Tampilkan postingan dengan label gender. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gender. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 November 2009

Sejumput Kisah Indah Masa Kecil

Masa kecil adalah masa yang paling indah. Masa-masa hidup tanpa beban, karena keseharian kita hanya diisi oleh belajar dan bermain. Saat-saat dimana kepribadian kita mulai diproses. semua informasi yang kita serap, baik dari: pola asuh, pendidikan, pergaulan, dan lingkungan (yang baik maupun buruk). Tanpa kita sadari, semua itu membentuk karakter kita setelah dewasa. Masa kecil gw termasuk masa kecil yang biasa aja, sama seperti teman-teman lain seumuran gw. Masa kecil gw bahagia, even ga bergelimang harta. Cukup mendapat kasih sayang dan perhatian dari ortu.

Karena gw dibesarkan di kota kecamatan, maka kehidupan gw lebih dekat dengan alam. Mancing, nyari keong sawah, nyari remis, nangkap belut, menjaring ikan-ikan kecil, dan berenang di sungai adalah hal biasa buat gw (kok kaya si Bolang banget ya? qiqiqi…). Gw membuat sendiri semua mainan gw. Satu hal yang membanggakan: mainan buatan gw biasanya lebih bagus dan lebih kreatif dibandingkan dengan mainan buatan teman-teman gw he he he… Makanya temen-temen gw suka maksa membeli mainan buatan gw.

Waktu SD, papah sering ngajak gw mancing dan berburu burung atau tupai memakai senapan angin. Papah membelikan gw senapan angin berukuran kecil, gw bener-bener excited. Pengalaman yang seru, berjalan-jalan ke pelosok kampung dan hutan berburu mencari burung. Mungkin itulah sebabnya sampai sekarang gw lebih menyukai kegiatan petualangan di alam. Ga ada yang berubah, mungkin yang berbeda cuma: kalo dulu gw suka berburu burung beneran, tapi sekarang gw lebih suka berburu ‘burung-burungan’ he he he…
Orang bilang, bakat gay itu sudah terlihat dari kecil. Ciri-ciri anak yang kelak menjadi seorang gay adalah: anak mami, sensitif, cengeng, manja, dan penakut. Tapi gw ga memliki semua ciri diatas. Gw termasuk anak yang mandiri dan sanggup menahan rasa sakit. Bahkan ketika gw terluka dan mengeluarkan banyak darah, gw hanya mengobati diri sendiri tanpa mau bilang sama orang tua.

Dari cerita orang, jenis permainan yang dimainkan di masa kecil, juga bisa menunjukkan bakat ke-gay-an seorang anak. Teman gw Daffa pernah cerita: waktu kecil dia sering main lompat tali, bola bekel, congklak, kawin-kawinan, masak-masakan, pasar-pasaran, dokter-dokteran, panggung-panggungan, dan salon-salonan (tapi ga pake ngondek-ngondekan he he he… coz belom expert kali qiqiqi…).

Tapi gw lain, gw ga suka memainkan permainan seperti itu. Gw lebih suka main galasin, petak umpet, main kelereng, perang-perangan, sorodot gaplok (qiqiqi apaan tuh? ada yang tau istilah B. Indonesia nya? He he he…), manjat pohon, gatrik, main petasan dll. Pokoknya permainan yang lebih menantang, mengeluarkan tenaga dan keringat.

Kalo diingat-ingat lagi, ada hal-hal yang unik dan lucu, dan kadang bikin gw tersenyum sendiri kalo lagi mengenangnya.
-Waktu kecil gw suka banget menggambar orang, terutama lelaki. Yup lelaki yang lagi kencing he he he... atau kalo menggambar binatang, gw suka menggambar kuda dengan alat kelamin yang besar he he he…
-Gw suka mengambil tanah liat dari sungai dan membentuknya menyerupai sebuah penis yang super besar, sebesar pentungan satpam qiqiqi…
-Gw juga membuat ketapel, yang pegangannya sengaja gw bentuk menyerupai kon**l ha ha ha…
Ah ternyata sejak kecil gw sepertinya sudah terobsesi dengan ‘benda’ yang satu itu he he he…
Seringkali gw sengaja bermain di pinggiran sungai hanya untuk melihat tukang becak atau pencari pasir mandi berbugil ria, tanpa merasa risih dengan kehadiran gw… wah pokoknya sungguh pengalaman yang seru dan unforgettable.

Orang bilang, ada juga yang menjadi gay itu gara-gara mengalami peristiwa pelecehan sexual sewaktu kecil. Lalu meninggalkan trauma yang membekas. Beberapa sahabat gay gw juga pernah mengalaminya. Ada yang pernah dikerjain sama guru olahraganya, pamannya, sepupunya, guru ngajinya, pedagang mainan dll. Dan sensasi kenikmatan itu berlanjut hingga mereka dewasa. Tapi Gw ga pernah mengalami trauma kaya gitu.
Waktu gw sekolah kelas 1 SMP, di kelas gw ada seorang anak yang sok kuasa, sebut saja namanya Tanto. Dia galak dan ditakuti temen-temen lainnya. Badannya tinggi besar, lebih bongsor kalo dibandingin sama temen-temen sebayanya. Dia anak kepala sekolah, makanya dia ga merasa takut sama siapapun. Dia punya gank, semua anggota ganknya tunduk sama dia.

Waktu ga ada guru, gw beberapa kali melihat dia memaksa beberapa temennya untuk mengoral penisnya… (mungkin dia terinspirasi dari film bokep yang ditontonnya wkwkwkwk…). Kebetulan bangku gw dan dia sejajar, jadi gw bisa melihat kejadiannya dengan leluasa. Temen-temennya ga ada yang berani menolak perintah dia. Sementara temen sebangku gw, sebut saja namanya Sulaeman, Dalam keseharian dia orangnya sangat pendiam dan ga banyak bergaul. Dia berbisik sama gw:
“Baru punya kon**l segede gitu aja dipamer-pamerin” katanya, dengan dingin dan sinis.
“Emang punya kamu gede gitu?” tanya gw penasaran.

Lalu dia membuka ritzleting celananya, rupanya dia ga memakai celana dalam. Dan dikeluarkannya penisnya yang busyeeet… gede banget, plus berbulu lebat. Gw sampai terkesima dibuatnya, coz punya gw masih imut dan masih plontos he he he… maklum gw belom mengalami pubertas, sementara sulaeman umurnya hampir 3 tahun lebih tua dari gw ( coz di SD dia beberapa kali pernah tinggal kelas). Makanya kon**lnya punya bentuk, warna, dan ukuran yang memukau gw he he he… Ukurannya sudah seukuran punya orang dewasa.
“Gila!! Kok punya kamu gede banget dan banyak bulunya?” sahut gw terheran-heran.
“He he he…” dia hanya tertawa pelan.
“Gede kan?” lanjutnya.


Gw hanya mengangguk sambil menelan ludah he he he… (kebayang betapa culunnya wajah gw waktu itu qiqiqi…).
Gw bengong melihat kon**l Sulaeman mulai menegang dan nampak jauh lebih besar.
“Boleh aku pegang?” tanya gw ragu.
“Hmmmmhhh…” Sulaeman mengangguk.

Wah seru banget!!! dia ngijinin gw memegangnya beberapa saat qiqiqi...

Sejak kenaikan ke kelas 2, gw ga pernah melihat Sulaeman lagi. Anak pendiam, penyendiri, dan susah nangkap pelajaran itu, pergi entah kemana. Mungkin dia malu untuk melanjutkan sekolah karena dia harus tinggal kelas lagi.

Waktu SMA, teman sekelas gw ada yang tingkah lakunya persis perempuan, sebut saja namanya Syarief. Dia centil, lemah gemulai, bawel, rapih, selalu wangi dan ketawanya bikin gw alergi he he he… (pokoknya ga enak didenger dech. Enaknya disambit kale wkwkwkwk…). Gw ga kenal deket sama dia, hanya kenal sebatas temen sekelas aja. Dia punya temen sebangku yang sifat dan tingkah lakunya ga jauh beda sama dia. Mungkin satu species kali he he he…

Suatu hari pas jam istirahat, dia pernah cerita sama gw, kalo dia sering dipaksa mengoral beberapa teman yang merupakan premannya kelas gw. Kata Syarief kejadian oral-mengoral itu terjadi berkali-kali dengan mengambil tempat di kelas, di toilet, di rumah, di warung, bahkan di mushola… wow gw sampai ternganga…!!! Gw bener-bener ga nyangka, temen-temen sebrutal dan tukang berkelahi kaya gitu kok suka ‘di-blow job’ lelaki??? Entah karena iseng, entah terdesak kebutuhan libido atau memang punya bakat gay jg? Gw ga tau dan sampai sekarang ga pernah tau kelanjutannya.

Lebaran 2 tahun kemarin, gw ketemu lagi dengan Syarief. Dia cerita kalo dia sudah menikah dan sudah punya anak. Tapi dia masih kaya dulu: centil, lemah gemulai, bawel, rapih, wangi dan ketawanya bikin gw alergi he he he…

Conclusions:
This is the real me. Salah pola asuh? (nope) salah bergaul? (nope) trauma masa lalu? (nope), bakat bawaan? (absolutely) Entahlah… yang jelas gw menikmatinya… No regrets he he he…

Selasa, 13 Oktober 2009

Antara Gender Dan Harga Diri

Malam Minggu, 10 Oktober 2008 kemaren. Gw dan Ronald clubbing di Amnesia, Ga seperti biasanya malam itu kami pergi cuma berdua aja, tanpa Daffa. Coz malam itu Daffa membatalkan pergi clubbing, padahal dia yang ngajak duluan hmmmmhhhh… maklum bf-nya ga bisa ikut karena dia harus kerja masuk pagi. Ditambah mereka lagi dibawah ‘pengaruh’ sate kambing yang baru mereka makan he he he…

Daffa ga tergoyahkan oleh bujukan, rayuan, permohonan, maupun ancaman kami qiqiqi… Yo wess, karena gw kasihan sama Ronald yang lagi ngebet dugem, akhirnya gw putusin buat pergi berdua saja. Untunglah Ronald berhasil membujuk Raka untung bergabung malam itu.

Alunan musik, lagu Hush Hush Hush milik Pussycat Dolls menghentak, terdengar saat kami memasuki ruangan, seakan menyambut kedatangan kami.
“Pokoknya kita harus fun!!! Ga boleh bete!!! Biarin Daffa ga ada juga!” Seru Ronald.
Gw hanya tersenyum dan mengangguk saja tanda setuju.
Hmmmhhhh… sudah hampir 2 bulan gw ga menginjakkan kaki di Amnesia, tapi magnetnya tetap saja terasa kuat.

Gw, Ronald, dan Raka menyeruak masuk menuju ke area depan, melalui kerumunan banyak orang yang sedang ‘have fun’. Di dalam kami juga bertemu dengan Calvin, yang menenteng botol air mineral.
“tumben minumnya air gituan?” tanya gw.
“Iya, aku lagi ga mau minum. Bukan takut mabuk, tapi lagi bokek he he he…” jawabnya.

Perjalanan malam panjang baru mulai… Ronald terlihat larut dalam alunan musik, dia asyik bergoyang dibawah pengaruh minuman yang diminumnya. Terlihat dia sangat menikmati malam itu.
Seperti biasanya, gw dugem selalu dalam kesadaran penuh he he he… mata gw asyik belanja memperhatikan orang-orang di sekitar gw he he he…

Tiba-tiba gw dikagetkan oleh suara ribut. Gw melihat ada orang lagi memukul bertubi-tubi sambil mendorong lawannya, sambil mengeluarkan sumpah serapah. Ya ampuuuunn… ternyata orang yang sedang tidak berdaya dipukul dan terjatuh itu adalah Ronald!!! Dia sedang menghadapi serangan bertubi-tubi seorang cewek ber-body segede bagong (qiqiqi…).

Gw sigap menarik Ronald ke belakang badan gw. Tapi cewek itu seakan belom puas terhadap Ronald, dia merangsak, menerobos, dan berusaha menyarangkan tinjunya. Dengan refleks gw melindungi Ronald dengan tangkisan tangan gw (ga sia-sia dulu gw pernah ikut ekskul beladiri he he he…). Setelah tangan cewek itu beradu dengan tangan gw, dia terlihat meringis kesakitan. Cewek itu melotot menatap tajam ke arah gw, gw ga kalah sengit memelototi cewek itu. Merasa mendapat lawan yang ga seimbang, cewek itu ngeloyor pergi.
“Kamu ngapain sih? kok sampe cewek itu kalap?” tanya gw sama Ronald.
“Aku ga tau, aku lagi joget eh… tiba-tiba di mukulin aku. Dasar pecun!!!” Jawab Ronald, dengan wajah yang masih pucat pasi.

Gw hanya menduga-duga dalam hati, mungkin cewek itu merasa Ronald telah menyentuh bagian sensitif tubuhnya. Jadi dia merasa telah dilecehkan. Padahal, mana mungkin? Jangankan cuma cewek berwajah dibawah rata-rata dengan body segede bagong kaya gitu, Cewek secantik Luna Maya pun ga akan bikin Ronald horny he he he…
“Bete ah!!! Masa baru mulai kita harus pulang?!” Ronald merajuk
“Kenapa harus pulang?” tanya gw.
“Aku takuuut… tar cewek itu datang lagi bawa temennya.” Sahutnya.
“Ngapain takut?, enjoy aja!” Kata gw, meyakinkan.
“Tapi aku takut, tar ada orang yang nusuk pake pisau dari belakang.” Ronald masih terlihat ragu.
“Tenang aja, aku yang akan jagain kamu.” Kata gw mantap.
“Bener ya... gpp…?”
Gw mengangguk meyakinkan Ronald.

Malam itu, kami tetep bisa fun. Kejadian itu ga terlalu mempengaruhi kesenangan malam panjang kami. Gw menganggap kejadian itu ‘hanyalah riak kecil di tengah samudera’ he he he… (meminjam istilah Bung Karno neh…).

Sesekali gw masih melihat cewek itu berseliweran dihadapan gw. Tapi apa yang Ronald takutkan, ga terjadi.
Gw, ga bangga bisa mengalahkan seorang cewek. Yang patut digarisbawahi dalam kejadian ini adalah; ini bukan soal menang atau kalah, tapi ini masalah ‘HARGA DIRI’. Siapapun yang mengusik harga diri kita, dengan membuat kita merasa terhina di depan umum. Tanpa memandang dia itu cowok, cewek atau banci (he he he…) Hanya satu kata LAWAN!!!

Conclusions:
Musuh pantang dicari, Ada pantang mengelak.