Benar kata pepatah, kalo: jodoh,
rejeki, dan maut adalah misteri Ilahi. Tiga hal itu (dan banyak hal lainnya)
adalah hak prerogatif Tuhan, Sang Maha Pemilik. Berbicara masalah maut atau
ajal, seringkali membuat kita terkejut dan bertanya-tanya; kok bisa? Dia kan
masih muda? Kemaren masih sehat-sehat aja kan? dan sejuta tanya lainnya.
Begitu juga kejadian yang menimpa
teman badminton gw, sebut saja namanya Theo. Secara mengejutkan gw menerima
kabar kalo dia meninggal dunia. Teman-teman gw yang lainnya pun hampir-hampir
ga percaya dengan kejadian ini. Yang bikin kami makin bertanya-tanya adalah
karena minimnya informasi yang kami dapat tentang kematiannya. Mungkin hal itu
disebabkan karena kami hanya berteman di lapang badminton dan FB saja, selain
itu hampir ga pernah ada kontak. Tanggal 30 Juli 2013, pukul 20.00 WIB gw menerima
message via whatsapp yang mengabarkan kalo
Theo meninggal. Tak ada informasi lainnya dari si pemberi kabar karena dia
juga mendapat kabar dari temannya yang lain. Baru pada pukul 23.00 WIB gw mendapat
kepastian kalo Theo memang benar sudah meninggal. Makin yakin juga karena teman
gw mengirimkan foto closed up Theo yang sudah berada di dalam peti jenazah. Wajahnya
membiru, terlihat dingin dan kaku...
Theo umurnya baru mau menginjak 35
tahun, dan dia meninggal karena serangan jantung. Nyawanya tak tertolong meski
dia sudah mendapat pertolongan medis di rumah sakit.
Yang membuat kami terkejut adalah,
karena secara fisik dia terlihat sangat sehat. Badannya berotot dan kokoh
karena dulu rajin fitness. Pahanya sangat besar dan nampak tangguh. Wajahnya
termasuk ganteng, meskipun postur tubuhnya termasuk kurang tinggi. Pokoknya tak
ada tanda-tanda kalo dia mengidap penyakit jantung.
Tanggal 26 Juli kami masih
main badminton bersama, bahkan dia berpasangan dengan gw (jarang banget gw main
berpasangan dengan dia). Dia bermain dengan penuh semangat, meskipun akhirnya
kalah dengan score beda tipis dari lawan kami. Tapi dia yakin, kalo sekali lagi
melawan pasangan itu, kami bisa menang. Makanya dia mengajak gw untuk
berpasangan lagi Jumat depannya. Malam itu dia bermain badminton 3 kali
(biasanya paling banyak dia main 2 kali), sedangkan gw 5 kali. Entahlah apakah kematiannya
itu ada hubungannya karena dia terlalu kelelahan main badminton atau
tidak.
Keesokan harinya gw datang melayat
ke rumah duka, jasadnya nampak lebih membiru dari fotonya yang gw terima
semalam via whatsapp. Waktu gw tiba di rumah duka, kebaktian penghiburan baru
saja usai. Gw sempat ikut mengantri mendoakan dan mencipratkan cologne ke jasad
Theo, sebelum peti jenazahnya ditutup. Tangis kesedihan masih terlihat dari
keluarganya Theo. Tapi yang paling terlihat terpukul adalah Sisca, tunangan
Theo yang menurut rencana akan dinikahi Theo dalam waktu dekat. Tapi apa mau
dikata, rencana manusia ternyata tidak sejalan dengan rencana Tuhan.
![]() |
Malam itu cukup banyak orang yang
datang melayat ke rumah duka. Termasuk ada
8 orang dari teman-teman main badminton. Di sela-sela obrolan dengan
teman-teman di rumah duka malam itu, gw banyak menerima SMS, FB inbox dan
whatsapp dari teman-teman gw yang lain, yang menanyakan informasi tentang
kematian Theo. Salah satunya dari Andrew, teman lama gw (tapi dia termasuk ga
begitu rajin datang main badminton);
Andrew: “Beneran Ko, si Theo
meninggal?”
Farrel : “Iya, sekarang Koko lagi ngelayat
di rumah duka”
Andrew: “Meninggalnya kenapa gitu, Ko?
umur berapa?”
Farrel : “Serangan jantung. 35 tahun”
Andrew: “Umur mah ga disangka-sangka,
ya.”
Farrel : “Iya.”
Andrew: “Btw, Si Theo teh yang mana
ya, Ko?”
Farrel : “Gubrakkkkk!! Beuh kirain
nanya-nanya teh, tau orangnya yang mana he he he...”
Andrew : “ha ha ha... Emang yang
mana, Ko?...”
Farrel : “Yang ini... (sambil gw
mengirimkan file foto jenazah yang kemaren).
Andrew: “ Bujubuneng!!! Ga usah foto
mayatnya juga kalee Koooo... he he he...”
Farrel : “Biar lebih jelas aja,
daripada menjelaskan pake banyak kalimat, tar udah capek-capek ngetik belom tentu kamu tau orangnya yang mana ha ha ha...”
Andrew: “Dasar si koko mah ha ha
ha... alamat bakal susah tidur neh ha ha ha...”
Malam itu, gw dan teman-teman masih
ngobrol ngalor ngidul di rumah duka. Kami juga membahas tentang isteri salah
satu teman main badminton kami, yaitu Benny. Yang lebih dari 6 bulan lalu
divonis dokter; kalo sisa umurnya kurang dari 3 bulan lagi, karena gagal ginjal.
Lukman: “Umur mah ga bisa ditebak
ya... Si Theo yang segar bugar tiba-tiba meninggal. Sementara Isterinya si
Benny yang sakitnya parah banget dan divonis ga akan berumur panjang, malah masih
hidup."
Farrel : “Dia ngurus perpanjangan
nyawa kali.” Jawab gw asal.
Jerry : “Emangnya KTP!! pake bisa diperpanjang
segala he he he...”
Gunawi: “Atau pura-pura budek kali, pas
dipanggil Tuhan...” celetuk Gunawi, dengan wajah polos
Kami : “Husssyyy!!!” Kata kami serempak, sambil berusaha menahan tawa.
Pulang dari rumah duka gw ga bisa
langsung tidur. Bukan karena takut gara-gara udah melayat orang yang baru meninggal,
coz gw ga termasuk penakut dalam hal-hal dunia hantu he he he... Tapi emang ga
ngantuk aja. Pukul 02.00 WIB gw melihat tanda-tanda kehidupan dari status FB teman
gw Yosia.
Yosia adalah salah satu teman lama
gw. Dulu gw dan dia sangat akrab. Dia adalah teman gereja, teman jalan, dan
teman fitness gw. Wajahnya tampan, kulitnya putih, rambutnya sedikit pirang. Umur
Yosia lebih muda dari gw, makanya dia manggil gw Koko.
Dulu gw sering diajak
mampir ke rumahnya. Di kamarnya banyak banget koleksi film bokep hetero. Tak
jarang gw dan dia nonton bokep bersama, tapi kejadiannya cuma sampe nonton
bareng doang, coz gw tau banget dia itu straight. Dia termasuk yang ga
malu-malu ganti baju di depan gw, bahkan sampai telanjang bulat! Bulu jembutnya
sangat lebat, rimbun sampai ke bagian
paha dalamnya. Jadi kalo dia pake celana renang bentuk segitiga, jembutnya
bermunculan!! Begitu juga di bagian pusarnya he he he... Penisnya termasuk gede
dan berwarna gelap, tapi sayangnya ga pake helm SNI alias masih berkupluk atau
ga disunat he he he... Jadi gw hanya menikmati pemandangan yang sering dia
suguhkan itu, dengan sok cool dan acuh tak acuh. Berusaha tidak memperlihatkan
ketertarikan pada benda yang menggelantung milik Yosia itu, padahal mah gw tetap
fokus mengamatinya he he he...
O ya, menjelang Lebaran tahun 2012 lalu
dia mengalami kecelakaan lalulintas. Dia bertabrakan secara frontal dengan
pembalap liar. Dia terluka parah dalam insiden itu. Yosia mengalami patah
tulang tangan kiri di dua bagian dan kaki kiri di 3 bagian. Tulang pergelangan
kaki kirinya bahkan remuk. Kasihan dia, padahal dia sudah punya isteri dan 2
anak yang masih kecil-kecil.
Kondisinya sangat memprihatinkan. Keadaannya yang
sudah parah, ditambah dengan penanganan medis yang kurang baik dari rumah sakit tempat
pertama kali dia dirawat. Maka lengkaplah sudah penderitaannya. Hal itu membuat kami makin miris melihatnya. Dia
menjalani beberapa kali pembedahan di rumah sakit itu. Uang lebih dari seratus
juta sudah dikeluarkan, tapi kondisinya masih begitu-begitu saja. Belakangan
diduga kalo Yosia mengalami malpraktek di rumah sakit itu. Akhirnya Yosia
dipindahkan ke rumah sakit lain.
Yang membuatnya makin tertekan adalah dari perusahaan
tempat dia bekerja tidak memberikan santunan apapun (padahal dia mengalami
kecelakaan pada jam kerja). Bahkan menengok pun tidak, hanya beberapa teman kerjanya
saja yang datang menengok.
Teman-teman gereja termasuk gw turut
menggalang dana, mencoba membantu meringankan bebannya. Dana yang terkumpul
sekitar tigapuluh jutaan lebih langsung kami serahkan pada keluarga Yosia. Kami
bergantian datang menengok di bulan-bulan pertama Yosia dirawat, hingga dia
dirawat jalan. Terakhir gw dan Andrew menengok dia di rumahnya pertengahan
Oktober 2012. Yosia mengalami nekrosis, yaitu sebagian sel jaringan kulit dan
daging di kaki kirinya mati. Hingga menyebabkan luka terbuka. Katanya sih
sampai-sampai tulang dan logam pen-nya juga terlihat. Tapi waktu itu sih gw ga ngeliat
coz kakinya dibalut dengan perban. Beberapa kali dokter mencoba membuat
jaringan kulit baru dari bagian tubuh Yosia yang lain. Tapi gagal. Jadi, katanya dokter
memutuskan untuk membiarkan dulu nekrosis itu dan lebih memprioritaskan
kesembuhan tulangnya dulu.
Kemudian lama-kelamaan kami
disibukkan dengan kegiatan kami masing-masing. Hingga keadaan Yosia pun sedikit
terlupakan.
Yang gw salut dari Yosua adalah, dia
selalu menuliskan kata-kata optimis di setiap status facebook yang dibuatnya.
Malam itu lalu gw menyapa dia;
Farrel: “Belom tidur, Yos?”
Yosia : “Belom, Ko. Sejak sakit jam
tidur saya jadi ga bener. Siang Jadi malam, malam jadi siang.”
Farrel: “Gimana kondisi kamu
sekarang? Sudah jauh lebih baik?”
Yosia: “Puji Tuhan, Ko. Perkiraan
dokter sekitar 5 bulan lagi sembuh.”
Wow betapa tabahnya dia!! padahal dia sudah setahun terbaring tak berdaya. Tapi dia tetap punya semangat. Lalu kami pun terlibat obrolan-obrolan lainnya malam itu.
Hari Kamis sore keesokan harinya, gw
menerima sapaan via whatsapp dari Andrew;
Andrew: ”Ko, sudah tau kondisi terakhir si Yosia?”
Farrel : “Kemaren malam sih sempet
chat sama dia, katanya udah lumayan membaik.”
Andrew: “Waktu hari minggu sih dia
datang ke gereja pake tongkat.”
Farrel : “Syukurlah, kalo kondisinya
membaik mah.”
Andrew: “Sebenarnya, keadaannya
masih memprihatinkan, Ko.”
Farrel : “Kenapa gitu?”
Andrew:“Ini foto yang di-bbm-in
isterinya Yosia, kemaren.” (Andrew mengirim file foto kondisi kaki Yosia yang
mengalami nekrosis).
Farrel : “Ya, ampuun!!! jadi selama
hampir 10 bulan lukanya dibiarin terbuka kaya gini?”
Andrew: ”Iya, Ko. Kasihan ya...”
Farrel : “Ngeri ah liatnya juga...”
Andrew: “Iya, ngilu banget liatnya.”
Farrel : “Btw, foto ini balas dendam foto mayat
kemaren ya? Biar koko ngeri ya? he he he...”
Andrew: “wkwkwk... ga balas dendam
kok, biar impas aja ha ha ha... foto horor VS foto bikin ngilu bin ngeri.”
Farrel :”Dasar!!! ha ha ha...”
![]() |
Foto kaki Yosia yang mengalami nekrosis |
Sebenernya obrolan pribadi ini, ga
ada maksud menjadikan musibah orang lain sebagai bahan candaan atau tertawaan,
lho. Tapi dasar otak gw aja yang bawaannya happy mulu he he he...
Jumat, tanggal 2 Agustus 2013 kami
main badminton bareng lagi. Tapi anehnya, kok teman-teman gw pada cepet
pulang?? Pas ditanya pada jawab; “ga mau terlalu capek”. Ini teh ga mau terlalu
capek karena takut kena serangan jantung kaya si Theo atau ga mau pulang terlalu malam,
takut diajak main badminton sama si Theo? he he he... Selidik punya selidik,
ternyata jawaban yang kedua yang benar. Halah!!! Teman-teman gw ternyata pada
takut hantu he he he...
Conclusion:
Ada ayat yang mengatakan: “Hati yang
gembira adalah obat yang paling manjur. Tetapi semangat yang patah, mengeringkan
tulang”. Sikap optimis mendatangkan harapan baru, sekalipun masalah berat terasa
menghimpit. Sementara sikap pesimis, memporak-porandakan segala harapan yang
masih tersisa.