Tampilkan postingan dengan label kematian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kematian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

Hikmah Tersembunyi Menjelang Lebaran


Benar kata pepatah, kalo: jodoh, rejeki, dan maut adalah misteri Ilahi. Tiga hal itu (dan banyak hal lainnya) adalah hak prerogatif Tuhan, Sang Maha Pemilik. Berbicara masalah maut atau ajal, seringkali membuat kita terkejut dan bertanya-tanya; kok bisa? Dia kan masih muda? Kemaren masih sehat-sehat aja kan? dan sejuta tanya lainnya.

Begitu juga kejadian yang menimpa teman badminton gw, sebut saja namanya Theo. Secara mengejutkan gw menerima kabar kalo dia meninggal dunia. Teman-teman gw yang lainnya pun hampir-hampir ga percaya dengan kejadian ini. Yang bikin kami makin bertanya-tanya adalah karena minimnya informasi yang kami dapat tentang kematiannya. Mungkin hal itu disebabkan karena kami hanya berteman di lapang badminton dan FB saja, selain itu hampir ga pernah ada kontak. Tanggal 30 Juli 2013, pukul 20.00 WIB gw menerima message via whatsapp  yang mengabarkan kalo Theo meninggal. Tak ada informasi lainnya dari si pemberi kabar karena dia juga mendapat kabar dari temannya yang lain. Baru pada pukul 23.00 WIB gw mendapat kepastian kalo Theo memang benar sudah meninggal. Makin yakin juga karena teman gw mengirimkan foto closed up Theo yang sudah berada di dalam peti jenazah. Wajahnya membiru, terlihat dingin dan kaku...

Theo umurnya baru mau menginjak 35 tahun, dan dia meninggal karena serangan jantung. Nyawanya tak tertolong meski dia sudah mendapat pertolongan medis di rumah sakit.
Yang membuat kami terkejut adalah, karena secara fisik dia terlihat sangat sehat. Badannya berotot dan kokoh karena dulu rajin fitness. Pahanya sangat besar dan nampak tangguh. Wajahnya termasuk ganteng, meskipun postur tubuhnya termasuk kurang tinggi. Pokoknya tak ada tanda-tanda kalo dia mengidap penyakit jantung. 

Tanggal 26 Juli kami masih main badminton bersama, bahkan dia berpasangan dengan gw (jarang banget gw main berpasangan dengan dia). Dia bermain dengan penuh semangat, meskipun akhirnya kalah dengan score beda tipis dari lawan kami. Tapi dia yakin, kalo sekali lagi melawan pasangan itu, kami bisa menang. Makanya dia mengajak gw untuk berpasangan lagi Jumat depannya. Malam itu dia bermain badminton 3 kali (biasanya paling banyak dia main 2 kali), sedangkan gw 5 kali. Entahlah apakah kematiannya itu ada hubungannya karena dia terlalu kelelahan main badminton atau tidak.

Keesokan harinya gw datang melayat ke rumah duka, jasadnya nampak lebih membiru dari fotonya yang gw terima semalam via whatsapp. Waktu gw tiba di rumah duka, kebaktian penghiburan baru saja usai. Gw sempat ikut mengantri mendoakan dan mencipratkan cologne ke jasad Theo, sebelum peti jenazahnya ditutup. Tangis kesedihan masih terlihat dari keluarganya Theo. Tapi yang paling terlihat terpukul adalah Sisca, tunangan Theo yang menurut rencana akan dinikahi Theo dalam waktu dekat. Tapi apa mau dikata, rencana manusia ternyata tidak sejalan dengan rencana Tuhan.


Malam itu cukup banyak orang yang datang melayat ke rumah duka. Termasuk ada  8 orang dari teman-teman main badminton. Di sela-sela obrolan dengan teman-teman di rumah duka malam itu, gw banyak menerima SMS, FB inbox dan whatsapp dari teman-teman gw yang lain, yang menanyakan informasi tentang kematian Theo. Salah satunya dari Andrew, teman lama gw (tapi dia termasuk ga begitu rajin datang main badminton);

Andrew: “Beneran Ko, si Theo meninggal?”

Farrel   : “Iya, sekarang Koko lagi ngelayat di rumah duka”

Andrew: “Meninggalnya kenapa gitu, Ko? umur berapa?”

Farrel   : “Serangan jantung. 35 tahun”

Andrew: “Umur mah ga disangka-sangka, ya.”

Farrel   : “Iya.”

Andrew: “Btw, Si Theo teh yang mana ya, Ko?”

Farrel   : “Gubrakkkkk!! Beuh kirain nanya-nanya teh, tau orangnya yang mana he he he...”

Andrew : “ha ha ha... Emang yang mana, Ko?...”

Farrel   : “Yang ini... (sambil gw mengirimkan file foto jenazah yang kemaren).

Andrew: “ Bujubuneng!!! Ga usah foto mayatnya juga kalee Koooo... he he he...”

Farrel   : “Biar lebih jelas aja, daripada menjelaskan pake banyak kalimat, tar udah capek-capek ngetik belom tentu kamu tau orangnya yang mana ha ha ha...”

Andrew: “Dasar si koko mah ha ha ha... alamat bakal susah tidur neh ha ha ha...”

Malam itu, gw dan teman-teman masih ngobrol ngalor ngidul di rumah duka. Kami juga membahas tentang isteri salah satu teman main badminton kami, yaitu Benny. Yang lebih dari 6 bulan lalu divonis dokter; kalo sisa umurnya kurang dari 3 bulan lagi, karena gagal ginjal.

Lukman: “Umur mah ga bisa ditebak ya... Si Theo yang segar bugar tiba-tiba meninggal. Sementara Isterinya si Benny yang sakitnya parah banget dan divonis ga akan berumur panjang, malah masih hidup."

Farrel  : “Dia ngurus perpanjangan nyawa kali.” Jawab gw asal.

Jerry    : “Emangnya KTP!! pake bisa diperpanjang segala he he he...”

Gunawi: “Atau pura-pura budek kali, pas dipanggil Tuhan...” celetuk Gunawi, dengan wajah polos

Kami   : “Husssyyy!!!” Kata kami serempak, sambil berusaha menahan tawa.

Pulang dari rumah duka gw ga bisa langsung tidur. Bukan karena takut gara-gara udah melayat orang yang baru meninggal, coz gw ga termasuk penakut dalam hal-hal dunia hantu he he he... Tapi emang ga ngantuk aja. Pukul 02.00 WIB gw melihat tanda-tanda kehidupan dari status FB teman gw Yosia.

Yosia adalah salah satu teman lama gw. Dulu gw dan dia sangat akrab. Dia adalah teman gereja, teman jalan, dan teman fitness gw. Wajahnya tampan, kulitnya putih, rambutnya sedikit pirang. Umur Yosia lebih muda dari gw, makanya dia manggil gw Koko. 

Dulu gw sering diajak mampir ke rumahnya. Di kamarnya banyak banget koleksi film bokep hetero. Tak jarang gw dan dia nonton bokep bersama, tapi kejadiannya cuma sampe nonton bareng doang, coz gw tau banget dia itu straight. Dia termasuk yang ga malu-malu ganti baju di depan gw, bahkan sampai telanjang bulat! Bulu jembutnya sangat lebat,  rimbun sampai ke bagian paha dalamnya. Jadi kalo dia pake celana renang bentuk segitiga, jembutnya bermunculan!! Begitu juga di bagian pusarnya he he he... Penisnya termasuk gede dan berwarna gelap, tapi sayangnya ga pake helm SNI alias masih berkupluk atau ga disunat he he he... Jadi gw hanya menikmati pemandangan yang sering dia suguhkan itu, dengan sok cool dan acuh tak acuh. Berusaha tidak memperlihatkan ketertarikan pada benda yang menggelantung milik Yosia itu, padahal mah gw tetap fokus mengamatinya he he he...

O ya, menjelang Lebaran tahun 2012 lalu dia mengalami kecelakaan lalulintas. Dia bertabrakan secara frontal dengan pembalap liar. Dia terluka parah dalam insiden itu. Yosia mengalami patah tulang tangan kiri di dua bagian dan kaki kiri di 3 bagian. Tulang pergelangan kaki kirinya bahkan remuk. Kasihan dia, padahal dia sudah punya isteri dan 2 anak yang masih kecil-kecil. 

Kondisinya sangat memprihatinkan. Keadaannya yang sudah parah, ditambah dengan penanganan medis yang kurang baik dari rumah sakit tempat pertama kali dia dirawat. Maka lengkaplah sudah penderitaannya. Hal itu membuat kami makin miris melihatnya. Dia menjalani beberapa kali pembedahan di rumah sakit itu. Uang lebih dari seratus juta sudah dikeluarkan, tapi kondisinya masih begitu-begitu saja. Belakangan diduga kalo Yosia mengalami malpraktek di rumah sakit itu. Akhirnya Yosia dipindahkan ke rumah sakit lain. 

Yang membuatnya makin tertekan adalah dari perusahaan tempat dia bekerja tidak memberikan santunan apapun (padahal dia mengalami kecelakaan pada jam kerja). Bahkan menengok pun tidak, hanya beberapa teman kerjanya saja yang datang menengok.

Teman-teman gereja termasuk gw turut menggalang dana, mencoba membantu meringankan bebannya. Dana yang terkumpul sekitar tigapuluh jutaan lebih langsung kami serahkan pada keluarga Yosia. Kami bergantian datang menengok di bulan-bulan pertama Yosia dirawat, hingga dia dirawat jalan. Terakhir gw dan Andrew menengok dia di rumahnya pertengahan Oktober 2012. Yosia mengalami nekrosis, yaitu sebagian sel jaringan kulit dan daging di kaki kirinya mati. Hingga menyebabkan luka terbuka. Katanya sih sampai-sampai tulang dan logam pen-nya juga terlihat. Tapi waktu itu sih gw ga ngeliat coz kakinya dibalut dengan perban. Beberapa kali dokter mencoba membuat jaringan kulit baru dari bagian tubuh Yosia yang lain. Tapi gagal. Jadi, katanya dokter memutuskan untuk membiarkan dulu nekrosis itu dan lebih memprioritaskan kesembuhan tulangnya dulu.

Kemudian lama-kelamaan kami disibukkan dengan kegiatan kami masing-masing. Hingga keadaan Yosia pun sedikit terlupakan.
Yang gw salut dari Yosua adalah, dia selalu menuliskan kata-kata optimis di setiap status facebook yang dibuatnya.

Malam itu lalu gw menyapa dia;

Farrel: “Belom tidur, Yos?”
Yosia : “Belom, Ko. Sejak sakit jam tidur saya jadi ga bener. Siang Jadi malam, malam jadi siang.”
Farrel: “Gimana kondisi kamu sekarang?  Sudah jauh lebih baik?”
Yosia: “Puji Tuhan, Ko. Perkiraan dokter sekitar 5 bulan lagi sembuh.”

Wow betapa tabahnya dia!! padahal dia sudah setahun terbaring tak berdaya. Tapi dia tetap punya semangat. Lalu kami pun terlibat obrolan-obrolan lainnya malam itu.

Hari Kamis sore keesokan harinya, gw menerima sapaan via whatsapp dari Andrew;

Andrew: ”Ko, sudah tau kondisi terakhir si Yosia?”
Farrel   : “Kemaren malam sih sempet chat sama dia, katanya udah lumayan membaik.”
Andrew: “Waktu hari minggu sih dia datang ke gereja pake tongkat.”
Farrel   : “Syukurlah, kalo kondisinya membaik mah.”
Andrew: “Sebenarnya, keadaannya masih memprihatinkan, Ko.”
Farrel   : “Kenapa gitu?”
Andrew:“Ini foto yang di-bbm-in isterinya Yosia, kemaren.” (Andrew mengirim file foto kondisi kaki Yosia yang mengalami nekrosis).
Farrel   : “Ya, ampuun!!! jadi selama hampir 10 bulan lukanya dibiarin terbuka kaya gini?”
Andrew: ”Iya, Ko. Kasihan ya...”
Farrel   : “Ngeri ah liatnya juga...”
Andrew: “Iya, ngilu banget liatnya.”
Farrel   : “Btw, foto ini balas dendam foto mayat kemaren ya? Biar koko ngeri ya? he he he...”
Andrew: “wkwkwk... ga balas dendam kok, biar impas aja ha ha ha... foto horor VS foto bikin ngilu bin ngeri.”
Farrel   :”Dasar!!! ha ha ha...”

Foto kaki Yosia yang mengalami nekrosis

Sebenernya obrolan pribadi ini, ga ada maksud menjadikan musibah orang lain sebagai bahan candaan atau tertawaan, lho. Tapi dasar otak gw aja yang bawaannya happy mulu he he he...

Jumat, tanggal 2 Agustus 2013 kami main badminton bareng lagi. Tapi anehnya, kok teman-teman gw pada cepet pulang?? Pas ditanya pada jawab; “ga mau terlalu capek”. Ini teh ga mau terlalu capek karena takut kena serangan jantung kaya si Theo atau ga mau pulang terlalu malam, takut diajak main badminton sama si Theo? he he he... Selidik punya selidik, ternyata jawaban yang kedua yang benar. Halah!!! Teman-teman gw ternyata pada takut hantu he he he...

Conclusion:
Ada ayat yang mengatakan: “Hati yang gembira adalah obat yang paling manjur. Tetapi semangat yang patah, mengeringkan tulang”. Sikap optimis mendatangkan harapan baru, sekalipun masalah berat terasa menghimpit. Sementara sikap pesimis, memporak-porandakan segala harapan yang masih tersisa.

Jumat, 05 Agustus 2011

Justin

Sudah hampir  tiga jam aku duduk sendiri di kantin sekolah, ditemani segelas es teh manis buatan Bu Darmi. Kupandangi butiran embun di bagian luar gelas es teh manisku  yang masih utuh karena belum kureguk sedikitpun. Anak-anak berseragam putih abu  yang sedari tadi ramai berlalu-lalang dan menimbulkan suara hiruk pikuk, kini mulai lengang, karena sudah 3 jam yang lalu bell tanda bubar sekolah menjerit-jerit memekakan  telinga. Sesekali masih terlihat pengurus OSIS melintas di luar sana. Mereka tengah sibuk mempersiapkan acara pentas musik di sekolahku.
            
           Pikiranku menerawang jauh ke masa laluku. Empat tahun yang lalu. Ya, empat tahun yang lalu. Masih segar tergambar di mataku.  Masih terekam jelas di memory otakku. Hari itu adalah hari terakhir aku merasakan kebahagiaan. Karena  hari itu keceriaanku seakan direnggut paksa oleh kepergian Papaku.

Kalau kematian yang memisahkan kami, mungkin aku masih bisa terima, dan perasaanku tidak akan tercabik-cabik seperti ini. Yang membuatku geram adalah karena Papa pergi meninggalkan aku dan Mamaku demi seorang perempuan muda yang bernama Tante Miranda. Aku kesal, benci, jijik terhadap mantan sekretaris Papaku itu, karena ia telah merampas kebahagiaan keluarga kami. Terlebih aku benci pada Papaku yang tidak becus mempertahankan kesetiaan cintanya pada Mamaku.
           
           Sebagai anak tunggal, aku terbiasa mendapat curahan perhatian dan kasih sayang yang penuh dari kedua orangtuaku. Dan sejak saat itu aku harus mulai membiasakan diri hidup seadanya berdua dengan Mamaku yang terpaksa menjadi single parent. Waktu itu aku masih duduk di kelas dua SMP. Saat itu aku masih memerlukan perhatian, kasih sayang, dan  biaya yang tidak sedikit untuk mengongkosi sekolahku. Tapi apa mau dikata, Papaku kabur dari tanggung jawab demi mengejar kesenangannya sendiri. Dasar egois!!!
            
          Aku tak pernah habis pikir, kenapa semua itu bisa terjadi pada Papaku yang sangat alim dan aktif dalam pelayanan di gereja. Sejak saat itu, perasaan banggaku pada Papa telah berubah menjadi kebencian yang merasuk di hatiku dan menjalar  sampai ke dalam sum-sum terdalam dari tulang-tulangku.
           
       Yang tidak pernah ku mengerti, mengapa Mama hanya berdiam diri saja dicampakkan oleh Papku. Tidak ada sumpah serapah dari mulutnya. Tidak ada gugatan cerai darinya. Apakah karena Mama terlalu cinta sama Papa sehingga ia tidak mau melakukan semua itu ? Mama adalah wanita tersabar dan berhati lembut  yang pernah kulihat. Ia selalu menasehatiku : Jangan takut !, kita masih punya  Tuhan Yesus yang mengashi kita.
“Belum pulang, nak Rio?”
Suara alto Bu Darmi membangunkanku dari lamunan.
“Ya Bu, lagi suntuk nih.”
“Sudah sore lho, hampir jam 5. Nanti ibu nak Rio kuatir karena anaknya nggak pulang-pulang.”
“Mmmhh… Kantinnya mau ditutup ya Bu?”
“Ya sih… tapi nggak apa-apa kalau nak Rio masih betah duduk-duduk di sini.”
Kasihan Bu Darmi yang jadi korban. Gara-gara aku melamun memikirkan masalah-masalahku di kantinnya, ia jadi telat pulang.
Pandangan Bu Darmi beralih kepada es teh manisku yang kini sudah tidak dingin lagi.
“Minumnya mau diganti nak Rio ?”
“Makasih. Nggak usah Bu, saya sudah mau pulang kok.”
                                                                    
                                                                ******

             Walau aku sudah bertengger di punggung sepeda motorku yang melaju kencang, tapi bayangan masa laluku masih terus berkecamuk di otakku.
           
          Kutelusuri jalanan tanpa tujuan yang pasti. Aku berputar-putar dengan sepeda motorku menjelajahi Kota Bandung yang kini mulai diterangi oleh kerlip lampu-lampu kota, karena hari sudah beranjak senja. Aku nggak ngerti… Aku nggak tahu… Akan  kemana aku???  Aku nggak ingin pulang. Aku ingin menjauh dari masalah-masalah yang menjeratku.
           
          Saat kulihat komunitas anak punk yang berkeliaran di sekitar Jl. RE Martadinata lengkap dengan atribut dandanan mereka, aku merasa iri. Mereka bisa bebas mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kemauan mereka dengan cara mereka sendiri. Aku cemburu dengan kebebasan mereka. Tuhan, aku ingin bebas!!!
           
         Tanpa kusadari aku dibawa oleh sepeda motorku menelusuri kelokan-kelokan Jl. Setiabudi . Gila! Mau kemana aku? Mau ke Lembang? Malam-malam begini? Sendirian? Ah… aku sudah tidak peduli lagi. Pokoknya aku harus jauh dari rumah!

"Senyap Dalam Nyenyak"
( foto lama hasil jepretan gw dari balkon rumah )
            
          Jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kiriku bercicit riang. Rupanya sudah jam 8 malam. Kuhampiri sebuah kios, lalu kupesan  jagung bakar dan teh panas untuk sekedar mengganjal perutku yang mulai bernyanyi dengan nada-nada fals tidak beraturan.
            
          Aku teringat masa-masa sulit sepeninggal Papaku. Mama harus berjuang memeras keringat untuk bisa menghidupiku, karena Papa sudah tidak peduli pada  kondisi ekonomi kami yang morat-marit. Mama memang wanita pekerja keras yang tak kenal kata menyerah. Ia membuka warung nasi kecil-kecilan demi menyambung hidup kami berdua. Berkat Kasih Tuhan Yesus dan  kerja keras Mama, akhirnya warung nasi kami kini telah berubah menjadi sebuah rumah makan yang lumayan besar.

Kesuksesan usaha Mama tidak didapat semudah mengedipkan mata ataupun membalikkan telapak tangan. Mama harus ekstra menguras tenaga dan pikiran. Mama harus bangun saat pagi buta dan baru bisa tidur setelah larut malam. Kadang aku melihat Mama meneteskan air mata saat ia sendiri di kamarnya. Bila melihat Mama menangis seperti itu, hatiku terasa perih seperti diiris-iris. Lamunanku buyar dikagetkan oleh bunyi Handphoneku. Oh… rupanya Mama mencariku karena aku nggak pulang-pulang. Sudah lebih dari duabelas kali ia menelponku, tapi tak kuangkat. Kumatikan Handphone-ku. Maaf Ma, aku lagi ingin sendiri. Aku nggak ingin pulang. 

Deru suara knalpot kendaraan yang melintas dan pasangan muda-mudi  yang tertawa ceria menikmati malam minggu mereka di Lembang, sedikitpun tak menggangguku. Hatiku galau. Hatiku gundah. Hatiku tetap sunyi. Aku ingin teriak. Aku ingin berontak.

Papa. Papa. Papa. Itulah yang menjadi sumber kekacauan hidupku. Hukuman seberat apapun yang ia terima, tak akan mampu menghapus amarah yang bergejolak di dadaku. Termasuk ketika mobilnya terperosok ke dalam jurang tiga bulan yang lalu. Tante Miranda mengalami pendarahan di otak dan meninggal dalam perjalanan menuju ke  rumah sakit. Papaku mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya. Trauma hebat pada tulang belakang menyebabkan ia lumpuh. Kejadian itu memang pantas ia terima. Ini karma Pa!!! Emosiku terus bergejolak.
Satu-satunya yang luput dari kecelakaan itu adalah anak Papaku dari Tante Miranda yang baru berumur 3 tahun. Adik tiriku!!?? Hah!!! Aku benci anak itu!!!
            
         Aku tidak menghadiri upacara pemakaman Tante Miranda. Aku juga tidak mau menengok Papaku yang kini duduk di kursi roda. Dan aku tak mau melihat adik tiriku. Tak mau dan tak akan pernah!!!
           
          Hanya Mama yang selalu telaten menjenguk Papaku dan anak laki-lakinya. Mereka  tinggal di rumah kontrakan, ditemani seorang baby sitter. Mama tidak mampu mengubah pendirianku yang tak mau bertemu lagi dengan Papaku sejak empat tahun yang lalu. Mama sering menasehatiku agar aku mau memaafkan Papaku. Aku sudah muak. Luka di bathinku sudah parah bernanah. Aku tidak mau melihat Papaku lagi, karena bagiku Papa sudah mati.
           
Lamunanku sampai ke titik puncaknya pada kejadian tadi pagi sebelum aku berangkat sekolah.
“Rio, nanti sore Papamu pulang.”
Mamaku berkata lembut.
“Papa? Kenapa mesti pulang!?!  ‘Kan Rio sudah bilang sama Mama, kalau Rio tuh sudah tidak mau melihat Papa lagi.”
Jawabku acuh tak acuh.
“Kasihan Papamu nggak ada yang ngurus. Lagian sekarang adikmu juga sudah nggak ada yang ngasuh, karena Papamu sudah nggak mampu membayar baby sitter."
 “Adik?  Adik dari Hongkong?!?”
Sahutku sinis.
“Sekarang keadaan Papamu lagi susah, Rio. Ia sekarang sudah nggak bisa kerja lagi.”
“Giliran susah sama kita! Giliran senang lari sama wanita lain!!!
Aku berkata dengan geram.
“Rio!!! Mama nggak pernah ngajarin kamu kurang ajar!!!" Bentak mamaku. Baru kali ini aku dibentak oleh Mamaku. Dan lagi-lagi penyebabnya adalah Papaku.
“Lagian Mama mau membawa Papa  pulang nggak  kompromi dulu sama Rio!!!”
Nada suaraku makin meninggi.
“Mama sudah lupa bagaimana Papa nelantarin hidup kita? Mama juga  sudah lupa bagimana Papa nyakitin hati kita demi bersenang-senang dengan isteri mudanya?” Lanjutku.
“Kejadian itu sudah berlalu, Rio. Mama sudah lama memaafkan  Papamu.”
Bibir Mama bergetar menahan emosi.
“Pokoknya Rio nggak akan pulang  kalau nanti melihat Papa ada di rumah ini!!!
          
          Aku bergegas pergi sambil meraih tas ranselku. Aku berlari pergi sambil meninggalkan suara berdebum keras dari pintu yang kubanting. Kutancap gas sepeda motorku kuat-kuat. Knalpot sepeda motorku meraung-raung seakan turut memprovokasi kemarahanku. Hanya kepulan asap putih yang tertinggal di pekarangan rumahku. Sementara dari dalam rumah, sayup-sayup kudengar suara Mama yang memanggil-manggil namaku.

         Lama juga aku terpekur di kios jagung bakar itu. Untungnya pedagang jagung bakar itu tidak mengusirku yang duduk terlalu lama di kiosnya. Sudah hampir jam 11 malam. Aku beranjak pergi. Sekarang keadaanku kembali sama dengan 6 jam yang lalu. Mengendarai sepeda motorku tanpa tujuan yang jelas.
           
           Tuhan, mengapa semua ini terjadi? mengapa masalah ini datang di saat kehidupanku mulai tenang? Ah, aku tak habis pikir. Aku protes kepada Tuhan.
            
          Aku melintas di Jl. Merdeka  yang keadaannya sudah sepi. Laju sepeda motorku tertahan oleh lampu merah. Aku melihat beberapa anak jalanan yang masih berkeliaran dengan baju kumalnya. Kasihan mereka harus berjuang sendiri untuk mencari makan. Sementara di pojok trotoar dekat bak sampah, aku melihat seorang bapak berperawakan kurus tidur meringkuk melawan dinginnya malam dengan selembar kertas koran. Kehidupan ini memang kejam, pikirku. Mereka kekurangan didekat tempat orang-orang menghamburkan uang. Mereka kelaparan diantara deretan rumah makan siap saji. Sungguh ironis.
            
          Kuputuskan untuk menginap di tempat kost sahabatku Daniel. Saat kuketuk pintu kamarnya, tanpa menunggu lama ia langsung membukakan pintu. Rupanya ia baru selesai mengerjakan PR Bahasa Inggris.
“Elo dari mana malam-malam begini? Masih pake seragam pula.”
“Abis keluyuran. Gua lagi Bete nih!”
Sahutku asal.
“Butuh tatih tayang…?”
Candanya sambil nyengir kuda.
            
          Aku hanya terdiam dengan roman muka dingin. Daniel buru-buru mengubah sikapnya. Ia menyadari kalau aku  lagi sungguh-sungguh. Daniel memang sahabat yang tahu betul karakterku. Walau aku sudah bersahabat lama dengan Daniel, aku tidak pernah menceritakan masalah keluargaku padanya. Aku selalu menutup rapat-rapat masalah ini.  Karena masalah ini adalah aib bagiku. Cukup lama Daniel mendengarkan ceritaku. Daniel yang sedari tadi tidak banyak bicara dan hanya sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia berkata:
“Gua bisa ngerti kalo elo marah. Gua juga bisa faham kalo elo susah maafin  bokap elo. Tapi yang jadi masalah, elo nggak berhak jadi hakim atas perbuatan bokap elo.”
“What’s mean?”
“Kita nggak berhak menjatuhkan vonis benar atau salah sama orang lain.”
“Termasuk sama bokap gua yang jelas-jelas sudah mengacaukan keluarga gua?”
“Yap! Hanya Tuhan yang berhak menghakimi perbuatan manusia. Karena Tuhan menilai perbuatan manusia tanpa melibatkan emosi, dendam dan sakit hati.”
            
          Aku berpikir, mungkin juga aku telah memvonis Papaku bersalah karena aku dendam padanya, karena ia lebih memperhatikan isteri muda dan anak laki-lakinya dari pada aku dan Mamaku. Aku dendam karena Tante Miranda dan anaknya telah merampas kasih sayang dan perhatian Papaku yang seharusnya menjadi hakku.
“Jadi menurut elo, gua yang salah?”
Tanyaku.
“Dalam hal ini, nggak ada yang sepenuhnya salah, dan nggak ada yang sepenuhnya benar.”
“Maksud elo?”
“Elo ada sisi benarnya tapi juga ada sisi salahnya.”
“Termasuk bokap gua ?”
“Exactly !”
“Lantas,  gua harus gimana?”
“Menerima semua kejadian ini dengan tulus sebagai jalan yang sudah Tuhan rancangkan bagi hidup elo.”
          
          Aku heran kenapa kata-kata Daniel terasa sejuk dan bisa membukakan mata hatiku. Padahal selama ini biasanya  kalau kami bertemu paling-paling cuma bercanda. Ah, aku mengerti. Mungkin inilah yang disebut dengan jalan Tuhan yang sering tak terselami pikiran manusia.
“Menurut elo apa yang harus gua perbuat sama anak Tante Miranda?”
“Adik elo, maksudnya?”
“Unfortunately yes. Ya… adik tiri gua.”
“Adik, ya adik. Jangan diembel-embeli lagi. Karena bagaimanapun juga dia adik elo, walau lain ibu.”
“Jadi?”
“Sayangi dia sepenuh hati, seperti elo nyayangin diri elo sendiri. Karena dalam hal ini adik elo nggak salah, dan dia nggak ngerti apa yang terjadi.”
            
          Aku merasa jadi orang paling egois sedunia.  Aku orang yang aktif pelayanan di gereja, tapi tidak bisa memaafkan Papaku. Bagaimana mungkin aku bisa mengampuni orang lain kalau aku sendiri tidak bisa mengampuni Papaku. Bagaimana mungkin aku bisa mengasihi orang lain kalau aku  nggak bisa mengasihi adikku sendiri, yang jelas-jelas masih sedarah denganku.
“Elo benar, Niel.”
Nafasku tertahan.
“So, sekarang elo mau gimana?”
“Gua mau pulang. Tapi…..”
“Apa lagi?”
“Gua malu…..”
“Ngapain harus malu? Jangan pernah malu untuk memulai sesuatu hal yang baik. Nggak ada kata terlambat untuk berubah.”

                                                                  ******

         Hari masih pagi saat kupijakkan kaki turun dari sepeda motor di pekarangan rumahku. Aroma bau tanah tercium hidungku, pertanda Mama belum lama menyiram tanaman kesayangannya.
“Kak Rio!!!”

          Aku berpaling kearah datangnya suara. Rupanya suara itu datangnya dari mulut seorang anak kecil.  Anak kecil yang bermata bulat, berkulit putih dan berambut ikal  kecoklatan. Aku yakin dia itu Justin adikku. Tapi dari mana ia tahu aku ini kakaknya?   Mungkin Papa atau Mamaku yang bercerita padanya tentang aku, sambil memperlihatkan foto-fotoku.

Aku tidak pernah bertemu dengan Justin tapi aku merasa tidak asing melihatnya. Demikian juga Justin, ia juga sepertinya tidak takut melihat aku, orang yang tidak pernah kenal dengannya. Mungkinkah ini yang dinamakan ikatan bathin persaudaraan kami?

Aku merasa jadi orang paling munafik kalau aku nggak bisa sayang pada anak selucu dia. Aku yakin semua orang yang melihatnya, pasti akan suka padanya.

Kuhampiri dia. Kubelai rambutnya. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Senyuman yang mengandung makna, makna yang tak pernah bisa  kuungkapkan dengan kata-kata. Sesaat mataku nanar oleh suasana haru. Kupeluk dia erat-erat sambil berkata dalam hati: "Justin, maafkan kakak...".

                                                                
                                                                  TAMAT


Catatan: Cerpen ini gw tulis lebih dari 15 tahun yang lalu. Filenya ga sengaja gw temukan ada di komputer yang udah lama jadi penghuni gudang. Komputer itu kemarin dikeluarkan lagi dengan maksud  untuk dicek terlebih dahulu sebelum diberikan buat sodara. Naskahnya sengaja tidak diedit lagi, semuanya masih sama dan apa adanya...

Conclusion:
Berhentilah menyalahkan orang lain dan takdir Tuhan. Cobalah untuk memahami dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Hidup dengan cinta akan jauh lebih bermakna dibandingkan dengan hidup menyimpan amarah dan dendam... 
                     

Jumat, 20 Agustus 2010

Ivan

Ivan adalah seorang anak yang istimewa, dia hadir membawa keceriaan di dalam keluarga kecil yang sedang mengalami carut marut kemiskinan. Dia terlahir dari rahim seorang ibu yang sedang kurang sehat badannya, hingga sepanjang hidupnya Ivan ga pernah merasakan nikmatnya air susu dari ibu yang melahirkannya. Ivan terpaksa lahir sebelum waktunya karena ibunya terjatuh sewaktu mengandungnya dan mengalami pendarahan. Tapi untunglah nyawa ibu dan anak ini tertolong.

Ivan tumbuh tidak seperti balita pada umumnya. Dia sering sakit-sakitan, mungkin karena tidak mendapatkan ASI dan asupan gizinya yang kurang memadai.
Namun demikian Ivan tetaplah anak yang manis, tiap orang yang melihatnya pasti jatuh hati, ingin menggendong dan mencium pipinya.

Ibunya sangat menyayangi Ivan, karena sebelumnya ia telah kehilangan 2 puteri kembarnya yang meninggal karena sakit. Waktu itu anaknya hanya tinggal si sulung Max dan Ivan.

Kedekatan sang bunda dengan Ivan begitu dalam, Ibunya sangat menyayangi dia walau dalam keterbatasan ekonomi. Perhatian ibunya sepenuhnya tercurah buat anak kesayangannya, Ivan. Hanya sesekali Ivan ditinggal dan diasuh oleh tantenya, itu pun kalo keadaan sangat memaksa.

Suatu hari ivan menangis sangat keras, tidak seperti biasanya dia rewel dan susah dihentikan tangisnya. Berbagai cara telah dilakukan oleh ibunya, namun tak jua membuatnya berhenti menangis. Setelah hampir satu jam Ivan rewel akhirnya dia tertidur pulas, mungkin karena kecapean. Tak lama kemudian dia terbangun lagi karena buang air besar. Diiringi tangis, namun kini tangisnya tidak sekeras sebelumnya. Ketika ibunya mencebok dan mempersihkan pantatnya di kamar mandi, Ivan terdiam dan tubuhnya melunglai. Ivan meregang nyawa dalam pelukan bunda tersayang. Di umurnya yang baru 1 tahun 7 bulan Ivan meninggalkan orang-orang yang sangat menyayanginya. Jerit histeris dan tangisan pilu membahana di rumah keluarga kecil itu.

Akhirnya Ivan pun dimakamkan, berderet dengan makam kakak perempuan kembarnya. Sebelum dimakamkan, nenek tiri Ivan melakukan ritual memberi satu tanda noktah hitam di jasad Ivan.

Sepeninggal Ivan, sang ibu menjadi pemurung. Dia dilanda kesedihan yang berkepanjangan. Berbulan-bulan sang ibu menangisi kepergian putera kesayangannya. Sang ibu seperti kehilangan sebagian nyawa hidupnya, semangat hidupnya seperti terenggut oleh kematian putera kecilnya itu.

Beberapa tahun kemudian dia melahirkan anak perempuan, disusul 4 tahun kemudian lahirlah seorang anak laki-laki, yang diberi nama Farrel, itulah gw. Menurut mama, papa dan keluarga lainnya wajah gw mirip banget dengan Ivan. Hanya satu yang membedakannya, di tubuh gw ada anda lahir yang letaknya sama persis dengan noktah hitam yang yang dibubuhkan di jasad Ivan sebelum dia dimakamkan. Rupanya inilah maksud dari ritual nenek tiri gw itu, dia seperti memanggil kembali Ivan, yang menjelma di tubuh gw. Entahlah percaya atau tidak, tapi ini benar-benar terjadi dan gw mengalaminya sendiri.

Kelahiran gw, berangsur-angsur menyembuhkan luka mama atas meninggalkan Ivan. Luka bathin mama seperti terobati mendapatkan bayi yang wajahnya mirip dengan putera kesayangannya. Tak heran dari dulu sampai sekarang, mama memberikan perhatian lebih kepada gw. Gw jadi anak kesayangannya. Mungkin karena gw dan Ivan memiliki banyak kesamaan. Mama dan papa sering menceritakan kisah tentang Ivan kepada gw, tak heran gw merasa mempunyai kedekatan secara roh dengan Ivan.

Bulan Januari 1999, gw ikut tour ke Bali. Waktu di Tanah Lot, seorang perempuan setengah baya menghampiri gw. Perempuan chinese itu masih satu rombongan dengan gw. Setelah ngobrol ngalor ngidul, barulah gw tau ternyata dia adalah seorang Kwa Mia, ahli ramal tradisional china (sejenis paranormal). Paranormal itu, sebut saja namanya Tante Lisa. Lalu dia bicara dengan spontan.
“Kamu bukan anak ibu dan bapak kamu.” kata Tante Lisa.
”Maksud Tante?” Tanya gw penasaran.
”Secara fisik, kamu memang darah daging mereka, tapi kamu bukan anak mereka.” sahutnya.
Gw hanya bengong, ga ngerti apa yang dia bicarakan.
“Kamu berasal dari roh yang dipaksa untuk terlahir kembali untuk menggantikan kakak kamu. Dan tanda lahir itu buktinya.” Lanjutnya, sambil menunjuk tanda lahir gw.
Gw takjub, dan sulit mengeluarkan kata-kata. Dia mengetahui sejarah hidup gw, padahal gw ga pernah bercerita tentang hal ini sama orang lain. Apalagi sama Tante Lisa yang baru gw kenal dalam rombongan tour ini.
“Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja kok.” Sahut Tante Lisa.
“Terus apa yag harus saya lakukan, tante?” Tanya gw, meminta saran.
“Jalani saja hidup, sesuai panggilan jiwa kamu...” Jawab Tante Lisa sambil tersenyum menyimpan misteri.
“Farrel, Tante melihat kamu punya gift, semacam anugerah untuk melihat kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa depan.” Sambung Tante Lisa.
“Hmmmhh maksudnya bisa meramal, Tante?” tanya gw.
“Iya, kamu sering punya firasat tentang sesuatu yang akan terjadi kan? itulah bakat kamu. tapi kemampuan itu harus diasah, agar menemukan ketajamannya.” Tante Lisa menjelaskan.
“Kalo mau tau lebih banyak datang saja ke tempat tante.” Kemudian Tante Lisa memberikan selembar kartu nama.
Kartu nama itu masih gw, simpan. Tapi sampai sekarang gw ga pernah menemui Tante Lisa. Gw sendiri merasa takut, karena menurut agama yang gw anut: ramal adalah dosa besar, bahkan dosa itu mengikat sampai keturunan ke tujuh.

Meskipun gw ga peduli, namun gift meramal itu ga hilang begitu saja dari diri gw. Gw berkali-kali meramal teman-teman gw tentang yang bakal terjadi di hidupnya, dan semuanya tepat! Seringkali gw jg kaget dengan apa yang telah gw lakukan.

Suatu kali gw berkenalan dengan seorang perempuan, sebut saja namanya Merry. di mobil kami ngobrol basa-basi. Sampai ke titik dia bercerita tentang keluarganya.
“Sekarang gw hanya tinggal sama Mami dan Papi, kakak gw yang paling gede udah nikah dan tinggal di Jakarta....”
“Robert?” gw memotong pembicaraan Merry. Wajah Merry memancarkan keheranan.
“Tau dari mana kakak paling gede gw namanya Robert?” tanyanya.
“Ga ngerti, gw iseng aja asal sebut he he he...” Kata gw sambil tersenyum.
“Ah loe bohong, pasti loe bisa baca pikiran gw. kita kan baru kenal?” Merry penasaran.
“Hmmhhmm... coba siapa nama kakak gw yang kedua?” Merry bertanya.
“Siapa ya?... Huruf awalnya ‘J’....” jawab gw. Mata Merry terbelalak.
“Truuuusss...?" Merry minta gw melanjutkan kaliamat gw yang menggantung.
“Huruf akhirnya ‘Y’.” Lanjut gw.
“Ayo dong lanjutin, jawab yang komplit.” Merry makin excited.
“Jeffry!!!” jawab gw mantap.
“Gila!!! Kok tepat banget sih?” Merry terhenyak.

Gw sendiri sering merasa takjub dengan apa yang telah gw ucapkan, semuanya bener-bener diluar kendali otak gw. Namun satu hal yang pasti, gw ga bisa dipaksakan untuk meramal, semuanya harus terjadi begitu saja (semacam menunggu ilham yang melintas). Mungkin karena gw tidak serius melatih ketajamannya. Jadi semuanya harus terjadi secara natural.

Gw pernah mencoba belajar sendiri seni meramal dengan kartu tarot. Gw sengaja membeli buku-buku tarot sebagai referensi, dan tentu saja gw juga memiliki beberapa set kartu tarot. Tapi bagaimanapun juga gw merasa kalo melalui kartu tarot ramalannya masih terasa samar-samar, beda kalo gw meramal dengan berdasarkan ilham yang melintas. Semuanya lebih terang dan jelas. Dulu, kalo mood meramal gw lagi bagus, gw kadang-kadang suka iseng chatting di MIRC, dengan nickname bdg-fortune-teller, untuk meramal binan yang lagi chatting he he he...

Gw seringkali bisa ngeramalin nasib orang lain, tapi anehnya gw ga bisa membaca nasib gw sendiri. Gw ga bisa tau apa yang akan terjadi di kehidupan gw, huh menyebalkan he he he... Tapi gw malah menikmatinya, karena setiap hari adalah misteri buat gw.

Sampai saat ini gw masih ga ngerti adanya keterkaitan antara gw, Ivan dan bakat meramal gw. Tapi yang terpenting, gw mensyukuri kehadiran gw di dunia ini yang pernah menjadi penyembuh luka bathin mama gw tersayang. I love you Mom... I love you Ivan...

Conclusions:
Kita harus belajar mensyukuri keadaan diri kita apa adanya. Karena dengan bersyukur artinya kita telah belajar ikhlas menerima takdir pemberian Yang Maha Kuasa.

Selasa, 27 April 2010

My First Love

Pagi tadi gw terbangun, di luar sana terdengar sayup-sayup lagu First Love –Nikka Costa. lagu lawas yang masih enak untuk didengar... Lamunan gw menerawang jauh, menyusuri lorong waktu, mengarungi kenangan masa silam.

FIRST LOVE
Song by Nikka Costa

Everyone can see
There's a change in me
They all say I'm not the same
Kid I use to be

Don't go out and play
I just dream all day
They don't know what's wrong with me
And I'm too shy to say

It's my first love
What I'm dreaming on
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do

My first love
He thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could tell him what I'm feeling
'cause I'm feeling my first love

Mirror on the wall
Does he care at all
Does he ever notice me
Does he ever found

Tell me teddy bear
My love is so unfair
Will I ever found away
An answer to my pray
For my first love...


Lagu Nikka Costa ini, bener-bener ngegambarin perasaan remaja yang baru ngerasain artinya jatuh cinta. Tiap orang pasti pernah mengalami yang namanya cinta pertama alias cinta monyet. Tapi yang gw rasakan mungkin bukan cinta tapi hanya sekedar rasa suka. Atau mungkin lebih tepatnya gw ingin punya seseorang yang spesial, sama kaya temen-temen sebaya gw yang rata-rata sudah punya pacar.
Sebut saja namanya Lidya, seorang gadis remaja yang cantik, berhidung mancung dan bermata indah. Umurnya 2 tahun dibawah gw dan dia adik dari sahabat gw sendiri Marlon. Waktu itu gw baru mengjinjak kelas 2 SMA, dan dia Kelas 3 SMP. Gaya pacaran kami cukup unik, karena kami lebih saling mendukung dalam pendidikan. Ajaibnya ranking gw dan Lidya selalu sama. Mulai dari kisaran 5 besar, sampai masuk ranking 3 besar kami selalu sama.
Gw termasuk remaja yang alim dan taat beragama. Jadi walaupun pacaran, gw dan Lidya ga pernah melampaui batas. Paling banter, hanya berpegangan tangan. Itu pun sambil malu-malu kucing. Entah karena malu atau karena ga doyan he he he...
Waktu itu gw sering ngerasain pacaran dengan Lidya itu jadi beban buat gw. Seolah-olah gw harus melakukan kewajiban yang sebenernya gw sendiri ga suka. Apel malam minggu, antar jemput, nemenin dia belajar, jalan-jalan dll. gw lebih suka main dengan teman-teman cowok. Malah gw sering memprioritaskan sahabat-sahabat gw daripada Lidya. Ujung-ujungnya Lidya ngambek, ngerasa dicuekin.
Tapi hubungan kami yang bahasa sundanya: ‘awet rajet’ (awet tapi belangsak he he he...) berjalan sampai 4 tahun. Hubungan kami diakhiri dengan perpisahan secara baik-baik dan kami tetap bersahabat. Jujur, waktu itu gw masih sayang sama Lidya.
Setelah hampir 1 tahun gw dan Lidya sama-sama menjomblo, lalu gw dan Lidya, masing-masing punya pacar lagi. Gw dengan Andrea, mantan murid sekolah minggu gw. Dan Lidya dengan Handoko, masih teman gw juga.
Tapi Andrea terlalu possessive, gw ga nyaman jalan sama dia. Dia ga terima kalo gw lebih ngutamain sahabat-sahabat gw (ya iya lah... he he he...). Dan dia sering cemburu melihat gw dan Lidya masih bersahabat. Hubungan gw dan Andrea hanya bertahan kurang dari 1 tahun, lalu gw memutuskan hubungan dengan dia.
Perjalanan percintaan gw dengan lawan jenis yang berikutnya ga pernah lebih dari 6 bulan. Jadian-bubar... jadian-bubar... jadian-bubar... gw kesannya seperti playboy cap jenggot kambing he he he... padahal sebenernya gw sedang dalam pencarian ‘cinta sejati’ gw, yang akhirnya gw sadari ga akan pernah gw temukan dalam sosok perempuan. Tapi gw keukeuh ‘denial’, gw mencari dan terus mencari. Sampai akhirnya gw lelah dan menyerah.
Dari sekian perempuan yang pernah mengisi hati gw, hanya Lidya yang meninggalkan kesan terdalam. Terlalu indah untuk dilupakan, tapi terlalu pedih untuk dikenang...
Selepas kuliah gw bekerja di salah satu bank swasta. Gw masih inget betul, waktu itu tanggal 17 September, jarum jam belum beranjak ke angka 9. Ada telpon buat gw yang ngabarin tentang sebuah kejadian tragis. Lidya dan Ibunya ditemukan terbunuh di rumahnya, dengan luka tusukan di sekujur tubuhnya. Mereka memang hidup berdua, setelah Marlon memutuskan menetap di Bali untuk belajar melukis, dan Marco adik Lidya tinggal dengan istrinya. Ayah Lidya memang sudah lama ga pernah pulang, dia lebih suka tinggal dengan isteri mudanya.
Pembunuh Lidya dan ibunya ternyata adalah tetangganya sendiri. Dia bermaksud mencuri dengan membobol atap rumah, tapi sialnya dia ketahuan. Entah karena panik, takut atau malu, dia nekat menghabisi 2 nyawa itu sekaligus.
Kejadian itu sangat membekas dihati gw. Masih tergambar jelas di benak gw, jasad Lidya dan ibunya terbujur kaku di dalam 2 peti jenazah di rumah duka. Tangisan pilu keluarga, kerabat dan sahabat mengiringi pemakaman Lidya dan ibunya. Mereka dikuburkan secara berdampingan.
3 tahun setelah kematiannya, Lidya sering menghampiri gw dalam mimpi-mimpi gw. hadir tidak dalam sosok yang menakutkan. Dalam mimpi-mimpi itu, Gw dan Lidya hanya ngobrol biasa... atau kadang dia cuma melintas di depan gw. Gw termasuk orang yang jarang bermimpi saat tidur. Tapi seminggu itu, dia hadir hampir setiap malam. Gw merasa ada sesuatu yang janggal, Lidya seolah sedang mengirimkan pesan khusus buat gw. Gw tersentak, gw baru sadar, hari itu tanggal 17 Maret, hari ulang tahunnya Lidya. Pagi itu gw bergegas pergi ke makam Lidya. Di jalan gw bertemu dengan Gunawan, sahabat gw dan Lidya yang mau berkunjung ke rumah gw.
“Farrel, mau kemana?” tanyanya.
“Mau ke makam Lidya” jawab gw.
“Lho kok aneh ya?, gw sekarang justru mau ngajak loe ke sana”. Katanya keheranan.
“Seminggu ini gw mimpi tentang Lidya terus...” sahut gw singkat.
“Oooohh... kok sama...” Gunanwan menggumam.
Gw dan Gunawan bergegas ke makam Lidya. Disana gw mendapati kuburan Lidya yang indah itu, tidak terawat. Dipenuhi rumput liar dan dedaunan kering. Gw dan Gunawan tanpa banyak bicara membersihkan kedua makam ibu dan anak itu. Ah... menyedihkan sekali... Lidya, i still care about you...
Sejak kepergian Lidya sampai sekarang, gw ga pernah berpacaran lagi dengan seorang perempuan. Dan sampai umur segini gw belum menikah juga. Orang-orang berpendapat kalo gw patah hati, karena cinta sejati gw dibawa mati. Tapi bukan itu penyebab yang sebenarnya... Karena setelah dari makam Lidya, gw memutuskan untuk menjadi diri sendiri. Membuka lembaran baru kehidupan percintaan gw. Dan menerima dengan ikhlas sisi ke-gay-an gw. My first love, but not my true love...


Conclusions:
Makna hidup dan penemuan jati diri, seringkali harus kita raih setelah mengarungi samudera problema. Riak... gelombang... bahkan badai... semakin menempa ketangguhan kita.

Senin, 01 Maret 2010

Half Blood Prince

Jaman dahulu kala, sekitar tahun 1930-an. Seorang pemuda perantauan dari daratan China, yang bernama Tan Ping Hien tiba di sebuah negeri yang penduduk aslinya berkulit sawo matang. Waktu itu umurnya belumlah genap 12 tahun. Himpitan ekonomi, kekacauan, peperangan dan kesusahan hidup di kampungnya, membuat tekadnya bulat untuk ikut merantau bersama kerabatnya ke negeri subur jajahan Belanda (Indonesia). Terombang-ambing di sebuah kapal kecil selama berbulan-bulan di lautan, tak menyurutkan niatnya untuk tetap pada visi hidupnya, merubah nasib hidupnya.
Perbedaan kultur dan adat istiadat hanya sebentar membuatnya terperangah. Dengan mudah dia menyesuaikan diri. Bahkan waktu datangpun dia hanya mampu berbahasa tanah leluhurnya. Berkat kemauan dan kerja keras, sedikit demi sedikit dia mulai bisa berbahasa melayu, tentu saja dengan logat lucunya. Tan Ping Hien muda pun sempat terheran-heran ketika untuk pertama kalinya melihat binatang penyantap nyamuk yang melata di dinding. Cecak yang buat kita merupakan binatang biasa saja, sempat membuatnya terkagum-kagum karena di negeri leluhurnya tidak ada binatang seperti itu.
Berbagai pekerjaan pernah dia lakoni, berbagai keterampilan juga telah ia pelajari dari setiap taoke (boss) yang pernah mempekerjakan dia. Dia pernah bekerja pada seorang tukang kamasan (pembuat perhiasan emas), sebuah pekerjaan yang kelak menjadi penopang hidupnya. Untunglah ia seorang anak yang cerdas, mudah bergaul dan punya citarasa seni tinggi, sehingga dengan mudah dia mampu menyerap semua ilmu membuat perhiasan, mulai dari melebur, menempa, membentuk, memperindah, menyepuh dan lain-lain.
Berbagai kota di negeri ini pernah dia jelajahi dalam perantauannya. Akhirnya menetaplah di sebuah kota kecil, di Kabupaten Bandung. Disana dia menemukan kembang desa, seorang gadis pribumi bernama Sarimanah. Perbedaan latar belakang sempat membuat keluarga Sarimanah menentang pernikahan mereka. Namun kekuatan cinta tak menyurutkan langkah mereka untuk membina rumah tangga. Dari pernikahannya lahirlah 3 orang anak: 2 orang putera yang diberi nama Tan Kim Hong dan Tan Kim Liong (bokap gw), dan seorang puteri Tan Giok Hwa. Dalam usia yang sangat muda, terutama buat si bungsu baru yang menginjak umur 2 tahun. ketiga bocah itu harus kehilangan ibunya yang meninggal dunia di usia 22 tahun.
Bokap gw yang berdarah campuran (half blood) Chinese-Sunda, menikahi seorang perempuan berdarah campuran juga (dominan chinese tapi dari garis neneknya ada keturunan darah Belanda). Dari pernikahannya itu lahirlah 4 orang anak: kakak laki-laki gw, kakak perempuan gw, gw, dan adik perempuan gw.
Itulah silsilah diri gw, yang secara fisik dan kultur berada diantara dua etnis itu (Chinese-Sunda). Warna kulit dan wajah gw, tidak kelihatan chinese banget ataupun pri banget. Gw juga ga bisa berbahasa Mandarin, makanya temen-temen gw sering bilang gw itu China murtad he he he... Bahasa Sunda gw kadang malah lebih bagus dari temen-temen gw yang orang Sunda tulen.

23 Februari kemaren, Alvin ngajak gw ke acara perayaan Imlek perkumpulan
Marga Kwok/Kwee se-Bandung di Grand Eastern Restaurant. Yang hadir kelihatan banget dari kalangan menengah keatas (Marga Kwok/Kwee adalah orang Khe, yang dari dulu terkenal bermata pencaharian sebagai pengusaha atau boss besar. Jarang banget terdengar orang Khe hanya menjadi pegawai biasa, mayoritas punya bisnis sendiri, minimal mereka punya toko.
Acara dipandu oleh sepasang MC dalam Bahasa mandarin. Bahkan kata sambutan pun semuanya menggunakan Bahasa Mandarin. Lumayan bikin gw cengo he he he... Yang masih bisa gw nikmatin adalah pertunjukan 4 barongsai dan tarian naga panjang yang meliuk-liuk. Penampilan 4 orang abg memamerkan kepiawaian ber-kungfu membuat gw terpesona.
Untuk memeriahkan malam itu seorang penyanyi perempuan, sengaja didatangkan langsung dari Taiwan. Penampilannya cukup menghibur, menyajikan lagu-lagu mandarin nostalgia, seperti lagu ‘Ye Lai Xiang’ nya Teresa Teng dan lagu-lagu nostalgia lainnya. Tapi kalo diperhatikan penyanyi yang memakai baju kaya gaun pengantin itu kok kaya waria ya? upss... he he he...
Seorang penyanyi laki-laki yang gw perkirakan umurnya sudah menginjak umur hampir 50-an tampil. Dia memakai kemeja corak garis abu hitam berkerah besar dengan belahan dada rendah dan jalitan tali yang saling silang-menyilang di dadanya. Untuk bawahannya dia memakai celana panjang putih ketat berkantung banyak, dilengkapi sepatu putih (wew... banci banget he he he...). Dan sesuai dengan radar gw, dia tampil sangat ngondek ha ha ha... ditambah dengan aksi panggungnya yang bikin gw geli, dia sering menendangkan kakinya, persis kaya penyanyi dangdut vetty vera kalo lagi beraksi qiqiqi... (gw jadi inget fim seri Ksatria Baja Hitam: “Tendangan Mauuuuuuuuuttt!!!!” wkwkwk...).
Semua tamu undangan menempati meja makan yang telah ditentukan. Tiap meja berisi sekitar 8-10 orang undangan. Makanan demi makanan dihidangkan satu demi satu ke meja makan. Setelah makanan yang satu hampir habis, lalu dihidangkan makanan yang berikutnya, dan berikutnya (Cia Chiu).
Seorang bapak-bapak umur 60-an yang duduk satu meja dengan gw, keliatan banget dia sering mencuri-curi pandang ke gw. Awalnya gw ga ngeh coz ada istrinya yang duduk di sebelah dia. Seorang tante-tante berwajah garang qiqiqi... Tapi gw lama-lama tambah yakin kalo dia itu gay veteran he he he... apalagi dia tampil chic dengan rambut tertata rapi ala Richie Ricardo (wuiiiihhh penyanyi remaja jadul he he he... yang sudah almarhum), plus kemeja kotak-kotak putih-orange yang tight dan celana panjang yang lagi-lagi... putih... he he he... Si bapak yang bergigi cadok ini, sering melirik dan senyum-senyum ke arah gw weeekkkks...!!! Si bapak bergigi cadok ini ternyata banci tampil juga. Dia tampil menyumbangkan suara ‘emasnya’ (suara yang bikin penonton menahan tawa geli he he he...) di panggung. Tak puas dengan cuma nyanyi, dia pun tampil berdansa salsa, cha cha cha, dan tarian latin lainnya bersama istri dan 2 pasangan lainnya. Wew ternyata badannya lentur banget buuuu... goyang pinggulnya aduhaaaaaiiii... kaya Olga Syahputra he he he...
Malam itu memang bukan malam keberuntungan gw: 1. gw banyak cengo-nya coz ga ngerti bahasa Mandarin yang dipake sebagai bahasa pengantar acara, 2. Ga dapet doorprize wkwkwk... 3. dikecengin ‘gay veteran’ pula wew... (hmmhhhh... Brondong-brondong bermarga Kwok/Kwee pada kemana ya? he he he...).
Di tubuh gw mengalir darah campuran: chinese dan sunda. Orang chinese menyebutnya sebagai ‘peranakan’ karena tidak berdarah murni. Tp gw malah merasa beruntung, karena gw bisa masuk ke kalangan manapun. Kalo belanja di toko orang chinese gw nawar pake istilah bahasa pasar orang chinese (kaya ceceng, ceban, cetiao dll.), jadilah gw dapat discount lebih gede. Dan kalo berinteraksi dengan orang sunda, gw menggunakan Bahasa Sunda halus, maka lancarlah segala urusan he he he...

Conclusions:
Kepercayaan diri itu timbul bukan karena apa yang kita miliki, tapi karena keikhlasan kita menerima diri kita apa adanya... chiayooo...

Jumat, 13 November 2009

Duka Di Rumah Duka

Kemaren malam, gerimis kembali membasahi Kota Bandung. Akhir-akhir ini udara malam di Bandung terasa lebih sejuk. Tiap malam udara dingin terasa menusuk sampai ke tulang. Gw lagi males kemana-mana. Selain cuaca lagi ga bersahabat, ditambah gw juga lagi flu. Gw hanya diam di kamar, meringkuk didalam hangatnya selimut, sambil memutar lagu-lagu Kahitna jadul yang melow.
Jam dinding di kamar gw baru mau beranjak ke angka pukul 20.00 WIB, terlalu siang memang buat gw tidur. Coz gw ga bisa tidur dibawah pukul 24.00, entah karena insomnia atau cuma kebiasaan…
Hp gw menjerit-jerit… O ternyata telpon dari temen gw, Alvin.
“Farrel, loe dah tau belom?” itulah Alvin kalo ngomong tanpa basa-basi ba bi bu langsung straight to the point.
“Ada apa gitu?” gw balik nanya.
“Nathan, meninggal…” suara Alvin tercekat.
“What!!? Kapan?!” gw agak tersentak ngedenger kabar itu.
“Gw juga baru tau, penyebabnya juga gw ga tau. Kita ke rumah Duka Nana Rohana bareng yuk… Tar jam 9 gw jemput loe. ”

Setelah meng-iya-kan, gw menutup Hp gw.
Lamunan gw seakan terbawa kembali ke alam kenangan belasan tahun yang lalu. Nathan adalah salah satu temen gw. Anaknya pendiam tapi ramah. Kulitnya putih mulus, rambut lurus hitam legam, dengan deretan gigi yang putih dan rapi… ketampanan khas oriental. Di perkumpulan kami, Nathan yang paling ga bisa apa-apa dalam dunia olahraga dan sering jadi korban kejailan temen-temen gw.
Sesuai janji, Alvin datang menjemput ke rumah gw. Alvin, sahabat (sekaligus temen berantem he he he…) gw sejak SMP. Temen-temen gw yang laen bilang kalo gw dan Alvin tuh soulmate sejati… weeeekkkkssss najis bangedh he he he… Alvin emang cakep, tapi gw ga hobby ngegarap gadun he he he… lagian kami udah temenan lama banget. Dia yang selalu gigih dan ga pernah nyerah nyari calon isteri. Dia pernah ditinggal kawin sama 2 mantan pacarnya, 1 kali batal menikah, dan telah berkenalan dengan ratusan cewek (sering menilai cewek banyak kekurangannya, kurang ini dan itu). Dia orangnya gokil, pecicilan, ga mau kalah, suka mau tau urusan orang, tapi ga gw pungkiri dia orangnya solider. Gw yakin banget dia bukan straight sejati. Waktu kelas 2 dan kelas 3 SMP, gw selalu sebangku dengan Alvin. Di kelas dia sering nyuri-nyuri kesempatan mencoba mengusap-usap paha gw … wew…Brrrrrrr…. Gw sering marah, tapi dia melakukannya lagi, lagi dan lagi… bahkan kadang jari tangannya mencoba masuk ke selangkangan gw lewat celah celana pendek biru gw. Dan tonjokkan tangan gw yang mendarat di lengan atasnya, ga mampu menghentikan aksi ‘bejat’ Alvin qiqiqi… Dulu sih gw masih bego, ga ngerti apa-apa. Waktu itu gw hanya ngira dia lagi jail aja. Tapi sekarang, gw ngerti apa yang sebenernya terjadi. Mungkin waktu itu dia lagi horny he he he…
Gw tau, sekarang dia sedang berkamuflase. Lagian gw juga ga peduli selama dia ga nyampurin urusan pribadi gw. Ga ada untungnya juga saling membuka diri. Jadilah kami 2 sahabat homo yang sama-sama ragu apakah sahabatnya homo atau bukan? Qiqiqi…
Tiba di rumah duka, aura kesedihan terasa banget. Dekorasi kain berwarna biru langit berpadu putih, dominan menghiasi dinding ruangan. Rangkaian bunga lily, mawar, dan Chrisant yang serba putih menghiasi setiap sudut altar tempat peti jenazah disemayamkan. Dekorasi dengan 6 pilar dan puluhan cahaya dari lilin putih, terlihat sangat elegan dan berkelas. Tapi aura duka tetap terasa…
Di dalam ruangan gw ketemu teman-teman SMP gw, Joshua dan Hendrik, yang datang membawa anaknya. Kami langsung mengambil tempat duduk disudut ruangan.
“Kirain bawa cewek, ini mah malah datang sama yang ini ini lagi…emang ga bosen?” ledek Joshua kepada Gw dan Alvin.
“Emang loe datang sama siapa?” Alvin langsung balik nanya.
“Sama, mami dan adik gw” jawab Joshua.
“Ah sama aja, loe juga masih jomblo sejati kan? Sesama jomblo dilarang saling mendzolimi!!!” sahut gw. Diiringi suara ketawa kami, yang sedikit ditahan, agar ga terlalu kedenger orang banyak.
“Iya tuh, emang kalian masih nunggu apa lagi? Gw aja udah punya anak 2. Ayo cepet-cepet nikah, 2012 kiamat lho” Hendrik menimpali.
“Mau Ki Amat, mau Ki Daus, mau, Ki Manteb, mau Ki Joko Bego kagak ngaruh!!! he he he…” sahut gw.
“Iya ya, kalo belom ada jodohnya mau bilang apa?” Sambung Joshua.

Gw curiga, Joshua jg gay..hahaaay!!! (kok gw curiga mulu ya? gaydar kali ya? he he he…) Setau gw dia ga pernah pacaran sama cewek. Dia orangnya handsome, berkulit putih, berhidung mancung, dengan badan kekar tapi ga terlalu tinggi. Dia pemain band, dan sering ngiringin gw nyanyi dengan permaian keyboardnya.
Di sekeliling ruangan di rumah duka gw melihat ‘penampakan’… hiiiiyyyy jangan syerem dulu ah!! Bukan penampakan hantu, tapi penampakan aura gay he he he… swear!! lebih dari 5 orang ke detect sm radar gw xixixi….
Kembali lagi ke kisah kematian Nathan. Di rumah duka gw jadi tau penyebab kematian Nathan. Awalnya dia menderita sariawan di bawah lidah yang ga kunjung sembuh. Dan dia ga terlalu mempedulikannya. Tapi lama-lama rasa sakitnya menjalar ke rahang. Setelah diperiksa, menurut diagnosis dokter Nathan kena kanker. Lalu rahangnya dioperasi. Tapi ga sampai 2 bulan, ternyata kankernya sudah menjalar ke kelenjar getah bening. Dan dalam waktu yang sangat singkat menjalar menggerogoti paru-parunya. Usaha pengobatan sudah dilakukan sampai ke singapura, tapi takdir memang susah ditebak. Tuhan punya kehendak lain. Nathan harus ‘pulang’ lebih awal…
Pernikahan yang sudah disiapkan dengan pacarnya, hanya tinggal rencana yang tak mungkin bisa terwujud. 3 kali diundur: April 2009, Oktober 2009, dan Januari 2010. Pada akhirnya hanya menyisakan duka dan luka, buat keluarga dan calon istrinya.
Nathan walaupun pendiam, tapi punya sisi nakal. Menurut cerita temen gw yang dulu sering jalan bareng sama Nathan. Dulu dia sering ‘membooking’ waria di sekitar Jl. Sumatra… (sisi nakal atau sisi gay?). Hanya sekedar untuk di-blowjob didalam mobilnya. Waduh gw aja yang gay kagak pernah ‘main’ dengan waria (dan ga kepikiran buat nyoba qiqiqi…).
Rintik hujan masih menyisakan tetes-tetes di dedaunan… Gw kembali lagi sendiri di kamar, dalam kehangatan selimut, tapi tanpa alunan lagu melow Kahitna. Selamat jalan sobat!!! Semoga kamu tenang di alam sana…

Conclusions:


Gay oh gay… ternyata bertebaran di mana-mana, bahkan terselip di antara sahabat-sahabat terdekat gw. Gw ga nge-judge lho, coz gw sendiri ga terlalu yakin, apakah beberapa sahabat gw itu GAY atau HOMO qiqiqi… gubrax!!!