Tampilkan postingan dengan label realita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label realita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2011

Perjodohan Bodoh

Setiap orang punya impian untuk hidup bahagia. Salah satunya bahagia dalam membina rumah tangga. Ngomongin tentang berumah tangga tentu saja ga bisa lepas dari masalah jodoh. Jodoh memang gampang-gampang susah. Kelihatannya sesuatu yang simple tapi pada kenyataannya sangat rumit. Bagi seseorang mungkin mudah sekali mendapatkannya (hingga bisa kawin cerai berkali-kali), tapi bagi yang lain merupakan hal yang teramat sulit.

Kesulitan mendapatkan jodoh ga selalu karena kualitas kita dibawah standar (buruk rupa, miskin, cacat, penyakitan, ga berpendidikan, berwatak buruk dll). Tapi semua semata-mata karena kita belum menemukan pasangan jiwa kita. Entah cuma masalah waktu, atau sudah kehendak dan rahasia Ilahi.

Banyak cara untuk menemukan pasangan hidup kita. Salah satunya lewat perjodohan. Gw sendiri beberapa kali menolak untuk dijodohkan, dengan alasan gw mampu mencari sendiri. Padahal bukan perempuan-perempuan sembarangan dan buruk rupa yang rencananya dijodohkan dengan gw;  mulai dari pergawai kantoran, guru, anak pemilik toko mas, rohaniawan, pemilik bakery, pimpinan sebuah bank swasta, dosen, dokter, dokter gigi dll. Tapi semuanya ga gw tanggapi serius. Sampai-sampai orangtua, sodara-sodara dan temen-temen gw menyerah menjodohkan gw... Ya iya lah gw tolak mentah-mentah, kecuali kl gw dijodohkan sama cowok cute yang bisa bikin hati gw cenat-cenut he he he...

Tapi lain dengan adik perempuan gw, sebut saja namanya Angel. Beberapa tahun yang lalu, saat umurnya sudah menginjak angka 27 tahun dia ga mampu menolak skenario perjodohan kakak sepupu gw Renata. Renata mengatur semuanya secara elegan dan smooth. Berawal dari pertemuan yang direkayasa seolah-olah tak disengaja antara keluarga kami dengan keluarga Liem, waktu menghadiri sebuah resepsi pernikahan. Mama dihampiri oleh Ibu Liem, yang bercerita tentang putera sulungnya, Sammy, yang belum menikah. Dia telah dilangakahi menikah oleh 2 orang adik perempuannya. Ibu Liem sangat berharap bisa menyatukan 2 keluarga besar kami dalam ikatan pernikahan Sammy dan Angel.

Setelah menimbang-nimbang bibit, bebet, bobot. Didapatlah kesimpulan kalo Sammy berasal keluarga baik-baik dan keluarga yang cukup terpandang  di kota S. Gw hanya menilai Sammy itu terlalu pendiam. Menurut gw orang pendiam seringkali ga ketahuan apa maunya. Angel hanya bilang: ingin saling mengenal dulu. Dan keluarga setuju dengan keputusan Angel. Mulai sejak saat itu, Sammy jadi sering berkunjung ke rumah kami. Sammy dan Angela memasuki masa-masa perkenalan dan yang bisa disebut pacaran selama lebih dari 6 bulan. Seminggu sekali Sammy datang dan mengajak Angel jalan. Angel yang pada awalnya merasa ga sreg dengan Sammy, akhirnya luluh juga melihat keseriusan, usaha dan kerja keras Sammy unutk merebut hatinya.

Setelah dirasa ada kecocokan, lamaran pun akhirnya dilakukan oleh keluarga Liem, dan 6 bulan kemudian diputuskan pernikahan Sammy dan Angel akan dilaksanakan.

Gw sendiri yang merancang detail acara pernikahan adik gw tersayang itu. Mulai dari pemilihan kartu undangan, acara, pengisi acara, dan segala tetek bengeknya. Hanya soal make up, gaun, dan catering yang gw ga terlibat langsung.

Pesta pernikahan pun akhirnya digelar juga di sebuah hotel berbintang di Bandung. Dengan pesta bertema dunia bawah laut, warna biru sebagai warna dasar. mulai dari dekorasi, kue pengantin, acara, sampai dengan cindera mata semuanya berhubungan dengan dunia bawah laut. Kerja keras gw selama berbulan-bulan menjadi Wedding Organizer dadakan terbayar sudah dengan kepuasan bathin gw, melihat pesta pernikahan Sammy dan Angel berjalan dengan sukses dan lancar. Kesuksesan acara itu tidak gw pungkiri salah satunya karena kepiawaian MC-nya. O ya, MC yang memandu acara pernikahan adik gw itu sekarang sudah jadi celebrities terkenal yang honornya selangit. Untunglah saat itu gw bisa meloby dia dengan harga yang sangat ‘bersahabat dan kekeluargaan’ ( karena memang dia masih termasuk kerabat jauh kami he he he...).

Setelah menikah Angel kemudian menetap di kota S bersama keluarga suaminya. Baru beberapa bulan pernikahan, gw  mulai melihat kejanggalan. Angel lebih sering pulang meninggalkan suaminya dan betah berlama-lama tinggal di Bandung, di rumah kami. Lebih dari 1 tahun Angel tinggal di Kota S, disana dia merintis membuka Toko Pakaian.

Ibu Liem kemudian menugaskan Sammy dan Angel untuk memegang salah satu cabang perusahaannya di kota K. Hal itu otomatis mengharuskan Angel tinggal di Kota K. Angel dengan terpaksa menutup Toko Pakaian yang sedang dirintisnya di Kota S. Hampir 2 tahun Angel tinggal di kota K. 2 minggu sekali dia masih suka pulang ke Bandung (lagi-lagi tanpa suaminya) untuk tinggal 2-3 hari di rumah kami.

Semakin lama Angel semakin sering pulang dan bisa berminggu-minggu tinggal di Bandung. Tadinya gw ga mau mencampuri urusan rumah tangga Angel. Dalam satu kesempatan gw mengajak Angel ngobrol dari hati ke hati. Dari situ terungkap semuanya. Ternyata setiap harinya di kota K, Sammy selalu pulang larut malam, tak ada komunikasi, bahkan tidak pernah ‘menyentuh’ tubuh Angel. Angel menyadari kalo dirinya ternyata hanya dijadikan objek penderita oleh Sammy demi menutupi kebobrokannya. Berkali-kali Angel menemukan sms-sms mesra dari orang lain di hp Sammy. Angel juga sempat diteror sms dari nomor-nomor yang tak dikenal, yang mengatakan kalo Sammy itu miliknya, dan Angel telah merusak hubungan dia dan Sammy. Tapi anehnya Sammy keukeuh ga mau bercerai. Dia malah menggantung nasib adik gw dalam ketidak-menentuan.

Kami pun berunding dengan Ibu Liem tentang apa yang terjadi. Demi kebaikan Sammy dan Angel, Ibu Liem menutup perusahaannya di kota K. Maksud hati supaya Sammy tinggal di S dan bisa dikendalikannya, alih-alih malah Sammy menghilang berbulan-bulan pergi entah kemana. Lalu kami memutuskan kalo Angel untuk sementara kami tarik tinggal di Bandung. Tapi sesekali Angel masih boleh ke kota S untuk menengok mertuanya.


Berkali-kali Sammy datang ke rumah ibunya dan kemudian menghilang lagi. Beberapa bulan menghilang kemudian datang lagi untuk meminta uang. Hal yang sama terjadi berulang-ulang selama kurun waktu lebih dari satu tahun.

Gw sering memergoki adik kesayangan gw sedang menangis di kamarnya. Tak terhitung sudah curahan air mata dan doa-doa yang dia panjatkan dalam menghadapi kemelut rumah tangganya. Hal itu semakin menyesakkan dada keluarga kami. Satu titik kesimpulan: semua ini harus diakhiri!

Tanggal 25 Februari 2011 kemarin, setelah sebelumnya mendengar kabar kalo Sammy sedang ada di rumah ibunya. Secara mendadak kami sekeluarga berangkat ke kota S. Dengan didampingi oleh beberapa kerabat yang kami anggap bijaksana, kami pun berembuk.

Awalnya Sammy menolak menemui kami, dia malah menuduh ibunya yang merekayasa kedatangan kami. Akhirnya setelah menunggu sekian lama, kami memaksakan diri masuk ke ruangan tempat Sammy berada. Disana kami meminta kejelasan dan apa yang dikehendaki oleh Sammy. Setelah kami desak akhirnya Sammy mau bicara. Dan gw masih ingat dengan jelas, kata-kata Sammy terekam dalam benak gw:

Sammy : “Saya yang salah!!, saya yang berengsek, saya yang bajingan!! pernikahan ini ga mungkin  dilanjutkan!! Kalo diteruskan Angel yang bakal terus-menerus menderita!!! Kasihan dia.”
Disambung oleh derai tangis menyayat hati ibunya.
Ibu Liem: “Maafkan saya yang tidak bisa mendidik anak ini... Dia jadi kurang ajar gara-gara saya...”
Sammy  : “Sudahlah Mami!! Pokoknya saya mau cerai!!! Sekalipun Mami tidak menganggap lagi saya        sebagai anak, dan mencoret saya dari daftar ahli waris!! Saya tidak peduli!!!
Ibu Liem: “Mami sudah mencoba berkali-kali membawa kamu ke psikiater, tapi kamu tidak mau makan obatnya. Makanya kamu tidak sembuh-sembuh!!!”

Mama, Angel dan kakak-kakak gw terhenyak mendengar perkataan Ibu Liem, yang lagi menahan emosi. Penyakit kejiwaan apa yang ibu Liem maksud??? Semua jadi tanda tanya besar bagi keluarga kami. Tapi buat gw itu adalah masalah yang simple, gw yakin banget kalo Sammy itu PLU alias gay. Sebenarnya gaydar gw sudah menangkapnya dari dulu. Keliatan dari sifat childish-nya, bahasa tubuhnya dan selalu dibawah kontrol ibunya. Dan sekarang yang lebih meyakinkan gw adalah selama 4 tahun lebih dia tidak pernah mau ‘tidur bareng’ dengan Angel.

Setelah berunding, keluarga kami memutuskan: Sammy dan Angel untuk bercerai, dan memberi waktu kepada Sammy untuk segera mengajukan gugatan cerai. Kalo dalam jangka waktu 1 bulan Sammy belum menggugat cerai, maka keluarga kami yang akan mengajukan gugatan.

Perceraian memang sesuatu yang dilarang dalam agama Kristen; “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.” Tapi apa boleh buat? Semoga kasus ini adalah sebuah pengecualian...

Ironis memang, maksud baik untuk ‘sembuh’ dengan menikah melalui perjodohan ternyata malah menggiring orang lain menjadi ‘korban’ keegoisan. Dan korbannya itu adalah Angel, adik gw. Perjodohan bodoh, yang berujung tangis penyesalan dan perceraian. Perjodohan bodoh melukai kami semua. Pernikahan semu dan penuh kepura-puraan merusak hubungan harmonis 2 keluarga besar. Semoga tidak akan ada Angel-Angel lainnya... Semoga!!!

Conclusions:
Berusaha untuk ‘sembuh’ itu baik, bahkan sangat baik!! Tapi kalo merasa ‘tidak mampu’ menjalaninya, lebih baik jangan lakukan. Jangan libatkan orang lain untuk menjadi ‘korban’ pelengkap keegoisan kita.

Kamis, 11 November 2010

House For Sale

Gw ga inget, entah kapan gw pertama kali mendengar lagu ‘House For Sale’. Tapi lagu ini sangat akrab di telinga dan memory gw. Dilantunkan oleh sebuah Grup Band jadul asal Belanda, yang namanya cukup bikin merinding, Lucifer!! Yupz, dalam Bible, Lucifer adalah nama Malaikat kegelapan, malaikat pemberontak yang berubah menjadi cikal bakal iblis. Tapi apalah arti sebuah nama? Yang penting lagunya enak didengar he he he... Warna suara vocalisnya: Margriet Eshuijs, cocok banget membawakan lagu ini. House For Sale, sebuah lagu lama yang masih enak untuk didengar, ‘oldies never dies’...

HOUSE FOR SALE
Song by Lucifer

The sound went up one rainy morning
Just a couple of hours after dawn
Mrs. Hadley Peapped drew her curtains
Wondering what was going on

The neighbor sat over coffee cups
That nice young couple is breaking up

And in the living room the linen and the crystals
Set all packed-up and set to go
I tell myself once more I would be here in spring
To see my roses glow

And all the things you tried to fix
The roof still leaks, the door still sticks

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share

I know you've always loved that painting
From that tinny little shop in Spain
Remember how we found it when we've ducked in
From that sudden summer rain

But I think I'll keep the silver tray
My mother gave us on our wedding day

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share

House for sale
You can read it on the sign
House for sale, oho
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share


Sudah lama rumah itu terbengkalai dan kosong. Rerumputan liar tumbuh tak beraturan dihalaman. Debu menebal dimana-mana dan sarang laba-laba berjuntaian di tiap sudut ruangan. Lebih dari 3 tahun rumah itu ditinggalkan kami. Rumah tempat dimana gw dan sodara-sodara gw dibesarkan. Rumah tempat keluarga kami berlindung dari sengatan matahari, dari dinginnya angin malam, dan dari derasnya air hujan. Rumah tempat keluarga kami bernaung, bercanda, menangis, dan tertawa bersama.
Lebih dari 4 dasawarsa rumah itu menjadi milik keluarga kami. Dan sudah 3 kali mengalami renovasi. Semenjak menikah papa dan mama menempati rumah itu, rumah keluarga kami.

Di tanah seluas 240 meter persegi, rumah itu dibangun. Dulu sekali, waktu gw masih kecil, gw masih inget banget, di pekarangan rumah gw terdapat 2 batang pohon kelapa, 1 pohon nangka, 1 pohon pete, 1 pohon jambu air, 1 pohon belimbing, dan aneka bunga warna-warni, dengan tanaman daun mangkokan sebagai pagar hidup. Tak heran kalo suasana di rumah kami sejuk dan rimbun. Karena usia dan alasan-alasan lainnya, pohon-pohon itu satu per satu ditebang, dan terakhir hanya menyisakan pohon nangka (konon pohon nangka itu ditanam oleh papa persis sewaktu gw lahir).

Rumah itu memang ga terlalu luas, hanya 1 lantai dan memiliki 1 kamar utama dan 4 kamar anak-anak. Tapi kami merasa nyaman tinggal disana.

Sedari kecil gw senang memelihara binatang, dan rumah kami itu sangat memungkinkan gw untuk memelihara binatang-binatang kesayangan gw. Ayam, burung parkit, gelatik, kutilang, merpati, kelinci, marmut, kura-kura, ikan hias dan anjing pernah gw miliki. Tapi dari semua itu hanya ikan hias dan anjing yang paling sering gw pelihara. Sudah 7 ekor anjing yang menghangatkan suasana keluarga kami. Ticky, Della, Jenny, Bella, Bonny, Shiro, dan Scrappy itulah nama anjing-anjing gw. Mereka silih berganti menjadi hewan kesayangan gw. Di rumah, gw hanya diijinkan memelihara 1 ekor anjing saja. Dipelihara mulai dari kecil sampai tua dan mati, lalu diganti dengan anjing lainnya.



Sudah 2 tahun yang lalu, rumah kami dipasangi plang “Rumah Ini Akan Dijual”. Tapi belum juga ada pembeli yang cocok. Kini, setelah hampir 4 tahun Papa meninggal, kami sekeluarga memutuskan untuk menjual rumah itu kepada tetangga kami. Dengan pertimbangan: daripada rusak terbengkalai karena akhir-akhir ini makin sering terendam banjir, akhirnya dengan berat hati kami melepas rumah kami itu ke tangan orang lain. Segala proserdur jual beli dan urusan tetek bengek lainnya sudah kami bereskan. Proses akad jual beli rumah kami pun sudah tuntas.

Beberapa minggu yang lalu, untuk terakhir kalinya gw memasuki rumah itu. Gw mengambil benda-benda milik keluarga gw yang masih tersisa di rumah itu. Ada rasa sesak di dada. Sedih, haru, membuncah bersama sejuta kenangan yang berseliweran di otak gw. Hmmmhhh... Kini rumah itu sudah bukan milik kami lagi...

Lagu ‘House For Sale’, kembali mengalun dari laptop gw menambah suasana hati gw semakin biru dan sendu. Selamat tinggal rumahku tercinta...

Conclusions:
Ada yang pergi, ada yang kembali. Ada yang hilang, ada yang ditemukan. Benda boleh rusak dan lenyap. Tapi, selama gw masih ada, kenangan itu akan tetap terpelihara.

Jumat, 20 Agustus 2010

Ivan

Ivan adalah seorang anak yang istimewa, dia hadir membawa keceriaan di dalam keluarga kecil yang sedang mengalami carut marut kemiskinan. Dia terlahir dari rahim seorang ibu yang sedang kurang sehat badannya, hingga sepanjang hidupnya Ivan ga pernah merasakan nikmatnya air susu dari ibu yang melahirkannya. Ivan terpaksa lahir sebelum waktunya karena ibunya terjatuh sewaktu mengandungnya dan mengalami pendarahan. Tapi untunglah nyawa ibu dan anak ini tertolong.

Ivan tumbuh tidak seperti balita pada umumnya. Dia sering sakit-sakitan, mungkin karena tidak mendapatkan ASI dan asupan gizinya yang kurang memadai.
Namun demikian Ivan tetaplah anak yang manis, tiap orang yang melihatnya pasti jatuh hati, ingin menggendong dan mencium pipinya.

Ibunya sangat menyayangi Ivan, karena sebelumnya ia telah kehilangan 2 puteri kembarnya yang meninggal karena sakit. Waktu itu anaknya hanya tinggal si sulung Max dan Ivan.

Kedekatan sang bunda dengan Ivan begitu dalam, Ibunya sangat menyayangi dia walau dalam keterbatasan ekonomi. Perhatian ibunya sepenuhnya tercurah buat anak kesayangannya, Ivan. Hanya sesekali Ivan ditinggal dan diasuh oleh tantenya, itu pun kalo keadaan sangat memaksa.

Suatu hari ivan menangis sangat keras, tidak seperti biasanya dia rewel dan susah dihentikan tangisnya. Berbagai cara telah dilakukan oleh ibunya, namun tak jua membuatnya berhenti menangis. Setelah hampir satu jam Ivan rewel akhirnya dia tertidur pulas, mungkin karena kecapean. Tak lama kemudian dia terbangun lagi karena buang air besar. Diiringi tangis, namun kini tangisnya tidak sekeras sebelumnya. Ketika ibunya mencebok dan mempersihkan pantatnya di kamar mandi, Ivan terdiam dan tubuhnya melunglai. Ivan meregang nyawa dalam pelukan bunda tersayang. Di umurnya yang baru 1 tahun 7 bulan Ivan meninggalkan orang-orang yang sangat menyayanginya. Jerit histeris dan tangisan pilu membahana di rumah keluarga kecil itu.

Akhirnya Ivan pun dimakamkan, berderet dengan makam kakak perempuan kembarnya. Sebelum dimakamkan, nenek tiri Ivan melakukan ritual memberi satu tanda noktah hitam di jasad Ivan.

Sepeninggal Ivan, sang ibu menjadi pemurung. Dia dilanda kesedihan yang berkepanjangan. Berbulan-bulan sang ibu menangisi kepergian putera kesayangannya. Sang ibu seperti kehilangan sebagian nyawa hidupnya, semangat hidupnya seperti terenggut oleh kematian putera kecilnya itu.

Beberapa tahun kemudian dia melahirkan anak perempuan, disusul 4 tahun kemudian lahirlah seorang anak laki-laki, yang diberi nama Farrel, itulah gw. Menurut mama, papa dan keluarga lainnya wajah gw mirip banget dengan Ivan. Hanya satu yang membedakannya, di tubuh gw ada anda lahir yang letaknya sama persis dengan noktah hitam yang yang dibubuhkan di jasad Ivan sebelum dia dimakamkan. Rupanya inilah maksud dari ritual nenek tiri gw itu, dia seperti memanggil kembali Ivan, yang menjelma di tubuh gw. Entahlah percaya atau tidak, tapi ini benar-benar terjadi dan gw mengalaminya sendiri.

Kelahiran gw, berangsur-angsur menyembuhkan luka mama atas meninggalkan Ivan. Luka bathin mama seperti terobati mendapatkan bayi yang wajahnya mirip dengan putera kesayangannya. Tak heran dari dulu sampai sekarang, mama memberikan perhatian lebih kepada gw. Gw jadi anak kesayangannya. Mungkin karena gw dan Ivan memiliki banyak kesamaan. Mama dan papa sering menceritakan kisah tentang Ivan kepada gw, tak heran gw merasa mempunyai kedekatan secara roh dengan Ivan.

Bulan Januari 1999, gw ikut tour ke Bali. Waktu di Tanah Lot, seorang perempuan setengah baya menghampiri gw. Perempuan chinese itu masih satu rombongan dengan gw. Setelah ngobrol ngalor ngidul, barulah gw tau ternyata dia adalah seorang Kwa Mia, ahli ramal tradisional china (sejenis paranormal). Paranormal itu, sebut saja namanya Tante Lisa. Lalu dia bicara dengan spontan.
“Kamu bukan anak ibu dan bapak kamu.” kata Tante Lisa.
”Maksud Tante?” Tanya gw penasaran.
”Secara fisik, kamu memang darah daging mereka, tapi kamu bukan anak mereka.” sahutnya.
Gw hanya bengong, ga ngerti apa yang dia bicarakan.
“Kamu berasal dari roh yang dipaksa untuk terlahir kembali untuk menggantikan kakak kamu. Dan tanda lahir itu buktinya.” Lanjutnya, sambil menunjuk tanda lahir gw.
Gw takjub, dan sulit mengeluarkan kata-kata. Dia mengetahui sejarah hidup gw, padahal gw ga pernah bercerita tentang hal ini sama orang lain. Apalagi sama Tante Lisa yang baru gw kenal dalam rombongan tour ini.
“Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja kok.” Sahut Tante Lisa.
“Terus apa yag harus saya lakukan, tante?” Tanya gw, meminta saran.
“Jalani saja hidup, sesuai panggilan jiwa kamu...” Jawab Tante Lisa sambil tersenyum menyimpan misteri.
“Farrel, Tante melihat kamu punya gift, semacam anugerah untuk melihat kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa depan.” Sambung Tante Lisa.
“Hmmmhh maksudnya bisa meramal, Tante?” tanya gw.
“Iya, kamu sering punya firasat tentang sesuatu yang akan terjadi kan? itulah bakat kamu. tapi kemampuan itu harus diasah, agar menemukan ketajamannya.” Tante Lisa menjelaskan.
“Kalo mau tau lebih banyak datang saja ke tempat tante.” Kemudian Tante Lisa memberikan selembar kartu nama.
Kartu nama itu masih gw, simpan. Tapi sampai sekarang gw ga pernah menemui Tante Lisa. Gw sendiri merasa takut, karena menurut agama yang gw anut: ramal adalah dosa besar, bahkan dosa itu mengikat sampai keturunan ke tujuh.

Meskipun gw ga peduli, namun gift meramal itu ga hilang begitu saja dari diri gw. Gw berkali-kali meramal teman-teman gw tentang yang bakal terjadi di hidupnya, dan semuanya tepat! Seringkali gw jg kaget dengan apa yang telah gw lakukan.

Suatu kali gw berkenalan dengan seorang perempuan, sebut saja namanya Merry. di mobil kami ngobrol basa-basi. Sampai ke titik dia bercerita tentang keluarganya.
“Sekarang gw hanya tinggal sama Mami dan Papi, kakak gw yang paling gede udah nikah dan tinggal di Jakarta....”
“Robert?” gw memotong pembicaraan Merry. Wajah Merry memancarkan keheranan.
“Tau dari mana kakak paling gede gw namanya Robert?” tanyanya.
“Ga ngerti, gw iseng aja asal sebut he he he...” Kata gw sambil tersenyum.
“Ah loe bohong, pasti loe bisa baca pikiran gw. kita kan baru kenal?” Merry penasaran.
“Hmmhhmm... coba siapa nama kakak gw yang kedua?” Merry bertanya.
“Siapa ya?... Huruf awalnya ‘J’....” jawab gw. Mata Merry terbelalak.
“Truuuusss...?" Merry minta gw melanjutkan kaliamat gw yang menggantung.
“Huruf akhirnya ‘Y’.” Lanjut gw.
“Ayo dong lanjutin, jawab yang komplit.” Merry makin excited.
“Jeffry!!!” jawab gw mantap.
“Gila!!! Kok tepat banget sih?” Merry terhenyak.

Gw sendiri sering merasa takjub dengan apa yang telah gw ucapkan, semuanya bener-bener diluar kendali otak gw. Namun satu hal yang pasti, gw ga bisa dipaksakan untuk meramal, semuanya harus terjadi begitu saja (semacam menunggu ilham yang melintas). Mungkin karena gw tidak serius melatih ketajamannya. Jadi semuanya harus terjadi secara natural.

Gw pernah mencoba belajar sendiri seni meramal dengan kartu tarot. Gw sengaja membeli buku-buku tarot sebagai referensi, dan tentu saja gw juga memiliki beberapa set kartu tarot. Tapi bagaimanapun juga gw merasa kalo melalui kartu tarot ramalannya masih terasa samar-samar, beda kalo gw meramal dengan berdasarkan ilham yang melintas. Semuanya lebih terang dan jelas. Dulu, kalo mood meramal gw lagi bagus, gw kadang-kadang suka iseng chatting di MIRC, dengan nickname bdg-fortune-teller, untuk meramal binan yang lagi chatting he he he...

Gw seringkali bisa ngeramalin nasib orang lain, tapi anehnya gw ga bisa membaca nasib gw sendiri. Gw ga bisa tau apa yang akan terjadi di kehidupan gw, huh menyebalkan he he he... Tapi gw malah menikmatinya, karena setiap hari adalah misteri buat gw.

Sampai saat ini gw masih ga ngerti adanya keterkaitan antara gw, Ivan dan bakat meramal gw. Tapi yang terpenting, gw mensyukuri kehadiran gw di dunia ini yang pernah menjadi penyembuh luka bathin mama gw tersayang. I love you Mom... I love you Ivan...

Conclusions:
Kita harus belajar mensyukuri keadaan diri kita apa adanya. Karena dengan bersyukur artinya kita telah belajar ikhlas menerima takdir pemberian Yang Maha Kuasa.

Senin, 07 Juni 2010

Pokis

Sebagian besar gay, punya interest lebih (bahkan banyak yang terobsesi) terhadap seseorang yang profesinya laki banget. Seseorang yang bergelut dengan pekerjaan yang menunjukkan kejantanan, dan dianggap punya something special dibandingkan cowok-cowok gay kebanyakan. Profesi yang sering jadi incaran itu diantaranya adalah: tentara, polisi dan satpam. Mungkin orang-orang berprofesi seperti yang gw sebutin diatas, dianggap lebih macho, bisa melindungi dan memberikan rasa aman.

Gw pernah chat dengan seseorang, sebut saja namanya Ghandi, umurnya 27 tahun. Dia sangat susah untuk memperlihatkan pic-nya. Seperti biasanya gw juga ga mau kalo harus duluan memperlihatkan pic gw. Ujung-ujungnya chat waktu itu diakhiri dengan ketidakjelasan.

Tapi gw sempat saling tuker no hp sama dia. Yang bikin gw jengkel, dia sering sms dengan nada memerintah seakan-akan dia yang berkuasa, contohnya:
Inbox: “loe sekarang ke tempat gw!!!” tanpa nanya gw bisa atau ga terlebih dahulu.
Smsnya gw cuex-in. Trus dia sms lagi.
Inbox: “cepetan loe kesini. Gw sudah sange!!” huh apa urusannya sama gw?
Inbox: “Jangan suka jual mahallah sama gw!!

Dan sms-sms beruntun lainnya yang masih dengan nada memerintah seorang boss kepada bawahannya. Gw ga terlalu menanggapi. Gw ga suka tipikal orang yang merasa superior.
Minggu depannya gw ketemu online lagi dengan Ghandi, malam itu akhirnya dia menyerah dan bilang tentang profesinya:
Ghandi : “Gw pokis...”
Gw : “Apaan tuh pokis?”
Ghandi: “Gw polisi”
Gw : “So... what?”
Ghandi : “Ya malu aja, masa seorang aparat kepolisian homo...”
Gw : “Ah loe ada-ada aja. Polisi itu kan cuma profesi dan homo itu soal orientasi sex. Jadi ga ada hubungannya dong? So, kenapa harus malu?” jawab gw datar.


Mungkin terhasut omongan gw, akhirnya dia memperlihatkan picnya tapi dengan catatan: dia wanti-wanti gw harus bisa menjaga rahasia (aduh gitu aja kok repot he he he...). Mungkin karena Ghandi berprofesi sebagai polisi dan terikat dengan korps-nya. Makanya dia sangat berhati-hati pikir gw dalam hati. Tapi malam itu acara ketemuan kami tertunda lagi.

Gw bingung, antara pengen nyoba sama polisi (salah satu profesi yang jadi incaran banyak kaum gay) dan segan, coz Ghandi sekalipun tampan tapi ga masuk kriteria gw (dia bukan brondonk lagi he he he...).
Beberapa hari kemudian gw chat lagi sama dia dan kami sepakat untuk ketemu malam itu. Gw diminta menemui dia di asrama polisi. Gila! It’s real gw harus masuk ke lingkungan yang sebelumnya ga pernah terpikirkan sama gw.

Malam itu jam baru menunjukkan angka 21.09 pada jam digital yang melingkari tangan gw. Diiringi rintik hujan gw memasuki area asrama kepolisian di Jl. N**s. Ga seperti dalam bayangan gw tentang sebuah asrama, apalagi ini asrama polisi sebagai abdi negara. Ternyata tempatnya suram dan kumuh. Belasan tikus-tikus got yang nampak montok (qi qi qi...) berseliweran di sepanjang lorong yang gw lalui. Lorong itu hanya diterangi oleh lampu-lampu temaram ala kadarnya. Lalu gw mengetuk sebuah pintu tripleks, pintu yang menurut gw terlalu rendah, sehingga orang yang masuk melalui pintu itu harus sedikit menundukkan kepalanya kalo tidak mau benjol kejedot kusen he he he... pintu yang rendah itu mungkin diakibatkan renovasi peninggian ubin berkali-kali. Malam itu membuka mata gw, ternyata pengabdian aparat polisi tidak berbanding lurus dengan fasilitas yang dia dapatkan. Mungkin itulah yang membuat banyak aparat menjadi gelap mata menghalalkan segala cara untuk memperoleh ‘kesejahteraan lebih’.

Ghandi membukakan pintu sambil tersenyum dan mempersilakan gw masuk. Ghandi seorang pemuda sunda berkulit kuning dengan kumis tipisnya. Kumisnya mirip kumis perancang busana terkenal, yang teuteup ngondeeeek sekalipun piara kumis hueeekkksss!!! he he he...

Pemandangan di dalam ternyata tidak seseram di luar. Lumayan bersih dan terawat walau kecil dan sederhana. Ruangan berlantai keramik hijau itu diisi benda-benda elektronik standard (tv, dvd player, kipas angin dll... ) tanpa ada kursi untuk duduk.
Lalu gw dan Ghandi larut dalam obrolan ngalor-ngidul ga jelas, obrolan ga penting khas orang-orang yang lagi ketemuan he he he...

Dari obrolannya baru gw tau ternyata dia jadi polisi, bukan karena keinginannya, tapi karena dorongan dan tekanan bapak dan kakak-kakaknya, yang semuanya berprofesi sebagai polisi. Secara psikologis dia pasti tertekan, mengalami dilema dan rapuh (karena harus menjalani 2 kehidupan yang berbeda).

Dibalik profesinya yang keras ternyata dia seorang lelaki manja (tapi tidak ngondek wkwkwk...). Dia merasa nyaman dalam pelukan gw. Malam itu gw lah yang pegang kendali, gw yang jadi superior. Ghandi pasrah menerima semua perlakuan gw (yang lagi balas dendam ) he he he... Ghandi tidak pandai bercinta dan staminanya juga dibawah rata-rata. Dia tumbang, jauh sebelum gw mencapai puncak. Malam itu selesai tanpa gw mengalami orgasme. Tapi gpp, yang penting gw sudah mencoba, even gw ga bisa menikmatinya. Kesimpulannya: buat gw brondonk is the best!!! he he he...

Soal profesi jantan lainnya, teman gw pernah cerita, dia pernah ketemuan dengan seorang tentara dan dibawa ke asrama seskoad di Bandung. Ternyata di kamarnya, tentara itu memiliki koleksi kosmetik dan bahan perawatan tubuh yang super duper lengkap!!! wuiiihhh suka dengdong ya pak? wkwkwkwk... Beberapa gw kali ketemu chat dengan tentara gay, tapi gw memutuskan untuk tidak ketemuan.
Kalo satpam gay? Banyak kale.!!!..he he he.. gw pernah beberapa kali chatting dengan satpam, bahkan ada satpam yang dengan terang-terangan memajang foto-foto seksiya (foto dan video bugil huft!) di sebuah situs gay.
Satpam gay... Polisi gay... Tentara gay... Apa kata dunia...!?! Dan dunia binan menjawab: SANTAI AJA KALEEEEEE... wkwkwkwk...

Conclusions:
Banyak sisi kehidupan yang terlewatkan oleh mata jasmani kita, hanya mata hati yang sanggup memahami kekosongan jiwa seseorang. Profesi ga menjamin soal kejantanan seseorang, dan profesi ga ada hubungannya sama sekali dengan masalah orientasi seksual. Di luar sana banyak banget bertebaran satpam, polisi bahkan tentara gay. So what gitu lho!!! he he he...

Sabtu, 21 November 2009

Gaydar Alert

Suatu malam, waktu gw hangout clubbing di Amnesia bareng temen-temen gw. Mata gw tertuju sama satu sosok pemuda berkulit sawo matang, rambut cepak, dengan postur badan tinggi dan sangat tegap. Dari t-shirtnya yang ketat terlihat tonjolan-tonjolan otot seperti yang sering gw lihat pada keindahan patung pualam. Otot bicep dan tricepnya seakan menyeruak dari lengan kaosnya yang ketat. Gw sangat yakin dia juga punya perut sixpack yang sexy. Gw emang penyuka brondong, tapi gw juga suka merinding kalo ketemu sama pemuda yang body nya ga nahan kaya gitu he he he… Otot-ototnya yang kering dan urat-urat ditangannya menunujukkan garis-garis tegas kejantanannya. Terlihat banget kalo dia sudah berjuang keras di gym demi memahat keindahan tubuhnya. Jeans belel dan t-shirt putih, sangat pas di badannya. Serta kalung butiran kayu menggantung dengan ketat di lehernya.
“Hussshyy!!! matanya jangan belanja aja. Dia straight tau!! Nyari yang laen aja he he he…”. Ronald membuyarkan khayalan gw yang lagi melambung tinggi.
“Straight?? yakin loe?” kata gw. Coz radar gw menangkap sinyal ‘gay’ dari pemuda itu, walau lemah tapi gw sangat yakin.
“Banget!!! Dia tuh kalo clubbing selalu datang sama cewek, tau!” lanjut Ronald
“Jangankan cuma datang clubbing bareng cewek, orang yang udah punya anak bini aja banyak yang gay kok!” timpal gw sambil tertawa ringan.
“Benerlah, dia itu cowok banget!!” Ronald mempertahankan pendapatnya.
“Gw berani bertaruh, dia gay! Atau seenggaknya dia bisex-lah!” kata gw keukeuh.
“No no no…” kata Ronald sambil menggelengkan kepala.
Gw hanya tersenyum, dan kami pun berlalu menuju ke area depan. Beberapakali gw masih melihat dia lagi joget bareng cewek di dancefloor, dengan gerakannya yang sekaku robot. Terlihat dia mengumbar kemesraan dengan cewek itu.
Waktu gw bilang sama Daffa tentang masalah ini, dia cuma bilang:
“Mungkin aja, tapi kemungkinannya sangat kecil”.

Berkali-kali gw clubbing lagi, gw masih sering melihat pemuda itu, selalu dengan daya tarik yang sama, dan mengumbar kemesraan dengan cewek-cewek yang selalu berbeda. Dan dengan gerakan jogetnya yang kaya robot. Tapi gw tetep yakin kalo pemuda itu penyuka sesama jenis he he he… Gw sangat yakin akan ketajaman radar gay gw.
Dan tibalah masa-masa pembuktian itu. Sebulan yang lalu, waktu gw clubbing cuma sama Ronald dan Raka. Gw melihat dengan mata kepala sendiri. Di atas dancefloor, si pemuda berbody baja itu sedang asyik memeluk seorang… cowok!!! And then dia menciumnya… French kiss pula!!! Gw mencolek punggung Ronald, sambil ngomong:
“Lihat tuh di depan, bener kan kata gw? Dia homo juga he he he…”
“Ohhh… iya ya…” Ronald sempat terbengong sebentar, lalu tertawa ringan.
“Soal status, bentuk body, kejantanan dll, ga jaminan tuh dia itu straight”
“Iya dech…” sahutnya.

Semua gay memang dikaruniai (cie… kok kaya sejenis anugerah gitu ya? he he he) gaydar, radar untuk mengetahui siapa aja gay lain yang disekitarnya. Tapi ketajaman radar gw kayanya diatas rata-rata he he he… malah waktu jalan bareng, temen-temen gw suka iseng-iseng bercanda nanyain ‘mana yang gay’ diantara orang yang berseliweran di hadapan kami qiqiqi…
Setahun yang lalu, Daffa pernah curhat sama gw kalo dia lagi suka sama temen kuliahnya, sebut saja namanya Fahmi. Tapi dia bingung karena Fahmi cowok straight yang punya cewek. Bahkan ceweknya sering ‘tidur’ di kostan Fahmi. Gw hanya bilang sama Daffa:
“Coba lihat Fotonya, gw pengen tau tampang Fahmi kaya gimana” siapa tau gw bisa membantu dengan ketajaman radar gw.
“Ini, ada beberapa” jawabnya.
Lalu Daffa nunjukkin foto Fahmi yang ada di hpnya. Fahmi yang keturunan Arab itu memang ganteng banget.
“Dia bisex!!!” kata gw mantap.
“Ah mana mungkin?” Daffa ragu.
“Percaya sama gw.” Gw meyakinkan.
“Hmmmmhhh kok kaya ga mungkin banget ya…” Daffa tampak bingung, mungkin dia nyangka gw bilang gitu cuma buat nyenengin hatinya.
“Iya gw yakin banget” gw makin mantap.
“Tapi gimana cara ngebuktiinnya?” tanya Daffa.
“Gampang kok, coba kamu ajak dia berenang. Trus kondisikan kamu pake ruang ganti bareng dia, soal muslihatnya terserah kamu. Trus coba kamu buka semua pakaian kamu di dihadapan dia…”
“Gila!!! Masa harus gitu sih?” Daffa memotong pembicaraan.
“Sabar bu… he he he… Kalo dia ngeliat kamu ga malu-malu bugil di depan dia, gw yakin dia juga akan melakukan hal yang sama. Even dia bukan gay juga seenggaknya kamu udah dapet bonus liat ‘barangnya’ yang ukuran orang Arab he he he…” gw sengaja ngomong sambil bercanda.
“Truuus…?” Daffa mulai nampak penasaran.
“Coba kamu colek ‘burung’ dia… trus liat reaksinya…”
“Trus gimana lagi?” Kening Daffa mngernyit, nampak sedang mencerna tips and trick dari gw.
“Udah, itu aja. Setelah itu kasih laporan sama gw he he he…”
“O.K. aku coba ya….” sahut Daffa.

Beberapa hari kemudian Daffa ngasih laporan, ternyata waktu dia mencolek ‘burung’ Fahmi, dia membalas. Jadi terjadilah saling colek mencolek… keliatan cuma saling bercanda, tapi nampak kalo kedua burung di ruang ganti itu sama-sama membesar he he he… Tapi ga terjadi sesuatu yang lebih dari itu.
“Harapan kamu hampir menjadi kenyataan, Daffa” sahut gw, berkesimpulan.
“Maksudnya…? Dia juga penyuka sesama jenis?” Daffa balik bertanya.
“Yup 100%” gw meyakinkan.
“Asyiiiikkk… Tapi, aku bingung. Gimana caranya supaya bisa deket sama Fahmi, dia kan punya cewek.” Kata Daffa.
“Kamu pura-pura aja, belom ngerjain tugas. Trus minta tolong dibantuin sama dia. Tentu saja kamu minta ngerjainnya di tempat kost dia. Kalo perlu kamu harus bisa nginep di tempat dia. Soal cara ngomongnya gimana, gw yakin kamu pandai mencari-cari kata yang tepat”. Saran gw.
“Trus gimana lagi?” tanya Daffa.
“Kamu hanya tinggal nunggu aja, apa yang bakal terjadi…”

And then, beberapa hari kemudian dengan cerianya Daffa laporan sama gw, kalo dia telah sukses ‘menikmati malam membara’ bersama Fahmi he he he…
Radar gay gw sering mengeluarkan alert, kalo ketemu dengan sosok gay lainnya. Ga peduli yang ketemu langsung atau sekedar lihat fotonya, hampir bisa gw tebak dengan jitu he he he...
Coba perhatikan acara Take Me Out / Take Him Out di Indosiar, gw berani bertaruh sebagian besar cowoknya gay!!! Mereka bukan nyari pasangan tapi pengen nampang di tv doang he he he…
Gay memang bertebaran dimana-mana… and I love it!!!

Conclusions:
Bakat, pengalaman dan ketajaman analisis adalah kombinasi sempurna untuk memiliki gaydar yang akurat. Dan gw bersyukur gw memiliki semuanya he he he… Let’s Turn It On Your Gaydar!!!

Jumat, 13 November 2009

Duka Di Rumah Duka

Kemaren malam, gerimis kembali membasahi Kota Bandung. Akhir-akhir ini udara malam di Bandung terasa lebih sejuk. Tiap malam udara dingin terasa menusuk sampai ke tulang. Gw lagi males kemana-mana. Selain cuaca lagi ga bersahabat, ditambah gw juga lagi flu. Gw hanya diam di kamar, meringkuk didalam hangatnya selimut, sambil memutar lagu-lagu Kahitna jadul yang melow.
Jam dinding di kamar gw baru mau beranjak ke angka pukul 20.00 WIB, terlalu siang memang buat gw tidur. Coz gw ga bisa tidur dibawah pukul 24.00, entah karena insomnia atau cuma kebiasaan…
Hp gw menjerit-jerit… O ternyata telpon dari temen gw, Alvin.
“Farrel, loe dah tau belom?” itulah Alvin kalo ngomong tanpa basa-basi ba bi bu langsung straight to the point.
“Ada apa gitu?” gw balik nanya.
“Nathan, meninggal…” suara Alvin tercekat.
“What!!? Kapan?!” gw agak tersentak ngedenger kabar itu.
“Gw juga baru tau, penyebabnya juga gw ga tau. Kita ke rumah Duka Nana Rohana bareng yuk… Tar jam 9 gw jemput loe. ”

Setelah meng-iya-kan, gw menutup Hp gw.
Lamunan gw seakan terbawa kembali ke alam kenangan belasan tahun yang lalu. Nathan adalah salah satu temen gw. Anaknya pendiam tapi ramah. Kulitnya putih mulus, rambut lurus hitam legam, dengan deretan gigi yang putih dan rapi… ketampanan khas oriental. Di perkumpulan kami, Nathan yang paling ga bisa apa-apa dalam dunia olahraga dan sering jadi korban kejailan temen-temen gw.
Sesuai janji, Alvin datang menjemput ke rumah gw. Alvin, sahabat (sekaligus temen berantem he he he…) gw sejak SMP. Temen-temen gw yang laen bilang kalo gw dan Alvin tuh soulmate sejati… weeeekkkkssss najis bangedh he he he… Alvin emang cakep, tapi gw ga hobby ngegarap gadun he he he… lagian kami udah temenan lama banget. Dia yang selalu gigih dan ga pernah nyerah nyari calon isteri. Dia pernah ditinggal kawin sama 2 mantan pacarnya, 1 kali batal menikah, dan telah berkenalan dengan ratusan cewek (sering menilai cewek banyak kekurangannya, kurang ini dan itu). Dia orangnya gokil, pecicilan, ga mau kalah, suka mau tau urusan orang, tapi ga gw pungkiri dia orangnya solider. Gw yakin banget dia bukan straight sejati. Waktu kelas 2 dan kelas 3 SMP, gw selalu sebangku dengan Alvin. Di kelas dia sering nyuri-nyuri kesempatan mencoba mengusap-usap paha gw … wew…Brrrrrrr…. Gw sering marah, tapi dia melakukannya lagi, lagi dan lagi… bahkan kadang jari tangannya mencoba masuk ke selangkangan gw lewat celah celana pendek biru gw. Dan tonjokkan tangan gw yang mendarat di lengan atasnya, ga mampu menghentikan aksi ‘bejat’ Alvin qiqiqi… Dulu sih gw masih bego, ga ngerti apa-apa. Waktu itu gw hanya ngira dia lagi jail aja. Tapi sekarang, gw ngerti apa yang sebenernya terjadi. Mungkin waktu itu dia lagi horny he he he…
Gw tau, sekarang dia sedang berkamuflase. Lagian gw juga ga peduli selama dia ga nyampurin urusan pribadi gw. Ga ada untungnya juga saling membuka diri. Jadilah kami 2 sahabat homo yang sama-sama ragu apakah sahabatnya homo atau bukan? Qiqiqi…
Tiba di rumah duka, aura kesedihan terasa banget. Dekorasi kain berwarna biru langit berpadu putih, dominan menghiasi dinding ruangan. Rangkaian bunga lily, mawar, dan Chrisant yang serba putih menghiasi setiap sudut altar tempat peti jenazah disemayamkan. Dekorasi dengan 6 pilar dan puluhan cahaya dari lilin putih, terlihat sangat elegan dan berkelas. Tapi aura duka tetap terasa…
Di dalam ruangan gw ketemu teman-teman SMP gw, Joshua dan Hendrik, yang datang membawa anaknya. Kami langsung mengambil tempat duduk disudut ruangan.
“Kirain bawa cewek, ini mah malah datang sama yang ini ini lagi…emang ga bosen?” ledek Joshua kepada Gw dan Alvin.
“Emang loe datang sama siapa?” Alvin langsung balik nanya.
“Sama, mami dan adik gw” jawab Joshua.
“Ah sama aja, loe juga masih jomblo sejati kan? Sesama jomblo dilarang saling mendzolimi!!!” sahut gw. Diiringi suara ketawa kami, yang sedikit ditahan, agar ga terlalu kedenger orang banyak.
“Iya tuh, emang kalian masih nunggu apa lagi? Gw aja udah punya anak 2. Ayo cepet-cepet nikah, 2012 kiamat lho” Hendrik menimpali.
“Mau Ki Amat, mau Ki Daus, mau, Ki Manteb, mau Ki Joko Bego kagak ngaruh!!! he he he…” sahut gw.
“Iya ya, kalo belom ada jodohnya mau bilang apa?” Sambung Joshua.

Gw curiga, Joshua jg gay..hahaaay!!! (kok gw curiga mulu ya? gaydar kali ya? he he he…) Setau gw dia ga pernah pacaran sama cewek. Dia orangnya handsome, berkulit putih, berhidung mancung, dengan badan kekar tapi ga terlalu tinggi. Dia pemain band, dan sering ngiringin gw nyanyi dengan permaian keyboardnya.
Di sekeliling ruangan di rumah duka gw melihat ‘penampakan’… hiiiiyyyy jangan syerem dulu ah!! Bukan penampakan hantu, tapi penampakan aura gay he he he… swear!! lebih dari 5 orang ke detect sm radar gw xixixi….
Kembali lagi ke kisah kematian Nathan. Di rumah duka gw jadi tau penyebab kematian Nathan. Awalnya dia menderita sariawan di bawah lidah yang ga kunjung sembuh. Dan dia ga terlalu mempedulikannya. Tapi lama-lama rasa sakitnya menjalar ke rahang. Setelah diperiksa, menurut diagnosis dokter Nathan kena kanker. Lalu rahangnya dioperasi. Tapi ga sampai 2 bulan, ternyata kankernya sudah menjalar ke kelenjar getah bening. Dan dalam waktu yang sangat singkat menjalar menggerogoti paru-parunya. Usaha pengobatan sudah dilakukan sampai ke singapura, tapi takdir memang susah ditebak. Tuhan punya kehendak lain. Nathan harus ‘pulang’ lebih awal…
Pernikahan yang sudah disiapkan dengan pacarnya, hanya tinggal rencana yang tak mungkin bisa terwujud. 3 kali diundur: April 2009, Oktober 2009, dan Januari 2010. Pada akhirnya hanya menyisakan duka dan luka, buat keluarga dan calon istrinya.
Nathan walaupun pendiam, tapi punya sisi nakal. Menurut cerita temen gw yang dulu sering jalan bareng sama Nathan. Dulu dia sering ‘membooking’ waria di sekitar Jl. Sumatra… (sisi nakal atau sisi gay?). Hanya sekedar untuk di-blowjob didalam mobilnya. Waduh gw aja yang gay kagak pernah ‘main’ dengan waria (dan ga kepikiran buat nyoba qiqiqi…).
Rintik hujan masih menyisakan tetes-tetes di dedaunan… Gw kembali lagi sendiri di kamar, dalam kehangatan selimut, tapi tanpa alunan lagu melow Kahitna. Selamat jalan sobat!!! Semoga kamu tenang di alam sana…

Conclusions:


Gay oh gay… ternyata bertebaran di mana-mana, bahkan terselip di antara sahabat-sahabat terdekat gw. Gw ga nge-judge lho, coz gw sendiri ga terlalu yakin, apakah beberapa sahabat gw itu GAY atau HOMO qiqiqi… gubrax!!!

Sabtu, 07 November 2009

Sejumput Kisah Indah Masa Kecil

Masa kecil adalah masa yang paling indah. Masa-masa hidup tanpa beban, karena keseharian kita hanya diisi oleh belajar dan bermain. Saat-saat dimana kepribadian kita mulai diproses. semua informasi yang kita serap, baik dari: pola asuh, pendidikan, pergaulan, dan lingkungan (yang baik maupun buruk). Tanpa kita sadari, semua itu membentuk karakter kita setelah dewasa. Masa kecil gw termasuk masa kecil yang biasa aja, sama seperti teman-teman lain seumuran gw. Masa kecil gw bahagia, even ga bergelimang harta. Cukup mendapat kasih sayang dan perhatian dari ortu.

Karena gw dibesarkan di kota kecamatan, maka kehidupan gw lebih dekat dengan alam. Mancing, nyari keong sawah, nyari remis, nangkap belut, menjaring ikan-ikan kecil, dan berenang di sungai adalah hal biasa buat gw (kok kaya si Bolang banget ya? qiqiqi…). Gw membuat sendiri semua mainan gw. Satu hal yang membanggakan: mainan buatan gw biasanya lebih bagus dan lebih kreatif dibandingkan dengan mainan buatan teman-teman gw he he he… Makanya temen-temen gw suka maksa membeli mainan buatan gw.

Waktu SD, papah sering ngajak gw mancing dan berburu burung atau tupai memakai senapan angin. Papah membelikan gw senapan angin berukuran kecil, gw bener-bener excited. Pengalaman yang seru, berjalan-jalan ke pelosok kampung dan hutan berburu mencari burung. Mungkin itulah sebabnya sampai sekarang gw lebih menyukai kegiatan petualangan di alam. Ga ada yang berubah, mungkin yang berbeda cuma: kalo dulu gw suka berburu burung beneran, tapi sekarang gw lebih suka berburu ‘burung-burungan’ he he he…
Orang bilang, bakat gay itu sudah terlihat dari kecil. Ciri-ciri anak yang kelak menjadi seorang gay adalah: anak mami, sensitif, cengeng, manja, dan penakut. Tapi gw ga memliki semua ciri diatas. Gw termasuk anak yang mandiri dan sanggup menahan rasa sakit. Bahkan ketika gw terluka dan mengeluarkan banyak darah, gw hanya mengobati diri sendiri tanpa mau bilang sama orang tua.

Dari cerita orang, jenis permainan yang dimainkan di masa kecil, juga bisa menunjukkan bakat ke-gay-an seorang anak. Teman gw Daffa pernah cerita: waktu kecil dia sering main lompat tali, bola bekel, congklak, kawin-kawinan, masak-masakan, pasar-pasaran, dokter-dokteran, panggung-panggungan, dan salon-salonan (tapi ga pake ngondek-ngondekan he he he… coz belom expert kali qiqiqi…).

Tapi gw lain, gw ga suka memainkan permainan seperti itu. Gw lebih suka main galasin, petak umpet, main kelereng, perang-perangan, sorodot gaplok (qiqiqi apaan tuh? ada yang tau istilah B. Indonesia nya? He he he…), manjat pohon, gatrik, main petasan dll. Pokoknya permainan yang lebih menantang, mengeluarkan tenaga dan keringat.

Kalo diingat-ingat lagi, ada hal-hal yang unik dan lucu, dan kadang bikin gw tersenyum sendiri kalo lagi mengenangnya.
-Waktu kecil gw suka banget menggambar orang, terutama lelaki. Yup lelaki yang lagi kencing he he he... atau kalo menggambar binatang, gw suka menggambar kuda dengan alat kelamin yang besar he he he…
-Gw suka mengambil tanah liat dari sungai dan membentuknya menyerupai sebuah penis yang super besar, sebesar pentungan satpam qiqiqi…
-Gw juga membuat ketapel, yang pegangannya sengaja gw bentuk menyerupai kon**l ha ha ha…
Ah ternyata sejak kecil gw sepertinya sudah terobsesi dengan ‘benda’ yang satu itu he he he…
Seringkali gw sengaja bermain di pinggiran sungai hanya untuk melihat tukang becak atau pencari pasir mandi berbugil ria, tanpa merasa risih dengan kehadiran gw… wah pokoknya sungguh pengalaman yang seru dan unforgettable.

Orang bilang, ada juga yang menjadi gay itu gara-gara mengalami peristiwa pelecehan sexual sewaktu kecil. Lalu meninggalkan trauma yang membekas. Beberapa sahabat gay gw juga pernah mengalaminya. Ada yang pernah dikerjain sama guru olahraganya, pamannya, sepupunya, guru ngajinya, pedagang mainan dll. Dan sensasi kenikmatan itu berlanjut hingga mereka dewasa. Tapi Gw ga pernah mengalami trauma kaya gitu.
Waktu gw sekolah kelas 1 SMP, di kelas gw ada seorang anak yang sok kuasa, sebut saja namanya Tanto. Dia galak dan ditakuti temen-temen lainnya. Badannya tinggi besar, lebih bongsor kalo dibandingin sama temen-temen sebayanya. Dia anak kepala sekolah, makanya dia ga merasa takut sama siapapun. Dia punya gank, semua anggota ganknya tunduk sama dia.

Waktu ga ada guru, gw beberapa kali melihat dia memaksa beberapa temennya untuk mengoral penisnya… (mungkin dia terinspirasi dari film bokep yang ditontonnya wkwkwkwk…). Kebetulan bangku gw dan dia sejajar, jadi gw bisa melihat kejadiannya dengan leluasa. Temen-temennya ga ada yang berani menolak perintah dia. Sementara temen sebangku gw, sebut saja namanya Sulaeman, Dalam keseharian dia orangnya sangat pendiam dan ga banyak bergaul. Dia berbisik sama gw:
“Baru punya kon**l segede gitu aja dipamer-pamerin” katanya, dengan dingin dan sinis.
“Emang punya kamu gede gitu?” tanya gw penasaran.

Lalu dia membuka ritzleting celananya, rupanya dia ga memakai celana dalam. Dan dikeluarkannya penisnya yang busyeeet… gede banget, plus berbulu lebat. Gw sampai terkesima dibuatnya, coz punya gw masih imut dan masih plontos he he he… maklum gw belom mengalami pubertas, sementara sulaeman umurnya hampir 3 tahun lebih tua dari gw ( coz di SD dia beberapa kali pernah tinggal kelas). Makanya kon**lnya punya bentuk, warna, dan ukuran yang memukau gw he he he… Ukurannya sudah seukuran punya orang dewasa.
“Gila!! Kok punya kamu gede banget dan banyak bulunya?” sahut gw terheran-heran.
“He he he…” dia hanya tertawa pelan.
“Gede kan?” lanjutnya.


Gw hanya mengangguk sambil menelan ludah he he he… (kebayang betapa culunnya wajah gw waktu itu qiqiqi…).
Gw bengong melihat kon**l Sulaeman mulai menegang dan nampak jauh lebih besar.
“Boleh aku pegang?” tanya gw ragu.
“Hmmmmhhh…” Sulaeman mengangguk.

Wah seru banget!!! dia ngijinin gw memegangnya beberapa saat qiqiqi...

Sejak kenaikan ke kelas 2, gw ga pernah melihat Sulaeman lagi. Anak pendiam, penyendiri, dan susah nangkap pelajaran itu, pergi entah kemana. Mungkin dia malu untuk melanjutkan sekolah karena dia harus tinggal kelas lagi.

Waktu SMA, teman sekelas gw ada yang tingkah lakunya persis perempuan, sebut saja namanya Syarief. Dia centil, lemah gemulai, bawel, rapih, selalu wangi dan ketawanya bikin gw alergi he he he… (pokoknya ga enak didenger dech. Enaknya disambit kale wkwkwkwk…). Gw ga kenal deket sama dia, hanya kenal sebatas temen sekelas aja. Dia punya temen sebangku yang sifat dan tingkah lakunya ga jauh beda sama dia. Mungkin satu species kali he he he…

Suatu hari pas jam istirahat, dia pernah cerita sama gw, kalo dia sering dipaksa mengoral beberapa teman yang merupakan premannya kelas gw. Kata Syarief kejadian oral-mengoral itu terjadi berkali-kali dengan mengambil tempat di kelas, di toilet, di rumah, di warung, bahkan di mushola… wow gw sampai ternganga…!!! Gw bener-bener ga nyangka, temen-temen sebrutal dan tukang berkelahi kaya gitu kok suka ‘di-blow job’ lelaki??? Entah karena iseng, entah terdesak kebutuhan libido atau memang punya bakat gay jg? Gw ga tau dan sampai sekarang ga pernah tau kelanjutannya.

Lebaran 2 tahun kemarin, gw ketemu lagi dengan Syarief. Dia cerita kalo dia sudah menikah dan sudah punya anak. Tapi dia masih kaya dulu: centil, lemah gemulai, bawel, rapih, wangi dan ketawanya bikin gw alergi he he he…

Conclusions:
This is the real me. Salah pola asuh? (nope) salah bergaul? (nope) trauma masa lalu? (nope), bakat bawaan? (absolutely) Entahlah… yang jelas gw menikmatinya… No regrets he he he…

Rabu, 04 November 2009

Buat Gay Menikah Itu Bisa jadi Ibadah Atau Musibah?

Menikah dan hidup berpasang-pasangan adalah fitrah semua manusia. Tapi tidak buat gw. Sampai usia gw yang sudah banyak ini, ga ada tanda-tanda gw bakal nikah. Bukan karena hidup gw tanpa target dan rencana, bukan juga karena gw mau melawan takdir. Tapi selama ini gw selalu berpegang pada prinsip: gw ga mau menipu diri sendiri. Apalagi harus melibatkan orang lain (istri) untuk menjadi korban. Gw cuma mencoba untuk jujur sama diri sendiri: gw gay, yang tidak mempunyai hasrat kepada perempuan. Itulah yang menjadi alasan kenapa gw memilih tidak menikah. That’s it!!! Dan gw harus siap menerima semua konsekuensi atas pilihan hidup gw itu. Sampai saat ini gw ga punya rencana untuk menikahi perempuan manapun (dan lelaki manapun jg he he he…).

Beberapa kali sodara-sodara gw, mencoba untuk nyombalingin gw sm beberapa perempuan: ada yang berprofesi sebagai pimpinan cabang sebuah bank swasta terbesar di Indonesia, pemilik butik, dokter gigi, dosen dan lain-lain. Gw hanya mengiyakan saja, tanpa mau ketemu dengan orang yang bersangkutan.

Syukurnya, yang rese dan mempermasalahkan kesendirian gw hanyalah orang-orang luar dan sodara jauh gw. Sementara ortu dan keluarga dekat gw, ga pernah membahasnya. Mereka cukup moderat, dan selalu mendukung setiap pilihan hidup gw. Mereka selalu bilang, mungkin belom ketemu jodohnya aja, jangan terlalu ngoyo. Gw sih happy-happy aja, mendapat kepercayaan kaya gitu he he he....

Banyak gay yang akhirnya memutuskan untuk menikah. Mereka memasuki lembaga pernikahan dengan alasan dan pertimbangan:
- ingin menuruti kehendak orangtua
- ingin punya masa depan
- ingin punya keturunan
- ingin di hari tua kelak ada orang yang mengurus.
- ingin berhenti bercinta dengan lelaki… weeekkksss!!! yang ini yang gw ga yakin he he he… coz yang gw tau banyak suami-suami “mantan gay” yang masih berkeliaran mencari kepuasan sex dengan PIL alias pria idaman lain.

Dulu banget, sebelum gw terjun ke dunia gay, gw pernah kenal dengan seorang pemilik salon, tempat gw biasa potong rambut. Dengan melihat gesture tubuhnya serta cara bicaranya, malaikat juga tau kalo dia itu binan sejati he he he… Yang mengagetkan gw, ternyata dia memutuskan menikah. Pestanya cukup besar-besaran. Tapi pernikahannya hanya berumur 2 minggu saja, lalu pisah ranjang dan bulan berikutnya bercerai. Ga tau apa penyebabnya, tapi gw yakin banget dia ga mampu ereksi waktu beradegan ranjang dengan istri sesaatnya he he he… tragis memang.

Beberapa hari yang lalu gw membaca postingan sebuah blog. Isinya tentang curhat seorang gay yang baru menikah dengan perempuan (maaf ya bro, gw bahas disini). Dia menulis tentang kehidupan pengantin barunya. Dia bilang dia bisa mencium bibir istrinya, dia mampu menjilati setiap sudut tubuh istrinya, dia juga bisa melakukan penetrasi. Tapi satu hal yang ga bisa dia lakukan: dia ga bisa menstimulsi dan menjilati daerah kemaluan istrinya. Dia merasa ga ada “sesuatu” yang “istimewa” untuk dia genggam dan dia hisap. Dia tidak menyukai bentuk dan aromanya… wkwkwkwk…. aroma seafood kale he he he…

Lantas gw berpikir, betapa egoisnya gw. Kalo gw berlindung menutupi ke-gay-an gw di balik sebuah rumah tangga yang semu. Gw hanya membayangkan, betapa sakitnya perasaan perempuan itu, saat dia tau telah mencintai orang yang “salah”. Cukuplah gw yang merasakan pahit dan getirnya menjadi seorang gay (huuffff… enaknya juga banyak kok he he he…), dan ga usah melibatkan orang lain dalam sandiwara rumah tangga yang penuh kepura-puraan. Gw bukan orang yang suci tapi gw ga mau jadi penipu.

Tapi kembali lagi, setiap orang pasti punya cara pandang yang berbeda atas hidupnya. Semua orang bebas menentukan langkah hidupnya.

Sudah sejak lama, gw ga mau chat sama orang yang umurnya diatas 26 tahun. Gw pencinta brondong sejati he he he… Saat gw tau orang yang sedang chatting sama gw umurnya lebih dari kriteria gw. Biasanya gw langsung jelasin, kalo gw sukanya sama brondong. Dan selama ini fine fine saja, ga ada masalah.

Suatu hari… ketika kita duduk di tepi pantai… dan memandang, ombak di lautan yang kian menepi…(weeekkkss kok malah jadi nyanyi lagu “kemesraan” ya? he he he…). Suddenly, waktu gw chatting di YM, ada seseorang yg nge-add, sebut namanya wibisono. Setelah tanya ini itu taulah gw kl Wibisono itu seorang T yang sudah berumur 39 tahun. Jelas dia bukan kriteria gw bgt. Tapi demi manner, gw tetap melayani dia chatting, lagian dia bilang cuma butuh temen share aja. Berikut ini petikan percakapan gw dengan Wibisono.
Gw :”Udah lama di bandung mas?”
Wibisono:”4 tahunan, disini aku kerja”
Gw :”O ya?, emang mas asli mana?”
Wibisono:”Makasar”
Gw :“Trus, di Bandung tinggal sama keluarga?”
Wibisono:”Ga lah, istri dan anak aku tinggal di Makasar. Di Bandung aku tinggal sendiri. Makanya main kesini dong!!!”
Gw :”Mau ngapain gitu mas?”
Wibisono:”Kita fun aja”.
Gw :”Tapi aku pure top lho… lagian kan tadi aku bilang aku sukanya sama brondong.”
Wibisono:”Alaaaahh!!!... coba aja liat dulu ‘punya’ gw, pasti kamu ketagihan dech. Punya kamu berapa cm?”
Gw :”O ya?... lumayanlah 15 cm”
Wibisono:”Segitu mah kecil, dong”
Gw :”Emang punya mas seberapa gede?”
Wibisono:”Segede ukuran sebungkus oreo”
Gw :”wow, keren tuh!!!”
Wibisono:”Makanya kesini dong, karena punya aku yang lebih gede makanya aku yang berhak nembak kamu”
Gw :”Ga mas makasih. Jangankan harus jadi bot, jadi top juga kalo sama mas mah aku ga bisa.”
Wibisono:”Kenapa ga bisa? Kamu kan gay. Harus bisa dong!”
Gw :”Aku memang gay, tapi aku selektif kalo milih partner sex. Aku sukanya sama brondong. Trus, ngapain mas bilang aku ini gay? Mas sendiri juga kan gay!!”
Wibisono:”Enak aja!!! Gw bukan gay tau!!!”
Gw :”Lantas apa dong? Bisex?!! Sama aja kali! Yang jelas sama-sama suka lelaki kan?”
Wibisono:”Ga lah!!! Gw bukan gay dan bukan bisex!!! Gw straight!!!”
Gw :”O ya…?? kok straight suka ngesuck dan ngefuck laki-laki??? Ga salah tuh?!?”
Wibisono:”Gw normal!!! gw cuma ingin variasi aja! Aku malah sering 3sum atau orgy dengan campuran cewek dan cowok”
Gw :”Ha ha ha ha…!!! Lucu banget!”
Wibisono:”Apanya yang lucu?”
Gw :”Jelas-jelas mas suka ngentot cowok, masih mungkir dan ngaku-ngaku normal he he he…”
Wibisono:”Kamu sendiri gimana?”
Gw :”Kan dari tadi juga aku sudah bilang, aku ini emang gay dan ga suka cewek. Cukup jelas kan?”
Wibisono:”Harusnya kamu mencoba untuk sembuh dan menikah sama cewek.”
Gw :”Buat apa? Aku sudah merasa enjoy dengan kehidupan aku. Aku ga mau pura-pura mas. Aku ga mau bersandiwara dan jadi orang munafik. Aku ga mau membuat penjara buat diri aku sendiri”
Wibisono:”Tapi kamu harus tetap berusaha untuk sembuh”
Gw :”What??? Gay itu bukan penyakit mas! Bukan penyakit sejenis penyakit buduk dan koreng. Ga ada yang salah menjadi seorang gay. Gay itu cuma beda orientasi sex aja. Ini masalah selera, dan ga bisa dipaksakan.”
Wibisono:”Kan belom kamu coba!!”
Gw :”Aku sangat mengenal diri aku sendiri, dan ga ada yang perlu untuk dicoba-coba. Mas sendiri, kenapa masih mencari-cari cowok? Emangnya mas ga bisa menikmati hubungan sex dengan istri mas sendiri?”
Wibisono:”Hmmmhhhh…mmm menikmati siiiih… tapi kerasa longgar. Kalo sama cowok lebih berasa aja cengkramannya…”
Gw :”Ha ha ha ha…”
Wibisono:”Kok ketawa?”
Gw :”Gpp, enjoy aja lah dengan pilihan hidup mas yang ‘normal’ itu”
Wibisono:”Aku emang normal kok…!!!
Gw :”Whatever!!!


Lalu gw menutup YM gw, males banget kalo gw harus berurusan lagi dengan typical orang kaya gitu. Munafik banget dan sok normal!!! ML sama cowok dibilang cuma sekedar variasi? Hantu pohon jambu juga tau: LOE ITU HOMO YANG MERASA BUKAN HOMO qiqiqi… Lebih lucunya lagi, hidupnya aja belom BENER, pake nasihatin gw segala, buat sembuh dan menikah he he he…

Conclusions:
Kalo pernikahan itu membawa berkah dan membuat kita ga berpaling lagi ke dunia cinta sejenis, maka pernikahan itu bisa menjadi ibadah. Tapi kalo setelah menikah masih menjalani kehidupan ‘amfibi’ (hidup di dua alam), dan masih mencari-cari cowok selingkuhan. Tunggu aja, cepat atau lambat bom waktu itu akan meledak. Dan akan mengubah pernikahan itu menjadi sebuah musibah. Prikitiew!!! He he he….

Selasa, 13 Oktober 2009

Antara Gender Dan Harga Diri

Malam Minggu, 10 Oktober 2008 kemaren. Gw dan Ronald clubbing di Amnesia, Ga seperti biasanya malam itu kami pergi cuma berdua aja, tanpa Daffa. Coz malam itu Daffa membatalkan pergi clubbing, padahal dia yang ngajak duluan hmmmmhhhh… maklum bf-nya ga bisa ikut karena dia harus kerja masuk pagi. Ditambah mereka lagi dibawah ‘pengaruh’ sate kambing yang baru mereka makan he he he…

Daffa ga tergoyahkan oleh bujukan, rayuan, permohonan, maupun ancaman kami qiqiqi… Yo wess, karena gw kasihan sama Ronald yang lagi ngebet dugem, akhirnya gw putusin buat pergi berdua saja. Untunglah Ronald berhasil membujuk Raka untung bergabung malam itu.

Alunan musik, lagu Hush Hush Hush milik Pussycat Dolls menghentak, terdengar saat kami memasuki ruangan, seakan menyambut kedatangan kami.
“Pokoknya kita harus fun!!! Ga boleh bete!!! Biarin Daffa ga ada juga!” Seru Ronald.
Gw hanya tersenyum dan mengangguk saja tanda setuju.
Hmmmhhhh… sudah hampir 2 bulan gw ga menginjakkan kaki di Amnesia, tapi magnetnya tetap saja terasa kuat.

Gw, Ronald, dan Raka menyeruak masuk menuju ke area depan, melalui kerumunan banyak orang yang sedang ‘have fun’. Di dalam kami juga bertemu dengan Calvin, yang menenteng botol air mineral.
“tumben minumnya air gituan?” tanya gw.
“Iya, aku lagi ga mau minum. Bukan takut mabuk, tapi lagi bokek he he he…” jawabnya.

Perjalanan malam panjang baru mulai… Ronald terlihat larut dalam alunan musik, dia asyik bergoyang dibawah pengaruh minuman yang diminumnya. Terlihat dia sangat menikmati malam itu.
Seperti biasanya, gw dugem selalu dalam kesadaran penuh he he he… mata gw asyik belanja memperhatikan orang-orang di sekitar gw he he he…

Tiba-tiba gw dikagetkan oleh suara ribut. Gw melihat ada orang lagi memukul bertubi-tubi sambil mendorong lawannya, sambil mengeluarkan sumpah serapah. Ya ampuuuunn… ternyata orang yang sedang tidak berdaya dipukul dan terjatuh itu adalah Ronald!!! Dia sedang menghadapi serangan bertubi-tubi seorang cewek ber-body segede bagong (qiqiqi…).

Gw sigap menarik Ronald ke belakang badan gw. Tapi cewek itu seakan belom puas terhadap Ronald, dia merangsak, menerobos, dan berusaha menyarangkan tinjunya. Dengan refleks gw melindungi Ronald dengan tangkisan tangan gw (ga sia-sia dulu gw pernah ikut ekskul beladiri he he he…). Setelah tangan cewek itu beradu dengan tangan gw, dia terlihat meringis kesakitan. Cewek itu melotot menatap tajam ke arah gw, gw ga kalah sengit memelototi cewek itu. Merasa mendapat lawan yang ga seimbang, cewek itu ngeloyor pergi.
“Kamu ngapain sih? kok sampe cewek itu kalap?” tanya gw sama Ronald.
“Aku ga tau, aku lagi joget eh… tiba-tiba di mukulin aku. Dasar pecun!!!” Jawab Ronald, dengan wajah yang masih pucat pasi.

Gw hanya menduga-duga dalam hati, mungkin cewek itu merasa Ronald telah menyentuh bagian sensitif tubuhnya. Jadi dia merasa telah dilecehkan. Padahal, mana mungkin? Jangankan cuma cewek berwajah dibawah rata-rata dengan body segede bagong kaya gitu, Cewek secantik Luna Maya pun ga akan bikin Ronald horny he he he…
“Bete ah!!! Masa baru mulai kita harus pulang?!” Ronald merajuk
“Kenapa harus pulang?” tanya gw.
“Aku takuuut… tar cewek itu datang lagi bawa temennya.” Sahutnya.
“Ngapain takut?, enjoy aja!” Kata gw, meyakinkan.
“Tapi aku takut, tar ada orang yang nusuk pake pisau dari belakang.” Ronald masih terlihat ragu.
“Tenang aja, aku yang akan jagain kamu.” Kata gw mantap.
“Bener ya... gpp…?”
Gw mengangguk meyakinkan Ronald.

Malam itu, kami tetep bisa fun. Kejadian itu ga terlalu mempengaruhi kesenangan malam panjang kami. Gw menganggap kejadian itu ‘hanyalah riak kecil di tengah samudera’ he he he… (meminjam istilah Bung Karno neh…).

Sesekali gw masih melihat cewek itu berseliweran dihadapan gw. Tapi apa yang Ronald takutkan, ga terjadi.
Gw, ga bangga bisa mengalahkan seorang cewek. Yang patut digarisbawahi dalam kejadian ini adalah; ini bukan soal menang atau kalah, tapi ini masalah ‘HARGA DIRI’. Siapapun yang mengusik harga diri kita, dengan membuat kita merasa terhina di depan umum. Tanpa memandang dia itu cowok, cewek atau banci (he he he…) Hanya satu kata LAWAN!!!

Conclusions:
Musuh pantang dicari, Ada pantang mengelak.

Senin, 17 Agustus 2009

Nasionalisme dan Binanisme

Sejak jaman jebot gw adalah seorang aktivis di sekolah, entah itu paskibra, pramuka, osis, olahraga, kesenian ataupun kegiatan ekskul lainnya. Dari kegiatan-kegiatan itu gw sempet menyumbangkan beberapa piala buat sekolahan gw. Tadi pagi waktu nonton pengibaran Sang Saka Merah Putih di tv, kenangan gw seakan di review lagi. Memasuki 17 Agutus 2009 ini, gw jadi ingat masa-masa gw duduk di bangku sekolah dulu.

Dari tahun ke tahun gw bertransformasi dari sekedar peserta upacara berubah menjadi: anggota aubade, dirigen, pembaca pembukaan UUD ’45, pengibar bendera, sampai menjadi komandan upacara (tentu aja ga pake ngondek-ngondekan lho he he he... ups emang pada dasarnya gw ga ngondek kok wakakakak…). Pokoknya, semuanya sudah pernah gw jalani. Dari sekedar upacara hari senin di sekolah sampai upacara 17 Agusus se-kecamatan yang dihadiri oleh bupati. Gw sangat bangga menjalaninya, bukan karena gw banci tampil lho he he he…

Selain mengikuti upacara, tentu banyak kegiatan yang gw ikuti setiap memasuki 17 Agustus. Entah itu karnaval sepeda hias, gerak jalan, lomba-lomba olah raga sampai lomba-lomba yang diselenggarakan di sekitar rumah gw, kaya:
- lomba makan kerupuk,
- lomba balap karung,
- lomba tarik tambang,
- lomba mengambil coin di jeruk bali yang sudah di lumuri cairan hitam.
- lomba jalan rame-rame pake bakiak
- lomba berjalan sambil membawa kelereng di sendok dengan mulut
- lomba memukul kendi/plastik berisi air dengan mata ditutup
- dll.

Tapi ada satu lomba yang belom pernah gw ikutin sampai sekarang. Yupz panjat pinang!! bukan karena gw ga mau, tapi ibu gw yang ngelarang. Takut celakalah, bisa keinjeklah, tar baju kotorlah dsb, dst, etc… plus petuah-petuah lainnya. Pokoknya kesimpulannya gw DILARANG KERAS IKUT PANJAT PINANG!!! Wuiiihhh sadis ya???…

Tapi setelah sekarang dipikir-pikir bener juga semua pendapat ibunda gw tersayang itu. Coz selain ga ada hubungannya sama rasa nasionalisme, panjat pinang cuma bikin baju jadi kotor dan susah dicuci… trus hadiahnya juga ga seberapa kalo dibandingin sama resikonya. Paling banter yang jadi hadiahnya: makanan ringan, payung, sandal jepit, ember, gayung, sabun cuci, celengan plastik dan barang murahan lainnya he he he… (mungkin gara-gara dana sumbangannya udah disunat panitia kali hi hi hi…).

Sebagai anggota pramuka dan paskibra tentu saja gw pernah mengikuti pembinaan di lapangan. Salah satunya adalah camping, yang tujuannya untuk pembinaan mental dengan survive di alam liar. Sebenernya cukup berat dan sengsara sih, tapi ada momen yang sangat gw tunggu-tunggu kalo gw ikut camping… yupz, acara mandi rame-rame di sungai he he he… disitu gw bisa cuci mata melihat ‘burung-burung’ temen gw yang mulai ditumbuhi bulu-bulu hi hi hi… pokoknya uasyiiiikkkk dech!!! he he he… Bukan hanya temen-temen gw, kakak-kakak pembina plus guru-guru juga ikutan mandi bugil lho… Seru ga tuh?!? ha ha ha… Ah dasar!!! Otak ngeres dan bakat homo gw udah bawaan orok kali ya… ha ha ha…

Trus apa yang terjadi dengan gw menjelang peringatan Hari Kemerdekaan kali ini? Gw dugem wakakakaka… Yup!!! Sabtu kemaren 15 Agustus, adalah dugem terakhir buat para clubbers di Amnesia, Bandung sebelum memasuki bulan puasa. Even bukan clubbers maniac tapi Gw, Ronald, Daffa dan Adriel (pacarnya Daffa) ga mau ketinggalan buat to had good time malam itu he he he....

Sebelum berangkat clubbing, sesuai rencana kami ngumpul di tempat Adriel. Kami dandan poll dengan seragam kaos v-neck, tapi masing-masing beda warna (NB: kaos produk buatan aku sendiri lho he he he… promosi). Daffa merah, Ronald kuning kenari, Adriel Biru baby dan gw orange, plus temen gw Calvin pake warna ijo.

Ga ada maksud apa-apa pake baju seragaman, cuma buat seru-seruan aja. Baju kami yang kembaran lumayan jadi pusat perhatian, dan sempet ada yang komentar “ada gank pelangi tuh!!!” wakakakakaka...
Malam itu Amnesia sangat ramai dan penuh sesak, selain karena closing nite, malam itu juga dalam rangka memperingati HUT Amnesia. Makanya rame banget, apalagi ada special performance Fla Tofu dan Pinkan mambo (yang tampil gila banget he he he…)

Kesimpulannya malam itu kami bener-bener fun, larut dalam euforia hari terakhir clubbing. Daffa, Ronald, dan Adriel jackpot tapi gw mah tetap segar bugar he he he… makanya selama ini gw yang selalu jadi regu penolong temen-temen gw yang mabok he he he…

Ga kerasa waktu sudah beranjak subuh, jam menunjukkan pukul 05.30 WIB. Masih betah and fun sih, cuma gw ga tega melihat Daffa yang sudah tepar ga berdaya, makanya kami memutuskan untuk pulang. Kesimpulannya: malam itu gw fun dan puas, lumayan untuk mengendorkan urat syaraf he he he… Suka clubbing bukan berarti ga punya rasa nasionalisme lho…

Kembali lagi, waktu tadi pagi gw nonton tv, upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta. Rasa nasionalisme gw muncul lagi. Rasa bangga dan haru menggelora di dada gw, waktu mendengar lagu-lagu wajib nasional dinyanyikan oleh paduan suara Gita Bahana Nusantara.

Conclusions:
Binan juga manusia, punya rasa, punya hati. Memang suka fun tapi tetep punya rasa nasionalisme, dan bangga sama negerinya… Merdeka!!!

Sabtu, 15 Agustus 2009

I Hate Wedding Party

Sudah sejak beberapa tahun yang lalu gw enggan, atau tepatnya males datang ke undangan pesta pernikahan. Kalo bukan sodara atau sahabat deket gw yang ngundang, bisa dipastikan gw ga akan datang. Bukan karena benci sama yang ngundang. Bukan pula iri, karena gw ga bisa menggelar pesta yang sama. Tapi banyak hal yang bikin gw ga comfort terjebak dalam hiruk pikuk keramaian sebuah resepsi pernikahan.

Rongrongan orang-orang dengan berondongan pertanyaan-pertanyaan: Kapan kawin…??! Kapan nyusul…??? Pacarnya mana…!!? Lho kok sendirian aja…!!?!? Dan sejuta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bikin kuping gw terbakar dan hati gw mau meledak.
Pertanyaan-pertanyaan itu banyak versinya, ada yang disampaikan:
- dengan lembut penuh empati sebagai bentuk perhatian,
- dengan dingin tanpa ekspresi,
- dengan gurauan garing dan basa basi yang bener-bener sudah basi,
- dengan pertanyaan menyudutkan
- dengan tatapan penuh curiga,
- dengan senyum melecehkan,
- dengan tertawa puas melihat nasib gw
- dan ekspresi-ekspresi lainnya.

Arrrgghhhh!!!! @#*..!!%#@&^..!!! Hati kecil gw pengen berteriak!!! Kenapa ngurusin masalah gw!!!? Kenapa turut campur urusan pribadi gw!?! Apa kalian sudah kekurangan kerjaan…??? Tapi tak ada yang keluar dari mulut gw. Yang keluar dari mulut gw hanyalah senyum (senyuman palsu uhuk uhukk!!!… guk guk guk… he he he…).

Kalo diperhatikan, ternyata orang-orang yang suka mengeluarkan pertanyaan usil itu adalah orang yang sama. Setelah dikerucutkan, gw menemukan satu orang yang paling usil dan menjengkelkan gw. Dia seorang pria berumur 48 tahun, profesinya guru, kadang jadi MC, dia menikah di usia hampir 40 tahun, dan gaya bicaranya kemayu (alias ngondek banget tapi sok berakting macho). Sebut saja namanya Bang Hendrik. Secara selintas dan dari dulu juga gw tahu kalo dia itu banci fuiihhhh!!! Tiap ketemu, pasti pertanyaannya sama: tapi diulang lagi, diulang lagi… lagi, lagi, lagi… gw sampai bosan, eneg, mual, pengen muntah, gatal-gatal, ketombean, bibir pecah-pecah wakakkakakak…. (kok ga nyambung ya? xi xi xi…).

Suatu hari, di sebuah resepsi pernikahan dia beraksi lagi dengan pertanyaan yang sama;
“Eh ada Farreeeeelll…” dengan suara ramah yang dibuat-buat dan tentu saja dengan nada bancinya yang original hi hi hi….
“Iya Bang” jawab gw dingin.
“Kapan dong nyusul…? Kok betah sendirian aja?” dia mulai melontarkan pertanyaan usilnya.
“Saya mah ga laku Bang” gw menjawab acuh tak acuh sambil menikmati zupa-zupa.
“Masa ganteng-ganteng gini ga laku?” sambil nyengir kuda, tambah menyebalkan.
“Kapan atuh, bikin resepsi kaya gini. Biar saya yang jadi MC-nya, tar dikasih harga special lho…”. Sambungnya.

Anjrit… selera makan gw langsung ilang, dada gw sesak seakan ditindih 5 karung beras. Emosi gw meluap, hampir meledak. Tapi gw berusaha tetep tenang.
“Sorry ya Bang. Apa maksud abang tiap ketemu nanyanya itu-itu aja?... apa abang ga ada kerjaan lain, selain ngasih pertanyaan-pertanyaan tolol kaya gitu? apa mulut abang ga bisa berenti ngusilin saya!!?” nada bicara gw dingin, tapi tegas.
“ehmmhh… bu bukan begitu Farreeeel...” dia tergagap, nyali Bang Hendrik keliatan ciut.
“Terus maunya apa!!? Kenapa ga ngurus urusan sendiri aja?!! Apa karena saya tidak menikah berarti hidup saya tidak bahagia!!!? Denger ya, kehidupan abang yang sudah menikah, belum tentu lebih bahagia dari saya!!! Omongan gw semakin tajam tapi kena sasaran.
“Apa karena saya ga nikah, terus dianggap aneh, dan bisa jadiin bahan olok-olokkan!!?? Lanjut gw, nada bicara gw semakin meninggi.
“Maksud saya Cuma ngasih perhatian saja, kok…” dia membela diri.
“Ah sudahlah!!!… saya ga butuh!!, saya bisa menghandle urusan saya sendiri!!!”.
“emmhhh… emmmhh….” Dia hanya bisa menggumam. Karena kaget dengan reaksi gw, sate ayam di piring kecil yang ada di tangannya sampai terjatuh. Sepertinya dia tidak siap menerima serangan balik dari gw he he he… Lagian gw ga akan pake MC segaring loe kale ha ha ha…(kata gw dalam hati).
Gw berlalu dari hadapan dia dengan senyum lebar dan perasaan puas.

Sejak saat itu dia ga pernah usil lagi. Kalo pun berpapasan di sebuah acara resepsi pernikahan, paling dia hanya say hello aja, ga lebih. Atau kalo gw melihat dia dari kejauhan gw sengaja langsung menghindar.

Di lain waktu, gw ketemu Bang Hendrik lagi. Bukan di pesta pernikahan tapi di Bumi Baru II, sebuah Rumah Duka di Jalan Holis, tempat menyemayamkan jenazah. Waktu itu gw datang melayat nenek teman gw yang meninggal.
Waktu berpapasan dengan Bang Hendrik di dekat peti jenazah, gw melontarkan pertanyaan usil:
“Kapan nyusul neh?” gw bicara dengan volume rendah, sambil mata gw melirik peti jenazah.
“Hush!!...” Bang Hendrik kaget menerima pertanyaan gw. Dia pucat, mencoba berusaha tersenyum tapi hambar.
“Kenapa Bang? Belom siap ya!?? bisik gw, sambil dalam hati tertawa puas.

Aduh ternyata si abang ini parno kalo berurusan dengan orang mati ha ha ha… Sekali lagi perasaan gw diliputi rasa puas, karena bisa membalas mulut usil dia he he he…


Conclusions:
Jangan mentang-mentang sudah merasa “normal” karena bisa menikahi perempuan, lantas merasa berhak dengan seenaknya mengobok-obok masalah pribadi orang lain. Banci mah tetep banci aja, bang. Ga bisa disembunyiin, sekalipun loe berlindung di balik lembaga pernikahan he he he…

Kamis, 06 Agustus 2009

Over Confidence Part II

Masih inget sama si Jovan yang mukanya ancur tapi rasa percaya dirinya sangat tinggi? Pagi-pagi banget, akhir Desember 2008 gw terima SMS dari Jovan:
“Doain aku ya, siang ini aku mau pemberkatan nikah di gereja.”
Hmmmhhh… yakin loe? kata gw dalam hati he he he… Tapi bagaimanapun juga ga ada salahnya untuk mencoba hidup “normal”. Beberapa hari kemudian setelah dia menikah gw diperkenalkan dengan istrinya lewat telpon. Dari situ gw tau, ternyata istrinya sudah tau kalo Jovan adalah gay. Cuma dia mau membantu “ kesembuhan” Jovan wakakakakaka….

Bulan Mei kemaren dia balik lagi ke Bandung. Seperti kedatanganya yang pertama dia datang tanpa konfirmasi dulu. Dia baru nelpon gw waktu dia udah ada di Kereta Turangga menuju Bandung. Tujuan dia ke Bandung katanya mau menjajal bisnis sepatu produk Cibaduyut. Weeeekkkksss apa istimewanya? Gw aja orang Bandung males banget pake sepatu Cibaduyut he he he…
Dia bilang selama di Bandung dia akan tinggal di tempat Burhan, temennya. Dan temennya itulah akan mengantar dia kesana-kemari.

Pagi-pagi banget, waktu gw masih di alam mimpi, dia telpon lagi.
Jovan :“Aku udah sampai Stasiun Bandung, tapi bingung mau kemana…”.
Gw :“Bukannya kamu mau dijemput temen kamu?” kata gw males-malesan.
Jovan :“Dia ga bisa jemput, katanya dia mau berangkat kerja”
Gw :“Aduh sorry, aku juga ada urusan neh, jadi ga bisa jemput kamu.”
Jovan :”Gimana dong? Bantuin aku, please…”
Gw :”Beneran, aku ga bisa.” (lebih tepatnya sih males he he he…).
Setelah gw keukeuh ga mau jemput (dengan berbagai alasan he he he…), akhirnya dia cuma minta dikasih tau angkot jurusan ke Cibaduyut doang, dan gw kasih tau.
Kurang dari satu jam dia telpon lagi.
Jovan :” Sekarang aku udah dijemput temennya temen aku, dia yang mau nganter aku ke Cibaduyut.”
Gw :”Syukur dech kalo gitu mah”
Jovan :” Tapi aku minta tolong ya, aku mau numpang mandi di tempat kamu”
Hmmmhhh… akhirnya dengan terpaksa gw mengijinkan dia datang ke rumah gw untuk menumpang mandi. seperti biasanya gw suka ga tegaan.

Dia datang diantar oleh Wendy menggunakan sepeda motornya. Ternyata gw baru tau, kalo yang disebut temennya itu (Burhan temennya Wendy), bukan temen lama Jovan. Tapi dia cuma temen chatting dan sebelumnya belum pernah ketemu. Parah banget nih orang!!!.

Di rumah dia ngoceh hal-hal yang ga penting. Dia cerita tentang kehebatan permainan seksnya, yang baru bisa ejakulasi setelah penetrasi lebih dari 2 jam. Hmmmhhh… Dia bilang Istrinya sampai kewalahan karena dia terlalu kuat dan hyper seks. Dia bilang, dia ga cukup ML 5 kali sehari. Gw ga tau, apakah dia berbohong atau berdusta he he he… Tapi menurut pengalaman gw, biasanya orang yang bermulut besar biasanya kemampuannya ga sebesar bacotnya he he he… Dia juga bilang kalo dia ML sama cowok lagi, setelah 3 hari pernikahannya… busyeett!!!

Gw dan Wendy sampai pusing ngedenger ocehannya…
“Aku bingung nih, tar malam mau nginep dimana…” kata Jovan.
“Kan di tempat Burhan, temen kamu.” sahut gw.
“Kayanya dia ngindar dari aku… dari nadanya dia ga mau ngasih tumpangan” kata Jovan.
“Oooohhh…” gw tersenyum kecut.
“Disini ga bisa ya?” tanyanya.
“Ga bisa euy!!!” jawab gw tegas.
“Kalo di rumah kamu?” Jovan nanya sama Wendy.
“Ga bisa, rumah aku kecil dan banyak orang lagi”. Jawab Wendy.
“Kenapa ga di hotel aja? Kan banyak yang murah-murah”. Gw ngasih saran.
“Aku bawa uangnya pas-pasan, jadi ga ada budget buat penginapan…”
Gila!!! Pergi jauh-jauh dari Surabaya ke Bandung cuma bawa duit buat ongkos doang??? Fuiiihhh…. Ga modal banget!! menyebalkan.

Lalu dia kasak kusuk, nelponin orang Bandung temen-temen chattingnya. Hasilnya? Ga ada satu orang pun yang mau mengijinkan Jovan bermalam di tempatnya…
(kasiaaaan dech loe!!!).

Jovan minjem laptop gw buat berinternet. Dia chatting nyari-nyari orang yang bisa ngasih dia tumpangan selama di Bandung. Tapi tetap semuanya tanpa hasil. Ya iya lah, mana ada orang yang mau ngasih tumpangan sama orang yang belom kenal, apalagi dia buruk rupa wakakakkaka….
“Aku ke Cibaduyut, tapi aku titip tas aku disini ya?” Pinta Jovan.
“Mendingan dibawa aja,… aku mau pergi ada urusan, tar kamu malah susah kalo mau ngambilnya” gw bermuslihat.
“Ya… gimana dong, masa aku nemuin calon rekan bisnis bawa-bawa tas gini? Kan ga elite”. Kata Jovan (yeee itu kan masalah loe he he he…).
“Aduh… Cuma ke Cibaduyut doang kok dibawa ribet sih?” gw mulai kehilangan kesabaran.
“Gini aja, kamu titipin tas kamu di Carrefour Molis aja, trus langsung ke Cibaduyut” sambung gw. (kalo dipikir-pikir gw jahat banget ya? he he he… tapi biarin, biar dia tau rasa!!! wakakakakak).

Akhirnya Jovan dan Wendy pergi dari rumah gw. Thank’s God, akhirnya orang paling menyebalkan (yang pernah gw temui) itu berlalu dari hadapan gw.

Kurang dari satu jam, Jovan lagi-lagi telpon gw.
“Aku ditinggalin di Cibaduyut sama si Wendy… Dia rese banget!!!” kata Jovan. Hmmmhhh… bukannya yang rese dan menyebalkan itu loe? (bisik gw dalam hati). Pantes aja Wendy ga tahan jalan bareng sama loe…
“Ooohhh…” Cuma itu yang keluar dari mulut gw.
“Tadi dia nanya nomor HP kamu, aku kasih tau gpp kan?”
“Gpp” jawab gw singkat.

Jovan bilang kalo dia sekalian pamit mau ke Jakarta (cari tumpangan lagi? Ha ha ha…), dan besoknya mau langsung pulang ke Surabaya.

Seteleh telpon dari Jovan gw tutup. Wendy nelpon. Dia memngeluarkan semua unek-uneknya teantang Jovan. Dia meluapkan kekesalannya dengan mengoceh penuh emosi he he he…
Ow ow ow… Jovan, kapan kamu bisa berubah?

Conclusions:
Over confidence, rese, menyebalkan, besar mulut, plus buruk rupa  adalah perpaduan yang sempurna untuk bikin orang muak dan muntah ha ha ha…

Rabu, 22 Juli 2009

Over Confidence

Awal perkenalan gw dengan Jovan, adalah empat tahun yang lalu lewat chatting. Jovan adalah seorang mahasiswa jurusan tekhnik, tingkat akhir salah satu PTS di Surabaya. Hampir satu tahun gw dan Jovan berteman tanpa saling ketemu dan tanpa saling tahu tampang masing-masing, karena kami ga pernah tukeran pic. Hubungan kami hanya lewat telepon dan internet saja.

Dia sering curhat dan bercerita tentang pengalaman-pengalamannya di Surabaya. Sebetulnya Jovan adalah tipe orang yang menyenangkan dan enak untuk diajak ngomong (even sering over confidence sih). Dia sering ngomong, kalo di Surabaya dia “laku keras”. Hmmmmmhhh… ga salah dong, kalo gw berkesimpulan dia itu pasti cakep, coz dia juga pernah cerita kalo dia pernah ikutan ajang pemilihan Cak dan Ning (semacam kontes pemilihan Abang dan None / Mojang dan Jajaka, versi Jawa Timur).

Suatu hari dia telpon:
“Farrel lagi apa?” tanyanya, di seberang sana.
“Lagi ada kerjaan.” Jawab gw
“Tau ga, sekarang aku lagi dimana?” lanjutnya.
“Hmmmmhhhh… ga tau. Emang kamu dimana gitu?” sahut gw.
“Aku di Bandung lho!!!” katanya, bersemangat.
“O ya?” Gila aja, masa ke Bandung tanpa rencana kaya gitu? Kata gw dalam hati.

Berikutnya kami pun larut dalama obrolan dan berjanji untuk ketemuan di BIP tar sore.
Gw sudah sampai di BIP , sekitar jam 18.00. Gw telepon Jovan dan nampak dari kejauhan ada seorang pemuda yang datang menghampiri gw. Sangat diluar dugaan!!!

Ternyata, dia sama sekali ga cakep… hmmmmhhhh malah cenderung buruk rupa he he he…Kesimpulan gw tentang fisik Jovan adalah: Item, bibir tebal, jidat jenong, rambut kriwil, gigi agak tonggos (mulutnya ga bisa mingkem he he he…), hidung lebar, dan wajahnya dipenuhi oleh bopeng bekas jerawat, plus jerawat-jerawat baru sebesar biji-biji jagung yang masih bertebaran… weeekkkksss!!! Sungguh jauh diluar prediksi gw!!!! Ha ha ha…

Sebagai tuan rumah yang baik, gw mengajak dia jalan-jalan keliling Bandung. Dia bilang kalo gay Bandung tuh cakep-cakep (ya eya lah!!! Apalagi kalo dibandingin sama loe!!! ha ha ha…).
Kesimpulannya, hari itu gw jadi guide dadakan nemenin Jovan menelusuri Kota Bandung.

Di sebuah foodcourt, waktu gw dan Jovan lagi makan. Tercetuslah obrolan:
“Farrel, menurut kamu siapa cowok paling cakep di Indonesia?” tanyanya.
“Siapa ya? banyaklah…” jawab gw.
“Salah satunya?” dia penasaran.
“Marcelinno Lefrandt, kali.” Sahut gw, asal sebut.
“Hmmmhhh… kalo dikasih score, ketampanan dia dapat nilai berapa?” lanjutnya.
“8,5 lah.” jawab gw.
“Hmmmmhhhh…. Menurut kamu, kalo dia nilainya 8,5… aku nilainya berapa?” Anjritt!!! Males banget gw ngejawabnya!!! Gw ga tega ngejawabnya. Tampangnya terlalu ancur buat gw nilai he he he…
Gw hanya terdiam, sambil senyum aja.
“Berapa?” Jovan penasaran.
“Ya ga bisa dibandinginlah…dia kan artis…” Gw bermuslihat.
“Iya, tapi tetep bisa kasih nilai kan?” Jovan mendesak.
“Kamu mau jawaban yang jujur atau…..” kalimat gw menggantung.
“Yang jujurlah!” Sahutnya, mantap. Dia terlihat sangat percaya diri.
“Ehhmmmm… 4.” Jawab gw, dengan dingin.

Sesaat tampangnya pucat pasi. Dia terlihat sangat shock dengan jawaban gw. Dia menggigit bibirnya, tapi dia tampak berusaha tegar.
“Masa sih nilai aku segitu rendahnya?” Jovan, terlihat rontok kepercayaan dirinya.
“Kan kamu yang nyuruh aku menjawab jujur…” Gw ga mau meralat jawaban gw. Sejujurnya, nilai dia yang sebenernya jauh lebih rendah dari itu ha ha ha….
Jawaban gw meluluhlantakan sifat over confidence dia.

Malam itu gw mengantarkan dia ke tempat dia menginap. Sampailah akhir pertemuan gw dan Jovan. Sebelum berpisah, dia nanya:
“Kita kan udah saling ketemu neh… Sekarang aku mau nanya. Kamu mau ga, ada kontak fisik sama aku?” tanyanya.
“Hmmmhhhh… maksud kamu ML?” gw balik nanya.
“Iya.” Sahutnya, sambil mengangguk.
“Ga!!! jawab gw mantap, sambil menggelengkan kepala. singkat, padat dan lugas.
O my God!!! Kok ada ya orang kaya gitu? Super pede, over confidence!!! Weeeekkkkss!!!

Conclusions:
Percaya diri itu memang bagus, tapi kalo sudah berlebihan dan ga sesuai dengan kualitas diri, bisa bikin mual orang yang ngedengernya. Mendingan ke laut aja dech main sama ubur-ubur he he he…

Sabtu, 18 Juli 2009

Shoulders To Cry On

Someday… and somewhere… Tepatnya di sebuah warnet, di Jalan Lengkong, Bandung. Gw lagi checkmail dan download beberapa file yang gw perlukan. Sambil nunggu selesai download, gw iseng chatting. Dan ketemulah gw dengan seseorang, namanya Rio. Dari awal Rio mendesak gw, ngajak ketemuan.

Biasanya makin orang mendesak ngajak ketemuan, gw makin males, coz orang-orang yg sangat bernafsu ngajak ketemuan, biasanya secara kualitas pasti dibawah standar he he he… Lagian dia ga pasang pic. Jadi gw bisa tau dia cakep atau ga-nya dari mana? Apalagi Rio umurnya udah diatas 26 tahun, hmmhhh gw jadi makin males dech (ups!!! ketahuan dech gw penggemar brondong he he he…). Secara ngobrolnya sih cukup nyambung dan keliatan banget kalo dia orangnya smart.

Butuh waktu yang cukup panjang, buat gw memutuskan untuk menemui Rio. Yup, hampir 3 jam gw chat sama dia. Berikut ini sedikit cuplikan chatting antara gw dengan Rio
Rio: “Aku lagi butuh seseorang…”
Gw: “Tapi aku ga bisa…”. Pikiran gw udah ngeres dech he he he…
Rio: “Bukan buat itu kok… Dari chat ini juga, aku udah tau kl kamu itu penggemar brondong.”.
Gw: “Trus buat apa dong?”
Rio: “Kamu orangnya bisa dipercaya kan?”
Gw: “Hmmmmhhh… Lumayan”.
Rio: “Feeling aku mengatakan kamu orangnya bisa dipercaya…”.
Gw: “Emang ada apa gitu?”.
Rio: “Sesuatu yang penting, urusan hidup mati aku…” gw merasa kalo dia sedang berbeban berat, dan tengah menghadapi masalah yang sangat serius.
Gw terdiam sesaat, berbagai pikiran berkecamuk di benak gw. Swear!!! gw bingung banget. Antara kasihan dan takut dikibulin.
Rio: ”Jadi kamu ga bisa kesini buat nolong aku ya?”.
Gw: “Aku bingung…”.
Rio: “Tenang aja, aku orang baik-baik kok. Aku cuma lagi butuh orang yang bisa aku percaya”.

Akhirnya tekad gw bulat buat menemui Rio di rumahnya, padahal jam tangan digital gw menunjukan angka 02.25 WIB. Setelah mendapakan alamat rumahnya, gw langsung meluncur dengan sepeda motor gw. Jalanan kecil yang gw lalui cukup bikin bulu kuduk berdiri. Selain dipinggirnya banyak ditumbuhi pepopohonan dan rerumputan liar, lampu penerangan jalannya pun sangat minim. Hmmmhhh… sungguh perjalanan dini hari yang berat buat gw.

Rio sudah menunggu gw di depan rumahnya. Rumahnya mungil tapi cukup asri. Sosok Rio ga terlalu tinggi, tapi besar. Taksiran gw bobotnya pasti lebih dari 90 KG. Yups dia gemuk, sipit tapi berkulit sawo matang. Dia tersenyum tanpa makna, senyumnya tampak dipaksakan.

Setelah gw dipersilahkan masuk, dan duduk di ruang keluarga. Di mulai bicara.
“Maaf aku maksa-maksa kamu datang kesini”. Sahutnya, membuka percakapan.
“Iya, gpp”. Jawab gw.
“Emang kamu lagi ada masalah apa?” tanya gw.
“Boleh aku memeluk kamu?, aku butuh bahu kamu Farrel…” Rio minta ijin gw. Gw hanya mengangguk.

Tiba-tiba, Rio memeluk gw dengan kencang dan menyandarkan kepalanya di bahu gw. Di menangis sejadi-jadinya, dengan tangisan seperti seorang yang sedang terluka hatinya. Gw bingung mau bereaksi seperti apa.

Gw hanya mengikuti naluri gw buat nenangin perasaan Rio dengan membiarkan semua emosinya terluap. Gw hanya menepuk- nepuk punggungnya dan sesekali mengusap kepalanya. Cukup lama, dia menangis. Ya lebih dari setengah jam dia menangis.
Setelah selesai menangis dia menatap gw dengan matanya yang masih sembab sambil bicara:
“Maaf ya… aku hanya bikin kamu susah…”.
“Jujur, aku tulus melakukan semua ini buat kamu…”. Gw membesarkan hatinya. Sekalipun gw masih bingung dengan apa yang menjadi inti dari permasalahan yang sedang Rio hadapi.
“Thank’s ya…” Rio, nampak mulai tenang dan bisa menguasai dirinya.
“Tunggu sebentar ya, aku mau ke toilet. Aku mau cuci muka dulu”. Sahut Rio.
Gw hanya tersenyum dan memberikan anggukan tanda kalo gw ga keberatan.

Ga begitu lama dia keluar dari toilet dan mengajak gw untuk duduk di ruang makan. Suasana sudah mulai mencair.
“Ngobrolnya disini aja ya ajaknya”. Sambil menyodorkan secangkir teh hangat buatannya.
“Kamu dokter ya?” tanya gw.
“Kok, kamu tau?” Rio balik bertanya, sambil tersenyum.
“Ya, aku lihat banyak buku-buku kedokteran di rak buku kamu”. Jawab gw.
“Kamu benar. Aku dokter… hmmhh spesialis bedah”.

Lalu meluncurlah penuturan dari mulut Rio… eh dr Rio he he he… Dia menjelaskan kalo dia sedang menghadapi masalah yang sangat berat yang membuatnya depresi. Rio tengah menghadapi tuntutan keluarga pasien, yang meninggal di meja operasi. Rio dianggap malpraktek oleh keluarga pasien itu.

Masalah lain yang membelit Rio adalah, Rio tengah limbung ditinggalkan pasangan sejenisnya yang berpaling ke pria lain. Padahal mereka sudah beberapa tahun hidup seatap bersama.
“Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, Rio…” Gw mencoba berkata bijak.

Gw, ga mau berbicara terlalu banyak. Karena gw tau, Rio ga butuh nasihat-nasihat gw. Dia ga butuh kata-kata manis penghibur hatinya. Dia hanya membutuhkan:
- TEMAN yang mau mendengarnya berkeluh kesah,
- PELUKAN hangat seorang sahabat, dan
- BAHU, tempat dia bersandar dan menangis meluapkan emosinya.

Di pagi buta itu, bahu gw sudah bisa menenangkan jiwa seorang manusia yang tengah putus asa, dan nyaris bunuh diri… Bahu gw sudah menjadi tempat meluapkan tangis seseorang yang sedang gundah gulana…
Gw jadi teringat sebuah lagu tahun 90-an milik penyanyi tampan, Tommy Page. Yup, SHOULDERS TO CRY ON…

Conclusions:
Ternyata pelukan hangat bersahabat, bisa menyentuh hati yang terdalam manusia. Dan bahu tempat orang menumpahkan tangis derita, bahkan jauh lebih berharga dari kata-kata bijak manapun.