Tampilkan postingan dengan label badminton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label badminton. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

Hikmah Tersembunyi Menjelang Lebaran


Benar kata pepatah, kalo: jodoh, rejeki, dan maut adalah misteri Ilahi. Tiga hal itu (dan banyak hal lainnya) adalah hak prerogatif Tuhan, Sang Maha Pemilik. Berbicara masalah maut atau ajal, seringkali membuat kita terkejut dan bertanya-tanya; kok bisa? Dia kan masih muda? Kemaren masih sehat-sehat aja kan? dan sejuta tanya lainnya.

Begitu juga kejadian yang menimpa teman badminton gw, sebut saja namanya Theo. Secara mengejutkan gw menerima kabar kalo dia meninggal dunia. Teman-teman gw yang lainnya pun hampir-hampir ga percaya dengan kejadian ini. Yang bikin kami makin bertanya-tanya adalah karena minimnya informasi yang kami dapat tentang kematiannya. Mungkin hal itu disebabkan karena kami hanya berteman di lapang badminton dan FB saja, selain itu hampir ga pernah ada kontak. Tanggal 30 Juli 2013, pukul 20.00 WIB gw menerima message via whatsapp  yang mengabarkan kalo Theo meninggal. Tak ada informasi lainnya dari si pemberi kabar karena dia juga mendapat kabar dari temannya yang lain. Baru pada pukul 23.00 WIB gw mendapat kepastian kalo Theo memang benar sudah meninggal. Makin yakin juga karena teman gw mengirimkan foto closed up Theo yang sudah berada di dalam peti jenazah. Wajahnya membiru, terlihat dingin dan kaku...

Theo umurnya baru mau menginjak 35 tahun, dan dia meninggal karena serangan jantung. Nyawanya tak tertolong meski dia sudah mendapat pertolongan medis di rumah sakit.
Yang membuat kami terkejut adalah, karena secara fisik dia terlihat sangat sehat. Badannya berotot dan kokoh karena dulu rajin fitness. Pahanya sangat besar dan nampak tangguh. Wajahnya termasuk ganteng, meskipun postur tubuhnya termasuk kurang tinggi. Pokoknya tak ada tanda-tanda kalo dia mengidap penyakit jantung. 

Tanggal 26 Juli kami masih main badminton bersama, bahkan dia berpasangan dengan gw (jarang banget gw main berpasangan dengan dia). Dia bermain dengan penuh semangat, meskipun akhirnya kalah dengan score beda tipis dari lawan kami. Tapi dia yakin, kalo sekali lagi melawan pasangan itu, kami bisa menang. Makanya dia mengajak gw untuk berpasangan lagi Jumat depannya. Malam itu dia bermain badminton 3 kali (biasanya paling banyak dia main 2 kali), sedangkan gw 5 kali. Entahlah apakah kematiannya itu ada hubungannya karena dia terlalu kelelahan main badminton atau tidak.

Keesokan harinya gw datang melayat ke rumah duka, jasadnya nampak lebih membiru dari fotonya yang gw terima semalam via whatsapp. Waktu gw tiba di rumah duka, kebaktian penghiburan baru saja usai. Gw sempat ikut mengantri mendoakan dan mencipratkan cologne ke jasad Theo, sebelum peti jenazahnya ditutup. Tangis kesedihan masih terlihat dari keluarganya Theo. Tapi yang paling terlihat terpukul adalah Sisca, tunangan Theo yang menurut rencana akan dinikahi Theo dalam waktu dekat. Tapi apa mau dikata, rencana manusia ternyata tidak sejalan dengan rencana Tuhan.


Malam itu cukup banyak orang yang datang melayat ke rumah duka. Termasuk ada  8 orang dari teman-teman main badminton. Di sela-sela obrolan dengan teman-teman di rumah duka malam itu, gw banyak menerima SMS, FB inbox dan whatsapp dari teman-teman gw yang lain, yang menanyakan informasi tentang kematian Theo. Salah satunya dari Andrew, teman lama gw (tapi dia termasuk ga begitu rajin datang main badminton);

Andrew: “Beneran Ko, si Theo meninggal?”

Farrel   : “Iya, sekarang Koko lagi ngelayat di rumah duka”

Andrew: “Meninggalnya kenapa gitu, Ko? umur berapa?”

Farrel   : “Serangan jantung. 35 tahun”

Andrew: “Umur mah ga disangka-sangka, ya.”

Farrel   : “Iya.”

Andrew: “Btw, Si Theo teh yang mana ya, Ko?”

Farrel   : “Gubrakkkkk!! Beuh kirain nanya-nanya teh, tau orangnya yang mana he he he...”

Andrew : “ha ha ha... Emang yang mana, Ko?...”

Farrel   : “Yang ini... (sambil gw mengirimkan file foto jenazah yang kemaren).

Andrew: “ Bujubuneng!!! Ga usah foto mayatnya juga kalee Koooo... he he he...”

Farrel   : “Biar lebih jelas aja, daripada menjelaskan pake banyak kalimat, tar udah capek-capek ngetik belom tentu kamu tau orangnya yang mana ha ha ha...”

Andrew: “Dasar si koko mah ha ha ha... alamat bakal susah tidur neh ha ha ha...”

Malam itu, gw dan teman-teman masih ngobrol ngalor ngidul di rumah duka. Kami juga membahas tentang isteri salah satu teman main badminton kami, yaitu Benny. Yang lebih dari 6 bulan lalu divonis dokter; kalo sisa umurnya kurang dari 3 bulan lagi, karena gagal ginjal.

Lukman: “Umur mah ga bisa ditebak ya... Si Theo yang segar bugar tiba-tiba meninggal. Sementara Isterinya si Benny yang sakitnya parah banget dan divonis ga akan berumur panjang, malah masih hidup."

Farrel  : “Dia ngurus perpanjangan nyawa kali.” Jawab gw asal.

Jerry    : “Emangnya KTP!! pake bisa diperpanjang segala he he he...”

Gunawi: “Atau pura-pura budek kali, pas dipanggil Tuhan...” celetuk Gunawi, dengan wajah polos

Kami   : “Husssyyy!!!” Kata kami serempak, sambil berusaha menahan tawa.

Pulang dari rumah duka gw ga bisa langsung tidur. Bukan karena takut gara-gara udah melayat orang yang baru meninggal, coz gw ga termasuk penakut dalam hal-hal dunia hantu he he he... Tapi emang ga ngantuk aja. Pukul 02.00 WIB gw melihat tanda-tanda kehidupan dari status FB teman gw Yosia.

Yosia adalah salah satu teman lama gw. Dulu gw dan dia sangat akrab. Dia adalah teman gereja, teman jalan, dan teman fitness gw. Wajahnya tampan, kulitnya putih, rambutnya sedikit pirang. Umur Yosia lebih muda dari gw, makanya dia manggil gw Koko. 

Dulu gw sering diajak mampir ke rumahnya. Di kamarnya banyak banget koleksi film bokep hetero. Tak jarang gw dan dia nonton bokep bersama, tapi kejadiannya cuma sampe nonton bareng doang, coz gw tau banget dia itu straight. Dia termasuk yang ga malu-malu ganti baju di depan gw, bahkan sampai telanjang bulat! Bulu jembutnya sangat lebat,  rimbun sampai ke bagian paha dalamnya. Jadi kalo dia pake celana renang bentuk segitiga, jembutnya bermunculan!! Begitu juga di bagian pusarnya he he he... Penisnya termasuk gede dan berwarna gelap, tapi sayangnya ga pake helm SNI alias masih berkupluk atau ga disunat he he he... Jadi gw hanya menikmati pemandangan yang sering dia suguhkan itu, dengan sok cool dan acuh tak acuh. Berusaha tidak memperlihatkan ketertarikan pada benda yang menggelantung milik Yosia itu, padahal mah gw tetap fokus mengamatinya he he he...

O ya, menjelang Lebaran tahun 2012 lalu dia mengalami kecelakaan lalulintas. Dia bertabrakan secara frontal dengan pembalap liar. Dia terluka parah dalam insiden itu. Yosia mengalami patah tulang tangan kiri di dua bagian dan kaki kiri di 3 bagian. Tulang pergelangan kaki kirinya bahkan remuk. Kasihan dia, padahal dia sudah punya isteri dan 2 anak yang masih kecil-kecil. 

Kondisinya sangat memprihatinkan. Keadaannya yang sudah parah, ditambah dengan penanganan medis yang kurang baik dari rumah sakit tempat pertama kali dia dirawat. Maka lengkaplah sudah penderitaannya. Hal itu membuat kami makin miris melihatnya. Dia menjalani beberapa kali pembedahan di rumah sakit itu. Uang lebih dari seratus juta sudah dikeluarkan, tapi kondisinya masih begitu-begitu saja. Belakangan diduga kalo Yosia mengalami malpraktek di rumah sakit itu. Akhirnya Yosia dipindahkan ke rumah sakit lain. 

Yang membuatnya makin tertekan adalah dari perusahaan tempat dia bekerja tidak memberikan santunan apapun (padahal dia mengalami kecelakaan pada jam kerja). Bahkan menengok pun tidak, hanya beberapa teman kerjanya saja yang datang menengok.

Teman-teman gereja termasuk gw turut menggalang dana, mencoba membantu meringankan bebannya. Dana yang terkumpul sekitar tigapuluh jutaan lebih langsung kami serahkan pada keluarga Yosia. Kami bergantian datang menengok di bulan-bulan pertama Yosia dirawat, hingga dia dirawat jalan. Terakhir gw dan Andrew menengok dia di rumahnya pertengahan Oktober 2012. Yosia mengalami nekrosis, yaitu sebagian sel jaringan kulit dan daging di kaki kirinya mati. Hingga menyebabkan luka terbuka. Katanya sih sampai-sampai tulang dan logam pen-nya juga terlihat. Tapi waktu itu sih gw ga ngeliat coz kakinya dibalut dengan perban. Beberapa kali dokter mencoba membuat jaringan kulit baru dari bagian tubuh Yosia yang lain. Tapi gagal. Jadi, katanya dokter memutuskan untuk membiarkan dulu nekrosis itu dan lebih memprioritaskan kesembuhan tulangnya dulu.

Kemudian lama-kelamaan kami disibukkan dengan kegiatan kami masing-masing. Hingga keadaan Yosia pun sedikit terlupakan.
Yang gw salut dari Yosua adalah, dia selalu menuliskan kata-kata optimis di setiap status facebook yang dibuatnya.

Malam itu lalu gw menyapa dia;

Farrel: “Belom tidur, Yos?”
Yosia : “Belom, Ko. Sejak sakit jam tidur saya jadi ga bener. Siang Jadi malam, malam jadi siang.”
Farrel: “Gimana kondisi kamu sekarang?  Sudah jauh lebih baik?”
Yosia: “Puji Tuhan, Ko. Perkiraan dokter sekitar 5 bulan lagi sembuh.”

Wow betapa tabahnya dia!! padahal dia sudah setahun terbaring tak berdaya. Tapi dia tetap punya semangat. Lalu kami pun terlibat obrolan-obrolan lainnya malam itu.

Hari Kamis sore keesokan harinya, gw menerima sapaan via whatsapp dari Andrew;

Andrew: ”Ko, sudah tau kondisi terakhir si Yosia?”
Farrel   : “Kemaren malam sih sempet chat sama dia, katanya udah lumayan membaik.”
Andrew: “Waktu hari minggu sih dia datang ke gereja pake tongkat.”
Farrel   : “Syukurlah, kalo kondisinya membaik mah.”
Andrew: “Sebenarnya, keadaannya masih memprihatinkan, Ko.”
Farrel   : “Kenapa gitu?”
Andrew:“Ini foto yang di-bbm-in isterinya Yosia, kemaren.” (Andrew mengirim file foto kondisi kaki Yosia yang mengalami nekrosis).
Farrel   : “Ya, ampuun!!! jadi selama hampir 10 bulan lukanya dibiarin terbuka kaya gini?”
Andrew: ”Iya, Ko. Kasihan ya...”
Farrel   : “Ngeri ah liatnya juga...”
Andrew: “Iya, ngilu banget liatnya.”
Farrel   : “Btw, foto ini balas dendam foto mayat kemaren ya? Biar koko ngeri ya? he he he...”
Andrew: “wkwkwk... ga balas dendam kok, biar impas aja ha ha ha... foto horor VS foto bikin ngilu bin ngeri.”
Farrel   :”Dasar!!! ha ha ha...”

Foto kaki Yosia yang mengalami nekrosis

Sebenernya obrolan pribadi ini, ga ada maksud menjadikan musibah orang lain sebagai bahan candaan atau tertawaan, lho. Tapi dasar otak gw aja yang bawaannya happy mulu he he he...

Jumat, tanggal 2 Agustus 2013 kami main badminton bareng lagi. Tapi anehnya, kok teman-teman gw pada cepet pulang?? Pas ditanya pada jawab; “ga mau terlalu capek”. Ini teh ga mau terlalu capek karena takut kena serangan jantung kaya si Theo atau ga mau pulang terlalu malam, takut diajak main badminton sama si Theo? he he he... Selidik punya selidik, ternyata jawaban yang kedua yang benar. Halah!!! Teman-teman gw ternyata pada takut hantu he he he...

Conclusion:
Ada ayat yang mengatakan: “Hati yang gembira adalah obat yang paling manjur. Tetapi semangat yang patah, mengeringkan tulang”. Sikap optimis mendatangkan harapan baru, sekalipun masalah berat terasa menghimpit. Sementara sikap pesimis, memporak-porandakan segala harapan yang masih tersisa.

Kamis, 14 Februari 2013

Alfian



Sudah jadi rutinitas gw, kalo tiap Jumat malam gw menghabiskan waktu main badminton di salah satu GOR yang ada di Bandung. Biasanya gw masuk ke arena lapangan bulutangkis mulai pukul 19.00 WIB dan baru keluar pada pukul 23.30 WIB. Setelah lelah main badminton,  gw dan teman-teman biasanya berwisata kuliner tengah malam di seputaran Bandung. Hampir semua spot-spot tempat kuliner tengah malam di Bandung sudah gw sambangin. Mulai dari yang deket-deket sampai yang lumayan jauh. Ada beberapa spot yang rutin gw datangin sehabis main badminton, beberapa diantaranya adalah;

- Baso Semar, di Jl. Cihampelas dan Jl. Pungkur- Bandung.
- Food Market Kawasan Jl. Cibadak (banyak banget pilihannya, diantaranya adalah: Soto Simon, Soto  Jakarta, My Juice, Kobe Tepanyaki, Sekoteng Jahe, Ronde Jahe Alkateri, Baso Tahu Pie Tung, Bubur Ayam Kapitol, Juice Pataya dll ).
- Teh Gula Resto, di halaman Anata Salon Jl. Surya Sumantri - Bandung
- Nasi Kalong, di Jl. Martadinata – Bandung.
- C’mar, di Jl. Cikapundung – Bandung.
- Warung Nasi Ampera, di Jl. Soekarno Hatta – Bandung
- Warung Nasi Bu Imas, di Jl. Pungkur – Bandung
- Kedai AWC, Jl. Soekarno Hatta - Bandung.
- Nasi Kuning Pasirkoja, Jl. Pasirkoja - Bandung
- Kedai Masakan Khas Sunda, Ibu Dedeh di Jl. Kalipah Apo - Bandung
- Ronde Jahe Gardujati, di Jl. Gardujati - Bandung
- Susu Murni, di Jl. Kalipahapo – Bandung.
- Susu Murni, di Jl. Astana Anyar – Bandung.
- Perkedel Bondon, di Stasiun Hall – Bandung.
- Pusat Jajanan depan Factory Outlet The Secret, Jl. Martadinata - Bandung.
- Nasi Goreng PR, di depan Hotel Savoy Homann, di Jl. Asia Afrika – Bandung                 
- Nasi Goreng Mawut, di Jl. Tamansari - Bandung
- Kupat Tahu, di Jl. Pagarsih – Bandung.
- Madtari di Jl. Rangga Gading – Bandung.
- KFC, di Jl. Pajajaran dan Jl. Merdeka – Bandung.
- Mc D, di Istana Plaza Jl. Pasirkaliki – Bandung, dan di Jl. Gatot Subroto – Bandung.
- Sate H. Hadori, di Stasiun Hall - Bandung
- Sate di Kompleks Kurdi – Bandung.
- Ayam Gobang, di Jl. Mochammad Toha – Bandung.
- Pecel Lele 888 (ayam/bebek/burung dara goreng & bakar), di Jl. Abdul Rahman Saleh - Bandung
- Swike Jatiwangi, di Jl. Gardujati – Bandung
- Gampoeng Aceh, di Jl. Ir. H. Djuanda (Dago) – bandung.
- Bubur Ayam Katineung, di Jl. Jamika - Bandung
- Bubur Ayam Pak Otong, di Jl. Sudirman - Bandung
- Bubur Ayam Duti, di Jl. Gardujati – Bandung.
- Bubur Ayam Pak Amid, di Jl. Pajajaran – Bandung.
- Bubur Ayam H. Unang, di Jl. Sudirman – Bandung
- Dan Masih banyak yang lainnya...
Pokoknya kalo mau tahu yang gw recomend, tinggal tanya aja ya he he he...

Suatu malam, sehabis gw pulang badminton dan berkuliner tengah malam. Gw baru beres mandi pukul 01.00 WIB. Karena belom ngerasa ngantuk, gw iseng buka laptop dan online. Ga ada maksud apa-apa sih, hanya sekedar buka FB dan check mail. Tiba-tiba di akun FB gw ada pesan chat masuk dari Alfian, Brondong 18 tahun yang sudah beberapa bulan sebelumnya jadi teman gw di FB, tapi belum pernah ketemuan.

Alfian: “Hi, Kak...”
Farrel: “Eh ada si cakep...”
Alfian: “Kak bisa bantu aku ga?”
Farrel: “Bantu apa neh?”
Alfian: “Kak aku lagi ada masalah...”
Farrel: “Masalah apa atuh? cerita aja...”
Alfian: “Aku tadi berantem sama adik, dan ujung-ujungnya aku di usir sama mama aku.”
Farrel: “O ya? Trus...?”
Alfian: “Sekarang aku lagi di warnet, aku bingung mau tidur dimana, padahal aku udah capek dan ngantuk banget... mana aku ga pegang uang sedikitpun. Uang aku cuma cukup buat bayar warnet. Boleh ga kak, aku nginep semalam aja di rumah kakak?”
Farrel: “Hmmm... boleh aja sih...”
Alfian: “Tapi aku, bingung pergi kesananya... Kakak bisa jemput aku ga?”
Farrel: “Emang kamu dimana?”
Alfian: “Aku di Padalarang...”
Farrel: “Busyet!! Jauh amat...”
Alfian: “Iya, kak. Gimana dong?”
Farrel: “Ya udah kamu naik ojek aja, tar aku bayar disini.”
Alfian: “Aku ga mau ambil resiko, kak. Takutnya aku udah sampe disana tapi ga ketemu sama kakak. Tar malah jadi masalah dengan tukang ojeknya...”
Farrel: “Aku sebenernya pengen bantu kamu, tapi gimana ya... mana udah hampir Jam setengah dua lagi...”
Alfian: “Please dong, kak... tolongin aku... aku udah capek banget.”
Farrel: “Hmmmhhh... gimana ya... aku bingung.”
Alfian: “Ya udah, kalo kakak ga bisa bantu mah...”
Farrel: “Trus kamu mau kemana?”
Alfian: “Ga tau kak. Pusing.”
Farrel: “Ya udah aku berangkat sekarang jemput kamu...”
Alfian: “Beneran, kak?”
Farrel: “Iya.”
Alfian: “Sebelumnya, makasih ya kak...”

Tepat pukul 01:30 WIB gw pun meluncur menuju Padalarang. Gw pacu sepeda motor gw dengan kecepatan 80km/jam bahkan lebih. Gw pengen cepet-cepet sampe, coz badan gw sendiri juga udah ngerasa capek setelah tadi main badminton. Jarak Bandung – Padalarang, lumayan jauh. Tapi karena lalulintas cukup lengang maka gw bisa lebih cepat sampai di tujuan. Tiba di depan Mesjid Agung Padalarang, gw telpon Alfian. Mengabarkan kalo gw sudah sampai di Padalarang.
“Terus aja Kak, tempat aku masih lumayan jauh. Aku di Tagog Apu...”
What? Tagog Apu? (teriak gw dalam hati). Busyet, sudah lama banget gw ga melintas ke daerah itu, coz sejak jalan tol Cipularang beroperasi gw ga pernah lewat kesitu lagi. Lalu dia pun memberi petunjuk kalo letak warnetnya deket sebuah mini market.

Karena sudah terlanjur, maka tanpa pikir panjang gw langsung meluncur menuju TKP. Mungkin yang baca blog ini, berpikir kalo gw sudah sinting. Kok mau-maunya pergi jauh-jauh jemput brondonk di pagi buta pula... Gw di posisi yang serba salah, ngerasa sedikit dibohongin tapi ya sudahlah. Kalo udah niat nolong ya sudah harus tuntas. Sama kaya lirik lagunya Meggi Z: “Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali....” he he he...

Jalanan menuju TKP ternyata cukup bikin bulu kuduk merinding. Selain jalannya yang gelap, berkelok-kelok, dan disamping kanan kiri jalan terdapat  tebing, kabut pekat juga menambah suasana makin horor. Kabut yang turun itu membuat jarak pandang sangat pendek. Apalagi pas gw melintas di jalan rel kereta, insting gw mengatakan kalo di jalan itu banyak arwah penasaran bergentayangan. Tapi gw berusaha tetap tenang dan mensugesti diri gw sendiri: “perbuatan gw kan udah kaya setan, masa setan masih mau iseng gangguin gw juga?” wkwkwk...

Finaly, gw sampe juga di TKP dengan menggigil karena udara malam itu sangat dingin. Gw buka ponsel gw. Busyet 2 HP CDMA gw asli ga ada signal. Sialan!! Gimana ini? Gw buka HP yang GSM, sykurlah ada signal sekalipun cuma 1 strip. Tapi yang jadi masalah HP yang itu pulsanya cuma ada 1000 perak!! Gw ga mau ambil resiko untuk telpon, coz takut ga nyambung tapi pulsa terkuras (mana ga ada yang jualan pulsa malam-malam gini). Jadi gw sms Alfian. Tapi yang bikin perasaan gw ga karuan sms dari gw ternyata pending... hikz!! Akhirnya gw paksain telpon, coz gw ga ada pilihan lain. Untunglah telpon gw bisa nyambung... plong rasanya.... gw hanya ngomong 2 kata: “udah sampe.”

 Gambar diambil dari http://homotography.blogspot.com
Dari keremangan malam nampaklah sesosok brondonk berpostur tinggi muncul berjalan menuju ke arah gw. Penampilannya sedikit lusuh, tapi tak mengurangi kegantengannya.

“Makasih ya Kak,  udah mau jauh-jauh jemput aku.” Kata Alfian berbasa-basi.
“Iya, ayo kita langsung jalan aja.” Sahut gw.
“Kamu ga pake jaket?” tanya gw.
“Ga, kak” Jawabnya, singkat.
“Nanti kamu kedinginan lho, aku aja sampe menggigil gini.” kata gw.
“Gpp kok...” jawabnya pasrah.

Lalu kami pun mulai meluncur menuju ke Bandung. Waktu sepeda motor gw melintas di jalan rel kereta lagi. Gw ngomong sama Alfian kalo gw ngerasa di tempat itu ada ‘sesuatu’.
“Bener Kak, disini memang banyak yang meninggal gara-gara kecelakaan. Termasuk bapak aku....Dia meninggalnya juga disini....” Alfian menjelaskan dengan tenang, tapi nampak sedang menahan emosi.
Gw tidak mau berlarut-larut ngobrol yang bikin dia sedih. Gw hanya konsentrasi sama jalan yang akan gw lalui.

“Kak, dingin banget. Boleh meluk kakak ga?” kata Alfian.
“Boleh... peluk aja. Tangan kamu masukkin ke jaket aku aja biar hangat.” Jawab gw.
Kasian Alfian dibonceng motor subuh-subuh, cuma pake kaos oblong pula.

Di sepanjang jalan dia cerita, setelah bapaknya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ibunya menikah lagi dan punya beberapa anak lagi dari suami barunya. Usia Alfian dengan adik tirinya terpaut 3 tahunan. Alfian merasa kalo ibunya jauh lebih sayang dan perhatian sama adik tirinya. Makanya pas tadi malam berantem, ibu kandungnya sendiri sampai melontarkan kata-kata mengusir Alfian dari rumahnya.

Anak-anak produk broken home kaya ginilah yang biasanya mencari kasih sayang di luar rumahnya. Dia mencari perhatian dan cinta dari orang yang jauh lebih dewasa dari dirinya. Kebetulan gw suka sama brondonk, tapi bukan berarti gw memanfaatkan kondisi kaya gini. Cuma kebetulan aja gw sering dapetnya memang brondonk-brondonk yang kehilangan figur bapak di dalam keluarganya. Entah itu karena sudah meninggal dunia atau karena dia kurang dekat dengan bapaknya. Ya, sudahlah... apapun itu yang penting gw dan si brondonk bisa saling mengisi... Dan ga ada pihak mana pun yang merasa dirugikan.

Gw dan Alfian tiba di rumah gw pukul 03.00 lebih. Perjalanan yang cukup melelahkan memang. Alfian meminta ijin pengen mandi coz badannya sudah terasa lengket karena seharian belum mandi. Gw pun meminjamkan pakaian supaya dia bisa tidur dengan fresh. Saat itu ga ada sedikitpun niat gw untuk melakukan hubungan badan dengan Alfian. Disamping ga tega melihat kondisi Alfian, badan gw sendiri juga ngerasa capek banget.
Gw hanya mencium kening Alfian, sambil mengucapkan selamat tidur... Dia tersenyum, kelelahan tak bisa disembunyikan dari rona wajahnya.

Beberapa waktu kemudian gw mulai terlelap. Lalu gw terbangun dari tidur gw,  karena merasakan ada pelukan erat dari belakang tubuh gw. Dan sesuatu yang hangat dan mengeras mengganjal di bagian bawah punggung gw... Gw perlahan-lahat membalikkan badan. Tatapan mata gw dan mata Alfian bertautan. Rupanya Alfian belum bisa memejamkan matanya.

“Kamu ga bisa bobo?” bisik gw...
“Iya, kak...” desisnya...
“Kakak bisa peluk aku ga?” tanya Alfian.

Gw hanya tersenyum dan langsung memeluk erat tubuh dia. Dia nampak nyaman dalam pelukan gw.  Tanpa disadari dari pelukan itu berkembang menjadi ciuman romantis, lalu menjadi berubah menjadi ciuman yang panas membara... Lalu tubuh gw dan Alfian pun kini sudah tak memakai apapun juga. Semuanya berjalan natural... Gw tak kuasa menahan gejolak itu. Alfian memang brondonk tampan, hingga gw ga berdaya untuk mengendalikan api berahi yang dia kobarkan. Dan satu hal lagi yang gw suka, Alfian punya ‘senjata’ yang istimewa, panjangnya 18cm. Wow!! I love it!  Dia versatile, sehingga gw bisa menikmati mengoral penisnya yang panjang dan bisa memberikan ‘kenikmatan’ lain kepada dirinya. Tanpa terasa permainan  hot itu berlangsung hampir 1 jam. Kami sama-sama mencapai klimaks secara bersamaan.

Setelah berbilas, kami beranjak mau kembali tidur. Adzan subuh sudah 20 menitan yang lalu berkumandang. Tiba-tiba HP Alfian berdering, rupanya telpon dari ibunya. Ibunya menyuruh Alfian untuk pulang saat itu juga. Dia mengancam kalo Alfian tidak segera pulang, Alfian tidak akan diperbolehkan pulang untuk selamanya.

Kasian Alfian, diusianya yang masih terlalu muda udah harus menghadapi masalah  hidup yang cukup berat.

“Kak, aku harus pulang...” Alfian minta ijin.
“Subuh-subuh gini? Agak pagian aja ya, biar akunya udah ga terlalu capek.” Jawab gw.
“Si mama ga bisa dibantah, kak. Kakak anterin aku sampe terminal aja...” Sahut Alfian.
“Baiklah...” kata gw, sambil manggut-manggut.
“Tapi aku pinjem uang Rp 10.000,- buat ongkos pulang. ya Kak. Soalnya aku ga pegang uang sedikitpun.” Alfian bicara dengan sedikit ragu dan malu.

Gw, mengiyakan kan, lalu menyelipkan uang secukupnya ke tangan Alfian. Dan menegaskan itu bukan uang pinjaman, tapi gw memberikannya dengan ikhlas.
Lalu gw mengantarkan dia sampai ke terminal, hingga mobil angkot yang ditumpanginya melaju...

Tiba di rumah, gw langsung ke kamar dan menarik selimut. Tapi dari balik selimut gw menemukan benda mengkilat. Rupanya itu kalung milik Alfian, yang terlepas waktu kami bergumul tadi. Keesokkan harinya gw mengabarkan ke Alfian kalo kalungnya ketinggalan di rumah gw. Dia bilang tar kalo dia pas main ke Bandung akan memberi kabar, biar bisa janjian ketemu gw untuk mengambil kalungnya. Rupanya kami belum berjodoh. Disaat dia 3 kali lagi berada di Bandung, gw lagi ada urusan lain, jadi ga sempat menemui dia.

Kejadian itu sudah lama sekali. Sekarang dia sudah bekerja sebagai front office di sebuah Bank swasta, di luar pulau Jawa. Alfian sudah pergi jauh, tapi dia meninggalkan kesan yang tak terlupakan. Coz dia satu-satunya brondonk yang mampu membuat gw mau nekat malam-malam jemput dia, ke lokasi yang jauh, dan melewati tempat yang horor he he he... 

Entahlah penting atau tidak, kalung Alfian akan gw simpan baik-baik, sampai sang pemilik datang lagi untuk mengambil haknya... Sekalipun tidak diambil selama-lamanya, tapi gw akan terus menyimpannya. Anggap aja kalung itu sebagai salah satu memorabilia petualangan gw he he he....


Conclusion:
Ketika kita punya niat ikhlas untuk menolong, singkirkan pamrih dan keinginan untuk dipuji. Karena di saat kita tidak memperhitungkan jasa-jasa kita, saat itulah Tuhan sedang mengakumulasikan pahala kebaikan kita.

Selasa, 24 Januari 2012

Bandung Gay Badminton Club


Sudah lama sebenarnya teman chat gw Reyhan (yang belakangan akrab di FB dan pernah ketemuan sekali), ngajak gw main bulutangkis bareng dia. Sepengetahuan gw, Reyhan memang hobby banget olahraga tepak-tepok bulu angsa itu. Dalam seminggu dia main 3-4 kali. Sementara gw hanya punya jadwal 1 kali dalam seminggu, tentu saja mainnya dengan teman-teman str8 gw. Gw sih rutin main bulutangkis sudah cukup lama. Olahraga memang berguna banget untuk menjaga kebugaran fisik, dan  tentu saja korelasinya berguna juga untuk fitalitas di olahraga ranjang qiqiqi…

Dari sekian ajakannya, yang sering batal tiba-tiba gagal (entah gw atau dia yang ngebatalin). Akhirnya gw sepakat untuk mencoba bergabung main bulutangkis bareng dia minggu malam, awal tahun 2011. Sehari sebeumnya gw tanya tentang dimana lokasinya, dia bilang di Dago. Ya sudah, gw cukup mengenal daerah Dago dan tampaknya tidak akan ada kesulitan menemukan alamat GOR-nya. Pada hari H, beberapa jam sebelum  jadwal bulutangkis, gw sms lagi nanya alamat lengkap GOR-nya. Trus dia bilang di GOR Kantor  PDAM,  Dago. Hmmhh… Sepanjang pengetahuan gw, di Dago itu ga ada Kantor PDAM. Trus gw tanya lagi letak detailnya, masuk dari arah mana, jalan apa dsb. Akhirnya didapatlah alamat jelasnya. Dan didapatlah alamat pastinya yaitu di Kantor PDAM, Jl. Badaksinga, masuk dari Jl. Tamansari. Kalo kantor PDAM ini sih gw juga udah tau, coz pernah ngurus masalah gangguan saluran air PAM kesitu. Dan gw jadi mesem-mesem sendiri, coz sore ini gw bakal menjajal lapangan yang menurut gosip, konon merupakan tempat main bulutangkis sebuah komunitas Gay di Bandung. Gw pernah menuliskannya di postingan Bandung Gayest City In Indonesia.


Singkat cerita gw ajak teman gw yang lain untuk ikut, coz gw takut mati gaya kalo harus masuk ke komunitas itu sendirian he he he… Jadi gw ajak Hendra, teman FB yang sudah lama gw kenal tapi belum sempat untuk ketemu. Setelah sehari sebelumnya deal dan janjian mengenai waktu dan tempat ketemuannya.

Pukul 18:30, gw sudah standby di Jl. Gatot Soebroto, seberang Hotel Papandayan. Tapi Hendra belom menunjukkan batang hidungnya (boro-boro batang itunya mah wkwkwk…). Gw beberapa kali sms, dia jawab on the way. Trus gw telpon, dia jg masih bilang on the way,  katanya macet banget. Gw sebenernya paling benci kalo disuruh nunggu, apalagi ini nunggunya dipinggir jalan dan sampai 35 menit pula!!! Biasanya toleransi gw buat keterlambatan adalah 15 menit. Lewat dari itu gw biasanya langsung naik amphere he he he… Coz menurut gw soal keterlambatan kan bisa diatasi dengan mempersiapkan dan berangkat sebelum waktu yang ditentukan. Gw orang yang on time, makanya gw suka kesel sama orang yang suka ngaret.

Dari kejauhan nampak pemuda slim, hitam manis, berkaos ungu berlari-lari kecil menuju ke arah gw. Dia senyum-senyum sambil minta maaf atas keterlambatannya. Gw hanya ngomel-ngomel sebentar, dan berenti setelah dia bilang; “Sudahlah Kak, mendingan kita langsung berangkat aja, daripada kita makin terlambat”.  Lalu  meluncurlah gw dan Hendra menuju GOR PDAM dengan sepeda motor gw.


Setelah nanya ke beberapa orang di daerah Jl. Badak singa, akhirnya gw menemukan GOR PDAM itu. Gw mendorong pintu bercat biru, yang sedikit memerlukan tenaga ekstra dan hentakan untuk membukanya. Beberapa pasang mata langsung tertuju ke arah kedatangan gw dan Hendra. Dari jauh, nampak Reyhan lagi duduk diatas kursi wasit, dan menyuruh saya untuk langsung masuk, menuju ke lapang 1 dan 2.

Disana, gw mendapati orang-orang yang sangat ramah dan ga aneh-aneh. Secara fisik juga hampir semuanya cowok banget. Komunitas disitu penghuninya kebanyakan gay yang sudah senior, bahkan ada yang datang membawa anaknya. Tentu saja karena ‘senior’ tidak mengherankan kalo ada beberapa dari antara mereka yang beperut gentong dan berkumis he he he… Kebetulan gw mah ga suka dengan tipe-tipe daddy-daddy  kaya gitu, termasuk Dedi Dhukun dan Deddy Dores  wkwkwk… Bukan apa-apa sih, gw kan pada dasarnya emang penggemar brondonk he he he…

Disana gw hanya main 2 kali, dengan hasil; satu kali kalah dan 1 kali menang. Pada permainan yang  pertama gw berpasangan dengan seorang Daddy, yang bawa anaknya (tapi lupa lagi siapa namanya he he he…). Tentu saja karena si Deddy bertubuh tambun, pergerakannya jadi lambat he he he… Yang ke-dua gw berpasangan dengan Reyhan. Permainan gw dan Reyhan ternyata kompak banget, even baru pertama kali berpasangan. Ternyata kami bisa menang telak membantai lawan kami he he he…


O ya, namanya juga di komunitas badminton binan, jadi tetep aja yang ngondek mah ada. Gw melihat ada dua orang yang ngondek parah, dan ada juga yang ngondeknya Cuma muncul waktu kaget atau berteriak kesal waktu gagal memukul shutlcock he he he… dan salah satu yang ngondeknya paling eksis malah yang badannya paling tegap dan berotot ck ck ck…(sambil geleng-geleng kepala) he he he…


Reyhan yang dalam keseharian tampilannya cowok banget, berkulit sawo matang, dan rambut dicepak. Waktu main bulutangkis mah sesekali keluar juga ngondeknya ha ha ha… dan waktu serve tangannya kok jadi lentik bin keriting ya? ha ha ha… Tapi dia mainnya cukup bagus kok! Salut!!

Waktu gw main di game ke-2 Hendra yang duduk di tribun, nampak merasa kebosanan. Dia pamit pulang duluan, dengan alasan dijemput temannya. Ya sudah gw, ga bisa nahan dia juga kalo mau pulang duluan mah.

Dari Reyhan gw baru tau, ternyata komunitas badminton itu sudah lumayan terkenal karena mainnya bagus. Dan sering jadi juara dalam perlombaan-perlombaan dan pertandingan-pertandingan persahabatan. Komunitas ini selain di Bandung, mereka juga sering melakukan pertandingan persahabatan ke Jakarta dan kota-kota lainnya.

Permainan usai dan kami pun bubar, gw langsung pulang ke rumah. Sementara yang lainnya pada nyari makan dulu. Tak lupa mereka, ngajak gw untuk rutin bermain bulutangkis di komunitas mereka. Komunitas bulutangkis di Kantor PDAM ini sebetulnya ada namanya, tapi gw sengaja tidak akan menyebutkan namanya, untuk menjaga privacy mereka. Buat yang mau gabung, datang aja pukul 18:00-21:00 WIB, tapi dijamin ga akan ketemu sama gw he he he…

Waktu sampai di rumah, Hendra SMS minta maaf udah pulang duluan, coz dia ngerasa ga nyaman ada yang natap dia terus-menerus ha ha ha… Tapi anehnya dia minta diajak lagi kalo gw main bulutangkis disana… lho? Apa maksudnya ya? wkwkwk…

Keesokan harinya, di FB gw ada yang nge-add, dan dia adalah seorang Daddy di Gay Badminton Club itu he he he… sebut saja namanya Yakub, dan gw accept. Padahal mah teman-teman gw di FB hampir semuanya brondonk (plus ga ada ceweknya) wkwkwk…


Hmmhhh… tapi yang bikin gw heran, pada kemana ya anak mudanya? Kok di Gay Badminton Club itu, yang mudanya cuma ada 2 orang, termasuk Reyhan. Selidik punya selidik (dari chat dengan Reyhan dan Yakub), ternyata komunitas mereka lagi mengalami perpecahan. Anak-anak mudanya sekarang telah membuat Gay Badminton Club yang baru, dan main bulutangkisnya di GOR lain, di daerah Jl. Gatot Soebroto. Sekarang Reyhan pun sudah pindah ke Badminton Club yang baru itu. Dan dia ngajak gw untuk gabung ke komunitas itu. Kata Reyhan sih, disana permainannya lebih seru, coz mereka masih muda dan kualitas permainan mereka lebih bagus, plus staminanya masih oke he he he… Karena hari minggu kemarin, gw ada acara kumpul keluarga dalam rangka menyambut malam Tahun Baru Imlek. Gw memutuskan untuk menjajal Gay Badminton Club yang baru itu minggu depan…


Conclusion:
Selama positif, apapun komunitasnya; kalo niatnya untuk berolahraga dan agar tubuh jadi bugar. Ga ada salahnya kan? So… Welcome To The Club!!!