Sabtu, 18 Juli 2009

Shoulders To Cry On

Someday… and somewhere… Tepatnya di sebuah warnet, di Jalan Lengkong, Bandung. Gw lagi checkmail dan download beberapa file yang gw perlukan. Sambil nunggu selesai download, gw iseng chatting. Dan ketemulah gw dengan seseorang, namanya Rio. Dari awal Rio mendesak gw, ngajak ketemuan.

Biasanya makin orang mendesak ngajak ketemuan, gw makin males, coz orang-orang yg sangat bernafsu ngajak ketemuan, biasanya secara kualitas pasti dibawah standar he he he… Lagian dia ga pasang pic. Jadi gw bisa tau dia cakep atau ga-nya dari mana? Apalagi Rio umurnya udah diatas 26 tahun, hmmhhh gw jadi makin males dech (ups!!! ketahuan dech gw penggemar brondong he he he…). Secara ngobrolnya sih cukup nyambung dan keliatan banget kalo dia orangnya smart.

Butuh waktu yang cukup panjang, buat gw memutuskan untuk menemui Rio. Yup, hampir 3 jam gw chat sama dia. Berikut ini sedikit cuplikan chatting antara gw dengan Rio
Rio: “Aku lagi butuh seseorang…”
Gw: “Tapi aku ga bisa…”. Pikiran gw udah ngeres dech he he he…
Rio: “Bukan buat itu kok… Dari chat ini juga, aku udah tau kl kamu itu penggemar brondong.”.
Gw: “Trus buat apa dong?”
Rio: “Kamu orangnya bisa dipercaya kan?”
Gw: “Hmmmmhhh… Lumayan”.
Rio: “Feeling aku mengatakan kamu orangnya bisa dipercaya…”.
Gw: “Emang ada apa gitu?”.
Rio: “Sesuatu yang penting, urusan hidup mati aku…” gw merasa kalo dia sedang berbeban berat, dan tengah menghadapi masalah yang sangat serius.
Gw terdiam sesaat, berbagai pikiran berkecamuk di benak gw. Swear!!! gw bingung banget. Antara kasihan dan takut dikibulin.
Rio: ”Jadi kamu ga bisa kesini buat nolong aku ya?”.
Gw: “Aku bingung…”.
Rio: “Tenang aja, aku orang baik-baik kok. Aku cuma lagi butuh orang yang bisa aku percaya”.

Akhirnya tekad gw bulat buat menemui Rio di rumahnya, padahal jam tangan digital gw menunjukan angka 02.25 WIB. Setelah mendapakan alamat rumahnya, gw langsung meluncur dengan sepeda motor gw. Jalanan kecil yang gw lalui cukup bikin bulu kuduk berdiri. Selain dipinggirnya banyak ditumbuhi pepopohonan dan rerumputan liar, lampu penerangan jalannya pun sangat minim. Hmmmhhh… sungguh perjalanan dini hari yang berat buat gw.

Rio sudah menunggu gw di depan rumahnya. Rumahnya mungil tapi cukup asri. Sosok Rio ga terlalu tinggi, tapi besar. Taksiran gw bobotnya pasti lebih dari 90 KG. Yups dia gemuk, sipit tapi berkulit sawo matang. Dia tersenyum tanpa makna, senyumnya tampak dipaksakan.

Setelah gw dipersilahkan masuk, dan duduk di ruang keluarga. Di mulai bicara.
“Maaf aku maksa-maksa kamu datang kesini”. Sahutnya, membuka percakapan.
“Iya, gpp”. Jawab gw.
“Emang kamu lagi ada masalah apa?” tanya gw.
“Boleh aku memeluk kamu?, aku butuh bahu kamu Farrel…” Rio minta ijin gw. Gw hanya mengangguk.

Tiba-tiba, Rio memeluk gw dengan kencang dan menyandarkan kepalanya di bahu gw. Di menangis sejadi-jadinya, dengan tangisan seperti seorang yang sedang terluka hatinya. Gw bingung mau bereaksi seperti apa.

Gw hanya mengikuti naluri gw buat nenangin perasaan Rio dengan membiarkan semua emosinya terluap. Gw hanya menepuk- nepuk punggungnya dan sesekali mengusap kepalanya. Cukup lama, dia menangis. Ya lebih dari setengah jam dia menangis.
Setelah selesai menangis dia menatap gw dengan matanya yang masih sembab sambil bicara:
“Maaf ya… aku hanya bikin kamu susah…”.
“Jujur, aku tulus melakukan semua ini buat kamu…”. Gw membesarkan hatinya. Sekalipun gw masih bingung dengan apa yang menjadi inti dari permasalahan yang sedang Rio hadapi.
“Thank’s ya…” Rio, nampak mulai tenang dan bisa menguasai dirinya.
“Tunggu sebentar ya, aku mau ke toilet. Aku mau cuci muka dulu”. Sahut Rio.
Gw hanya tersenyum dan memberikan anggukan tanda kalo gw ga keberatan.

Ga begitu lama dia keluar dari toilet dan mengajak gw untuk duduk di ruang makan. Suasana sudah mulai mencair.
“Ngobrolnya disini aja ya ajaknya”. Sambil menyodorkan secangkir teh hangat buatannya.
“Kamu dokter ya?” tanya gw.
“Kok, kamu tau?” Rio balik bertanya, sambil tersenyum.
“Ya, aku lihat banyak buku-buku kedokteran di rak buku kamu”. Jawab gw.
“Kamu benar. Aku dokter… hmmhh spesialis bedah”.

Lalu meluncurlah penuturan dari mulut Rio… eh dr Rio he he he… Dia menjelaskan kalo dia sedang menghadapi masalah yang sangat berat yang membuatnya depresi. Rio tengah menghadapi tuntutan keluarga pasien, yang meninggal di meja operasi. Rio dianggap malpraktek oleh keluarga pasien itu.

Masalah lain yang membelit Rio adalah, Rio tengah limbung ditinggalkan pasangan sejenisnya yang berpaling ke pria lain. Padahal mereka sudah beberapa tahun hidup seatap bersama.
“Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, Rio…” Gw mencoba berkata bijak.

Gw, ga mau berbicara terlalu banyak. Karena gw tau, Rio ga butuh nasihat-nasihat gw. Dia ga butuh kata-kata manis penghibur hatinya. Dia hanya membutuhkan:
- TEMAN yang mau mendengarnya berkeluh kesah,
- PELUKAN hangat seorang sahabat, dan
- BAHU, tempat dia bersandar dan menangis meluapkan emosinya.

Di pagi buta itu, bahu gw sudah bisa menenangkan jiwa seorang manusia yang tengah putus asa, dan nyaris bunuh diri… Bahu gw sudah menjadi tempat meluapkan tangis seseorang yang sedang gundah gulana…
Gw jadi teringat sebuah lagu tahun 90-an milik penyanyi tampan, Tommy Page. Yup, SHOULDERS TO CRY ON…

Conclusions:
Ternyata pelukan hangat bersahabat, bisa menyentuh hati yang terdalam manusia. Dan bahu tempat orang menumpahkan tangis derita, bahkan jauh lebih berharga dari kata-kata bijak manapun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar