Kamis, 16 Juli 2009

Saksi Bisu Yang Diam Terbungkam

Malam minggu… Pada Suatu ketika… Setahun kemaren. Gw lagi kegatelan chatting dan nyambung dengan seorang brondong cute, yang bernama Darren. Waktu itu Darren belum genap berumur 17 tahun dan masih duduk di kelas III, di salah satu SMA Negeri yang cukup ternama di Kota Bandung. Setelah chat cukup lama dan menemukan kecocokan, akhirnya kami sepakat untuk ketemu. Tapi yang jadi persoalan adalah, dia lagi sama temannya. Ughhh damn!!! Alamat berantakan neh acara ketemuan kali ini!!! padahal jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

Ini sepenggal percakapan chatting gw dan Darren.
“Gimana neh? Emangnya temen kamu mau dikemanain?” tanya gw.
“Nyantai aja Bang. Temen aku mah orangnya asyik kok, ga rese. Lagian kita bisa pake tempat kost dia” jawabnya, enteng.
“Gila aja! Emangnya kita mau threesum?” lanjut gw.
“Kenapa ga?” tantang Darren.

Gw sampai -kata untuk menjawab. Hmmmhhh… anak-anak sekarang emang udah canggih dalam urusan esek esek neh he he he…
“Hmmmhhh… gimana ya?” gw jadi bingung.
“Nyantai aja ya Bang… Gpp kok.” rayunya.
“Ya udah kita ketemu dimana neh?” tanya gw.
“Di Dago aja, di depan hotel X”
“ Oke” gw setuju.

Jarum jam tangan yang melingkar di tangan kiri gw, sudah menunjukan hampir pukul 01.30 WIB, memang terlalu pagi untuk ketemuan. Tapi mau gimana lagi, udah terlanjur janji uy.
Tak memerlukan waktu yang lama gw menunggu di depan hotel X, gw melihat 2 orang brondong keluar dari sebuah gang di seberang hotel X. Secara sekilas juga gw udah bisa menilai, yang satu oke, yang satunya lagi… YGD (ya gitu dech he he he…).
“Hi, Bang Farrel ya?” Darren menyapa sambil tersenyum.
“Iya…” Sahut gw. Lalu kami bersalaman.
“Ini temen aku.” Darren memperkenalkan temannya
“Leon.” Dia memperkenalkan diri.
“Farrel.” Sahut gw. Sambil saling berjabat tangan.
“Eh sekarang kita mau kemana nih?” tanya gw.
“Kita nyari makan aja ya, Bang.” Pinta Darren.
“Ayo.” Gw setuju.

Kami berboncengan bertiga. Kami sepakat untuk makan di Gampoeng Aceh Dago. Kami makan sambil tetap ngobrol ngalor ngidul.
“udah kenyang?” tanya gw.
“Iya, udah. Aku makannya ga banyak kok” Jawab Darren sambil tersenyum.
“Kalo aku porsi makannya banyak, Bang. Malah aku mah ga kuat nahan laper, jadinya ngemil mulu ha ha ha…” Sahut Leon.
Ya iya lah, secara… Keliatan banget kalo dia itu tukang makan dan molor he he he… Liat aja, body-nya montok kaya kudanil lagi hamil xi xi xi…

Setelah beres makan, gw nganterin brondong-brondong itu pulang ke kostan Leon.
“Aku langsung pulang ya…” sahut gw.
“Kok, pulang?” Tanya Darren manja.
“Tidur disini aja, lagian udah terlalu pagi lho.” Lanjutnya.
“Iya, Bang. Gpp kok, nyantai aja” Leon nimbrung.

Akhirnya gw memutuskan untuk tidur di tempat kost Leon. Kami ngobrol sampai mata kami bener-bener ngantuk. Darren tidur menghadap tembok, gw di tengah, Leon di sebelah gw. Tak begitu lama tak terdengar lagi suara-suara obrolan… Hening menyergap, sunyi menyelinap. Rupanya Leon sudah nyenyak. Darren tidur membelakangi gw. Sementara, kantuk tak kunjung menghampiri gw.

Gw mencoba memeluk Darren dari belakang. Dalam beberapa detik ga ada reaksi. 1,2,3,…7,8,9.. Ga sampai hitungan ke sepuluh. Darren membalikkan badannya, dan membalas pelukan gw. Lalu dia melumat bibir gw, dan gw membalas ciumannya dengan bernafsu. Sesaat kemudian, badan kami sudah sama-sama polos. Kami terus dan terus… terbawa arus liar libido kami. Kami larut dalam gelora nafsu. Kami tak terhentikan saling memberi kenikmatan.

Gw dan Darren ga peduli keberadaan Leon. Gw tau banget, Leon sebenernya ga tidur. Dia terbangun mendengar desahan-desahan nafas gw dan Darren. Sesekali terlihat dia menyaksikan aksi kami, lewat cermin yang ada dihadapannya. Ah, peduli setan!!! he he he… Yang penting asyiiiiiikkk wakakakakaka….
Adzan subuh berkumandang, terdengar sayup bersahut-sahutan di kejauhan.
“Bang, udah subuh neh, orang-orang udah pada bangun... Lagian ga enak sama Leon…” Bisik Darren.
“Ohh… Ya udah, kita lanjutkan kapan-kapan aja....” Kata gw.
Lalu kami menghentikan aksi kami... Yup, gw harus menghormati keinginan Darren.
Darren dan gw kembali ke posisi semula. Dia berbalik ke tembok lagi. Dan gw berjuang agar mata gw bisa terpejam. Sementara Leon, ah… gw ga peduli he he he…

Tapi, keadaan itu ga berlangsung lama… gw merasakan ada hembusan nafas tersenggal-senggal di tengkuk gw. Kemudian gw merasa ada tangan yang memeluk gw dari belakang. Ah Darren… Dia menyerang gw, dan pertempuran pun berlanjut he he he…
“Bukannya ….” bisik gw di telinga Darren. Gw sengaja menggantung kalimat gw.
Darren hanya tersenyum nakal, dia menghentikan ocehan gw dengan ciuman panasnya… dia menyumpal mulut gw dengan bibir hangatnya… Kami sudah bener-bener kehilangan kendali.

Gw dan Darren ga peduli dengan tatapan mata Leon yang mengintip aksi kami lewat cermin.
Hari masih gelap. Pagi itu hasrat kami tepuaskan. Tuntas sudah pertempuran kami.
“Leon, punya tissu ga?” bisik gw di telinga Leon.

Leon mengambilkan tissu buat gw dan Darren dengan malas-malasan. Lalau Leon menyodorkan sekotak tissu untuk kami membersihkan diri…

Thanks Leon, Sorry ya gw ga ngajak-ngajak… (bisik gw dalam hati he he he…).
Pertemuan gw dan Darren, ga berhenti sampai disitu. Kami masih saling berhubungan baik sampai sekarang.

Conclusions:
Seringkali logika dan libido ga berbanding lurus… Logika akan kehilangan fungsinya, jika libido sudah pegang kendali… Tapi gw ga menyesalinya. Alias NO REGRETS!!! he he he…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar