Awal tahun 2005 lalu, gw pernah chat di sebuah warnet dan ketemu dengan seseorang, sebut saja namanya Arman. Orangnya nice, 23 tahun, tinggi, slim, berkulit sawo matang, bulu mata lentik, dan berbola mata besar. Karena hari udah larut, dan sama-sama merasa ‘cocok’ maka kami ga nunda waktu lagi untuk bertemu. Maksudnya cuma ketemu aja ga lebih. Gw ngajak dia makan di sebuah rumah makan yang buka 24 jam. Setelah makan, gw ga ada ide mau kemana, lagian hari sudah terlalu malam. Terus terang semuanya terjadi begitu saja tanpa direncanakan, jadi gw ga prepare apa-apa. Arman ga nolak waktu gw ajak dia ke tempat gw. Kami hanya bertemu sekali dan cuma menumpahkan semua hasrat itu dalam semalam saja (tapi 3 ronde lho he he he…). Istilah populernya ONS: one night stand, but triple orgasm he he he.... Hari-hari berikutnya kami masih berkirim sms dan telponan.
19 Februari 2005, ada sms masuk di hp gw:
Inbox: “Boleh kenalan ga? aku Mario 21/175/60”
Oubox:”Iya boleh….”
Bla bla bla…
Dan berlanjut dengan sms-sms lainnya. Yang berujung kami bikin janji untuk ketemuan dengan acara berenang bareng.
Besoknya tanggal 20 Februari 2005, akhirnya kami ketemuan ditempat yang dijanjikan. Seperti biasa gw datang lebih awal... Tidak begitu lama kemudian, muncullah seorang remaja tampan memakai jumper biru navy bertulisan ‘UCLA” menghampiri gw.
“Hi, aku Mario!” remaja itu menghampiri gw.
“Farrel!!” jawab gw sambil menjabat tangannya.
“Kak, ngobrolnya jangan disini ya. Takut kelihatan papa aku. Dia lagi service mobilnya di bengkel itu” sahut Mario, sambil menunjuk ke sebuah bengkel di seberang tempat kami ketmuan.
“Ya udah, so kita mau kemana neh? Langsung ke kolam renang aja?” lanjut gw.
“Iya, mumpung belom terlalu sore.” Mario setuju.
Kami pun meluncur ke sebuah kolam renang di daerah setiabudi. Di kolam renang itu gw dan Mario banyak bercerita soal kehidupan masing-masing.
“Kak, jangan marah ya. aku mau berterus-terang” Mario membuka obrolan.
“Kenapa gitu?” Tanya gw penasaran.
“Pertama: umur aku bukan 21 tahun, tapi 18 tahun.” Papar Mario.
“Ooohh... ga masalah, aku malah lebih suka.” Sahut gw sambil senyum.
“Kedua: aku mencuri no hp kakak dari phonebook temen aku, Arman. Waktu dia cerita dan memperlihatkan pic kakak. Dia sendiri ga tahu kalo aku mencatat no hp kakak.” lanjut Mario.
“Iya gpp. Lagian aku sama Arnan kan ga ada hubungan apa-apa.” Jawab gw tulus.
Sejak pertemuan pertama itu, berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Kami merasa cocok satu sama lain, hingga gw dan Mario sepakat untuk menjalin hubungan lebih serius, kami berpacaran.
Gw sering main dan bermalam di rumah Mario, karena di rumahnya dia hanya tinggal sendirian (kedua orangtuanya dan kakak-kakaknya tinggal di luar kota).
Setelah beberapa bulan berhubungan, gw makin mengenal karakter Mario. Dia baik, smart, tulus, childish, sok mandiri, manja, dan cemburuan...
Kadang gw ngerasa rasa cemburu dia terlalu besar. Gw sering bilang sama dia: cemburu memang tandanya cinta, tapi rasa percaya juga ada lah bagian dari cinta.
Mario meminta gw untuk tidak berhubungan lagi dengan temen-temen gay gw , termasuk Arman. Sejak gw dan Mario pacaran, hubungan Mario dengan Arman jadi renggang. Bahkan sahabat gw Daffa juga pernah kena getahnya, suatu hari Daffa sms ke hp gw, dan yang jawab Mario (gw kebetulan lagi di kamar mandi). Mario menjawab sms dengan kalimat seakan-akan gw ga mau berhubungan dan ga mau kenal lagi dengan Daffa. Untunglah Daffa sangat mengenal gw, makanya dia ga percaya sms itu gw yg kirim. Ujung-ujungnya Daffa dan Mario terlibat perang sms. Mario ga percaya kalo Daffa itu memang sahabat gw, dia menyangka kalo semua gay pasti selalu melibatkan unsur sex dalam setiap bentuk hubungannya, even itu persahabatan. Diluar sepengatahuan Mario, gw masih suka berhubungan dengan Daffa via YM, sms, telpon bahkan ketemuan. Daffa sangat mendukung hubungan gw dengan Mario, begitupun juga gw sangat mendukung hubungan Mario dengan pacarnya. Gw dan Daffa sering saling curhat, mengenai kisah asmara kami.
Kalo lagi jalan-jalan bareng di mall, Mario selalu wanti-wanti agar mata gw jangan belanja he he he... Tiap kali ada brondonk berpapasan dengan kami, pasti dia langsung memegang tangan gw, seakan-akan dia ingin menunjukkan kalo gw itu miliknya.
Pernah suatu kali, kasus ‘pegangan tangan’ itu berbuntut panjang. Coz pas mario memegang tangan gw ternyata di mall itu ada 2 pasang mata yang memperhatikan gerak gerik kami. Yupz, mereka yang melihat kami bergandengan tangan itu adalah kakak laki-laki Mario dan pacarnya. Insiden itu berubah menjadi mimpi buruk!!! Mario diinterogasi oleh Mama dan kakak-kakaknya. Dia didesak untuk mengaku tentang orientasi seksualnya. Mario akhirnya mengaku kalo dia seorang gay. Diiringi dengan derai air mata dan tangisan pilu seluruh anggota keluarga, Mario mengungkapkan rahasia terbesar dalam hidupnya. Pengakuan itu melukai hati Keluarganya juga Mario. Namun apa hendak dikata, itulah kenyataan hidup. Sekalipun pahit dan getir, harus bisa dengan lapang dada mereka hadapi. Mario hanya meminta kepada Mama dan kakak-kakaknya agar rahasia dirinya tidak diceritakan kepada Papanya.
Keluarga Mario, adalah keluarga yang mengutamakan pendidikan, kedua orangtua dan kakak-kakaknya semua lulusan S-2 (Papanya malah lulusan S-3). Mereka bisa menerima dan mengerti ‘perbedaan’ yang Mario miliki. Mereka hanya meminta Mario agar jangan kebablasan dan tetap berusaha untuk bisa kembali ke jalan yang ‘benar’.
Sejak kejadian itu, gw ga bisa dengan leluasa ke rumah Mario lagi. Padahal sebelumnya gw bisa kapan aja berkunjung dan bermalam di rumah Mario, bahkan bisa berkomunikasi dengan orangtua dan kakak-kakaknya, kalo kebetulan berpapasan. Gw diblacklist!! Mulai saat itu hanya Mario yang kerap berkunjung ke rumah gw. Mario merasa nyaman dengan sambutan dari keluarga gw.
Pada awalnya pengawasan keluarganya terhadap Mario lebih diperketat. Mario selalu dikontrol keberadaannya via telpon, bahkan hp Mario sering diperiksa secara diam-diam oleh keluarganya, untuk dibaca setiap sms yang masuk maupun keluar. Tapi lama kelamaan akhirnya semua bisa berjalan secara normal kembali. Gw dan Mario secara sembunyi-sembunyi masih tetap bisa berpacaran sekalipun ‘tanpa restu’ dari keluarganya hihihi...
Sejak berhubungan dengan gw, Mario banyak mengalami perubahan. Mario yang awalnya anak rumahan dan manja, berubah menjadi anak yang menyukai petualangan dan menikmati keindahan pemandangan alam. Gw sering mengajak dia untuk menjelajahi keindahan alam. Banyak banget tempat-tempat yang sempat kami jelajahi bedua; gunung, kawah, hutan, perkampungan, perkebunan, sawah, sungai, air terjun, danau, pantai, empang (he he he...), dll sudah kami jelajahi bersama. Mario yang penakut juga berubah menjadi lebih pemberani.
Lebih dari 5 tahun gw dan Mario berpacaran. Banyak peristiwa yang mewarnai hubungan kami. Suka dan duka, tawa dan air mata kami hadapi bersama. Mario sangat mengenal gw, begitupun juga gw sangat mengenal Mario. Kami berdua sama-sama keras kepala, maka tak jarang kami saling beradu argumen. Pertengkaran kecil sampai petengkaran besar, riak kecil sampai badai, bahkan putus sambung juga pernah kami lalui... Sampai akhirnya 7 bulan yang lalu, kami berdua memutuskan untuk hanya berteman saja.
5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal yang terlalu indah untuk dilupakan... Tapi apa mau dikata, keputusan sudah diambil. Kami lebih enjoy dengan status hubungan kami yang sekarang. Tidak ada lagi pertengkaran dan tidak ada lagi cemburu. Jujur, kami masih sering bertemu, bahkan masih sering melakukan ‘kontak fisik’ he he he... entah apa namanya: HTS (hubungan tanpa status)?, TTM (teman tapi ml he he he...)?, atau HUTAPEA (hubungan tanpa perasaan apa-apa)?
Mungkin bagi sebagian orang bentuk hubungan kami ini aneh bin ajaib. Tapi sudahlah, kami ga peduli pendapat orang lain, karena cuma kami berdua yang paling tahu dan paling mengerti apa yang telah, sedang, dan akan kami jalani... Toh kami juga punya kesepakatan kalo hubungan kami akan benar-benar berhenti, disaat salah satu atau masing-masing dari kami telah menemukan pasangan yang lebih tepat.
Conclusions:
Kita baru bisa memiliki cinta yang besar, disaat kita sanggup dan ikhlas melihat orang yang kita cintai lebih berbahagia dengan pilihan hidupnya. Cinta oh cinta... terkadang memang complicated!! huft!!!
Tampilkan postingan dengan label ketahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ketahuan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 01 Oktober 2010
Love Comes In Mysterious Ways
Rabu, 01 Juli 2009
Tertangkap Basah
Bandung, 19 Desember 2003
Seperti biasanya setiap weekend gw nginap di tempat kost Troy, my first love. Mulai Sabtu siang sampai hari minggu malam gw menemani Troy. Kami selalu menghabiskan waktu bersama dengan bermesraan sepanjang hari, sepanjang waktu… Sering kami menghabiskan hari tanpa keluar kamar. Berdua saja tanpa pakaian… Hanya cinta dan kehangatan yang menyelimuti tubuh polos kami. Mulai petang, hingga rembang tengah hari kami bergumul dalam lautan asmara. Tanpa rasa jenuh ataupun bosan, kami saling menyemai cinta dalam indahnya hari-hari kami… (wuiiihhh romantis amat neh he he he…).
Gw inget hari itu, Sabtu siang pukul 11.00. Gw dan Troy lagi ngobrol berdua sambil melepas kangen, maklum gw dan Troy ga bisa ketemu tiap hari. Tapi ada yang bikin kemesraan kami terganggu dan tertunda. Penyebabnya adalah kedatangan sahabat Troy, namanya Daniel. Daniel nimbrung dan ngobrol bareng dengan kami. Yup, gw dan Troy ga bebas lagi neh… coz ga mungkin kami bermesraan di depan Daniel, selain risih tentu saja karena Daniel straight, dan dia ga tau kalo gw dan Troy punya hubungan khusus.
Waktu berjalan terus. Ga ada tanda-tanda Daniel mau pamit pulang… hmmmhhh sungguh menjengkelkan. Tapi kami ga bisa berbuat apa-apa, selain harus sabar menunggu kepulangan Daniel. Jam menunjukkan pukul 16.00, tapi Daniel masih tetep asyik merecoki kami. Kekecewaan nampak dari raut wajah Troy, dia kesal karena Daniel ga pergi-pergi dari hadapan kami.
Pukul 22.00 Daniel masih belom pulang juga. Sudah banyak topik obrolan yang kami bahas, sudah banyak makanan yang sudah Daniel habiskan. Tapi tetap dia ga pulang-pulang. Ujung-ujungnya dia bilang:
“Troy, malam ini gw tidur disini ya?”
Busyet!! Bakalan hancur acara gw dan Troy malam ini, gw menggumam dalam hati.
“Wah kayanya ga bisa, Daniel. Sekarang kan lagi ada Farrel, mau tidur dimana? Kasur gw kan kecil”. Sahut Troy.
“Ah, nyantai aja… gw tidur di lantai juga gpp kok”. Daniel keukeuh.
“Mendingan loe tidur ke kostan loe aja, lagian ga jauh juga kan?” Troy mencoba bermuslihat.
“Ga ah males, udah malam”.
“Hmmmhhhh…”. Troy hanya bisa menggumam, kehabisan akal.
Akhirnya malam itu kami bertiga ngobrol sampai tengah malam. Mungkin karena kehilangan kesabarannya, akhirnya Troy beranjak pergi.
“Gw mau ngerjain tugas di luar…” Gumamnya, dengan malas. Troy keluar kamar sambil membawa setumpuk buku. Gw ngerti banget, Troy kesal harus menahan hasrat kami yang tertunda.
Pukul 02.15, Daniel sudah nyenyak dalam buaian mimpi. Gw keluar kamar, menghampiri Troy yang sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Gw mendekat lalu duduk di sofa beludru coklat disebelah Troy. Troy tersenyum menyambut kedatangan gw.
“Masih bete ya?” gw menggoda.
“Udah ga kok”. Dia sudah cooling down.
“Beneran…?” tanya gw, usil.
“Iyaaaa..!!” mata Troy mendelik sambil mencubit perut gw.
Lalu kami berciuman, melepas rasa kangen yang sudah tertunda sejak siang tadi. Gw melumat bibir merah mudanya. Troy tak kalah garang.
“Udah ah… takut ketahuan orang”. Sahut gw.
“Ga bakalan! semua pasti udah pada tidur kok. Nyantai aja”. Troy ga peduli.
Ciuman kami makin panas.
Nafas kami tersenggal-senggal, seakan berlomba-lomba dengan degup jantung kami yang makin kencang. Troy makin tak terkendali, dia mulai meraih ritzleting celana gw.
“Jangan kebablasan Troy…” Sahut gw mengingatkan.
“Tenang aja ga ada siapa-siapa kok”. Troy mengerling nakal.
Akhirnya gw pasrah waktu Troy memelorotkan celana gw sampai lutut. Gw rebah di sofa beludru coklat. Troy dengan bernafsu, melumat organ vital gw. Terus dan terus dia mengoral gw… seakan-akan dia ga ingin menyia-nyiakan setiap detik yang berlalu. Tiba-tiba kami dikejutkan sesosok cewek yang berdiri tertegun, dia nampak shock melihat apa yang terjadi dihadapannya.
Gw dan Troy tak kalah kagetnya. Yang cepat tersadar dari situasi ini adalah cewek itu,. Dia segera berlalu dengan langkah cepat menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan bunyi berdebum. Gw segera memakai celana gw. Wajah Troy masih terlihat pucat, ga siap rahasianya terbongkar. Cewek itu kemudian keluar dari kamar mandi, berlari kecil menuju kamarnya lagi. Dia bertingkah seolah-olah tidak melihat kejadian apa-apa. Dia berlalu tanpa melihat ke arah kami.
Cewek itu adalah Astrid, penghuni ruangan di sebelah kamar Troy, sekaligus teman kuliah Troy. Gw sudah lama tau, kalo Astrid itu naksir berat sama Troy. Astrid sering terlihat berusaha mencuri perhatian Troy, dengan berbagai cara. Dan sekarang? Dia sangat shock memergoki cowok idolanya ternyata seorang gay. Sorry, Astrid… Loe mencintai orang yang salah.
Conclusions:
Jadi inget lagu Meggy Z: Terlanjur basah… ya sudah mandi sekali… wakakakaka... Gw malu, tapi mau gimana lagi? Ga ada yang perlu disesali, coz waktu ga mungkin diputar kembali. Let’s be gone be by gone! Yang jelas gw bakal lebih berhati-hati memilih tempat untuk bermesraan he he he…
Seperti biasanya setiap weekend gw nginap di tempat kost Troy, my first love. Mulai Sabtu siang sampai hari minggu malam gw menemani Troy. Kami selalu menghabiskan waktu bersama dengan bermesraan sepanjang hari, sepanjang waktu… Sering kami menghabiskan hari tanpa keluar kamar. Berdua saja tanpa pakaian… Hanya cinta dan kehangatan yang menyelimuti tubuh polos kami. Mulai petang, hingga rembang tengah hari kami bergumul dalam lautan asmara. Tanpa rasa jenuh ataupun bosan, kami saling menyemai cinta dalam indahnya hari-hari kami… (wuiiihhh romantis amat neh he he he…).
Gw inget hari itu, Sabtu siang pukul 11.00. Gw dan Troy lagi ngobrol berdua sambil melepas kangen, maklum gw dan Troy ga bisa ketemu tiap hari. Tapi ada yang bikin kemesraan kami terganggu dan tertunda. Penyebabnya adalah kedatangan sahabat Troy, namanya Daniel. Daniel nimbrung dan ngobrol bareng dengan kami. Yup, gw dan Troy ga bebas lagi neh… coz ga mungkin kami bermesraan di depan Daniel, selain risih tentu saja karena Daniel straight, dan dia ga tau kalo gw dan Troy punya hubungan khusus.
Waktu berjalan terus. Ga ada tanda-tanda Daniel mau pamit pulang… hmmmhhh sungguh menjengkelkan. Tapi kami ga bisa berbuat apa-apa, selain harus sabar menunggu kepulangan Daniel. Jam menunjukkan pukul 16.00, tapi Daniel masih tetep asyik merecoki kami. Kekecewaan nampak dari raut wajah Troy, dia kesal karena Daniel ga pergi-pergi dari hadapan kami.
Pukul 22.00 Daniel masih belom pulang juga. Sudah banyak topik obrolan yang kami bahas, sudah banyak makanan yang sudah Daniel habiskan. Tapi tetap dia ga pulang-pulang. Ujung-ujungnya dia bilang:
“Troy, malam ini gw tidur disini ya?”
Busyet!! Bakalan hancur acara gw dan Troy malam ini, gw menggumam dalam hati.
“Wah kayanya ga bisa, Daniel. Sekarang kan lagi ada Farrel, mau tidur dimana? Kasur gw kan kecil”. Sahut Troy.
“Ah, nyantai aja… gw tidur di lantai juga gpp kok”. Daniel keukeuh.
“Mendingan loe tidur ke kostan loe aja, lagian ga jauh juga kan?” Troy mencoba bermuslihat.
“Ga ah males, udah malam”.
“Hmmmhhhh…”. Troy hanya bisa menggumam, kehabisan akal.
Akhirnya malam itu kami bertiga ngobrol sampai tengah malam. Mungkin karena kehilangan kesabarannya, akhirnya Troy beranjak pergi.
“Gw mau ngerjain tugas di luar…” Gumamnya, dengan malas. Troy keluar kamar sambil membawa setumpuk buku. Gw ngerti banget, Troy kesal harus menahan hasrat kami yang tertunda.
Pukul 02.15, Daniel sudah nyenyak dalam buaian mimpi. Gw keluar kamar, menghampiri Troy yang sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Gw mendekat lalu duduk di sofa beludru coklat disebelah Troy. Troy tersenyum menyambut kedatangan gw.
“Masih bete ya?” gw menggoda.
“Udah ga kok”. Dia sudah cooling down.
“Beneran…?” tanya gw, usil.
“Iyaaaa..!!” mata Troy mendelik sambil mencubit perut gw.
Lalu kami berciuman, melepas rasa kangen yang sudah tertunda sejak siang tadi. Gw melumat bibir merah mudanya. Troy tak kalah garang.
“Udah ah… takut ketahuan orang”. Sahut gw.
“Ga bakalan! semua pasti udah pada tidur kok. Nyantai aja”. Troy ga peduli.
Ciuman kami makin panas.
Nafas kami tersenggal-senggal, seakan berlomba-lomba dengan degup jantung kami yang makin kencang. Troy makin tak terkendali, dia mulai meraih ritzleting celana gw.
“Jangan kebablasan Troy…” Sahut gw mengingatkan.
“Tenang aja ga ada siapa-siapa kok”. Troy mengerling nakal.
Akhirnya gw pasrah waktu Troy memelorotkan celana gw sampai lutut. Gw rebah di sofa beludru coklat. Troy dengan bernafsu, melumat organ vital gw. Terus dan terus dia mengoral gw… seakan-akan dia ga ingin menyia-nyiakan setiap detik yang berlalu. Tiba-tiba kami dikejutkan sesosok cewek yang berdiri tertegun, dia nampak shock melihat apa yang terjadi dihadapannya.
Gw dan Troy tak kalah kagetnya. Yang cepat tersadar dari situasi ini adalah cewek itu,. Dia segera berlalu dengan langkah cepat menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan bunyi berdebum. Gw segera memakai celana gw. Wajah Troy masih terlihat pucat, ga siap rahasianya terbongkar. Cewek itu kemudian keluar dari kamar mandi, berlari kecil menuju kamarnya lagi. Dia bertingkah seolah-olah tidak melihat kejadian apa-apa. Dia berlalu tanpa melihat ke arah kami.
Cewek itu adalah Astrid, penghuni ruangan di sebelah kamar Troy, sekaligus teman kuliah Troy. Gw sudah lama tau, kalo Astrid itu naksir berat sama Troy. Astrid sering terlihat berusaha mencuri perhatian Troy, dengan berbagai cara. Dan sekarang? Dia sangat shock memergoki cowok idolanya ternyata seorang gay. Sorry, Astrid… Loe mencintai orang yang salah.
Conclusions:
Jadi inget lagu Meggy Z: Terlanjur basah… ya sudah mandi sekali… wakakakaka... Gw malu, tapi mau gimana lagi? Ga ada yang perlu disesali, coz waktu ga mungkin diputar kembali. Let’s be gone be by gone! Yang jelas gw bakal lebih berhati-hati memilih tempat untuk bermesraan he he he…
Langganan:
Postingan (Atom)