Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Mei 2013

Dosa Masa Lalu

Bulan Agustus, duabelas tahun yang lalu gw untuk pertamakalinya bertemu dengan Nathan dalam salah satu lomba yang gw buat di gereja. Nathan atau Nathanael menjadi salah seorang peserta lomba itu. Waktu itu umur Nathan baru menginjak 16 tahun, satu tahun lebih tua dari rata-rata umur teman-teman seangkatannya di kelas I SMA. Tentu saja gw tau segala informasi tentang Nathan itu dari formulir pendaftaran lomba.

Dari babak penyisihan hingga babak final, menghabiskan waktu 1 bulan lamanya karena lomba hanya dilangsungkan pada Hari Minggu saja. Waktu itu Nathan keluar sebagai juara ke-2, dan berhasil membawa pulang piala beserta sejumlah uang tabungan.

Sabtu pagi di bulan Januari, ada 6 orang pengurus dari departemen youth di gereja, berkunjung ke rumah gw. Maksudnya adalah berkonsultasi dengan gw sebagai salah satu mantan ketua youth (gw ketua youth dengan periode terlama sepanjang sejarah di gereja itu). Tamu-tamu muda itu terdiri dari 4 lelaki dan 2 perempuan. Dan salah satunya adalah... Nathan!!

Mulai dari pertemuan itulah gw makin jauh mengenal sosok Nathan. Dari urusan gereja berubah menjadi hubungan non formil. Nathan dan 3 teman lainnya jadi makin sering main ke rumah. Hubungan yang lumayan aneh sih, coz umur gw terpaut cukup jauh dengan mereka. Dari 4 orang brondonk itu, Satu orang yang sangat akrab dengan gw. Yaitu, Nathan.

Nathan berasal dari keluarga broken home ibu dan bapaknya sudah bercerai. Hal itu menyebabkan Nathan harus tinggal dengan ibu dan bapak tirinya, juga beberapa adik tirinya. Sementara bapaknya tinggal dengan isteri barunya. Padahal, sebelumnya juga Nathan sudah punya kakak-kakak tiri, baik dari perkawinan bapaknya maupun perkawinan ibunya yang terdahulu.

Kepribadian Nathan termasuk tenang tapi ramah. Percampuran darah Chinese dari bapaknya, dan Jawa dari ibunya membuat perpaduan unik. Warna kulit dan wajahnya memang lebih dominan ke Jawa, tapi tak mengurangi ketampanannya.

Makin lama keakraban makin terjalin antara gw dan Nathan. Melalui kegiatan ibadah bareng, olahraga bareng, ngeband bareng, ataupun hanya sekedar jalan-jalan di mall. Semua itu membuat hubungan gw dan Nathan seakan ga ada jarak lagi. Apapun bisa kami bicarakan, tanpa menyimpan rahasia. Gw sudah menganggap dia sebagai adik kesayangan gw. Perlakuan gw yang lebih mengistimewakan Nathan terkadang membuat teman-temannya yang lain merasa iri dan cemburu.

Kekurangan sosok figur ayah dalam hidupnya, membuatnya mencari sosok dewasa yang bisa mengisi kekosongan hatinya. Dan Nathan menemukannya dalam diri gw.

Nathan sangat sering menginap di rumah gw. Bermula karena pulang kemalaman, dan kemudian menjadi rutinitas tiap weekend dan hari-hari libur. Saat libur panjang sudah bisa dipastikan dia selalu ada di rumah gw, untuk menginap berhari-hari. Di rumah gw, Nathan sudah diterima seperti anggota keluarga gw sendiri.

Nathan adalah sosok yang tertutup kepada teman-temannya, dan kurang pede dalam pergaulan. Mungkin latar belakang dia yang berasal dari keluarga broken home, menjadikannya pribadi yang tertutup dan rendah diri. Gw sering menyemangati dia dan membesarkan hatinya, dengan mengatakan kalo setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan. Jadi dia pasti punya hal lain yang bisa dibanggakan (dia termasuk anak yang cerdas).

Tak terasa keakraban kami sudah berjalan dua tahunan. Saat itu dia sudah duduk di kelas III. O ya dia mengambil jurusan elektronika di salah satu SMK Negeri di Kota Bandung.

Suatu hari terjadi percakapan antara gw dan Nathan

Ko, Mama aku kan muslim. Jadi waktu SD aku disunat. Tapi teman-teman aku ga ada yang tau, aku ga pernah cerita. Aku malu karena beda sama mereka.” Tuturnya.

“Lho kok malu?” tanya gw.

“Kan orang Kristen pada ga disunat, Ko. Sementara aku disunat.” lanjutnya.

“Ga semua juga kali. Banyak kok orang Kristen yang disunat.” Jawab gw.

“Masa? Iya gitu?” dia memasang mimik penasaran.

“Beneran. Koko juga disunat kok.” Sahut gw santai.

“Wah ternyata kita sama ya he he he...” dia tertawa renyah.

“Memang sih di Kitab-Kitab Perjanjian Lama, disebutkan kalo sunat itu wajib dilakukan pada setiap bayi laki-laki sebelum berumur 8 hari. Tapi di Kitab-Kitab Perjanjian Baru, Rasul Paulus lebih menekankan pentingnya ‘bersunat hati’ daripada bersunat secara fisik. Jadi buat orang Kristen zaman sekarang, sunat bukan sesuatu yang wajib dilakukan tapi bukan sesuatu yang dilarang juga untuk dilakukan. Kalo sekarang, alasan sunat buat kita cenderung lebih untuk kesehatan aja.” Gw menjelaskan.

“Oooohhh...” gumamnya.

“Rasul Paulus yang mengatakan sunat itu bukan suatu kewajiban, tapi dia sendiri pun disunat. Bahkan Yesus juga disunat kan?” gw menambahkan.

Dulu gaydar gw belum sehebat sekarang, tapi gw punya feeling Nathan juga punya kecenderungan suka sesama jenis. Secara fisik dia memang cowok banget. Begitupun juga secara tingkah laku. Tapi anehnya tanpa malu-malu dia sering bilang ‘kangen’ sama gw, kalo kami beberapa minggu ga ketemu. Dia juga tak segan-segan memeluk gw kalo tidur bersama. Atau sebaliknya, dia juga diam saja waktu gw memeluknya.Tapi gw ga berani terbuka sama Nathan tentang orientasi seks gw atau menanyakan tentang orientasi seksnya. Gw takut hubungan kami jadi berantakan gara-gara pengakuan yang menurut gw ga terlalu penting.

gambar diambil dari http://homotography.blogspot.com/

Gw dan Nathan seminggu sekali berenang bersama di Hotel Horison. Gw juga yang mengajarinya berenang sampai dia bisa.

Sudah kebiasaan kalo Nathan itu ga pernah bawa shampo dan sabun saat pergi berenang. Jadi dia suka meminjamnya dari gw, setelah gw selesai mandi.

Suatu hari waktu gw dan Nathan selesai berenang. Nathan bilang kalo dia lupa bawa handuk.

“Ko, aku lupa ga bawa handuk... nanti boleh pinjam ga?” tanyanya.

“Iya boleh.” Jawab gw.

Nathan membuka-buka tas ranselnya, nampak mencari-cari sesuatu.

“Yaaa... Ko. Kayanya aku juga lupa bawa kantong kresek buat pakaian basahnya.” Sahut Nathan.

“Masih muda kok pikun? he he he...” Ledek gw.

“Tadi perginya buru-buru sih, Ko.” Nathan beralasan.

“Ya udah, tar celana renangnya gabungin aja sama kresek koko. Kita mandinya bareng aja ya. Biar lebih cepet juga” ajak gw.

“Ayo aja, Ko. Tapi aku malu...” sahutnya.

“Malu kenapa? Sama-sama cowok juga kan? jadi ga usah malu-malu.” Kata gw.

Ruang bilas terutup di Kolam Renang Hotel Horison memang hanya ada 2 atau 3 buah (gw agak-agak lupa). Lagian suasana di Kolam itu emang sepi banget.

Setelah gw dan Nathan berada di dalam kamar bilas, gw menggantungkan tas di hanger, dan menyalakan shower. Setelah kami keramas, saatnya membersihkan badan dengan sabun. Gw melepas celana renang gw. Nathan sesaat bengong, lalu tersenyum memandang gw. Dia pun tanpa ragu melepas celana renangnya.

“Punya kamu imut-imut... ha ha ha” ledek gw, sambil memandang penisnyya Nathan yang terlihat menciut dan berwarna gelap dengan bulu jembut disekitarnya.

“Kedinginan, atuh Ko. Aslinya lebih gede lah.. ha ha ha...” jawab Nathan.

“Coba bikin gede. Pengen tau segede apa” tantang gw sambil senyum.

“Ya ga bisa, Ko. Kan kedinginan.” Dia beralasan.

“Sini koko bikin jadi gede.” Sambil gw berusaha mencolek penisnya dengan tangan gw.

“Jang...an!!" Ucapannya tertahan, karena aksi tangan gw jauh lebih lebih cepat daripada reaksinya he he he...


Hanya dengan satu kali sentuhan, penis Nathan nampak mengembang dan menegang. Begitupun juga penis gw turut ereksi, karena Nathan pun meraih memegang penis gw.

“Wow!! Mulai membesar neh... ha ha ha” canda gw sambil memperhatikan penis Nathan yang tegak menegang.

“Tapi punya koko lebih gede...” sahutnya malu-malu.

Kejadiannya hanya sampai disitu. Ga lebih. Kami hanya mandi berdua, dan bergantian saling menyabuni bagian belakang tubuh kami.

Mulai dari situ, setiap kami berenang pasti mandinya sekamar berdua dan saling menggosok bagian belakang tubuh kami. Walapun yang kami lakukan hanya sebatas itu, tapi gw sangat menikmatinya. Tak ada rasa canggung, dan tanpa rasa malu-malu lagi.

Kejadian itu membuat gw dan Nathan seakan ga ada jarak lagi. Waktu Nathan menginap dan tertidur pulas. Beberapa kali gw pernah memasukan tangan gw ke dalam celana pendek Nathan dan merasakan denyutan penis Nathan yang menegang. Terkadang dalam tidurnya dia melenguh.. hmmmhhhmm... menikmati sensasi usapan dan genggaman tangan gw.  Entahlah apakah dia benar-benar tertidur atau cuma pura-pura tidur. Gw juga ga tau.

Suatu malam waktu Nathan menginap lagi. Kami sama-sama ga bisa tidur. Kami hanya ngobrol-ngalor ngidul ga jelas. Akhirnya sampai ke topik tentang film bokep. Nathan bilang teman-temannya sudah pada sering nonton film gituan, tapi dia ga pernah nonton.

“Jadi, kamu pengen nonton ya?...” pancing gw.

“Hmmmm... pengen tapi takut...” jawabnya ragu.

“Takut apa?” tanya gw.

“Takut dosa, Ko.” Kata Nathan.

“Koko punya satu tuh, mau nonton?” tantang gw. gw memang cuma punya satu-satunya film bokep hetero. Kalo yang homo sih banyak ha ha ha...

“Beneran, Ko?” Nathan malah balik nanya.

“Iya, bener dong.” Jawab gw, sambil mengeluarkan sekeping vcd, dan menyerahkannya sama Nathan.

“Hmmm... boleh diputar sekarang ga, Ko?” Nathan meminta ijin.

“Putar aja.” Sahut gw singkat.


Lalu Nathan memutar film bokep itu, di vcd player yang ada di kamar gw.

Adegan demi adegan menggairahkan terlihat di layar televisi 21 inch milik gw.  Nafas Nathan terdengar memburu. Dia nampak terangsang oleh film bokep itu. Gw juga melihat sesuatu yang menonjol dan membesar dari balik celana seragam abu-abunya.

“Gimana? Seru??” tanya gw.
“Seru banget, Ko. Tapi punya aku jadi tegang banget gini. Sampe pegel rasanya.” Kata Nathan. Tapi matanya tetap tak lepas dari adegan film bokep itu.

“Coli aja sana. Keluarin biar ga tegang.” Gw memprovokasi.

“Ga ah, Ko. Nanggung lagi seru nontonnya.  Masa harus ke kamar mandi dulu buat coli?” tolaknya secara halus.

“Ya ga usah di kamar mandi lah. Disini aja. Pake malu-malu segala.” Sahut gw santai.

Lalu gw melihat Nathan membuka ritzleting celana seragam abu-abunya, terlihat bercak basah pecum di celana dalam Ridernya yang berwarna putih. Tapi dia seakan ragu dan malu untuk mengeluarkan penisnya. Gw hanya mengangguk dan tersenyum, waktu Nathan memandang gw. Kemudian Nathan mengeluarkan penisnya yang ujungnya sudah basah sekali oleh precum. Dia mengocok-ngocok penisnya tapi tidak sampai ejakulasi. Mungkin karena dia terlalu tegang dan merasa tidak nyaman coli di depan gw.

“Kamu buka aja celana kamu.” Saran gw.
Nathan lalu melepaskan celananya.

“Celana dalamnya juga dong, biar leluasa.”  Kata gw.
Secara perlahan dia menurunkan celana dalamnya.

“Bajunya juga lepas aja, biar ga kotor kena sperma.” Gw makin menyemangatinya, sambil diri gw sendiri terangsang cukup hebat menyaksikan semua yang terjadi di depan gw.

Nathan terdiam karena ragu, tapi sebelum dia berubah pikiran gw segera melucuti bajunya. Kini Nathan bertelanjang bulat di hadapan gw dengan penisnya yang super tegang. Sementara gw masih berpakaian lengkap.

“Koko temenin telanjang dong, biar akunya ga terlalu malu.” Pinta Nathan.

Lalu gw segera melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh gw.

Gw melihat Nathan memegang penisnya dan mengocok-ngocoknya, tapi nampak belum mahir memberi kenikmatan pada dirinya sendiri he he he...

“Mau koko kocokin?” gw menawarkan.

“Ga usah, Ko.” Jawabnya singkat.

“Dijamin pasti lebih enak lho...” rayu gw...

“Hmmm... gimana ya...” Nathan tampak mau, tapi ragu.

“Coba kamu berbaring di kasur.” Perintah gw. Lalu Nathan pun mengikuti omongan gw.

“Kamu diam aja ya, kamu nikmati aja sensasi kenikmatannya...” kata gw.

Lalu gw mulai mengelus-elus penisnya, kemudian mengocok-ngocok penis Nathan dengan gerakan yang variatif. Gerakkan kedepan kebelakang, memutar, menggelitik scrotumnya dan lain-lain. Dengan variasi kecepatan yang berubah-ubah. Mata Nathan nampak merem melek menikmati kelihaian tangan gw memainkan penisnya he he he... Jujur, sebenernya gw ingin banget mengoral penis Nathan. Tapi gw masih bisa menahan diri. Gw ingin kejadian ini dianggap oleh Nathan hanya sebagai ‘boy activities’ bukan ‘gay activities’.

“Enak banget, Ko....” Lenguhnya.

“Mau yang lebih enak?” tanya gw.

“Mau diapain lagi gitu, Ko?”  Nathan nampak penasaran.

“Kamu diam aja. Tetap berbaring dan nikmati aja ya...” gw berkata menenangkan.

Lalu gw beranjak mengambil handbody lotion, dari lemari gw. Kemudian gw melumuri penis Nathan yang sudah makin menegang dan sekarang nampak berurat-urat.

“Kok, dingin...?” tanyanya.

“Sssstttt... diam aja ya... kamu relax aja...” kata gw.

Lalu gw mulai memberikan sensasi kenikmatan buat Natahan melalui gerakan tangan gw, dibantu dengan licinnya lotion tadi.

“Enak... Kooo.... enaaaak bangeeeet... uuuhhh... aaaahhh.... ooohhhh....” Nathan melenguh dan maracau keenakan. Badannya mengejang-ngejang, dan diakhiri dengan semburan sperma hangat dari penisnya.  Semprotannya melesat jauh sampai membasahi seprei dan bantal gw.

“Koko keluarin juga dong, biar adil.” Pinta Nathan. Lalu gw pun melakukan apa yang dia minta. Gw masturbasi dihadapan dia...

Setelah kejadian itu, gw tersentak dan tersadar. Kok gw bisa berbuat sejauh itu? Gw takut dianggap telah melakukan pelecehan seksual (sekalipun saat itu Nathan sudah berumur 18 tahun). Gw takut nama baik gw rusak gara-gara cerita kejadian ini tersebar.

Tapi rupanya ketakutan gw tidak terjadi. Nathan bukan tipe orang yang ember. Dia menutup rapat kejadian diantara gw dan dia.

“Sorry ya, Nathan... Waktu itu koko ga kontrol...” gw meminta maaf sama Nathan dalam satu kesempatan.

“Gpp kok. Aku malah senang udah diajarin sesuatu he he he...” jawab Nathan ringan.

“Eh dasar!! Mulai bandel ya...” kata gw.

“Koko nya juga bandel, makanya dedenya juga jadi ketularan bandel ha ha ha...” canda Nathan. Gw pun jadi ikutan tertawa.

Lama juga gw ga bertemu dengan Nathan. Sekarang Nathan sudah bekerja di luar kota dengan karier yang lumayan bagus. Gw hanya mendengar kalo dia sudah menikah untuk yang kedua kali, setelah pernikahan pertamanya kandas gara-gara rongrongan mertua yang mempermasalahkan perbedaan agama. Waktu itu dia terpaksa menikah karena pacarnya telah mengandung. Sekarang dia telah memiliki 2 orang anak. Satu anak perempuan dari pernikahannya yang pertama, dan satu anak laki-laki dari pernikahannya yang ke-dua.

Sekalipun tidak sering, gw dan Nathan masih suka berkomunikasi lewat facebook, sms ataupun  telepon.

Beberapa bulan yang lalu, ada sms masuk;

Nathan: “Koko dimana?”
Farrel  : “Lagi di rumah. Kenapa gitu?”
Nathan: “Aku kangen, pengen ketemu. Boleh ga?”
Farrel  : “Ya bolehlaaaah.... sini cepet.”

Satu jam kemudian, Nathan datang dengan  mengendarai Avanza silver. Postur tubuh Nathan sekarang lebih gemuk, jauh lebih besar dari gw. Waktu masih di ruang keluarga Nathan dan gw sudah terlibat obrolan hangat, termasuk dengan keluarga gw yang lain.

“Ko kita ke kamar yuk, pengen curhat.” Kata Nathan.

Gw hanya mengangguk dan membawanya ke kamar gw. Saat pintu kamar gw ditutup. Dia menyerbu dan memeluk tubuh gw dengan erat.... sangat erat...

“Koko, aku kangen bangeeet...!!!”

Bertahun-tahun telah berlalu. Tapi rupanya sifat aslinya Nathan tidak berubah. Masih seperti dulu. Masih suka manja kalo dekat dengan gw. Dia masih adik kecil gw yang tampan, yang selalu gw sayangi. I love you, Nathan.

Kejadian masa lalu antara gw dan Nathan, masih sering melintas di pikiran gw.  Apakah itu dosa?? Ataukah cinta???


Conclusion:

Cinta yang tak terungkap memenjarakan hati. Indah... tapi tidak dapat tergapai.
Dosa yang termanis meluapkan sejuta kenangan. Menakutkan... tapi tak meninggalkan penyesalan.

Jumat, 01 Oktober 2010

Love Comes In Mysterious Ways

Awal tahun 2005 lalu, gw pernah chat di sebuah warnet dan ketemu dengan seseorang, sebut saja namanya Arman. Orangnya nice, 23 tahun, tinggi, slim, berkulit sawo matang, bulu mata lentik, dan berbola mata besar. Karena hari udah larut, dan sama-sama merasa ‘cocok’ maka kami ga nunda waktu lagi untuk bertemu. Maksudnya cuma ketemu aja ga lebih. Gw ngajak dia makan di sebuah rumah makan yang buka 24 jam. Setelah makan, gw ga ada ide mau kemana, lagian hari sudah terlalu malam. Terus terang semuanya terjadi begitu saja tanpa direncanakan, jadi gw ga prepare apa-apa. Arman ga nolak waktu gw ajak dia ke tempat gw. Kami hanya bertemu sekali dan cuma menumpahkan semua hasrat itu dalam semalam saja (tapi 3 ronde lho he he he…). Istilah populernya ONS: one night stand, but triple orgasm he he he.... Hari-hari berikutnya kami masih berkirim sms dan telponan.
19 Februari 2005, ada sms masuk di hp gw:
Inbox: “Boleh kenalan ga? aku Mario 21/175/60”
Oubox:”Iya boleh….”

Bla bla bla…
Dan berlanjut dengan sms-sms lainnya. Yang berujung kami bikin janji untuk ketemuan dengan acara berenang bareng.

Besoknya tanggal 20 Februari 2005, akhirnya kami ketemuan ditempat yang dijanjikan. Seperti biasa gw datang lebih awal... Tidak begitu lama kemudian, muncullah seorang remaja tampan memakai jumper biru navy bertulisan ‘UCLA” menghampiri gw.
“Hi, aku Mario!” remaja itu menghampiri gw.
“Farrel!!” jawab gw sambil menjabat tangannya.
“Kak, ngobrolnya jangan disini ya. Takut kelihatan papa aku. Dia lagi service mobilnya di bengkel itu” sahut Mario, sambil menunjuk ke sebuah bengkel di seberang tempat kami ketmuan.
“Ya udah, so kita mau kemana neh? Langsung ke kolam renang aja?” lanjut gw.
“Iya, mumpung belom terlalu sore.” Mario setuju.
Kami pun meluncur ke sebuah kolam renang di daerah setiabudi. Di kolam renang itu gw dan Mario banyak bercerita soal kehidupan masing-masing.
“Kak, jangan marah ya. aku mau berterus-terang” Mario membuka obrolan.
“Kenapa gitu?” Tanya gw penasaran.
“Pertama: umur aku bukan 21 tahun, tapi 18 tahun.” Papar Mario.
“Ooohh... ga masalah, aku malah lebih suka.” Sahut gw sambil senyum.
“Kedua: aku mencuri no hp kakak dari phonebook temen aku, Arman. Waktu dia cerita dan memperlihatkan pic kakak. Dia sendiri ga tahu kalo aku mencatat no hp kakak.” lanjut Mario.
“Iya gpp. Lagian aku sama Arnan kan ga ada hubungan apa-apa.” Jawab gw tulus.

Sejak pertemuan pertama itu, berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Kami merasa cocok satu sama lain, hingga gw dan Mario sepakat untuk menjalin hubungan lebih serius, kami berpacaran.
Gw sering main dan bermalam di rumah Mario, karena di rumahnya dia hanya tinggal sendirian (kedua orangtuanya dan kakak-kakaknya tinggal di luar kota).
Setelah beberapa bulan berhubungan, gw makin mengenal karakter Mario. Dia baik, smart, tulus, childish, sok mandiri, manja, dan cemburuan...
Kadang gw ngerasa rasa cemburu dia terlalu besar. Gw sering bilang sama dia: cemburu memang tandanya cinta, tapi rasa percaya juga ada lah bagian dari cinta.

Mario meminta gw untuk tidak berhubungan lagi dengan temen-temen gay gw , termasuk Arman. Sejak gw dan Mario pacaran, hubungan Mario dengan Arman jadi renggang. Bahkan sahabat gw Daffa juga pernah kena getahnya, suatu hari Daffa sms ke hp gw, dan yang jawab Mario (gw kebetulan lagi di kamar mandi). Mario menjawab sms dengan kalimat seakan-akan gw ga mau berhubungan dan ga mau kenal lagi dengan Daffa. Untunglah Daffa sangat mengenal gw, makanya dia ga percaya sms itu gw yg kirim. Ujung-ujungnya Daffa dan Mario terlibat perang sms. Mario ga percaya kalo Daffa itu memang sahabat gw, dia menyangka kalo semua gay pasti selalu melibatkan unsur sex dalam setiap bentuk hubungannya, even itu persahabatan. Diluar sepengatahuan Mario, gw masih suka berhubungan dengan Daffa via YM, sms, telpon bahkan ketemuan. Daffa sangat mendukung hubungan gw dengan Mario, begitupun juga gw sangat mendukung hubungan Mario dengan pacarnya. Gw dan Daffa sering saling curhat, mengenai kisah asmara kami.

Kalo lagi jalan-jalan bareng di mall, Mario selalu wanti-wanti agar mata gw jangan belanja he he he... Tiap kali ada brondonk berpapasan dengan kami, pasti dia langsung memegang tangan gw, seakan-akan dia ingin menunjukkan kalo gw itu miliknya.

Pernah suatu kali, kasus ‘pegangan tangan’ itu berbuntut panjang. Coz pas mario memegang tangan gw ternyata di mall itu ada 2 pasang mata yang memperhatikan gerak gerik kami. Yupz, mereka yang melihat kami bergandengan tangan itu adalah kakak laki-laki Mario dan pacarnya. Insiden itu berubah menjadi mimpi buruk!!! Mario diinterogasi oleh Mama dan kakak-kakaknya. Dia didesak untuk mengaku tentang orientasi seksualnya. Mario akhirnya mengaku kalo dia seorang gay. Diiringi dengan derai air mata dan tangisan pilu seluruh anggota keluarga, Mario mengungkapkan rahasia terbesar dalam hidupnya. Pengakuan itu melukai hati Keluarganya juga Mario. Namun apa hendak dikata, itulah kenyataan hidup. Sekalipun pahit dan getir, harus bisa dengan lapang dada mereka hadapi. Mario hanya meminta kepada Mama dan kakak-kakaknya agar rahasia dirinya tidak diceritakan kepada Papanya.

Keluarga Mario, adalah keluarga yang mengutamakan pendidikan, kedua orangtua dan kakak-kakaknya semua lulusan S-2 (Papanya malah lulusan S-3). Mereka bisa menerima dan mengerti ‘perbedaan’ yang Mario miliki. Mereka hanya meminta Mario agar jangan kebablasan dan tetap berusaha untuk bisa kembali ke jalan yang ‘benar’.

Sejak kejadian itu, gw ga bisa dengan leluasa ke rumah Mario lagi. Padahal sebelumnya gw bisa kapan aja berkunjung dan bermalam di rumah Mario, bahkan bisa berkomunikasi dengan orangtua dan kakak-kakaknya, kalo kebetulan berpapasan. Gw diblacklist!! Mulai saat itu hanya Mario yang kerap berkunjung ke rumah gw. Mario merasa nyaman dengan sambutan dari keluarga gw.

Pada awalnya pengawasan keluarganya terhadap Mario lebih diperketat. Mario selalu dikontrol keberadaannya via telpon, bahkan hp Mario sering diperiksa secara diam-diam oleh keluarganya, untuk dibaca setiap sms yang masuk maupun keluar. Tapi lama kelamaan akhirnya semua bisa berjalan secara normal kembali. Gw dan Mario secara sembunyi-sembunyi masih tetap bisa berpacaran sekalipun ‘tanpa restu’ dari keluarganya hihihi...

Sejak berhubungan dengan gw, Mario banyak mengalami perubahan. Mario yang awalnya anak rumahan dan manja, berubah menjadi anak yang menyukai petualangan dan menikmati keindahan pemandangan alam. Gw sering mengajak dia untuk menjelajahi keindahan alam. Banyak banget tempat-tempat yang sempat kami jelajahi bedua; gunung, kawah, hutan, perkampungan, perkebunan, sawah, sungai, air terjun, danau, pantai, empang (he he he...), dll sudah kami jelajahi bersama. Mario yang penakut juga berubah menjadi lebih pemberani.

Lebih dari 5 tahun gw dan Mario berpacaran. Banyak peristiwa yang mewarnai hubungan kami. Suka dan duka, tawa dan air mata kami hadapi bersama. Mario sangat mengenal gw, begitupun juga gw sangat mengenal Mario. Kami berdua sama-sama keras kepala, maka tak jarang kami saling beradu argumen. Pertengkaran kecil sampai petengkaran besar, riak kecil sampai badai, bahkan putus sambung juga pernah kami lalui... Sampai akhirnya 7 bulan yang lalu, kami berdua memutuskan untuk hanya berteman saja.

5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal yang terlalu indah untuk dilupakan... Tapi apa mau dikata, keputusan sudah diambil. Kami lebih enjoy dengan status hubungan kami yang sekarang. Tidak ada lagi pertengkaran dan tidak ada lagi cemburu. Jujur, kami masih sering bertemu, bahkan masih sering melakukan ‘kontak fisik’ he he he... entah apa namanya: HTS (hubungan tanpa status)?, TTM (teman tapi ml he he he...)?, atau HUTAPEA (hubungan tanpa perasaan apa-apa)?

Mungkin bagi sebagian orang bentuk hubungan kami ini aneh bin ajaib. Tapi sudahlah, kami ga peduli pendapat orang lain, karena cuma kami berdua yang paling tahu dan paling mengerti apa yang telah, sedang, dan akan kami jalani... Toh kami juga punya kesepakatan kalo hubungan kami akan benar-benar berhenti, disaat salah satu atau masing-masing dari kami telah menemukan pasangan yang lebih tepat.

Conclusions:
Kita baru bisa memiliki cinta yang besar, disaat kita sanggup dan ikhlas melihat orang yang kita cintai lebih berbahagia dengan pilihan hidupnya. Cinta oh cinta... terkadang memang complicated!! huft!!!

Selasa, 27 April 2010

My First Love

Pagi tadi gw terbangun, di luar sana terdengar sayup-sayup lagu First Love –Nikka Costa. lagu lawas yang masih enak untuk didengar... Lamunan gw menerawang jauh, menyusuri lorong waktu, mengarungi kenangan masa silam.

FIRST LOVE
Song by Nikka Costa

Everyone can see
There's a change in me
They all say I'm not the same
Kid I use to be

Don't go out and play
I just dream all day
They don't know what's wrong with me
And I'm too shy to say

It's my first love
What I'm dreaming on
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do

My first love
He thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could tell him what I'm feeling
'cause I'm feeling my first love

Mirror on the wall
Does he care at all
Does he ever notice me
Does he ever found

Tell me teddy bear
My love is so unfair
Will I ever found away
An answer to my pray
For my first love...


Lagu Nikka Costa ini, bener-bener ngegambarin perasaan remaja yang baru ngerasain artinya jatuh cinta. Tiap orang pasti pernah mengalami yang namanya cinta pertama alias cinta monyet. Tapi yang gw rasakan mungkin bukan cinta tapi hanya sekedar rasa suka. Atau mungkin lebih tepatnya gw ingin punya seseorang yang spesial, sama kaya temen-temen sebaya gw yang rata-rata sudah punya pacar.
Sebut saja namanya Lidya, seorang gadis remaja yang cantik, berhidung mancung dan bermata indah. Umurnya 2 tahun dibawah gw dan dia adik dari sahabat gw sendiri Marlon. Waktu itu gw baru mengjinjak kelas 2 SMA, dan dia Kelas 3 SMP. Gaya pacaran kami cukup unik, karena kami lebih saling mendukung dalam pendidikan. Ajaibnya ranking gw dan Lidya selalu sama. Mulai dari kisaran 5 besar, sampai masuk ranking 3 besar kami selalu sama.
Gw termasuk remaja yang alim dan taat beragama. Jadi walaupun pacaran, gw dan Lidya ga pernah melampaui batas. Paling banter, hanya berpegangan tangan. Itu pun sambil malu-malu kucing. Entah karena malu atau karena ga doyan he he he...
Waktu itu gw sering ngerasain pacaran dengan Lidya itu jadi beban buat gw. Seolah-olah gw harus melakukan kewajiban yang sebenernya gw sendiri ga suka. Apel malam minggu, antar jemput, nemenin dia belajar, jalan-jalan dll. gw lebih suka main dengan teman-teman cowok. Malah gw sering memprioritaskan sahabat-sahabat gw daripada Lidya. Ujung-ujungnya Lidya ngambek, ngerasa dicuekin.
Tapi hubungan kami yang bahasa sundanya: ‘awet rajet’ (awet tapi belangsak he he he...) berjalan sampai 4 tahun. Hubungan kami diakhiri dengan perpisahan secara baik-baik dan kami tetap bersahabat. Jujur, waktu itu gw masih sayang sama Lidya.
Setelah hampir 1 tahun gw dan Lidya sama-sama menjomblo, lalu gw dan Lidya, masing-masing punya pacar lagi. Gw dengan Andrea, mantan murid sekolah minggu gw. Dan Lidya dengan Handoko, masih teman gw juga.
Tapi Andrea terlalu possessive, gw ga nyaman jalan sama dia. Dia ga terima kalo gw lebih ngutamain sahabat-sahabat gw (ya iya lah... he he he...). Dan dia sering cemburu melihat gw dan Lidya masih bersahabat. Hubungan gw dan Andrea hanya bertahan kurang dari 1 tahun, lalu gw memutuskan hubungan dengan dia.
Perjalanan percintaan gw dengan lawan jenis yang berikutnya ga pernah lebih dari 6 bulan. Jadian-bubar... jadian-bubar... jadian-bubar... gw kesannya seperti playboy cap jenggot kambing he he he... padahal sebenernya gw sedang dalam pencarian ‘cinta sejati’ gw, yang akhirnya gw sadari ga akan pernah gw temukan dalam sosok perempuan. Tapi gw keukeuh ‘denial’, gw mencari dan terus mencari. Sampai akhirnya gw lelah dan menyerah.
Dari sekian perempuan yang pernah mengisi hati gw, hanya Lidya yang meninggalkan kesan terdalam. Terlalu indah untuk dilupakan, tapi terlalu pedih untuk dikenang...
Selepas kuliah gw bekerja di salah satu bank swasta. Gw masih inget betul, waktu itu tanggal 17 September, jarum jam belum beranjak ke angka 9. Ada telpon buat gw yang ngabarin tentang sebuah kejadian tragis. Lidya dan Ibunya ditemukan terbunuh di rumahnya, dengan luka tusukan di sekujur tubuhnya. Mereka memang hidup berdua, setelah Marlon memutuskan menetap di Bali untuk belajar melukis, dan Marco adik Lidya tinggal dengan istrinya. Ayah Lidya memang sudah lama ga pernah pulang, dia lebih suka tinggal dengan isteri mudanya.
Pembunuh Lidya dan ibunya ternyata adalah tetangganya sendiri. Dia bermaksud mencuri dengan membobol atap rumah, tapi sialnya dia ketahuan. Entah karena panik, takut atau malu, dia nekat menghabisi 2 nyawa itu sekaligus.
Kejadian itu sangat membekas dihati gw. Masih tergambar jelas di benak gw, jasad Lidya dan ibunya terbujur kaku di dalam 2 peti jenazah di rumah duka. Tangisan pilu keluarga, kerabat dan sahabat mengiringi pemakaman Lidya dan ibunya. Mereka dikuburkan secara berdampingan.
3 tahun setelah kematiannya, Lidya sering menghampiri gw dalam mimpi-mimpi gw. hadir tidak dalam sosok yang menakutkan. Dalam mimpi-mimpi itu, Gw dan Lidya hanya ngobrol biasa... atau kadang dia cuma melintas di depan gw. Gw termasuk orang yang jarang bermimpi saat tidur. Tapi seminggu itu, dia hadir hampir setiap malam. Gw merasa ada sesuatu yang janggal, Lidya seolah sedang mengirimkan pesan khusus buat gw. Gw tersentak, gw baru sadar, hari itu tanggal 17 Maret, hari ulang tahunnya Lidya. Pagi itu gw bergegas pergi ke makam Lidya. Di jalan gw bertemu dengan Gunawan, sahabat gw dan Lidya yang mau berkunjung ke rumah gw.
“Farrel, mau kemana?” tanyanya.
“Mau ke makam Lidya” jawab gw.
“Lho kok aneh ya?, gw sekarang justru mau ngajak loe ke sana”. Katanya keheranan.
“Seminggu ini gw mimpi tentang Lidya terus...” sahut gw singkat.
“Oooohh... kok sama...” Gunanwan menggumam.
Gw dan Gunawan bergegas ke makam Lidya. Disana gw mendapati kuburan Lidya yang indah itu, tidak terawat. Dipenuhi rumput liar dan dedaunan kering. Gw dan Gunawan tanpa banyak bicara membersihkan kedua makam ibu dan anak itu. Ah... menyedihkan sekali... Lidya, i still care about you...
Sejak kepergian Lidya sampai sekarang, gw ga pernah berpacaran lagi dengan seorang perempuan. Dan sampai umur segini gw belum menikah juga. Orang-orang berpendapat kalo gw patah hati, karena cinta sejati gw dibawa mati. Tapi bukan itu penyebab yang sebenarnya... Karena setelah dari makam Lidya, gw memutuskan untuk menjadi diri sendiri. Membuka lembaran baru kehidupan percintaan gw. Dan menerima dengan ikhlas sisi ke-gay-an gw. My first love, but not my true love...


Conclusions:
Makna hidup dan penemuan jati diri, seringkali harus kita raih setelah mengarungi samudera problema. Riak... gelombang... bahkan badai... semakin menempa ketangguhan kita.

Senin, 01 Maret 2010

Half Blood Prince

Jaman dahulu kala, sekitar tahun 1930-an. Seorang pemuda perantauan dari daratan China, yang bernama Tan Ping Hien tiba di sebuah negeri yang penduduk aslinya berkulit sawo matang. Waktu itu umurnya belumlah genap 12 tahun. Himpitan ekonomi, kekacauan, peperangan dan kesusahan hidup di kampungnya, membuat tekadnya bulat untuk ikut merantau bersama kerabatnya ke negeri subur jajahan Belanda (Indonesia). Terombang-ambing di sebuah kapal kecil selama berbulan-bulan di lautan, tak menyurutkan niatnya untuk tetap pada visi hidupnya, merubah nasib hidupnya.
Perbedaan kultur dan adat istiadat hanya sebentar membuatnya terperangah. Dengan mudah dia menyesuaikan diri. Bahkan waktu datangpun dia hanya mampu berbahasa tanah leluhurnya. Berkat kemauan dan kerja keras, sedikit demi sedikit dia mulai bisa berbahasa melayu, tentu saja dengan logat lucunya. Tan Ping Hien muda pun sempat terheran-heran ketika untuk pertama kalinya melihat binatang penyantap nyamuk yang melata di dinding. Cecak yang buat kita merupakan binatang biasa saja, sempat membuatnya terkagum-kagum karena di negeri leluhurnya tidak ada binatang seperti itu.
Berbagai pekerjaan pernah dia lakoni, berbagai keterampilan juga telah ia pelajari dari setiap taoke (boss) yang pernah mempekerjakan dia. Dia pernah bekerja pada seorang tukang kamasan (pembuat perhiasan emas), sebuah pekerjaan yang kelak menjadi penopang hidupnya. Untunglah ia seorang anak yang cerdas, mudah bergaul dan punya citarasa seni tinggi, sehingga dengan mudah dia mampu menyerap semua ilmu membuat perhiasan, mulai dari melebur, menempa, membentuk, memperindah, menyepuh dan lain-lain.
Berbagai kota di negeri ini pernah dia jelajahi dalam perantauannya. Akhirnya menetaplah di sebuah kota kecil, di Kabupaten Bandung. Disana dia menemukan kembang desa, seorang gadis pribumi bernama Sarimanah. Perbedaan latar belakang sempat membuat keluarga Sarimanah menentang pernikahan mereka. Namun kekuatan cinta tak menyurutkan langkah mereka untuk membina rumah tangga. Dari pernikahannya lahirlah 3 orang anak: 2 orang putera yang diberi nama Tan Kim Hong dan Tan Kim Liong (bokap gw), dan seorang puteri Tan Giok Hwa. Dalam usia yang sangat muda, terutama buat si bungsu baru yang menginjak umur 2 tahun. ketiga bocah itu harus kehilangan ibunya yang meninggal dunia di usia 22 tahun.
Bokap gw yang berdarah campuran (half blood) Chinese-Sunda, menikahi seorang perempuan berdarah campuran juga (dominan chinese tapi dari garis neneknya ada keturunan darah Belanda). Dari pernikahannya itu lahirlah 4 orang anak: kakak laki-laki gw, kakak perempuan gw, gw, dan adik perempuan gw.
Itulah silsilah diri gw, yang secara fisik dan kultur berada diantara dua etnis itu (Chinese-Sunda). Warna kulit dan wajah gw, tidak kelihatan chinese banget ataupun pri banget. Gw juga ga bisa berbahasa Mandarin, makanya temen-temen gw sering bilang gw itu China murtad he he he... Bahasa Sunda gw kadang malah lebih bagus dari temen-temen gw yang orang Sunda tulen.

23 Februari kemaren, Alvin ngajak gw ke acara perayaan Imlek perkumpulan
Marga Kwok/Kwee se-Bandung di Grand Eastern Restaurant. Yang hadir kelihatan banget dari kalangan menengah keatas (Marga Kwok/Kwee adalah orang Khe, yang dari dulu terkenal bermata pencaharian sebagai pengusaha atau boss besar. Jarang banget terdengar orang Khe hanya menjadi pegawai biasa, mayoritas punya bisnis sendiri, minimal mereka punya toko.
Acara dipandu oleh sepasang MC dalam Bahasa mandarin. Bahkan kata sambutan pun semuanya menggunakan Bahasa Mandarin. Lumayan bikin gw cengo he he he... Yang masih bisa gw nikmatin adalah pertunjukan 4 barongsai dan tarian naga panjang yang meliuk-liuk. Penampilan 4 orang abg memamerkan kepiawaian ber-kungfu membuat gw terpesona.
Untuk memeriahkan malam itu seorang penyanyi perempuan, sengaja didatangkan langsung dari Taiwan. Penampilannya cukup menghibur, menyajikan lagu-lagu mandarin nostalgia, seperti lagu ‘Ye Lai Xiang’ nya Teresa Teng dan lagu-lagu nostalgia lainnya. Tapi kalo diperhatikan penyanyi yang memakai baju kaya gaun pengantin itu kok kaya waria ya? upss... he he he...
Seorang penyanyi laki-laki yang gw perkirakan umurnya sudah menginjak umur hampir 50-an tampil. Dia memakai kemeja corak garis abu hitam berkerah besar dengan belahan dada rendah dan jalitan tali yang saling silang-menyilang di dadanya. Untuk bawahannya dia memakai celana panjang putih ketat berkantung banyak, dilengkapi sepatu putih (wew... banci banget he he he...). Dan sesuai dengan radar gw, dia tampil sangat ngondek ha ha ha... ditambah dengan aksi panggungnya yang bikin gw geli, dia sering menendangkan kakinya, persis kaya penyanyi dangdut vetty vera kalo lagi beraksi qiqiqi... (gw jadi inget fim seri Ksatria Baja Hitam: “Tendangan Mauuuuuuuuuttt!!!!” wkwkwk...).
Semua tamu undangan menempati meja makan yang telah ditentukan. Tiap meja berisi sekitar 8-10 orang undangan. Makanan demi makanan dihidangkan satu demi satu ke meja makan. Setelah makanan yang satu hampir habis, lalu dihidangkan makanan yang berikutnya, dan berikutnya (Cia Chiu).
Seorang bapak-bapak umur 60-an yang duduk satu meja dengan gw, keliatan banget dia sering mencuri-curi pandang ke gw. Awalnya gw ga ngeh coz ada istrinya yang duduk di sebelah dia. Seorang tante-tante berwajah garang qiqiqi... Tapi gw lama-lama tambah yakin kalo dia itu gay veteran he he he... apalagi dia tampil chic dengan rambut tertata rapi ala Richie Ricardo (wuiiiihhh penyanyi remaja jadul he he he... yang sudah almarhum), plus kemeja kotak-kotak putih-orange yang tight dan celana panjang yang lagi-lagi... putih... he he he... Si bapak yang bergigi cadok ini, sering melirik dan senyum-senyum ke arah gw weeekkkks...!!! Si bapak bergigi cadok ini ternyata banci tampil juga. Dia tampil menyumbangkan suara ‘emasnya’ (suara yang bikin penonton menahan tawa geli he he he...) di panggung. Tak puas dengan cuma nyanyi, dia pun tampil berdansa salsa, cha cha cha, dan tarian latin lainnya bersama istri dan 2 pasangan lainnya. Wew ternyata badannya lentur banget buuuu... goyang pinggulnya aduhaaaaaiiii... kaya Olga Syahputra he he he...
Malam itu memang bukan malam keberuntungan gw: 1. gw banyak cengo-nya coz ga ngerti bahasa Mandarin yang dipake sebagai bahasa pengantar acara, 2. Ga dapet doorprize wkwkwk... 3. dikecengin ‘gay veteran’ pula wew... (hmmhhhh... Brondong-brondong bermarga Kwok/Kwee pada kemana ya? he he he...).
Di tubuh gw mengalir darah campuran: chinese dan sunda. Orang chinese menyebutnya sebagai ‘peranakan’ karena tidak berdarah murni. Tp gw malah merasa beruntung, karena gw bisa masuk ke kalangan manapun. Kalo belanja di toko orang chinese gw nawar pake istilah bahasa pasar orang chinese (kaya ceceng, ceban, cetiao dll.), jadilah gw dapat discount lebih gede. Dan kalo berinteraksi dengan orang sunda, gw menggunakan Bahasa Sunda halus, maka lancarlah segala urusan he he he...

Conclusions:
Kepercayaan diri itu timbul bukan karena apa yang kita miliki, tapi karena keikhlasan kita menerima diri kita apa adanya... chiayooo...

Jumat, 13 November 2009

Duka Di Rumah Duka

Kemaren malam, gerimis kembali membasahi Kota Bandung. Akhir-akhir ini udara malam di Bandung terasa lebih sejuk. Tiap malam udara dingin terasa menusuk sampai ke tulang. Gw lagi males kemana-mana. Selain cuaca lagi ga bersahabat, ditambah gw juga lagi flu. Gw hanya diam di kamar, meringkuk didalam hangatnya selimut, sambil memutar lagu-lagu Kahitna jadul yang melow.
Jam dinding di kamar gw baru mau beranjak ke angka pukul 20.00 WIB, terlalu siang memang buat gw tidur. Coz gw ga bisa tidur dibawah pukul 24.00, entah karena insomnia atau cuma kebiasaan…
Hp gw menjerit-jerit… O ternyata telpon dari temen gw, Alvin.
“Farrel, loe dah tau belom?” itulah Alvin kalo ngomong tanpa basa-basi ba bi bu langsung straight to the point.
“Ada apa gitu?” gw balik nanya.
“Nathan, meninggal…” suara Alvin tercekat.
“What!!? Kapan?!” gw agak tersentak ngedenger kabar itu.
“Gw juga baru tau, penyebabnya juga gw ga tau. Kita ke rumah Duka Nana Rohana bareng yuk… Tar jam 9 gw jemput loe. ”

Setelah meng-iya-kan, gw menutup Hp gw.
Lamunan gw seakan terbawa kembali ke alam kenangan belasan tahun yang lalu. Nathan adalah salah satu temen gw. Anaknya pendiam tapi ramah. Kulitnya putih mulus, rambut lurus hitam legam, dengan deretan gigi yang putih dan rapi… ketampanan khas oriental. Di perkumpulan kami, Nathan yang paling ga bisa apa-apa dalam dunia olahraga dan sering jadi korban kejailan temen-temen gw.
Sesuai janji, Alvin datang menjemput ke rumah gw. Alvin, sahabat (sekaligus temen berantem he he he…) gw sejak SMP. Temen-temen gw yang laen bilang kalo gw dan Alvin tuh soulmate sejati… weeeekkkkssss najis bangedh he he he… Alvin emang cakep, tapi gw ga hobby ngegarap gadun he he he… lagian kami udah temenan lama banget. Dia yang selalu gigih dan ga pernah nyerah nyari calon isteri. Dia pernah ditinggal kawin sama 2 mantan pacarnya, 1 kali batal menikah, dan telah berkenalan dengan ratusan cewek (sering menilai cewek banyak kekurangannya, kurang ini dan itu). Dia orangnya gokil, pecicilan, ga mau kalah, suka mau tau urusan orang, tapi ga gw pungkiri dia orangnya solider. Gw yakin banget dia bukan straight sejati. Waktu kelas 2 dan kelas 3 SMP, gw selalu sebangku dengan Alvin. Di kelas dia sering nyuri-nyuri kesempatan mencoba mengusap-usap paha gw … wew…Brrrrrrr…. Gw sering marah, tapi dia melakukannya lagi, lagi dan lagi… bahkan kadang jari tangannya mencoba masuk ke selangkangan gw lewat celah celana pendek biru gw. Dan tonjokkan tangan gw yang mendarat di lengan atasnya, ga mampu menghentikan aksi ‘bejat’ Alvin qiqiqi… Dulu sih gw masih bego, ga ngerti apa-apa. Waktu itu gw hanya ngira dia lagi jail aja. Tapi sekarang, gw ngerti apa yang sebenernya terjadi. Mungkin waktu itu dia lagi horny he he he…
Gw tau, sekarang dia sedang berkamuflase. Lagian gw juga ga peduli selama dia ga nyampurin urusan pribadi gw. Ga ada untungnya juga saling membuka diri. Jadilah kami 2 sahabat homo yang sama-sama ragu apakah sahabatnya homo atau bukan? Qiqiqi…
Tiba di rumah duka, aura kesedihan terasa banget. Dekorasi kain berwarna biru langit berpadu putih, dominan menghiasi dinding ruangan. Rangkaian bunga lily, mawar, dan Chrisant yang serba putih menghiasi setiap sudut altar tempat peti jenazah disemayamkan. Dekorasi dengan 6 pilar dan puluhan cahaya dari lilin putih, terlihat sangat elegan dan berkelas. Tapi aura duka tetap terasa…
Di dalam ruangan gw ketemu teman-teman SMP gw, Joshua dan Hendrik, yang datang membawa anaknya. Kami langsung mengambil tempat duduk disudut ruangan.
“Kirain bawa cewek, ini mah malah datang sama yang ini ini lagi…emang ga bosen?” ledek Joshua kepada Gw dan Alvin.
“Emang loe datang sama siapa?” Alvin langsung balik nanya.
“Sama, mami dan adik gw” jawab Joshua.
“Ah sama aja, loe juga masih jomblo sejati kan? Sesama jomblo dilarang saling mendzolimi!!!” sahut gw. Diiringi suara ketawa kami, yang sedikit ditahan, agar ga terlalu kedenger orang banyak.
“Iya tuh, emang kalian masih nunggu apa lagi? Gw aja udah punya anak 2. Ayo cepet-cepet nikah, 2012 kiamat lho” Hendrik menimpali.
“Mau Ki Amat, mau Ki Daus, mau, Ki Manteb, mau Ki Joko Bego kagak ngaruh!!! he he he…” sahut gw.
“Iya ya, kalo belom ada jodohnya mau bilang apa?” Sambung Joshua.

Gw curiga, Joshua jg gay..hahaaay!!! (kok gw curiga mulu ya? gaydar kali ya? he he he…) Setau gw dia ga pernah pacaran sama cewek. Dia orangnya handsome, berkulit putih, berhidung mancung, dengan badan kekar tapi ga terlalu tinggi. Dia pemain band, dan sering ngiringin gw nyanyi dengan permaian keyboardnya.
Di sekeliling ruangan di rumah duka gw melihat ‘penampakan’… hiiiiyyyy jangan syerem dulu ah!! Bukan penampakan hantu, tapi penampakan aura gay he he he… swear!! lebih dari 5 orang ke detect sm radar gw xixixi….
Kembali lagi ke kisah kematian Nathan. Di rumah duka gw jadi tau penyebab kematian Nathan. Awalnya dia menderita sariawan di bawah lidah yang ga kunjung sembuh. Dan dia ga terlalu mempedulikannya. Tapi lama-lama rasa sakitnya menjalar ke rahang. Setelah diperiksa, menurut diagnosis dokter Nathan kena kanker. Lalu rahangnya dioperasi. Tapi ga sampai 2 bulan, ternyata kankernya sudah menjalar ke kelenjar getah bening. Dan dalam waktu yang sangat singkat menjalar menggerogoti paru-parunya. Usaha pengobatan sudah dilakukan sampai ke singapura, tapi takdir memang susah ditebak. Tuhan punya kehendak lain. Nathan harus ‘pulang’ lebih awal…
Pernikahan yang sudah disiapkan dengan pacarnya, hanya tinggal rencana yang tak mungkin bisa terwujud. 3 kali diundur: April 2009, Oktober 2009, dan Januari 2010. Pada akhirnya hanya menyisakan duka dan luka, buat keluarga dan calon istrinya.
Nathan walaupun pendiam, tapi punya sisi nakal. Menurut cerita temen gw yang dulu sering jalan bareng sama Nathan. Dulu dia sering ‘membooking’ waria di sekitar Jl. Sumatra… (sisi nakal atau sisi gay?). Hanya sekedar untuk di-blowjob didalam mobilnya. Waduh gw aja yang gay kagak pernah ‘main’ dengan waria (dan ga kepikiran buat nyoba qiqiqi…).
Rintik hujan masih menyisakan tetes-tetes di dedaunan… Gw kembali lagi sendiri di kamar, dalam kehangatan selimut, tapi tanpa alunan lagu melow Kahitna. Selamat jalan sobat!!! Semoga kamu tenang di alam sana…

Conclusions:


Gay oh gay… ternyata bertebaran di mana-mana, bahkan terselip di antara sahabat-sahabat terdekat gw. Gw ga nge-judge lho, coz gw sendiri ga terlalu yakin, apakah beberapa sahabat gw itu GAY atau HOMO qiqiqi… gubrax!!!

Rabu, 04 November 2009

Buat Gay Menikah Itu Bisa jadi Ibadah Atau Musibah?

Menikah dan hidup berpasang-pasangan adalah fitrah semua manusia. Tapi tidak buat gw. Sampai usia gw yang sudah banyak ini, ga ada tanda-tanda gw bakal nikah. Bukan karena hidup gw tanpa target dan rencana, bukan juga karena gw mau melawan takdir. Tapi selama ini gw selalu berpegang pada prinsip: gw ga mau menipu diri sendiri. Apalagi harus melibatkan orang lain (istri) untuk menjadi korban. Gw cuma mencoba untuk jujur sama diri sendiri: gw gay, yang tidak mempunyai hasrat kepada perempuan. Itulah yang menjadi alasan kenapa gw memilih tidak menikah. That’s it!!! Dan gw harus siap menerima semua konsekuensi atas pilihan hidup gw itu. Sampai saat ini gw ga punya rencana untuk menikahi perempuan manapun (dan lelaki manapun jg he he he…).

Beberapa kali sodara-sodara gw, mencoba untuk nyombalingin gw sm beberapa perempuan: ada yang berprofesi sebagai pimpinan cabang sebuah bank swasta terbesar di Indonesia, pemilik butik, dokter gigi, dosen dan lain-lain. Gw hanya mengiyakan saja, tanpa mau ketemu dengan orang yang bersangkutan.

Syukurnya, yang rese dan mempermasalahkan kesendirian gw hanyalah orang-orang luar dan sodara jauh gw. Sementara ortu dan keluarga dekat gw, ga pernah membahasnya. Mereka cukup moderat, dan selalu mendukung setiap pilihan hidup gw. Mereka selalu bilang, mungkin belom ketemu jodohnya aja, jangan terlalu ngoyo. Gw sih happy-happy aja, mendapat kepercayaan kaya gitu he he he....

Banyak gay yang akhirnya memutuskan untuk menikah. Mereka memasuki lembaga pernikahan dengan alasan dan pertimbangan:
- ingin menuruti kehendak orangtua
- ingin punya masa depan
- ingin punya keturunan
- ingin di hari tua kelak ada orang yang mengurus.
- ingin berhenti bercinta dengan lelaki… weeekkksss!!! yang ini yang gw ga yakin he he he… coz yang gw tau banyak suami-suami “mantan gay” yang masih berkeliaran mencari kepuasan sex dengan PIL alias pria idaman lain.

Dulu banget, sebelum gw terjun ke dunia gay, gw pernah kenal dengan seorang pemilik salon, tempat gw biasa potong rambut. Dengan melihat gesture tubuhnya serta cara bicaranya, malaikat juga tau kalo dia itu binan sejati he he he… Yang mengagetkan gw, ternyata dia memutuskan menikah. Pestanya cukup besar-besaran. Tapi pernikahannya hanya berumur 2 minggu saja, lalu pisah ranjang dan bulan berikutnya bercerai. Ga tau apa penyebabnya, tapi gw yakin banget dia ga mampu ereksi waktu beradegan ranjang dengan istri sesaatnya he he he… tragis memang.

Beberapa hari yang lalu gw membaca postingan sebuah blog. Isinya tentang curhat seorang gay yang baru menikah dengan perempuan (maaf ya bro, gw bahas disini). Dia menulis tentang kehidupan pengantin barunya. Dia bilang dia bisa mencium bibir istrinya, dia mampu menjilati setiap sudut tubuh istrinya, dia juga bisa melakukan penetrasi. Tapi satu hal yang ga bisa dia lakukan: dia ga bisa menstimulsi dan menjilati daerah kemaluan istrinya. Dia merasa ga ada “sesuatu” yang “istimewa” untuk dia genggam dan dia hisap. Dia tidak menyukai bentuk dan aromanya… wkwkwkwk…. aroma seafood kale he he he…

Lantas gw berpikir, betapa egoisnya gw. Kalo gw berlindung menutupi ke-gay-an gw di balik sebuah rumah tangga yang semu. Gw hanya membayangkan, betapa sakitnya perasaan perempuan itu, saat dia tau telah mencintai orang yang “salah”. Cukuplah gw yang merasakan pahit dan getirnya menjadi seorang gay (huuffff… enaknya juga banyak kok he he he…), dan ga usah melibatkan orang lain dalam sandiwara rumah tangga yang penuh kepura-puraan. Gw bukan orang yang suci tapi gw ga mau jadi penipu.

Tapi kembali lagi, setiap orang pasti punya cara pandang yang berbeda atas hidupnya. Semua orang bebas menentukan langkah hidupnya.

Sudah sejak lama, gw ga mau chat sama orang yang umurnya diatas 26 tahun. Gw pencinta brondong sejati he he he… Saat gw tau orang yang sedang chatting sama gw umurnya lebih dari kriteria gw. Biasanya gw langsung jelasin, kalo gw sukanya sama brondong. Dan selama ini fine fine saja, ga ada masalah.

Suatu hari… ketika kita duduk di tepi pantai… dan memandang, ombak di lautan yang kian menepi…(weeekkkss kok malah jadi nyanyi lagu “kemesraan” ya? he he he…). Suddenly, waktu gw chatting di YM, ada seseorang yg nge-add, sebut namanya wibisono. Setelah tanya ini itu taulah gw kl Wibisono itu seorang T yang sudah berumur 39 tahun. Jelas dia bukan kriteria gw bgt. Tapi demi manner, gw tetap melayani dia chatting, lagian dia bilang cuma butuh temen share aja. Berikut ini petikan percakapan gw dengan Wibisono.
Gw :”Udah lama di bandung mas?”
Wibisono:”4 tahunan, disini aku kerja”
Gw :”O ya?, emang mas asli mana?”
Wibisono:”Makasar”
Gw :“Trus, di Bandung tinggal sama keluarga?”
Wibisono:”Ga lah, istri dan anak aku tinggal di Makasar. Di Bandung aku tinggal sendiri. Makanya main kesini dong!!!”
Gw :”Mau ngapain gitu mas?”
Wibisono:”Kita fun aja”.
Gw :”Tapi aku pure top lho… lagian kan tadi aku bilang aku sukanya sama brondong.”
Wibisono:”Alaaaahh!!!... coba aja liat dulu ‘punya’ gw, pasti kamu ketagihan dech. Punya kamu berapa cm?”
Gw :”O ya?... lumayanlah 15 cm”
Wibisono:”Segitu mah kecil, dong”
Gw :”Emang punya mas seberapa gede?”
Wibisono:”Segede ukuran sebungkus oreo”
Gw :”wow, keren tuh!!!”
Wibisono:”Makanya kesini dong, karena punya aku yang lebih gede makanya aku yang berhak nembak kamu”
Gw :”Ga mas makasih. Jangankan harus jadi bot, jadi top juga kalo sama mas mah aku ga bisa.”
Wibisono:”Kenapa ga bisa? Kamu kan gay. Harus bisa dong!”
Gw :”Aku memang gay, tapi aku selektif kalo milih partner sex. Aku sukanya sama brondong. Trus, ngapain mas bilang aku ini gay? Mas sendiri juga kan gay!!”
Wibisono:”Enak aja!!! Gw bukan gay tau!!!”
Gw :”Lantas apa dong? Bisex?!! Sama aja kali! Yang jelas sama-sama suka lelaki kan?”
Wibisono:”Ga lah!!! Gw bukan gay dan bukan bisex!!! Gw straight!!!”
Gw :”O ya…?? kok straight suka ngesuck dan ngefuck laki-laki??? Ga salah tuh?!?”
Wibisono:”Gw normal!!! gw cuma ingin variasi aja! Aku malah sering 3sum atau orgy dengan campuran cewek dan cowok”
Gw :”Ha ha ha ha…!!! Lucu banget!”
Wibisono:”Apanya yang lucu?”
Gw :”Jelas-jelas mas suka ngentot cowok, masih mungkir dan ngaku-ngaku normal he he he…”
Wibisono:”Kamu sendiri gimana?”
Gw :”Kan dari tadi juga aku sudah bilang, aku ini emang gay dan ga suka cewek. Cukup jelas kan?”
Wibisono:”Harusnya kamu mencoba untuk sembuh dan menikah sama cewek.”
Gw :”Buat apa? Aku sudah merasa enjoy dengan kehidupan aku. Aku ga mau pura-pura mas. Aku ga mau bersandiwara dan jadi orang munafik. Aku ga mau membuat penjara buat diri aku sendiri”
Wibisono:”Tapi kamu harus tetap berusaha untuk sembuh”
Gw :”What??? Gay itu bukan penyakit mas! Bukan penyakit sejenis penyakit buduk dan koreng. Ga ada yang salah menjadi seorang gay. Gay itu cuma beda orientasi sex aja. Ini masalah selera, dan ga bisa dipaksakan.”
Wibisono:”Kan belom kamu coba!!”
Gw :”Aku sangat mengenal diri aku sendiri, dan ga ada yang perlu untuk dicoba-coba. Mas sendiri, kenapa masih mencari-cari cowok? Emangnya mas ga bisa menikmati hubungan sex dengan istri mas sendiri?”
Wibisono:”Hmmmhhhh…mmm menikmati siiiih… tapi kerasa longgar. Kalo sama cowok lebih berasa aja cengkramannya…”
Gw :”Ha ha ha ha…”
Wibisono:”Kok ketawa?”
Gw :”Gpp, enjoy aja lah dengan pilihan hidup mas yang ‘normal’ itu”
Wibisono:”Aku emang normal kok…!!!
Gw :”Whatever!!!


Lalu gw menutup YM gw, males banget kalo gw harus berurusan lagi dengan typical orang kaya gitu. Munafik banget dan sok normal!!! ML sama cowok dibilang cuma sekedar variasi? Hantu pohon jambu juga tau: LOE ITU HOMO YANG MERASA BUKAN HOMO qiqiqi… Lebih lucunya lagi, hidupnya aja belom BENER, pake nasihatin gw segala, buat sembuh dan menikah he he he…

Conclusions:
Kalo pernikahan itu membawa berkah dan membuat kita ga berpaling lagi ke dunia cinta sejenis, maka pernikahan itu bisa menjadi ibadah. Tapi kalo setelah menikah masih menjalani kehidupan ‘amfibi’ (hidup di dua alam), dan masih mencari-cari cowok selingkuhan. Tunggu aja, cepat atau lambat bom waktu itu akan meledak. Dan akan mengubah pernikahan itu menjadi sebuah musibah. Prikitiew!!! He he he….

Selasa, 25 Agustus 2009

Sesal Untuk Evan

Sudah lebih dari 10 tahun yang lalu gw sangat dekat dengan dunia anak muda. Gw sendiri ga ngerti, kenapa kok bisa-bisanya gw bergaul dan akrab dengan orang-orang yang umurnya jauh dari gw. Entah karena gw bisa menyelami dunia mereka, entah karena gw seorang pendengar yang baik atas curhat-curhat mereka, entah karena gw sosok kakak yang bijak, atau mungkin karena gw penggemar daun muda? qi qi qi…

Dari sekian memory diotak gw, malam ini gw jadi teringat salah satu sosok anak muda yang pernah dekat sama gw, sebut saja namanya Evan. Waktu itu umurnya belum genap 17 tahun. Kedekatan gw dan Evan dalam arti hanya sebatas pertemanan, ga lebih. Dia ga pernah tau kl gw gay, dan gw juga ga pernah membahas hal itu dengan dia.

Evan adalah sosok anak yang sederhana, cerdas, tampan, pendiam, sopan dan sensitif. Dia sering cerita sama gw tentang pergumulan hidupnya. Juga tentang perasaannya menjadi orang yang terbuang dan tertolak, karena sejak bayi Evan sudah diadopsi oleh tantenya. Secara materi dia ga kekurangan, tapi hatinya hampa. Evan sangat kesepian, dia merindukan perhatian dan kehangatan keluarga.

Diantara teman-teman sebayanya yang sering berkumpul di rumah gw, dialah anak yang paling pendiam. Kalo teman-temannya asyik bercanda, paling dia hanya tersenyum simpul. Atau malah menyendiri di sudut ruangan.
Karena sikapnya yang terlalu tenang dan datar, terkadang gw jenuh menghadapinya. Bahkan beberapa kali gw menghindari kedatangannya. Mungkin gw bosan dengan keluh-kesahnya yang hanya berkutat di masalah itu-itu saja.

Dia sering bolos dari sekolahnya hanya untuk menemui gw, untuk menumpahkan kesedihannya, atau hanya sekedar meluapkan tangis di dada gw.

Gw sebenernya sayang sama dia, dan menganggapnya sebagai adik. Tapi gw lebih menyukai hubungan pertemanan yang fun, penuh canda tawa. Bukan hubungan yang diliputi kesenduan dan kesedihan.
Dia sering menginap di rumah gw, bahkan bisa berhari-hari. Mungkin itu yang membuat gw mati rasa, dan ga peka lagi akan kehadiran dan kebutuhan dia.

Kadang kalo gw lagi bad mood, gw bersembunyi menghindari kedatangannya.
Singkat cerita, sepeninggal papa angkatnya, keluarga angkatnya mengalami kemunduran secara financial dan jatuh pailit. Hal ini menyebabkan mereka terusir dari tempat tinggalnya. Mereka harus berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan yang ke rumah kontrakan yang lainnya. Keadaan ekonomi yang morat-marit, pada akhirnya memaksa keluarganya untuk pindah ke luar kota.

Walau dia sudah pindah ke luar kota, tapi sesekali dia masih datang menemui gw. Makin lama makin jarang, dan pada akhirnya dia ga pernah datang lagi sama sekali. Pada waktu itu, gw ngerasa terbebas dari rongrongan cerita sedihnya, dan dari celotehan tentang beban hidupnya. Anehnya, gw ga merasa kehilangan, dan dalam waktu singkat gw lupa sama dia.

Lima tahun kemudian gw mendapat kabar, kalo Evan mengalami depresi berat. Awalnya dia hanya sering diam dan menyendiri di tempat gelap. Kemudian dia suka mengamuk dan tak terkendali, dengan tindakan-tindakan yang membahayakan. Hal itu menyebabkan dia harus dimasukkan ke salah satu rumah sakit jiwa di Bandung.

Waktu gw menengoknya, dia sudah ga mengenali gw. Gw sendiri hampir-hampir ga mengenalinya lagi. Karena dia sudah sangat berbeda. Badannya kurus dan dipenuhi bekas luka. Sorot matanya kosong seperti ga ada kehidupan. Evan ga pernah menjawab waktu gw tegur, dia hanya asyik dengan dunianya. O my God!! Kenapa ini bisa terjadi?

Seandainya gw selalu ada di sampingnya, seandainya dulu gw peka akan kebutuhan jiwanya, seandainya dulu gw mau mendengar setiap keluh-kesahnya, seandainya dulu gw ga menghindarinya, seandainya waktu bisa diputar kembali dan sejuta seandainya-seandainya yang lain. Gw terpuruk dalam rasa sesal yang dalam, tapi ini ga mengubah keadaan. Evan tetap berkutat dalam depresi beratnya, dan sekarang mendapat stempel sebagai orang “gila”.

Ga terasa, sudah 5 tahun Evan menghuni rumah sakit jiwa, tanpa ada perkembangan yang berarti. Setelah gw amati, rupanya dalam silsilah keluarganya, ada beberapa yang mengalami depresi berat seperti Evan. Mungkin semacam penyakit keturunan. Karena 2 orang pamannya mengalami gangguan mental, 3 saudara sepupunya gila, dan 2 dari saudara kandungnya pun mengalami hal yang sama. Mungkin itulah yang menjadikan mental Evan rapuh dalam menghadapi tekanan hidup. Satu-satunya harapan gw, adalah hanya menunggu keajaiban Tangan Tuhan. Hanya Dia yang sanggup memulihkannya. Mengembalikan Evan kembali seperti yang dulu. Evan yang sederhana, cerdas, tampan, pendiam, sopan dan sensitif…

Conclusions:
Evan, bagaimanapun keadaan diri kamu… semua teman-temanmu masih menyayangi kamu. Kamu berharga dimata Tuhan…

Sabtu, 15 Agustus 2009

I Hate Wedding Party

Sudah sejak beberapa tahun yang lalu gw enggan, atau tepatnya males datang ke undangan pesta pernikahan. Kalo bukan sodara atau sahabat deket gw yang ngundang, bisa dipastikan gw ga akan datang. Bukan karena benci sama yang ngundang. Bukan pula iri, karena gw ga bisa menggelar pesta yang sama. Tapi banyak hal yang bikin gw ga comfort terjebak dalam hiruk pikuk keramaian sebuah resepsi pernikahan.

Rongrongan orang-orang dengan berondongan pertanyaan-pertanyaan: Kapan kawin…??! Kapan nyusul…??? Pacarnya mana…!!? Lho kok sendirian aja…!!?!? Dan sejuta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bikin kuping gw terbakar dan hati gw mau meledak.
Pertanyaan-pertanyaan itu banyak versinya, ada yang disampaikan:
- dengan lembut penuh empati sebagai bentuk perhatian,
- dengan dingin tanpa ekspresi,
- dengan gurauan garing dan basa basi yang bener-bener sudah basi,
- dengan pertanyaan menyudutkan
- dengan tatapan penuh curiga,
- dengan senyum melecehkan,
- dengan tertawa puas melihat nasib gw
- dan ekspresi-ekspresi lainnya.

Arrrgghhhh!!!! @#*..!!%#@&^..!!! Hati kecil gw pengen berteriak!!! Kenapa ngurusin masalah gw!!!? Kenapa turut campur urusan pribadi gw!?! Apa kalian sudah kekurangan kerjaan…??? Tapi tak ada yang keluar dari mulut gw. Yang keluar dari mulut gw hanyalah senyum (senyuman palsu uhuk uhukk!!!… guk guk guk… he he he…).

Kalo diperhatikan, ternyata orang-orang yang suka mengeluarkan pertanyaan usil itu adalah orang yang sama. Setelah dikerucutkan, gw menemukan satu orang yang paling usil dan menjengkelkan gw. Dia seorang pria berumur 48 tahun, profesinya guru, kadang jadi MC, dia menikah di usia hampir 40 tahun, dan gaya bicaranya kemayu (alias ngondek banget tapi sok berakting macho). Sebut saja namanya Bang Hendrik. Secara selintas dan dari dulu juga gw tahu kalo dia itu banci fuiihhhh!!! Tiap ketemu, pasti pertanyaannya sama: tapi diulang lagi, diulang lagi… lagi, lagi, lagi… gw sampai bosan, eneg, mual, pengen muntah, gatal-gatal, ketombean, bibir pecah-pecah wakakkakakak…. (kok ga nyambung ya? xi xi xi…).

Suatu hari, di sebuah resepsi pernikahan dia beraksi lagi dengan pertanyaan yang sama;
“Eh ada Farreeeeelll…” dengan suara ramah yang dibuat-buat dan tentu saja dengan nada bancinya yang original hi hi hi….
“Iya Bang” jawab gw dingin.
“Kapan dong nyusul…? Kok betah sendirian aja?” dia mulai melontarkan pertanyaan usilnya.
“Saya mah ga laku Bang” gw menjawab acuh tak acuh sambil menikmati zupa-zupa.
“Masa ganteng-ganteng gini ga laku?” sambil nyengir kuda, tambah menyebalkan.
“Kapan atuh, bikin resepsi kaya gini. Biar saya yang jadi MC-nya, tar dikasih harga special lho…”. Sambungnya.

Anjrit… selera makan gw langsung ilang, dada gw sesak seakan ditindih 5 karung beras. Emosi gw meluap, hampir meledak. Tapi gw berusaha tetep tenang.
“Sorry ya Bang. Apa maksud abang tiap ketemu nanyanya itu-itu aja?... apa abang ga ada kerjaan lain, selain ngasih pertanyaan-pertanyaan tolol kaya gitu? apa mulut abang ga bisa berenti ngusilin saya!!?” nada bicara gw dingin, tapi tegas.
“ehmmhh… bu bukan begitu Farreeeel...” dia tergagap, nyali Bang Hendrik keliatan ciut.
“Terus maunya apa!!? Kenapa ga ngurus urusan sendiri aja?!! Apa karena saya tidak menikah berarti hidup saya tidak bahagia!!!? Denger ya, kehidupan abang yang sudah menikah, belum tentu lebih bahagia dari saya!!! Omongan gw semakin tajam tapi kena sasaran.
“Apa karena saya ga nikah, terus dianggap aneh, dan bisa jadiin bahan olok-olokkan!!?? Lanjut gw, nada bicara gw semakin meninggi.
“Maksud saya Cuma ngasih perhatian saja, kok…” dia membela diri.
“Ah sudahlah!!!… saya ga butuh!!, saya bisa menghandle urusan saya sendiri!!!”.
“emmhhh… emmmhh….” Dia hanya bisa menggumam. Karena kaget dengan reaksi gw, sate ayam di piring kecil yang ada di tangannya sampai terjatuh. Sepertinya dia tidak siap menerima serangan balik dari gw he he he… Lagian gw ga akan pake MC segaring loe kale ha ha ha…(kata gw dalam hati).
Gw berlalu dari hadapan dia dengan senyum lebar dan perasaan puas.

Sejak saat itu dia ga pernah usil lagi. Kalo pun berpapasan di sebuah acara resepsi pernikahan, paling dia hanya say hello aja, ga lebih. Atau kalo gw melihat dia dari kejauhan gw sengaja langsung menghindar.

Di lain waktu, gw ketemu Bang Hendrik lagi. Bukan di pesta pernikahan tapi di Bumi Baru II, sebuah Rumah Duka di Jalan Holis, tempat menyemayamkan jenazah. Waktu itu gw datang melayat nenek teman gw yang meninggal.
Waktu berpapasan dengan Bang Hendrik di dekat peti jenazah, gw melontarkan pertanyaan usil:
“Kapan nyusul neh?” gw bicara dengan volume rendah, sambil mata gw melirik peti jenazah.
“Hush!!...” Bang Hendrik kaget menerima pertanyaan gw. Dia pucat, mencoba berusaha tersenyum tapi hambar.
“Kenapa Bang? Belom siap ya!?? bisik gw, sambil dalam hati tertawa puas.

Aduh ternyata si abang ini parno kalo berurusan dengan orang mati ha ha ha… Sekali lagi perasaan gw diliputi rasa puas, karena bisa membalas mulut usil dia he he he…


Conclusions:
Jangan mentang-mentang sudah merasa “normal” karena bisa menikahi perempuan, lantas merasa berhak dengan seenaknya mengobok-obok masalah pribadi orang lain. Banci mah tetep banci aja, bang. Ga bisa disembunyiin, sekalipun loe berlindung di balik lembaga pernikahan he he he…

Kamis, 16 Juli 2009

Saksi Bisu Yang Diam Terbungkam

Malam minggu… Pada Suatu ketika… Setahun kemaren. Gw lagi kegatelan chatting dan nyambung dengan seorang brondong cute, yang bernama Darren. Waktu itu Darren belum genap berumur 17 tahun dan masih duduk di kelas III, di salah satu SMA Negeri yang cukup ternama di Kota Bandung. Setelah chat cukup lama dan menemukan kecocokan, akhirnya kami sepakat untuk ketemu. Tapi yang jadi persoalan adalah, dia lagi sama temannya. Ughhh damn!!! Alamat berantakan neh acara ketemuan kali ini!!! padahal jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

Ini sepenggal percakapan chatting gw dan Darren.
“Gimana neh? Emangnya temen kamu mau dikemanain?” tanya gw.
“Nyantai aja Bang. Temen aku mah orangnya asyik kok, ga rese. Lagian kita bisa pake tempat kost dia” jawabnya, enteng.
“Gila aja! Emangnya kita mau threesum?” lanjut gw.
“Kenapa ga?” tantang Darren.

Gw sampai -kata untuk menjawab. Hmmmhhh… anak-anak sekarang emang udah canggih dalam urusan esek esek neh he he he…
“Hmmmhhh… gimana ya?” gw jadi bingung.
“Nyantai aja ya Bang… Gpp kok.” rayunya.
“Ya udah kita ketemu dimana neh?” tanya gw.
“Di Dago aja, di depan hotel X”
“ Oke” gw setuju.

Jarum jam tangan yang melingkar di tangan kiri gw, sudah menunjukan hampir pukul 01.30 WIB, memang terlalu pagi untuk ketemuan. Tapi mau gimana lagi, udah terlanjur janji uy.
Tak memerlukan waktu yang lama gw menunggu di depan hotel X, gw melihat 2 orang brondong keluar dari sebuah gang di seberang hotel X. Secara sekilas juga gw udah bisa menilai, yang satu oke, yang satunya lagi… YGD (ya gitu dech he he he…).
“Hi, Bang Farrel ya?” Darren menyapa sambil tersenyum.
“Iya…” Sahut gw. Lalu kami bersalaman.
“Ini temen aku.” Darren memperkenalkan temannya
“Leon.” Dia memperkenalkan diri.
“Farrel.” Sahut gw. Sambil saling berjabat tangan.
“Eh sekarang kita mau kemana nih?” tanya gw.
“Kita nyari makan aja ya, Bang.” Pinta Darren.
“Ayo.” Gw setuju.

Kami berboncengan bertiga. Kami sepakat untuk makan di Gampoeng Aceh Dago. Kami makan sambil tetap ngobrol ngalor ngidul.
“udah kenyang?” tanya gw.
“Iya, udah. Aku makannya ga banyak kok” Jawab Darren sambil tersenyum.
“Kalo aku porsi makannya banyak, Bang. Malah aku mah ga kuat nahan laper, jadinya ngemil mulu ha ha ha…” Sahut Leon.
Ya iya lah, secara… Keliatan banget kalo dia itu tukang makan dan molor he he he… Liat aja, body-nya montok kaya kudanil lagi hamil xi xi xi…

Setelah beres makan, gw nganterin brondong-brondong itu pulang ke kostan Leon.
“Aku langsung pulang ya…” sahut gw.
“Kok, pulang?” Tanya Darren manja.
“Tidur disini aja, lagian udah terlalu pagi lho.” Lanjutnya.
“Iya, Bang. Gpp kok, nyantai aja” Leon nimbrung.

Akhirnya gw memutuskan untuk tidur di tempat kost Leon. Kami ngobrol sampai mata kami bener-bener ngantuk. Darren tidur menghadap tembok, gw di tengah, Leon di sebelah gw. Tak begitu lama tak terdengar lagi suara-suara obrolan… Hening menyergap, sunyi menyelinap. Rupanya Leon sudah nyenyak. Darren tidur membelakangi gw. Sementara, kantuk tak kunjung menghampiri gw.

Gw mencoba memeluk Darren dari belakang. Dalam beberapa detik ga ada reaksi. 1,2,3,…7,8,9.. Ga sampai hitungan ke sepuluh. Darren membalikkan badannya, dan membalas pelukan gw. Lalu dia melumat bibir gw, dan gw membalas ciumannya dengan bernafsu. Sesaat kemudian, badan kami sudah sama-sama polos. Kami terus dan terus… terbawa arus liar libido kami. Kami larut dalam gelora nafsu. Kami tak terhentikan saling memberi kenikmatan.

Gw dan Darren ga peduli keberadaan Leon. Gw tau banget, Leon sebenernya ga tidur. Dia terbangun mendengar desahan-desahan nafas gw dan Darren. Sesekali terlihat dia menyaksikan aksi kami, lewat cermin yang ada dihadapannya. Ah, peduli setan!!! he he he… Yang penting asyiiiiiikkk wakakakakaka….
Adzan subuh berkumandang, terdengar sayup bersahut-sahutan di kejauhan.
“Bang, udah subuh neh, orang-orang udah pada bangun... Lagian ga enak sama Leon…” Bisik Darren.
“Ohh… Ya udah, kita lanjutkan kapan-kapan aja....” Kata gw.
Lalu kami menghentikan aksi kami... Yup, gw harus menghormati keinginan Darren.
Darren dan gw kembali ke posisi semula. Dia berbalik ke tembok lagi. Dan gw berjuang agar mata gw bisa terpejam. Sementara Leon, ah… gw ga peduli he he he…

Tapi, keadaan itu ga berlangsung lama… gw merasakan ada hembusan nafas tersenggal-senggal di tengkuk gw. Kemudian gw merasa ada tangan yang memeluk gw dari belakang. Ah Darren… Dia menyerang gw, dan pertempuran pun berlanjut he he he…
“Bukannya ….” bisik gw di telinga Darren. Gw sengaja menggantung kalimat gw.
Darren hanya tersenyum nakal, dia menghentikan ocehan gw dengan ciuman panasnya… dia menyumpal mulut gw dengan bibir hangatnya… Kami sudah bener-bener kehilangan kendali.

Gw dan Darren ga peduli dengan tatapan mata Leon yang mengintip aksi kami lewat cermin.
Hari masih gelap. Pagi itu hasrat kami tepuaskan. Tuntas sudah pertempuran kami.
“Leon, punya tissu ga?” bisik gw di telinga Leon.

Leon mengambilkan tissu buat gw dan Darren dengan malas-malasan. Lalau Leon menyodorkan sekotak tissu untuk kami membersihkan diri…

Thanks Leon, Sorry ya gw ga ngajak-ngajak… (bisik gw dalam hati he he he…).
Pertemuan gw dan Darren, ga berhenti sampai disitu. Kami masih saling berhubungan baik sampai sekarang.

Conclusions:
Seringkali logika dan libido ga berbanding lurus… Logika akan kehilangan fungsinya, jika libido sudah pegang kendali… Tapi gw ga menyesalinya. Alias NO REGRETS!!! he he he…

Jumat, 10 Juli 2009

Antara Religi Dan Realita

Sebelum gw mantap memasuki pintu gerbang dunia gay, gw adalah seorang yang lumayan religius. Gw sangat mengenal baik seluk beluk tentang agama yang gw anut sampai titik yang terdalam. Gw juga sangat faham hukum-hukum agama, dan tata cara ibadah yang baik. Ratusan buku tentang agama telah gw lalap, puluhan seminar keagamaan telah gw ikuti. Beberapa jabatan telah gw lakoni. Di tempat gw beribadah, gw termasuk dihormati karena gw adalah seorang aktivis dengan jam terbang gw cukup tinggi.

Namun tepatnya lebih dari 8 tahun yang lalu, sejak gw mengenal dunia gay, secara perlahan namun pasti gw mengalami degradasi keimanan. Aktivitas ibadah keagamaan gw makin menurun dan pada akhirnya berhenti sama sekali. Gw memutuskan buat cuti sementara he he he… Secara iman, gw sangat percaya keberadaan dan kekuasaan Tuhan, tapi disisi lain gw juga ga berdaya menahan gejolak hasrat ke-gay-an gw.

Gw selalu dihantui rasa bersalah setiap gw selesai memuaskan hasrat seks gw. Di satu sisi gw dituntut untuk hidup suci, tapi di sisi lain gw masih berkubang dalam lumpur dosa. Gw ga punya kuasa untuk lari dari kenyataan kalo gw seorang gay.

Dalam agama, kita hanya mengenal kata: Benar dan salah, pahala dan dosa, surga dan neraka, rewards and punishment. Agama juga hanya mengenal area hitam dan putih, ga ada yang namanya area abu-abu. Karena dosa dan kesucian tidak bisa berpadu, gelap dan terang ga mungkin menyatu. Kita ga bisa memilih hidup dalam dunia remang-remang… emangngya di tempat dugem? he he he….

Setahu gw, agama manapun menganggap homoseksual adalah dosa besar. Bahkan menurut agama yang gw anut, seorang pemburit (gay), tidak akan pernah bisa masuk kedalam kerajaan surga.

Antara religi dan homoseksual ga akan pernah ketemu ujungnya. Terdapat dinding tebal yang memisahkan keduanya. Ada jurang yang sangat dalam yang memisahkannya. Keduanya ga mungkin menyatu. Seperti air dan minyak, sampai lebaran simpanse pun tetap ga mungkin bisa disatukan he he he… Di luar negeri nun jauh di sana, ada orang-orang yang berusaha mencari pembenaran sendiri, dengan mendirikan tempat ibadah yang merestui kehidupan gay. Dan melegalkan perkawinan cinta sejenis. Tapi menurut gw, itu adalah perbuatan yang sia-sia. Untuk apa pembenaran dari manusia? Karena kebenaran yang sejati hanya milik Tuhan.

Pada satu titik. akhirnya gw mengambil keputusan untuk berhenti dulu dari aktivitas keagamaan. Gw ga mau terkekang menjadi seorang yang munafik. Gw merasa ga mungkin bisa menjalani kehidupan keduanya secara bersamaan. Dosa dan pahala ga diatur oleh hukum timbang menimbang (apalagi timbangan jengkol he he he…), dimana yang lebih berat itulah yang menjadi hasil akhir. Seperti peribahasa mengatakan: karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Begitu juga, segala usaha kita dalam rangka memperoleh pahala lewat ibadah, akan ternoda dan hancur oleh ‘nila setitik’ dosa homoseksual kita.

Setelah gw menghentikan aktivitas religi gw. Gw merasa menjadi orang yang baru. It’s the real me. Sekarang gw bener-bener merasa bebas dari belenggu rasa bersalah menjadi seorang gay.
Gw mengambil keputusan ini, bukan dengan maksud untuk euforia, berbuat semau gw menentang hukum Tuhan. Untuk sekarang ini gw hanya ingin menjalani kehidupan gay gw dengan tenang, tanpa rasa bersalah, tanpa dikejar-kejar rasa berdosa.

Gw yakin, suatu saat gw pasti menemukan titik jenuh. Dan disitulah saatnya gw untuk bertobat dan fokus untuk menebus dosa-dosa yang telah gw perbuat. Kemantapan dalam mengambil keputusan untuk bertobat harus bener-bener bulat. Kalo nanti Tuhan memberi gw kesempatan untuk bertobat. Gw pengen tobat yang bener-bener tobat, yang ga akan menengok kembali kearah belakang, tapi mantap menatap masa depan. Sekali lagi, TOBAT bukan TOMAT (tomat = tobat… kumat… tobat… kumat… tobat… kumat he he he…).

Hari minggu, 5 Juli 2009 kemaren. Gw nengok ibu teman gw, yang sedang dirawat di Rumah Sakit Immanuel, Bandung. Dia baru menjalani operasi pengangkatan batu empedu. Gw melihat ibu teman gw masih terkulai lemah dan kesadarannya belum bener-bener penuh, dia masih dalam pengaruh obat bius. Selain gw dan temen gw, disitu juga ada kakak temen gw.
“Ma, ini ada yang datang”. Kata temen gw ke ibunya.
“Tante, gimana? Udah baikan?”. Tanya gw.
Dia hanya tersenyum lemah, sambil menahan rasa sakit. Gw menyalami tangannya.
“Ma, tau ini siapa?”. Sahut temen gw, sambil menunjuk kearah gw.
“Farrel…”. Jawabnya, setelah berpikir beberapa saat.
Suasana hening... tanpa kata, tanpa suara.
“Farrel, tolong doain mama gw ya…” pinta temen gw.

Gw tersentak dalam hati, aduh!!! gw kan sudah lama ga pernah berdoa!!!… sudah lama gw ga pernah menghadap Tuhan. Gimana nih?... perasaan gw berkecamuk. Gw dikasih kehormatan untuk memimpin doa, tapi gw merasa ga enak hati melakukannya. Mungkin temen gw menyangka kalo gw masih sereligius kaya dulu. Tapi ah sudahlah…

Kata demi kata meluncur dari mulut gw, berbait-bait doa termohonkan. Ah…ternyata gw masih lancar dan fasih memanjatkan kalimat-kalimat doa… Setelah doa usai, gw melihat binar rasa terimakasih dari sorot mata temen gw dan kakaknya.
Lagi-lagi… gw kembali merasa jadi orang munafik…

Conclusions:
Doa yang tulus, sekalipun keluar dari mulut orang yang kotor. Gw sangat yakin, Tuhan pasti masih mau mendengarnya…

Rabu, 01 Juli 2009

Tertangkap Basah

Bandung, 19 Desember 2003
Seperti biasanya setiap weekend gw nginap di tempat kost Troy, my first love. Mulai Sabtu siang sampai hari minggu malam gw menemani Troy. Kami selalu menghabiskan waktu bersama dengan bermesraan sepanjang hari, sepanjang waktu… Sering kami menghabiskan hari tanpa keluar kamar. Berdua saja tanpa pakaian… Hanya cinta dan kehangatan yang menyelimuti tubuh polos kami. Mulai petang, hingga rembang tengah hari kami bergumul dalam lautan asmara. Tanpa rasa jenuh ataupun bosan, kami saling menyemai cinta dalam indahnya hari-hari kami… (wuiiihhh romantis amat neh he he he…).

Gw inget hari itu, Sabtu siang pukul 11.00. Gw dan Troy lagi ngobrol berdua sambil melepas kangen, maklum gw dan Troy ga bisa ketemu tiap hari. Tapi ada yang bikin kemesraan kami terganggu dan tertunda. Penyebabnya adalah kedatangan sahabat Troy, namanya Daniel. Daniel nimbrung dan ngobrol bareng dengan kami. Yup, gw dan Troy ga bebas lagi neh… coz ga mungkin kami bermesraan di depan Daniel, selain risih tentu saja karena Daniel straight, dan dia ga tau kalo gw dan Troy punya hubungan khusus.
Waktu berjalan terus. Ga ada tanda-tanda Daniel mau pamit pulang… hmmmhhh sungguh menjengkelkan. Tapi kami ga bisa berbuat apa-apa, selain harus sabar menunggu kepulangan Daniel. Jam menunjukkan pukul 16.00, tapi Daniel masih tetep asyik merecoki kami. Kekecewaan nampak dari raut wajah Troy, dia kesal karena Daniel ga pergi-pergi dari hadapan kami.

Pukul 22.00 Daniel masih belom pulang juga. Sudah banyak topik obrolan yang kami bahas, sudah banyak makanan yang sudah Daniel habiskan. Tapi tetap dia ga pulang-pulang. Ujung-ujungnya dia bilang:
“Troy, malam ini gw tidur disini ya?”
Busyet!! Bakalan hancur acara gw dan Troy malam ini, gw menggumam dalam hati.
“Wah kayanya ga bisa, Daniel. Sekarang kan lagi ada Farrel, mau tidur dimana? Kasur gw kan kecil”. Sahut Troy.
“Ah, nyantai aja… gw tidur di lantai juga gpp kok”. Daniel keukeuh.
“Mendingan loe tidur ke kostan loe aja, lagian ga jauh juga kan?” Troy mencoba bermuslihat.
“Ga ah males, udah malam”.
“Hmmmhhhh…”. Troy hanya bisa menggumam, kehabisan akal.

Akhirnya malam itu kami bertiga ngobrol sampai tengah malam. Mungkin karena kehilangan kesabarannya, akhirnya Troy beranjak pergi.
“Gw mau ngerjain tugas di luar…” Gumamnya, dengan malas. Troy keluar kamar sambil membawa setumpuk buku. Gw ngerti banget, Troy kesal harus menahan hasrat kami yang tertunda.

Pukul 02.15, Daniel sudah nyenyak dalam buaian mimpi. Gw keluar kamar, menghampiri Troy yang sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Gw mendekat lalu duduk di sofa beludru coklat disebelah Troy. Troy tersenyum menyambut kedatangan gw.
“Masih bete ya?” gw menggoda.
“Udah ga kok”. Dia sudah cooling down.
“Beneran…?” tanya gw, usil.
“Iyaaaa..!!” mata Troy mendelik sambil mencubit perut gw.
Lalu kami berciuman, melepas rasa kangen yang sudah tertunda sejak siang tadi. Gw melumat bibir merah mudanya. Troy tak kalah garang.
“Udah ah… takut ketahuan orang”. Sahut gw.
“Ga bakalan! semua pasti udah pada tidur kok. Nyantai aja”. Troy ga peduli.
Ciuman kami makin panas.
Nafas kami tersenggal-senggal, seakan berlomba-lomba dengan degup jantung kami yang makin kencang. Troy makin tak terkendali, dia mulai meraih ritzleting celana gw.
“Jangan kebablasan Troy…” Sahut gw mengingatkan.
“Tenang aja ga ada siapa-siapa kok”. Troy mengerling nakal.

Akhirnya gw pasrah waktu Troy memelorotkan celana gw sampai lutut. Gw rebah di sofa beludru coklat. Troy dengan bernafsu, melumat organ vital gw. Terus dan terus dia mengoral gw… seakan-akan dia ga ingin menyia-nyiakan setiap detik yang berlalu. Tiba-tiba kami dikejutkan sesosok cewek yang berdiri tertegun, dia nampak shock melihat apa yang terjadi dihadapannya.

Gw dan Troy tak kalah kagetnya. Yang cepat tersadar dari situasi ini adalah cewek itu,. Dia segera berlalu dengan langkah cepat menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan bunyi berdebum. Gw segera memakai celana gw. Wajah Troy masih terlihat pucat, ga siap rahasianya terbongkar. Cewek itu kemudian keluar dari kamar mandi, berlari kecil menuju kamarnya lagi. Dia bertingkah seolah-olah tidak melihat kejadian apa-apa. Dia berlalu tanpa melihat ke arah kami.

Cewek itu adalah Astrid, penghuni ruangan di sebelah kamar Troy, sekaligus teman kuliah Troy. Gw sudah lama tau, kalo Astrid itu naksir berat sama Troy. Astrid sering terlihat berusaha mencuri perhatian Troy, dengan berbagai cara. Dan sekarang? Dia sangat shock memergoki cowok idolanya ternyata seorang gay. Sorry, Astrid… Loe mencintai orang yang salah.

Conclusions:
Jadi inget lagu Meggy Z: Terlanjur basah… ya sudah mandi sekali… wakakakaka... Gw malu, tapi mau gimana lagi? Ga ada yang perlu disesali, coz waktu ga mungkin diputar kembali. Let’s be gone be by gone! Yang jelas gw bakal lebih berhati-hati memilih tempat untuk bermesraan he he he…

Senin, 22 Juni 2009

Setengah Hati

Akhir 2004, pertamakali gw ketemu dan mengenal Tezar. Hmmmhhh… biasalah perkenalan klasik kaum gay. Yup! dari chatting. Gw dan Tezar sama-sama chatting di daerah Buahbatu-Bandung, tapi beda warnet. Setelah ada kecocokan kami janjian untuk langsung ketemu malam itu.

Malam sudah larut… (kaya gula diseduh air aja ya he he he…). Jarum jam tangan gw menunjukkan pukul 11.18. hmmmhhh memang sudah terlalu malam untuk ketemuan. Gw menunggu, ditempat yang kami janjikan sambil duduk di jok sepeda motor kesayangan gw. Setelah 10 menit nunggu, dari jauh terlihat sesosok tubuh tinggi berbalut pakaian serba hitam (loe pikir yang datang ninja ya? he he he…). Akhirnya sosok itu mendekat, dan terlihatlah seorang pemuda tampan berpostur sedang. Gw mengulurkan tangan, sambil memperkenalkan diri:
“Farrel.”
“Tezar.” Sahutnya mantap.
“Lama nunggunya ya?” tanyanya.
“Lumayanlah…” jawab gw.
“Ngobrolnya jangan disini ya, ga enak dilihat orang” sahut Tezar
“Sekarang sudah malam, kita mau kemana gitu?” tanya gw.
“Gimana kalo ke kost-an aku aja?” Tezar menawarkan.
“Oke”. Jawab gw.

Gw dan Tezar berboncengan menuju kost-an Tezar di daerah Jl. Logam, lumayan agak jauh dari pusat kota.
Setelah di kost-an Tezar kami ngobrol ngalor ngidul. Menceritakan tentang latar belakang dan kegiatan kami sehari-hari. Dari obrolan itu, gw jadi tau kalo ternyata Tezar adalah seorang model. Gw juga sempet melihat koleksi beberapa majalah remaja milik Tezar, dengan cover bergambar Tezar. Malam itu aku menginap di tempat kost Tezar. Sudah bisa ditebak, malam itu kami ngapain kan? he he he…

Dari awal pertemuan itu, secara rutin dan terus menerus terjadi pertemuan-pertemuan berikutnya.
Secara fisik Tezar itu cakep, sifatnya juga baik, ramah, dan perhatian. Tapi anehnya gw ga punya perasaan cinta sedikitpun sama dia. Padahal dia sudah beberapa kali ngomong, kalo dia jatuh cinta sama gw. Pada dasarnya gw emang typical orang yang ga mudah jatuh cinta. Gw memerlukan proses dan waktu untuk mencintai seseorang. Gw hanya bilang sama Tezar, untuk saat ini gw ga bisa janji apa-apa, kita jalani dulu aja apa adanya. Gw ga mau terpaksa, dipaksa, atau pun memaksakan diri untuk jatuh cinta sama seseorang. Gw juga ga mau menjalin suatu hubungan hanya karena perasaan ‘kasihan’.

Peribahasa mengatakan: “cinta itu tumbuh karena sering bertemu” yang dalam Bahasa Jerman-nya : “witing trisno jalaran soko kulino” he he he… Tapi anehnya, tetap saja gw ga menemukan juga chemistry hubungan gw dengan Tezar. Sebenernya gw kasihan sama Tezar. Tapi gw ga mau pura-pura. Gw ga mau terjebak dalam cinta semu.

Suatu hari, setelah berkeliling mengantarkan Tezar menemui clientnya di daerah kompleks TKI III. Gw dan Tezar mampir di sebuah rumah makan. Setelah menghajar ayam goreng dan kroni kroninya he he he… Tezar membuka obrolan.
“Farrel, ga kerasa ya kita udah kenal hampir 3 bulan”.
“O ya? masa sih?” tanya gw.
“Iya, aku inget banget lho semua detail pertemuan kita”. Sambung Tezar.
“Hmmmhhhh… O ya?” tanya gw lagi.
“Dari tadi O ya, o ya mulu… Oya Koya kali!!”
“Yeee… itu mah Uya Kuya atuh”. Kami pun tertawa.
Lalu Tezar mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya.
“Ini buat kamu Farrel… sengaja aku tulis sendiri khusus buat kamu.”

Gw menerima lipatan kertas itu…
“Ini lyric lagu yang ngegambarin perasaan gw saat ini…” Lanjut Tezar sambil tertunduk. Kelihatan banget kalo dia lagi menahan perasaan yang sedang berkecamuk di hatinya.
Lalu gw membuka lipatan kertas itu, Gw melihat rangkaian kata-kata yang ditulis dengan tinta hijau. Lalu gw membacanya.

SETENGAH HATI
Song By ADA Band

Tertegun ku memandangmu
Saat kau tinggalkanku menangis
Bodohnya ku mengharapmu
Jelas sudah tak kau pedulikan cintaku

Mestinya telah kusadari
Betapa perih cinta tanpa balasmu
Harusnya tak ku paksakan
Bila akhirnya kan melukaiku

Mungkin ku tak akan bisa
Jadikan dirimu
Kekasih yang seutuhnya mencinta
Namun kurelakan diri
Jika hanya setengah hati
Kau sejukkan jiwa ini

Ku hanya terus berharap
Satu hari kau mampu sadari
Tiada yang pernah mengerti
Sepertiku setulus hati mencintamu


With Love... Tezar

Rupanya lyric lagu dari Ada Band.
“Andai saja, kamu bisa mencintai aku… walau cuma dengan setengah hati kamu. Aku rela, dan pasti aku akan sangat bahagia, Farrel.” Suara Tezar tergetar. Dia memalingkan mukanya sambil menggigit bibirnya.
“Ehhmmmm…” Lidah gw kelu. Sumpah! gw ga tau harus ngomong apa.
“Ga perlu kamu jawab Farrel… Aku sudah tau jawabannya… Aku sudah tau perasaan kamu...”. Tezar tersenyum pahit.

Gw hanya menelan ludah, semua kata-kata gw tercekat di tenggorokan gw. Gw jadi merasa sangat berdosa sudah menggantung perasaan orang lain. Tapi gw ga berdaya.
Sejak itu, secara perlahan gw mulai mengurangi pertemuan gw dengan Tezar. Sampai akhirnya gw bener-bener lose contact dengan Tezar. Tapi secarik kertas bertuliskan lyric lagu ‘Setengah Hati’ itu masih gw simpan sampai sekarang… sampai kapan pun…

Malam minggu, 2 Mei 2009 di Amnesia. Ada seorang pemuda yang datang menghampiri gw.
“Hi, Farrel… masih ingat aku?” sapanya.
Mata gw melirik, dan terkunci pada sosok itu. Tezar.
“Eh Tezar… ya pasti ingetlah…” jawab gw yakin.
“Kamu masih cakep, masih sama kaya dulu”.
“Ah kamu bisa aja, aku udah tambah tua, Tezar…” jawab gw.

Lalu Gw dan Tezar larut dalam obrolan, ga peduli musik yang menghentak-hentak di sekeliling gw . Khayal gw seakan terbang lagi alam kenangan hampir 5 tahun yang lalu.
Ga banyak yang berubah dalam diri Tezar. Masih cakep, masih baik, masih ramah. Dia masih sama. Sama seperti perasaan gw padanya. Ga ada yang berubah.

Conclusions:
Biarkan cinta itu mengalir. Biarkan dia menemukan muaranya. Jangan pernah mencoba untuk memaksakan cinta. Karena cinta itu ikhlas tak menuntut balas…

Minggu, 14 Juni 2009

Memberi Suara Pada Yang Bisu

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Sabtu, 13 Juni 2009

Kucing Terselubung

Akhir-akhir ini gw males dan jenuh chatting di channel #gxx, MIRC… selain orangnya itu-itu aja, orang-orangnya sering menyebalkan, sex oriented atau malah money oriented, jual diri di dunia maya weeekkks!!! Swear!!!… ada yang terang-terangan pasang tarif ada juga yang terselubung… hmmmhh… Memang sih ga semuanya yang chat di #gxx kaya gitu… Tapi tetep gw lebih suka chat di YM, Skype atau FB aja.

Malam itu gw lagi iseng chat di channel #gxx, seperti biasa gw langsung tertarik dengan nickname yang ‘eyecathing’ buat penyuka brondong kaya gw, bdg-first_time. Gw langsung membuka percakapan:
nickname_gw : “hi”
bdg-first_time :”hi 2”
bdg-first_time :”asl plz”

nickname_gw :”32/170/65
nickname_gw : “u”
bdg-first_time : “20/172/58”
bdg-first_time :nama/dmn?

nickname_gw : ……… di ……. (rahasia he he he…)
nickname_gw : “u”
bdg-first_time : “adit/dago” (di chatting banyak banget yang namanya Adit ya? he he he…).
nickname_gw : “beneran nih first time? belom pengalaman sama sekali?”
bdg-first_time : “iya beneran kok”
Dan bla bla bla…percakapan yang panjang dan standar dalam dunia chatting. Dari percakapan itu, gw dapat informasi kalo dia itu ngakunya: model, kuliah di bandung, B (first time kok tau kalo dirinya bot? he he he…) , dan lain sebagainya. Tak lupa kita pun trade pic. Kalo di lihat wajah sih ga terlalu istimewa… tapi lumayan bin biasa ajalah he he he…

Percakapan pun belanjut lebih panjang lagi…
bdg-first_time : “ketemuan aja yuk?”
nickname_gw : “ayo aja”
nickname_gw : “dimana?”
bdg-first_time : “simpang dago”
nickname_gw : “oke”
nickname_gw : “emang kita mau kemana dan ngapain?”
bdg-first_time : “ke kostan aku aja”
nickname_gw : “siiip”
nickname_gw : “tapi beneran kamu mau ‘nyoba’ untuk pertama kali sama gw?”
bdg-first_time : “ya tergantung”
nickname_gw : “tergantung apanya neh?”
bdg-first_time : “tergantung yang kamu kasih”
nickname_gw : “maksudnya… duit?”
bdg-first_time : “masa gitu aja ga ngerti”
nickname_gw : “ooohhh…”
nickname_gw : “berapa gitu?”
bdg-first_time : “500rb”
nickname_gw : “hmmmhhh…”
bdg-first_time: “ya udah 300rb aja”
nickname_gw : “sorry, gw ga biasa beli sex”
bdg-first_time : “kenapa?”
nickname_gw : “lagian yang merasakan enaknya juga bareng-bareng, bukan gw doang”
bdg-first_time : “keliatan kok dari tampang kamu juga, loe tuh suka yang gratisan”
nickname_gw : “maksudnya?”
bdg-first_time : “tampang loe tampang orang miskin” (mulai menghina)
nickname_gw : “o ya?”
nickname_gw : “gw lebih menyukai hubungan yang memakai perasaan dibandingkan transaksi sex doang”
bdg-first_time : “bilang aja ga mampu bayar!!!” (makin kurang ajar)
bdg-first_time : “orang miskin mau enaknya doang!!!”
nickname_gw : “kl gw mau, gw bisa bayar lebih dari yang loe minta, tapi gw ga sudi!!!”
bdg-first_time : “kalo miskin, ngaku aja miskin… kasian dech loe!!!” (makin melecehkan)
nickname_gw : “yang pengen dibayar tuh siapa? Jadi yang miskin itu siapa? secara logika juga loe dong yang jual diri!!!” (emosi gw terpancing)
bdg-first_time : “enak aja”
nickname_gw : “LOE TUH YANG MISKIN, GA PUNYA KERJAAN, MAKANYA LOE JADI PELACUR!!!
nickname_gw : “DARI FOTO-FOTO LOE JUGA GW TAU DARI KALANGAN MANA LOE BERASAL!!!”

Setelah itu dia diam, ga mampu berkata-kata lagi. Gw tau dia masih online tapi ga mampu membalas kata-kata gw yang tajam kena sasaran. Wuiiiihhh Yes !!! Yes!!! Yes!!! Rasain loe!!! Ha ha ha…


Conclusions:
Ah ternyata kucing. Ngakunya kucing anggora, padahal cuma kucing kampung, budukan lagi he he he… mendingan masukin ke karung aja trus bantingin ke tembok wakakakakaka… meoooookkkk!!!