Tampilkan postingan dengan label puber. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puber. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Mei 2010

Me And The River

Dalam catatan sejarah, sungai tidak bisa dipisahkan dari peradaban manusia. Sungai sering dianggap sebagai salah satu sumber kehidupan. Begitu juga dalam kehidupan gw, sungai punya catatan dan kenangan tersendiri di benak gw.
Gw dibesarkan di daerah kota kabupaten yg dialiri sungai. Sejak kecil gw sangat akrab dengan sungai, seringkali gw harus sembunyi-sembunyi, untuk bermain atau sesekali berenang di sungai. Coz kalo ortu gw tau, pasti gw akan dimarahi habis-habisan. Buat gw sungai mengandung unsur magis dan erotis.
Magis: karena gw sering merasakan suatu misteri tersembunyi di tiap alirannya, apa lagi kl ada gedebok pisang bekas tempat memandikan mayat yang sengaja dihanyutkan... pasti bikin bulu kuduk gw merinding (even gw ga percaya keberadaan dunia gituan).
Erotis: karena sewaktu kecil gw sering sengaja main di sungai hanya untuk cuci mata, melihat tubuh-tubuh pria telanjang yang tengah asyik membersihkan tubuhnya alias mandi. Masih tergambar jelas dalam ingatan gw tubuh-tubuh telanjang penambang pasir, tukang becak, kuli bangunan dan bapak-bapak tetangga gw. Otot-ototnya terpahat indah menghiasi tubuh mereka yang berkulit gelap. Suatu pahatan alami akibat pekerjaan berat yang selalu mereka jalani... wuiiiihhh... Gw selalu merinding dan jantung gw bedegup kencang saat mencuri-curi pandang melihat benda-benda bergelantungan indah di selangkangan pria-pria jantan itu he he he...

Waktu kelas 6 SD, gw ikut camping bersama teman-teman cowok padepokan bela diri, tempat gw biasa berlatih. Kami berkemah di tepian sungai berarus deras dan berbatu-batu. Kegiatan mandi dan cuci sudah pasti dilakukan di sungai itu. Dan lagi-lagi gw dengan ‘terpaksa’ (lho? he he he... ) harus menikmati pemandangan indah tubuh cowok-cowok telanjang dengan kemaluan yang baru ditumbuhi bulu-bulu halus. Tapi tak sedikit juga yang bulunya sudah lebat, terutama kakak-kakak senior. Bahkan para pelatih kami pun dengan sukarela mandi berbugil ria he he he...
Seorang senior yang umurnya 5 tahun diatas gw, sebut saja namanya Yusuf. Dia mencuri perhatian gw karena tubuhnya atletis, dadanya bidang, perutnya sixpack, berkulit gelap, dan Mr P nya yg berukuran big size dihiasi bulu-bulu yang lebat (seingat gw waktu itu ukurannya diatas rata-rata punya kami semua).
Yusuf orangnya baik, berasal dari keluarga sederhana. Bapak dan semua kakak laki-lakinya berprofesi sebagai tukang becak dan sesekali jd kuli pikul (profesi ini pulalah yang sekarang jadi pekerjaan Yusuf sehari-hari). Keluarganya memang kurang mementingkan pendidikan formal. PendidikanYusuf hanya terhenti di kelas 3 SD.
Tapi diluar itu semua, Yusuf punya pesona tersendiri di mata gw. Dia sosok pria jantan yang sempurna secara fisik. Warna kulit Yusuf paling gelap diantara kami semua, sementara warna kulit gw adalah yang paling terang (karena gw keturunan chinese).
Waktu gw dan beberapa teman gw dapat giliran tugas mencuci peralatan makan di pinggiran sungai, Yusuf menghampiri gw sambil tersenyum.
“Wah rajin euy, padahal di rumah mah ga pernah nyuci kan?” Yusuf membuka obrolan.
“Hmmm... iya sih...Kak. tapi gpp kok” sahut gw sambil tersenyum.
“Farrel, kamu tidur ditenda berapa?” tanyanya.
“Tenda 3, Kak.” Jawab gw.
“Wah sama tuh, ya sudah tar tidurnya disebelah kakak aja, ya.” dia menyahut.
“Iya, Kak” jawab gw singkat, padahal dalam hati gw bersorak kegirangan he he he...
Setelah menghabiskan waktu seharian dengan berbagai kegiatan, tibalah waktunya kami untuk beristirahat. Gw melongok ke dalam tenda dan melihat sudah ada 7 orang didalamnya, termasuk Yusuf yang sedang memakai kain sarung.
“ Sini Farrel, Kakak sudah siapin tempat buat kamu.” Sahutnya.
“Iya, Kak.” Jawab gw.
“Kakak tidur di pinggir tenda, kamu disebelah kakak ya. Biar ga kedinginan kena angin dari luar.”
“Wah, Kak Yusuf baik banget.” Kata gw polos. Dia hanya tersenyum menampakan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi.
Gw membaringkan diri disebelah Yusuf. Gw hanya memakai sweater dan celana panjang berbahan fleece untuk melindungi diri dari dinginnya angin malam. Setelah puluhan menit berlalu, mata gw ga bisa terpejam juga. Hawa dingin menusuk sampai ke tulang. Sialnya, gw lupa tidak membawa selimut dari rumah. Di luar sana terdengar suara arus sungai yang deras di kegelapan malam.
“Ga bisa tidur ya?” bisik Yusuf di telinga gw. Dia memelankan suaranya agar teman-teman yg sedang terlelap tidak terganggu.
“Iya, Kak...” jawab gw sambil berbisik juga.
“Kenapa? Kedinginan ya?” tanyanya.
Dan gw hanya mengangguk.
“Sini kakak peluk, biar hangat” Lalu Yusuf memeluk tubuh kecil gw dari belakang, tanpa menunggu persetujuan dari gw. Tubuh gw dihangatkan pelukan tubuh Yusuf yang kekar.
Walaupun tubuh gw sudah nyaman dan hangat, tapi gw ga bisa tidur juga. Pikiran gw melayang dan jantung gw berdegup kencang. Sementara Yusuf sudah tertidur pulas. Gw merasakan, benda pribadi Yusuf mengeras di pinggang gw... ohhh... besar dan tegang... benda milik Yusuf menonjol dari balik kain sarungnya, terasa hangat menempel di tubuh gw. Gw memberanikan diri memegang burungnya. Ternyata dia hanya memakai sarung tanpa celana dalam.... wuiiiiihhh... (kesempatan neh wkwkwk...) Gw berbalik, dan tidur menyamping berhadap-hadapan dengan Yusuf. Yusuf terbangun sesaat, dan kembali memeluk gw. Lalu gw membalas pelukannya... Tubuh gw menggigil...
“Masih kedinginan ya...?” suara Yusuf mendesis, dengan mata setengah terpejam. Antara di dunia nyata dan mimpi.
Lagi-lagi gw hanya mengangguk.
“masuk aja ke dalam sarung kakak...” Ucapnya lirih.
Gw pun masuk ke dalam kain sarung Yusuf. Kemudian gw dan Yusuf berpelukan lagi. Dan kini benda milik Yusuf itu menempel ditubuh gw tanpa terhalang apa-apa lagi.
Setelah Yusuf tertidur lelap, gw memberanikan diri menyentuh benda milik pribadinya. Terasa keras, berurat, hangat, dan ujungnya basah. I love this moments!!! Sepanjang malam sampai pagi menjelang, tangan gw ga pernah lepas menggenggam benda itu. Benda hitam, besar, tegang, dan berbulu lebat. Benda yang menunjukkan kejantanan Yusuf...
Yusuf mungkin hanya menganggap gw seorang bocah kecil yang polos dan ga ngerti apa-apa... syukurlah... huft.

Conclusions:

Tanpa disadari, tanpa direncanakan... semua terjadi begitu saja. Hanya naluri yang berbicara... naluri homo... he he he... Kemesuman itu terjadi bukan hanya karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan... Waspadalah!! Waspadalah!!! (Bang Napi mode on qiqiqi...).

Sabtu, 07 November 2009

Sejumput Kisah Indah Masa Kecil

Masa kecil adalah masa yang paling indah. Masa-masa hidup tanpa beban, karena keseharian kita hanya diisi oleh belajar dan bermain. Saat-saat dimana kepribadian kita mulai diproses. semua informasi yang kita serap, baik dari: pola asuh, pendidikan, pergaulan, dan lingkungan (yang baik maupun buruk). Tanpa kita sadari, semua itu membentuk karakter kita setelah dewasa. Masa kecil gw termasuk masa kecil yang biasa aja, sama seperti teman-teman lain seumuran gw. Masa kecil gw bahagia, even ga bergelimang harta. Cukup mendapat kasih sayang dan perhatian dari ortu.

Karena gw dibesarkan di kota kecamatan, maka kehidupan gw lebih dekat dengan alam. Mancing, nyari keong sawah, nyari remis, nangkap belut, menjaring ikan-ikan kecil, dan berenang di sungai adalah hal biasa buat gw (kok kaya si Bolang banget ya? qiqiqi…). Gw membuat sendiri semua mainan gw. Satu hal yang membanggakan: mainan buatan gw biasanya lebih bagus dan lebih kreatif dibandingkan dengan mainan buatan teman-teman gw he he he… Makanya temen-temen gw suka maksa membeli mainan buatan gw.

Waktu SD, papah sering ngajak gw mancing dan berburu burung atau tupai memakai senapan angin. Papah membelikan gw senapan angin berukuran kecil, gw bener-bener excited. Pengalaman yang seru, berjalan-jalan ke pelosok kampung dan hutan berburu mencari burung. Mungkin itulah sebabnya sampai sekarang gw lebih menyukai kegiatan petualangan di alam. Ga ada yang berubah, mungkin yang berbeda cuma: kalo dulu gw suka berburu burung beneran, tapi sekarang gw lebih suka berburu ‘burung-burungan’ he he he…
Orang bilang, bakat gay itu sudah terlihat dari kecil. Ciri-ciri anak yang kelak menjadi seorang gay adalah: anak mami, sensitif, cengeng, manja, dan penakut. Tapi gw ga memliki semua ciri diatas. Gw termasuk anak yang mandiri dan sanggup menahan rasa sakit. Bahkan ketika gw terluka dan mengeluarkan banyak darah, gw hanya mengobati diri sendiri tanpa mau bilang sama orang tua.

Dari cerita orang, jenis permainan yang dimainkan di masa kecil, juga bisa menunjukkan bakat ke-gay-an seorang anak. Teman gw Daffa pernah cerita: waktu kecil dia sering main lompat tali, bola bekel, congklak, kawin-kawinan, masak-masakan, pasar-pasaran, dokter-dokteran, panggung-panggungan, dan salon-salonan (tapi ga pake ngondek-ngondekan he he he… coz belom expert kali qiqiqi…).

Tapi gw lain, gw ga suka memainkan permainan seperti itu. Gw lebih suka main galasin, petak umpet, main kelereng, perang-perangan, sorodot gaplok (qiqiqi apaan tuh? ada yang tau istilah B. Indonesia nya? He he he…), manjat pohon, gatrik, main petasan dll. Pokoknya permainan yang lebih menantang, mengeluarkan tenaga dan keringat.

Kalo diingat-ingat lagi, ada hal-hal yang unik dan lucu, dan kadang bikin gw tersenyum sendiri kalo lagi mengenangnya.
-Waktu kecil gw suka banget menggambar orang, terutama lelaki. Yup lelaki yang lagi kencing he he he... atau kalo menggambar binatang, gw suka menggambar kuda dengan alat kelamin yang besar he he he…
-Gw suka mengambil tanah liat dari sungai dan membentuknya menyerupai sebuah penis yang super besar, sebesar pentungan satpam qiqiqi…
-Gw juga membuat ketapel, yang pegangannya sengaja gw bentuk menyerupai kon**l ha ha ha…
Ah ternyata sejak kecil gw sepertinya sudah terobsesi dengan ‘benda’ yang satu itu he he he…
Seringkali gw sengaja bermain di pinggiran sungai hanya untuk melihat tukang becak atau pencari pasir mandi berbugil ria, tanpa merasa risih dengan kehadiran gw… wah pokoknya sungguh pengalaman yang seru dan unforgettable.

Orang bilang, ada juga yang menjadi gay itu gara-gara mengalami peristiwa pelecehan sexual sewaktu kecil. Lalu meninggalkan trauma yang membekas. Beberapa sahabat gay gw juga pernah mengalaminya. Ada yang pernah dikerjain sama guru olahraganya, pamannya, sepupunya, guru ngajinya, pedagang mainan dll. Dan sensasi kenikmatan itu berlanjut hingga mereka dewasa. Tapi Gw ga pernah mengalami trauma kaya gitu.
Waktu gw sekolah kelas 1 SMP, di kelas gw ada seorang anak yang sok kuasa, sebut saja namanya Tanto. Dia galak dan ditakuti temen-temen lainnya. Badannya tinggi besar, lebih bongsor kalo dibandingin sama temen-temen sebayanya. Dia anak kepala sekolah, makanya dia ga merasa takut sama siapapun. Dia punya gank, semua anggota ganknya tunduk sama dia.

Waktu ga ada guru, gw beberapa kali melihat dia memaksa beberapa temennya untuk mengoral penisnya… (mungkin dia terinspirasi dari film bokep yang ditontonnya wkwkwkwk…). Kebetulan bangku gw dan dia sejajar, jadi gw bisa melihat kejadiannya dengan leluasa. Temen-temennya ga ada yang berani menolak perintah dia. Sementara temen sebangku gw, sebut saja namanya Sulaeman, Dalam keseharian dia orangnya sangat pendiam dan ga banyak bergaul. Dia berbisik sama gw:
“Baru punya kon**l segede gitu aja dipamer-pamerin” katanya, dengan dingin dan sinis.
“Emang punya kamu gede gitu?” tanya gw penasaran.

Lalu dia membuka ritzleting celananya, rupanya dia ga memakai celana dalam. Dan dikeluarkannya penisnya yang busyeeet… gede banget, plus berbulu lebat. Gw sampai terkesima dibuatnya, coz punya gw masih imut dan masih plontos he he he… maklum gw belom mengalami pubertas, sementara sulaeman umurnya hampir 3 tahun lebih tua dari gw ( coz di SD dia beberapa kali pernah tinggal kelas). Makanya kon**lnya punya bentuk, warna, dan ukuran yang memukau gw he he he… Ukurannya sudah seukuran punya orang dewasa.
“Gila!! Kok punya kamu gede banget dan banyak bulunya?” sahut gw terheran-heran.
“He he he…” dia hanya tertawa pelan.
“Gede kan?” lanjutnya.


Gw hanya mengangguk sambil menelan ludah he he he… (kebayang betapa culunnya wajah gw waktu itu qiqiqi…).
Gw bengong melihat kon**l Sulaeman mulai menegang dan nampak jauh lebih besar.
“Boleh aku pegang?” tanya gw ragu.
“Hmmmmhhh…” Sulaeman mengangguk.

Wah seru banget!!! dia ngijinin gw memegangnya beberapa saat qiqiqi...

Sejak kenaikan ke kelas 2, gw ga pernah melihat Sulaeman lagi. Anak pendiam, penyendiri, dan susah nangkap pelajaran itu, pergi entah kemana. Mungkin dia malu untuk melanjutkan sekolah karena dia harus tinggal kelas lagi.

Waktu SMA, teman sekelas gw ada yang tingkah lakunya persis perempuan, sebut saja namanya Syarief. Dia centil, lemah gemulai, bawel, rapih, selalu wangi dan ketawanya bikin gw alergi he he he… (pokoknya ga enak didenger dech. Enaknya disambit kale wkwkwkwk…). Gw ga kenal deket sama dia, hanya kenal sebatas temen sekelas aja. Dia punya temen sebangku yang sifat dan tingkah lakunya ga jauh beda sama dia. Mungkin satu species kali he he he…

Suatu hari pas jam istirahat, dia pernah cerita sama gw, kalo dia sering dipaksa mengoral beberapa teman yang merupakan premannya kelas gw. Kata Syarief kejadian oral-mengoral itu terjadi berkali-kali dengan mengambil tempat di kelas, di toilet, di rumah, di warung, bahkan di mushola… wow gw sampai ternganga…!!! Gw bener-bener ga nyangka, temen-temen sebrutal dan tukang berkelahi kaya gitu kok suka ‘di-blow job’ lelaki??? Entah karena iseng, entah terdesak kebutuhan libido atau memang punya bakat gay jg? Gw ga tau dan sampai sekarang ga pernah tau kelanjutannya.

Lebaran 2 tahun kemarin, gw ketemu lagi dengan Syarief. Dia cerita kalo dia sudah menikah dan sudah punya anak. Tapi dia masih kaya dulu: centil, lemah gemulai, bawel, rapih, wangi dan ketawanya bikin gw alergi he he he…

Conclusions:
This is the real me. Salah pola asuh? (nope) salah bergaul? (nope) trauma masa lalu? (nope), bakat bawaan? (absolutely) Entahlah… yang jelas gw menikmatinya… No regrets he he he…

Selasa, 25 Agustus 2009

Sesal Untuk Evan

Sudah lebih dari 10 tahun yang lalu gw sangat dekat dengan dunia anak muda. Gw sendiri ga ngerti, kenapa kok bisa-bisanya gw bergaul dan akrab dengan orang-orang yang umurnya jauh dari gw. Entah karena gw bisa menyelami dunia mereka, entah karena gw seorang pendengar yang baik atas curhat-curhat mereka, entah karena gw sosok kakak yang bijak, atau mungkin karena gw penggemar daun muda? qi qi qi…

Dari sekian memory diotak gw, malam ini gw jadi teringat salah satu sosok anak muda yang pernah dekat sama gw, sebut saja namanya Evan. Waktu itu umurnya belum genap 17 tahun. Kedekatan gw dan Evan dalam arti hanya sebatas pertemanan, ga lebih. Dia ga pernah tau kl gw gay, dan gw juga ga pernah membahas hal itu dengan dia.

Evan adalah sosok anak yang sederhana, cerdas, tampan, pendiam, sopan dan sensitif. Dia sering cerita sama gw tentang pergumulan hidupnya. Juga tentang perasaannya menjadi orang yang terbuang dan tertolak, karena sejak bayi Evan sudah diadopsi oleh tantenya. Secara materi dia ga kekurangan, tapi hatinya hampa. Evan sangat kesepian, dia merindukan perhatian dan kehangatan keluarga.

Diantara teman-teman sebayanya yang sering berkumpul di rumah gw, dialah anak yang paling pendiam. Kalo teman-temannya asyik bercanda, paling dia hanya tersenyum simpul. Atau malah menyendiri di sudut ruangan.
Karena sikapnya yang terlalu tenang dan datar, terkadang gw jenuh menghadapinya. Bahkan beberapa kali gw menghindari kedatangannya. Mungkin gw bosan dengan keluh-kesahnya yang hanya berkutat di masalah itu-itu saja.

Dia sering bolos dari sekolahnya hanya untuk menemui gw, untuk menumpahkan kesedihannya, atau hanya sekedar meluapkan tangis di dada gw.

Gw sebenernya sayang sama dia, dan menganggapnya sebagai adik. Tapi gw lebih menyukai hubungan pertemanan yang fun, penuh canda tawa. Bukan hubungan yang diliputi kesenduan dan kesedihan.
Dia sering menginap di rumah gw, bahkan bisa berhari-hari. Mungkin itu yang membuat gw mati rasa, dan ga peka lagi akan kehadiran dan kebutuhan dia.

Kadang kalo gw lagi bad mood, gw bersembunyi menghindari kedatangannya.
Singkat cerita, sepeninggal papa angkatnya, keluarga angkatnya mengalami kemunduran secara financial dan jatuh pailit. Hal ini menyebabkan mereka terusir dari tempat tinggalnya. Mereka harus berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan yang ke rumah kontrakan yang lainnya. Keadaan ekonomi yang morat-marit, pada akhirnya memaksa keluarganya untuk pindah ke luar kota.

Walau dia sudah pindah ke luar kota, tapi sesekali dia masih datang menemui gw. Makin lama makin jarang, dan pada akhirnya dia ga pernah datang lagi sama sekali. Pada waktu itu, gw ngerasa terbebas dari rongrongan cerita sedihnya, dan dari celotehan tentang beban hidupnya. Anehnya, gw ga merasa kehilangan, dan dalam waktu singkat gw lupa sama dia.

Lima tahun kemudian gw mendapat kabar, kalo Evan mengalami depresi berat. Awalnya dia hanya sering diam dan menyendiri di tempat gelap. Kemudian dia suka mengamuk dan tak terkendali, dengan tindakan-tindakan yang membahayakan. Hal itu menyebabkan dia harus dimasukkan ke salah satu rumah sakit jiwa di Bandung.

Waktu gw menengoknya, dia sudah ga mengenali gw. Gw sendiri hampir-hampir ga mengenalinya lagi. Karena dia sudah sangat berbeda. Badannya kurus dan dipenuhi bekas luka. Sorot matanya kosong seperti ga ada kehidupan. Evan ga pernah menjawab waktu gw tegur, dia hanya asyik dengan dunianya. O my God!! Kenapa ini bisa terjadi?

Seandainya gw selalu ada di sampingnya, seandainya dulu gw peka akan kebutuhan jiwanya, seandainya dulu gw mau mendengar setiap keluh-kesahnya, seandainya dulu gw ga menghindarinya, seandainya waktu bisa diputar kembali dan sejuta seandainya-seandainya yang lain. Gw terpuruk dalam rasa sesal yang dalam, tapi ini ga mengubah keadaan. Evan tetap berkutat dalam depresi beratnya, dan sekarang mendapat stempel sebagai orang “gila”.

Ga terasa, sudah 5 tahun Evan menghuni rumah sakit jiwa, tanpa ada perkembangan yang berarti. Setelah gw amati, rupanya dalam silsilah keluarganya, ada beberapa yang mengalami depresi berat seperti Evan. Mungkin semacam penyakit keturunan. Karena 2 orang pamannya mengalami gangguan mental, 3 saudara sepupunya gila, dan 2 dari saudara kandungnya pun mengalami hal yang sama. Mungkin itulah yang menjadikan mental Evan rapuh dalam menghadapi tekanan hidup. Satu-satunya harapan gw, adalah hanya menunggu keajaiban Tangan Tuhan. Hanya Dia yang sanggup memulihkannya. Mengembalikan Evan kembali seperti yang dulu. Evan yang sederhana, cerdas, tampan, pendiam, sopan dan sensitif…

Conclusions:
Evan, bagaimanapun keadaan diri kamu… semua teman-temanmu masih menyayangi kamu. Kamu berharga dimata Tuhan…

Sabtu, 30 Mei 2009

Teenage Passions

Menjadi seorang gay bukanlah cita-cita gw, bahkan pada awal-awal gw menyadari ada yg ‘beda’ dengan orientasi seksual gw, gw menganggapnya sebagai mimpi buruk!!!. Gw pernah mengalami fase merasa abnormal, sedih, tertolak, kotor, menjijikan, pendosa, calon penghuni neraka dll tentang keadaan gw. Gw merasa hidup gw ga ada artinya, karena gw terlahir ‘beda’. Gw sempet menyalahkan Tuhan… Mengapa dia menciptakan gw seperti ini?

Gw terlahir sebagai anak lagi-laki, anak ke-3 dari 4 bersaudara. Masa kecil gw sama seperti kebanyakan anak-anak lainnya.Gw dibesarkan dalam keluarga sederhana, tapi penuh dengan cinta. Gw ga ngerasa kekurangan kasih sayang baik dari mamah maupun papah. Secara fisik maupun tingkah laku, gw ngerasa ga ada yang aneh. Sampai sekarang pun banyak temen gay gw yang bilang, kalo fisik dan prilaku gw tuh ga nunjukkin tanda-tanda kalo gw adalah seorang gay (yang gay aja sering terkecoh, apalagi yang normal? he he he…).

Masa-masa pubertas adalah titik awal gw menyadari kalo gw adalah gay. Karena saat itu gw lebih suka bermain dan memperhatikan teman cowok dibandingkan dengan teman cewek. Bahkan dalam mimpi basahpun yang muncul bukan cewek… Cuma ada cowok, cowok dan cowok!

Waktu itu umur gw baru menginjak 13 tahun. Sejak kecil gw memang seneng banget yang namanya olah raga. Entah itu berenang, bulutangkis, ataupun lari pagi. Di daerah gw, minggu pagi adalah harinya orang untuk lari pagi. Sepanjang jalan raya biasanya dipenuhi dengan orang-orang lari pagi. Hampir tiap minggu gw lari pagi sama sahabat kecil gw, yang juga merupakan tetangga gw. Sebut saja namanya Bayu. Bayu adalah sahabat yang baik dan menyenangkan. Kulit Bayu hitam manis, namun tak mengurangi ketampanannya. Darah jawa yang mengalir dari kedua orangtuanya, hanya terlihat dari fisik luarnya saja. Secara karakter dan tata bahasa, dia Sunda banget, maklum dia lahir dan dibesarkan di Bandung.

Suatu hari gw ngajak Bayu menginap di rumahku, agar keesokan harinya kami bisa lari pagi bersama. Dan jadilah Bayu menginap malam itu di rumahku untuk pertama kalinya.
Malam semakin larut… setelah kami lelah ngobrol ngalor ngidul. Akhirnya Bayu terlelap di samping gw. Rupanya Bayu kelelahan, maklum tadi siang dia mengikuti ekskul sepakbola di sekolahnya. Anehnya malam itu mata gw seolah sulit terpejam. Rasa kantuk gw seolah terbang entah kemana. 1 jam… 2 jam… hmmm… mata ini tak juga mau terpejam. Padahal jam sudah menunjukan hampir pukul 02.30 WIB. Ada debar aneh di berdetak di dada gw. Gw memandangi Bayu yang tengah tertidur lelap. Gairah muda gw muncul. Tanpa bisa dicegah, tangan gw dengan gemetar mendarat di dadanya. Gw hanya memeluk dia dan dia diam saja. Gw mencoba mencium pipinya… hmmmhhh gejolak birahi gw semakin tak terkendali. Untunglah Bayu tetap tertidur lelap. Keberanian gw semakin muncul. Tangan kanan gw dengan perlahan, mulai turun dari dadanya menuju bagian perut. Mengusap-usap tubuh Bayu. Tangan gw tak berhenti di perutnya… terus menuju ke bagian bawah perutnya… aku memegang tonjolan yang ada di celana pendeknya. Ooohh.. rupanya dia tidak memakai celana dalam. Dia hanya memakai celana basket yang terbuat dari bahan kaos. Gw mencoba menurunkan celana basketnya biru donkernya… terlihat kemaluannya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Gw semakin bergairah. Kemaluannya yang tadinya layu, setelah gw memegangnya mulai mengembang. Yup.. menegang dan memanjang… ohhh gw semakin excited. Itulah pengalaman pertama kali gw memegang kemaluan orang lain.

Bayu, sedikit mengerang, mungkin sedikit terusik dengan ulah gw. Gw segera menutup celana dia. Namun kembali dia tertidur dengan nyenyak. Gw membuka lagi celana basketnya. Kemaluannya masih terlihat tegang. Entah ide dari mana, karena waktu itu gw belum pernah menonton film porno. Gw menciumi kemaluan Bayu, kemudian menjilatinya dan mengulumnya… Hmmmhhh nafas gw semakin tersenggal-senggal. Gw meng-oral kemaluan Bayu sambil memelorotkan celana pendek gw sendiri. Akhirnya gw mengocok kemaluan gw sendiri sampai terjadi ejakulasi.

Gw hanya mengelap ceceran sperma gw dan memakai celana gw lagi. Lalu gw kembali meng-oral kemaluan Bayu, bahkan lebih liar dari sebelumnya. Gw seperti kesetanan! Mungkin karena terstimulasi lidah gw, akhirnya Bayu menggelinjang, dan menggelepar. Dia ejakulasi!!!… Waduh gimana nih??? dengan sigap gw menutup celananya dan pura-pura tertidur sambil memeluk guling. Bayu terbangun, gw masih pura-pura tertidur lelap sambil merasakan debar jantung gw sendiri yang berdegup semakin kencang. Sumpah, gw takut banget ketahuan!

Kemudian Bayu turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, rupanya dia membersihkan ceceran spermanya. Dia kembali lagi ke tempat tidur, dan dengan cepat tertidur kembali. Ahhh untunglah… sepertinya Bayu tidak menyadari apa yang telah gw lakukan… Mungkin dia berpendapat kalo dia cuma mengalami mimpi basah.
Pukul 05.00 pagi Bayu membangunkan gw, dia mengajak gw siap-siap untuk lari pagi.

Sebenarnya gw ngerasa canggung melihat Bayu. Gw ngerasa berdosa terhadapnya. Tp anehnya gw tak melihat ada kejanggalan dari tingkah laku Bayu. Dia biasa saja, tak ada yang berubah. Mungkinkah dia tidak tahu apa yang sudah terjadi? Dan kamipun lari pagi bersama pagi itu.

Itulah pengalaman pertama gw merasakan kontak fisik dengan seorang laki-laki (yang sedang teridur he he he…). Namun kejadian serupa tak berakhir disitu. Hal itu terulang lagi dan lagi dengan Bayu. Dan tetap saja dia tidak menyadarinya. Dan kemudian ada ‘Bayu-Bayu’ lainnya yang jadi korban gw he he he… Syukurnya aksi gw ga pernah ketahuan. Atau, entah mereka pura-pura tidak tahu??? Whatever…

Conclusions:
Kayanya kejadian kaya gini adalah kejadian klasik kaum gay ya? coz gw denger, beberapa teman gay gw juga punya pengalaman yang sama dengan gw. Fuiihhh… gay oh gay…