Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2011

Perjodohan Bodoh

Setiap orang punya impian untuk hidup bahagia. Salah satunya bahagia dalam membina rumah tangga. Ngomongin tentang berumah tangga tentu saja ga bisa lepas dari masalah jodoh. Jodoh memang gampang-gampang susah. Kelihatannya sesuatu yang simple tapi pada kenyataannya sangat rumit. Bagi seseorang mungkin mudah sekali mendapatkannya (hingga bisa kawin cerai berkali-kali), tapi bagi yang lain merupakan hal yang teramat sulit.

Kesulitan mendapatkan jodoh ga selalu karena kualitas kita dibawah standar (buruk rupa, miskin, cacat, penyakitan, ga berpendidikan, berwatak buruk dll). Tapi semua semata-mata karena kita belum menemukan pasangan jiwa kita. Entah cuma masalah waktu, atau sudah kehendak dan rahasia Ilahi.

Banyak cara untuk menemukan pasangan hidup kita. Salah satunya lewat perjodohan. Gw sendiri beberapa kali menolak untuk dijodohkan, dengan alasan gw mampu mencari sendiri. Padahal bukan perempuan-perempuan sembarangan dan buruk rupa yang rencananya dijodohkan dengan gw;  mulai dari pergawai kantoran, guru, anak pemilik toko mas, rohaniawan, pemilik bakery, pimpinan sebuah bank swasta, dosen, dokter, dokter gigi dll. Tapi semuanya ga gw tanggapi serius. Sampai-sampai orangtua, sodara-sodara dan temen-temen gw menyerah menjodohkan gw... Ya iya lah gw tolak mentah-mentah, kecuali kl gw dijodohkan sama cowok cute yang bisa bikin hati gw cenat-cenut he he he...

Tapi lain dengan adik perempuan gw, sebut saja namanya Angel. Beberapa tahun yang lalu, saat umurnya sudah menginjak angka 27 tahun dia ga mampu menolak skenario perjodohan kakak sepupu gw Renata. Renata mengatur semuanya secara elegan dan smooth. Berawal dari pertemuan yang direkayasa seolah-olah tak disengaja antara keluarga kami dengan keluarga Liem, waktu menghadiri sebuah resepsi pernikahan. Mama dihampiri oleh Ibu Liem, yang bercerita tentang putera sulungnya, Sammy, yang belum menikah. Dia telah dilangakahi menikah oleh 2 orang adik perempuannya. Ibu Liem sangat berharap bisa menyatukan 2 keluarga besar kami dalam ikatan pernikahan Sammy dan Angel.

Setelah menimbang-nimbang bibit, bebet, bobot. Didapatlah kesimpulan kalo Sammy berasal keluarga baik-baik dan keluarga yang cukup terpandang  di kota S. Gw hanya menilai Sammy itu terlalu pendiam. Menurut gw orang pendiam seringkali ga ketahuan apa maunya. Angel hanya bilang: ingin saling mengenal dulu. Dan keluarga setuju dengan keputusan Angel. Mulai sejak saat itu, Sammy jadi sering berkunjung ke rumah kami. Sammy dan Angela memasuki masa-masa perkenalan dan yang bisa disebut pacaran selama lebih dari 6 bulan. Seminggu sekali Sammy datang dan mengajak Angel jalan. Angel yang pada awalnya merasa ga sreg dengan Sammy, akhirnya luluh juga melihat keseriusan, usaha dan kerja keras Sammy unutk merebut hatinya.

Setelah dirasa ada kecocokan, lamaran pun akhirnya dilakukan oleh keluarga Liem, dan 6 bulan kemudian diputuskan pernikahan Sammy dan Angel akan dilaksanakan.

Gw sendiri yang merancang detail acara pernikahan adik gw tersayang itu. Mulai dari pemilihan kartu undangan, acara, pengisi acara, dan segala tetek bengeknya. Hanya soal make up, gaun, dan catering yang gw ga terlibat langsung.

Pesta pernikahan pun akhirnya digelar juga di sebuah hotel berbintang di Bandung. Dengan pesta bertema dunia bawah laut, warna biru sebagai warna dasar. mulai dari dekorasi, kue pengantin, acara, sampai dengan cindera mata semuanya berhubungan dengan dunia bawah laut. Kerja keras gw selama berbulan-bulan menjadi Wedding Organizer dadakan terbayar sudah dengan kepuasan bathin gw, melihat pesta pernikahan Sammy dan Angel berjalan dengan sukses dan lancar. Kesuksesan acara itu tidak gw pungkiri salah satunya karena kepiawaian MC-nya. O ya, MC yang memandu acara pernikahan adik gw itu sekarang sudah jadi celebrities terkenal yang honornya selangit. Untunglah saat itu gw bisa meloby dia dengan harga yang sangat ‘bersahabat dan kekeluargaan’ ( karena memang dia masih termasuk kerabat jauh kami he he he...).

Setelah menikah Angel kemudian menetap di kota S bersama keluarga suaminya. Baru beberapa bulan pernikahan, gw  mulai melihat kejanggalan. Angel lebih sering pulang meninggalkan suaminya dan betah berlama-lama tinggal di Bandung, di rumah kami. Lebih dari 1 tahun Angel tinggal di Kota S, disana dia merintis membuka Toko Pakaian.

Ibu Liem kemudian menugaskan Sammy dan Angel untuk memegang salah satu cabang perusahaannya di kota K. Hal itu otomatis mengharuskan Angel tinggal di Kota K. Angel dengan terpaksa menutup Toko Pakaian yang sedang dirintisnya di Kota S. Hampir 2 tahun Angel tinggal di kota K. 2 minggu sekali dia masih suka pulang ke Bandung (lagi-lagi tanpa suaminya) untuk tinggal 2-3 hari di rumah kami.

Semakin lama Angel semakin sering pulang dan bisa berminggu-minggu tinggal di Bandung. Tadinya gw ga mau mencampuri urusan rumah tangga Angel. Dalam satu kesempatan gw mengajak Angel ngobrol dari hati ke hati. Dari situ terungkap semuanya. Ternyata setiap harinya di kota K, Sammy selalu pulang larut malam, tak ada komunikasi, bahkan tidak pernah ‘menyentuh’ tubuh Angel. Angel menyadari kalo dirinya ternyata hanya dijadikan objek penderita oleh Sammy demi menutupi kebobrokannya. Berkali-kali Angel menemukan sms-sms mesra dari orang lain di hp Sammy. Angel juga sempat diteror sms dari nomor-nomor yang tak dikenal, yang mengatakan kalo Sammy itu miliknya, dan Angel telah merusak hubungan dia dan Sammy. Tapi anehnya Sammy keukeuh ga mau bercerai. Dia malah menggantung nasib adik gw dalam ketidak-menentuan.

Kami pun berunding dengan Ibu Liem tentang apa yang terjadi. Demi kebaikan Sammy dan Angel, Ibu Liem menutup perusahaannya di kota K. Maksud hati supaya Sammy tinggal di S dan bisa dikendalikannya, alih-alih malah Sammy menghilang berbulan-bulan pergi entah kemana. Lalu kami memutuskan kalo Angel untuk sementara kami tarik tinggal di Bandung. Tapi sesekali Angel masih boleh ke kota S untuk menengok mertuanya.


Berkali-kali Sammy datang ke rumah ibunya dan kemudian menghilang lagi. Beberapa bulan menghilang kemudian datang lagi untuk meminta uang. Hal yang sama terjadi berulang-ulang selama kurun waktu lebih dari satu tahun.

Gw sering memergoki adik kesayangan gw sedang menangis di kamarnya. Tak terhitung sudah curahan air mata dan doa-doa yang dia panjatkan dalam menghadapi kemelut rumah tangganya. Hal itu semakin menyesakkan dada keluarga kami. Satu titik kesimpulan: semua ini harus diakhiri!

Tanggal 25 Februari 2011 kemarin, setelah sebelumnya mendengar kabar kalo Sammy sedang ada di rumah ibunya. Secara mendadak kami sekeluarga berangkat ke kota S. Dengan didampingi oleh beberapa kerabat yang kami anggap bijaksana, kami pun berembuk.

Awalnya Sammy menolak menemui kami, dia malah menuduh ibunya yang merekayasa kedatangan kami. Akhirnya setelah menunggu sekian lama, kami memaksakan diri masuk ke ruangan tempat Sammy berada. Disana kami meminta kejelasan dan apa yang dikehendaki oleh Sammy. Setelah kami desak akhirnya Sammy mau bicara. Dan gw masih ingat dengan jelas, kata-kata Sammy terekam dalam benak gw:

Sammy : “Saya yang salah!!, saya yang berengsek, saya yang bajingan!! pernikahan ini ga mungkin  dilanjutkan!! Kalo diteruskan Angel yang bakal terus-menerus menderita!!! Kasihan dia.”
Disambung oleh derai tangis menyayat hati ibunya.
Ibu Liem: “Maafkan saya yang tidak bisa mendidik anak ini... Dia jadi kurang ajar gara-gara saya...”
Sammy  : “Sudahlah Mami!! Pokoknya saya mau cerai!!! Sekalipun Mami tidak menganggap lagi saya        sebagai anak, dan mencoret saya dari daftar ahli waris!! Saya tidak peduli!!!
Ibu Liem: “Mami sudah mencoba berkali-kali membawa kamu ke psikiater, tapi kamu tidak mau makan obatnya. Makanya kamu tidak sembuh-sembuh!!!”

Mama, Angel dan kakak-kakak gw terhenyak mendengar perkataan Ibu Liem, yang lagi menahan emosi. Penyakit kejiwaan apa yang ibu Liem maksud??? Semua jadi tanda tanya besar bagi keluarga kami. Tapi buat gw itu adalah masalah yang simple, gw yakin banget kalo Sammy itu PLU alias gay. Sebenarnya gaydar gw sudah menangkapnya dari dulu. Keliatan dari sifat childish-nya, bahasa tubuhnya dan selalu dibawah kontrol ibunya. Dan sekarang yang lebih meyakinkan gw adalah selama 4 tahun lebih dia tidak pernah mau ‘tidur bareng’ dengan Angel.

Setelah berunding, keluarga kami memutuskan: Sammy dan Angel untuk bercerai, dan memberi waktu kepada Sammy untuk segera mengajukan gugatan cerai. Kalo dalam jangka waktu 1 bulan Sammy belum menggugat cerai, maka keluarga kami yang akan mengajukan gugatan.

Perceraian memang sesuatu yang dilarang dalam agama Kristen; “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.” Tapi apa boleh buat? Semoga kasus ini adalah sebuah pengecualian...

Ironis memang, maksud baik untuk ‘sembuh’ dengan menikah melalui perjodohan ternyata malah menggiring orang lain menjadi ‘korban’ keegoisan. Dan korbannya itu adalah Angel, adik gw. Perjodohan bodoh, yang berujung tangis penyesalan dan perceraian. Perjodohan bodoh melukai kami semua. Pernikahan semu dan penuh kepura-puraan merusak hubungan harmonis 2 keluarga besar. Semoga tidak akan ada Angel-Angel lainnya... Semoga!!!

Conclusions:
Berusaha untuk ‘sembuh’ itu baik, bahkan sangat baik!! Tapi kalo merasa ‘tidak mampu’ menjalaninya, lebih baik jangan lakukan. Jangan libatkan orang lain untuk menjadi ‘korban’ pelengkap keegoisan kita.

Senin, 10 Januari 2011

Darmaji

Malam itu 17 Desember 2010, jalanan aspal sepanjang kota Bandung masih basah akibat sisa-sisa guyuran air hujan tadi malam. Seperti biasanya, setiap Jumat malam setelah main bulutangkis, gw dan kawan-kawan suka merambah kota Bandung berwisata kuliner tengah malam. Hampir semua kedai atau tempat makan yang suka berjualan sampai dini hari sudah gw sambangi.

Perkedel Bondon menjadi tempat tujuan makan tengah malam kami malam itu. Perkedel Bondon? Yups!! Perkedel Bondon. Perkedel pasti tau dong apa? Nah, kalo Bondon? Bondon istilah dalam Bahasa Sunda untuk PSK atau pelacur. Trus apa hubungannya antara perkedel dengan bondon/PSK? Bukan gara-gara yang jualanannya berprofesi ganda sebagai bondon lho he he he... Mungkin karena jam jualannya tengah malam (diatas jam 22.00 sampai pagi), yang persis banget dengan jam bergerilyanya para bondon menjajakan diri.... Wuiiihhh...

Gw dan kelima teman gw, Alvin, Viona, Gunadi,Syani, dan Hizkia baru sampai di terminal angkutan umum, stasiun hall (lokasi Penjual Perkedel Bondon). Padahal waktu sudah menunjukan 15 menit lewat dari tengah malam. Aroma harum perkedel yang lagi digoreng menyeruak, menggelitik hidung kami. Mungkin rahasia aroma harumnya karena perkedel itu digoreng diatas tungku dengan bara arang sebagai pemanasnya. Ga pake menunggu lama kami pun berbaur dengan puluhan orang yang sudah memenuhi kedai itu.

20 biji perkedel (tanpa bondon hihihi...) kami pesan. Kami santap dengan lahap. Perkedel yang renyah dan masih panas dengan nasi putih dan sambal terasi plus aneka hidangan lain (seperti sayur lodeh, semur telor, dendeng sapi, orak-arik tempe dll), membuat kami lupa diri (persetan dengan program diet he he he...). dalam waktu singkat perkedel sudah hilang dari pandangan mata, berpindah ke dalam perut buncit mereka (dan gw tentunya) he he he... Alvin pesan 10 biji perkedel lagi, dan hampir ludes juga dalam hitungan menit. Sebenernya gw sudah berkali-kali makan perkedel bondon, tapi ga tau kenapa, Perkedel Bondon selalu ngangenin dan bikin gw makan dengan lahap. Selagi kami makan, Syani memesan 10 biji lagi buat dibawa pulang (maklum dia baru sekali itu nyobain perkedel bondon). Alvin minta penjual membungkuskan 2 biji perkedel yang tersisa di piring (tanggung banget ya? mau dimakan udah kekenyangan, mau ditinggalin sayang he he he...).

Malam itu giliran gw yang membereskan pembayaran makanan. Gw mengabsen apa-apa saja yang telah mengisi perut kami. 30 biji perkedel, 1 mangkuk sayur lodeh, 1 dendeng sapi, 1 biji semur telor, tumis so’un cabe ijo, orak-arik tempe, 1 botol coca cola dan lain-lain, total Rp 58.000,- saja. Dan kami pun melenggang pulang dengan perut kekenyangan...

Setelah sampai di rumah, beres mandi dan siap naik ke tempat tidur gw baru nyadar kalo perkedel yang kami pesan itu ternyata 40 biji bukan 30 biji. Gw sama sekali ga ada maksud DARMAJI = dahar lima ngaku hiji (makan lima ngaku satu lho... he he he...). Ga seberapa sih cuma 10.000 perak doang, tapi kok bikin ga enak hati ya?. Trus gw langsung telpon Syani dan Alvin, mereka malah cekikikan ngetawain gw.
“Sialan!! Oke Syani, gw yang salah bayar, tapi kan loe yang makan 10 biji perkedelnya, jadi loe dong yang nanggung dosanya... jiakkakakak...” sahut gw.
“Idih, ogah ah... ha ha ha...” jawab Syani sambil ketawa-ketawa.
Gw ngomong dalam hati: “Maaf ya Bu Bondon... Eitttsss!!! Uppppsss!!!...” Ralat: “Maaf ya Bu Penjual Perkedel Bondon he he he... Tar kalo kami kesana lagi pasti kami bayar dech. Swear!!!”

24 Desember 2010, setelah kebaktian Natal. Gw, Alvin, Viona, Syani dan Gunadi meluncur ke bukit dago, dengan tujuan Warung Lela atau lebih dikenal dengan Wale di Jl. Rancakendal, Dago atas. Butuh perjuangan untuk sampai disana. Jalan kecil yang naik turun, dengan tikungan-tikungan tajamnya tak menyurutkan semangat kami dan orang-orang untuk menjajal makanan Wale. Jam sudah beranjak pukul 21.00 malam, tapi pengunjung Wale masih ramai berjubel memenuhi semua sudut Wale. Menu special Wale adalah Mie Bakso, tapi malam itu gw lagi pengen nyoba nasi dan semur lidah sapi, sementara temen-temen yang laen pesan 2 porsi Mie Yamien Manis+Bakso, 1 porsi Yahun Manis+Bakso dan 1 porsi Yahun asin+pangsit.

Semur lidah sapinya empuk, lumayan enak (buat gw yang baru nyobain lidah sapi, kalo lidah cowok sih udah sering ha ha ha...). Menurut gw sih Mie Bakso Wale, lumayan enak, tapi masih kalah enak dengan Mie Akong, Jl. Pungkur, Mie Naripan, Jl Naripan, Mie Rica Rica, Jl. Kejaksaan dll.

Mungkin yang bikin orang mau jauh-jauh makan di Wale, karena tempatnya yang cozy. Dengan furniture kursi-kursi dan meja tua jaman jebot yang pelitur-nya dibiarin terkelupas. Begitu juga interiornya terbuat dari kayu-kayu tua. Taman yang asri dengan tangga batu alam, menambah kenyamanan berkuliner di hawa dingin Bukit Dago.

Waiter-waiter di Wale semuanya berkulit gelap, dengan karakter wajah n’deso alias eksotis he he he... Waiter-waiter itu terlihat jomplang dari segi umur, ada yang terlihat ABG ada juga yang terlihat sudah tua. Dan semuanya tidak memakai pakaian seragam. Tapi dalam hal pelayanan, mereka sangat cekatan.

Gw dan teman-teman, menyantap hidangan di hadapan kami sambil asyik ngobrol ngalor ngidul. Alvin yang doyan pedas, nampak mulai berkeringat he he he... sambil asyik makan mie baksonya dia menikmati berbungkus-bungkus kerupuk (sebenernya kerupuk warung biasa, yang kalo di warung deket rumah dijual Rp500,-).
“Sudah lama banget ga makan kerupuk ginian, jadi inget jaman SD.” Sahutnya.
“Kalo mau mah, tar gw beliin dech... di pasar paling juga 4.000 perak isi 10 bungkus” Kata Syani.
“O ya? Beneran neh?” Kata Alvin.
“Iya atuh, masa gw bohong.” Jawab Syani.
“Gpp-lah sementara mah, makan yang ini aja dulu, paling juga 1000 perak per bungkus.” Lanjut Alvin sambil, membuka bungkus kerupuk ke-lima yang dimakannya.

Makanan di meja pun ludes, setelah puas ngobrol kami segera beranjak menuju kasir. Waktu itu giliran Syani yang membereskan bon makanan kami. Disana sang kasir (berbadan jumbo he he he...) mulai mengabsen makanan yang kami makan: Nasi+Semur lidah, Yamien, Yahun, 2 bungkus pangsit goreng, 6 bungkus kerupuk. Yuni mengangguk, membenarkan. Dan dibayarkanlah sejumlah uang sesuai jumlah yang tercetak di struk.

Sementara Gunadi pergi ke toilet. Gw, Alvin, Syani dan Viona kembali harus duduk manis tak jauh dari meja kasir, menunggu Gunadi muncul. Alvin, meminjam struk pembayaran. Dia memperhatikan setiap angka yang tercetak di lembaran kertas struk itu.
“Anjrit!!! Kerupuk Rp 3.000,- per bungkus!!!” Teriak Alvin secara spontan.
Kami semua cekakak cekikik dengan suara tertahan
“Kata gw jg, mendingan beli di pasar Rp 4.000,- dapet 10 bungkus, bro!!” Sahut Syani, sambil ngakak.
Selagi kami ketawa-ketawa, seorang waiter lewat dan menyahut:
“Mas, di Wale mah ga jualan kerupuk, tapi jual kursi!!” dengan suara bernada nyindir sambil ngeloyor (mungkin maksudnya kenyamananlah yang jadi daya jual Wale).
Sambil kami berlalu, gw menggumam:
“Lha, yang dimakan kan kerupuk, bukannya kursi...!!!” disambut suara tawa kami yang makin keras ha ha ha...

Mobil meluncur ke bawah meninggalkan Wale. Gw iseng meminjam struk pembayaran tadi. Dan gw teliti satu per satu.
“Ooiiiii!!! kok yang dibayar cuma 1 porsi nasi+semur lidah sapi, 1 yamien+bakso, dan 1 yahun +bakso? Yang 2 porsi ga kebayar dong??” sahut gw.
“Masa sih?” tanya Viona.
"Beneran neh?" Syani ikut penasaran.
“Iya, coba lihat dech! 1 porsi yamien dan 1 porsi yahun ga ada di struk ini” kata gw sambil nyodorin kertas struk pembayaran ke arah Syani yang duduk di jok depan.
“Sebenernya tadi gw udah tau, dan mau bayar kekurangannya, tapi gw dongkol denger omongan songong si waiter. Makanya gw ga jadi ngomong ha ha ha...” kata Alvin tertawa puas.
“Coba kalo dia ngomongnya sopan, pasti gw bayar tuh kekurangan Rp 34.000,-.” Sambung Alvin.
Sepanjang jalan, gw dan teman-teman becanda niru-niru ekpsresi kaget Si Alvin dan omongan si waiter songong sambil ketawa-ketawa...
Ga seberapa sih, hanya Rp 34.000,- (2 X @17.000,-), tapi Alvin terlanjur kesal dan merasa dipermalukan, makanya dia jadi ga niat bayar. Boro-boro bayar, balik lagi ke Wale juga, dia udah ogah!!! Kapok pok pok pok...

Turun dari Bukit dago, karena perut belom full tank, wisata kuliner berlanjut di kedai tukang jagung bakar di depan Toko Kalam Hidup, ga jauh dari Dago Plaza. Tujuan kami adalah menjajal makan Corn Pie, atas rekomendasi Gunadi. Yang disebut Corn Pie, ternyata bentuknya seperti lumpia goreng berisi jagung manis yang diracik dengan bumbu. Murah, enak, dan layak dicoba!!! Satu-satunya yang jualan Corn Pie cuma di kedai jagung bakar depan Toko Kalam Hidup lho. 3 Corn Pie, 2 jagung bakar manis pedas, 1 porsi colenak, dan 2 roti bakar, lenyap dalam sekejap mata. Kami dilayani oleh perempuan sederhana dengan senyum dan keramahannya. Makanan di pinggir jalan pun bisa memberi kepuasan, bila disajikan dengan tulus hati.

Dalam satu minggu itu, 2 kali gw dan teman-teman punya ‘utang dadakan’ gara-gara kurang bayar. Bukan karena sengaja atau khilaf lho.Yang perkedel ada niat untuk dibayar, sementara yang di Wale? Entahlah he he he... (itu urusan si Alvin, coz makanan gw mah udah gw bayar sama Syani he he he...). Yang jelas DARMAJI bukan gw banget dech wkwkwkwk...

Conclusions:
Kata-kata yang halus dan santun, efeknya sangat besar. Apalagi buat yang bergerak di dunia bisnis kuliner.

Sabtu, 19 Juni 2010

Ketulusan Hati Mama

Jika ada orang yang bertanya, siapakah orang terpenting dalam hidup gw. Gw akan langsung menjawab dengan mantap: Mama!! Mama gw adalah sosok perempuan sederhana, tabah, berhati lembut, tapi tegar. Masalah demi masalah dihadapinya dengan keikhlasan dan keteguhan hati. Di usianya yg sudah beranjak senja, masih tergores sisa-sisa kecantikan masa mudanya.

Mama berasal dari keluarga menengah di kota S di Jawa Barat. Terlahir sebagai anak bungsu dari 9 bersaudara. Di usianya yang belum genap 2 tahun, ibunya (nenek gw) meninggal dunia. Sepeninggal ibunya, Mama dibesarkan oleh bapak bersama ibu tirinya. Dari istri barunya, kakek gw tidak mendapat keturunan, maka tidak heran kalo nenek tiri gw sangat menyayangi mama gw.

Menginjak usia 8 tahun mama diadopsi oleh keluarga Belanda yang tinggal di sebuah rumah di Jl. Menado, Bandung. Pasangan bule Meneeer & Mefrou Hengky sangat menyayangi mama gw. Dari didikan orangtua angkatnya, mama tumbuh menjadi sosok perempuan yang mandiri.
Menginjak usia 14 tahun, kedua orangtua angkat mama, harus meninggalkan Indonesia dan kembali ke negeri leluhurnya. Mama tidak ikut dibawa ke Belanda, karena keluarga dan kerabat tidak mengijinkan mama diboyong ke negeri kincir angin itu.

Akhirnya mama tinggal dengan kakak perempuan tertuanya di Bandung. Mama bertugas mengasuh keponakan-keponakannya, yang jumlahnya banyak sekali (kakaknya mama hampir tiap tahun melahirkan, bahkan ada anaknya yang lahir di tahun yang sama). Usia antara mama dan keponakan yang tertua, hanya terpaut beberapa tahun, maka tak heran sering terjadi konflik dan pertengkaran khas anak-anak. Apapun masalahnya: benar atau salah, berujung dengan mama yang harus mengalah.

Setiap harinya mama melakukan perkerjaan rumah tangga dan merawat keponakan-keponakannya. Hal itu dilakukan selama bertahun-tahun.

Mama menikah dengan seorang pemuda, teman sekelasnya waktu sekolah. Dari pernikahannya lahirlah kakak laki-laki pertama gw, Max. Kemudian disusul kelahiran 2 bayi kembar perempuan, yang sayang umurnya tidak bertahan lama. Berikutnya mama melahirkan seorang anak laki-laki, namanya Ivan, mama sangat menyayangi dia, tapi Ivan pun harus meninggal di usianya yang baru menginjak 1 tahun 7 bulan. Konon wajah Ivan mirip banget dengan gw (nanti akan gw ceritakan secara khusus, kisah kemiripian antara Ivan dan gw).

Keterpurukan ekonomi yang berimbas pada bangkrutnya perusahaan tempat papa bekerja. PHK besar-besaran terjadi, dan papa adalah salah satu korbannya. Keluarga kecil yang awalnya hidup sederhana makin terjepit krisis. Kemiskinan dan masalah keuangan yang tak kunjung usai membuat mama nekad kembali ke kota asalnya S, meninggalkan papa. Mama pergi membawa Max, padahal dia tengah berbadan dua. Papa menyusulnya beberapa bulan kemudian, setelah anak perempuannya lahir.

Mereka pun menetap di kota S, dan tinggal di rumah almarhum orang tuanya, yang sudah dikuasai dan ditempati oleh keluarga kakak perempuan kedua mama, sebut saja namanya Tante Anna.
Setiap harinya mama dan papa bekerja membantu keluarga Tante Anna membuat kue-kue dan makanan lainnya untuk dijual. Banyak sekali jenis kue yang dibuat dari subuh sampai sore. Sore hari bukan berarti pekerjaan itu selesai, karena sore hari sampai larut malam, papa dan mama harus bekerja lagi berjualan martabak di alun-alun kota S. Bertahun-tahun mama bertahan, membanting tulang memeras tenaga.

Sudah tak terhitung lagi seberapa banyak cucuran keringat dan air mata yang tertumpah. Menyedihkan sekali, kerja keras mama dan papa hanya dihargai oleh 2 piring nasi sehari. Jangankan gaji, uang sakupun tak pernah ada. Bener-bener jadi jongos gratisan!! Sampai meninggalpun papah masih menyimpan rasa kecewa dan sakit hati itu. Lain halnya dengan mama gw, dia dengan ikhlas menerima semua itu sebagai jalan hidup yang sudah digariskan Tuhan.

Tante Anna ternyata tidak sekedar licik, tapi juga serakah. Rumah dan tanah warisan peninggalan kakek-nenek gw juga dijualnya tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya. Uangnya dia kuasai, saudara-saudaranya yang lain sekalipun pembagiannya tidak rata tapi masih mendapat bagian. Tapi mama gw tak pernah mendapatkan sepeserpun apa yang seharusnya menjadi haknya, karena sudah di telan bulat-bulat oleh saudara kandungnya sendiri. Tapi sekali lagi mama tetap ikhlas.

Papa dan mama sepakat meninggalkan kota S dan kembali ke rumah, di daerah Bandung Selatan. Selepas dari Kota S, mama mencoba berjualan makanan dan papa bekerja di adik iparnya, Om Budiman. Setiap harinya papa bekerja melelehkan dan mencetak lilin. Ribuan bahkan mungkin jutaan batang lilin telah dia hasilkan. Tapi selama berbulan-bulan itu papa tidak pernah mendapat gaji. Sekali lagi papa diperas tenaganya dan dimanfaatkan orang. Yang lebih menyakitkan adalah karena orang-orang licik itu adalah saudaranya sendiri, yang seharusnya memberi pertolongan.

Sampai suatu hari ketika persediaan beras dirumah habis. Papa menyuruh mama untuk meminjam beras ke rumah adiknya, karena papa tahu kalo adiknya baru saja membeli sekarung beras. Tapi sesampainya mama di rumah Om dan Tante Budiman, bukannya pinjaman beras yang didapat tapi hanya hinaan dan kata-kata yang merendahkan. Mama pulang dengan rasa sesak didada menahan tangis. Sesampai di rumah, mama tak kuasa menahan air matanya menetes. Mulai saat itu papa bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah adiknya lagi.

Akhirnya papa mendapatkan pekerjaan lagi, dan secara berangsur-angsur keadaan ekonomi keluarga membaik. Kemudian lahirlah gw dan beberapa tahun kemudian disusul dengan kelahiran adik perempuan gw. Bertahun-tahun papa bekerja keras dan membuahkan hasil. Keadaan sebaliknya terjadi pada keluarga adik perempuan papa. Om Budiman bangkrut. Rumah dan semua harta bendanya ludes akibat kegemarannya berjudi. Berkali-kali papa memberi modal tapi tak pernah membuahkan hasil. Akhirnya papa dan mama menyuruh keluarga Om Budiman untuk numpang di rumah kami. Keluarga kami yang tadinya beranggotakan 6 orang (2 orangtua dan 4 anak), kini harus berbagi tempat dengan 7 orang lagi (Om dan Tante Budiman berama 5 anaknya). Ruang keluarga kalo malam tiba berubah fungsi jadi tempat tidur mereka. Lebih dari 5 tahun keluarga Om Budiman menumpang di rumah kecil kami. Tapi yang membuat gw geram, Om Budiman sehari-hari kerjanya cuma makan dan tidur (pengangguran seumur hidup, bahkan sampai dia meninggal!!!). Malah dia sering menyebalkan karena suka menyuruh-nyuruh gw untuk membeli rokok, memijit badannya dan pekerjaan lainnya yang seharusnya dia kerjakan sendiri. Privacy keluarga kami makin terasa terganggu, kami sering merasa ga enak hati.

Papa kemudian menyewakan rumah buat keluarga adiknya dan mensupport uang bulanan, hingga anak-anak keluarga Om Budiman punya pekerjaan. Dengan mata dan kepala gw sendiri, gw melihat kemurnian hati mama. Dia masih mau menolong keluarga Budiman yang dulu pernah mendzoliminya. Demikian juga terhadap keluarga Tante Anna, mama tak pernah menyimpan dendam. Gw sampai heran, terbuat dari apakah hati mama? Hatinya terlalu murni, bahkan jika dibandingkan dengan emas sekalipun. Ketulusannya telah teruji oleh sang waktu.

Sekarang sepeninggal papa dan semua anak-anaknya dewasa. Tak ada yang berubah dari mama. Dia tetap menyayangi kami, seperti dia menyayangi kami sewaktu kecil. Dia tidak pernah menuntut apa-apa. Dia tidak pernah meminta, yang ada di kamusnya hanya ada kata ‘memberi’. Memberikan cintanya setulus hati. Bahkan dia tidak pernah menyinggung-nyinggung soal kapan gw akan berumah tangga (saudara kandung gw semuanya sudah menikah).

Gw sangat yakin, sekalipun dia tahu keadaan gw yang sebenarnya, dia masih bisa dan mau menerima gw apa adanya. Tapi gw ga sanggup melihat hati mama terluka. Gw ga mau menorehkan luka di jiwanya... Gw hanya ingin membiarkan masalah ini hilang ditelan zaman dan berlalu ditelan waktu. I love you Mom!!!

Conclusions:

Ketulusan hati mungkin tidak selalu membuahkan penghormatan dari manusia. Tapi percayalah: ketulusan hati dapat memberi ketenangan dan kedamaian buat jiwa kita.