Tampilkan postingan dengan label homoseksual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label homoseksual. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Desember 2013

My Hobbies, My Passions...

Cukup lama juga gw ga menjamah blog ini. Bukan ga ada ide menulis. Bukan pula artinya petualangan gw di dunia gay sudah berkurang. Tapi gw diserang virus malas menulis he he he.... Ya mau gimana lagi, itulah gw  orangnya sangat moody. Buat para pembaca blog; thanks ya udah sabar menunggu tulisan-tulisan gw. Dan inilah tulisan gw yang terbaru setelah vacum menulis beberapa bulan he he he...

Sudah lama gw suka memasak. Mulai dari sekedar masak telor ceplok atau nasi goreng, sampai ke masakan yang lebih rumit. Tapi dari semua jenis masakan gw lebih tertarik memasak masakan Indonesia dan Chinese food (bukan berarti memasak masakan lainnya ga bisa ya). Gw suka masakan asli Indonesia karena kaya akan rasa rempah dan mengundang selera banget. Jujur gw lebih suka masakan yang rasanya nendang di lidah, makanya gw ga suka yang namanya sushi coz menurut lidah gw rasanya flat dan hambar he he he...

Bakat memasak gw diturunkan dari Mama dan Papa gw. Hidangan yang mereka sajikan selalu istimewa buat lidah gw. Even cuma sekedar sayur kacang merah yang sederhana tapi terasa special. Mama gw lebih pintar memasak masakan lokal, sementara Papa lebih ke Chinese food. Ssstttt.. anehnya bakat memasak ini cuma diturunkan kepada gw (bakat binancini kali ya ha ha ha...). Sementara sodara-sodara kandung gw yang lain kurang bisa memasak, termasuk kakak dan adik cewek gw he he he...

Buat gw menilai kemampuan memasak seseorang cukup simple, yaitu dengan mencicipi nasi goreng dan sambal buatannya. Kalo rasanya enak, gw bisa menjamin orang itu pasti pandai memasak. Coz dalam membuat nasi goreng dan sambal itu butuh feeling dan keseimbangan dalam mengolah rasa (begitu juga dengan masakan lainnya). Sampai sekarang gw ga begitu suka membeli nasi goreng, gw lebih suka membuatnya sendiri coz kebanyakan hanya membuatnya secara asal jadi aja.

Bagi beberapa kalangan, lelaki yang pandai memasak dianggap merupakan sebuah aib dan turun kejantanannya. Tapi gw mah cuex aja. Buat gw kemampuan memasak itu semacam anugerah dari Tuhan. Lagian kalo bicara soal kejantanan, gw juga kan pejantan tangguh buat makhluk-makhluk jantan lainnya he he he...
Orang bilang; cinta itu berawal dari perut, dan gw mengaminkannya. Gw sangat puas bila orang-orang yang gw sayangi sangat menikmati masakan hasil karya gw.

Gw emang tidak memasak tiap hari. Gw hanya memasak disaa gw mau saja. Dan kalo ada acara-acara spesial semacam ultah anggota keluarga atau perayaan-perayaan hari tertentu lainnya, sudah bisa dipastikan gw yang disuruh turun tangan he he he...

Gw sudah lama mengikuti blognya Bedjo, blogger Indonesia yang tinggal di Jerman. Dia sering coba-coba aneka masakan dan kue khas Indonesia. Mungkin untuk mengobati rasa kangennya terhadap hidangan khas tanah air. Gw suka kagum dengan usahanya mewujudkan hidangan lezat dengan bahan-bahan terbatas karena hidup di negeri orang.
Kemampuan membuat kue dari sahabat gw Daffa juga turut menginspirasi gw. Gw banyak menimba ilmu darinya.

Kurang dari 2 bulan ini gw punya hobby baru, yaitu membuat aneka kue. Awalnya gw dikasih resep brownies kukus dari Daffa (sebenarnya sudah agak lama sih). Gw sering membuatnya sampai bahan-bahannya gw hafal di luar kepala he he he... Selain cara membuatnya simple, juga tidak memerlukan alat-alat khusus. Lama-lama gw pengen mencoba membuat kue-kue lainnya, baik yang dikukus maupun yang dipanggang. Kue-kue yang dikukus gw hanya mengandalkan kukusan sederhana, sementara buat kue yang di panggang gw hanya memakai baking pan jadul punyanya nyokap gw.

Karena kukusan biasa daya tampungnya sangat sedikit, dan ada kue-kue tertentu yang bakal bantat kalo kelamaan mengantri dikukus. Makanya gw membeli klakat, yaitu alat kukusan berbentuk persegi dengan tutup berbentuk piramida. Menurut referensi yang gw baca, klakat adalah alat kukus yang paling bagus, coz selain daya tampungnya besar, juga air tetesan uap dari tutupnya mengalir kearah pinggiran kukusan, jadi tidak akan merusak kue. Dengan klakat ini gw bisa membuat aneka macam kue yang proses pematangannya dengan cara dikukus.

Klakat

Setelah puas dengan kue-kue yang dikukus, gw tertantang membuat kue yang dipanggang. Dan akhirnya setelah browsing dan tanya sana-sini. Gw memutuskan untuk membeli sebuah oven gas, harganya memang sedikit lebih mahal dari oven listrik, apalagi oven tangkring. Oven listrik memang praktis tapi kapasitasnya kecil dan membutuhkan daya listrik yang besar, jadi gw coret dari daftar belanja gw. Oven Tangkring memang ekonomis, tapi panasnya kurang rata coz mengandalkan api yang berasal kompor, yang menyala di bagian tengah oven. Sementara oven gas panasnya lebih merata, dan pengapiannya bisa atas dan bawah.

Oven Gas

Setelah punya oven gas, gw jadi rajin mencoba-coba aneka resep kue. Gw belajar bikin kue secara otodidak. Hanya mengandalkan feeling. Memang sih gw banyak browsing dari internet, baca buku resep, dan tanya-tanya sama teman. Tapi pada prakteknya gw sendiri yang harus menghadapi dan memutuskan langkah apa yang akan diambil. Perlu diketahui, resep-resep yang berasal dari buku maupun internet jarang yang membahasnya secara mendetail.  Kesimpulannya: praktek, praktek, dan praktek adalah cara terbaik untuk menguasai ilmu membuat kue.

Teman gw bilang, kalo membuat kue itu harus ada bakat khusus. Mungkin kalo dalam urusan bercocok-tanam disebut sebagai 'bertangan dingin', apa yang ditanamnya pasti tumbuh dengan baik.
Selama gw mencoba aneka resep kue, selama itu pula gw bisa dikatakan selalu berhasil. Ga pernah tuh yang namanya hasil kue gw bantat atau ga enak he he he... Mungkin karena gw orangnya sangat teliti dalam membaca resep secara step by step.

Bolu kukus yang kata orang sulit; sering bantat, suka mingkem alias susah mekar dan lain-lain. Karena tingkat kesulitannya, sampai-sampai dikalangan praktisi pembuat kue ada istilah "kutukan bolu kukus bantat" he he he... Orang-orang harus mencoba berulang-ulang sampai akhirnya berhasil. Sementara gw bisa membuatnya dengan nyantai aja he he he...  Sekali jadi bagai pake tongkat ajaib: tring... tring... tring... Gw pernah membuat beberapa varian bolu kukus, tapi sayangnya lupa motret he he he...
Jadi kuncinya dalam membuat kue itu kita kudu: memilih bahan yang tepat, mengkuti cara membuatnya secara step by step, dan selalu memperhatikan tips-tipsnya. Untuk pemula jangan nekat memodifikasi resep dulu. Kalo sekedar memodifikasi warna dan aroma kue sih bolehlah...

Sayang sekali gw mendokumentasikan kue hasil karya gw dengan kamera itu, baru akhir-akhir ini aja. Jadi ga semua kue yang pernah gw buat ada fotonya. Hampir dari setiap foto kue buatan gw, gw selalu memunculkan si kucing pemanggil rejeki. Ga ada maksud apa-apa sih, cuma iseng aja. Tapi kalo ternyata bisa mengundang rejeki, ya gw bersyukur banget he he he... Btw, si kucing pemanggil rejeki ini gw beli dari sebuah kelenteng waktu malam Tahun Baru Imlek kemaren.


Bolu Kukus Warna-Warni Ceria

Bolu Kukus Cokelat-Vanilla


Cake Tape Keju
Cake Tape Keju Dalam Cup
Cake Pisang
Brownies Kukus

Christmas Cookies Dengan Royal Icing
Rainbow Cake
Bolu Kukus Putih Telur Gradasi Biru
Nastar Keju
Bika Ambon Pandan

Gw iseng-iseng mengupload foto-foto kue buatan gw di FB. Responnya bermacam-macam; ada yang kagum doang, ada yang minta resepnya, ada yang pengen nyoba kelezatan kue buatan gw, dan ada pula yang nanya-nanya berapa harganya? boleh pesan ga?? Dan taraaaa... tanpa disangka hobby baru gw bisa menghasilkan duit juga he he he...

O ya pas ultah ibu gw Bulan November kemaren, gw membuat rainbow cake dan brownies kukus. Respon dari tamu-tamu yang datang; mereka menyukai kue buatan gw, dan ada beberapa yang tertarik memesan kue dari gw.
Tak jarang adik gw membawa kue-kue buatan gw ke kantor tempatnya bekerja. Ada beberapa temannya juga yang tertarik memesan kue buatan gw.
Aneh tapi nyata, tapi ini beneran terjadi lho...

Conclusion:
Terkadang kita tidak menyadari kita punya bakat terpendam, sampai ada satu moment yang membuat bakat itu muncul dan bersinar.












Jumat, 05 Juli 2013

Nostalgia SMA



NOSTALGIA SMA 
Written by Dadang S. Manaf
Song by Paramitha Rusady

Kau bercanda lucunya
Yang lain pun tertawa
Seakan saja
Cerita dan canda kita
Tiada habisnya
 

Ada yang saling cinta
Bermesra di sekolah
Selalu berdua
Berjalan di sela-sela
Rumput sekolah kita
Oh indahnya....


Nostalgia SMA kita
Indah lucu banyak cerita
Masa-masa remaja ceria
Masa paling indah
Nostalgia SMA kita
Takkan hilang begitu saja
Walau kini kita berdua
Menyusuri cinta...


Kemaren malam gw iseng liat-liat video clip jadul di youtube, ketemulah lagu ini. Waktu mendengar lagu yang dinyanyikan Paramitha Rusady ini, gw seakan terbawa kembali kepada kenangan-kenangan lama sewaktu gw masih jadi siswa berseragam putih abu. Gw tau banget lagu ini, karena dulu sering dinyanyikan berulang-ulang oleh kakak cowok gw yang lagi belajar main gitar.

Benar kata orang kalo masa-masa SMA itu merupakan moment terbaik dan kenangan tak terlupakan. Kenapa bisa begitu? Mungkin karena di usia itu kita untuk pertamakalinya merasa menjadi orang gede dan mengenal rasa cinta. Berbeda dengan anak jaman sekarang yang udah mengenal pacaran di usia SD, atau bahkan pengalaman pertama melakukan ML di masa SMP.. wuiiihhhh.... Kalo gw mah boro-boro tau ML, melakukan onani aja merasa berdosaaaaaaa bangeeeet ha ha ha... (polos banget ya gw? wkwkwk...).

Setelah gw lulus dari sebuah SMP Negeri, gw melanjutkan ke sebuah SMA Negeri di daerah Kabupaten Bandung. Gw sebetulnya ogah bersekolah di situ. Sekalipun itu adalah sekolah favorit di kota tempat tinggal gw, coz gw pengennya sekolah di kodya Bandung. Tapi apa boleh buat, keputusan bokap ga bisa dibantah.. huh!!.
Secara prestasi akademik, gw ga terlalu istimewa-istimewa banget. Tapi ga bego-bego banget juga sih he he he...  Ya, kalo soal ranking mah gw selalu bisa masuk 5 besar, kok.

Karena letak sekolahnya berada dipinggiran, kami menyebutnya sebagai sekolah disko alias sekolah di sisi kota he he he... Sekolah gw emang di daerah pedesaan yang udaranya masih segar dan dekat dengan area persawahan. Untuk mencapai sekolah, setiap harinya gw harus berjalan kaki sekitar 500 M, kemudian dilanjutkan dengan naik delman. Saking seringnya gw naik delman, gw jadi kenal dengan para kusirnya. Dan gw pun dapat ilmu mengendalikan delman dari mereka. Beberapa kali gw pernah mencoba mengendarai delman lho he he he...
Caranya gampang kok:
1. Menghentakan kedua tali kekang untuk menyuruh kuda mulai maju dan berlari.
2. Kasih cambukkan untuk membuatknya berlari lebih kencang.
3. Menarik-narik tali kekang kanan berulang-ulang tapi pelan untuk membelokkan ke arah kanan.
4. Menarik-narik tali kekang kiri berulang-ulang tapi pelan untuk membelokkan delman ke arah kiri.
5. Menarik kedua tali kekang secara bersamaan dan bertenaga untuk menghentikan laju delman.

Simple kan? begitulah panduan singkat mengendalikan delman he he he... tak lupa bunyikan klakson tradisionalnya yang bunyinya sangat khas dan nyaring: ‘ting tong’.

Selain naik delman, kadang-kadang gw juga naik becak. Tarifnya 3 kali lipat dari ongkos naik delman. Untuk becak, gw punya langganan tetap. Dari kejauhan dia selalu melambai-lambaikan tangannya, kearah gw untuk menawarkan jasanya. Dia sangat bertenaga, sehingga laju becaknya jauh lebih cepat dari becak-becak lainnya. Abang becak itu masih muda, ramah, badannya berotot dan lumayan tampan he he he... Tapi yang bikin dia nampak hot adalah, dia selalu pakai celana super pendek, semacam hotpant (celana jeans yang sengaja dipotong pendek) he he he... Celana pendeknya itu mengekspose pahanya yang kekar berotot dan menonjolkan gundukan isi celana dalamnya ha ha ha...

Di kelas II dan III gw bersahabat dengan teman sebangku, sebut saja namanya Nurdin. Anaknya lucu, kulitnya sawomatang, badannya kekar, sedikit pendek tapi berpaha besar dan bokongnya berisi he he he... (dia hobby banget main sepak bola). Sekalipun dia berasal dari keluarga orang kaya dan muslim yang taat, tapi dia sangat toleran dengan gw yang punya kepercayaan yang berbeda dengannya.

Sejak bersahabat dengan Nurdin, gw jadi jarang naik delman, coz tiap hari gw diantar jemput oleh Nurdin. Perginya gw menunggu dia di tempat terminal delman, tapi pulangnya gw diantar sampai ke rumah. Sepulang sekolah gw sering menghabiskan waktu di rumah Nurdin yang luas banget tapi sepiiiii... Ngobrol, ngerjain PR, main nintendo dll. Begitu juga, Nurdin sering main ke rumah gw. Dia sangat care sama gw, setelah main dari rumahnya pasti dia mengantar gw pulang. Ppadahal gw sering menolaknya karena merasa sungkan. Dia selalu ingat dan memberikan kado waktu gw berulangtahun, begitupun juga gw. Kalo dipikir-pikir sekarang, kayanya agak ganjil ya kalo hubungan cowok seakrab/semesra itu? he he he...   

Dia juga ga segan-segan bertelanjang di depan mata gw, waktu dia berganti pakaian. Sekalipun badannya pendek tapi burungnya cukup menggoda, dengan bulu-bulunya yang sudah sangat lebat he he he... Gw kadang memalingkan muka, antara malu sendiri dan takut horny ha ha ha...

Kami emang tumbuh bersama, begitupun waktu kami mulai mengenal cinta pertama. Dia berpacaran dengan tetangganya yang bernama Mutiara dan gw berpacaran dengan lydia. Tapi Nurdin seringkali lebih mengutamakan gw dibandingkan pacarnya. Secara waktu juga Nurdin lebih sering bersama dengan gw dibandingkan dengan pacarnya.

Setelah lulus SMA, Nurdin diterima di UGM sementara gw kuliah di salah satu PTS di Bandung. Perpisahanpun tak terelakkan. Tapi tiap kali libur panjang, Nurdin pasti menyempatkan berkunjung ke rumah gw. Sampai kami sama-sama lulus kuliah dia masih suka berkunjung ke rumah gw. Karena kesibukkan pekerjaan dan lain sebagainya, lama-kelamaan kami tidak berhubungan lagi.

Beberapa tahun lalu gw ketemu lagi dengan Nurdin di sebuah resepsi undangan pernikahan. Dia sudah menggandeng seorang perempuan, yaitu istrinya, tapi mereka belum punya anak.
Begitulah hubungan gw dengan Nurdin yang sangat gw nikmati sekalipun cuma sebagai sahabat... sangat... dekat... sekali... ha ha ha...


O ya, Nurdin lahir di bulan yang sama dengan gw tapi dia satu tahun lebih tua dari gw (dia lahir tanggal 5 dan gw tanggal 18).Hari ini tanggal 5 Juli, adalah hari ulang tahunnya Nurdin. “Selamat ulang tahun, sobat. Mungkin kamu ga akan pernah baca kisah yang aku tulis ini. Tapi percayalah, aku akan selalu mengingat kamu sebagai sahabat terbaik aku.”


Di sekolah itu gw juga jadi tau beberapa karakter teman yang berbeda-beda. Ada Agus Barkah yang ga pernah pake celana dalam. Burungnya suka keliatan gundal gandul. Malah sering nampak jembutnya nongol waktu ritzleting celananya rusak dan melorot terus ha ha ha...

Ada lagi teman yang menurut gw sih cenderung eksentrik, sebut saja namanya Chaidir. Waktu upacara bendera dia bertugas membacakan doa, tapi dia malah bedoa dengan cara berpuisi. Kami sampai-sampai kami semua dibuat ngakak terpingkal-pingkal he he he... Chaidir termasuk anak yang cerdas, sekalipun anak seorang tukang becak. Kadang pemikirannya beberapa langkah di depan kami. Ibu Hariani, seorang guru biologi yang masih sangat muda, sempat dibuat salah tingkah waktu Chaidir bertanya: “Apa bedanya organisme dengan orgasme??” he he he... padahal waktu itu kita masih kelas I. Gw mah boro-boro tau apa orgasme, masalah seks aja masih ngeblank ha ha ha... Di kelas III Chaidir dikeluarkan dari sekolah karena tertangkap sebagai salah satu gerombolan perampok. Beritanya pun sangat menghebohkan, karena dimuat di koran-koran.

Aisyah adalah salah satu teman perempuan di kelas gw yang termasuk paling alim. Rumah Aisyah letaknya tidak jauh dari sekolah gw. Dia berkerudung dan sikapnya sangat santun. Dia berpacaran dengan kakak kelas gw yang aktif di ekskul kepramukaan. Namanya Ridwan, orangnya alim juga. Suatu hari bapaknya Aisyah ngamuk sambil mengacung-ngacungkan golok mengusir Aisyah dari rumahnya, karena dia hamil diluar nikah. Mungkin bapaknya Aisyah merasa tercoreng nama baiknya oleh kelakuan anaknya sendiri. Padahal dia adalah seorang kepala sekolah sebuah SMP. Kejadian ini cukup menggemparkan sekolah gw.

Masih inget dengan teman gw Syarief? Ya dia adalah teman gw yang super ngondek dan suka dijadikan objek pemuas sex teman-teman paling bandel di kelas. Dia dengan sukarela dan bahagia mengoral penis para preman kelas he he he...  Kisah lengkapnya pernah gw tulis di Sejumput Kisah Indah Masa Kecil.

Di kelas III ada guru Bahasa Inggris yang galak banget, sebut saja namanya Ibu Aprilia. Ibu guru berkerudung ini sebenarnya cantik dan bermata bening tapi juteknya minta ampuuuun. Dia sangat tegas dan ga ada kata ampun. Aturannya ga bisa dibantah. Masuk kelas tidak boleh terlambat sekalipun cuma 1 menit, kalo terlambat tidak akan diperbolehkan masuk.  Begitulah karakter guru perempuan yang masih lajang, kadang suka berlagak galak.

Perlakuan galak itu rupanya tidak berlaku sama gw. Gw diperlakukan sangat baik oleh dia. Sampai-sampai teman-teman sekelas menggosipkan kalo Ibu Aprilia itu naksir berat sama gw.  Ibu Aprilia emang ga segan-segan meminta tolong sama gw untuk memeriksa hasil ulangan teman-teman sekelas gw, atau menyuruh hal-hal lainnya; seperti memfotocopy-kan ktp-nya yang fotonya belum berjilbab (dia wanti-wanti jangan sampai orang lain melihat fotonya). Beberapa kali dia memberi gw sebatang coklat, sebagai tanda terimakasih he he he...

Perlakuan yang sangat jomplang antara kepada gw dan teman-teman gw sangat terlihat jelas. Waktu gw dan beberapa teman gw datang terlambat. Padahal mata pelajaran Bahasa Inggris sudah berlangsung lebih dari 10 menit yang lalu. Setelah kami mengetuk pintu kelas, kami pun diinterogasi.
“Kenapa kamu terlambat, Azis?” tanyanya.
“Tadi ga ada kendaraan, bu. Delman ga ada, becak juga ga ada...” Jawab Azis dengan suara sedikit bergetar ketakutan.
“Kenapa kamu tidak pergi lebih awal??, sana keluar!!!” Ibu Aprilia mengusir Azis.
“Ronny, alasan kamu apa?” lanjut Ibu Aprilia.
“Tadi ada buku yang ketinggalan, jadi saya harus pulang lagi ke rumah, bu.” Jawab Ronny.
“Makanya jangan ceroboh! Hukuman buat yang ceroboh, silahkan belajar di luar kelas!!” kata Ibu Aprilia tegas.
“Trus, kenapa kamu terlambat Farrel?” tanya Ibu Aprilia dengan nada yang lebih rendah.
“Hmmm... Maaf bu, tadi saya bangunnya kesiangan...”. jawab gw asal-asalan sambil senyum dan pasang muka innocence.
“Nah, itu baru alasan yang logis. Duduk sana di bangku kamu...” sahut Ibu Aprilia dengan lantang. Sontak keputusan Ibu Aprilia itu disambut tepuk tangan dan suara sangat riuh teman-teman sekelas. Sumpah!! Gw  maluuuuu bangeeeet... diperlakukan istimewa kaya gitu ha ha ha...
“Diaaam!!! Kita lanjutkan pelajaran, buka halaman 42!!!” hardik Ibu Aprilia.

Guru sejarah gw, namanya Pak Darsono. Dia adalah salah satu guru yang kalo gw inget suka bikin gw ketawa-ketawa sendiri. Perawakannya tinggi cungkring, berambut ikal dan berjanggut. Yang lucu dari dia adalah gaya dia waktu mengendarai sepeda motornya. Gayanya sangat khas, yaitu kaki kanannya ngangkang selebar-lebarnya. Sementara kaki kirinya posisinya merapat ke tengah. Gw suka bercanda khayalan tingkat tinggi dengan teman-teman gw, waktu  liat Pak Darsono lagi ngebut dengan sepeda motornya: “Coba kalo lagi ngebut gitu kaki kanannya nyangkut di tiang listrik, dia bisa muter-muter ditempat sampe maghrib kali ya? ha ha ha...”.

Ada seorang guru pria yang digosipkan para siswa sebagai penyuka sesama jenis. Sebut saja namanya Pak Kohar. Perawakannya gemuk, kulitnya hitam, berkacamata, dan berkumis tebal. Indikasinya terlihat kalo dia lebih memperhatikan murid cowok, sementara murid-murid cewek dicuekin. Apalagi sama siswa yang termasuk berwajah tampan, pasti dia memperlakukannya sangat baik. Waktu mengajar dia sering duduk di meja siswa yang disukainya. Di tiap kelas, dia mempunyai murid kesayangan. O ya, anak laki-laki Pak Kohar adalah salah satu teman sekelas gw juga. Tapi Pak Kohar sering memperlakukan dia dengan kasar dan galak.

Segala kisah pahit-manis di masa-masa SMA,  kini tinggal menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang tak terlupakan... Seumur hidup gw.  Selamanya...

Conclusion:
Sebuah rangkaian kenangan indah yang membekas dihati, kadang bisa menjadi hiburan tersendiri. Karena bisa membuat kita tersenyum lepas tatkala mengingatnya, untuk sekedar bernostalgia.

Rabu, 29 Mei 2013

Dosa Masa Lalu

Bulan Agustus, duabelas tahun yang lalu gw untuk pertamakalinya bertemu dengan Nathan dalam salah satu lomba yang gw buat di gereja. Nathan atau Nathanael menjadi salah seorang peserta lomba itu. Waktu itu umur Nathan baru menginjak 16 tahun, satu tahun lebih tua dari rata-rata umur teman-teman seangkatannya di kelas I SMA. Tentu saja gw tau segala informasi tentang Nathan itu dari formulir pendaftaran lomba.

Dari babak penyisihan hingga babak final, menghabiskan waktu 1 bulan lamanya karena lomba hanya dilangsungkan pada Hari Minggu saja. Waktu itu Nathan keluar sebagai juara ke-2, dan berhasil membawa pulang piala beserta sejumlah uang tabungan.

Sabtu pagi di bulan Januari, ada 6 orang pengurus dari departemen youth di gereja, berkunjung ke rumah gw. Maksudnya adalah berkonsultasi dengan gw sebagai salah satu mantan ketua youth (gw ketua youth dengan periode terlama sepanjang sejarah di gereja itu). Tamu-tamu muda itu terdiri dari 4 lelaki dan 2 perempuan. Dan salah satunya adalah... Nathan!!

Mulai dari pertemuan itulah gw makin jauh mengenal sosok Nathan. Dari urusan gereja berubah menjadi hubungan non formil. Nathan dan 3 teman lainnya jadi makin sering main ke rumah. Hubungan yang lumayan aneh sih, coz umur gw terpaut cukup jauh dengan mereka. Dari 4 orang brondonk itu, Satu orang yang sangat akrab dengan gw. Yaitu, Nathan.

Nathan berasal dari keluarga broken home ibu dan bapaknya sudah bercerai. Hal itu menyebabkan Nathan harus tinggal dengan ibu dan bapak tirinya, juga beberapa adik tirinya. Sementara bapaknya tinggal dengan isteri barunya. Padahal, sebelumnya juga Nathan sudah punya kakak-kakak tiri, baik dari perkawinan bapaknya maupun perkawinan ibunya yang terdahulu.

Kepribadian Nathan termasuk tenang tapi ramah. Percampuran darah Chinese dari bapaknya, dan Jawa dari ibunya membuat perpaduan unik. Warna kulit dan wajahnya memang lebih dominan ke Jawa, tapi tak mengurangi ketampanannya.

Makin lama keakraban makin terjalin antara gw dan Nathan. Melalui kegiatan ibadah bareng, olahraga bareng, ngeband bareng, ataupun hanya sekedar jalan-jalan di mall. Semua itu membuat hubungan gw dan Nathan seakan ga ada jarak lagi. Apapun bisa kami bicarakan, tanpa menyimpan rahasia. Gw sudah menganggap dia sebagai adik kesayangan gw. Perlakuan gw yang lebih mengistimewakan Nathan terkadang membuat teman-temannya yang lain merasa iri dan cemburu.

Kekurangan sosok figur ayah dalam hidupnya, membuatnya mencari sosok dewasa yang bisa mengisi kekosongan hatinya. Dan Nathan menemukannya dalam diri gw.

Nathan sangat sering menginap di rumah gw. Bermula karena pulang kemalaman, dan kemudian menjadi rutinitas tiap weekend dan hari-hari libur. Saat libur panjang sudah bisa dipastikan dia selalu ada di rumah gw, untuk menginap berhari-hari. Di rumah gw, Nathan sudah diterima seperti anggota keluarga gw sendiri.

Nathan adalah sosok yang tertutup kepada teman-temannya, dan kurang pede dalam pergaulan. Mungkin latar belakang dia yang berasal dari keluarga broken home, menjadikannya pribadi yang tertutup dan rendah diri. Gw sering menyemangati dia dan membesarkan hatinya, dengan mengatakan kalo setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan. Jadi dia pasti punya hal lain yang bisa dibanggakan (dia termasuk anak yang cerdas).

Tak terasa keakraban kami sudah berjalan dua tahunan. Saat itu dia sudah duduk di kelas III. O ya dia mengambil jurusan elektronika di salah satu SMK Negeri di Kota Bandung.

Suatu hari terjadi percakapan antara gw dan Nathan

Ko, Mama aku kan muslim. Jadi waktu SD aku disunat. Tapi teman-teman aku ga ada yang tau, aku ga pernah cerita. Aku malu karena beda sama mereka.” Tuturnya.

“Lho kok malu?” tanya gw.

“Kan orang Kristen pada ga disunat, Ko. Sementara aku disunat.” lanjutnya.

“Ga semua juga kali. Banyak kok orang Kristen yang disunat.” Jawab gw.

“Masa? Iya gitu?” dia memasang mimik penasaran.

“Beneran. Koko juga disunat kok.” Sahut gw santai.

“Wah ternyata kita sama ya he he he...” dia tertawa renyah.

“Memang sih di Kitab-Kitab Perjanjian Lama, disebutkan kalo sunat itu wajib dilakukan pada setiap bayi laki-laki sebelum berumur 8 hari. Tapi di Kitab-Kitab Perjanjian Baru, Rasul Paulus lebih menekankan pentingnya ‘bersunat hati’ daripada bersunat secara fisik. Jadi buat orang Kristen zaman sekarang, sunat bukan sesuatu yang wajib dilakukan tapi bukan sesuatu yang dilarang juga untuk dilakukan. Kalo sekarang, alasan sunat buat kita cenderung lebih untuk kesehatan aja.” Gw menjelaskan.

“Oooohhh...” gumamnya.

“Rasul Paulus yang mengatakan sunat itu bukan suatu kewajiban, tapi dia sendiri pun disunat. Bahkan Yesus juga disunat kan?” gw menambahkan.

Dulu gaydar gw belum sehebat sekarang, tapi gw punya feeling Nathan juga punya kecenderungan suka sesama jenis. Secara fisik dia memang cowok banget. Begitupun juga secara tingkah laku. Tapi anehnya tanpa malu-malu dia sering bilang ‘kangen’ sama gw, kalo kami beberapa minggu ga ketemu. Dia juga tak segan-segan memeluk gw kalo tidur bersama. Atau sebaliknya, dia juga diam saja waktu gw memeluknya.Tapi gw ga berani terbuka sama Nathan tentang orientasi seks gw atau menanyakan tentang orientasi seksnya. Gw takut hubungan kami jadi berantakan gara-gara pengakuan yang menurut gw ga terlalu penting.

gambar diambil dari http://homotography.blogspot.com/

Gw dan Nathan seminggu sekali berenang bersama di Hotel Horison. Gw juga yang mengajarinya berenang sampai dia bisa.

Sudah kebiasaan kalo Nathan itu ga pernah bawa shampo dan sabun saat pergi berenang. Jadi dia suka meminjamnya dari gw, setelah gw selesai mandi.

Suatu hari waktu gw dan Nathan selesai berenang. Nathan bilang kalo dia lupa bawa handuk.

“Ko, aku lupa ga bawa handuk... nanti boleh pinjam ga?” tanyanya.

“Iya boleh.” Jawab gw.

Nathan membuka-buka tas ranselnya, nampak mencari-cari sesuatu.

“Yaaa... Ko. Kayanya aku juga lupa bawa kantong kresek buat pakaian basahnya.” Sahut Nathan.

“Masih muda kok pikun? he he he...” Ledek gw.

“Tadi perginya buru-buru sih, Ko.” Nathan beralasan.

“Ya udah, tar celana renangnya gabungin aja sama kresek koko. Kita mandinya bareng aja ya. Biar lebih cepet juga” ajak gw.

“Ayo aja, Ko. Tapi aku malu...” sahutnya.

“Malu kenapa? Sama-sama cowok juga kan? jadi ga usah malu-malu.” Kata gw.

Ruang bilas terutup di Kolam Renang Hotel Horison memang hanya ada 2 atau 3 buah (gw agak-agak lupa). Lagian suasana di Kolam itu emang sepi banget.

Setelah gw dan Nathan berada di dalam kamar bilas, gw menggantungkan tas di hanger, dan menyalakan shower. Setelah kami keramas, saatnya membersihkan badan dengan sabun. Gw melepas celana renang gw. Nathan sesaat bengong, lalu tersenyum memandang gw. Dia pun tanpa ragu melepas celana renangnya.

“Punya kamu imut-imut... ha ha ha” ledek gw, sambil memandang penisnyya Nathan yang terlihat menciut dan berwarna gelap dengan bulu jembut disekitarnya.

“Kedinginan, atuh Ko. Aslinya lebih gede lah.. ha ha ha...” jawab Nathan.

“Coba bikin gede. Pengen tau segede apa” tantang gw sambil senyum.

“Ya ga bisa, Ko. Kan kedinginan.” Dia beralasan.

“Sini koko bikin jadi gede.” Sambil gw berusaha mencolek penisnya dengan tangan gw.

“Jang...an!!" Ucapannya tertahan, karena aksi tangan gw jauh lebih lebih cepat daripada reaksinya he he he...


Hanya dengan satu kali sentuhan, penis Nathan nampak mengembang dan menegang. Begitupun juga penis gw turut ereksi, karena Nathan pun meraih memegang penis gw.

“Wow!! Mulai membesar neh... ha ha ha” canda gw sambil memperhatikan penis Nathan yang tegak menegang.

“Tapi punya koko lebih gede...” sahutnya malu-malu.

Kejadiannya hanya sampai disitu. Ga lebih. Kami hanya mandi berdua, dan bergantian saling menyabuni bagian belakang tubuh kami.

Mulai dari situ, setiap kami berenang pasti mandinya sekamar berdua dan saling menggosok bagian belakang tubuh kami. Walapun yang kami lakukan hanya sebatas itu, tapi gw sangat menikmatinya. Tak ada rasa canggung, dan tanpa rasa malu-malu lagi.

Kejadian itu membuat gw dan Nathan seakan ga ada jarak lagi. Waktu Nathan menginap dan tertidur pulas. Beberapa kali gw pernah memasukan tangan gw ke dalam celana pendek Nathan dan merasakan denyutan penis Nathan yang menegang. Terkadang dalam tidurnya dia melenguh.. hmmmhhhmm... menikmati sensasi usapan dan genggaman tangan gw.  Entahlah apakah dia benar-benar tertidur atau cuma pura-pura tidur. Gw juga ga tau.

Suatu malam waktu Nathan menginap lagi. Kami sama-sama ga bisa tidur. Kami hanya ngobrol-ngalor ngidul ga jelas. Akhirnya sampai ke topik tentang film bokep. Nathan bilang teman-temannya sudah pada sering nonton film gituan, tapi dia ga pernah nonton.

“Jadi, kamu pengen nonton ya?...” pancing gw.

“Hmmmm... pengen tapi takut...” jawabnya ragu.

“Takut apa?” tanya gw.

“Takut dosa, Ko.” Kata Nathan.

“Koko punya satu tuh, mau nonton?” tantang gw. gw memang cuma punya satu-satunya film bokep hetero. Kalo yang homo sih banyak ha ha ha...

“Beneran, Ko?” Nathan malah balik nanya.

“Iya, bener dong.” Jawab gw, sambil mengeluarkan sekeping vcd, dan menyerahkannya sama Nathan.

“Hmmm... boleh diputar sekarang ga, Ko?” Nathan meminta ijin.

“Putar aja.” Sahut gw singkat.


Lalu Nathan memutar film bokep itu, di vcd player yang ada di kamar gw.

Adegan demi adegan menggairahkan terlihat di layar televisi 21 inch milik gw.  Nafas Nathan terdengar memburu. Dia nampak terangsang oleh film bokep itu. Gw juga melihat sesuatu yang menonjol dan membesar dari balik celana seragam abu-abunya.

“Gimana? Seru??” tanya gw.
“Seru banget, Ko. Tapi punya aku jadi tegang banget gini. Sampe pegel rasanya.” Kata Nathan. Tapi matanya tetap tak lepas dari adegan film bokep itu.

“Coli aja sana. Keluarin biar ga tegang.” Gw memprovokasi.

“Ga ah, Ko. Nanggung lagi seru nontonnya.  Masa harus ke kamar mandi dulu buat coli?” tolaknya secara halus.

“Ya ga usah di kamar mandi lah. Disini aja. Pake malu-malu segala.” Sahut gw santai.

Lalu gw melihat Nathan membuka ritzleting celana seragam abu-abunya, terlihat bercak basah pecum di celana dalam Ridernya yang berwarna putih. Tapi dia seakan ragu dan malu untuk mengeluarkan penisnya. Gw hanya mengangguk dan tersenyum, waktu Nathan memandang gw. Kemudian Nathan mengeluarkan penisnya yang ujungnya sudah basah sekali oleh precum. Dia mengocok-ngocok penisnya tapi tidak sampai ejakulasi. Mungkin karena dia terlalu tegang dan merasa tidak nyaman coli di depan gw.

“Kamu buka aja celana kamu.” Saran gw.
Nathan lalu melepaskan celananya.

“Celana dalamnya juga dong, biar leluasa.”  Kata gw.
Secara perlahan dia menurunkan celana dalamnya.

“Bajunya juga lepas aja, biar ga kotor kena sperma.” Gw makin menyemangatinya, sambil diri gw sendiri terangsang cukup hebat menyaksikan semua yang terjadi di depan gw.

Nathan terdiam karena ragu, tapi sebelum dia berubah pikiran gw segera melucuti bajunya. Kini Nathan bertelanjang bulat di hadapan gw dengan penisnya yang super tegang. Sementara gw masih berpakaian lengkap.

“Koko temenin telanjang dong, biar akunya ga terlalu malu.” Pinta Nathan.

Lalu gw segera melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh gw.

Gw melihat Nathan memegang penisnya dan mengocok-ngocoknya, tapi nampak belum mahir memberi kenikmatan pada dirinya sendiri he he he...

“Mau koko kocokin?” gw menawarkan.

“Ga usah, Ko.” Jawabnya singkat.

“Dijamin pasti lebih enak lho...” rayu gw...

“Hmmm... gimana ya...” Nathan tampak mau, tapi ragu.

“Coba kamu berbaring di kasur.” Perintah gw. Lalu Nathan pun mengikuti omongan gw.

“Kamu diam aja ya, kamu nikmati aja sensasi kenikmatannya...” kata gw.

Lalu gw mulai mengelus-elus penisnya, kemudian mengocok-ngocok penis Nathan dengan gerakan yang variatif. Gerakkan kedepan kebelakang, memutar, menggelitik scrotumnya dan lain-lain. Dengan variasi kecepatan yang berubah-ubah. Mata Nathan nampak merem melek menikmati kelihaian tangan gw memainkan penisnya he he he... Jujur, sebenernya gw ingin banget mengoral penis Nathan. Tapi gw masih bisa menahan diri. Gw ingin kejadian ini dianggap oleh Nathan hanya sebagai ‘boy activities’ bukan ‘gay activities’.

“Enak banget, Ko....” Lenguhnya.

“Mau yang lebih enak?” tanya gw.

“Mau diapain lagi gitu, Ko?”  Nathan nampak penasaran.

“Kamu diam aja. Tetap berbaring dan nikmati aja ya...” gw berkata menenangkan.

Lalu gw beranjak mengambil handbody lotion, dari lemari gw. Kemudian gw melumuri penis Nathan yang sudah makin menegang dan sekarang nampak berurat-urat.

“Kok, dingin...?” tanyanya.

“Sssstttt... diam aja ya... kamu relax aja...” kata gw.

Lalu gw mulai memberikan sensasi kenikmatan buat Natahan melalui gerakan tangan gw, dibantu dengan licinnya lotion tadi.

“Enak... Kooo.... enaaaak bangeeeet... uuuhhh... aaaahhh.... ooohhhh....” Nathan melenguh dan maracau keenakan. Badannya mengejang-ngejang, dan diakhiri dengan semburan sperma hangat dari penisnya.  Semprotannya melesat jauh sampai membasahi seprei dan bantal gw.

“Koko keluarin juga dong, biar adil.” Pinta Nathan. Lalu gw pun melakukan apa yang dia minta. Gw masturbasi dihadapan dia...

Setelah kejadian itu, gw tersentak dan tersadar. Kok gw bisa berbuat sejauh itu? Gw takut dianggap telah melakukan pelecehan seksual (sekalipun saat itu Nathan sudah berumur 18 tahun). Gw takut nama baik gw rusak gara-gara cerita kejadian ini tersebar.

Tapi rupanya ketakutan gw tidak terjadi. Nathan bukan tipe orang yang ember. Dia menutup rapat kejadian diantara gw dan dia.

“Sorry ya, Nathan... Waktu itu koko ga kontrol...” gw meminta maaf sama Nathan dalam satu kesempatan.

“Gpp kok. Aku malah senang udah diajarin sesuatu he he he...” jawab Nathan ringan.

“Eh dasar!! Mulai bandel ya...” kata gw.

“Koko nya juga bandel, makanya dedenya juga jadi ketularan bandel ha ha ha...” canda Nathan. Gw pun jadi ikutan tertawa.

Lama juga gw ga bertemu dengan Nathan. Sekarang Nathan sudah bekerja di luar kota dengan karier yang lumayan bagus. Gw hanya mendengar kalo dia sudah menikah untuk yang kedua kali, setelah pernikahan pertamanya kandas gara-gara rongrongan mertua yang mempermasalahkan perbedaan agama. Waktu itu dia terpaksa menikah karena pacarnya telah mengandung. Sekarang dia telah memiliki 2 orang anak. Satu anak perempuan dari pernikahannya yang pertama, dan satu anak laki-laki dari pernikahannya yang ke-dua.

Sekalipun tidak sering, gw dan Nathan masih suka berkomunikasi lewat facebook, sms ataupun  telepon.

Beberapa bulan yang lalu, ada sms masuk;

Nathan: “Koko dimana?”
Farrel  : “Lagi di rumah. Kenapa gitu?”
Nathan: “Aku kangen, pengen ketemu. Boleh ga?”
Farrel  : “Ya bolehlaaaah.... sini cepet.”

Satu jam kemudian, Nathan datang dengan  mengendarai Avanza silver. Postur tubuh Nathan sekarang lebih gemuk, jauh lebih besar dari gw. Waktu masih di ruang keluarga Nathan dan gw sudah terlibat obrolan hangat, termasuk dengan keluarga gw yang lain.

“Ko kita ke kamar yuk, pengen curhat.” Kata Nathan.

Gw hanya mengangguk dan membawanya ke kamar gw. Saat pintu kamar gw ditutup. Dia menyerbu dan memeluk tubuh gw dengan erat.... sangat erat...

“Koko, aku kangen bangeeet...!!!”

Bertahun-tahun telah berlalu. Tapi rupanya sifat aslinya Nathan tidak berubah. Masih seperti dulu. Masih suka manja kalo dekat dengan gw. Dia masih adik kecil gw yang tampan, yang selalu gw sayangi. I love you, Nathan.

Kejadian masa lalu antara gw dan Nathan, masih sering melintas di pikiran gw.  Apakah itu dosa?? Ataukah cinta???


Conclusion:

Cinta yang tak terungkap memenjarakan hati. Indah... tapi tidak dapat tergapai.
Dosa yang termanis meluapkan sejuta kenangan. Menakutkan... tapi tak meninggalkan penyesalan.

Senin, 29 April 2013

Ilham VS Andro



Malam Jumat gw iseng chat. Asli beneran cuma iseng doang, ga ada tujuan buat melakukan yang orang lain sebut sebagai ‘Sunah Rosul’ lho. Coz buat gw, ML itu ga mesti dilakukan malam Jumat. Kapan pun juga bisa asalkan partnernya ada he he he... Lagian buat kita-kita, rasanya ga pantaslah menyebut ML di malam Jumat itu sebagai ‘Sunah Rosul’, karena kalo dilakukan bukan oleh pasangan yang tidak ‘berhak, pada dasarnya bukanlah ‘Sunah’ melainkan ‘Jinah’. Jadi gw sarankan agar teman-teman berhenti menyelewengkan makna dari Sunah Rosul. Okelah kita berbuat salah, tapi jangan menambah dosa lagi dengan memperolok-olok hal yang bersifat religi.

Back to chat. Gw tersambunglah dengan seorang pemuda berumur 24 tahun, sebut saja namanya Ilham. Dari chat itu gw jadi tahu, ternyata Ilham itu berasal dari Makasar, dan dia lagi berlibur di Bandung bersama 3 orang temannya untuk beberapa hari. Secara fisik Ilham cukup menarik. Kulitnya sawo matang, berhidung mancung, berambut lurus, dan berkacamata.

Karena malam itu kurang memungkinkan untuk kami bertemu, maka kami janjian untuk ketemu Jumat siang, setelah  urusan pribadi gw kelar. Dia merencanakan, sengaja akan diam di hotel sementara teman-temannya pada jalan-jalan dan hunting oleh-oleh khas Kota Bandung.

Sesuai dengan janji, gw sudah sampai di hotel sekitar pukul 11.30 WIB. Di depan kamar yang berada di lantai 6 itu gw kirim SMS, mengabarkan kalo gw sudah sampai. Gw emang ga pernah mau langsung mengetuk pintu kamar hotel, sekalipun sudah yakin nomor kamarnya sudah benar. Lebih baik berhati-hati daripada tar salah masuk ke kamar orang lain he he he... Apalagi kalo salah masuk ke kamar jenazah hiiiiyyyy... #Emang di hotel ada kamar jenazah?? ha ha ha....

Sesaat kemudian pintu kamar terbuka, lalu kami saling berjabatan tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Lalu gw dipersilakan masuk ke kamar yang berisi 2 bed itu. Hotelnya memang hotel berbintang dan masih baru, jadi terasa sangat nyaman. Ternyata Ilham sekamar dengan salah satu temannya, yang lagi pergi jalan-jalan entah kemana.
Kami pun ngobrol ngalor-ngidul buat saling penjajakan dan saling mengenal.

Dan mulailah kami maju ke fase lebih lanjut, fase yang lebih panas he he he... waktu gw  akan merogoh isi celananya dia menghentikan aksi tangan gw.

“Jangan tertipu dengan hidung aku yang mancung ya, punya aku kecil, Kak....” kata Ilham dengan nada kurang percaya diri.
“It’s Okay!” bisik gw sambil tersenyum.
“Aku juga ga punya puting susu lho, kak....” tambahnya.
“O ya? coba aku lihat.” Sahut gw agak penasaran.

Gw langsung buka polo shirt hitamnya dengan cepat. Dan terlihatlah puting susu yang sangat kecil. diameter lingkaran berwarna gelapnya aja kayanya ga sampai 1cm. Bisa dibayangkan dong pentilnya segede apa? hihihi.... putingnya itu licin dan terlihat hampir rata dengan kulit disekitarnya.

Lalu gw berhasil merogoh isi celananya, dan tergenggamlah penis Ilham. Teksturnya kenyal dan hangat. Tapi indera peraba gw ngerasa ada yang ga beres dengan penisnya Ilham (insting sang petualang ha ha ha...). Yang tergenggam di tangan gw, pangkalnya terasa kecil banget tapi ujungnya membesar (tapi ga sebesar ukuran standar). Dan oow... Pas gw buka ternyata bentuknya memang seakurat perkiraan indera peraba gw ha ha ha... Sangat tidak seimbang antara ujung dan pangkalnya.

Ada keanehan lainnya, setelah sekian menit bercumbu kok kekenyalan penisnya segitu-segitu aja. Lalu gw tanya;

“Penis kamu pas ereksi maksimalnya sekeras gimana?”
“Ini udah poll, Kak....” jawabnya lemah.
“Yakin?!!” tanya gw.
“Aku ejakulasi dini, Kak....” Ilham nampak semakin tidak percaya diri.
“Ini mah bukan ejakulasi dini atuh, tapi disfungsi ereksi.” kata gw, menjelaskan.
“Trus, kalo pengen jadi lebih keras apa obatnya ya, Kak? Rutin makan telor bebek mentah gitu?” tanyanya.
“Aku juga ga tau, apa hubungannya antara telor bebek dengan ereksi. Kalo obat-obatan yang mengandung ginseng sih pernah dengar ada efeknya.” Jawab gw.

Kasian amat si Ilham, masih muda tapi punya masalah kaya gini. Bisa-bisa beberapa tahun kemudian dia totally impotent alias penisnya mati suri he he he.... Padahal selama bercumbu dia sangat bernafsu dan sangat panas. Sementara penisnya tetep aja menggelantung kaya balon kempes. Ujungnya besar, sementara pangkalnya sangat kecil.

Aduh, sekarang giliran gw yang jadi ngedrop. Tingkat ereksi gw jadi menurun. Penis gw yang awalnnya setegak tugu monas kini layu kaya terong kukus ha ha ha... Entah terbang kemana gairah gw ha ha ha... Ibarat makanan, tampilan warna dan garnish sangat menggoda tapi pas dicicip, eh rasanya ga seindah tampilannya? he he he... mungkin itulah yang bikin gw ilfeel.

Gw ingin menghentikan permainan itu, tapi gw ngerasa ga enak hati. Gw bingung, gw harus ngomong apa... Selagi berpikir keras mencari akal, yang ga akan bikin Ilham sakit hati. Tiba-tiba terdengar suara bell pintu berbunyi. Dilanjutkan dengan ketukan dan teriakan seorang laki-laki.

“Ilham! Buka pintunya dong.”

Gw dan Ilham saling berpandangan. Dan sama-sama menyadari kalo temannya Ilham sudah datang. Save by the bell!!! Gw menganggap temannya Ilham sebagai pahlawan penyelamat gw ha ha ha... Sementara Ilham nampak pucat, seperti tidak siap menghadapi situasi ini. Coz temannya bukanlah PLU juga. Ilham takut ke-gay-annya terbongkar.

Bunyi bel, ketukkan pintu, dan teriakan suara temannya Ilham semakin kencang. Mungkin dia menyangka Ilham sedang tidur.

“Ilham!! Ilham...!!! Ilham...!!! buka pintuuuuu!!!....”

Gw melompat dari tempat tidur. Menyambar pakaian gw. Dan langsung masuk kedalam toilet. Dan posisi gw sekarang sudah aman ha ha ha...

Di luar toliet terdengar percakapan antara Ilham dengan temannya. Rupanya temannya Ilham baru pulang Jumaatan, dan cuma mampir ke kamar untuk ngambil dompetnya yang ketinggalan. Terus mau lanjut kelilling Bandung. Setelah mengambil dompetnya, lalu dia pergi ke kamar sebelah, yang dihuni oleh  teman-temannya yang lain.

Gw keluar dari toilet dengan pakaian yang sudah rapi. Sebelum Ilham sempat bicara, gw langsung pamitan. Saatnya kabuuuuuuuuuur......!!!!  ha ha ha....

Setibanya di rumah, gw dapat SMS masuk dari Ilham:

Ilham: “Maaf ya, Kak. Acara kita berantakan.”
Farrel: “Gpp, juga kali. Nyantai aja he he he...”
(Gpp banget malah!!! ha ha ha....).
Ilham: “Kita lanjut di rumah kakak aja, yuk.”
Farrel: “Sorry uy, ga bisa. Di rumah aku mah banyak orang.”

Skip kisahnya ke malam harinya, ya.....
Gw baru sampai di rumah pukul 23.30 WIB, setelah sebelumnya lelah main badminton 4 game. Kegiatan gw setiap pulang badminton adalah: makan, mandi, dan nonton X-Factor he he he... Sambil nonton X-Factor, biasanya gw sambil online.

Acara X-Factor sudah usai. Tapi rasa kantuk belum juga datang. Begitulah gw, tiap habis olahraga dan mandi, tubuh gw malah berasa jadi segar. Mata pun susah terpejam.

Cling... cling... cling... terdengar bunyi dari laptop gw, rupanya ada mail masuk di akun situ pertemanan gay gw. Berikut ini obrolan lengkapnya:

Andro : Malam, Kak.... :)
Farrel  : Malam... Salam kenal ya. Aku Farrel di ************. kl km?
Andro :  Jauh jg ya Kak... Aku di *******
Farrel  : Iya lumayan. Tapi ketemunya kan ga mesti skr atuh, lagian masih di Bandung juga kan?  he he he….  kamu kost/rmh?
Andro : Aku kost… Pengen ditemenin tidur malam ini sama kakak...he he he….
Farrel  : Oya? *******nya dmn gt?
Andro : Di apartment xxxxxxx Kak... Sini Kak temenin akuuu :)
Farrel  : Kamu sendirian gitu?
Andro : Aku berdua sama Kakak perempuan aku. cuma dia udah seminggu ditugasin di luarkota. Jadi aku sendirian...
Farrel  : Iya, tar aku kesitu dech. No hp km berapa? Miscall-in aja ya ke no aku xxxxxxxxxxx
trus km di kamar berapa?
sebelumnya aku cuma mau mastiin; kamu suka yg lebih dewasa gitu?
Andro : Oke aku misscall.... Aku di kamar 10xxx.  Kalo aku sih suka sama yang dewasa... Kakak sendiri suka sama yang lebih muda terus berkulit coklat ga?
Farrel  : Wah, itu mah selera aku banget he he he…
Andro :  Kakak beneran jadi kesini?
Farrel  : Iya, aku off dulu ya, trus berangkat.
Andro : Siiip..... Aku tunggu ya, Kak

Tiba di apartemen gw langsung naik ke lantai 10, menuju kamarnya Andro. Lalu gw mengirim SMS sama Andro.

“Aku udah didepan pintu.”

Sesaat kemudian pintu kamar terbuka. Nampaklah Andro tersenyum ramah dengan lesung pipit di pipi kirinya. Senyumnya maniiiiiiiis banget he he he.... Andro brondonk 19 tahun, berkulit sawomatang. Untuk ukuran anak jaman sekarang, postur tubuhnya memang ga termasuk tinggi sih. Hidungnya pun biasa aja. Mancung ga, pesek juga ga. Sedang-sedang sajalah. Ketampanannya khas, brondonk keturunan campuran Manado dan Sunda. Cakep tapi tetep laki, ini yang gw suka ha ha ha...

Hari memang sudah sangat pagi. Tapi kami masih santai mengobrol di sofa merah berbahan kulit. Suasananya sangat cair, coz obrolan dan candaan antara gw dan Andro cukup nyambung. Dari obrolan yang lumayan panjang itu gw jadi tau, ternyata dia adalah mahasiswa semester 3 Sekolah Tinggi Perhotelan yang terkenal di Kota Bandung.

“Sudah pagi, Kak. Kita tidur aja yuk.” Ajak Andro.
Gw hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu mengikuti langkah Andro menuju kamarnya.

Di tempat tidur, awalnya terasa hening dengan lampu temaram. Ruangan hanya diterangi cahaya dari layar televisi yang masih menyala. Andro memegang dan meremas tangan gw.  Kemudian dia memeluk gw dan menyandarkan kepalanya di bahu kanan gw. Dia nampak nyaman sekali. Gw mencium rambut dan keningnya. Gw pikir biarlah untuk malam ini kami tidur dulu, ga usah terburu-buru. Lebih baik beristirahat dan menyiapkan tenaga buat esok hari he he he...

Tapi... Andro bukannya tidur nyenyak. Malah nafasnya terdengar memburu, tak kuasa menahan gairah mudanya. O ya, gw ada tips membedakan orang yang tidur beneran atau yang lagi pura-pura tidur. Kalo tarikan nafasnya panjang, teratur dan menggunakan pernafasan perut artinya dia beneran tertidur pulas. Tapi kalo nafasnya pendek, dan tersenggal-senggal, menggunakan pernafasan dada (apa lagi sambil ngos-ngosan) artinya dia pura-pura tidur. Kalo yang bunyi nafasnya memburu dan berat, artinya dia lagi horny ha ha ha...

Pelukan Andro terasa makin kuat. Gw membalas pelukan Andro. Sebegitu mengalirnya, tanpa disadari kami pun sudah saling melumat bibir kami dengan ciuman yang maha panas... Gw menciumi dan menjilat lehernya... dia merintih... lalu gw beralih menjilati  puting susunya yang berwarna coklat muda. Dia melenguh panjang dan menggelinjang-gelinjang... rupanya puting susu adalah salah satu titik G-spot dia. Andro pun beraksi melakukan hal yang sama ke gw. Good boy!! Jadilah kami saling memberi kenikmatan.

Tangan gw merayap merogoh celananya. Tangan gw menemukan sesuatu yang diluar dugaan gw. Penisnya terdeteksi tangan gw: besar dan panjang. Amazing!! Sama sekali ga mencerminkan dari postur tubuhnya. Waktu gw buka ternyata memang benar. Penis Andro salah satu penis brondonk terbesar yang pernah gw temui. Warnanya sedikit gelap, lurus, dan bentuknya proporsional, plus ereksinya yang terasa sangat kokoh. Diameternya sih sekitar 4,5 cm (sama kaya punya gw), tapi panjangnya 19cm!! Waktu gw genggam penisnya masih mencuat panjang, padahal telapak tangan gw termasuk besar lho. Gw melihat ternyata waktu dia berbaring, panjang penisnya melampaui pusarnya, Wow!!! I love it!!!

Model: Justin Elbo, Foto diambil dari http://idolofasia.blogspot.com/

Malam itu gw seperti ga ada puas-puasnya mengoral dia, dan mengerahkan semua kemampuan terbaik gw untuk merangsang kelelakiannya Andro. Disela-sela gw beraksi, Andro berkali-kali bilang: “Enak banget, kak!!!”. Berkali-kali dia memberi isyarat supaya gw mengerem aksi gw, supaya dia tidak cepat-cepat ejakulasi. Coz kami berdua masih ingin berlama-lama menikmati deburan gairah.

Semua aksi itu kami lakukan secara saling bergantian. Kami berdua sama-sama aktif. Dia memang nampak masih hijau, dan belum pandai mengoral. Coz waktu dioral, penis gw kadang terasa bergesekkan dengan giginya. But it’s okay!! Untuk soal itu bisa gw ajarkan sambil berjalan. Learning by doing lah he he he...

Permainan kami usai, dengan menyisakan rasa lelah, keringat bercucuran dan nafas terengah-engah. Saking asyiknya kami terbuai gelora nafsu. Sampai-sampai kami tak menyadari adzan subuh sudah berkumandang beberapa puluh menit yang lalu.

Setelah membersihkan badan, kami pun tertidur. Andro memeluk tubuh gw dan kepalanya bersandar di dada gw. Sementara tangan gw terus menggenggam penisnya... sampai pagi.... kami tertidur sangat pulas...

Kami baru terbangung pukul 9.30 pagi. Kami ngobrol sambil menonton tv diatas kasur ukuran king size miliknya. Waktu gw pamit mau pulang Andro menahan gw, dengan alasan dia ga ada teman. Ya udah kami pun larut lagi dalam obrolan, diselingi dengan sarapan mie instan racikan tangan Andro sendiri.

Makan sudah, ngobrol sudah juga, trus ngapain lagi ya. Waktu Andro mencuci mangkuk bekas sarapan kami. Gw nongkrong di atas balkon, melihat beberapa orang yang sedang asyik berenang jauh di bawah sana. Tak seberapa lama kemudian Andro datang menghampiri gw.

“Kamu suka berenang?” tanya gw.
“Kadang-kadang sih, Kak. Kalo ada teman aja. Kalo berenang sendiri suka males.” Jawabnya ringan.
“Kalo tujuannya serius berenang, aku malah lebih suka sendirian, lho. Kalo berenang bareng sama teman biasanya malahan waktunya habis buat ngobrol he he he...” sahut gw.
Betul tuh, Kak. Anehnya kalo kolamnya deket gini, malah akunya yang males-malesan he he he... kapan-kapan temenin aku berenang ya, Kak.” ajaknya.
“Wah dengan senang hati he he he...”. Jawab gw.
“Udah jam 12 siang neh, aku pulang aja ya?” lanjut gw.
“Kok buru-buru? Mau kemana gitu, Kak? Nanti aja atuh pulangnya.” Andro masih juga menahan kepulangan gw.
“Ga akan kemana-kemana sih. Biar kamu bisa istirahat aja.” Jawab gw.
“Tuh kan, kalo ga ada acara apa-apa, ya udah temenin aku aja disini...” pintanya.
“Iya deeeeech....” kata gw sambil tersenyum. Disambut senyuman manis Andro, yang berlesung pipit.

Bosan melihat orang yang lagi berenang, kami pun masuk ke dalam lagi. Gw dan Andro duduk bersebelahan di sofa merahnya. Andro menyandarkan kepalanya di dada gw.  Gw memeluknya dengan tangan kanan gw, sambil mencium keningnya. Tak seberapa lama kemudian kami berdua sudah sama-sama melepaskan pakaian kami masing-masing. Babak  ke-dua pun segera dimainkan he he he... Permainan siang itu tak kalah panasnya dengan yang kami mainkan subuh tadi. Rupanya inilah alasan Andro menahan-nahan gw pulang... Dia menginginkan babak tambahan, mengulang permainan subuh tadi he he he...

Gw baru bisa pulang  pukul 13.30 siang, dengan tagihan tiket parkir Rp 12.000,- he he he... wah lama juga ya gw disitu. Tapi gw sangat puas. Melelahkan memang, tapi sangat worthed-lah. Anggap saja ini sebagai penebus kekecewaan kejadian dengan Ilham di Jumat siang he he he... Ilham VS Andro. Jelas gw pilih Andro lah  ha ha ha...

Conclusion:
Orang bijak bilang; hidup itu pilihan. Dan tentu saja selektif itu wajib hukumnya dalam acara pilih memilih.