Kalo bicara
soal ejakulasi dini, mungkin langsung kepikiran kalo kita lagi ngomongin seorang
pria yang beranjak tua dengan vitalitas seksualnya yang mulai menurun. Tapi itu
tidak sepenuhnya benar, coz masalah ejakulasi dini banyak juga dialami
orang-orang muda, bahkan brondonk sekalipun.
Gw pernah
beberapa kali menemui kasus kaya gini. Salah satunya, sebut saja namanya Akhsan
seorang brondonk yang kost di kawasan Jl. Sersan Badjuri. Waktu forplay
memasuki sessi gw mengoral dia, hanya dalam hitungan 1, 2, 3... ya cuma 3
hisapan saja!!! di sudah mengalami ejakulasi. Dia ga sanggup menahan laju
semburan spermanya. Dan permainan pun berakhir sampai disitu. Bete juga sih,
sudah jauh-jauh datang kesitu eh cuma berakhir kaya gitu, hanya buang-buang
tissue aja he he he... dan gw hanya mendapat permohonan maaf dari dia.
Beberapa
hari kemudian gw ketemu chatting lagi sama dia, trus dia tanya apa dialaminya
itu sesuatu yang normal? Lalu gw balik tanya sama dia; apa kejadian itu selalu
terjadi? Dia jawab ya. Trus gw tanya lagi; apa waktu masturbasi juga mengalami
kejadian yang serupa? Dia jawab ya. Wah heran juga ya, padahal dia baru berumur
20 tahun lho... Tadinya gw berfikir mungkin dia terlalu excited atau terlalu
fokus makanya dia cepat ‘tumbang’. Padahal menurut yang gw tau dalam kondisi
normal ejakulasi seharusnya terjadi 3-15 menit setelah penetrasi/intercourse (bukan
waktu dioral). Oral sex sebenarnya kan cuma appetizer (forplay), sedangkan main
course buat pasangan gay ya penetrasi atau anal sex.
3 menit
bukanlah waktu yang lama, tapi sudah bisa dikatakan normal. Tapi idealnya sih
ejakulasi terjadi di rentang waktu 10-15 menit setelah penetrasi, supaya
sama-sama puas he he he... Tapi jangan salah, lebih lama bukan artinya lebih
bagus lho. Menurut sexolog; jika
ejakulai tidak tejadi setelah penetrasi lebih dari 30 menit, ada kemungkinan mengalami
ejakulasi tertunda (kebalikan dari ejakulasi dini), kesulitan mengalami
ejakulasi, atau bahkan tidak bisa ejakulasi.
Ada satu kejadian lagi antara gw dengan seorang mahasiswa, yang kost di daerah Gegerkalong, sebut saja namanya Fikar. Gw dan Fikar sebenarnya udah kenal lama di dunia maya, yaitu sejak dia baru menetap di Bandung di semester-semester awal dia kuliah, tapi kami belum pernah saling bertemu secara face to face. Sampai pada suatu ketika, gw dan dia ketemu online lagi dan sepakat untuk kopi darat malam itu. Fikar sudah berumur 22 tahun dan lagi nyusun skripsi.
Gw memang sering
ngelihat Fikar online di mirc dengan nickname yang mudah ditebak dan selalu memakai
nickname yang ada ada unsur kata ‘long’ atau ‘panjang’, contohnya: Bdg_Slim_Long,
Bdg_Long_Kost, Bdg_Muda_Panjang, Bdg_Senjata_Panjang, dll. Di akun manjam-nya dia juga pernah memasang foto ‘senjata tempur’ kebanggaannya.
Singkat
cerita malam itu gw menyambangi tempat kostnya. Dalam suasana temaram dan sunyi gw menunggu di tempat yang sudah
dijanjikan. Tak berapa lama setelah gw telepon dia muncul. Tanpa banyak basa-basi,
dia mengajak gw ke tempat kostnya. Sebuah tempat kost standar, dengan sebuah
kasur yang digelar di lantai dan dan sebuah lemari pakaian berukuran sedang.
Disana nampak sebuah laptop yang masih terkoneksi dengan internet, dan memutar playlist
lagu-lagu Adelle di winamp-nya.
Cukup lama
gw dan Fikar ngobrol ngalor ngidul, kemudian dia pamit mau ke toilet dulu. Setelah balik dari toilet dia duduk disebelah gw, dia merangkul badan gw, dan
dimulailah pergumuluan dua lelaki.... he he he... Waktu gw membuka celana boxer
hijaunya nampaklah tugu monas yang panjang, tapi slim dan sedikit melengkung ke
kiri (kaya buah pisang). Menurut gw antara panjang dan diameternya kurang
seimbang sih. tapi gpp, toh dia ga berbohong dengan nicknamenya Bdg_Slim_Long,
padahal tadinya gw kira yang slim itu cuma badannya doang, bukan burungnya he
he he... Kalo liat di pic manjam-nya sih burungnya kaya gede, mungkin gara-gara
angle jepretannya aja, jadi si burung pipit terlihat lebih gede, tebal, dan berisi
plus garang kaya burung rajawali wkwkwk...
Dia yang lebih
dahulu mengoral punya gw (yang tentu saja lebih gede dari punya dia, sekalipun
ga sepanjang miliknya). Giliran gw menyentuh si slim long dan menggenggamnya,
kemudian gw coba mengoralnya. 1, 2, 3... ada yang aneh di lidah gw. Kok penis
Fikar rasanya pahit? Gw sangat percaya keakuratan indera perasa gw, yang sudah
menjajal aneka rasa makanan dalam rangka berwisata kuliner. Lidah gw sensornya bisa diandalkan untuk memvonis makanan itu
enak atau ga enak. Gw coba sekali lagi, dan masih berasa pahit!! Kemudian gw
tanya sama Fikar.
“Diolesin
apa penis kamu?”
“Ga
diolesin apa-apa kok, Bang.” Jawab Fikar, tergagap.
“Jangan bohong,
kok pahit??” sahut gw.
“Bukan
apa-apa kok, cuma biar lebih hot aja.”
“Obat
kuat???” tanya gw sambil melongo.
“Hmmmhhm...
“ dia hanya menggumam, mungkin perasaannya bercampur baur, antara malu, salah tingkah, dan ketakutan rahasianya
terbongkar.
“Rasanya
pahit tau!!!, sana cuci dulu pake sabun!!!” Kata gw dengan nada agak jutek.
Kemudian
dia beranjak menuju toilet untuk membersihkan penisnya dari obat sialan itu.
Waktu Fikar
kembali dan kami melanjutkan permainan, gw merasakan keganjilan lagi di mulut
gw. Kok sekarang lidah dan mulut gw berasa tebal dan hilang rasa. Rasanya kaya
habis disuntik anestesi waktu dicabut gigi. Mulut gw berasa baal dan tidak
nyaman. Boro-boro bisa menikmati acara oral mengoral si slim long itu. Gw
kehilangan mood untuk melanjutkan pertempuran malam itu. Lalu gw hanya mengocok
si slim long sampai dia menyemburkan cairan kental berwarna putih. Dan gw
segera mengenakan pakaian gw. Selesai!!!
“Kamu tadi
pake apa? bibir aku kok jadi berasa tebal??” tanya gw dengan emosi tertahan.
“Pake obat,
biar tambah hot. Tapi aku salah, ga dicuci dulu. Menurut petunjuknya sih harus
dicuci dulu. Tapi aku pikir kalo ga dicuci mungkin akan lebih hebat khasiatnya.”
Terang Fikar.
“Gila aja! Mulut
aku jadi mati rasa, tau!!! Sahut gw ketus.
“Maaf ya,
Bang. Abang jadi ga nyaman...” kata Fikar dengan wajah menyesal.
“Tadi bukan
obat biar hot, tapi obat supaya kamu ga cepet keluar kan???” tanya gw,
menyelidik.
“Mmmm...
iya Bang...” jawab Fikar.
“Emang kamu
cepet keluar? Kamu kan masih muda. Baru 22 tahun kan?” tanya gw
“Iya, Bang.
Aku suka malu kalo ML, belom apa-apa udah keluar." Sahut Fikar sambil menundukkan
mukanya.
“Harusnya
kamu jangan pake obat-obat gituan, kamu perbanyak olahraga aja, atau latihan
masturbasi aja dengan mengatur ritme kocokkan.” Nasehat gw.
“Iya Bang.
Lagian tadi itu, aku baru coba-coba pertama
kali pake obat kuat kok.” Jawab Fikar, lirih.
“Jadi, aku
dijadiin objek percobaan kamu?!?!??” kata gw, pelan tapi tegas. ‘Sialan!!!’ Sumpah
serapah gw dalam hati.
“Bu...
bukan gitu, Kak... Beneran aku minta maaf...” sesal Fikar.
“Emang obat
apa yang tadi kamu pake?” tanya gw.
Fikar
beranjak, mengambil sesuatu dari saku celananya yang tadi dia gantung di balik pintu. Kemudian dia
menyerahkan sebuah botol kecil berisi cairan. Di label botol kecil itu ada
tulisan nama obatnya: ‘HAJAR JAHANAM’. Sebuah nama obat yang menurut gw menyebalkan dan ga akan pernah gw lupakan. Obat yang sudah berhasil mengHAJAR mulut gw!!! Dasar
JAHANAM!!!... Hey!!! Jangan pada ketawa!!! Berisik!!! Gw lagi kesel neh :(
Disini gw
ga akan ngebahas tentang obat kuat yang JAHANAM itu, tar dikira iklan terselubung lagi he he
he... Yang jelas obat itu berfungsi mengurangi kesensitifan penis agar tidak
cepat mengalami ‘Knock Out’. Kalo mau tahu mah googling aja sendiri. Yang jelas gw ga
sudi pake obat gituan, coz gw yakin dengan berkurangnya sensitifitas tentu saja
akan berkurang juga kenikmatannya. Wassalam!!!... (lho? kok jadi kaya pidato
Pak RW ya? wkwkwkwk...).
Conclusion:
Ternyata, Edi
Tansil (alias ejakulasi dini tanpa hasil) bukan miliknya orang yang sudah ‘berumur’
aja. Tapi bisa juga dialami oleh anak-anak muda.
