Senin, 16 Maret 2009

Kencan Ganda Di NAV Dago Plaza, Bandung.

Pertengahan Februari 2009
Hari beranjak sore… Gw diajak sama Daffa dan Ronald karaoke di NAV, Dago Plaza. Seperti biasanya gw memang sering jalan bareng sama mereka. Tapi hari ini ada yang beda, coz Daffa bilang, sekarang dia ngajak temen ketemuannya, yang janji bayarin karaoke. Tapi ada yang janggal, coz di telepon Daffa wanti-wanti ngomong:
”jangan ngetawain temen ketemuan aku ya…”. Maklum gw orangnya suka agak usil bin jahil he he he… Ada apa ya? Tanya gw dalam hati. Pasti ada yang ga beres dech he he he..

Mereka bertiga sudah standby di depan sebuah cafe, sebelah NAV. Sebelum menemui mereka, gw ke toilet dulu. Biasalah, panggilan alam he he he..
Pas keluar dari toilet, di lorong Daffa sudah nunggu gw, sambil ngomong;
“Bener ya jangan diketawain…” Sahut dia sambil cengengesan.
“Kenapa sich? Nyantai aja atuh…” kata gw.
“Abis takut diusilin sich.” Sambungnya.
“Ga lah, paling juga tar gw ngakak” gw senyum-senyum.
“Tuh kan…? Beneran ya…”
“Iya, iya, iya”. Gw meyakinkan Daffa.
Gw dan Daffa lalu berjalan menemui Ronald dan teman ketemuan Daffa. Lalu gw diperkenalkan Daffa dengan temannya itu.
“Farrel.” Sahut gw, mantap. Sambil menjabat tangannya.
“Paul” sahutnya.
Dia tersenyum menampakkan deretan gigi yang agak mancung he he he…
Oow… Paul umurnya sekitar 35 tahun, item, pendek, kurus, idup lagi ha ha ha… (maunya mendeskripsikan lebih detail tapi gw ga tega aaahh wakakakaka…).
Ah… dasar si Daffa lagi-lagi dia iseng, cuma mau ngerjain orang itu, kata gw dalam hati.
“Kamu dari …… ya? (gw nyebutin sebuah kota di wilayah Indonesia bagian timur).
“Iya, deket-deket situ”. tanya dia.
“Tau dari mana gitu?” Sambungnya.
“Dari logat ngomong kamu lah…” sahut gw

Lalu gw duduk di sebelah Ronald. Ronald tersenyum dan berbisik ke telinga gw;
“Tadi aku bilang sama si Paul kalo kita berdua pacaran, biar dia jaga jarak sana aku. Takut dia ngejar aku”. Sambil ketawa-ketawa.
“Iya dech, ngerti” gw meyakinkan Ronald, kalo gw bakal berakting total ha ha ha…

Kami harus menunggu lumayan lama, sekitar 1 jam lagi, coz hari itu NAV lagi ramai pengunjung (dengan orang-orang yang katanya punya hobby nyanyi… padahal suaranya???… he he he…).
Gw asyik main game PSP yang tadi sengaja gw bawa dari rumah. Gw lagi nafsu namatin salah game action horror. Gw ga tertarik ngobrol sama si Paul, maklum gw penggemar brondong, bukan jagung bakar afrika he he he…
“Aku ke mini market di bawah ya, mau beli minuman dulu.” Kata Daffa.
“Gw ikut.” Sahut gw.
“Kok pada pergi?” Tanya Paul.
“Mau sekalian beli plester buat kaki Ronald, kemaren kena knalpot motor” Jawab Daffa.
“Ga akan lama kok”. Timpal gw.
“PSP nya pinjem dong…” pinta Ronald ke gw.
Kemudian gw menyodorkan PSP ke tangan Ronald. Gw dan Daffa beranjak ke lantai bawah menuju sebuah mini market. Setelah mengambil beberapa barang yang kami butuhkan dan membayarnya di kassa, kami keluar mini market menuju eskalator.

Hp Daffa berdering, dia menjawabnya;
“Hallo!!! Bla bla bla…bla bla bla… bla bla bla…”
Gw ga begitu nyimak pembicaraannya. Tapi yang gw tangkap ada orang yang lagi nunggu dia di BIP.
Setelah beres telepon, Daffa bilang;
“Aku ke BIP dulu, bentar kok”.
“Hayo, mau ngapain lagi?” Gw pura-pura ga tau, padahal gw hafal banget gelagat dan kebiasaan Daffa (maklum kita udah sahabatan lama).
“Ada orang mau ketemu sama aku”. Katanya.
“Ya udah, tapi jangan lama-lama ya…” sahut gw.
“Tapi bilang apa ya sama si Paul” dia kelihatan bingung.
“Urusan itu mah serahin sama aku, udah sana cepetan pergi”. Jawab gw, yakin.

Dengan tergesa-gesa Daffa keluar dari Dago Plaza mencari angkot menuju BIP.
Gw kembali, menuju Ronald dan Paul yang terlihat gelisah ditinggalin berdua he he he…
“Mana si Daffa?” Tanya Paul.
“Dia sakit perut, lagi di toilet”. Jawab gw, lempeng.
“Abis tadi dia makan yang pedes-pedes”. Paul terpengaruh dusta gw he he he…

Ronald mengerlingkan matanya sama gw, dia juga pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi.
Tik-tak… tik-tak… tik-tak… waktu berjalan terus…
Gw melihat brondong cakep melintas… Lho kaya gw kenal ya? Tapi dimana? Bisik gw dalam hati… Ooo… kok dia mirip Kevin, mahasiswa kedokteran yang sering chat dengan gw di YM, tapi belum sempat ketemuan. Kalau di YM dan telepon sih kami sudah sangat akrab… malah sudah saling panggil chayank-chayank segala he he he…

Dia berlalu menuju eskalator turun. Gw dengan sigap langsung mengeluarkan Hp dan mengiriminya SMS.
“Kamu baru keluar dari NAV ya?”
Beberapa saat kemudian Hp gw bunyi. Telepon dari Kevin.
“Kok tau aku baru keluar dari NAV?” Tanyanya.
“Aku lagi di deket NAV lho” jawab gw.
“Aduh, jadi pengen ketemu neh, turun dong”. Pintanya.
“Ya udah aku turun dech. Kamu tungguin disitu ya”. Sahut gw, bersemangat.
“Iya.”. dia setuju.
Lalu gw turun, menuju lantai dasar. Terlihat Kevin sedang menunggu gw.
“Hey!!!” gw menyapa. Kami berjabatan tangan.
“Aduh, kaya mimpi ya…”. Kata dia sambil senyum-senyum.
“Ga nyangka ya, kita bisa ketemuan tanpa direncanain?”. Sahut gw.
“Iya, he he he…” dia tertawa.
Lalu terjadi perbincangan ngalor-ngidul….

Kemudian, dia bilang;
“Aku lagi buru-buru neh, ditungguin temen-temen di PVJ”.
“Ga apa-apa kan? Kita ga bisa ngobrol lama?” lanjutnya.
“Ya, ga apa-apa lah… lagian kita juga ketemuannya ga direncanain kok” jawab gw, tulus.
“Ya, udah aku berangkat sekarang ya… Kamu juga mau karaoke bareng temen-temennya kan?”
“Oke, tar teleponan lagi ya!” kata gw.
“pasti lah…”. Jawabnya.

Kemudian dia berlalu, memanggil sebuah taksi dan pergi dari hadapan gw. Tak lupa memberikan senyum termanisnya… cuma buat gw.. he he he.. (Kisah selanjutnya antara Gw dan Kevin tar gw ceritain secara terpisah dech…).

Gw dengan tergesa-gesa kembali ke lantai atas menuju Ronald dan Paul. Ternyata si Daffa belum balik juga.

“Kok si daffa lama ya”. Tanya Paul, penasaran.
“Ga tau, mungkin masih mules-mules kali”. Jawab gw, asal ngomong.
Terlihat Ronald tertawa mendengar jawaban gw. Waduh gara-gara si Daffa, gw jadi harus bohong sama si Paul… (maafin aku Paul.. he he he…).

Kemuadian Daffa muncul… dia datang dengan membawa seorang gadun lagi… Chinese, gendut, keringetan lagi… weeeksss ha ha ha... Kemudian dia memperkenalkan si engko-engko itu… Namanya Ko Siauw Lie. Setelah bersalaman dan menyebutkan nama masing-masing. Kami larut dalam obrolan basa-basi (yang bener-bener basi buat gw he he he…).

Beberapa saat kemudian, resepsionis memanggil kami karena ruangan yang kami pesan telah siap. Uupppps save by the bell!!! he he he…

Kami memasuki ruangan dan kemudian asyik nyanyi-nyanyi dengan lagu andalan masing-masing… Yang nyanyi sih cuma gw, Daffa dan Ronald coz Ko Siauw Lie dan Paul malah asyik makan dan minum. Yang katanya udah dari tadi kelaperan…

Daffa duduk diantara Paul dan Ko Siauw Lie… Gw dan Ronald hanya tertawa-tawa melihat Daffa beraksi. Tangan yang kanan di pegang Ko Siauw Lie, sementara punggungnya diusap-usap sama Paul… Aduh repotnya double date ha ha ha… (anehnya, baik Paul maupun Ko Siauw Lie ga nyadar… atau malah ga mau tau?).

Ko Siauw Lie pamit pulang duluan (setelah terlihat menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke tangan Daffa. Hanya gw yang menangkap moment ini ha ha ha…). Kami tinggal berempat. Paul mulai berani, memeluk Daffa… hah!!! Daffa menyandarkan kepalanya ke dada paul (akting? he he he..).
“Ayo cium, Bang!” kata Ronald menggoda. Mata Daffa terlihat melotot ke arah Ronald, nyadar lagi dikerjain temennya.
“Malu dong.. masa disini?” jawab Paul sambil cengengesan menampakkan gigi mancungnya.
“Ga apa-apa… nyantai aja… wajar kok namanya juga saling suka”. Kata gw, jahil.
“ha ha ha…” Ronald tertawa.
Daffa keliatan jadi salah tingkah…
Gw dan Ronald tambah bersemangat ngerjain Daffa…
“Ciuman dong… kaya gini nih…” kata gw, sambil pura-pura berciuman sama Ronald.
“Apaan sih!?!” Wajah Daffa keliatan bete, tapi harus menahan diri… (rasain dech ‘wahai dirimu pemain cinta’ he he he...).
Daffa akhirnya dengan terpaksa harus pura-pura bermanja-manjaan dengan Paul sampai karaoke-an selesai… Gw dan Ronald merasa puas ngerjain Daffa ha ha ha…

Ada SMS masuk di Hp gw yang isinya…
“Please, miscall ke Hp aku beberapa kali. Di phonebook aku no kamu, namanya udah diganti jadi mama aku”
Rupanya SMS dari Daffa. Signal S.O.S, tanda dia perlu pertolongan gw he he he… Gw coba miscall berulang-ulang ke Hp Daffa (tanpa kelihatan sama Paul lho). Kemudian Daffa pura-pura mengangkat teleponnya. Dia berakting mama nya nelpon nyuruh dia pulang. Biar lebih meyakinkan gw kirim SMS ke no Daffa;
“Mama ga mau tau, kamu harus pulang. Ga boleh nginep-nginep di rumah orang lain”. Ha ha ha… lagi-lagi, demi menolong Daffa gw melakukan ini he he he…
Kemudian Daffa ngomong sama Paul sambil memperlihatkan SMS di Hpnya;
“Mama, nyuruh aku pulang…”
“Ya… si ade. Kan udah janji nginep di rumah abang…” wajah Paul nampak kecewa.
“Mau gimana lagi dong, mama ga ngijinin aku nginep, bang…”
“Malah sekarang, aku harus buru-buru pulang nih bang. kalau ga, pasti diomelin dech…” lanjut Daffa.
“Hmmmmhhhh…” Paul hanya menggumam.
“Beneran, aku janji. Tar pasti nginep dech di rumah abang” Sahut Daffa, berjanji (janji palsu? he he he…).
“Ya udah… Tapi beneran ya…tar kapan-kapan nginep di rumah abang?”. Jawab Paul, dengan berat hati.
“Iya…” Jawab Daffa.

Jatah waktu karaoke kami telah habis. Paul membayarkan billing kami. Lalu kami beringsut keluar menuju tempat parkir di basement. Meninggalkan Paul yang harus pulang sendirian, dengan perasaan kecewa.
Padahal… sumpah!!! Kami ga pulang he he he.. Kami malah makan dulu di Hyper Square. Sambil ketawa-ketawa membahas kejadian tadi.
Sejak itu Paul ga pernah kontak lagi sama Daffa, mungkin dia nyadar telah diperdaya he he he…
Daffa oh Daffa… si penggemar gadun… dia kapok ga ya, bikin double date lagi??? ha ha ha…


Conclusion:
Laku sich laku… tapi jangan ngerjain orang dong. Inget ada hukum karma lho… ha ha ha…

Gemerlap Malam Di Amnesia

7 Maret 2009
Gw, Daffa, Ronald, Bobby, dan James (gebetan Ronald dari Jakarta), lagi pengen fun and nikamatin malam panjang di Amnesia, Jl. Pasir Kaliki – Bandung.
Hentakan lagu ‘destination’ membahana memenuhi ruangan… menghentak-hentak bersusulan dengan irama degup jantung… Aura “Amnesia” malam ini terasa kuat membius para clubbers untuk bergoyang. Tua, muda, pria, wanita, stright, binan… he he he… semuanya asyik ngedance dengan gaya khasnya masing-masing.

Gw berdiri di belakang dekat bar, sementara teman-teman gank gw sedang memesan minuman sambil ketawa-ketiwi ga jelas, dalam euforia pengaruh alkohol. Sementar gw lagi ga mau minum. Ga tau kenapa, cuma lagi pengen nyobain asyiknya clubbing tanpa mabok (maklum minggu kemarin gw jackpot sampai tepar he he he…).
Pandangan mata gw terkunci pada sesosok tubuh yang sedang meliuk-liuk ngedance seirama dengan dentuman musik. Yups, dia tepat ada dihadapan gw. Sumpah!! Gw terpesona pada gerak tariannya yang ‘beda’. Seakan-akan memberi stilumus pada ‘naluri’ gw. Dia seorang pemuda berwajah oriental… hmmm.. slim, good looking, gaya rambut masa kini, dengan padu padan pakaian yang serasi. Bener-bener eyecatching…

Gw terus menatap dia, sekali-sekali dia menoleh dan memberi senyuman. Senyuman demi senyuman saling berbalasan, tatapan demi tatapan beberapa kali bertautan.
“Hey!!! Kok matanya manatap terus sama orang itu?! Suara Ronald mengagetkan gw.
“Hmmmhh.. ga kok” jawab gw sambil tergagap.
Malu dech ketahuan mata gw lagi belanja he he he…
“Kita ke depan yuk!” ajaknya
“Ayo…” gw menjawab dengan sedikit malas-malasan.
Ya… kecengan gw bakal ga keliatan lagi dong… (gw ngeluh dalam hati).

Satu persatu 4 teman gw beranjak ke arah depan menuju dance floor. Akhirnya dengan berat hati gw berjalan beriringan mengikuti mereka.
Di dance floor suasana semakin memanas. Teman-teman se-gank gw makin ‘liar’ dengan tariannya. Ada yang berjingkrak-jingkrak, ada yang sambil ciuman dengan gebetannya, dan ada juga yang cuma goyang sambil ketawa-ketawa.
“Gw, ke turun dulu ya” sahut gw.
“Mau, kemana?” tanya James.
“Hmmmhhh… mau beli minum… haus neh…” jawab gw.
“Oke!!” James tersenyum.

Gw melompat dari dance floor menuju arah belakang bar. Thank’s God… rupanya si wajah oriental masih di sana dan masih asyik bergoyang. Gw memesan orange juice. Lalu gw membawa gelas minuman yang gw pesan dan berdiri bersandar di dinding. Mata gw kembali tertuju pada si wajah oriental he he he…
Waktu dia berbalik, memberi senyuman. Keberanian gw muncul dengan tiba-tiba…
“Cape ya?” tanya gw. Karena gw melihat keringat mengkilat di sekitar leher dan keningnya.
“Lumayan” jawabnya, sambil senyum.
Kemudian dia beranjak mendekat.
“Di sini banyak binannya ya?” tanya dia.
“Di sini emang tempatnya, kali” jawab gw sok tahu (coz, sumpah!!! gw baru 3 kali datang kesini he he he…)
“Kalo kata temen-temen gw, di barisan kiri semuanya binan lho…” lanjut gw
“O, ya…? Pantesan…” diiringin derai tawanya.
“Gw Farrel.” Sahut gw sambil menjulurkan tangan.
“Thomas” Balasnya.

Obrolan mengalir begitu saja. Gw dan Thomas masing-masing merasa comfort.
Dari sekian menit obrolan, gw baru tau kalo Thomas dari jakarta, lagi hangout menghabiskan long weekend di bandung.
“Kayanya kamu bukan asli Jakarta ya?” tanya gw usil.
“Kenapa gitu? Keliatan ya?”
“Iya logatnya agak beda aja.” Sambung gw.
“Gw dari Surabaya” sahut Thomas.
Obrolan semakin akrab…
“Sampai kapan di Bandung?” tanya gw.
“Besok juga pulang, pake kereta yang jam 18.30 ”. Jawabnya.
“O… gitu, kok cepet-cepet pulang? Kan senin masih libur” tanya gw penasaran.
“Gw bareng temen-temen, jadi kemana-mana harus bareng.” Katanya
Lagian tiket keretanya udah beli”. Sambungnya.
“Emang di Bandung, kamu nginep dimana?” tanya gw.
“Di Hotel ……. (namanya rahasia lho. Kalo disebutin tar keenakan pemilik hotel dipromosiin gratis di blog gw) di Jalan Banceuy.”
“Tar kapan-kapan kalo ke Bandung lagi, kontak-kontak gw ya.” sahut gw.
“Caranya?” tanyanya, sambil mendelik nakal.
“Ya, tukeran no hp dong he he he…” kata gw.
Akhirnya tukar-tukaran no hp dech. Gw dan Thomas asyik ngobrol, sampai lupa dengan teman masing-masing he he he…

“Acara kenalannya udah beres?” Suara James terdengar dari arah belakang kepala gw.
“Udah kok. Kenapa gitu? Udah pada mau pulang ya? Tanya gw.
“Iya, si Daffa pusing katanya”
“Ya udah kita pulang aja” Jawab gw.

Setelah pamit sama Thomas, akhirnya gw dan teman-teman keluar dari Amnesia. Sebelum pulang kami mengisi perut dulu di C’mar. Di C’mar gw terima SMS dari Thomas yang isinya: “Aku dah sampe hotel, udah mandi… Senang bisa kenalan sm kamu.”

Keesokkan paginya SMS demi SMS berbalasan…
Inbox:
“Sebenernya aku masih betah di Bandung. Cuma bingung mau main kemana”
Outbox:
“Kalo masih pengen main di Bandung mah, tar aku temenin dech”.
Inbox:
“Beneran neh?, main ke Hotel dong”
Outbox:
“Iya, tar agak siangan aku kesitu . Tapi aku cuma bawa motor lho…”
Inbox:
“Gpp kok, kalo temen-temen gw mau ikutan, paling tar kita naik angkot aja”

Sekitar jam 11 siang, gw menemui Thomas di Hotel tempat dia dan teman-temannya nginep. Rupanya cuaca Bandung lagi ga bersahabat. Hujan deras menguyur terus menerus… Udara dingin menusuk kulit menembus sampai ke tulang. Di kamar hotel gw dan Thomas berdekapan saling menghangatkan diri… bibir kami berpagutan… Sambil tertawa-tawa.
Thomas berbisik di telinga:
“mau live show ya? He he he…” Gw hanya tersenyum, Coz ga mungkin kami berbuat ‘lebih’ karena di dalam kamar ada temannya Thomas yang lagi asyik telponan.
“Huh!!! Ga pengertian banget ya?” Bisik Thomas.
“Iya neh” desah gw, sambil kembali melumat bibirnya.
“Tau ga? Kemarin malam waktu kamu dan temen-temen pada pergi ke depan. Aku ke depan juga nyariin kamu…..”. bisiknya, nakal.
“Masa sih?” Tanya gw.
“Iya, tapi ga ketemu-ketemu. Makanya aku balik lagi ke belakang”. Sahutnya.
“O yaaaa…? Ternyata bukan cuma aku yang gatel ya? he he he” Kata gw, menggoda.
Thomas mencubit perutku dengan gemas…

Kami terus berpelukan, dan berciuman… tak peduli tatapan mata temannya Thomas yang tampaknya jealous (pengen gabung kali ya? he he he..).
Melihat Gw dan Thomas, terus asyik masyuk tanpa mempedulikan kehadirannya. Akhirnya temannya Thomas menyerah, beranjak keluar kamar. Thx God, finaly… ha ha ha…
Cerita berikutnya sudah bisa ditebak kan? Mau tau? Hmmmmhhh… Rahasia dong!!!…
Hari itu akhirnya Thomas membatalkan kepulangannya ke Jakarta, dan menundanya sampai keesokannya.

Conclusion:
Kalo clubbing, lebih enak dalam keadaan sadar lho… swear…!!! Cobain dech. Emang sih, rasa pede kita jadi kurang mantap. Tapi positifnya, kita bisa menilai sekeliling kita dengan otak yang lebih jernih (jadi malu ah… menggurui kaya gini… he he he…).

Rabu, 11 Maret 2009

Be Unique... Be A Special Persons...

Awal Februari 2005
Hari sudah beranjak malam, jarum jam dinding menunjukkan angka 19.21 WIB, suara hp menjerit-jerit menandakan ada sms masuk. Terbaca di layar ponsel:
“mas, ketemuan yuk!”

Otak yang tadinya mumet serasa diguyur air es, suegeeeer!!! Maklum lagi ga punya ide malam minggu sendirian di rumah. Hmmmhhhh... rupanya anak yang beberapa hari lalu ketemu di chatting. Gw langsung telepon dia.
“Ya udah, mau ketemu di mana? dan jam berapa?” tanya gw.
“Depan BCA aja, di jalan....... (rahasia he he he...). Jam 20.00 WIB, ya? “sahutnya.
“O.K.” jawaban tanda setuju gw.

Lima menit sebelum waktu janjian, gw sudah standby di depan BCA dengan sepeda motor kesayangan gw. Itulah gw, selalu on time kalo punya janji. 10 menit. 15 menit. 20 menit. Gw tunggu, tapi ga ada tanda-tanda anak itu muncul. Kemana nih anak? Kesabaran gw mulai menipis...
“kamu di mana?” tanya gw lewat telp.
“aku masih di dago, naik angkot. Kejebak macet” Jawabnya.
“ya udah, gw tunggu ya. Tapi kamu pasti datang kan?” tanya gw.
“Iya, aku serius kok.”
Wah dago lumayan jauh. Pasti makan waktu lama sampai disini. Bisa lumutan gw gara-gara nunggu lama.
Setelah hampir 1 jam nunggu, akhirnya dia muncul juga.

Jauh dari bayangan gw, ternyata dia masih kecil (ini pengalaman pertama ketemuan dengan brondong dibawah 20 tahun). Dengan celana pendek loreng dan jaket army, rambut mohawk, makin keliatan kalo dia brondong baru meletek. Usianya memang baru genap 17 tahun beberapa hari yang lalu. Cute, dengan tinggi badan 170-an cm, slim, berkulit coklat, rambut ikal, bulu mata panjang dan lentik, wajah yang selalu dihiasi senyuman. Dia menyapa:
“hi, maaf ya mas nunggu lama”
“o iya, gpp” jawab gw
Perasaan kesal yang sempat muncul tadi, sesaat saja langsung hilang entah kemana, setelah melihat sosok dia.
Lalu kita saling berjabat tangan.
“Farrel.”
“Ronald.” Sahutnya.
“Kita jalan aja yuk, ga enak diliat orang banyak.” Gw ngajak.
“Bentar ya, mas. Aku ke temen aku dulu.” Pintanya.
Rupanya dia datang diantar temannya. Setelah terlihat perbincangan sebentar, temannya pergi. Dan Ronald segera kembali menemui gw.
“Mau kemana nih?” gw bertanya.
“Terserah mas aja.” Jawabnya
“Kalau ke rumah mau ga?” Gw minta persetujuan.
“Ayo aja, tapi aku pengen pulang dulu ke jalan .......” sahutnya, dengan mata berbinar.
“O.K.” gw setuju.

Lalu gw dan Ronald berboncengan menuju rumah gw, tapi mampir dulu ke tempat yang dia ingin tuju. Wew, ternyata dia Cuma mau beli batagor doang he he he... Dasar anak kecil bawaannya masih suka jajan... Dia makan batagor langsung dari plastiknya, sambil dibonceng. Ini penglaman baru, jalan sama brondong. Harus bisa memaklumi tingkahnya yang masih belum benar-benar bisa lepas dari dunia anak-anak.
Finaly, sampai juga di rumah. Dan kita sudah berdua di dalam kamar.
Setelah ngobrol sana sini, kemudian dia bertanya:
“Mas, punya film bokep ga?”
“Ada beberapa.” Sahut gw.
“Pengen nonton iikkhh...” pintanya, manja.

Gw beranjak, mengambil cd film, dan memutarnya. Kami pun terbuai tontonan film XXX. Dalam temaram lampu kamar, kami pun larut dalam deburan nafsu yang menggelora....
Kejadian ini berlangsung, dan terulang lagi di hari-hari kemudian.
Itulah awal pertemanan, yang terjadi antara gw dan Ronald. Persahabatan yang unik, dan berlangsung hingga saat ini. Mungkin terlihat aneh, seperti anak yang jalan sama bokapnya. Tapi itulah kami...

Conclusion:
Setiap manusia diciptakan unik dan spesial, punya kelebihan dan kekurangan... Kesalahan dan kealpaan sangat manusiawi. Namun ‘perbedaan’ bukan halangan untuk bisa saling berbagi dalam indahnya persahabatan.

Once Upon Time In Bandung

Akhir Oktober 2001
Hari itu gw ada janji untuk bertemu dengan someone, sebut saja namanya Troy, yang hanya gw kenal lewat e-mail dan telepon. Coz gw kenal dia dari searching internet di salah satu situs gay , bukan seperti kebanyakan orang sekarang yang tinggal chatting di channel tertentu trus langsung bisa ketemuan (maklum, gw pemula jadi waktu itu belom tau ada channel yang 3 huruf itu).

Hmmm… lebih dari tiga bulan gw dan dia saling kirim e-mail yang berujung pada saling tukar no telpon. Tanpa pernah tau wajah masing-masing seperti apa… yang gw inget, dia pasang pic pemuda bule dengan kudanya, malah sempet gw candain dia, loe tuh yang mananya? he he he…

Perjalanan yang cukup jauh ga ngurangin excited gw untuk bertemu dengannya. Beberapa kali naik turun angkot harus aku jalanin... hiiikkkss. Akhirnya hampir sampai juga di tempat yang kita janjikan untuk bertemu, yups di depan sebuah bank swasta si seberang kampus dia. Tinggal satu belokan, buat sampai di depan kampus salah satu PTS ternama di kota Bandung. Arus lalu lintas padat membuat angkot yang gw tumpangi tersendat-sendat merayap lambat… Aduh sialan, gw sudah telat lebih dari 20 menit dari waktu janjian. Oowww shit!!!, tinggal 10 meteran sampai di kampus. suddenly… hujan turun sederas-derasnya… di luar nalar, di luar perhitungan… wah bisa kacau nih, gw menggerutu dalam hati.

Gw melompat dari angkot dan berlari mencari tempat berlindung dari derasnya air hujan. Gw langsung menuju wartel untuk menghubungi dia (lagi ga ada hp coz baru ilang dicolong orang hiiikkss). Tuuuutttss nada panggil tersambung… gw denger suara dia bicara “hallo!!…” mata gw tertuju pada sesosok pria tampan berpayung sedang mengangkat handphone-nya di seberang sana. Yup!!! pemuda indo, tampan, tegap, berkulit putih bersih, dengan tinggi badan 183cm, memakai poloshirt biru donker dengan celana jeans. Hmmmm… sesaat rasa percaya diri gw langsung luluh lantak tak berisa… dia terlalu sempurna buat gw. gw tidak mau ambil resiko sakitnya merasa ditolak. Gw hanya orang biasa, sebenarnya gw ga termasuk jelek lho he he he… tapi tetap saja hati ini dibuat jiper!!! Gw takut dan malu dia ga suka gw. Gw tutup telepon tanpa berbicara satu patah kata pun… gw bener-bener nge-blank, ga tau mesti berbuat apa. Gw liat pemuda itu juga gelisah, menanti kedatangan gw yang sudah molor lebih dari setengah jam. Bahasa tubuhnya terlihat gelisah, dan mulai hopeless menanti kedatangan gw.

Sesaat sebelum dia mau beranjak pergi, keberanian gw mucul, Gw lari menyeberang jalan, ga peduli siraman air hujan membuat badan gw basah kuyup. Dengan dada berdegup kencang gw sapa dia:
“loe... Troy ya?”
Dia tersenyum...
“eh farrel?”
“lama ya nunggu gw?”
“iya, hampir aja gw mau cabut neh”. Jawab dia.
Waduh, gw liat badannya yg tinggi menjulang. Weeeekkksss kepala gw masih kalah tinggi dari bahunya he he he...
“kita ke kost-an gw aja ya” sambung dia.
Gw hanya tersenyum dan menganggukan kepala tanda setuju.

Diiringi rinai hujan, kami jalan berpayung berdua menyusuri gang dan jalan berliku naik turun he he he... Rupanya tempat kost dia lumayan agak jauh dari kampus.
Sesampai di tempat kost-nya, suasana mulai mencair... Obrolan panjang mengalir seolah-olah kami sudah berteman lama saja. Ga ada rasa canggung, ga ada kekakuan, yang ada hanya canda dan tawa... semuanya natural. Selisih umur yang lumayan jauh, rupanya ga jadi hambatan. Gw suka brondong, dia suka pria yg sudah matang. Klop lah he he he...
“baju loe basah tuh, ganti aja pake baju gw.” kata dia
“kasian tar masuk angin lho” sambungnya.
“hmmm...”gw menggumam ragu.
“kenapa? malu ya?”
Gw hanya tersenyum...
Perlahan gw lepas t-shirt gw...
“celananya juga dong.” Katanya, sambil menatap nakal.
“ga ah” jawab gw.
Gw jadi salah tingkah. Dia malah makin berani.
“ayolah, ga usah malu-malu, kan Cuma ada kita berdua” Gw speechless.
Dengan sedikit ragu gw membuka resleting dan menurunkan celana jeans gw. Sekarang gw tinggal memakai celana dalam saja... yup!!! cuma secarik celana dalam segitiga dan berhadapan dengan pria tampan!!!

Dengan handuk yang dia sodorkan, gw mengeringkan tubuh. Tiba-tiba dia memeluk gw dari belakang. Kemudian menyentuh dada gw dengan lembut. Mengusapnya perlahan-lahan. Meremasnya.... Rupanya dia suka dengan dada gw yang lumayan bidang, karena gw rajin olah raga.
Dan kejadian demi kejadian mengalir begitu saja... Tanpa beban, tanpa paksaan... Ga perlu gw ceritain apa yang terjadi selanjutnya, karena gw yakin kita semua sama-sama sudah mengerti (yang ga ngerti ngacung!!! tanya pak guru he he he...).

Setelah hari itu, kami menjadi sangat dekat satu sama lain. Lebih dari 2 tahun kami berhubungan baik. Seandainya sekarang bertemu pun gw yakin semuanya tetap baik-baik saja. Gw ga peduli dia suka bercinta dari satu pelukan cewek ke pelukan cewek lainnya (yang sangat gw maklum karena dia besar dan tumbuh di negara berbudaya barat). Dia selalu jujur cerita apa adanya.

Gw tau dia termasuk cassanova di kampusnya. Banyak cewek tergila-gila padanya. Mulai dari cewek yang cantik banget sampai yang jelek banget (uppsss!!! maaf he he he...) Yang penting dia milik gw dalam sisi ke-gay-annya. Dia memang bisexual, yang artinya dikasih ‘anugerah’ bisa menikmati bercinta dengan jenis kelamin manapun.
Wait!! Pasti kalian menyangka gw yang jadi B nya ya? Salah besar tuh!!! he he he... gw T, bahkan gw T sejati ha ha ha...
Itulah salah satu episode kehidupan gw.

Sekarang Troy sudah bahagia dalam pernikahannya. Dan gw ga diundang ke pesta pernikahannya hiiikkkss... Semoga Troy membaca kisah ini dan teringat kembali kisah suka dan duka yang pernah kami lalui bersama.
“Troy, I hope... loe mampu menjaga kesucian pernikahan loe! Jangan nengok ke belakang dan jangan pernah mencoba untuk bermain api lagi... Kalo ga bisa? ya apa boleh buat? Tarik maaaannng!!! he he he...”
Sedangkan gw? Still and always gay ha ha ha...

Conclusion :
Jangan pernah takut jatuh cinta, sekalipun terhadap orang yang menurut loe jauh lebih sempurna. Coz orang cakep biasanya justru merasa dirinya biasa saja. Ga kaya orang-orang yang chatting di Mirc di channel 3 huruf, yang kepedean memakai nickname: cakep, cute, handsome, ganteng, muscle dll. Yang ternyata aslinya jauuuuuuuuhhh bangggeeettttzzz... he he he... (hayo yang pernah tertipu ngaku dech!!! dan buat yang suka kepedean, bertobatlah!!! Wakakaka....).