Pernah ga ngalamin satu kejadian, lagi asyik-asyiknya bercinta. Pas kita merogoh isi celana pasangan bercinta kita, atau pas membuka celana dalamnya, ee...dodo eeee... ternyata kita menemukan burungnya tidak disunat? Gw yakin pasti banyak yang pernah mengalaminya. Hayo ngaku...!!! he he he...
Di Indonesia memang ada etnis atau suku tertentu yang tidak mengenal budaya circumsisi atau sunat sebagai tradisi leluhurnya. Seperti pada kalangan orang: Batak, Bali, Manado, Toraja, Nias, Ambon, Papua, Etnis Tiong Hoa dan lain-lain.
Di Indonesia sunat memang sangat erat kaitannya dengan agama yang dianut. Kecuali di kalangan orang-orang Jawa, sekalipun agamanya Kristen tapi mereka hampir semuanya disunat. Lho kok gw tau? Hmmmhhmm... no comment!! Wkwkwk...
Sebetulnya di dalam Kitab Suci orang Kristen, ada perintah kepada umatnya untuk bersunat. Tapi kebanyakan rohaniawan mengartikannya bukan sebagai sunat fisik tapi sunat hati/rohani (dan tentang masalah ini, gw ga akan membahasnya lebih jauh he he he...).
Dengan pertimbangan untuk kesehatan, sekarang di Indonesia juga sudah banyak dari kalangan non muslim yang disunat.
Back to topic, tentang teman bercinta yang tidak disunat. Gw pernah menemukan penis milik orang yang tidak disunat. Tapi pas gw coba tarik kulupnya supaya kepala penisnya muncul, ternyata sangat ketat dan ga bisa dibuka. Trus, si empunya penis bilang: “Jangan ditarik Kak, sakit... punya aku emang ga bisa dibuka” (sambil meringis kesakitan...). Uppsss.... yaaa.. maaf namanya juga kagak tau he he he....
3 kali gw menemukan kasus yang serupa kaya gini. Penisnya mirip bantal guling dengan ujung sarungnya diikat erat dengan tali, sesak dan kepalanya ga memungkinkan bisa keluar he he he...
![]() |
| Penis dengan phimosis |
| Penis dengan Phimosis |
Penis yang kulupnya ga bisa ditarik kebelakang, disebabkan oleh lubang kulupnya terlalu kecil. Kondisi seperti ini dalam dunia kedokteran disebut Phimosis. Salah satu gangguan yang mungkin timbul pada organ kelamin seperti ini adalah tertutupnya ujung kulup penis. Dan jika tidak ditangani dengan dengan baik dapat terjadi infeksi atau hambatan seksual lainnya.
Pada kasus tertentu, dalam keadaan tidak ereksi, kadang penis masih memungkinkan kulupnya bisa ditarik kebelakang, dan tentu saja kepala penisnya berwarna sangat kemerahan. Pada kasus lainnya ada yang sama sekali tidak dapat ditarik kebelakang, baik dalam keadaan ereksi maupun tidak. Ada juga kasus lain phimosis, dimana penis sewaktu ereksi, kepalanya bisa muncul sebagian.
Phimosis menyebabkan air kencing tidak dapat keluar secara normal dan kepala penis tidak dapat dibersihkan. Kondisi ini memicu timbulnya infeksi di kepala penis.
![]() |
| Penis phimosis, sebelum ereksi |
![]() |
| Penis phimosis, setelah ereksi |
Phimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir terjadi karena ruang di antara kutup dan penis tidak berkembang dengan baik. Kondisi ini menyebabkan kulup menjadi melekat pada kepala penis, sehingga sulit ditarik ke arah pangkal. Penyebabnya bisa dari bawaan dari lahir, atau didapat, misalnya karena infeksi atau benturan
Sebetulnya Phimosis gejalanya bisa diketahui sejak si penderita masih anak-anak. Ciri-cirinya: waktu kencing ujung penis tampak menggembung, dikarenakan air seni yang tidak lancar keluar, kadang-kadang menetes dan memancar dengan arah yang tidak dapat beraturan.
![]() |
| Penis Phimosis dengan glans muncul sebagian |
Untuk orang yang disunat, tentu saja masalah ini tidak akan terbawa sampai dewasa. Lain halnya dengan orang yang tidak disunat, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas seksualnya. Coz penis dalam kondisi ini kurang bisa menerima rangsangan, baik dari hisapan atau gesekan karena glans atau kepala penis (sebagai bagian paling sensitif dan pusat rangsangan) terhalang oleh foreskin atau kulup. Dan tentu saja penis seperti ini menjadi kurang higienis pula.
Kondisi yang berlawanan dari phimosis adalah paraphimosis. Pada kondisi ini, kulup dapat ditarik ke belakang, kepala penis dapat terbuka seluruhnya, tetapi kemudian kulup tidak bisa kembali ke depan dan menjepit penis. Kondisi ini berbahaya karena risiko pembendungan aliran darah.
Buat pemilik penis dengan masalah phimosis disarankan sebaiknya disunat. Selain mencegah infeksi lebih lanjut, juga supaya bisa lebih menikmati aktivitas seksual, dan tentu saja bisa lebih memberi kenikmatan dan kenyamanan buat partner sex-nya he he he…
Btw, di postingan kali ini kok gw udah kaya dokter spesialis penis aja ya? ha ha ha…
O ya, foto-foto diatas bukan gw sendiri yang motret lho wkwkwkwk... semua foto diatas gw ambil dari: http://moblog.whmsoft.net , http://commons.wikimedia.org , http://aphimosis.wordpress.com dan http://www.foreskin.org
Conclusion:
Kenali tubuh kita sejak dini. Supaya kalo ada indikasi ketidakberesan bisa segera dilakukan tindakan. Ga ada kata terlambat untuk menuju hidup lebih baik dan lebih sehat.




