Jumat, 19 November 2010

Evergreen Love Songs

Sudah seminggu ini gw ‘riweuh’ (B. Sunda = sibuk) membantu sahabat gw Alvin merancang dan menyiapkan sebuah surprise party, untuk merayakan ulang tahun pacarnya, Viona. Mulai dari pemilihan cafe, pesan kue tart, ngundang teman-teman, format acara, dan tentu saja plus jadi fotografer amatiran juga he he he...

Dan kemaren malam terlaksanalah sudah surprise party itu. Semua acara berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Seneng juga liat ekspresi wajah Viona yang campur aduk antara senang, kaget, bingung, terharu, dan bahagia. Bibirnya tersenyum tapi matanya berkaca-kaca, dan dipertengahan hingga akhir acara, dia nampak tertawa lepas. Tak ketinggalan, Alvin juga ngerasa puas dengan hasil jerih payah gw.

Yang hadir lumayan banyak mulai dari teman-teman dekat sampai dengan keluarga Viona dan keluarga Alvin, komplit. Dan diantara tamu-tamu dewasa terseliplah 1 orang brondonk cakep 17 tahun yang menarik perhatian gw, namanya Daniel (sayangnya dia pacar adik perempuan Viona he he he...). Sebetulnya gw sudah kenal sama Daniel lebaran kemarin, waktu kami sama-sama gabung wisata bareng Alvin dan keluarga Viona. Di sana gw jadi tau banyak hal tentang Daniel, termasuk tau kalo ternyata sejak umur 2 tahun dia sudah kehilangan figur ayah, karena ayahnya meninggal akibat sebuah kecelakaan lalulintas. Kulit putih, tinggi 178cm, cakep, pokoknya tipe gw bangetlah he he he... Gaydar gw sih menangkap signal (walau lemah), kalo Danie tuh ada kemungkinan PLU (people like us) juga. Even ternyata dia gay sekalipun, gw akan tetep memegang teguh prinsip gw, kalo gw ga akan pernah membuka diri sama orang-orang yang berasal dari lingkungan teman-teman straight gw. Hanya mengagumi, hanya memuji he he he...

Eh, kok ceritanya jadi ngelantur ya? he he he... Back to the party. Setelah acara ultah dan makan-makan kelar. Kami semua berkaraoke ria (memanfaatkan fasilitas cafe he he he...). Walau CD lagu-lagunya terbatas dan didominasi sama lagu-lagu tembang kenangan alias jadul, ga ngurangin kegembiraan kami semua. Dan anak-anak mudanya sedikit tersegarkan dengan lagu-lagu baru dari CD-CD karaoke yang sengaja gw bawa dari rumah. Disana, jadilah gw sebagai ‘pemandu lagu’ dadakan he he he... Coz gw lumayan banyak tau soal lagu-lagu oldies dan juga masih suka update lagu-lagu baru.

Acara karaoke dibuka dengan lagu Mengenangmu – Kerispatih, yang dengan senang hati gw nyanyiin he he he... (setelah sebelumnya ga ada yang mau nyanyi duluan). Dan seperti biasanya setelah ada yang memulai barulah yang laen pada berani unjuk gigi (unjuk gigi? Emang giginya pada tonggos gt? he he he.. huft!) dan meluncurlah lagu demi lagu dibawah ini:
-Tonight I Celebrate My Love For You – Peabo Bryson And Roberta Flack
-Eternal Flame – The Bangles
-Tears In Heaven – Eric Clapton
-How Deep Is Your Love – The Bee Gees
-Love Story – Andy Williams
-Boulevard – Dan Byrd
-Smoke Get In Your Eyes – The Platters
-Goodbye – Air Supply
-Saving All My Love For You – Whitney Houston
-Right Here Waiting – Richard Marx
-Nothing’s gonna Change My Love For You – George Benson
-Hotel California – Eagles
-Speak Softly Love – Andy Williams
-I Just Called To Say I Love You – Stevie Wonder
-It Might Be You – Stephen Bishop
-Feelings – Morris Albert
-Trully – Lionel Richie
-Can’t Take My Eyes Off You – Frankie Valli
-When You Tell Me That You Love Me – Diana Ross
-Endles Love - Diana Ross and Lionel Richie
-My Way – Frank Sinatra
-You Needed Me – Boyzone
-L.O.V.E. – Nat King Cole
-Yesterday – The Beatles
-Paint My Love - MLTR
-Benang Biru – Megy Z (dangdut)
-Menunggu – Ridho Rhoma (dangdut lagi he he he...)
-Sumpah I Love You - Mahadewi
-Tapi Bukan Aku – Kerispatih
-Camelia – Irwansyah
-Biarkan Jatuh Cinta – ST12
-Pelan-Pelan Saja – Kotak
-Geisha – Jika Cinta Dia
-Hampa Hatiku – Ungu
-Matahariku – Agnes Monica
-Sepanjang Usia – Kerispatih
-Dll.

Itu Cuma sebagian lagu-lagu yang gw inget he he he... Btw, lagu Sepanjang Usia – Kerispatih dinyanyiin sama Daniel si brondonk cakep lho he he he (catatan yang ga penting ya? hi hi hi...). Dia nanyi sambil malu-malu dan minta bantuan gw wk wk wk... Btw, sayang banget gw ga nemuin CD lagu House For Sale, jadi gw ga bisa nyanyi sambil curcol dech wkwkwk... (baca postingan sebelumnya).

Dengan nyanyiin lagu-lagu lawas gw seakan-akan dibawa memasuki labirin masa lalu (padahal banyak lagu-lagu yang sudah ada jauh sebelum gw lahir he he he...). Lagu-lagu tembang kenangan seolah menjadi mesin waktu, untuk menembus ke dalam era musik puluhan tahun yang lalu.

Gw jadi inget, beberapa tahun yang lalu gw pernah iseng-iseng merekam suara gw sendiri menyanyikan lagu-lagu jadul. Lagu-lagu yang cukup gw sukai dan punya kenangan tersendiri. Gw sudah upload 3 buah lagu yang gw nyanyiin di Youtube lho. Lagu Angin Malam baru banget gw upload (ih niat banget ya? heu heu heu...). Jadi yang buat penasaran pengen tau suara gw atau yang lagi ga ada kerjaan, tinggal dengerin aja langsung. Yang mo ikutan nyanyi juga boleh kok, tuh udah gw tulis lengkap lirik lagunya. Tapi ga boleh protes ya, kalo hasilnya ga memuaskan he he he... Coz pada dasarnya emang suara gw biasa aja, ditambah ga diedit pula. Jadilah ini suara gw apa adanya he he he... PERINGATAN!!!: Jika setelah mendengar suara gw ada efek samping pusing-pusing, mual dan muntah-muntah itu diluar tanggung jawab gw wkwkwk...



FEELINGS
Original Song By Morris Albert / Written By Louis ‘Loulou’ Gaste

Feelings, nothing more than feelings,
trying to forget my feelings of love.
Teardrops rolling down on my face,
trying to forget my feelings of love.
Feelings, for all my life I'll feel it.
I wish I've never met you, girl; you'll never come again.
Feelings, wo-o-o feelings,
wo-o-o, feelings again in my arms.
Feelings, feelings like I've never lost you
and feelings like I've never have you again in my heart.
Feelings, for all my life I'll feel it.
I wish I've never met you, girl; you'll never come again.
Feelings, feelings like I've never lost you
and feelings like I've never have you again in my life.
Feelings, wo-o-o feelings,
wo-o-o, feelings again in my arms.
Feelings...(repeat & fade)



BIRU
Original Song By Vina Panduwinata / Written By Dodo Zakaria

Tiada pernah aku bahagia
Sebahagia kini oh kasih
Sepertinya 'ku bermimpi
Dan hampir tak percaya
Hadapi kenyataan ini

Belai manja serta kecup sayang
Kau curahkan penuh kepastian
Hingga mampu menghapuskan
Luka goresan cinta
Yang sekian lama sudah menyakitkan

Kau terangkan gelap mataku
Kau hilangkan resah hatiku
Kau hidupkan lagi cintaku
Yang t'lah beku dan membiru

Kini tetes air mata haru
Menghiasi janji yang terpadu
Tuhan jangan kau pisahkan
Apapun yang terjadi
'Ku ingin s'lalu dekat kekasihku



ANGIN MALAM
Original Song By Broery Marantika / Written By A. Rianto

Berhembus angin malam, mencekam
Menghempas membelai wajah ayu
Itulah kenangan yang terakhir denganmu

Ku dekati dirimu, kau diam
Tersungging senyuman di bibirmu
Itulah senyuman yang terakhir darimu

Diiring gemuruh angin
Meniup daun-daun
Alam yang jadi saksi
Kau serahkan jiwa raga

Angin tetap berhembus tak henti
Walaupun sampai akhir hidupku
oh, angin malam bawa daku kepadanya

Sekarang gw ngambil ancang-ancang buat lari... Kabuuuurr!!! sambil nutup muka takut ditimpukin tomat busuk he he he....

Conclusions:
Lagu kenangan bisa membuat kita senyum-senyum bahagia, membangkitkan semangat, atau malah bisa pula mengorek luka lama. Semua tergantung cara kita menyikapinya.

Kamis, 11 November 2010

House For Sale

Gw ga inget, entah kapan gw pertama kali mendengar lagu ‘House For Sale’. Tapi lagu ini sangat akrab di telinga dan memory gw. Dilantunkan oleh sebuah Grup Band jadul asal Belanda, yang namanya cukup bikin merinding, Lucifer!! Yupz, dalam Bible, Lucifer adalah nama Malaikat kegelapan, malaikat pemberontak yang berubah menjadi cikal bakal iblis. Tapi apalah arti sebuah nama? Yang penting lagunya enak didengar he he he... Warna suara vocalisnya: Margriet Eshuijs, cocok banget membawakan lagu ini. House For Sale, sebuah lagu lama yang masih enak untuk didengar, ‘oldies never dies’...

HOUSE FOR SALE
Song by Lucifer

The sound went up one rainy morning
Just a couple of hours after dawn
Mrs. Hadley Peapped drew her curtains
Wondering what was going on

The neighbor sat over coffee cups
That nice young couple is breaking up

And in the living room the linen and the crystals
Set all packed-up and set to go
I tell myself once more I would be here in spring
To see my roses glow

And all the things you tried to fix
The roof still leaks, the door still sticks

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share

I know you've always loved that painting
From that tinny little shop in Spain
Remember how we found it when we've ducked in
From that sudden summer rain

But I think I'll keep the silver tray
My mother gave us on our wedding day

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share

House for sale
You can read it on the sign
House for sale, oho
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share


Sudah lama rumah itu terbengkalai dan kosong. Rerumputan liar tumbuh tak beraturan dihalaman. Debu menebal dimana-mana dan sarang laba-laba berjuntaian di tiap sudut ruangan. Lebih dari 3 tahun rumah itu ditinggalkan kami. Rumah tempat dimana gw dan sodara-sodara gw dibesarkan. Rumah tempat keluarga kami berlindung dari sengatan matahari, dari dinginnya angin malam, dan dari derasnya air hujan. Rumah tempat keluarga kami bernaung, bercanda, menangis, dan tertawa bersama.
Lebih dari 4 dasawarsa rumah itu menjadi milik keluarga kami. Dan sudah 3 kali mengalami renovasi. Semenjak menikah papa dan mama menempati rumah itu, rumah keluarga kami.

Di tanah seluas 240 meter persegi, rumah itu dibangun. Dulu sekali, waktu gw masih kecil, gw masih inget banget, di pekarangan rumah gw terdapat 2 batang pohon kelapa, 1 pohon nangka, 1 pohon pete, 1 pohon jambu air, 1 pohon belimbing, dan aneka bunga warna-warni, dengan tanaman daun mangkokan sebagai pagar hidup. Tak heran kalo suasana di rumah kami sejuk dan rimbun. Karena usia dan alasan-alasan lainnya, pohon-pohon itu satu per satu ditebang, dan terakhir hanya menyisakan pohon nangka (konon pohon nangka itu ditanam oleh papa persis sewaktu gw lahir).

Rumah itu memang ga terlalu luas, hanya 1 lantai dan memiliki 1 kamar utama dan 4 kamar anak-anak. Tapi kami merasa nyaman tinggal disana.

Sedari kecil gw senang memelihara binatang, dan rumah kami itu sangat memungkinkan gw untuk memelihara binatang-binatang kesayangan gw. Ayam, burung parkit, gelatik, kutilang, merpati, kelinci, marmut, kura-kura, ikan hias dan anjing pernah gw miliki. Tapi dari semua itu hanya ikan hias dan anjing yang paling sering gw pelihara. Sudah 7 ekor anjing yang menghangatkan suasana keluarga kami. Ticky, Della, Jenny, Bella, Bonny, Shiro, dan Scrappy itulah nama anjing-anjing gw. Mereka silih berganti menjadi hewan kesayangan gw. Di rumah, gw hanya diijinkan memelihara 1 ekor anjing saja. Dipelihara mulai dari kecil sampai tua dan mati, lalu diganti dengan anjing lainnya.



Sudah 2 tahun yang lalu, rumah kami dipasangi plang “Rumah Ini Akan Dijual”. Tapi belum juga ada pembeli yang cocok. Kini, setelah hampir 4 tahun Papa meninggal, kami sekeluarga memutuskan untuk menjual rumah itu kepada tetangga kami. Dengan pertimbangan: daripada rusak terbengkalai karena akhir-akhir ini makin sering terendam banjir, akhirnya dengan berat hati kami melepas rumah kami itu ke tangan orang lain. Segala proserdur jual beli dan urusan tetek bengek lainnya sudah kami bereskan. Proses akad jual beli rumah kami pun sudah tuntas.

Beberapa minggu yang lalu, untuk terakhir kalinya gw memasuki rumah itu. Gw mengambil benda-benda milik keluarga gw yang masih tersisa di rumah itu. Ada rasa sesak di dada. Sedih, haru, membuncah bersama sejuta kenangan yang berseliweran di otak gw. Hmmmhhh... Kini rumah itu sudah bukan milik kami lagi...

Lagu ‘House For Sale’, kembali mengalun dari laptop gw menambah suasana hati gw semakin biru dan sendu. Selamat tinggal rumahku tercinta...

Conclusions:
Ada yang pergi, ada yang kembali. Ada yang hilang, ada yang ditemukan. Benda boleh rusak dan lenyap. Tapi, selama gw masih ada, kenangan itu akan tetap terpelihara.

Jumat, 01 Oktober 2010

Love Comes In Mysterious Ways

Awal tahun 2005 lalu, gw pernah chat di sebuah warnet dan ketemu dengan seseorang, sebut saja namanya Arman. Orangnya nice, 23 tahun, tinggi, slim, berkulit sawo matang, bulu mata lentik, dan berbola mata besar. Karena hari udah larut, dan sama-sama merasa ‘cocok’ maka kami ga nunda waktu lagi untuk bertemu. Maksudnya cuma ketemu aja ga lebih. Gw ngajak dia makan di sebuah rumah makan yang buka 24 jam. Setelah makan, gw ga ada ide mau kemana, lagian hari sudah terlalu malam. Terus terang semuanya terjadi begitu saja tanpa direncanakan, jadi gw ga prepare apa-apa. Arman ga nolak waktu gw ajak dia ke tempat gw. Kami hanya bertemu sekali dan cuma menumpahkan semua hasrat itu dalam semalam saja (tapi 3 ronde lho he he he…). Istilah populernya ONS: one night stand, but triple orgasm he he he.... Hari-hari berikutnya kami masih berkirim sms dan telponan.
19 Februari 2005, ada sms masuk di hp gw:
Inbox: “Boleh kenalan ga? aku Mario 21/175/60”
Oubox:”Iya boleh….”

Bla bla bla…
Dan berlanjut dengan sms-sms lainnya. Yang berujung kami bikin janji untuk ketemuan dengan acara berenang bareng.

Besoknya tanggal 20 Februari 2005, akhirnya kami ketemuan ditempat yang dijanjikan. Seperti biasa gw datang lebih awal... Tidak begitu lama kemudian, muncullah seorang remaja tampan memakai jumper biru navy bertulisan ‘UCLA” menghampiri gw.
“Hi, aku Mario!” remaja itu menghampiri gw.
“Farrel!!” jawab gw sambil menjabat tangannya.
“Kak, ngobrolnya jangan disini ya. Takut kelihatan papa aku. Dia lagi service mobilnya di bengkel itu” sahut Mario, sambil menunjuk ke sebuah bengkel di seberang tempat kami ketmuan.
“Ya udah, so kita mau kemana neh? Langsung ke kolam renang aja?” lanjut gw.
“Iya, mumpung belom terlalu sore.” Mario setuju.
Kami pun meluncur ke sebuah kolam renang di daerah setiabudi. Di kolam renang itu gw dan Mario banyak bercerita soal kehidupan masing-masing.
“Kak, jangan marah ya. aku mau berterus-terang” Mario membuka obrolan.
“Kenapa gitu?” Tanya gw penasaran.
“Pertama: umur aku bukan 21 tahun, tapi 18 tahun.” Papar Mario.
“Ooohh... ga masalah, aku malah lebih suka.” Sahut gw sambil senyum.
“Kedua: aku mencuri no hp kakak dari phonebook temen aku, Arman. Waktu dia cerita dan memperlihatkan pic kakak. Dia sendiri ga tahu kalo aku mencatat no hp kakak.” lanjut Mario.
“Iya gpp. Lagian aku sama Arnan kan ga ada hubungan apa-apa.” Jawab gw tulus.

Sejak pertemuan pertama itu, berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Kami merasa cocok satu sama lain, hingga gw dan Mario sepakat untuk menjalin hubungan lebih serius, kami berpacaran.
Gw sering main dan bermalam di rumah Mario, karena di rumahnya dia hanya tinggal sendirian (kedua orangtuanya dan kakak-kakaknya tinggal di luar kota).
Setelah beberapa bulan berhubungan, gw makin mengenal karakter Mario. Dia baik, smart, tulus, childish, sok mandiri, manja, dan cemburuan...
Kadang gw ngerasa rasa cemburu dia terlalu besar. Gw sering bilang sama dia: cemburu memang tandanya cinta, tapi rasa percaya juga ada lah bagian dari cinta.

Mario meminta gw untuk tidak berhubungan lagi dengan temen-temen gay gw , termasuk Arman. Sejak gw dan Mario pacaran, hubungan Mario dengan Arman jadi renggang. Bahkan sahabat gw Daffa juga pernah kena getahnya, suatu hari Daffa sms ke hp gw, dan yang jawab Mario (gw kebetulan lagi di kamar mandi). Mario menjawab sms dengan kalimat seakan-akan gw ga mau berhubungan dan ga mau kenal lagi dengan Daffa. Untunglah Daffa sangat mengenal gw, makanya dia ga percaya sms itu gw yg kirim. Ujung-ujungnya Daffa dan Mario terlibat perang sms. Mario ga percaya kalo Daffa itu memang sahabat gw, dia menyangka kalo semua gay pasti selalu melibatkan unsur sex dalam setiap bentuk hubungannya, even itu persahabatan. Diluar sepengatahuan Mario, gw masih suka berhubungan dengan Daffa via YM, sms, telpon bahkan ketemuan. Daffa sangat mendukung hubungan gw dengan Mario, begitupun juga gw sangat mendukung hubungan Mario dengan pacarnya. Gw dan Daffa sering saling curhat, mengenai kisah asmara kami.

Kalo lagi jalan-jalan bareng di mall, Mario selalu wanti-wanti agar mata gw jangan belanja he he he... Tiap kali ada brondonk berpapasan dengan kami, pasti dia langsung memegang tangan gw, seakan-akan dia ingin menunjukkan kalo gw itu miliknya.

Pernah suatu kali, kasus ‘pegangan tangan’ itu berbuntut panjang. Coz pas mario memegang tangan gw ternyata di mall itu ada 2 pasang mata yang memperhatikan gerak gerik kami. Yupz, mereka yang melihat kami bergandengan tangan itu adalah kakak laki-laki Mario dan pacarnya. Insiden itu berubah menjadi mimpi buruk!!! Mario diinterogasi oleh Mama dan kakak-kakaknya. Dia didesak untuk mengaku tentang orientasi seksualnya. Mario akhirnya mengaku kalo dia seorang gay. Diiringi dengan derai air mata dan tangisan pilu seluruh anggota keluarga, Mario mengungkapkan rahasia terbesar dalam hidupnya. Pengakuan itu melukai hati Keluarganya juga Mario. Namun apa hendak dikata, itulah kenyataan hidup. Sekalipun pahit dan getir, harus bisa dengan lapang dada mereka hadapi. Mario hanya meminta kepada Mama dan kakak-kakaknya agar rahasia dirinya tidak diceritakan kepada Papanya.

Keluarga Mario, adalah keluarga yang mengutamakan pendidikan, kedua orangtua dan kakak-kakaknya semua lulusan S-2 (Papanya malah lulusan S-3). Mereka bisa menerima dan mengerti ‘perbedaan’ yang Mario miliki. Mereka hanya meminta Mario agar jangan kebablasan dan tetap berusaha untuk bisa kembali ke jalan yang ‘benar’.

Sejak kejadian itu, gw ga bisa dengan leluasa ke rumah Mario lagi. Padahal sebelumnya gw bisa kapan aja berkunjung dan bermalam di rumah Mario, bahkan bisa berkomunikasi dengan orangtua dan kakak-kakaknya, kalo kebetulan berpapasan. Gw diblacklist!! Mulai saat itu hanya Mario yang kerap berkunjung ke rumah gw. Mario merasa nyaman dengan sambutan dari keluarga gw.

Pada awalnya pengawasan keluarganya terhadap Mario lebih diperketat. Mario selalu dikontrol keberadaannya via telpon, bahkan hp Mario sering diperiksa secara diam-diam oleh keluarganya, untuk dibaca setiap sms yang masuk maupun keluar. Tapi lama kelamaan akhirnya semua bisa berjalan secara normal kembali. Gw dan Mario secara sembunyi-sembunyi masih tetap bisa berpacaran sekalipun ‘tanpa restu’ dari keluarganya hihihi...

Sejak berhubungan dengan gw, Mario banyak mengalami perubahan. Mario yang awalnya anak rumahan dan manja, berubah menjadi anak yang menyukai petualangan dan menikmati keindahan pemandangan alam. Gw sering mengajak dia untuk menjelajahi keindahan alam. Banyak banget tempat-tempat yang sempat kami jelajahi bedua; gunung, kawah, hutan, perkampungan, perkebunan, sawah, sungai, air terjun, danau, pantai, empang (he he he...), dll sudah kami jelajahi bersama. Mario yang penakut juga berubah menjadi lebih pemberani.

Lebih dari 5 tahun gw dan Mario berpacaran. Banyak peristiwa yang mewarnai hubungan kami. Suka dan duka, tawa dan air mata kami hadapi bersama. Mario sangat mengenal gw, begitupun juga gw sangat mengenal Mario. Kami berdua sama-sama keras kepala, maka tak jarang kami saling beradu argumen. Pertengkaran kecil sampai petengkaran besar, riak kecil sampai badai, bahkan putus sambung juga pernah kami lalui... Sampai akhirnya 7 bulan yang lalu, kami berdua memutuskan untuk hanya berteman saja.

5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal yang terlalu indah untuk dilupakan... Tapi apa mau dikata, keputusan sudah diambil. Kami lebih enjoy dengan status hubungan kami yang sekarang. Tidak ada lagi pertengkaran dan tidak ada lagi cemburu. Jujur, kami masih sering bertemu, bahkan masih sering melakukan ‘kontak fisik’ he he he... entah apa namanya: HTS (hubungan tanpa status)?, TTM (teman tapi ml he he he...)?, atau HUTAPEA (hubungan tanpa perasaan apa-apa)?

Mungkin bagi sebagian orang bentuk hubungan kami ini aneh bin ajaib. Tapi sudahlah, kami ga peduli pendapat orang lain, karena cuma kami berdua yang paling tahu dan paling mengerti apa yang telah, sedang, dan akan kami jalani... Toh kami juga punya kesepakatan kalo hubungan kami akan benar-benar berhenti, disaat salah satu atau masing-masing dari kami telah menemukan pasangan yang lebih tepat.

Conclusions:
Kita baru bisa memiliki cinta yang besar, disaat kita sanggup dan ikhlas melihat orang yang kita cintai lebih berbahagia dengan pilihan hidupnya. Cinta oh cinta... terkadang memang complicated!! huft!!!

Selasa, 07 September 2010

Herpes Zoster

Sisi lain tragedi menjelang Lebaran 2007.... Selain mengalami patah tulang selangka, Penderitaan gw ternyata ga cuma sampe disitu saja. 2 hari kemudian karena kondisi gw drop, gw terjangkit cacar ular atau herpes zoster. Penyakit yang timbul ketika kondisi kesehatan tubuh menurun drastis. Herpes jenis ini, tidak sama dengan herpes simplex (penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin). Herpes zoster penyebabnya adalah virus varicella zoster, yang sama dengan virus penyebab cacar air. Jadi setiap orang yang pernah mengalami cacar air, kalo kondisi tubuhnya menurun tajam, sangat mungkin terjangkit cacar ular atau herpes zoster.

Awalnya gw nyangka rasa perih dan panas di badan gw karena lecet-lecet akibat kecelakaan yang gw alami, tapi rasa perih itu berubah menjadi memerah dan kemudian menjadi seperti luka bakar, menggelembung berisi cairan (seperti kena knalpot motor). Trus dibarengi dengan demam pula.

Gw baru bisa memeriksakan diri ke dokter setelah lebaran hari ke-2 (karena saat lebaran semua dokter pada tutup). Gw berobat ke dokter Rachmat, dan gw mendapat obat 3 jenis pil dan salep acyclovir. Gw sudah meminum obat dan memakai salep tapi luka di badan gw malah bertambah. 2 hari kemudian gw memutuskan untuk ke dokter specialis kulit, dr. Dewi.
“Wah, kenapa telat berobat?” tanya dokter Dewi.
“Udah berobat kok bu, ke dokter Rachmat, tapi ga ada perubahan.” Jawab gw.
“Emang dikasih obat apa sama dokter Rachmat?” dokter Dewi bertanya lagi.
“Dikasih ini, dok.” Sahut gw sambil menunjukkan obat-obatan yang gw dapatkan dari dokter Rachmat.
“Ya gimana mau sembuh, kamu ga dikasih obat oralnya...” kata dokter Dewi.
“Karena pengobatannya terlambat, mungkin lukanya akan meninggalkan bekas lho.” Lanjut dokter Dewi.
“Ya udah gpp dok, yang penting cepet sembuh ajalah.” Jawab gw.
Lalu gw mendapatkan obat oral, salep dan cairan kompres. setelah beberapa hari dan sekali lagi kontrol. Cacar ular gw pun sembuh, tapi meninggalkan bekas luka di bagian perut gw, sama seperti yang dikatakan dokter Dewi.

Pertengahan Bulan Juni kemaren, gw merasakan panas dan perih di bagian belakang leher gw. dalam tempo satu hari kemudian lukanya menggelembung berisi cairan. Mirip banget dengan gejala yang gw alami waktu kena cacar ular. Gw langsung ke dokter specialis kulit, dr. Anita.
“Ini bukan herpes zoster, kamu dermatitis alergica” Sahut dokter Anita.
“Saya kira herpes dok, karena gejalanya mirip waktu 3 tahun yang lalu saya kena herpes zoster.” Kata gw.
“Kalo pernah kena herpes zoster ga akan kena lagi. Sama kalo kita pernah kena cacar air, kita ga akan kena cacar air lagi.” dokter Anita menjelaskan.
“Kemarin-kemarin kamu makan apa gitu?” lanjut dokter Anita.
“Makan udang sama kepiting, dok. Tapi biasanya sih ga alergi, paling banter juga Cuma gatal-gatal dan bentol-bentol doang, dok. Lagian kejadiannya juga jarang banget.” Jawab gw.
“Tingkat keparahan alergi, sangat bergantung sama seberapa banyak seafood yang kamu makan dan seberapa fit kondisi badan kamu.” Dokter Anita melanjutkan penjelasannya.
“Gimana caranya supaya saya tidak kena alergi lagi?” tanya gw.
“Hindari penyebab alergi, jangan makan seafood!” jawab dokter Anita.
“Wah padahal saya doyan banget dok he he he... Boleh ga dok, kalo sesekali saya pengen seafood, sebelum makan seafood saya minum obat anti alergi kaya incidal?” sahut gw.
“Boleh-boleh aja, tapi ga menjamin alergi itu ga akan muncul sama sekali. Masih mungkin muncul, tapi ga akan terlalu parah.” Papar dokter Anita.

Ah syukurlah ternyata sesekali gw masih boleh menyantap salah satu makanan kesukaan gw he he he... (even gw harus belajar membatasinya). Dalam 3 hari sakit di leher gw sembuh total dan ga meninggalkan bekas sama sekali.

Awal bulan Juli 2010, gw ketemu lagi diYM dengan Jerry, seorang mahasiswa kedokteran, semester 5. Sebenernya gw sudah lama kenal, dan sering chatting dengan Jerry di Yahoo messenger. Tapi baru memutuskan untuk ketemu, setelah chatting malam itu.

Jerry : Aku jadi makin penasaran nih sama kakak, pengen ketemu.
Farrel: Kalo mau ketemu ya ayo aja. Emang mau ngapain gitu?
Jerry : Ya ketemu aja, ngobrol-ngobrol, sharing.
Jerry : Tapi, kalo aku ga suka ga usah ml gpp kan?
Farrel: Ya gpp lah, emang kalo setiap ketemuan harus diakhiri dengan ml? Kalo kamu ga suka tar kamu kan tinggal bilang.
Jerry : Takut ga enak lah kak.
Farrel: Gini aja, kalo kamu ga suka, kamu tinggal duduk jauh-jauh aja dari aku. Aku juga akan ngerti kok.
Jerry : Siiiiipp...
Farrel: Ya udah, mau ketemuan dimana gitu?
Jerry : Di rumah kakak aja, bisa ga?
Farrel: Boleh aja, kebetulan besok di rumah ga ada siapa-siapa
Jerry : O.K. dech sampe besok ya...

Keeseokan harinya sesuai janjinya, Jerry datang ke rumah gw dengan mengendarai mobilnya. Jerry ternyata lebih cakep aslinya dibanding dengan pic yang dia berikan waktu chatting. Chinese, bermata sipit, berkulit putih, berambut lurus dan hitam. Satu hal lagi, dia chinese tapi cut he he he... dari cara dia bicara dan sinar matanya gw tau dia orangnya smart.

Setelah larut dalam obrolan panjang lebar di kamar gw, gw sering menangkap mata Jerry sesekali menatap tajam sama gw. Tapi gw menahan diri, gw takut kalo dia ga suka sama gw. Gengsi gw sangat tinggi. Kalo gw menyerang duluan trus ditolak, mau ditaruh dimana neh muka? he he he...

“Kak aku sangat suka kissing... hmmhhh... boleh ga aku mencium kakak?”
sahut Jerry.
Gw hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju...
Lalu dia mendekat kearah gw, kami berciuman, saling melumat bibir, memainkan lidah kami... ciuman kami makin lama makin panas. Gw dan Jerry sangat menikmati setiap detik debaran di dada serta lumatan demi lumatan bibir dan lidah kami...
Berciuman... tertawa... ciuman lagi... saling lempar senyum... ciuman lagi... dan seterusnya.... berulang dan berulang... terus berulang terus...
Dalam 4 jam lebih kami saling bergumul, Gw dan Jerry masing-masing mengalami 2 kali orgasme. Dan tak terhitung berapa kali kami berciuman. Mulai dari kecupan sampai dengan ciuman berdurasi panjang dan panas menggelora. Selama 4 jam itu gw dan Jerry bermesraan diatas tempat tidur dalam keadaan polos, tanpa sehelai benangpun. Kami sangat menikmati moment-moment itu.

“Jujur kak, aku sangat menikmati permainan tadi. Kakak good kisser.” Sahut Jerry sambil tersenyum dan kembali melumat bibir gw.

Setelah kami usai melampiaskan hasrat kami berdua. Dan masih saling berpelukan.

“Kalo di perut itu luka bekas apa kak?” tanya Jerry.
“Cacar ular.” Jawab gw.
“Cacar ular?” Jerry mengulang kalimat gw tapi dengan intonasi kalimat pertanyaan.
“Iya nama lainnya herpes zoster, tapi bukan herpes penyakit kelamin lho...” jawab gw.
Jerry dan gw tersenyum.

Kemudian Jerry pamit pulang, gw mengantarkan dia sampai mobilnya lenyap dari pandangan di tikungan jalan.

Seminggu kemudian gw ketemu Jerry lagi di Yahoo Messenger. Berikut ini potongan percakapan kami.

Farrel : Hi, kemana aja?
Jerry : Ada kok kak, ga kemana-kemana...
Farrel: Emang kamu ngapain aja gitu?
Jerry : Dari kemaren maen terus sama temen-temen. Mumpung libur kuliah ha ha ha...
Jerry : Udah lama aku ga balik ke dunia ini
Farrel: Lagi asyik di dunia nyata ya? he he he...
Jerry : Ha ha ha...
Farrel: Kirain udah berubah jadi jutek & sombong...
Jerry : Ha ha ha...
Jerry : Enggak lah
Jerry : Dasar!
Jerry : Ha ha ha...
Farrel :Ga kapok kan ketemu sama kakak?
Jerry : Hmmm gimana yah...
Jerry : Ha ha ha
Jerry: Sebenernya, jujur iya.
Farrel:Wadoh!! Beneran??
Jerry: Aku rada kuatir juga euy sama herpes nya kakak
Jerry: Sorry banget...
Farrel: Herpes zoster kan ga akan nuler!!!
Jerry : Hmmm...
Farrel: Kamu pasti jauh lebih tau lah....
Jerry: Takut nya sih nuler.
Jerry : Soalnya itu kayanya herpes yg ke genital juga.
Jerry :Yang nulernya terutama dari sperma.
Farrel: Ga mungkinlah, kata dokter specialis kulit, ini bukan herpes genital dan sama sekali ga nuler.
Jerry : Berarti nularnya lewat apa dong?
Jerry :Wah jujur lebih nyeremin lagi kl gini...
Farrel: Kan aku udah bilang, ga nuler!!
Jerry: But still, bikin ngeri.
Farrel :Hmmm...
Farrel: Lagian waktu kakak kena herpes jg, kakak lagi punya bf lebih dr 2 tahun, ga pernah ml sama yang lain. Mantan bf kakak aja ga kena, padahal sering bersentuhan.
Jerry : Hmmm...
Jerry : Kadang-kadang onset-nya penyakit tuh ga langsung, kak.
Jerry : Ada yang bertaon-taon tunggu imun turun dll.
Jerry : Sorry bgt bukannya gimana... aku cuma cari ati-ati aja dech kayanya.
Farrel: Kalo pun ini penyakit kelamin, besar kemungkinan, kamu udah tertular dong?
Farrel: Ok gpp, kakak ga akan maksain. percuma ngomong panjang lebar jg. Kalo ujung-ujungnya km ga percaya juga
Farrel:Kakak juga bukan orang bodoh kok.
Jerry : Hmmm??
Farrel: Ada herpes genitalis ada yg bukan!
Jerry : O.K.
Farrel: Bagaimanapun juga, thx udah mau kenal sm kakak...
Jerry: sama-sama...

Lalu gw memberi link tentang herpes zooster

Farrel: Coba kamu buka link1 dan link2
Jerry : O.K thx for d’link

Beberapa saat kemudian....

Jerry: Iya aku salah...
Jerry : Ternyata bukan Herpes Simplex 2
Farrel: Dan perlu dicatat, kakak pernah dapat kesimpulan dari 2 dokter specialis kulit, kata mereka herpes zoster ga akan kambuh lagi.
Jerry: Oh great then
Jerry: He he he...


Ah... Kenapa juga ya namanya kudu sama-sama Herpes? Herpes Zoster dan Herpes Simplex!!! jadi bikin orang-orang salah ngerti dech!!

Masalah sudah clear!! Case closed! Dan cerita pun berlanjut... heu heu heu...

Conclusions:
Merasa lebih pintar dan merasa lebih tau, terkadang bisa menunjukkan betapa terbatasnya pengetahuan yang dimiliki seseorang. Lebih baik disangka bodoh, daripada disangka pinter he he he...

Jumat, 03 September 2010

Tragedi Menjelang Lebaran

Bulan Ramadhan tiga tahun yang lalu kisah ini terjadi... Kegiatan rutin harian gw waktu itu adalah mengelola cafe milik keluarga yang letaknya sekitar 32 Km dari Bandung. Setiap harinya gw pergi pagi, pulang larut malam menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi.

Cafe yang baru seumur jagung itu setiap harinya dipadati pengunjung, maklumlah di daerah itu belum ada cafe yang menawarkan konsep seperti cafe yang keluarga gw kelola. Apalagi disaat waktu berbuka puasa di Bulan Ramadhan, karyawan yang berjumlah 35 orang, seringkali kewalahan melayani pesanan pelanggan. Hingga seluruh anggota keluarga gw pun harus ikut turun tangan membantu melayani pelanggan.

3 hari menjelang idul fitri 2007, waktu hampir pukul 11.00 malam ketika gw dalam perjalanan pulang ke Bandung, melintasi jalanan basah sisa-sisa guyuran hujan tadi sore. Dalam keremangan cahaya lampu jalanan dan lalu lintas yang lengang gw meluncur dalam kecepatan stabil di 80 Km/jam. Tapi disebuah tikungan tajam dan licin, secara tiba-tiba sepeda motor gw seperti hilang kendali. Dan Braaaaakkkk!!!... secara tiba-tiba motor gw terjatuh diiringin tubuh gw yang terguling-guling terpelanting di atas jalanan beraspal. Untunglah saat itu lalu-lintas sangat sepi, hingga ga terjadi kecelakaan beruntun. Gw lalu bangkit dibantu oleh beberapa orang penduduk di sekuitar situ. Sekujur tubuh gw dipenuhi luka parut dan memar. Perih dan nyeri menjalari setiap sudut tubuh gw.

“Mas, ban motornya kempes” Sahut salah seorang penolong gw.
“Oh iya, makasih...” jawab gw.

Jam tangan digital kesayangan gw entah terlempar kemana, gw hanya menemukan bagian kiri tali jam itu. Suasana yang temaram makin mempersulit gw mencari jam tangan gw. Rasa sakit membuat gw menyerah dan ga peduli lagi jam tangan gw hilang.
Kebetulan kios tukang tambal ban hanya beberapa meter dari lokasi kejadian, hingga gw ga usah terlalu bersusah payah mendorong sepeda motor gw untuk mencari-cari tukang tambal ban.

“Boss, bannya sobek. Harus diganti yang baru.” Kata tukang tambal ban.
“Ya sudah, ganti aja Mang.” Sahut gw acuh tak acuh.

Disaat gw menunggu tukang tambal ban memasang ban belakang motor gw, gw baru menyadari ada masalah di tulang selangka (clavicula) bagian kiri. Catat ya tulang selangka!! bukan tulang selangkangan!!! wkwkwkwk.... Tulang dibagian atas dada dan sejajar dengan bahu gw itu ternyata letaknya bergeser, tepatnya patah. Sambil duduk, gw mencoba sendiri mengembalikan posisi tulang selangka gw dengan cara mendorong memakai tangan kanan gw. Untunglah berhasil, even dengan rasa sakit yang lumayan menyiksa. Gw lalu menelpon Mario, BF gw (sekarang udah jadi mantan) ngasih tau kalo gw mengalami kecelakaan.

Setelah tukang tambal ban tuntas mengerjakan tugasnya, lalu gw pulang dengan mengendarai sepeda motor sendirian. Dengan hanya menggunakan sebelah tangan gw mengendalikan laju kendaraan, padahal perjalanan masih lumayan jauh, sekitar 18 Km lagi. Gw ga pulang ke rumah, tapi langusng ke UGD sebuah rumah sakit yang letaknya ga jauh dari rumah gw, seperti saran Mario.

Setelah di rumah sakit dan tubuh gw menggigil, barulah gw menelpon keluarga gw. Gw emang tipikal orang yang ga suka bikin panik dan merepotkan orang lain (termasuk keluarga). Mama gw aja baru tau kejadian itu, keesokan harinya.
Clavicula Bandage

Di rumah sakit, luka-luka gw dirawat dan dibersihkan. Kesimpulan dokter gw mengalami: clavicula fracture, alias tulang selangka gw patah karena trauma. Dari hasil foto rontgen, untunglah meskipun patah tulang selangka gw tidak mengalami dislokasi. Tentu saja gw ga bilang-bilang kalo sebelumnya gw sendiri yang telah mengembalikan posisi tulang selangka gw ke tempat semula he he he... Lalu gw dipasang ransel verband (clavicula bandage) dan gendongan penyangga lengan (arm sling). Menurut dokter, alat-alat itu harus gw pakai selama 2 bulan!! Sampai tulang selangka gw tersambung sempurna. Huh!! Menyebalkan.
Arm Sling

Bagai sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Selain mengalami patah tulang, disaat yang bersamaan gw terserang cacar ular (nanti gw akan cerita tentang penyakit cacar ular dalam postingan tersendiri), yang membuat badan gw demam berhari-hari.

Untuk sementara waktu, gw memutuskan tinggal di rumah Mama, biar ada yang merawat dan merhatiin gw. Menyedihkan memang, disaat lebaran gw justru terbaring lemah dan harus beristirahat total. Mario, bf gw sering mengunjungi, untuk memantau perkembangan kesehatan gw. Bahkan, dia sering menginap juga di rumah, untuk menemani gw. Dan lucunya, even gw dalam keadaan patah tulang, kegiatan hubungan seksual kami tetap berlanjut he he he.... Cuma gw emang lebih berhati-hati bergerak, tidak bisa terlalu heboh. Malah kadang gw cuma berbaring aja dan, Mario yang aktif.

Setelah 2 minggu, gw merasa bosan terbebat dan tersiksa rasa sakit. Gw desprate, karena jangankan untuk beraktvitas, untuk mandi pun ga bisa gw lakukan. Karena itulah, akhirnya gw menyerah dan bersedia waktu gw diajak teman-teman gw untuk berobat secara alternatif ke bengkel tulang di daerah Citapen.

Di sepanjang jalan di dareah Citapen ternyata bertebaran bengkel-bengkel patah tulang. Dan sampailah gw ke tempat praktek Abah K (sesuai rekomendasi kerabat teman gw yang pernah mengalami patah tulang). Menurut pengakuan Abah K, di Citapen dialah orang yang paling ahli menangani patah tulang, memakai ilmu warisan dari leluhurnya. Abah K dengan bangga bilang; profil dan keahlian dirinya pernah diliput dan disiarkan oleh beberapa televisi swasta.

Pengobatannya, ternyata melalui pijatan diiringi jampi-jampi. Semua property dari rumah sakit yang terpasang di tubuh gw, dia lepaskan. Dia mengurut dan memijit tangan dan tubuh gw. Dia menarik dan menghentakkan tangan gw. Kemudian dia menyuruh gw mengangkat tangan kiri gw, dan melakukan gerakan memutar. Ajaibnya gw ga merasa sakit sedikitpun, seolah-olah gw ga pernah mengalami patah tulang. Kemudian Abah K membebat badan gw, mulai dari lengan atas, bahu, dada dan punggung gw dengan perban bebat (elastic bandage). Dia menyuruh gw untuk datang lagi beberapa hari kemudian.
Elastic Bandage
Sesuai saran Abah K, gw pun datang lagi ke tempat prakteknya. Step-step pengobatannya hampir sama seperti waktu gw pertama kali datang. Dan gw ga merasa kesakitan. Yang membuat gw heran, mengapa sewaktu di tempat praktek Abah K, gw merasa semuanya baik-baik saja dan ga ada rasa sakit sedikitpun. Tapi setelah sampe di rumah gw merasakan kesakitan yang luar biasa. Setelah pengobatan yang ke-2 kali, gw memutuskan ga akan pernah balik lagi ke Abah K. Gw memakai kembali semua perlengkapan dari rumah sakit. Hampir 2 bulan gw memakai clavicula bandage dan arm sling, sesuai denagn saran dokter.

Akhirnya gw sembuh dan tulang selangka gw tersambung lagi, tapi sayang sambungannya tidak sempurna. Tulang selangka gw yang bagian kiri kl dipegang terasa sedikit menonjol di bahu gw. Entah apa penyebabnya kenapa tulang selangka gw tidak tersambung secara sempurna. Mungkin gara-gara malpraktek si Abah K, dukun tulang dari Citapen, atau karena gw bandel masih aktif ml sekalipun tulang gw masih belum tersambung sempurna he he he... Tapi gpp lah, bagaimana pun juga gw bersyukur sudah bisa sembuh kembali.

Setelah accident menjelang lebaran itu, sekalipun tulang gw sudah sembuh, tangan kiri gw jadi ga bisa mengankat beban yang terlalu berat.Yang tentu saja membuat gw ga bisa melanjutkan kegiatan fitness gw. Gw takut, kalo dipaksakan tar malah bisa mencelakakan gw. Ah sudahlah, ga ada yang perlu disesali. Gw yakin setiap kejadian pasti ada hikmahnya.

Conclusions:
Tuhan tidak pernah menjanjikan hari akan selalu panas, Tuhan juga tidak pernah menjanjikan hari akan selalu hujan. Tapi Dia berjanji akan memberi kekuatan, bila topan pencobaan melandamu.

Minggu, 29 Agustus 2010

Koleksi

Setiap membereskan barang-barang lama, pastilah kita menemukan ‘harta karun’ yang mengandung sejarah hidup. Gw termasuk orang yang suka menyimpan sesuatu yang berhubungan dengan kenangan pribadi gw. Foto, buku, surat, kaset, souvenir dan benda-benda usang lainnya seringkali mampu membangkitkan kenangan lama.

Filately
Kemarin malam gw iseng membuka-buka kembali album perangko koleksi gw. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar gw memang sudah menjadi seorang filatelis. Berbagai cara gw lakukan untuk melengkapi koleksi perangko gw: mulai dari korespondensi dengan sahabat pena, barter dengan teman, mengirim surat ke kedutaan besar, beli di kantor pos, atau membeli ke toko khusus yang menjual benda-benda filately.

Setelah sekian tahun melalui perjalanan panjang, terkumpulah ribuan helai perangko koleksi kebanggan gw. Mulai dari jenis perangko yang biasa milik sejuta umat sampai dengan jenis perangko langka, gw miliki.
Melalui hobby itu gw jadi banyak tahu tentang seluk beluk cara menyimpan dan merawat perangko koleksi. Dulu cara gw melepaskan perangko dari amplop sangat ceroboh yaitu dengan menarik paksa yang tentu saja sering berakibat perangkonya jd tipis terkelupas tertinggal di kertas amplop, menjadi tebal karena sebagian kertas amplop terbawa, atau malah sobek. Padahal syarat dari sebuah untuk layak dikoleksi adalah ‘no scratch, no bend’.

Bersama berjalannya waktu gw jadi tahu 2 cara efektif melepaskan perangko dari amplopnya: yaitu dengan cara mendekatkan perangko yang masih menempel di amplop ke semprotan uap panas dari ceret yang berisi air mendidih, setelah kena panas perangko akan mudah terlepas, kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Atau cara ke-dua, yaitu merendam perangko yang masih menempel di amplop dengan air panas kurang dari 1 menit, kemudian keringkan dengan cara diangin-anginkan.

Perangko menarik perhatian gw karena gambar indahnya, warna-warni, dan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Jujur, awalnya gw lebih suka mengumpulkan perangko dari luar negeri daripada perangko dalam negeri. Coz perangko di negeri tercinta ini, selama puluhan tahun objek gambarnya hanya sang presiden memakai peci dengan senyuman khasnya he he he... Tapi setelah menjadi anggota organisasi filatelis gw jadi lebih rajin mengumpulkan perangko dalam negeri.

Gw memang tipikal orang yang kalo sudah suka sesuatu pasti gw akan serius menjalaninya. Selama bertahun-tahun, akhirnya ketelatenan gw membuahkan 5 album besar berisi ribuan perangko. Yang tentu saja hanya perangko-perangko pilihan yang designya gw sukai. Gw paling berkesan waktu mendapatkan album koleksi perangko memperingati 100 tahun Bung Karno, karena gw dapatkan secara gratis, sebagai hadiah undian di pameran perangko di salah satu mal di Bandung.
Album koleksi perangko gw

Selama ini, orang-orang mungkin hanya mengira bentuk perangko itu persegi panjang, padahal masih banyak bentuk-bentuk lainnya, seperti: bujur sangkar, segitiga, belah ketupat dan lingkaran. Ada yang berperforasi (pinggirannya bergerigi) ada juga yang polos.

Gw sangat menyukai perangko dengan objek gambar kupu-kupu, ikan hias dan burung (hayo jangan berasumsi burung yang laen lho… he he he…), karena itu gw lebih serius mengumpulkan perangko-perangko bergambar tersebut. Baik yang diterbitkan dari dalam negeri maupun manca negara. Tapi ada satu design gambar perangko yang secara diam-diam gw kumpulkan, mudah ditebak!! Yup, perangko bergambar lelaki telanjang he he he... Memburu perangko jenis ini memang sedikit lebih sulit, tapi bukan gw namanya kalo menyerah begitu saja. Perjuangan gw membuahkan hasil, puluhan helai perangko bergambar cowok bugil bisa gw kumpulkan wkwkwk... Tentu saja perangko-perangko bergambar lelaki tanpa busana itu bukanlah terbitan dari dalam negeri (kalo diterbitkan disini bisa-bisa Kantor Pos didemo FPI he he he…). Bermacam-macam karakter dan pose lelaki telanjang di perangko-perangko melengkapi koleksi gw. Mulai dari: gambar dewa-dewa mythology Yunani, patung David, lukisan, sampai dengan foto telanjang atlet (perangko edisi olympiade Sidney-Australia tahun 2000) dll.

Orang-orang luar sana menghargai prestasi orang tanpa menghubung-hubungkan dengan orientasi sexualnya. Lihat saja, Matthew Mitcham atlet gay yang karena prestasinya fotonya dijadikan gambar perangko.
Kalo ngomongin perangko, gw ga akan ada habisnya dech he he he...
Matthew Mitcham
 Selain perangko gw juga mengkoleksi benda-benda lainnya, seperti:

Uang Coin Dan Uang Kertas
koleksi jenis ini dinamakan numismatik, mengumpulkan uang-uang dari zaman baheula dan dari negara nun jauh disana dengan berbagai bentuk dan warna yang unik, buat gw punya keasyikan tersendiri. Seru aja masih bisa memegang uang yang dulu pernah kita pakai sehari-hari dan sekarang sudah tidak berlaku lagi.
Sebagian dari koleksi uang coin gw

Bentuk uang coin ternyata tidak hanya lingkaran pipih biasa. Banyak bentuk lainnya, seperti: yg sisinya bergelombang, bentuknya persegi, lingkaran berlubang, segi lima, dan lain-lain.
Begitu juga dengan uang kertas punya bentuk design, keunikan dan historis tersendiri.
Sebagian dari koleksi uang kertas gw

Kartu Telepon Magnetic
Masih ingat zamannya telepon umum kartu? yang setiap kali dipakai kartunya akan berlubang? Gw ngumpulin benda yang satu ini. Sayang sekali, kartu telepon magnetic ini sekarang sudah tidak ada, koleksi gw jadi ga nambah-nambah dech he he he...
Sebagian dari koleksi kartu telepon magnetic gw


Voucher Pulsa Fisik
Sejak awal gw punya handphone sekitar tahun 1999, secara iseng gw kumpulin satu demi satu kartu voucher fisik yang gw beli. Pada awal kemunculannya voucher pulsa fisik dibuat dari bahan plastik dengan bentuk dan design exclusive, tapi sekarang hanya dibuat dari kertas yang makin tipis dan bahkan dengan ukuran yang makin mengecil. Jujur, menurut gw hanya simpati yang serius mengeluarkan design-design gambar yang paling menarik. Bersama berjalannya waktu kehadiran voucher fisik pun sedikit demi sedikit mulai tergantikan oleh voucher elektrik yang kini makin mendominasi.
Sebagian dari koleksi kartu voucher pulsa fisik gw

Buku
Gw jg suka banget baca buku, sejak zaman bacaan karya-karya Enyd Blyton kaya: Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Mallory Towers, Sapta Siaga dll. Berlanjut ke buku-buku lainnya yang masih berbau detektif remaja seperti: Trio Detektif , Hardy Boys, Nancy Drews, Komik Tintin dan lain-lain (itulah buku-buku masa remaja Gw). Di masa SMA gw juga mulai suka novel karya-karya: Mira W, Marga T, Eddy D. Iskandar, Sydney Sheldon, John Grisham, Agatha Christie, Gola Gong, Hilman Hariwijaya (dengan serial Lupus-nya) dll. Bahkan novel-novel picisan semacam karya: Fredy S, Abdullah Harahap, Motinggo Busye dll, gw lahap habis. Tidak ketinggalan gw juga tak melewatkan buku-buku serial kung fu, karya Asmaraman Kho Ping Ho heu heu heu... Pokoknya buku apapun gw baca tuntas. Bahkan spanduk di jalan pun gw baca wkwkwkwk...

Lama-lama tanpa gw rencanain, buku-buku gw makin banyak dan gw jadiin koleksi. Jujur gw lebih menyukai novel walaupun gw tetap membaca buku-buku jenis lainnya. Kalo ditanya siapa pengarang favorit, gw suka bingung sendiri, coz banyak banget penulis yang gw suka: Dewi Lestari, Andrei Aksana, Andrea Hirata, J.K. Rowling, Dan Brown dll. Pokoknya kalo gw suka pengarangnya pasti seri bukunya lengkap gw miliki.
Sssstttt... gw juga koleksi buku-buku bertema gay (atau ada tokoh gaynya) lho he he he... Mau tau apa aja? Ini dia judul-judulnya:

Cermin Merah – N. Riantiarno
Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh – Dewi Lestari
Lelaki Terindah – Andrei Aksana
Tryst – Elmo
Rahasia Bulan – Kumpulan Cerpen dari banyak penulis, salah satunya Indra Herlambang.
Macho Man Ngomong Cong – Fa
Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek – Djenar Maesa Ayu
Hetero Phobia – Fa
Cinta Tak Berkelamin – Andy Stevanio
Percintaan Di Antara 4 Lelaki – Andy Stevanio
Coklat Stroberi – Christian Simamora
Biarkan Aku Memilih – Hartoyo & Titiana Adinda
Beauty For Sale – Fradhyt Fahrenheit
Beauty For Killing – Fradhyt Fahrenheit
Nel – Dalih Sembiring
Dan ada beberapa lagi yang lainnya... sampai lupa neh, huft!.
Sebagian dari koleksi buku-buku gw

Mobil-Mobilan 
Even koleksi mobil-mobilan gw belom terlalu banyak, tapi gw sangat suka. Cara mendapatkannya juga lumayan perlu perjuangan he he he... Gw sangat interest dengan mobil-mobilan model kuno, terutama replika dari merk volkswagon alias mobil VW.
Sebagian dari koleksi mobil-mobilan gw

DVD & VCD Film
Nonton film adalah salah satu hobby gw. Ga semua film diputar di bioskop. Yup, terutama film-film bertema gay. Makanya gw mengkoleksi sendiri dvd film gay, baik yang cerita lepas maupun film seri. Koleksi gw lumayan banyak. Mengumpulkannya emang butuh kesabaran, tapi bukan gw namanya kalo gw cepet menyerah. Cara memperolehnya? Beli dvd bajakan or download he he he... Pasti dech ada pertanyaan koleksi film bokep juga? Ssssstttts... gw punya banyak lho ha ha ha... tapi gw ga pernah beli, cuma modal nge-backup doanglah he he he... Plus puluhan Gigabyte video & pic gay barat, asia dan lokal dll. he he he...

Selain benda-benda diatas gw juga punya koleksi lain, parfum, gantungan kunci dll, even jumlahnya masih sedikit.

Bagi anda yang mau menghibahkan benda-benda koleksi yang sudah terabaikan, silahkan menghubungi gw wkwkwkwk... (ngarep dot com heu heu heu...).

Conclusions:

Satu pelajaran yang bisa dipetik dari hobby mengkoleksi barang adalah: ketekunan. Tanpa ketekunan, ga mungkin bisa mengumpulkan barang-barang yang kita suka, karena mengkoleksi benda-benda itu banyak menghabiskan waktu, pikiran, tenaga, dan biaya.

Jumat, 20 Agustus 2010

Ivan

Ivan adalah seorang anak yang istimewa, dia hadir membawa keceriaan di dalam keluarga kecil yang sedang mengalami carut marut kemiskinan. Dia terlahir dari rahim seorang ibu yang sedang kurang sehat badannya, hingga sepanjang hidupnya Ivan ga pernah merasakan nikmatnya air susu dari ibu yang melahirkannya. Ivan terpaksa lahir sebelum waktunya karena ibunya terjatuh sewaktu mengandungnya dan mengalami pendarahan. Tapi untunglah nyawa ibu dan anak ini tertolong.

Ivan tumbuh tidak seperti balita pada umumnya. Dia sering sakit-sakitan, mungkin karena tidak mendapatkan ASI dan asupan gizinya yang kurang memadai.
Namun demikian Ivan tetaplah anak yang manis, tiap orang yang melihatnya pasti jatuh hati, ingin menggendong dan mencium pipinya.

Ibunya sangat menyayangi Ivan, karena sebelumnya ia telah kehilangan 2 puteri kembarnya yang meninggal karena sakit. Waktu itu anaknya hanya tinggal si sulung Max dan Ivan.

Kedekatan sang bunda dengan Ivan begitu dalam, Ibunya sangat menyayangi dia walau dalam keterbatasan ekonomi. Perhatian ibunya sepenuhnya tercurah buat anak kesayangannya, Ivan. Hanya sesekali Ivan ditinggal dan diasuh oleh tantenya, itu pun kalo keadaan sangat memaksa.

Suatu hari ivan menangis sangat keras, tidak seperti biasanya dia rewel dan susah dihentikan tangisnya. Berbagai cara telah dilakukan oleh ibunya, namun tak jua membuatnya berhenti menangis. Setelah hampir satu jam Ivan rewel akhirnya dia tertidur pulas, mungkin karena kecapean. Tak lama kemudian dia terbangun lagi karena buang air besar. Diiringi tangis, namun kini tangisnya tidak sekeras sebelumnya. Ketika ibunya mencebok dan mempersihkan pantatnya di kamar mandi, Ivan terdiam dan tubuhnya melunglai. Ivan meregang nyawa dalam pelukan bunda tersayang. Di umurnya yang baru 1 tahun 7 bulan Ivan meninggalkan orang-orang yang sangat menyayanginya. Jerit histeris dan tangisan pilu membahana di rumah keluarga kecil itu.

Akhirnya Ivan pun dimakamkan, berderet dengan makam kakak perempuan kembarnya. Sebelum dimakamkan, nenek tiri Ivan melakukan ritual memberi satu tanda noktah hitam di jasad Ivan.

Sepeninggal Ivan, sang ibu menjadi pemurung. Dia dilanda kesedihan yang berkepanjangan. Berbulan-bulan sang ibu menangisi kepergian putera kesayangannya. Sang ibu seperti kehilangan sebagian nyawa hidupnya, semangat hidupnya seperti terenggut oleh kematian putera kecilnya itu.

Beberapa tahun kemudian dia melahirkan anak perempuan, disusul 4 tahun kemudian lahirlah seorang anak laki-laki, yang diberi nama Farrel, itulah gw. Menurut mama, papa dan keluarga lainnya wajah gw mirip banget dengan Ivan. Hanya satu yang membedakannya, di tubuh gw ada anda lahir yang letaknya sama persis dengan noktah hitam yang yang dibubuhkan di jasad Ivan sebelum dia dimakamkan. Rupanya inilah maksud dari ritual nenek tiri gw itu, dia seperti memanggil kembali Ivan, yang menjelma di tubuh gw. Entahlah percaya atau tidak, tapi ini benar-benar terjadi dan gw mengalaminya sendiri.

Kelahiran gw, berangsur-angsur menyembuhkan luka mama atas meninggalkan Ivan. Luka bathin mama seperti terobati mendapatkan bayi yang wajahnya mirip dengan putera kesayangannya. Tak heran dari dulu sampai sekarang, mama memberikan perhatian lebih kepada gw. Gw jadi anak kesayangannya. Mungkin karena gw dan Ivan memiliki banyak kesamaan. Mama dan papa sering menceritakan kisah tentang Ivan kepada gw, tak heran gw merasa mempunyai kedekatan secara roh dengan Ivan.

Bulan Januari 1999, gw ikut tour ke Bali. Waktu di Tanah Lot, seorang perempuan setengah baya menghampiri gw. Perempuan chinese itu masih satu rombongan dengan gw. Setelah ngobrol ngalor ngidul, barulah gw tau ternyata dia adalah seorang Kwa Mia, ahli ramal tradisional china (sejenis paranormal). Paranormal itu, sebut saja namanya Tante Lisa. Lalu dia bicara dengan spontan.
“Kamu bukan anak ibu dan bapak kamu.” kata Tante Lisa.
”Maksud Tante?” Tanya gw penasaran.
”Secara fisik, kamu memang darah daging mereka, tapi kamu bukan anak mereka.” sahutnya.
Gw hanya bengong, ga ngerti apa yang dia bicarakan.
“Kamu berasal dari roh yang dipaksa untuk terlahir kembali untuk menggantikan kakak kamu. Dan tanda lahir itu buktinya.” Lanjutnya, sambil menunjuk tanda lahir gw.
Gw takjub, dan sulit mengeluarkan kata-kata. Dia mengetahui sejarah hidup gw, padahal gw ga pernah bercerita tentang hal ini sama orang lain. Apalagi sama Tante Lisa yang baru gw kenal dalam rombongan tour ini.
“Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja kok.” Sahut Tante Lisa.
“Terus apa yag harus saya lakukan, tante?” Tanya gw, meminta saran.
“Jalani saja hidup, sesuai panggilan jiwa kamu...” Jawab Tante Lisa sambil tersenyum menyimpan misteri.
“Farrel, Tante melihat kamu punya gift, semacam anugerah untuk melihat kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa depan.” Sambung Tante Lisa.
“Hmmmhh maksudnya bisa meramal, Tante?” tanya gw.
“Iya, kamu sering punya firasat tentang sesuatu yang akan terjadi kan? itulah bakat kamu. tapi kemampuan itu harus diasah, agar menemukan ketajamannya.” Tante Lisa menjelaskan.
“Kalo mau tau lebih banyak datang saja ke tempat tante.” Kemudian Tante Lisa memberikan selembar kartu nama.
Kartu nama itu masih gw, simpan. Tapi sampai sekarang gw ga pernah menemui Tante Lisa. Gw sendiri merasa takut, karena menurut agama yang gw anut: ramal adalah dosa besar, bahkan dosa itu mengikat sampai keturunan ke tujuh.

Meskipun gw ga peduli, namun gift meramal itu ga hilang begitu saja dari diri gw. Gw berkali-kali meramal teman-teman gw tentang yang bakal terjadi di hidupnya, dan semuanya tepat! Seringkali gw jg kaget dengan apa yang telah gw lakukan.

Suatu kali gw berkenalan dengan seorang perempuan, sebut saja namanya Merry. di mobil kami ngobrol basa-basi. Sampai ke titik dia bercerita tentang keluarganya.
“Sekarang gw hanya tinggal sama Mami dan Papi, kakak gw yang paling gede udah nikah dan tinggal di Jakarta....”
“Robert?” gw memotong pembicaraan Merry. Wajah Merry memancarkan keheranan.
“Tau dari mana kakak paling gede gw namanya Robert?” tanyanya.
“Ga ngerti, gw iseng aja asal sebut he he he...” Kata gw sambil tersenyum.
“Ah loe bohong, pasti loe bisa baca pikiran gw. kita kan baru kenal?” Merry penasaran.
“Hmmhhmm... coba siapa nama kakak gw yang kedua?” Merry bertanya.
“Siapa ya?... Huruf awalnya ‘J’....” jawab gw. Mata Merry terbelalak.
“Truuuusss...?" Merry minta gw melanjutkan kaliamat gw yang menggantung.
“Huruf akhirnya ‘Y’.” Lanjut gw.
“Ayo dong lanjutin, jawab yang komplit.” Merry makin excited.
“Jeffry!!!” jawab gw mantap.
“Gila!!! Kok tepat banget sih?” Merry terhenyak.

Gw sendiri sering merasa takjub dengan apa yang telah gw ucapkan, semuanya bener-bener diluar kendali otak gw. Namun satu hal yang pasti, gw ga bisa dipaksakan untuk meramal, semuanya harus terjadi begitu saja (semacam menunggu ilham yang melintas). Mungkin karena gw tidak serius melatih ketajamannya. Jadi semuanya harus terjadi secara natural.

Gw pernah mencoba belajar sendiri seni meramal dengan kartu tarot. Gw sengaja membeli buku-buku tarot sebagai referensi, dan tentu saja gw juga memiliki beberapa set kartu tarot. Tapi bagaimanapun juga gw merasa kalo melalui kartu tarot ramalannya masih terasa samar-samar, beda kalo gw meramal dengan berdasarkan ilham yang melintas. Semuanya lebih terang dan jelas. Dulu, kalo mood meramal gw lagi bagus, gw kadang-kadang suka iseng chatting di MIRC, dengan nickname bdg-fortune-teller, untuk meramal binan yang lagi chatting he he he...

Gw seringkali bisa ngeramalin nasib orang lain, tapi anehnya gw ga bisa membaca nasib gw sendiri. Gw ga bisa tau apa yang akan terjadi di kehidupan gw, huh menyebalkan he he he... Tapi gw malah menikmatinya, karena setiap hari adalah misteri buat gw.

Sampai saat ini gw masih ga ngerti adanya keterkaitan antara gw, Ivan dan bakat meramal gw. Tapi yang terpenting, gw mensyukuri kehadiran gw di dunia ini yang pernah menjadi penyembuh luka bathin mama gw tersayang. I love you Mom... I love you Ivan...

Conclusions:
Kita harus belajar mensyukuri keadaan diri kita apa adanya. Karena dengan bersyukur artinya kita telah belajar ikhlas menerima takdir pemberian Yang Maha Kuasa.

Minggu, 25 Juli 2010

Sakit Hati Berbuah Penemuan Jati Diri

Sembilan tahun yang lalu... yup! sembilan tahun yang lalu!!! Masih tergambar jelas di benak gw... sebelum sembilan tahun yang lalu...di gereja gw termasuk aktivis yang dihormati dan dekat dengan aktivis-aktivis lainnya. Sebagai senior gw juga ga menjaga jarak dengan junior. Maka ga heran kalo gw bisa dekat dan akrab dengan generasi-generasi yang jauh dibawah gw. generasi demi generasi datang dan berlalu... sampai akhirnya datanglah satu generasi. Generasi terakhir aktivis gereja yang dekat dan mengisi hidup gw.

Setelah gw sukses menjadi ketua umum panitia natal, yang cukup besar-besaran dan menghabiskan dana yang tidak sedikit (sebelumnya ga pernah ada terobosan semacam ini di gereja gw). Sabtu pagi, di Bulan Januari tahun 2000, datanglah 5 orang anak laki-laki baru gede usia 15-16 tahunan ke rumah gw. Mereka tergabung dalam sebuah kelompok band. Mereka meminta gw membimbing dan menjadi manajer band mereka. Karena gw juga menyukai dunia musik, gw pun setuju. Even sebenernya ini proyek yang tidak menghasilkan uang, malah gw yang sering nombokin kekurangan budget mereka.

Semua jadwal latihan gw susun, disesuaikan dengan kegiatan dan kesibukan setiap personilnya. Untuk meningkatkan tekhnik bermusik, gw mewajibkan tiap personil untuk mengambil les musik. Pemain bass, drum, dan gitar berasal dari keluarga menengah sehingga tidak ada kendala mengambil kursus di tempat les musik terkenal. Sedangkan vokalis dan pemain keyboard berasal dari keluarga pas-pasan. Gw ga mau memberatkan mereka. Untuk pemain keyboard, gw meminta sahabat gw untuk memberi les privat gratisan, sedangkan untuk vokalis gw sendiri yang memberikan bimbingan tekhnik vokal.

Gw secara langsung membimbing dan memantau setiap kegiatan mereka. Mulai dari latihan, mengikuti festival, rekaman demo, sampai dengan kegiatan manggung (di acara pensi, di cafe, di kampus-kampus, acara wedding, termasuk bikin konser kecil-kecilan dll.).

Bersama berjalannya waktu, gw makin dekat dengan personil grup band ini, terutama sang keyboardis, sebut saja namanya Rio dan sang vokalis, sebut saja namanya Oscar. Mereka tak segan-segan berkeluh kesah tentang masalah pribadi mereka kepada gw.

Sejak bayi Rio hanya dirawat dan dibesarkan oleh neneknya, kedua orangtuanya bercerai ketika dia masih dalam kandungan. Kedua orangtua kandung Rio memilih untuk menikah lagi dan hidup bahagia dengan keluarga barunya. Tak heran kalo Rio menyimpan luka dan sakit hati kepada kedua orangtuanya, karena merasa telah dibuang dan disia-siakan. Seumur hidupnya Rio tidak pernah bertemu dengan ibunya. Kalo ayahnya masih suka sesekali datang ke rumahnya.
Gw berinisiatif mempertemukan Rio dengan ibunya. Perjuangan yang panjang dan penelusuran jejak, akhirnya membuahkan hasil alamat lengkap rumah sang ibu. Gw mengantarkan sendiri Rio ke rumah ibunya. Jarak yang jauh dengan beberapa kali naik angkutan umum tak menyurutkan langkah Rio untuk menemui ibunya. Namun apa mau dikata, bukan pertemuan penuh haru dan derai air mata bahagia yang terjadi. Tapi Rio hanya mendapat sambutan datar dan dingin dari sang ibu. Diruang tamu yang berantakan dengan sofa usang gw menjadi saksi hidup pertemuan Rio dan ibunya.
“Kenapa ga telpon dulu kalo kamu mau datang kesini?! Kalo papinya Roy tau kamu kesini, Mama bisa berabe!! Bisa jadi masalah besar, tau!!! Apa lagi keuangan keluarga mama lagi morat-marit gini!!!” Sahut ibunya.
“Oohh... maaf Ma, kalo kedatangan Rio sudah mengganggu... ” Nada suara Rio tergetar menahan sesak di dada.
"Gpp sih, tapi kamu harus ngerti. Sekarang Mama sudah punya keluarga baru. Jadi Mama ga bisa seenaknya bertindak semau Mama, Rio.” Lanjut ibunya.
“Ya, udah Ma, Rio pamit pulang aja...” Rio berusaha mengendalikan emosinya.
“Maaf ya Rio, Mama ga bisa ngasih kamu uang.”
“Mama! Rio kesini bukan mau minta uang..!! Rio Cuma pengen ketemu sama Mama...” Kata Rio mempertegas setiap kata yang dia ucapkan.
“Kak Farrel, kita pulang aja...” lanjutnya, mengajak gw segera beranjak dari tempat itu.
Pertemuan sesaat, yang tak sampai memakan waktu 15 menit itu, hambar, suram dan hampa... Menorehkan luka yang semakin dalam di bathin Rio.

Tanpa ada segelas air sebagai suguhan, tanpa ada tangis haru, bahkan tanpa senyuman ramah seorang ibu menyambut anaknya yang sudah belasan tahun tak pernah bertemu...
Disana kami hanya mendapatkan senyuman dan sapa ramah seorang gadis idiot, adik tiri Rio. Terbuat dari apakah hati ibunya Rio? Bahkan rasa rindu anak yang keluar dari rahimnya pun tak mampu meluluhkan hatinya...

Oscar juga berasal dari keluarga yang tak kalah berantakan. Bapak dan ibunya sering kawin cerai. Berkali-kali mereka telah kawin cerai dengan orang yang berbeda-beda. Oscar dibesarkan oleh ibunya yang telah menikah lagi. Oscar mempunyai 1 orang kakak laki-laki lain bapak, dan 4 adik lain bapak juga. Sang bapak tiri yang masih terikat pernikahan dengan istri tuanya, menambah panjang daftar kerumitan masalah keluarganya.
Bapaknya Oscar memiliki masalah yang tak kalah rumit. 3 kali kawin cerai dan berakali-kali terlibat intrik-intrik perelingkuhan menambah kelamnya riwayat hidup sang bapak.

Kedekatan Rio, Oscar dan gw terjadi begitu saja. Mereka yang kehilangan figur orang tua, merasa telah menemukan figur itu didalam diri gw. Perbedaan umur 10 tahun antara gw dan mereka, bukan penghalang untuk membuat kami saling dekat. Gw bisa jadi sahabat, kakak, guru, bahkan jadi ayah buat mereka. Jujur, gw peduli dan sayang sama Rio dan Oscar hanya sebagai kakak. Tanpa maksud dan niat buruk sedikitpun. Tidak ada bumbu-bumbu nafsu kotor yang menodai hubungan gw dan mereka. Walaupun mereka sering menginap dan tidur disamping gw, tak pernah sekali pun gw menyentuh dan memperdaya mereka.

Gw memang sudah lama sadar kalo gw merasa lebih tertarik dengan fisik sosok laki-laki. Tapi gw belum mengerti dan belum berani terjun ke dunia gay. Namun perasaan suka terhadap sesama jenis itu tak pernah sedikitpun gw lampiaskan kepada Rio dan Oscar. Sekali lagi gw menegaskan hubungan gw, Rio dan Oscar murni karena gw care sama mereka. Tak lebih!!

Hubungan kami yang semakin dekat, menimbulkan fitnah. Mungkin karena perbedaan umur yang jauh dan status gw yang tidak memiliki istri ataupun pacar, membuat salah satu tantenya Rio berpikiran negatif. Rossa, tantenya Rio sering menginterogasi Rio dan Oscar. Dia menyuruh Rio dan Oscar menjauh dari gw. Berkali-kali Rossa mengingatkan agar Rio dan Oscar tidak usah berhubungan lagi dengan gw. Berkali-kali juga Rossa mengintimidasi Rio dan Oscar, seakan-akan gw sosok srigala homo yang siap melahap mereka. Masalah ini memang tidak mencuat keluar. Dengan terang-terangan Rio dan Oscar membela gw.

“Kak Farrel, maaf ya kalo kami jadi membebani Kakak dengan masalah baru. Tante Rossa emang gitu, suka curigaan dan parno sendiri. Tenanglah Kak, Rio jauh lebih percaya sama Kakak daripada Tante Rossa. Rio yakin Kakak orang yang sangat baik dan ga mungkin mencelakakan kami”. Kata Rio meyakinkan gw. Gw hanya tersenyum pahit.
“Bener Kak, Oscar juga sangat percaya sama Kakak! Kami sangat sayang sama Kakak!” tambah Oscar membangun kembali kepercayaan diri gw, yang sempat diobrak-abrik kecurigaan Rossa.
Lalu meraka memeluk gw, sebuah pelukan sayang kepada kakaknya.
“Trust me! Kakak janji, ga akan menyia-nyiakan kepercayaan kalian berdua”.

Masalah gw dengan Rio dan Oscar memang selesai, tapi berbuntut rasa sakit hati yang masih lekat dan tertinggal di benak gw, dicurigai homo oleh Rossa. Padahal sudah 25 tahun gw menyimpan rasa itu. 25 tahun gw menahan diri tidak jatuh kedalam kelamnya dosa homoseksual. 25 tahun pula gw menjaga kesucian jiwa dan raga gw dengan menjadi orang yang relijius. Jujur, kerelijiusan gw itu bukanlah sebagai topeng, tapi sebuah sublimasi agar gw fokus dan tidak memikirkan keinginan nafsu ragawi gw.

Gw sedih dan kecewa. Ternyata perjuangan gw selama ini sia-sia. Gw menyerah. Gw hanya ingin lebih meyakinkan diri gw. Apakah gw ini gay atau bukan? Boleh percaya atau tidak, gw baru menonton blue film hetero juga setelah gw berumur 25 tahun.

Tahun 2001, warnet marak bermunculan. Gw mulai sering surfing dan browsing mencari informasi tentang dunia gay. Lewat searching di altavista dan hotbot (waktu itu gw belum tahu google). Gw akhirnya menemukan situs pertemanan gay: www.gayaddress.com dan www.guystats.com. Di situ-situs itulah gw mulai berkenalan dengan sesama gay, dan merasakan pengalaman untuk pertama kalinya berhubungan seks. Lalu dari kenalan-kenalan gay itulah, gw jadi tahu channel G*M di mirc, yang semakin lebar membuka mata gw tentang dunia gay.

Itulah kisah bagaimana gw menemukan jati diri dan mulai terjun ke dunia gay. Sejak itu gw semakin yakin kalo inilah pilihan hidup gw. Usia 25 tahun, mungkin termasuk usia yang sangat terlambat untuk meletek. Tapi gw belajar cepat, dan gw tancap gas mengejar semua ketertinggalan gw. I love my gay world!!!

Conclusions:
Langkah awal memang penting, tapi langkah akhirlah yang menentukan. Nikmatilah setiap langkah demi langkah hidup kita, temukan jati diri, dan jangan ada penyesalan.

Selasa, 06 Juli 2010

Kevin

Masih ingat sosok cameo yang muncul dalam episode ‘Kencan Ganda Di NAV Dago Plaza’? gw pernah janji mau menceritakan tentang dia secara khusus dalam satu postingan. And the story goes...

Kevin adalah salah satu high quality brondonk yang pernah mengisi hidup gw. Kevin seorang brondonk keturunan manado yang tumbuh dan besar di kota P. Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, badannya slim, dengan wajah tampan. Namun yang selalu gw ingat adalah senyum ramahnya.

Even dia sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk, tapi dia juga seorang yang sangat menikmati hidup. Dia tergila-gila maen game online, dia bisa menghabiskan waktu semalaman di tempat game online untuk memuaskan hobby nya. Kevin juga suka banget ke timezone, tujuannya cuma satu: berjingkrak-jingkrat diatas dance pad main dance dance revolution alias DDR.

Seminggu setelah pertemuan tidak sengaja antara gw dan Kevin di Dago Plaza, kami janjian untuk ketemuan. Sekitar pukul 23.00 malam gw menjemput Kevin di sebuah tempat game online, di daerah Dipatiukur. Setelah gw telepon memberi tahu kalo gw sudah ada di tempat sesuai dengan janjian. Kevin muncul dari bangunan lantai 2 tempat game online dengan senyum yang mengembang. Dia segera turun menghampiri gw.
“Apa kabar Kak? Akhirnya ketemuan juga ya...” sahutnya, sambil tersenyum.
“Baek.” Jawab gw singkat.
“Kita mau kemana neh?” lanjut gw.
“Kak, kita makan aja yuk!” Kevin mengajukan usul.
“Emang kamu pengen makan apa?” Tanya gw.
“Makan siomay malam-malam gini enak kali ya... Tapi kayanya yang jualannya udah pada ga ada...” Gumam Kevin.
“Kayanya di daerah Cibadak atau Gardujati masih ada dech” kata gw mantap.
“Beneran neh Kak?” Tanya Kevin bersemangat.
“Ya udah kita coba cari aja” sahut gw.

Lalu kami meluncur ke daerah Gardujati, emang bener sesuai denga perkiraan gw. Di sana masih ada yang berjualan siomay. Gardujadi memang salah satu spot tempat wisata kuliner malam hari di Bandung.
Sambil menikmati kelezatan siomay, kami pun larut dalam obrolan tentang kegiatan kami masing-masing.
“Kamu mau makan ronde jahe ga?” Tanya gw.
“Apaan tuh?” Tanya Kevin.
“Bola-bola dari ketan berwarna warni, yang dalamnya diisi racikan kacang tanah dan gula merah, disiram air campuran gula dan jahe. Enak lho buat ngangetin badan”. Jawab gw berpromosi.
“wah mau, mau, mau...” jawabnya bersemangat.
Kami pun akhirnya memesan ronde jahe untuk dibawa ke kostan Kevin.

Tiba di kostan, kami melanjutkan obrolan sambil makan ronde jahe. Setelah ngobrol ngalor ngidul, gw pamit pulang coz jam sudah menunjukkan pukul 01.10.
“Kevin kakak pulang ya, udah terlalu malam neh” pamit gw.
“Ya... kok pulang...?” sahut Kevin sambil memegang tangan gw menahan kepergian gw.
“Trus mau ngapain lagi? he he he..” Tanya gw, sambil melempar senyum.
Secara perlahan namun pasti di menarik tangan gw, lalu dia memeluk tubuh gw, melumat bibir gw dan.... (selanjutnya pasti tau kan? he he he).
Malam itu gw dan Kevin bergumul dalam panasnya gelora nafsu. Kemudian gw pulang dengan perasaan puas diiring senyuman termanis Kevin.
Setelah malam itu, pertemuan gw dan Kevin terjadi lagi dan lagi. Gw dan Kevin sangat menikmat pertemuan demi pertemuan kami.

Karena kesibukan kuliahnya yang sangat padat untuk meraih gelar dokter, ditambah lagi jadwal pekerjaannya di rumah sakit, membuat gw dan Kevin jarang ketemu. Hampir satu tahun berlalu gw dan Kevin ga pernah ketemu lagi. komunikasi yang terjalin tinggal via chat di YM, sms, atau sesekali telpon.

Pertengahan bulan Mei 2010, ada sms dari Kevin masuk ke hp gw:
Inbox: “Kak bisa ketemu sekarang ga? Lagi bete uy”
Outbox: “Ah kamu, giliran bete baru dech nyari aku he he he...”
Indox: ”Sebenernya sih aku lagi kangen sama kakak... mau ga kak?”
Outbox: “ ya udah sekarang aku kesitu”.

Setelah gw dapat informasi tentang alamat tempat kost baru Kevin, gw meluncur kesana dengan sepeda motor gw.

Tempat kost baru Kevin jauh lebih nyaman dari pada tempat kost yang sebelumnya. Kamarnya cukup luas dengan furniture bergaya minimalis. Buku-buku text kedokteran tertata rapi di rak kayu. Mata gw melihat hardcase sebuah biola tergeletak di lantai.
“Kamu bisa main biola juga?” Tanya gw. Setahu gw Kevin memang sangat menyukai seni musik. Dia tergabung dalam sebuah choir dan dia juga mahir memainkan tuts-tuts piano.
“Lumayan Kak, aku lagi mencoba ikutan audisi jadi anggota orkestra neh. Doain berhasil ya”. Jawab Kevin sambil menyunggingkan senyum manis.
“Kevin... Kevin... kamu ini udah sibuk kuliah, kerja, paduan suara, aktif main musik di gereja, eh mau ikutan orkestra pula? Apa ga takut kecapean? Ingat kondisi tubuh kamu lho...” gw mengingatkan. Coz pernah beberapa kali gw ditelpon Kevin malam-malam waktu kondisi badannya ngedrop.
“Gpp Kak, aku pasti bisa bagi waktu kok he he he...”. Sahut Kevin sambil mengerling nakal.

Kevin selain tampan, dia juga anak yang cerdas. Gelar S1 kedokteran telah diraihnya dalam waktu lumayan singkat. Ga akan mengherankan juga kalo dia akan bisa meraih gelar doker di usianya yang masih belia. Mungkin otak cerdas Kevin diturunkan dari kedua orangtuanya. Maklumlah, Papi dan Mami Kevin profesinya dokter juga.

Gw merebahkan tubuh gw di sebelah Kevin. Lalu gw memeluk tubuh Kevin dari belakang. Mata Kevin terpejam, nyaman dalam kehangatan pelukan gw. Udara Bandung malam itu sangat dingin, tapi ruangan tempat gw dan Kevin berubah menjadi hangat, bahkan membara!! terbakar percikan api permainan panas kami. Malam itu tubuh telanjang kami basah dan mengkilat dipenuhi bulir-bulir keringat. Kevin yang sekarang jauh lebih pandai bercinta dan bisa mengimbangi permainan gw. Gw tahu, Kevin dan gw bercinta menggunakan ‘rasa’ hingga menghasilkan sensasi yang luar biasa...
Gw tahu, kami sedang bermain api, bahkan berkali-kali. Tapi tak ada penyesalan, sekalipun kami harus hangus terbakar oleh gelora asmara.

Kevin memang beda, beberapa kali gw ketemuan dengan dokter atau calon dokter, dan gw berkesimpulan kalo kebanyakan dokter (dan calon dokter) yang gw temui rata-rata tidak pandai bercinta. Entah kenapa, mungkin karena dokter adalah orang yang ‘pintar’ jadi melakukannya lebih didasari teori dan logika, bukan dengan ‘rasa’... huft!! Jangan protes ya, ini bukan harga mati kok. Diluar sana gw yakin masih banyak dokter-dokter yang pandai bercinta he he he...

Conclusions:

Ada saatnya mengedepankan ‘logika’, ada saatnya pula menggunakan ‘rasa’. Ibarat makanan yang disajikan sempurna dan dengan garnish yang menggiurkan, ga akan berarti apa-apa kalo tidak memiliki rasa.

Sabtu, 19 Juni 2010

Ketulusan Hati Mama

Jika ada orang yang bertanya, siapakah orang terpenting dalam hidup gw. Gw akan langsung menjawab dengan mantap: Mama!! Mama gw adalah sosok perempuan sederhana, tabah, berhati lembut, tapi tegar. Masalah demi masalah dihadapinya dengan keikhlasan dan keteguhan hati. Di usianya yg sudah beranjak senja, masih tergores sisa-sisa kecantikan masa mudanya.

Mama berasal dari keluarga menengah di kota S di Jawa Barat. Terlahir sebagai anak bungsu dari 9 bersaudara. Di usianya yang belum genap 2 tahun, ibunya (nenek gw) meninggal dunia. Sepeninggal ibunya, Mama dibesarkan oleh bapak bersama ibu tirinya. Dari istri barunya, kakek gw tidak mendapat keturunan, maka tidak heran kalo nenek tiri gw sangat menyayangi mama gw.

Menginjak usia 8 tahun mama diadopsi oleh keluarga Belanda yang tinggal di sebuah rumah di Jl. Menado, Bandung. Pasangan bule Meneeer & Mefrou Hengky sangat menyayangi mama gw. Dari didikan orangtua angkatnya, mama tumbuh menjadi sosok perempuan yang mandiri.
Menginjak usia 14 tahun, kedua orangtua angkat mama, harus meninggalkan Indonesia dan kembali ke negeri leluhurnya. Mama tidak ikut dibawa ke Belanda, karena keluarga dan kerabat tidak mengijinkan mama diboyong ke negeri kincir angin itu.

Akhirnya mama tinggal dengan kakak perempuan tertuanya di Bandung. Mama bertugas mengasuh keponakan-keponakannya, yang jumlahnya banyak sekali (kakaknya mama hampir tiap tahun melahirkan, bahkan ada anaknya yang lahir di tahun yang sama). Usia antara mama dan keponakan yang tertua, hanya terpaut beberapa tahun, maka tak heran sering terjadi konflik dan pertengkaran khas anak-anak. Apapun masalahnya: benar atau salah, berujung dengan mama yang harus mengalah.

Setiap harinya mama melakukan perkerjaan rumah tangga dan merawat keponakan-keponakannya. Hal itu dilakukan selama bertahun-tahun.

Mama menikah dengan seorang pemuda, teman sekelasnya waktu sekolah. Dari pernikahannya lahirlah kakak laki-laki pertama gw, Max. Kemudian disusul kelahiran 2 bayi kembar perempuan, yang sayang umurnya tidak bertahan lama. Berikutnya mama melahirkan seorang anak laki-laki, namanya Ivan, mama sangat menyayangi dia, tapi Ivan pun harus meninggal di usianya yang baru menginjak 1 tahun 7 bulan. Konon wajah Ivan mirip banget dengan gw (nanti akan gw ceritakan secara khusus, kisah kemiripian antara Ivan dan gw).

Keterpurukan ekonomi yang berimbas pada bangkrutnya perusahaan tempat papa bekerja. PHK besar-besaran terjadi, dan papa adalah salah satu korbannya. Keluarga kecil yang awalnya hidup sederhana makin terjepit krisis. Kemiskinan dan masalah keuangan yang tak kunjung usai membuat mama nekad kembali ke kota asalnya S, meninggalkan papa. Mama pergi membawa Max, padahal dia tengah berbadan dua. Papa menyusulnya beberapa bulan kemudian, setelah anak perempuannya lahir.

Mereka pun menetap di kota S, dan tinggal di rumah almarhum orang tuanya, yang sudah dikuasai dan ditempati oleh keluarga kakak perempuan kedua mama, sebut saja namanya Tante Anna.
Setiap harinya mama dan papa bekerja membantu keluarga Tante Anna membuat kue-kue dan makanan lainnya untuk dijual. Banyak sekali jenis kue yang dibuat dari subuh sampai sore. Sore hari bukan berarti pekerjaan itu selesai, karena sore hari sampai larut malam, papa dan mama harus bekerja lagi berjualan martabak di alun-alun kota S. Bertahun-tahun mama bertahan, membanting tulang memeras tenaga.

Sudah tak terhitung lagi seberapa banyak cucuran keringat dan air mata yang tertumpah. Menyedihkan sekali, kerja keras mama dan papa hanya dihargai oleh 2 piring nasi sehari. Jangankan gaji, uang sakupun tak pernah ada. Bener-bener jadi jongos gratisan!! Sampai meninggalpun papah masih menyimpan rasa kecewa dan sakit hati itu. Lain halnya dengan mama gw, dia dengan ikhlas menerima semua itu sebagai jalan hidup yang sudah digariskan Tuhan.

Tante Anna ternyata tidak sekedar licik, tapi juga serakah. Rumah dan tanah warisan peninggalan kakek-nenek gw juga dijualnya tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya. Uangnya dia kuasai, saudara-saudaranya yang lain sekalipun pembagiannya tidak rata tapi masih mendapat bagian. Tapi mama gw tak pernah mendapatkan sepeserpun apa yang seharusnya menjadi haknya, karena sudah di telan bulat-bulat oleh saudara kandungnya sendiri. Tapi sekali lagi mama tetap ikhlas.

Papa dan mama sepakat meninggalkan kota S dan kembali ke rumah, di daerah Bandung Selatan. Selepas dari Kota S, mama mencoba berjualan makanan dan papa bekerja di adik iparnya, Om Budiman. Setiap harinya papa bekerja melelehkan dan mencetak lilin. Ribuan bahkan mungkin jutaan batang lilin telah dia hasilkan. Tapi selama berbulan-bulan itu papa tidak pernah mendapat gaji. Sekali lagi papa diperas tenaganya dan dimanfaatkan orang. Yang lebih menyakitkan adalah karena orang-orang licik itu adalah saudaranya sendiri, yang seharusnya memberi pertolongan.

Sampai suatu hari ketika persediaan beras dirumah habis. Papa menyuruh mama untuk meminjam beras ke rumah adiknya, karena papa tahu kalo adiknya baru saja membeli sekarung beras. Tapi sesampainya mama di rumah Om dan Tante Budiman, bukannya pinjaman beras yang didapat tapi hanya hinaan dan kata-kata yang merendahkan. Mama pulang dengan rasa sesak didada menahan tangis. Sesampai di rumah, mama tak kuasa menahan air matanya menetes. Mulai saat itu papa bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah adiknya lagi.

Akhirnya papa mendapatkan pekerjaan lagi, dan secara berangsur-angsur keadaan ekonomi keluarga membaik. Kemudian lahirlah gw dan beberapa tahun kemudian disusul dengan kelahiran adik perempuan gw. Bertahun-tahun papa bekerja keras dan membuahkan hasil. Keadaan sebaliknya terjadi pada keluarga adik perempuan papa. Om Budiman bangkrut. Rumah dan semua harta bendanya ludes akibat kegemarannya berjudi. Berkali-kali papa memberi modal tapi tak pernah membuahkan hasil. Akhirnya papa dan mama menyuruh keluarga Om Budiman untuk numpang di rumah kami. Keluarga kami yang tadinya beranggotakan 6 orang (2 orangtua dan 4 anak), kini harus berbagi tempat dengan 7 orang lagi (Om dan Tante Budiman berama 5 anaknya). Ruang keluarga kalo malam tiba berubah fungsi jadi tempat tidur mereka. Lebih dari 5 tahun keluarga Om Budiman menumpang di rumah kecil kami. Tapi yang membuat gw geram, Om Budiman sehari-hari kerjanya cuma makan dan tidur (pengangguran seumur hidup, bahkan sampai dia meninggal!!!). Malah dia sering menyebalkan karena suka menyuruh-nyuruh gw untuk membeli rokok, memijit badannya dan pekerjaan lainnya yang seharusnya dia kerjakan sendiri. Privacy keluarga kami makin terasa terganggu, kami sering merasa ga enak hati.

Papa kemudian menyewakan rumah buat keluarga adiknya dan mensupport uang bulanan, hingga anak-anak keluarga Om Budiman punya pekerjaan. Dengan mata dan kepala gw sendiri, gw melihat kemurnian hati mama. Dia masih mau menolong keluarga Budiman yang dulu pernah mendzoliminya. Demikian juga terhadap keluarga Tante Anna, mama tak pernah menyimpan dendam. Gw sampai heran, terbuat dari apakah hati mama? Hatinya terlalu murni, bahkan jika dibandingkan dengan emas sekalipun. Ketulusannya telah teruji oleh sang waktu.

Sekarang sepeninggal papa dan semua anak-anaknya dewasa. Tak ada yang berubah dari mama. Dia tetap menyayangi kami, seperti dia menyayangi kami sewaktu kecil. Dia tidak pernah menuntut apa-apa. Dia tidak pernah meminta, yang ada di kamusnya hanya ada kata ‘memberi’. Memberikan cintanya setulus hati. Bahkan dia tidak pernah menyinggung-nyinggung soal kapan gw akan berumah tangga (saudara kandung gw semuanya sudah menikah).

Gw sangat yakin, sekalipun dia tahu keadaan gw yang sebenarnya, dia masih bisa dan mau menerima gw apa adanya. Tapi gw ga sanggup melihat hati mama terluka. Gw ga mau menorehkan luka di jiwanya... Gw hanya ingin membiarkan masalah ini hilang ditelan zaman dan berlalu ditelan waktu. I love you Mom!!!

Conclusions:

Ketulusan hati mungkin tidak selalu membuahkan penghormatan dari manusia. Tapi percayalah: ketulusan hati dapat memberi ketenangan dan kedamaian buat jiwa kita.

Senin, 07 Juni 2010

Pokis

Sebagian besar gay, punya interest lebih (bahkan banyak yang terobsesi) terhadap seseorang yang profesinya laki banget. Seseorang yang bergelut dengan pekerjaan yang menunjukkan kejantanan, dan dianggap punya something special dibandingkan cowok-cowok gay kebanyakan. Profesi yang sering jadi incaran itu diantaranya adalah: tentara, polisi dan satpam. Mungkin orang-orang berprofesi seperti yang gw sebutin diatas, dianggap lebih macho, bisa melindungi dan memberikan rasa aman.

Gw pernah chat dengan seseorang, sebut saja namanya Ghandi, umurnya 27 tahun. Dia sangat susah untuk memperlihatkan pic-nya. Seperti biasanya gw juga ga mau kalo harus duluan memperlihatkan pic gw. Ujung-ujungnya chat waktu itu diakhiri dengan ketidakjelasan.

Tapi gw sempat saling tuker no hp sama dia. Yang bikin gw jengkel, dia sering sms dengan nada memerintah seakan-akan dia yang berkuasa, contohnya:
Inbox: “loe sekarang ke tempat gw!!!” tanpa nanya gw bisa atau ga terlebih dahulu.
Smsnya gw cuex-in. Trus dia sms lagi.
Inbox: “cepetan loe kesini. Gw sudah sange!!” huh apa urusannya sama gw?
Inbox: “Jangan suka jual mahallah sama gw!!

Dan sms-sms beruntun lainnya yang masih dengan nada memerintah seorang boss kepada bawahannya. Gw ga terlalu menanggapi. Gw ga suka tipikal orang yang merasa superior.
Minggu depannya gw ketemu online lagi dengan Ghandi, malam itu akhirnya dia menyerah dan bilang tentang profesinya:
Ghandi : “Gw pokis...”
Gw : “Apaan tuh pokis?”
Ghandi: “Gw polisi”
Gw : “So... what?”
Ghandi : “Ya malu aja, masa seorang aparat kepolisian homo...”
Gw : “Ah loe ada-ada aja. Polisi itu kan cuma profesi dan homo itu soal orientasi sex. Jadi ga ada hubungannya dong? So, kenapa harus malu?” jawab gw datar.


Mungkin terhasut omongan gw, akhirnya dia memperlihatkan picnya tapi dengan catatan: dia wanti-wanti gw harus bisa menjaga rahasia (aduh gitu aja kok repot he he he...). Mungkin karena Ghandi berprofesi sebagai polisi dan terikat dengan korps-nya. Makanya dia sangat berhati-hati pikir gw dalam hati. Tapi malam itu acara ketemuan kami tertunda lagi.

Gw bingung, antara pengen nyoba sama polisi (salah satu profesi yang jadi incaran banyak kaum gay) dan segan, coz Ghandi sekalipun tampan tapi ga masuk kriteria gw (dia bukan brondonk lagi he he he...).
Beberapa hari kemudian gw chat lagi sama dia dan kami sepakat untuk ketemu malam itu. Gw diminta menemui dia di asrama polisi. Gila! It’s real gw harus masuk ke lingkungan yang sebelumnya ga pernah terpikirkan sama gw.

Malam itu jam baru menunjukkan angka 21.09 pada jam digital yang melingkari tangan gw. Diiringi rintik hujan gw memasuki area asrama kepolisian di Jl. N**s. Ga seperti dalam bayangan gw tentang sebuah asrama, apalagi ini asrama polisi sebagai abdi negara. Ternyata tempatnya suram dan kumuh. Belasan tikus-tikus got yang nampak montok (qi qi qi...) berseliweran di sepanjang lorong yang gw lalui. Lorong itu hanya diterangi oleh lampu-lampu temaram ala kadarnya. Lalu gw mengetuk sebuah pintu tripleks, pintu yang menurut gw terlalu rendah, sehingga orang yang masuk melalui pintu itu harus sedikit menundukkan kepalanya kalo tidak mau benjol kejedot kusen he he he... pintu yang rendah itu mungkin diakibatkan renovasi peninggian ubin berkali-kali. Malam itu membuka mata gw, ternyata pengabdian aparat polisi tidak berbanding lurus dengan fasilitas yang dia dapatkan. Mungkin itulah yang membuat banyak aparat menjadi gelap mata menghalalkan segala cara untuk memperoleh ‘kesejahteraan lebih’.

Ghandi membukakan pintu sambil tersenyum dan mempersilakan gw masuk. Ghandi seorang pemuda sunda berkulit kuning dengan kumis tipisnya. Kumisnya mirip kumis perancang busana terkenal, yang teuteup ngondeeeek sekalipun piara kumis hueeekkksss!!! he he he...

Pemandangan di dalam ternyata tidak seseram di luar. Lumayan bersih dan terawat walau kecil dan sederhana. Ruangan berlantai keramik hijau itu diisi benda-benda elektronik standard (tv, dvd player, kipas angin dll... ) tanpa ada kursi untuk duduk.
Lalu gw dan Ghandi larut dalam obrolan ngalor-ngidul ga jelas, obrolan ga penting khas orang-orang yang lagi ketemuan he he he...

Dari obrolannya baru gw tau ternyata dia jadi polisi, bukan karena keinginannya, tapi karena dorongan dan tekanan bapak dan kakak-kakaknya, yang semuanya berprofesi sebagai polisi. Secara psikologis dia pasti tertekan, mengalami dilema dan rapuh (karena harus menjalani 2 kehidupan yang berbeda).

Dibalik profesinya yang keras ternyata dia seorang lelaki manja (tapi tidak ngondek wkwkwk...). Dia merasa nyaman dalam pelukan gw. Malam itu gw lah yang pegang kendali, gw yang jadi superior. Ghandi pasrah menerima semua perlakuan gw (yang lagi balas dendam ) he he he... Ghandi tidak pandai bercinta dan staminanya juga dibawah rata-rata. Dia tumbang, jauh sebelum gw mencapai puncak. Malam itu selesai tanpa gw mengalami orgasme. Tapi gpp, yang penting gw sudah mencoba, even gw ga bisa menikmatinya. Kesimpulannya: buat gw brondonk is the best!!! he he he...

Soal profesi jantan lainnya, teman gw pernah cerita, dia pernah ketemuan dengan seorang tentara dan dibawa ke asrama seskoad di Bandung. Ternyata di kamarnya, tentara itu memiliki koleksi kosmetik dan bahan perawatan tubuh yang super duper lengkap!!! wuiiihhh suka dengdong ya pak? wkwkwkwk... Beberapa gw kali ketemu chat dengan tentara gay, tapi gw memutuskan untuk tidak ketemuan.
Kalo satpam gay? Banyak kale.!!!..he he he.. gw pernah beberapa kali chatting dengan satpam, bahkan ada satpam yang dengan terang-terangan memajang foto-foto seksiya (foto dan video bugil huft!) di sebuah situs gay.
Satpam gay... Polisi gay... Tentara gay... Apa kata dunia...!?! Dan dunia binan menjawab: SANTAI AJA KALEEEEEE... wkwkwkwk...

Conclusions:
Banyak sisi kehidupan yang terlewatkan oleh mata jasmani kita, hanya mata hati yang sanggup memahami kekosongan jiwa seseorang. Profesi ga menjamin soal kejantanan seseorang, dan profesi ga ada hubungannya sama sekali dengan masalah orientasi seksual. Di luar sana banyak banget bertebaran satpam, polisi bahkan tentara gay. So what gitu lho!!! he he he...