk kecil diisi beras sebagai tempat untuk menancapkan hio (dupa). Dan berbagai jenis makanan, minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue-kue. O ya, jumlahnya yang 12 konon merupakan perlambang dari 12 lambang Shio. Setiap jenis makanan untuk persembahan, semuanya merupakan simbol dan mengandung arti tertentu.

Yang wajib ada diatas meja persembahan adalah
Samseng (artinya 3 macam daging kurban) terdiri dari 3 jenis hewan: ayam betina utuh yang diikat dan dibentuk tertentu, daging babi, dan ikan bandeng (semuanya hanya direbus). Samseng wajib ada sebagai simbol pengingat kepada manusia agar tidak meniru sifat-sifat buruk hewan tersebut:
Ayam melambangkan keserakahan (ayam kalo makan suka berpindah-pindah, sekalipun makanannya belom habis).
Babi melambangkan kemalasan (kerjaan babi cuma makan, tidur dan berkubang di lumpur).
Ikan bandeng melambangkan kelicikan (kulit ikan bandeng bersisik dan diumpamakan seperti ular yang merupakan lambang binatang licik/jahat). Tapi dalam referensi lain, Ikan bandeng dengan kilauan sisiknya, diartikan sebagai simbol kekayaan atau kemakmuran.

Berikut ini arti dari makanan lainnya yang wajib ada di meja persembahan beserta makna simboliknya:
-Kue keranjang; kue keranjang yang masih baru, biasanya teksturnya masih lengket. Itu menyimbolkan harapan agar keluarga selalu hidup rukun (lengket/erat satu sama lain). Kue keranjang disusun bertingkat-tingkat keatas, mulai dari yang besar hingga yang terkecil dan di puncaknya diletakan kue mangkok merah. Penyusunan kue keranjang ini melambangkan kehidupan manis yang kian menanjak dan merekah (seperti kue mangkok).
-Jenis buah-buahan yang wajib ada adalah seperti jeruk berkulit kuning (misalnya jeruk lokan atau ponkan) yang melambangkan kegembiraan. Akan lebih bagus yang masih ada daunnya, karena melambangkan kemakmuran yang akan tumbuh terus. Kemudian pisang raja atau pisang mas yang melambangkan mas atau kemakmuran. Dan ditambah aneka buah-buahan lainnya, tapi tidak boleh ada buah yang berduri seperti salak dan durian (kecuali nanas karena nanas melambangkan mahkota raja).
-Aneka kue dan manisan: agar di tahun yang baru hidup kita dipenuhi hal-hal yang manis dan membahagiakan.
-Kue lapis legit: sebagai perlambang datangnya rezeki yang berlapis-lapis dan saling tumpang tindih di tahun yang akan datang.
-Mie Goreng/kuah, bentuknya yang panjang melambangkan harapan supaya seluruh anggota keluarga berumur panjang.

Sedangkan hidangan-hidangan dan aneka masakan lainnya (yang super banyak itu) hanya sebagai pelengkap saja.

Jadi kalo disimpulkan seluruh makanan itu merupakan harapan di tahun baru mendatang, agar kehidupan keluarga: panjang umur, hidup rukun, makmur, selalu bahagia/gembira dengan rezeki yang tak ada habis-habisnya.

O ya, ada makanan yang sebaiknya dihindari untuk dihidangkan waktu sembahyang Imlek. makanan yang pantang dihidangkan waktu sembahyang Imlek adalah bubur, karena bubur melambangkang kemiskinan atau kesusahan... (siap-siap kabuuuur!!!! takut didemo para tukang bubur jiakakakak....).

Papa memulai ritual dengan berdoa sambil memegang hio yang menyala dengan kedua tangannya lalu mengacung-ngacungkan hio itu beberapa kali. Lalu menancapkan hio yang menyala itu di mangkuk berisi beras dan sebagian lagi ditancapkan didekat pintu rumah. Secara bergiliran semua anggota keluarga melakukan hal yang sama, cuma jumlah hio-nya lebih sedikit dan setelah selesai, hio-nya hanya ditancapkan di mangkuk berisi beras. Setelah beberapa lama, Papa kemudian melemparkan 2 uang coin. Kalo waktu jatuh, coin itu dua-duanya bergambar sama, artinya sang leluhur belum selesai bersantap. Dibiarkan beberapa saat, dan ritual lempar coin itu dilakukan lagi, dan lagi sampai kedua coin itu jatuh dengan gambar yang berbeda, yang menandakan ritual persembahan sudah selesai.

Setelah semuanya ritual persembahan selesai, saatnya membakar kertas sembahyang, yang bergambar warna emas dan yang bergambar warna perak (yang dilipat dengan bentuk tertentu) dan bergepok-gepok uang-uangan (uang akhirat dengan nominal yang gedenya bujubune!!! Ada yang nominalnya 600 juta lho... wuiiiihhh....). Yang artinya kita mengirimkan harta benda (emas, perak, dan uang) kepada leluhur.

Kertas Sembahyang

Uang Kertas Untuk Sembahyang

Setelah serangkaian ritual itu selesai, barulah anggota keluarga boleh bersantap. Kalo ada yang makan duluan, dianggap tidak tau sopan-santun dan tata krama menghormati leluhur (kadang gw sih secara sembunyi-sembunyi makan juga he he he...).

Dan keesokan harinya, Tahun Baru Imlek yang kami nanti-nantikan itu pun tiba. Yang artinya; saatnya kami menerima angpao alias amplop merah (ang=merah, pao=amplop) berisi uang. Tapi sebelum menerima angpao, kami harus melakukan Kiong Hie, mengucapkan selamat tahun baru kepada orangtua. Caranya dengan menyatukan dan mengepalkan dua tangan lalu menggoyang-goyangkannya (seperti salam para pendekar di film kungfu he he he...) didepan muka kami sambil bilang “Kiong Hie!” dan dapatlah angpao-angpao itu sebagai salam tempel hihihi.... Kita bisa melakukan “Kiong Hie” kepada sodara-sodara yang lainnya (kakek, nenek, om, tante dll). Tapi yang berkewajiban memberi angpao hanyalah orang-orang yang sudah menikah. Menurut tradisi, orang yang belum menikah tidak boleh memberi angpao (untunglah gw belom nikah, jadi gw ga ada kewajiban ngasih angpao ha ha ha...).

Angpao

Setiap imlek seluruh anggota keluarga menggunakan baju warna merah, yang melambangkan kegembiraan dan sukacita. Kita ga boleh pake baju putih, coz bagi tradisi Chinese baju putih lambang dukacita, jadi biasanya baju putih dipakai saat ada anggota keluarga yang meninggal. So, jangan sekali-sekali melayat orang meninggal dari etnis Chinese pake baju merah atau ada unsur merahnya ya, tar bisa ditimpukin dech he he he...

Ritual sembahyang imlek itu dari tahun ke tahun terus Papa lakukan, even Mama dan kami anak-anaknya sudah tidak melakukannya lagi. coz mama, kakak perempuan, gw, dan adik perempuan gw, sudah menjadi Kristen, sedangkan kakak laki-laki memlilih menjadi muslim. Tapi kami tetap rukun dan saling mendukung bila hari besar keagamaan kami masing-masing tiba.

Tahun 2006 merupakan terakhir kalinya gw melihat Papa melakukan ritual sembahyang Imlek. Pada tanggal 20 februari 2007 Papa meninggal, kanker paru-paru telah menggerogoti kesehatannya. Beberapa bulan sebelum Papa meninggal, Papa bersedia dilayani dan didoakan oleh pendeta, kemudian memutuskan menjadi Kristen (padahal bertahun-tahun sebelumnya Papa susah sekali untuk diajak ke gereja oleh Mama maupun kami anak-anaknya). Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kami selalu menghormatinya... We Still Love You Papa....


Kue keranjang, kue lapis legit, baju merah, kiong hie dan angpao... akan selalu hidup dalam tradisi keluarga kami.

GONG XI FA CHAI...!!!

Conclusions:
Segala hal-hal yang baik, semoga bukan hadir hanya sebagai simbol saja. Tapi sudah seharusnya menjadi satu kesatuan dalam kata dan perbuatan.