Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Mei 2013

Dosa Masa Lalu

Bulan Agustus, duabelas tahun yang lalu gw untuk pertamakalinya bertemu dengan Nathan dalam salah satu lomba yang gw buat di gereja. Nathan atau Nathanael menjadi salah seorang peserta lomba itu. Waktu itu umur Nathan baru menginjak 16 tahun, satu tahun lebih tua dari rata-rata umur teman-teman seangkatannya di kelas I SMA. Tentu saja gw tau segala informasi tentang Nathan itu dari formulir pendaftaran lomba.

Dari babak penyisihan hingga babak final, menghabiskan waktu 1 bulan lamanya karena lomba hanya dilangsungkan pada Hari Minggu saja. Waktu itu Nathan keluar sebagai juara ke-2, dan berhasil membawa pulang piala beserta sejumlah uang tabungan.

Sabtu pagi di bulan Januari, ada 6 orang pengurus dari departemen youth di gereja, berkunjung ke rumah gw. Maksudnya adalah berkonsultasi dengan gw sebagai salah satu mantan ketua youth (gw ketua youth dengan periode terlama sepanjang sejarah di gereja itu). Tamu-tamu muda itu terdiri dari 4 lelaki dan 2 perempuan. Dan salah satunya adalah... Nathan!!

Mulai dari pertemuan itulah gw makin jauh mengenal sosok Nathan. Dari urusan gereja berubah menjadi hubungan non formil. Nathan dan 3 teman lainnya jadi makin sering main ke rumah. Hubungan yang lumayan aneh sih, coz umur gw terpaut cukup jauh dengan mereka. Dari 4 orang brondonk itu, Satu orang yang sangat akrab dengan gw. Yaitu, Nathan.

Nathan berasal dari keluarga broken home ibu dan bapaknya sudah bercerai. Hal itu menyebabkan Nathan harus tinggal dengan ibu dan bapak tirinya, juga beberapa adik tirinya. Sementara bapaknya tinggal dengan isteri barunya. Padahal, sebelumnya juga Nathan sudah punya kakak-kakak tiri, baik dari perkawinan bapaknya maupun perkawinan ibunya yang terdahulu.

Kepribadian Nathan termasuk tenang tapi ramah. Percampuran darah Chinese dari bapaknya, dan Jawa dari ibunya membuat perpaduan unik. Warna kulit dan wajahnya memang lebih dominan ke Jawa, tapi tak mengurangi ketampanannya.

Makin lama keakraban makin terjalin antara gw dan Nathan. Melalui kegiatan ibadah bareng, olahraga bareng, ngeband bareng, ataupun hanya sekedar jalan-jalan di mall. Semua itu membuat hubungan gw dan Nathan seakan ga ada jarak lagi. Apapun bisa kami bicarakan, tanpa menyimpan rahasia. Gw sudah menganggap dia sebagai adik kesayangan gw. Perlakuan gw yang lebih mengistimewakan Nathan terkadang membuat teman-temannya yang lain merasa iri dan cemburu.

Kekurangan sosok figur ayah dalam hidupnya, membuatnya mencari sosok dewasa yang bisa mengisi kekosongan hatinya. Dan Nathan menemukannya dalam diri gw.

Nathan sangat sering menginap di rumah gw. Bermula karena pulang kemalaman, dan kemudian menjadi rutinitas tiap weekend dan hari-hari libur. Saat libur panjang sudah bisa dipastikan dia selalu ada di rumah gw, untuk menginap berhari-hari. Di rumah gw, Nathan sudah diterima seperti anggota keluarga gw sendiri.

Nathan adalah sosok yang tertutup kepada teman-temannya, dan kurang pede dalam pergaulan. Mungkin latar belakang dia yang berasal dari keluarga broken home, menjadikannya pribadi yang tertutup dan rendah diri. Gw sering menyemangati dia dan membesarkan hatinya, dengan mengatakan kalo setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan. Jadi dia pasti punya hal lain yang bisa dibanggakan (dia termasuk anak yang cerdas).

Tak terasa keakraban kami sudah berjalan dua tahunan. Saat itu dia sudah duduk di kelas III. O ya dia mengambil jurusan elektronika di salah satu SMK Negeri di Kota Bandung.

Suatu hari terjadi percakapan antara gw dan Nathan

Ko, Mama aku kan muslim. Jadi waktu SD aku disunat. Tapi teman-teman aku ga ada yang tau, aku ga pernah cerita. Aku malu karena beda sama mereka.” Tuturnya.

“Lho kok malu?” tanya gw.

“Kan orang Kristen pada ga disunat, Ko. Sementara aku disunat.” lanjutnya.

“Ga semua juga kali. Banyak kok orang Kristen yang disunat.” Jawab gw.

“Masa? Iya gitu?” dia memasang mimik penasaran.

“Beneran. Koko juga disunat kok.” Sahut gw santai.

“Wah ternyata kita sama ya he he he...” dia tertawa renyah.

“Memang sih di Kitab-Kitab Perjanjian Lama, disebutkan kalo sunat itu wajib dilakukan pada setiap bayi laki-laki sebelum berumur 8 hari. Tapi di Kitab-Kitab Perjanjian Baru, Rasul Paulus lebih menekankan pentingnya ‘bersunat hati’ daripada bersunat secara fisik. Jadi buat orang Kristen zaman sekarang, sunat bukan sesuatu yang wajib dilakukan tapi bukan sesuatu yang dilarang juga untuk dilakukan. Kalo sekarang, alasan sunat buat kita cenderung lebih untuk kesehatan aja.” Gw menjelaskan.

“Oooohhh...” gumamnya.

“Rasul Paulus yang mengatakan sunat itu bukan suatu kewajiban, tapi dia sendiri pun disunat. Bahkan Yesus juga disunat kan?” gw menambahkan.

Dulu gaydar gw belum sehebat sekarang, tapi gw punya feeling Nathan juga punya kecenderungan suka sesama jenis. Secara fisik dia memang cowok banget. Begitupun juga secara tingkah laku. Tapi anehnya tanpa malu-malu dia sering bilang ‘kangen’ sama gw, kalo kami beberapa minggu ga ketemu. Dia juga tak segan-segan memeluk gw kalo tidur bersama. Atau sebaliknya, dia juga diam saja waktu gw memeluknya.Tapi gw ga berani terbuka sama Nathan tentang orientasi seks gw atau menanyakan tentang orientasi seksnya. Gw takut hubungan kami jadi berantakan gara-gara pengakuan yang menurut gw ga terlalu penting.

gambar diambil dari http://homotography.blogspot.com/

Gw dan Nathan seminggu sekali berenang bersama di Hotel Horison. Gw juga yang mengajarinya berenang sampai dia bisa.

Sudah kebiasaan kalo Nathan itu ga pernah bawa shampo dan sabun saat pergi berenang. Jadi dia suka meminjamnya dari gw, setelah gw selesai mandi.

Suatu hari waktu gw dan Nathan selesai berenang. Nathan bilang kalo dia lupa bawa handuk.

“Ko, aku lupa ga bawa handuk... nanti boleh pinjam ga?” tanyanya.

“Iya boleh.” Jawab gw.

Nathan membuka-buka tas ranselnya, nampak mencari-cari sesuatu.

“Yaaa... Ko. Kayanya aku juga lupa bawa kantong kresek buat pakaian basahnya.” Sahut Nathan.

“Masih muda kok pikun? he he he...” Ledek gw.

“Tadi perginya buru-buru sih, Ko.” Nathan beralasan.

“Ya udah, tar celana renangnya gabungin aja sama kresek koko. Kita mandinya bareng aja ya. Biar lebih cepet juga” ajak gw.

“Ayo aja, Ko. Tapi aku malu...” sahutnya.

“Malu kenapa? Sama-sama cowok juga kan? jadi ga usah malu-malu.” Kata gw.

Ruang bilas terutup di Kolam Renang Hotel Horison memang hanya ada 2 atau 3 buah (gw agak-agak lupa). Lagian suasana di Kolam itu emang sepi banget.

Setelah gw dan Nathan berada di dalam kamar bilas, gw menggantungkan tas di hanger, dan menyalakan shower. Setelah kami keramas, saatnya membersihkan badan dengan sabun. Gw melepas celana renang gw. Nathan sesaat bengong, lalu tersenyum memandang gw. Dia pun tanpa ragu melepas celana renangnya.

“Punya kamu imut-imut... ha ha ha” ledek gw, sambil memandang penisnyya Nathan yang terlihat menciut dan berwarna gelap dengan bulu jembut disekitarnya.

“Kedinginan, atuh Ko. Aslinya lebih gede lah.. ha ha ha...” jawab Nathan.

“Coba bikin gede. Pengen tau segede apa” tantang gw sambil senyum.

“Ya ga bisa, Ko. Kan kedinginan.” Dia beralasan.

“Sini koko bikin jadi gede.” Sambil gw berusaha mencolek penisnya dengan tangan gw.

“Jang...an!!" Ucapannya tertahan, karena aksi tangan gw jauh lebih lebih cepat daripada reaksinya he he he...


Hanya dengan satu kali sentuhan, penis Nathan nampak mengembang dan menegang. Begitupun juga penis gw turut ereksi, karena Nathan pun meraih memegang penis gw.

“Wow!! Mulai membesar neh... ha ha ha” canda gw sambil memperhatikan penis Nathan yang tegak menegang.

“Tapi punya koko lebih gede...” sahutnya malu-malu.

Kejadiannya hanya sampai disitu. Ga lebih. Kami hanya mandi berdua, dan bergantian saling menyabuni bagian belakang tubuh kami.

Mulai dari situ, setiap kami berenang pasti mandinya sekamar berdua dan saling menggosok bagian belakang tubuh kami. Walapun yang kami lakukan hanya sebatas itu, tapi gw sangat menikmatinya. Tak ada rasa canggung, dan tanpa rasa malu-malu lagi.

Kejadian itu membuat gw dan Nathan seakan ga ada jarak lagi. Waktu Nathan menginap dan tertidur pulas. Beberapa kali gw pernah memasukan tangan gw ke dalam celana pendek Nathan dan merasakan denyutan penis Nathan yang menegang. Terkadang dalam tidurnya dia melenguh.. hmmmhhhmm... menikmati sensasi usapan dan genggaman tangan gw.  Entahlah apakah dia benar-benar tertidur atau cuma pura-pura tidur. Gw juga ga tau.

Suatu malam waktu Nathan menginap lagi. Kami sama-sama ga bisa tidur. Kami hanya ngobrol-ngalor ngidul ga jelas. Akhirnya sampai ke topik tentang film bokep. Nathan bilang teman-temannya sudah pada sering nonton film gituan, tapi dia ga pernah nonton.

“Jadi, kamu pengen nonton ya?...” pancing gw.

“Hmmmm... pengen tapi takut...” jawabnya ragu.

“Takut apa?” tanya gw.

“Takut dosa, Ko.” Kata Nathan.

“Koko punya satu tuh, mau nonton?” tantang gw. gw memang cuma punya satu-satunya film bokep hetero. Kalo yang homo sih banyak ha ha ha...

“Beneran, Ko?” Nathan malah balik nanya.

“Iya, bener dong.” Jawab gw, sambil mengeluarkan sekeping vcd, dan menyerahkannya sama Nathan.

“Hmmm... boleh diputar sekarang ga, Ko?” Nathan meminta ijin.

“Putar aja.” Sahut gw singkat.


Lalu Nathan memutar film bokep itu, di vcd player yang ada di kamar gw.

Adegan demi adegan menggairahkan terlihat di layar televisi 21 inch milik gw.  Nafas Nathan terdengar memburu. Dia nampak terangsang oleh film bokep itu. Gw juga melihat sesuatu yang menonjol dan membesar dari balik celana seragam abu-abunya.

“Gimana? Seru??” tanya gw.
“Seru banget, Ko. Tapi punya aku jadi tegang banget gini. Sampe pegel rasanya.” Kata Nathan. Tapi matanya tetap tak lepas dari adegan film bokep itu.

“Coli aja sana. Keluarin biar ga tegang.” Gw memprovokasi.

“Ga ah, Ko. Nanggung lagi seru nontonnya.  Masa harus ke kamar mandi dulu buat coli?” tolaknya secara halus.

“Ya ga usah di kamar mandi lah. Disini aja. Pake malu-malu segala.” Sahut gw santai.

Lalu gw melihat Nathan membuka ritzleting celana seragam abu-abunya, terlihat bercak basah pecum di celana dalam Ridernya yang berwarna putih. Tapi dia seakan ragu dan malu untuk mengeluarkan penisnya. Gw hanya mengangguk dan tersenyum, waktu Nathan memandang gw. Kemudian Nathan mengeluarkan penisnya yang ujungnya sudah basah sekali oleh precum. Dia mengocok-ngocok penisnya tapi tidak sampai ejakulasi. Mungkin karena dia terlalu tegang dan merasa tidak nyaman coli di depan gw.

“Kamu buka aja celana kamu.” Saran gw.
Nathan lalu melepaskan celananya.

“Celana dalamnya juga dong, biar leluasa.”  Kata gw.
Secara perlahan dia menurunkan celana dalamnya.

“Bajunya juga lepas aja, biar ga kotor kena sperma.” Gw makin menyemangatinya, sambil diri gw sendiri terangsang cukup hebat menyaksikan semua yang terjadi di depan gw.

Nathan terdiam karena ragu, tapi sebelum dia berubah pikiran gw segera melucuti bajunya. Kini Nathan bertelanjang bulat di hadapan gw dengan penisnya yang super tegang. Sementara gw masih berpakaian lengkap.

“Koko temenin telanjang dong, biar akunya ga terlalu malu.” Pinta Nathan.

Lalu gw segera melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh gw.

Gw melihat Nathan memegang penisnya dan mengocok-ngocoknya, tapi nampak belum mahir memberi kenikmatan pada dirinya sendiri he he he...

“Mau koko kocokin?” gw menawarkan.

“Ga usah, Ko.” Jawabnya singkat.

“Dijamin pasti lebih enak lho...” rayu gw...

“Hmmm... gimana ya...” Nathan tampak mau, tapi ragu.

“Coba kamu berbaring di kasur.” Perintah gw. Lalu Nathan pun mengikuti omongan gw.

“Kamu diam aja ya, kamu nikmati aja sensasi kenikmatannya...” kata gw.

Lalu gw mulai mengelus-elus penisnya, kemudian mengocok-ngocok penis Nathan dengan gerakan yang variatif. Gerakkan kedepan kebelakang, memutar, menggelitik scrotumnya dan lain-lain. Dengan variasi kecepatan yang berubah-ubah. Mata Nathan nampak merem melek menikmati kelihaian tangan gw memainkan penisnya he he he... Jujur, sebenernya gw ingin banget mengoral penis Nathan. Tapi gw masih bisa menahan diri. Gw ingin kejadian ini dianggap oleh Nathan hanya sebagai ‘boy activities’ bukan ‘gay activities’.

“Enak banget, Ko....” Lenguhnya.

“Mau yang lebih enak?” tanya gw.

“Mau diapain lagi gitu, Ko?”  Nathan nampak penasaran.

“Kamu diam aja. Tetap berbaring dan nikmati aja ya...” gw berkata menenangkan.

Lalu gw beranjak mengambil handbody lotion, dari lemari gw. Kemudian gw melumuri penis Nathan yang sudah makin menegang dan sekarang nampak berurat-urat.

“Kok, dingin...?” tanyanya.

“Sssstttt... diam aja ya... kamu relax aja...” kata gw.

Lalu gw mulai memberikan sensasi kenikmatan buat Natahan melalui gerakan tangan gw, dibantu dengan licinnya lotion tadi.

“Enak... Kooo.... enaaaak bangeeeet... uuuhhh... aaaahhh.... ooohhhh....” Nathan melenguh dan maracau keenakan. Badannya mengejang-ngejang, dan diakhiri dengan semburan sperma hangat dari penisnya.  Semprotannya melesat jauh sampai membasahi seprei dan bantal gw.

“Koko keluarin juga dong, biar adil.” Pinta Nathan. Lalu gw pun melakukan apa yang dia minta. Gw masturbasi dihadapan dia...

Setelah kejadian itu, gw tersentak dan tersadar. Kok gw bisa berbuat sejauh itu? Gw takut dianggap telah melakukan pelecehan seksual (sekalipun saat itu Nathan sudah berumur 18 tahun). Gw takut nama baik gw rusak gara-gara cerita kejadian ini tersebar.

Tapi rupanya ketakutan gw tidak terjadi. Nathan bukan tipe orang yang ember. Dia menutup rapat kejadian diantara gw dan dia.

“Sorry ya, Nathan... Waktu itu koko ga kontrol...” gw meminta maaf sama Nathan dalam satu kesempatan.

“Gpp kok. Aku malah senang udah diajarin sesuatu he he he...” jawab Nathan ringan.

“Eh dasar!! Mulai bandel ya...” kata gw.

“Koko nya juga bandel, makanya dedenya juga jadi ketularan bandel ha ha ha...” canda Nathan. Gw pun jadi ikutan tertawa.

Lama juga gw ga bertemu dengan Nathan. Sekarang Nathan sudah bekerja di luar kota dengan karier yang lumayan bagus. Gw hanya mendengar kalo dia sudah menikah untuk yang kedua kali, setelah pernikahan pertamanya kandas gara-gara rongrongan mertua yang mempermasalahkan perbedaan agama. Waktu itu dia terpaksa menikah karena pacarnya telah mengandung. Sekarang dia telah memiliki 2 orang anak. Satu anak perempuan dari pernikahannya yang pertama, dan satu anak laki-laki dari pernikahannya yang ke-dua.

Sekalipun tidak sering, gw dan Nathan masih suka berkomunikasi lewat facebook, sms ataupun  telepon.

Beberapa bulan yang lalu, ada sms masuk;

Nathan: “Koko dimana?”
Farrel  : “Lagi di rumah. Kenapa gitu?”
Nathan: “Aku kangen, pengen ketemu. Boleh ga?”
Farrel  : “Ya bolehlaaaah.... sini cepet.”

Satu jam kemudian, Nathan datang dengan  mengendarai Avanza silver. Postur tubuh Nathan sekarang lebih gemuk, jauh lebih besar dari gw. Waktu masih di ruang keluarga Nathan dan gw sudah terlibat obrolan hangat, termasuk dengan keluarga gw yang lain.

“Ko kita ke kamar yuk, pengen curhat.” Kata Nathan.

Gw hanya mengangguk dan membawanya ke kamar gw. Saat pintu kamar gw ditutup. Dia menyerbu dan memeluk tubuh gw dengan erat.... sangat erat...

“Koko, aku kangen bangeeet...!!!”

Bertahun-tahun telah berlalu. Tapi rupanya sifat aslinya Nathan tidak berubah. Masih seperti dulu. Masih suka manja kalo dekat dengan gw. Dia masih adik kecil gw yang tampan, yang selalu gw sayangi. I love you, Nathan.

Kejadian masa lalu antara gw dan Nathan, masih sering melintas di pikiran gw.  Apakah itu dosa?? Ataukah cinta???


Conclusion:

Cinta yang tak terungkap memenjarakan hati. Indah... tapi tidak dapat tergapai.
Dosa yang termanis meluapkan sejuta kenangan. Menakutkan... tapi tak meninggalkan penyesalan.

Senin, 29 April 2013

Ilham VS Andro



Malam Jumat gw iseng chat. Asli beneran cuma iseng doang, ga ada tujuan buat melakukan yang orang lain sebut sebagai ‘Sunah Rosul’ lho. Coz buat gw, ML itu ga mesti dilakukan malam Jumat. Kapan pun juga bisa asalkan partnernya ada he he he... Lagian buat kita-kita, rasanya ga pantaslah menyebut ML di malam Jumat itu sebagai ‘Sunah Rosul’, karena kalo dilakukan bukan oleh pasangan yang tidak ‘berhak, pada dasarnya bukanlah ‘Sunah’ melainkan ‘Jinah’. Jadi gw sarankan agar teman-teman berhenti menyelewengkan makna dari Sunah Rosul. Okelah kita berbuat salah, tapi jangan menambah dosa lagi dengan memperolok-olok hal yang bersifat religi.

Back to chat. Gw tersambunglah dengan seorang pemuda berumur 24 tahun, sebut saja namanya Ilham. Dari chat itu gw jadi tahu, ternyata Ilham itu berasal dari Makasar, dan dia lagi berlibur di Bandung bersama 3 orang temannya untuk beberapa hari. Secara fisik Ilham cukup menarik. Kulitnya sawo matang, berhidung mancung, berambut lurus, dan berkacamata.

Karena malam itu kurang memungkinkan untuk kami bertemu, maka kami janjian untuk ketemu Jumat siang, setelah  urusan pribadi gw kelar. Dia merencanakan, sengaja akan diam di hotel sementara teman-temannya pada jalan-jalan dan hunting oleh-oleh khas Kota Bandung.

Sesuai dengan janji, gw sudah sampai di hotel sekitar pukul 11.30 WIB. Di depan kamar yang berada di lantai 6 itu gw kirim SMS, mengabarkan kalo gw sudah sampai. Gw emang ga pernah mau langsung mengetuk pintu kamar hotel, sekalipun sudah yakin nomor kamarnya sudah benar. Lebih baik berhati-hati daripada tar salah masuk ke kamar orang lain he he he... Apalagi kalo salah masuk ke kamar jenazah hiiiiyyyy... #Emang di hotel ada kamar jenazah?? ha ha ha....

Sesaat kemudian pintu kamar terbuka, lalu kami saling berjabatan tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Lalu gw dipersilakan masuk ke kamar yang berisi 2 bed itu. Hotelnya memang hotel berbintang dan masih baru, jadi terasa sangat nyaman. Ternyata Ilham sekamar dengan salah satu temannya, yang lagi pergi jalan-jalan entah kemana.
Kami pun ngobrol ngalor-ngidul buat saling penjajakan dan saling mengenal.

Dan mulailah kami maju ke fase lebih lanjut, fase yang lebih panas he he he... waktu gw  akan merogoh isi celananya dia menghentikan aksi tangan gw.

“Jangan tertipu dengan hidung aku yang mancung ya, punya aku kecil, Kak....” kata Ilham dengan nada kurang percaya diri.
“It’s Okay!” bisik gw sambil tersenyum.
“Aku juga ga punya puting susu lho, kak....” tambahnya.
“O ya? coba aku lihat.” Sahut gw agak penasaran.

Gw langsung buka polo shirt hitamnya dengan cepat. Dan terlihatlah puting susu yang sangat kecil. diameter lingkaran berwarna gelapnya aja kayanya ga sampai 1cm. Bisa dibayangkan dong pentilnya segede apa? hihihi.... putingnya itu licin dan terlihat hampir rata dengan kulit disekitarnya.

Lalu gw berhasil merogoh isi celananya, dan tergenggamlah penis Ilham. Teksturnya kenyal dan hangat. Tapi indera peraba gw ngerasa ada yang ga beres dengan penisnya Ilham (insting sang petualang ha ha ha...). Yang tergenggam di tangan gw, pangkalnya terasa kecil banget tapi ujungnya membesar (tapi ga sebesar ukuran standar). Dan oow... Pas gw buka ternyata bentuknya memang seakurat perkiraan indera peraba gw ha ha ha... Sangat tidak seimbang antara ujung dan pangkalnya.

Ada keanehan lainnya, setelah sekian menit bercumbu kok kekenyalan penisnya segitu-segitu aja. Lalu gw tanya;

“Penis kamu pas ereksi maksimalnya sekeras gimana?”
“Ini udah poll, Kak....” jawabnya lemah.
“Yakin?!!” tanya gw.
“Aku ejakulasi dini, Kak....” Ilham nampak semakin tidak percaya diri.
“Ini mah bukan ejakulasi dini atuh, tapi disfungsi ereksi.” kata gw, menjelaskan.
“Trus, kalo pengen jadi lebih keras apa obatnya ya, Kak? Rutin makan telor bebek mentah gitu?” tanyanya.
“Aku juga ga tau, apa hubungannya antara telor bebek dengan ereksi. Kalo obat-obatan yang mengandung ginseng sih pernah dengar ada efeknya.” Jawab gw.

Kasian amat si Ilham, masih muda tapi punya masalah kaya gini. Bisa-bisa beberapa tahun kemudian dia totally impotent alias penisnya mati suri he he he.... Padahal selama bercumbu dia sangat bernafsu dan sangat panas. Sementara penisnya tetep aja menggelantung kaya balon kempes. Ujungnya besar, sementara pangkalnya sangat kecil.

Aduh, sekarang giliran gw yang jadi ngedrop. Tingkat ereksi gw jadi menurun. Penis gw yang awalnnya setegak tugu monas kini layu kaya terong kukus ha ha ha... Entah terbang kemana gairah gw ha ha ha... Ibarat makanan, tampilan warna dan garnish sangat menggoda tapi pas dicicip, eh rasanya ga seindah tampilannya? he he he... mungkin itulah yang bikin gw ilfeel.

Gw ingin menghentikan permainan itu, tapi gw ngerasa ga enak hati. Gw bingung, gw harus ngomong apa... Selagi berpikir keras mencari akal, yang ga akan bikin Ilham sakit hati. Tiba-tiba terdengar suara bell pintu berbunyi. Dilanjutkan dengan ketukan dan teriakan seorang laki-laki.

“Ilham! Buka pintunya dong.”

Gw dan Ilham saling berpandangan. Dan sama-sama menyadari kalo temannya Ilham sudah datang. Save by the bell!!! Gw menganggap temannya Ilham sebagai pahlawan penyelamat gw ha ha ha... Sementara Ilham nampak pucat, seperti tidak siap menghadapi situasi ini. Coz temannya bukanlah PLU juga. Ilham takut ke-gay-annya terbongkar.

Bunyi bel, ketukkan pintu, dan teriakan suara temannya Ilham semakin kencang. Mungkin dia menyangka Ilham sedang tidur.

“Ilham!! Ilham...!!! Ilham...!!! buka pintuuuuu!!!....”

Gw melompat dari tempat tidur. Menyambar pakaian gw. Dan langsung masuk kedalam toilet. Dan posisi gw sekarang sudah aman ha ha ha...

Di luar toliet terdengar percakapan antara Ilham dengan temannya. Rupanya temannya Ilham baru pulang Jumaatan, dan cuma mampir ke kamar untuk ngambil dompetnya yang ketinggalan. Terus mau lanjut kelilling Bandung. Setelah mengambil dompetnya, lalu dia pergi ke kamar sebelah, yang dihuni oleh  teman-temannya yang lain.

Gw keluar dari toilet dengan pakaian yang sudah rapi. Sebelum Ilham sempat bicara, gw langsung pamitan. Saatnya kabuuuuuuuuuur......!!!!  ha ha ha....

Setibanya di rumah, gw dapat SMS masuk dari Ilham:

Ilham: “Maaf ya, Kak. Acara kita berantakan.”
Farrel: “Gpp, juga kali. Nyantai aja he he he...”
(Gpp banget malah!!! ha ha ha....).
Ilham: “Kita lanjut di rumah kakak aja, yuk.”
Farrel: “Sorry uy, ga bisa. Di rumah aku mah banyak orang.”

Skip kisahnya ke malam harinya, ya.....
Gw baru sampai di rumah pukul 23.30 WIB, setelah sebelumnya lelah main badminton 4 game. Kegiatan gw setiap pulang badminton adalah: makan, mandi, dan nonton X-Factor he he he... Sambil nonton X-Factor, biasanya gw sambil online.

Acara X-Factor sudah usai. Tapi rasa kantuk belum juga datang. Begitulah gw, tiap habis olahraga dan mandi, tubuh gw malah berasa jadi segar. Mata pun susah terpejam.

Cling... cling... cling... terdengar bunyi dari laptop gw, rupanya ada mail masuk di akun situ pertemanan gay gw. Berikut ini obrolan lengkapnya:

Andro : Malam, Kak.... :)
Farrel  : Malam... Salam kenal ya. Aku Farrel di ************. kl km?
Andro :  Jauh jg ya Kak... Aku di *******
Farrel  : Iya lumayan. Tapi ketemunya kan ga mesti skr atuh, lagian masih di Bandung juga kan?  he he he….  kamu kost/rmh?
Andro : Aku kost… Pengen ditemenin tidur malam ini sama kakak...he he he….
Farrel  : Oya? *******nya dmn gt?
Andro : Di apartment xxxxxxx Kak... Sini Kak temenin akuuu :)
Farrel  : Kamu sendirian gitu?
Andro : Aku berdua sama Kakak perempuan aku. cuma dia udah seminggu ditugasin di luarkota. Jadi aku sendirian...
Farrel  : Iya, tar aku kesitu dech. No hp km berapa? Miscall-in aja ya ke no aku xxxxxxxxxxx
trus km di kamar berapa?
sebelumnya aku cuma mau mastiin; kamu suka yg lebih dewasa gitu?
Andro : Oke aku misscall.... Aku di kamar 10xxx.  Kalo aku sih suka sama yang dewasa... Kakak sendiri suka sama yang lebih muda terus berkulit coklat ga?
Farrel  : Wah, itu mah selera aku banget he he he…
Andro :  Kakak beneran jadi kesini?
Farrel  : Iya, aku off dulu ya, trus berangkat.
Andro : Siiip..... Aku tunggu ya, Kak

Tiba di apartemen gw langsung naik ke lantai 10, menuju kamarnya Andro. Lalu gw mengirim SMS sama Andro.

“Aku udah didepan pintu.”

Sesaat kemudian pintu kamar terbuka. Nampaklah Andro tersenyum ramah dengan lesung pipit di pipi kirinya. Senyumnya maniiiiiiiis banget he he he.... Andro brondonk 19 tahun, berkulit sawomatang. Untuk ukuran anak jaman sekarang, postur tubuhnya memang ga termasuk tinggi sih. Hidungnya pun biasa aja. Mancung ga, pesek juga ga. Sedang-sedang sajalah. Ketampanannya khas, brondonk keturunan campuran Manado dan Sunda. Cakep tapi tetep laki, ini yang gw suka ha ha ha...

Hari memang sudah sangat pagi. Tapi kami masih santai mengobrol di sofa merah berbahan kulit. Suasananya sangat cair, coz obrolan dan candaan antara gw dan Andro cukup nyambung. Dari obrolan yang lumayan panjang itu gw jadi tau, ternyata dia adalah mahasiswa semester 3 Sekolah Tinggi Perhotelan yang terkenal di Kota Bandung.

“Sudah pagi, Kak. Kita tidur aja yuk.” Ajak Andro.
Gw hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu mengikuti langkah Andro menuju kamarnya.

Di tempat tidur, awalnya terasa hening dengan lampu temaram. Ruangan hanya diterangi cahaya dari layar televisi yang masih menyala. Andro memegang dan meremas tangan gw.  Kemudian dia memeluk gw dan menyandarkan kepalanya di bahu kanan gw. Dia nampak nyaman sekali. Gw mencium rambut dan keningnya. Gw pikir biarlah untuk malam ini kami tidur dulu, ga usah terburu-buru. Lebih baik beristirahat dan menyiapkan tenaga buat esok hari he he he...

Tapi... Andro bukannya tidur nyenyak. Malah nafasnya terdengar memburu, tak kuasa menahan gairah mudanya. O ya, gw ada tips membedakan orang yang tidur beneran atau yang lagi pura-pura tidur. Kalo tarikan nafasnya panjang, teratur dan menggunakan pernafasan perut artinya dia beneran tertidur pulas. Tapi kalo nafasnya pendek, dan tersenggal-senggal, menggunakan pernafasan dada (apa lagi sambil ngos-ngosan) artinya dia pura-pura tidur. Kalo yang bunyi nafasnya memburu dan berat, artinya dia lagi horny ha ha ha...

Pelukan Andro terasa makin kuat. Gw membalas pelukan Andro. Sebegitu mengalirnya, tanpa disadari kami pun sudah saling melumat bibir kami dengan ciuman yang maha panas... Gw menciumi dan menjilat lehernya... dia merintih... lalu gw beralih menjilati  puting susunya yang berwarna coklat muda. Dia melenguh panjang dan menggelinjang-gelinjang... rupanya puting susu adalah salah satu titik G-spot dia. Andro pun beraksi melakukan hal yang sama ke gw. Good boy!! Jadilah kami saling memberi kenikmatan.

Tangan gw merayap merogoh celananya. Tangan gw menemukan sesuatu yang diluar dugaan gw. Penisnya terdeteksi tangan gw: besar dan panjang. Amazing!! Sama sekali ga mencerminkan dari postur tubuhnya. Waktu gw buka ternyata memang benar. Penis Andro salah satu penis brondonk terbesar yang pernah gw temui. Warnanya sedikit gelap, lurus, dan bentuknya proporsional, plus ereksinya yang terasa sangat kokoh. Diameternya sih sekitar 4,5 cm (sama kaya punya gw), tapi panjangnya 19cm!! Waktu gw genggam penisnya masih mencuat panjang, padahal telapak tangan gw termasuk besar lho. Gw melihat ternyata waktu dia berbaring, panjang penisnya melampaui pusarnya, Wow!!! I love it!!!

Model: Justin Elbo, Foto diambil dari http://idolofasia.blogspot.com/

Malam itu gw seperti ga ada puas-puasnya mengoral dia, dan mengerahkan semua kemampuan terbaik gw untuk merangsang kelelakiannya Andro. Disela-sela gw beraksi, Andro berkali-kali bilang: “Enak banget, kak!!!”. Berkali-kali dia memberi isyarat supaya gw mengerem aksi gw, supaya dia tidak cepat-cepat ejakulasi. Coz kami berdua masih ingin berlama-lama menikmati deburan gairah.

Semua aksi itu kami lakukan secara saling bergantian. Kami berdua sama-sama aktif. Dia memang nampak masih hijau, dan belum pandai mengoral. Coz waktu dioral, penis gw kadang terasa bergesekkan dengan giginya. But it’s okay!! Untuk soal itu bisa gw ajarkan sambil berjalan. Learning by doing lah he he he...

Permainan kami usai, dengan menyisakan rasa lelah, keringat bercucuran dan nafas terengah-engah. Saking asyiknya kami terbuai gelora nafsu. Sampai-sampai kami tak menyadari adzan subuh sudah berkumandang beberapa puluh menit yang lalu.

Setelah membersihkan badan, kami pun tertidur. Andro memeluk tubuh gw dan kepalanya bersandar di dada gw. Sementara tangan gw terus menggenggam penisnya... sampai pagi.... kami tertidur sangat pulas...

Kami baru terbangung pukul 9.30 pagi. Kami ngobrol sambil menonton tv diatas kasur ukuran king size miliknya. Waktu gw pamit mau pulang Andro menahan gw, dengan alasan dia ga ada teman. Ya udah kami pun larut lagi dalam obrolan, diselingi dengan sarapan mie instan racikan tangan Andro sendiri.

Makan sudah, ngobrol sudah juga, trus ngapain lagi ya. Waktu Andro mencuci mangkuk bekas sarapan kami. Gw nongkrong di atas balkon, melihat beberapa orang yang sedang asyik berenang jauh di bawah sana. Tak seberapa lama kemudian Andro datang menghampiri gw.

“Kamu suka berenang?” tanya gw.
“Kadang-kadang sih, Kak. Kalo ada teman aja. Kalo berenang sendiri suka males.” Jawabnya ringan.
“Kalo tujuannya serius berenang, aku malah lebih suka sendirian, lho. Kalo berenang bareng sama teman biasanya malahan waktunya habis buat ngobrol he he he...” sahut gw.
Betul tuh, Kak. Anehnya kalo kolamnya deket gini, malah akunya yang males-malesan he he he... kapan-kapan temenin aku berenang ya, Kak.” ajaknya.
“Wah dengan senang hati he he he...”. Jawab gw.
“Udah jam 12 siang neh, aku pulang aja ya?” lanjut gw.
“Kok buru-buru? Mau kemana gitu, Kak? Nanti aja atuh pulangnya.” Andro masih juga menahan kepulangan gw.
“Ga akan kemana-kemana sih. Biar kamu bisa istirahat aja.” Jawab gw.
“Tuh kan, kalo ga ada acara apa-apa, ya udah temenin aku aja disini...” pintanya.
“Iya deeeeech....” kata gw sambil tersenyum. Disambut senyuman manis Andro, yang berlesung pipit.

Bosan melihat orang yang lagi berenang, kami pun masuk ke dalam lagi. Gw dan Andro duduk bersebelahan di sofa merahnya. Andro menyandarkan kepalanya di dada gw.  Gw memeluknya dengan tangan kanan gw, sambil mencium keningnya. Tak seberapa lama kemudian kami berdua sudah sama-sama melepaskan pakaian kami masing-masing. Babak  ke-dua pun segera dimainkan he he he... Permainan siang itu tak kalah panasnya dengan yang kami mainkan subuh tadi. Rupanya inilah alasan Andro menahan-nahan gw pulang... Dia menginginkan babak tambahan, mengulang permainan subuh tadi he he he...

Gw baru bisa pulang  pukul 13.30 siang, dengan tagihan tiket parkir Rp 12.000,- he he he... wah lama juga ya gw disitu. Tapi gw sangat puas. Melelahkan memang, tapi sangat worthed-lah. Anggap saja ini sebagai penebus kekecewaan kejadian dengan Ilham di Jumat siang he he he... Ilham VS Andro. Jelas gw pilih Andro lah  ha ha ha...

Conclusion:
Orang bijak bilang; hidup itu pilihan. Dan tentu saja selektif itu wajib hukumnya dalam acara pilih memilih.

Jumat, 22 Maret 2013

Me VS Bees



Kamis, 21 Maret 2013 kemaren. Pukul 04.30 WIB gw terbangun dari tidur karena ada panggilan alam, yaitu pengen pepsi atau pepito alias kencing he he he... Waktu menuju kamar mandi, gw melewati dapur dan mendengar suara mendengung, yang menurut gw paling juga lalat ijo. Jadi gw melenggang meneruskan misi utama gw yaitu pipis he he he... Pas gw balik dari kamar mandi gw kok mendengar suara dengung itu lebih keras bunyinya. Pas gw tengok di dinding dapur ternyata ada beberapa ekor lebah yang sedang terbang dengan riang gembira. Tapi gw terpaksa merusak keceriaan sang lebah, dengan menggetoknya pake sandal jepit hi hi hi... 1, 2, 3, 4, 5... ternyata gw membunuh 5 ekor lebah. Pantas saja tadi suara dengungnya lumayan keras. Waktu gw mau beranjak keluar dari dapur eh, suara dengung itu terdengar lagi. Plak plok plak plok... sandal jepit gw kembali beraksi dan  menelan korban 2 ekor lebah lagi.

Mama gw yang mendengar kegaduhan waktu gw menghajar lebah-lebah itu, bertanya;
“Ada apa Farrel? Pagi-pagi udah berisik...”  tanyanya.
“Gpp Ma, ini ada lebah di dapur.” Jawab gw.
“Dari mana ya, kok ada lebah segala, padahal di rumah kita kan ga ada tanaman bunga.” Gumam Mama seakan berbicara pada dirinya sendiri.
“Iya neh, Ma. Tadi aja dapat 7 ekor.” Sahut gw.
“Masa sih? Jangan-jangan ada sarangnya di sekitar sini....” Kata mama berpraduga.
“Ah kalo di dekat-dekat sini mah kayanya ga mungkin, Ma. Paling juga di pohon mangga tetangga depan.” Jawab gw.

Insiden dengan lebah itu sejenak terlupakan. Pagi-paginya kami pun melakukan aktivitas keseharian kami masing-masing. Gw sempat pergi ke beberapa tempat dengan beberapa keperluan. Dan baru balik lagi di rumah hampir pukul 12.00 siang.

Saat gw naik ke lantai 2, menuju ke kamar, gw mendengar suara mendengung yang sama persis dengan suara dengungan yang gw dengar subuh tadi. Rupanya ada beberapa lebah lagi beterbangan. Sandal jepit gw pun kembali jadi senjata andalan gw. Plak plok plak plok... dapat 2 ekor!!

Waktu gw memegang handle pintu kamar gw, gw mendengar suara dengung yang jauh lebih keras lagi. Gw menoleh melihat-lihat suasana sekitar depan kamar, dan gw menemukan puluhan lebah yang sedang beterbangan. Lebah-lebah itu terbang mengitari sebuah benda hitam kecoklatan seukuran telapak tangan di atas plafon. Bulu kuduk gw berasa merinding, waktu tau ternyata gundukan berwana hitam kecoklatan itu adalah koloni para lebah...  Kok aneh ya, perasaan kemaren-kemaren belom ada dech. Lumayan serem sih, apalagi letaknya persis berhadapan dengan kamar gw. Gw jadi berpikiran yang aneh-aneh ala film horor; gw membayangkan lebah-lebah itu menyerang gw, untuk menuntut balas atas kematian teman-temannya... Hiiiiiiyyy!!! Amit-amit jabang baby ngepet dech!!! he he he...

Koloni lebah nampak dari samping
Koloni lebah nampak dari depan

Dengan tenang ala-ala pembunuh berdarah dingin, gw menyiapkan senjata pembasmi lebah-lebah itu. Gw mengambil kain perca kaos, kemudian gw lilitkan ke batang besi. Gw bermaksud akan membuat obor buat membakar lebah-lebah itu. Yang jadi masalah di rumah gw ga ada minyak tanah. Untunglah otak gw secerdik MacGyver he he he... (yang ga tau MacGyver selamat googling dech). Gw mencelupkan lilitan kain perca itu ke dalam tanki sepeda motor gw. Yes!! Obor siap dinyalakan.
Untuk menghidari sengatan lebah-lebah itu, gw memakai jaket dan sarung tangan, plus helm he he he... Lebih baik sedikit ribet daripada muka gw bengkak dimakeover sama kawanan tawon ha ha ha... waktu gw siap naik ke lantai atas dengan segala perlengkapan itu. Mama mengingatkan gw untuk membawa seember air buat matiin obor. That’s good idea, Mama!!
Gw pun siap membasmi lebah jahanam itu... sementara Mama ngungsi ke warung buat beli cemilan hi hi hi... Pokoknya gw meminta mama jangan masuk rumah dulu sebelum  rumah kami steril dari lebah he he he...

Obor dari lilitan kain perca kaos
Mengambil bensin dari tanki motor

Sebelum melaksanakan misi pembantaian, gw membuka lebar-lebar semua jendela di lantai 2. Di depan sarang lebah itu, gw menyalakan obor, dan langsung gw arahkan ke sarang lebah itu. Tak sampai 15 detik semua lebah-lebah itu rontok jatuh dan beterbangan. Ada yang langsung mati, ada yang masih hidup tapi sayapnya sudah tidak utuh, dan ada pula yang beterbangan liar kesana-kemari. Kepakan sayap-sayap para lebah itu menyisakan suara dengungan yang sangat keras dan menyeramkan. Gw melihat dinding bekas berkumpulnya koloni lebah itu, tak ada sedikitpun sarangnya (mungkin mereka baru berniat membangun sarangnya).
Gw mencoba tetap tenang. Dengan secepat kilat gw langsung mematikan obor dengan mencelupkannya ke dalam ember berisi air.

Lebah-lebah bergelimpangan
Koloni lebah yang sudah mati

Step pertama sudah beres, sekarang saatnya membasmi lebah-lebah yang masih beterbangan.  Kalo mengandalkan sandal jepit lagi, kayanya ga akan mungkin bisa. Makanya gw mengambil raket badminton. Kemudian plak plok plak plok... dengan pukulan forehand, backhand, smash dan pukulan antah berantah lainnya, gw menghajar lebah-lebah itu. Ga percuma gw rajin main badminton, ternyata ada manfaatnya juga buat membasmi lebah ha ha ha...

Lebah yang sudah mati di tangan gw

Ukuran lebah-lebah yang ada di rumah gw ini termasuk kecil, panjangnya hanya sekitar 1,2 cm. Tapi tetep aja ogah kalo kena sengat mah. Apalagi kalo lebah yang nyengat jumlahnya banyak banget.

Sebenernya ini bukan pengalaman pertama kali gw berurusan dengan koloni makhluk penyengat. Waktu gw masih SMA gw pernah memusnahkan sarang tawon yang bertengger diatas pohon nangka depan rumah gw yang dulu. Kejadiannya juga lebih dramatis he he he... Coz gw membakar sarang tawon yang seukuran helm itu dari atas genting rumah, dengan obor dari galah, memakai jas hujan plus masker, dan dilakukannya pada malam hari pula!!
Ukuran tawonnya pun lumayan besar, yaitu sekitar 3 cm dan jumlahnya banyak banget!!. Baru keesokan harinya gw bisa menuntaskan sisa-sisa tawon itu dengan raket badminton.

O ya, masih banyak orang yang menganggap tawon (wasp) dan lebah (bee) itu sama. Padahal keduanya merupakan serangga yang berbeda. Untuk membedakannya lumayan mudah sih.
-Ukuran tubuh lebah lebih gemuk dan tawon lebih langsing.
-Ukuran tawon lebih besar dibandingkan dengan lebah.
-Warna tubuh tawon biasanya lebih cerah/mencolok.
-Kaki belakang lebah lebih desar dan pipih, sementara kaki tawon semuanya berukuran sama.
-Tawon bisa menyengat berkali-kali dan masih tetap hidup, sementara lebah hanya bisa sekali menyengat dan beberapa menit kemudian mati.
 -Pada tubuh bagian atas (thorax) tawon hanya ada sedikit bulu halus atau bahkan licin tanpa bulu, sementara lebah tubuhnya berbulu banyak alias hairy wk wk wk...  
-Lebah menghasilkan madu, sementara tawon tidak.


Begitulah pengalaman singkat gw berurusan dengan koloni makhluk penyengat. Dan gw berharap, ini akan jadi pengalaman terakhir gw melakukan pembunuhan masal he he he...

Conclusion:
Hidup harmonis berdampingan dengan alam dan mahluk lainnya memang sangat baik. Tapi  jangan mengambil resiko membiarkan mahluk yang suatu hari kelak bisa membahayakan hidup kita.