Tampilkan postingan dengan label perceraian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perceraian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Agustus 2011

Justin

Sudah hampir  tiga jam aku duduk sendiri di kantin sekolah, ditemani segelas es teh manis buatan Bu Darmi. Kupandangi butiran embun di bagian luar gelas es teh manisku  yang masih utuh karena belum kureguk sedikitpun. Anak-anak berseragam putih abu  yang sedari tadi ramai berlalu-lalang dan menimbulkan suara hiruk pikuk, kini mulai lengang, karena sudah 3 jam yang lalu bell tanda bubar sekolah menjerit-jerit memekakan  telinga. Sesekali masih terlihat pengurus OSIS melintas di luar sana. Mereka tengah sibuk mempersiapkan acara pentas musik di sekolahku.
            
           Pikiranku menerawang jauh ke masa laluku. Empat tahun yang lalu. Ya, empat tahun yang lalu. Masih segar tergambar di mataku.  Masih terekam jelas di memory otakku. Hari itu adalah hari terakhir aku merasakan kebahagiaan. Karena  hari itu keceriaanku seakan direnggut paksa oleh kepergian Papaku.

Kalau kematian yang memisahkan kami, mungkin aku masih bisa terima, dan perasaanku tidak akan tercabik-cabik seperti ini. Yang membuatku geram adalah karena Papa pergi meninggalkan aku dan Mamaku demi seorang perempuan muda yang bernama Tante Miranda. Aku kesal, benci, jijik terhadap mantan sekretaris Papaku itu, karena ia telah merampas kebahagiaan keluarga kami. Terlebih aku benci pada Papaku yang tidak becus mempertahankan kesetiaan cintanya pada Mamaku.
           
           Sebagai anak tunggal, aku terbiasa mendapat curahan perhatian dan kasih sayang yang penuh dari kedua orangtuaku. Dan sejak saat itu aku harus mulai membiasakan diri hidup seadanya berdua dengan Mamaku yang terpaksa menjadi single parent. Waktu itu aku masih duduk di kelas dua SMP. Saat itu aku masih memerlukan perhatian, kasih sayang, dan  biaya yang tidak sedikit untuk mengongkosi sekolahku. Tapi apa mau dikata, Papaku kabur dari tanggung jawab demi mengejar kesenangannya sendiri. Dasar egois!!!
            
          Aku tak pernah habis pikir, kenapa semua itu bisa terjadi pada Papaku yang sangat alim dan aktif dalam pelayanan di gereja. Sejak saat itu, perasaan banggaku pada Papa telah berubah menjadi kebencian yang merasuk di hatiku dan menjalar  sampai ke dalam sum-sum terdalam dari tulang-tulangku.
           
       Yang tidak pernah ku mengerti, mengapa Mama hanya berdiam diri saja dicampakkan oleh Papku. Tidak ada sumpah serapah dari mulutnya. Tidak ada gugatan cerai darinya. Apakah karena Mama terlalu cinta sama Papa sehingga ia tidak mau melakukan semua itu ? Mama adalah wanita tersabar dan berhati lembut  yang pernah kulihat. Ia selalu menasehatiku : Jangan takut !, kita masih punya  Tuhan Yesus yang mengashi kita.
“Belum pulang, nak Rio?”
Suara alto Bu Darmi membangunkanku dari lamunan.
“Ya Bu, lagi suntuk nih.”
“Sudah sore lho, hampir jam 5. Nanti ibu nak Rio kuatir karena anaknya nggak pulang-pulang.”
“Mmmhh… Kantinnya mau ditutup ya Bu?”
“Ya sih… tapi nggak apa-apa kalau nak Rio masih betah duduk-duduk di sini.”
Kasihan Bu Darmi yang jadi korban. Gara-gara aku melamun memikirkan masalah-masalahku di kantinnya, ia jadi telat pulang.
Pandangan Bu Darmi beralih kepada es teh manisku yang kini sudah tidak dingin lagi.
“Minumnya mau diganti nak Rio ?”
“Makasih. Nggak usah Bu, saya sudah mau pulang kok.”
                                                                    
                                                                ******

             Walau aku sudah bertengger di punggung sepeda motorku yang melaju kencang, tapi bayangan masa laluku masih terus berkecamuk di otakku.
           
          Kutelusuri jalanan tanpa tujuan yang pasti. Aku berputar-putar dengan sepeda motorku menjelajahi Kota Bandung yang kini mulai diterangi oleh kerlip lampu-lampu kota, karena hari sudah beranjak senja. Aku nggak ngerti… Aku nggak tahu… Akan  kemana aku???  Aku nggak ingin pulang. Aku ingin menjauh dari masalah-masalah yang menjeratku.
           
          Saat kulihat komunitas anak punk yang berkeliaran di sekitar Jl. RE Martadinata lengkap dengan atribut dandanan mereka, aku merasa iri. Mereka bisa bebas mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kemauan mereka dengan cara mereka sendiri. Aku cemburu dengan kebebasan mereka. Tuhan, aku ingin bebas!!!
           
         Tanpa kusadari aku dibawa oleh sepeda motorku menelusuri kelokan-kelokan Jl. Setiabudi . Gila! Mau kemana aku? Mau ke Lembang? Malam-malam begini? Sendirian? Ah… aku sudah tidak peduli lagi. Pokoknya aku harus jauh dari rumah!

"Senyap Dalam Nyenyak"
( foto lama hasil jepretan gw dari balkon rumah )
            
          Jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kiriku bercicit riang. Rupanya sudah jam 8 malam. Kuhampiri sebuah kios, lalu kupesan  jagung bakar dan teh panas untuk sekedar mengganjal perutku yang mulai bernyanyi dengan nada-nada fals tidak beraturan.
            
          Aku teringat masa-masa sulit sepeninggal Papaku. Mama harus berjuang memeras keringat untuk bisa menghidupiku, karena Papa sudah tidak peduli pada  kondisi ekonomi kami yang morat-marit. Mama memang wanita pekerja keras yang tak kenal kata menyerah. Ia membuka warung nasi kecil-kecilan demi menyambung hidup kami berdua. Berkat Kasih Tuhan Yesus dan  kerja keras Mama, akhirnya warung nasi kami kini telah berubah menjadi sebuah rumah makan yang lumayan besar.

Kesuksesan usaha Mama tidak didapat semudah mengedipkan mata ataupun membalikkan telapak tangan. Mama harus ekstra menguras tenaga dan pikiran. Mama harus bangun saat pagi buta dan baru bisa tidur setelah larut malam. Kadang aku melihat Mama meneteskan air mata saat ia sendiri di kamarnya. Bila melihat Mama menangis seperti itu, hatiku terasa perih seperti diiris-iris. Lamunanku buyar dikagetkan oleh bunyi Handphoneku. Oh… rupanya Mama mencariku karena aku nggak pulang-pulang. Sudah lebih dari duabelas kali ia menelponku, tapi tak kuangkat. Kumatikan Handphone-ku. Maaf Ma, aku lagi ingin sendiri. Aku nggak ingin pulang. 

Deru suara knalpot kendaraan yang melintas dan pasangan muda-mudi  yang tertawa ceria menikmati malam minggu mereka di Lembang, sedikitpun tak menggangguku. Hatiku galau. Hatiku gundah. Hatiku tetap sunyi. Aku ingin teriak. Aku ingin berontak.

Papa. Papa. Papa. Itulah yang menjadi sumber kekacauan hidupku. Hukuman seberat apapun yang ia terima, tak akan mampu menghapus amarah yang bergejolak di dadaku. Termasuk ketika mobilnya terperosok ke dalam jurang tiga bulan yang lalu. Tante Miranda mengalami pendarahan di otak dan meninggal dalam perjalanan menuju ke  rumah sakit. Papaku mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya. Trauma hebat pada tulang belakang menyebabkan ia lumpuh. Kejadian itu memang pantas ia terima. Ini karma Pa!!! Emosiku terus bergejolak.
Satu-satunya yang luput dari kecelakaan itu adalah anak Papaku dari Tante Miranda yang baru berumur 3 tahun. Adik tiriku!!?? Hah!!! Aku benci anak itu!!!
            
         Aku tidak menghadiri upacara pemakaman Tante Miranda. Aku juga tidak mau menengok Papaku yang kini duduk di kursi roda. Dan aku tak mau melihat adik tiriku. Tak mau dan tak akan pernah!!!
           
          Hanya Mama yang selalu telaten menjenguk Papaku dan anak laki-lakinya. Mereka  tinggal di rumah kontrakan, ditemani seorang baby sitter. Mama tidak mampu mengubah pendirianku yang tak mau bertemu lagi dengan Papaku sejak empat tahun yang lalu. Mama sering menasehatiku agar aku mau memaafkan Papaku. Aku sudah muak. Luka di bathinku sudah parah bernanah. Aku tidak mau melihat Papaku lagi, karena bagiku Papa sudah mati.
           
Lamunanku sampai ke titik puncaknya pada kejadian tadi pagi sebelum aku berangkat sekolah.
Rio, nanti sore Papamu pulang.”
Mamaku berkata lembut.
“Papa? Kenapa mesti pulang!?!  ‘Kan Rio sudah bilang sama Mama, kalau Rio tuh sudah tidak mau melihat Papa lagi.”
Jawabku acuh tak acuh.
“Kasihan Papamu nggak ada yang ngurus. Lagian sekarang adikmu juga sudah nggak ada yang ngasuh, karena Papamu sudah nggak mampu membayar baby sitter."
 “Adik?  Adik dari Hongkong?!?”
Sahutku sinis.
“Sekarang keadaan Papamu lagi susah, Rio. Ia sekarang sudah nggak bisa kerja lagi.”
“Giliran susah sama kita! Giliran senang lari sama wanita lain!!!
Aku berkata dengan geram.
Rio!!! Mama nggak pernah ngajarin kamu kurang ajar!!!" Bentak mamaku. Baru kali ini aku dibentak oleh Mamaku. Dan lagi-lagi penyebabnya adalah Papaku.
“Lagian Mama mau membawa Papa  pulang nggak  kompromi dulu sama Rio!!!”
Nada suaraku makin meninggi.
“Mama sudah lupa bagaimana Papa nelantarin hidup kita? Mama juga  sudah lupa bagimana Papa nyakitin hati kita demi bersenang-senang dengan isteri mudanya?” Lanjutku.
“Kejadian itu sudah berlalu, Rio. Mama sudah lama memaafkan  Papamu.”
Bibir Mama bergetar menahan emosi.
“Pokoknya Rio nggak akan pulang  kalau nanti melihat Papa ada di rumah ini!!!
          
          Aku bergegas pergi sambil meraih tas ranselku. Aku berlari pergi sambil meninggalkan suara berdebum keras dari pintu yang kubanting. Kutancap gas sepeda motorku kuat-kuat. Knalpot sepeda motorku meraung-raung seakan turut memprovokasi kemarahanku. Hanya kepulan asap putih yang tertinggal di pekarangan rumahku. Sementara dari dalam rumah, sayup-sayup kudengar suara Mama yang memanggil-manggil namaku.

         Lama juga aku terpekur di kios jagung bakar itu. Untungnya pedagang jagung bakar itu tidak mengusirku yang duduk terlalu lama di kiosnya. Sudah hampir jam 11 malam. Aku beranjak pergi. Sekarang keadaanku kembali sama dengan 6 jam yang lalu. Mengendarai sepeda motorku tanpa tujuan yang jelas.
           
           Tuhan, mengapa semua ini terjadi? mengapa masalah ini datang di saat kehidupanku mulai tenang? Ah, aku tak habis pikir. Aku protes kepada Tuhan.
            
          Aku melintas di Jl. Merdeka  yang keadaannya sudah sepi. Laju sepeda motorku tertahan oleh lampu merah. Aku melihat beberapa anak jalanan yang masih berkeliaran dengan baju kumalnya. Kasihan mereka harus berjuang sendiri untuk mencari makan. Sementara di pojok trotoar dekat bak sampah, aku melihat seorang bapak berperawakan kurus tidur meringkuk melawan dinginnya malam dengan selembar kertas koran. Kehidupan ini memang kejam, pikirku. Mereka kekurangan didekat tempat orang-orang menghamburkan uang. Mereka kelaparan diantara deretan rumah makan siap saji. Sungguh ironis.
            
          Kuputuskan untuk menginap di tempat kost sahabatku Daniel. Saat kuketuk pintu kamarnya, tanpa menunggu lama ia langsung membukakan pintu. Rupanya ia baru selesai mengerjakan PR Bahasa Inggris.
“Elo dari mana malam-malam begini? Masih pake seragam pula.”
“Abis keluyuran. Gua lagi Bete nih!”
Sahutku asal.
“Butuh tatih tayang…?”
Candanya sambil nyengir kuda.
            
          Aku hanya terdiam dengan roman muka dingin. Daniel buru-buru mengubah sikapnya. Ia menyadari kalau aku  lagi sungguh-sungguh. Daniel memang sahabat yang tahu betul karakterku. Walau aku sudah bersahabat lama dengan Daniel, aku tidak pernah menceritakan masalah keluargaku padanya. Aku selalu menutup rapat-rapat masalah ini.  Karena masalah ini adalah aib bagiku. Cukup lama Daniel mendengarkan ceritaku. Daniel yang sedari tadi tidak banyak bicara dan hanya sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia berkata:
“Gua bisa ngerti kalo elo marah. Gua juga bisa faham kalo elo susah maafin  bokap elo. Tapi yang jadi masalah, elo nggak berhak jadi hakim atas perbuatan bokap elo.”
“What’s mean?”
“Kita nggak berhak menjatuhkan vonis benar atau salah sama orang lain.”
“Termasuk sama bokap gua yang jelas-jelas sudah mengacaukan keluarga gua?”
Yap! Hanya Tuhan yang berhak menghakimi perbuatan manusia. Karena Tuhan menilai perbuatan manusia tanpa melibatkan emosi, dendam dan sakit hati.”
            
          Aku berpikir, mungkin juga aku telah memvonis Papaku bersalah karena aku dendam padanya, karena ia lebih memperhatikan isteri muda dan anak laki-lakinya dari pada aku dan Mamaku. Aku dendam karena Tante Miranda dan anaknya telah merampas kasih sayang dan perhatian Papaku yang seharusnya menjadi hakku.
“Jadi menurut elo, gua yang salah?”
Tanyaku.
“Dalam hal ini, nggak ada yang sepenuhnya salah, dan nggak ada yang sepenuhnya benar.”
“Maksud elo?”
“Elo ada sisi benarnya tapi juga ada sisi salahnya.”
“Termasuk bokap gua ?”
“Exactly !”
“Lantas,  gua harus gimana?”
“Menerima semua kejadian ini dengan tulus sebagai jalan yang sudah Tuhan rancangkan bagi hidup elo.”
          
          Aku heran kenapa kata-kata Daniel terasa sejuk dan bisa membukakan mata hatiku. Padahal selama ini biasanya  kalau kami bertemu paling-paling cuma bercanda. Ah, aku mengerti. Mungkin inilah yang disebut dengan jalan Tuhan yang sering tak terselami pikiran manusia.
“Menurut elo apa yang harus gua perbuat sama anak Tante Miranda?”
“Adik elo, maksudnya?”
“Unfortunately yes. Ya… adik tiri gua.”
“Adik, ya adik. Jangan diembel-embeli lagi. Karena bagaimanapun juga dia adik elo, walau lain ibu.”
“Jadi?”
“Sayangi dia sepenuh hati, seperti elo nyayangin diri elo sendiri. Karena dalam hal ini adik elo nggak salah, dan dia nggak ngerti apa yang terjadi.”
            
          Aku merasa jadi orang paling egois sedunia.  Aku orang yang aktif pelayanan di gereja, tapi tidak bisa memaafkan Papaku. Bagaimana mungkin aku bisa mengampuni orang lain kalau aku sendiri tidak bisa mengampuni Papaku. Bagaimana mungkin aku bisa mengasihi orang lain kalau aku  nggak bisa mengasihi adikku sendiri, yang jelas-jelas masih sedarah denganku.
“Elo benar, Niel.”
Nafasku tertahan.
“So, sekarang elo mau gimana?”
“Gua mau pulang. Tapi…..”
“Apa lagi?”
“Gua malu…..”
“Ngapain harus malu? Jangan pernah malu untuk memulai sesuatu hal yang baik. Nggak ada kata terlambat untuk berubah.”

                                                                  ******

         Hari masih pagi saat kupijakkan kaki turun dari sepeda motor di pekarangan rumahku. Aroma bau tanah tercium hidungku, pertanda Mama belum lama menyiram tanaman kesayangannya.
“Kak Rio!!!”

          Aku berpaling kearah datangnya suara. Rupanya suara itu datangnya dari mulut seorang anak kecil.  Anak kecil yang bermata bulat, berkulit putih dan berambut ikal  kecoklatan. Aku yakin dia itu Justin adikku. Tapi dari mana ia tahu aku ini kakaknya?   Mungkin Papa atau Mamaku yang bercerita padanya tentang aku, sambil memperlihatkan foto-fotoku.

Aku tidak pernah bertemu dengan Justin tapi aku merasa tidak asing melihatnya. Demikian juga Justin, ia juga sepertinya tidak takut melihat aku, orang yang tidak pernah kenal dengannya. Mungkinkah ini yang dinamakan ikatan bathin persaudaraan kami?

Aku merasa jadi orang paling munafik kalau aku nggak bisa sayang pada anak selucu dia. Aku yakin semua orang yang melihatnya, pasti akan suka padanya.

Kuhampiri dia. Kubelai rambutnya. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Senyuman yang mengandung makna, makna yang tak pernah bisa  kuungkapkan dengan kata-kata. Sesaat mataku nanar oleh suasana haru. Kupeluk dia erat-erat sambil berkata dalam hati: "Justin, maafkan kakak...".

                                                                
                                                                  TAMAT


Catatan: Cerpen ini gw tulis lebih dari 15 tahun yang lalu. Filenya ga sengaja gw temukan ada di komputer yang udah lama jadi penghuni gudang. Komputer itu kemarin dikeluarkan lagi dengan maksud  untuk dicek terlebih dahulu sebelum diberikan buat sodara. Naskahnya sengaja tidak diedit lagi, semuanya masih sama dan apa adanya...

Conclusion:
Berhentilah menyalahkan orang lain dan takdir Tuhan. Cobalah untuk memahami dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Hidup dengan cinta akan jauh lebih bermakna dibandingkan dengan hidup menyimpan amarah dan dendam... 
                     

Rabu, 09 Maret 2011

Perjodohan Bodoh

Setiap orang punya impian untuk hidup bahagia. Salah satunya bahagia dalam membina rumah tangga. Ngomongin tentang berumah tangga tentu saja ga bisa lepas dari masalah jodoh. Jodoh memang gampang-gampang susah. Kelihatannya sesuatu yang simple tapi pada kenyataannya sangat rumit. Bagi seseorang mungkin mudah sekali mendapatkannya (hingga bisa kawin cerai berkali-kali), tapi bagi yang lain merupakan hal yang teramat sulit.

Kesulitan mendapatkan jodoh ga selalu karena kualitas kita dibawah standar (buruk rupa, miskin, cacat, penyakitan, ga berpendidikan, berwatak buruk dll). Tapi semua semata-mata karena kita belum menemukan pasangan jiwa kita. Entah cuma masalah waktu, atau sudah kehendak dan rahasia Ilahi.

Banyak cara untuk menemukan pasangan hidup kita. Salah satunya lewat perjodohan. Gw sendiri beberapa kali menolak untuk dijodohkan, dengan alasan gw mampu mencari sendiri. Padahal bukan perempuan-perempuan sembarangan dan buruk rupa yang rencananya dijodohkan dengan gw;  mulai dari pergawai kantoran, guru, anak pemilik toko mas, rohaniawan, pemilik bakery, pimpinan sebuah bank swasta, dosen, dokter, dokter gigi dll. Tapi semuanya ga gw tanggapi serius. Sampai-sampai orangtua, sodara-sodara dan temen-temen gw menyerah menjodohkan gw... Ya iya lah gw tolak mentah-mentah, kecuali kl gw dijodohkan sama cowok cute yang bisa bikin hati gw cenat-cenut he he he...

Tapi lain dengan adik perempuan gw, sebut saja namanya Angel. Beberapa tahun yang lalu, saat umurnya sudah menginjak angka 27 tahun dia ga mampu menolak skenario perjodohan kakak sepupu gw Renata. Renata mengatur semuanya secara elegan dan smooth. Berawal dari pertemuan yang direkayasa seolah-olah tak disengaja antara keluarga kami dengan keluarga Liem, waktu menghadiri sebuah resepsi pernikahan. Mama dihampiri oleh Ibu Liem, yang bercerita tentang putera sulungnya, Sammy, yang belum menikah. Dia telah dilangakahi menikah oleh 2 orang adik perempuannya. Ibu Liem sangat berharap bisa menyatukan 2 keluarga besar kami dalam ikatan pernikahan Sammy dan Angel.

Setelah menimbang-nimbang bibit, bebet, bobot. Didapatlah kesimpulan kalo Sammy berasal keluarga baik-baik dan keluarga yang cukup terpandang  di kota S. Gw hanya menilai Sammy itu terlalu pendiam. Menurut gw orang pendiam seringkali ga ketahuan apa maunya. Angel hanya bilang: ingin saling mengenal dulu. Dan keluarga setuju dengan keputusan Angel. Mulai sejak saat itu, Sammy jadi sering berkunjung ke rumah kami. Sammy dan Angela memasuki masa-masa perkenalan dan yang bisa disebut pacaran selama lebih dari 6 bulan. Seminggu sekali Sammy datang dan mengajak Angel jalan. Angel yang pada awalnya merasa ga sreg dengan Sammy, akhirnya luluh juga melihat keseriusan, usaha dan kerja keras Sammy unutk merebut hatinya.

Setelah dirasa ada kecocokan, lamaran pun akhirnya dilakukan oleh keluarga Liem, dan 6 bulan kemudian diputuskan pernikahan Sammy dan Angel akan dilaksanakan.

Gw sendiri yang merancang detail acara pernikahan adik gw tersayang itu. Mulai dari pemilihan kartu undangan, acara, pengisi acara, dan segala tetek bengeknya. Hanya soal make up, gaun, dan catering yang gw ga terlibat langsung.

Pesta pernikahan pun akhirnya digelar juga di sebuah hotel berbintang di Bandung. Dengan pesta bertema dunia bawah laut, warna biru sebagai warna dasar. mulai dari dekorasi, kue pengantin, acara, sampai dengan cindera mata semuanya berhubungan dengan dunia bawah laut. Kerja keras gw selama berbulan-bulan menjadi Wedding Organizer dadakan terbayar sudah dengan kepuasan bathin gw, melihat pesta pernikahan Sammy dan Angel berjalan dengan sukses dan lancar. Kesuksesan acara itu tidak gw pungkiri salah satunya karena kepiawaian MC-nya. O ya, MC yang memandu acara pernikahan adik gw itu sekarang sudah jadi celebrities terkenal yang honornya selangit. Untunglah saat itu gw bisa meloby dia dengan harga yang sangat ‘bersahabat dan kekeluargaan’ ( karena memang dia masih termasuk kerabat jauh kami he he he...).

Setelah menikah Angel kemudian menetap di kota S bersama keluarga suaminya. Baru beberapa bulan pernikahan, gw  mulai melihat kejanggalan. Angel lebih sering pulang meninggalkan suaminya dan betah berlama-lama tinggal di Bandung, di rumah kami. Lebih dari 1 tahun Angel tinggal di Kota S, disana dia merintis membuka Toko Pakaian.

Ibu Liem kemudian menugaskan Sammy dan Angel untuk memegang salah satu cabang perusahaannya di kota K. Hal itu otomatis mengharuskan Angel tinggal di Kota K. Angel dengan terpaksa menutup Toko Pakaian yang sedang dirintisnya di Kota S. Hampir 2 tahun Angel tinggal di kota K. 2 minggu sekali dia masih suka pulang ke Bandung (lagi-lagi tanpa suaminya) untuk tinggal 2-3 hari di rumah kami.

Semakin lama Angel semakin sering pulang dan bisa berminggu-minggu tinggal di Bandung. Tadinya gw ga mau mencampuri urusan rumah tangga Angel. Dalam satu kesempatan gw mengajak Angel ngobrol dari hati ke hati. Dari situ terungkap semuanya. Ternyata setiap harinya di kota K, Sammy selalu pulang larut malam, tak ada komunikasi, bahkan tidak pernah ‘menyentuh’ tubuh Angel. Angel menyadari kalo dirinya ternyata hanya dijadikan objek penderita oleh Sammy demi menutupi kebobrokannya. Berkali-kali Angel menemukan sms-sms mesra dari orang lain di hp Sammy. Angel juga sempat diteror sms dari nomor-nomor yang tak dikenal, yang mengatakan kalo Sammy itu miliknya, dan Angel telah merusak hubungan dia dan Sammy. Tapi anehnya Sammy keukeuh ga mau bercerai. Dia malah menggantung nasib adik gw dalam ketidak-menentuan.

Kami pun berunding dengan Ibu Liem tentang apa yang terjadi. Demi kebaikan Sammy dan Angel, Ibu Liem menutup perusahaannya di kota K. Maksud hati supaya Sammy tinggal di S dan bisa dikendalikannya, alih-alih malah Sammy menghilang berbulan-bulan pergi entah kemana. Lalu kami memutuskan kalo Angel untuk sementara kami tarik tinggal di Bandung. Tapi sesekali Angel masih boleh ke kota S untuk menengok mertuanya.


Berkali-kali Sammy datang ke rumah ibunya dan kemudian menghilang lagi. Beberapa bulan menghilang kemudian datang lagi untuk meminta uang. Hal yang sama terjadi berulang-ulang selama kurun waktu lebih dari satu tahun.

Gw sering memergoki adik kesayangan gw sedang menangis di kamarnya. Tak terhitung sudah curahan air mata dan doa-doa yang dia panjatkan dalam menghadapi kemelut rumah tangganya. Hal itu semakin menyesakkan dada keluarga kami. Satu titik kesimpulan: semua ini harus diakhiri!

Tanggal 25 Februari 2011 kemarin, setelah sebelumnya mendengar kabar kalo Sammy sedang ada di rumah ibunya. Secara mendadak kami sekeluarga berangkat ke kota S. Dengan didampingi oleh beberapa kerabat yang kami anggap bijaksana, kami pun berembuk.

Awalnya Sammy menolak menemui kami, dia malah menuduh ibunya yang merekayasa kedatangan kami. Akhirnya setelah menunggu sekian lama, kami memaksakan diri masuk ke ruangan tempat Sammy berada. Disana kami meminta kejelasan dan apa yang dikehendaki oleh Sammy. Setelah kami desak akhirnya Sammy mau bicara. Dan gw masih ingat dengan jelas, kata-kata Sammy terekam dalam benak gw:

Sammy : “Saya yang salah!!, saya yang berengsek, saya yang bajingan!! pernikahan ini ga mungkin  dilanjutkan!! Kalo diteruskan Angel yang bakal terus-menerus menderita!!! Kasihan dia.”
Disambung oleh derai tangis menyayat hati ibunya.
Ibu Liem: “Maafkan saya yang tidak bisa mendidik anak ini... Dia jadi kurang ajar gara-gara saya...”
Sammy  : “Sudahlah Mami!! Pokoknya saya mau cerai!!! Sekalipun Mami tidak menganggap lagi saya        sebagai anak, dan mencoret saya dari daftar ahli waris!! Saya tidak peduli!!!
Ibu Liem: “Mami sudah mencoba berkali-kali membawa kamu ke psikiater, tapi kamu tidak mau makan obatnya. Makanya kamu tidak sembuh-sembuh!!!”

Mama, Angel dan kakak-kakak gw terhenyak mendengar perkataan Ibu Liem, yang lagi menahan emosi. Penyakit kejiwaan apa yang ibu Liem maksud??? Semua jadi tanda tanya besar bagi keluarga kami. Tapi buat gw itu adalah masalah yang simple, gw yakin banget kalo Sammy itu PLU alias gay. Sebenarnya gaydar gw sudah menangkapnya dari dulu. Keliatan dari sifat childish-nya, bahasa tubuhnya dan selalu dibawah kontrol ibunya. Dan sekarang yang lebih meyakinkan gw adalah selama 4 tahun lebih dia tidak pernah mau ‘tidur bareng’ dengan Angel.

Setelah berunding, keluarga kami memutuskan: Sammy dan Angel untuk bercerai, dan memberi waktu kepada Sammy untuk segera mengajukan gugatan cerai. Kalo dalam jangka waktu 1 bulan Sammy belum menggugat cerai, maka keluarga kami yang akan mengajukan gugatan.

Perceraian memang sesuatu yang dilarang dalam agama Kristen; “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.” Tapi apa boleh buat? Semoga kasus ini adalah sebuah pengecualian...

Ironis memang, maksud baik untuk ‘sembuh’ dengan menikah melalui perjodohan ternyata malah menggiring orang lain menjadi ‘korban’ keegoisan. Dan korbannya itu adalah Angel, adik gw. Perjodohan bodoh, yang berujung tangis penyesalan dan perceraian. Perjodohan bodoh melukai kami semua. Pernikahan semu dan penuh kepura-puraan merusak hubungan harmonis 2 keluarga besar. Semoga tidak akan ada Angel-Angel lainnya... Semoga!!!

Conclusions:
Berusaha untuk ‘sembuh’ itu baik, bahkan sangat baik!! Tapi kalo merasa ‘tidak mampu’ menjalaninya, lebih baik jangan lakukan. Jangan libatkan orang lain untuk menjadi ‘korban’ pelengkap keegoisan kita.