Sudah
berkali-kali kali gw bertemu dengan seorang brondonk berumur 20 tahun, sebut
saja namanya Michael dalam beberapa kesempatan chatting di MIRC. Jujur aja,
fotonya memang kurang menarik perhatian gw. Karena selain fotonya sengaja
diblur dengan pencahayaan yang redup, brondonk berkacamata ituterlihat seperti
acuh tak acuh. Makanya ga mengherankan kalo selalu tejadi kebuntuan komunikasi
setelah saling tukar pic. Mungkin karena dia tidak tertarik dengan gw. Dan gw
sendiri biasanya suka males kalo chatting dengan orang yang fotonya cuma ada
satu dan ngeblur pula. Tapi dari fotonya yang agak-agak ga jelas itu, gw bisa
menilai kalo Michael sebetulnya termasuk cakep tapi terlihat sedikit nerd he he
he...
Memory gw
emang cukup bagus, jadi sebelum chatting terlalu jauh, biasanya gw sudah hafal
siapa orang yang sedang chatting dengan gw itu (saking seringnya ketemu di
dunia maya). Dan sampailah pada sebuah moment gw ketemu lagi dengan Michael
dalam suatu kesempatan chatting di MIRC, tapi belum saling tukar pic.
Michael:
Kok diem?
Farrel : Udah ya, kamu kan ga tertarik sama aku.
Michael :
Emang pic kamu yang mana?
Farrel : *************.jpg
Michael :
Ooooohhh....
Farrel : Benerkan, ga suka?
Michael :
Sebenernya aku suka, tapi aku takut.
Farrel : Takut kenapa?
Michael :
Jujur aku jarang banget ketemuan, apalagi yang umurnya jauh diatas aku.
Farrel : Artinya ga suka sama aku dong?
Michael :
Ga gitu juga, kok. Aku malah suka yang umurnya lebih dewasa. Dan badannya kaya
kakak.
Farrel : O ya? Trus?
Michael : Aku
takut kalo ketemuannya ternyata sama orang jahat. Kaya berita-berita di tv.
Farrel : Emang tampang aku keliatannya jahat ya?
Michael :
Ga lah. Manis kok. Tapi kan jahat atau baik itu ga bisa diliat dari wajahnya.
Farrel : Iya sih. Ya nilai aja pake feeling kamu,
apa aku ini orang baik atau bukan.
Michael :
Btw, maaf ya, kakak cut/uncut
Farrel : Cut. Kalo kamu?
Michael :
Cut juga.
Farrel : Ok.
Dan
percakapan di chatting pun berlanjut hingga saling tukar nomor HP. Malam memang sudah sangat larut, jadi tidak
memungkinkan untuk kami saling bertemu malam itu.
Dalam
beberapa hari berikutnya, antara gw dan Michael sering berkomunikasi lewat sms.
Saling menanyakan khabar atau hal-hal sepele lainnya. Dan kami pun akhirnya
membuat janji untuk ketemuan. Michael kayanya anak rumahan banget dan jarang
keluyuran jauh dari rumahnya. Dia nampak kurang hafal dengan jalur angkutan
umum. Hingga gw harus memandunya naik angkutan umum jurusan tertentu untuk
sampai ke tempat gw.
Siang itu
memang lagi libur dan gw lagi sendirian aja di rumah. Hujan yang mengguyur dari
pagi belum menampakkan tanda-tanda akan berhenti. Waktu sudah hampir
menunjukkan pukul 11.00 siang, padahal di jam itu Michael janji untuk datang.
Melihat kondisi itu, gw akan cukup maklum kalo Michael datang terlambat atau
jika membatalkan kedatangannya sekalipun. Ya mau gimana lagi, toh hujannya
cukup deras dan pasti bikin orang-orang malas untuk keluar rumah.
Tapi
syukurlah, detik-detik menjelang pukul 11.00 hujan mulai mereda dan menyisakan
rintik-rintik. Ada sms masuk dari Michael, mengabarkan kalo dia sudah sampai di
tempat ketemuan yang sudah disepakati sebelumnya. Gw sangat menghargai
orang-orang yang menepati janjinya, sekalipun ada halangan.
Lalu dengan
membawa payung bergambar Hello Kitty gw berangkat menjemput Michael... ha ha
ha... #lebay.com (padahal mah, payung gw warnaya hijau daun dan ga ada gambar
apapun. Sumpah!!! Wkwkwk...). Dari kejauhan nampak seorang brondonk
berkacamata, berlindung dibawah payung merah bertuliskan salah satu Toko
Perhiasan di Bandung. Dia memakai t-shirt putih dan celana pendek PDL warna
khaki. Dari tampilannya gw menduga kalo sebenernya usia Michael belum mencapai
20 tahun, bahkan menurut feeling gw kayanya dia masih SMA. Wajah Michael pun
jauh lebih tampan dan keliatan jauh lebih fresh dari fotonya. Setelah sedikit
basa-basi, gw langsung mengajak Michael ke rumah gw.
Di dalam
kamar gw, terjalin obrolan yang lumayan akrab. Michael memang keliatan cukup
pendiam. Tapi karena gw orangnya suka bercanda, dia jadi merasa nyaman dan
tidak terlihat kikuk lagi.
Setelah
melihat secara face to face, nampak jelas kalo wajah Michael itu oriental.
Padahal awalnya gw mengira dia orang Padang (maklum fotonya kan ga jelas he he
he...). Dia memang keturunan Chinese,
sama kaya gw juga. Tapi kalo gw sih Chinese KW coz udah ada campuran pri dari
nenek gw he he he... Setelah dia tau kalo kami sama-sama Chinese, dia pun
mengganti panggilan gw dari kakak menjadi koko.
Michael
yang tampan ala oriental dan berkulit putih mulus itu, ternyata sukanya sama
orang yang bertubuh gempal dengan aroma tubuhnya yang lelaki banget (bukan
ketek bau bawang busuk yang menyengat lho he he he...). Makanya sebelum
ketemuan dia meminta gw jangan mandi ‘terlalu bersih’. Maksudnya gw jangan
menggosok bagian ketek gw dengan sabun. Wah ada-ada aja ya, tapi tetap gw penuhi
juga requestnya he he he...
![]() |
Gambar diambil dari http://idolofasia.blogspot.com |
Setelah
makin akrab. Michael bertanya sambil malu-malu;
“Ko, boleh
cium koko ga?”
“Hhhmmm
gimana yaaaa... ya boleh banget atuh!! ha ha ha...” jawab gw menggodanya.
“Aaahh
kokooo... kirain koko ga mau.” Sahutnya dengan muka sedikit merona merah.
“Ayo mendekat
sini...” kata gw.
Dia
mendekat, lalu gw memeluk tubuhnya. Michael pun membalas pelukan gw dengan
pelukan yang lebih erat. Kemudian bibir kami saling berpagutan dalam ciuman
yang awalnya pelan dan sopan, namun kemudian berubah menjadi liar, memanas dan
kemudian membara membangkitkan gairah libido kami.
Kulit tubuh
Michael yang putih mulus terlihat jelas waktu gw melucuti pakaiannya. Begitu gw
membuka celana dalamnya, nampaklah penisnya yang bersunat dengan bulu-bulunya
yang sangat lebat. Penis Michael nampak tegang dan basah oleh precum. Nampaknya
dia sudah dari tadi menahan diri untuk menyerang gw he he he...
Lalu dia
juga melakukan hal yang sama. Dia melucuti semua pakaian yang menempel di tubuh
gw. Dia membaui dan menciumi seluruh bagian tubuh gw.
“Baunya
enak banget, ko....” katanya.
“Suka ya?”
tanya gw.
“Iya...
suka banget...” jawabnya, sambil terus melancarkan aksinya.
Permainan
pun berlanjut lebih panas
“Punya koko
gede juga ya...” lanjutnya, sambil memegang benda kelelakian gw.
“he he
he... biasa aja kok. Mau dimasukkin?” tanya gw.
“Iya, mau.
Tapi pelan-pelan ya, Ko. Takut sakit.” Pintanya.
Gw hanya
membalaskan dengan senyuman dan anggukan tanda setuju.
Benar saja,
ternyata Michael sedikit kesakitan waktu gw mencoba melakukan penetrasi. Gw
harus beberapa kali menahan diri untuk tidak terburu-buru. Gw harus
melakukannya secara bertahap dan perlahan. Michael nampaknya memang belum
terlalu berpengalaman, makanya dibutuhkan kesabaran ekstra untuk membobolnya he
he he... Setelah sekian lama, akhirnya Michael bisa menikmati permainan itu.
Rasa sakitnya lalu berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa. Gw memandunya
untuk bisa saling memberi kenikmatan.
“Ko, aku
mau dua kali. Boleh ga?” tanyanya. Padahal permainan pertama pun masih berlangsung
he he he...
“Hmmm....
boleh bangeeet...” bisik gw di telinganya. Michaelpun menyambut jawaban gw
dengan senyuman.
Jadilah
siang itu kami bermain 2 ronde. Melelahkan tapi sekaligus sangat menyenangkan
he he he...
Dari
obrolan-obrolan dengannya gw jadi tau, ternyata Michael adalah seorang yang
aktif pelayanan di gereja. Dia dan keluarganya
adalah aktivis di salah satu
gereja yang ada di Bandung. Makanya tidak mengherankan kalo sikap Michael
itu seperti acuh tak acuh. Keinginannya kuat tapi terhalang dengan keyakinan
imannya. Dia seperti mencoba menyalakan api, dan berusaha memadamkannya
sendiri. Diantara hasrat yang kuat dan rasa takut akan dosa.
Waktu gw
melihat Michael, gw seperti bercermin pada diri gw beberapa tahun yang silam.
Dulu, sosok gw sangat alim tapi jauh dilubuk hati gw yang terdalam, menyimpan
bara hasrat terlarang. Belasan tahun gw masih bisa bertahan, tapi pertahanan
itu akhirnya runtuh juga. Seperti istana pasir yang luluh lantak diterjang
ombak.
Masalahnya
mungkin sedikit berbeda, gw termasuk terlambat memasuki dunia gay, sementara
Michael mengenal dunia gay-nya jauh lebih awal.
Dibalik
keluguan dan kesederhanaan sikapnya, ternyata Micahel termasuk sosok yang kuat.
Karena dia berani coming out pada keluarganya. Yang tentu saja pada awalnya dia mengalami penolakan dari keluarganya. Dia
pun menerima konsekuensi pengekangan dalam bergaul. Ibunya berubah menjadi
lebih protektif. Waktu di rumah gw pun, beberapa kali Michael menerima telepon
dari ibunya.
Michael
juga berani curhat tentang masalah orientasi seksualnya pada pembimbingnya di
gereja, yang kemudian bukannya memberikan solusi tapi malah menjauhinya. Gw
hanya memberinya nasehat supaya jangan terlalu terbuka bicara masalah orientasi
seks kepada orang lain. Coz kalo bicara kepada orang yang salah, bisa-bisa
malah mendatangkan masalah yang baru. Kalo ingin menyelesaikan masalah tanpa
masalah, ya ke pegadaian aja he he he...
Conclusion:
Dengan
coming out, mungkin kita berharap diri kita bisa diterima apa adanya. Tapi yang
harus dipertimbangkan adalah seberapa toleran lingkungan bisa menerima
perbedaan itu. Jangan sampai masalah kita, mendatangkan masalah baru hanya
karena sebuah kata: ‘pengakuan’.