Awal tahun 2005 lalu, gw pernah chat di sebuah warnet dan ketemu dengan seseorang, sebut saja namanya Arman. Orangnya nice, 23 tahun, tinggi, slim, berkulit sawo matang, bulu mata lentik, dan berbola mata besar. Karena hari udah larut, dan sama-sama merasa ‘cocok’ maka kami ga nunda waktu lagi untuk bertemu. Maksudnya cuma ketemu aja ga lebih. Gw ngajak dia makan di sebuah rumah makan yang buka 24 jam. Setelah makan, gw ga ada ide mau kemana, lagian hari sudah terlalu malam. Terus terang semuanya terjadi begitu saja tanpa direncanakan, jadi gw ga prepare apa-apa. Arman ga nolak waktu gw ajak dia ke tempat gw. Kami hanya bertemu sekali dan cuma menumpahkan semua hasrat itu dalam semalam saja (tapi 3 ronde lho he he he…). Istilah populernya ONS: one night stand, but triple orgasm he he he.... Hari-hari berikutnya kami masih berkirim sms dan telponan.
19 Februari 2005, ada sms masuk di hp gw:
Inbox: “Boleh kenalan ga? aku Mario 21/175/60”
Oubox:”Iya boleh….”
Bla bla bla…
Dan berlanjut dengan sms-sms lainnya. Yang berujung kami bikin janji untuk ketemuan dengan acara berenang bareng.
Besoknya tanggal 20 Februari 2005, akhirnya kami ketemuan ditempat yang dijanjikan. Seperti biasa gw datang lebih awal... Tidak begitu lama kemudian, muncullah seorang remaja tampan memakai jumper biru navy bertulisan ‘UCLA” menghampiri gw.
“Hi, aku Mario!” remaja itu menghampiri gw.
“Farrel!!” jawab gw sambil menjabat tangannya.
“Kak, ngobrolnya jangan disini ya. Takut kelihatan papa aku. Dia lagi service mobilnya di bengkel itu” sahut Mario, sambil menunjuk ke sebuah bengkel di seberang tempat kami ketmuan.
“Ya udah, so kita mau kemana neh? Langsung ke kolam renang aja?” lanjut gw.
“Iya, mumpung belom terlalu sore.” Mario setuju.
Kami pun meluncur ke sebuah kolam renang di daerah setiabudi. Di kolam renang itu gw dan Mario banyak bercerita soal kehidupan masing-masing.
“Kak, jangan marah ya. aku mau berterus-terang” Mario membuka obrolan.
“Kenapa gitu?” Tanya gw penasaran.
“Pertama: umur aku bukan 21 tahun, tapi 18 tahun.” Papar Mario.
“Ooohh... ga masalah, aku malah lebih suka.” Sahut gw sambil senyum.
“Kedua: aku mencuri no hp kakak dari phonebook temen aku, Arman. Waktu dia cerita dan memperlihatkan pic kakak. Dia sendiri ga tahu kalo aku mencatat no hp kakak.” lanjut Mario.
“Iya gpp. Lagian aku sama Arnan kan ga ada hubungan apa-apa.” Jawab gw tulus.
Sejak pertemuan pertama itu, berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Kami merasa cocok satu sama lain, hingga gw dan Mario sepakat untuk menjalin hubungan lebih serius, kami berpacaran.
Gw sering main dan bermalam di rumah Mario, karena di rumahnya dia hanya tinggal sendirian (kedua orangtuanya dan kakak-kakaknya tinggal di luar kota).
Setelah beberapa bulan berhubungan, gw makin mengenal karakter Mario. Dia baik, smart, tulus, childish, sok mandiri, manja, dan cemburuan...
Kadang gw ngerasa rasa cemburu dia terlalu besar. Gw sering bilang sama dia: cemburu memang tandanya cinta, tapi rasa percaya juga ada lah bagian dari cinta.
Mario meminta gw untuk tidak berhubungan lagi dengan temen-temen gay gw , termasuk Arman. Sejak gw dan Mario pacaran, hubungan Mario dengan Arman jadi renggang. Bahkan sahabat gw Daffa juga pernah kena getahnya, suatu hari Daffa sms ke hp gw, dan yang jawab Mario (gw kebetulan lagi di kamar mandi). Mario menjawab sms dengan kalimat seakan-akan gw ga mau berhubungan dan ga mau kenal lagi dengan Daffa. Untunglah Daffa sangat mengenal gw, makanya dia ga percaya sms itu gw yg kirim. Ujung-ujungnya Daffa dan Mario terlibat perang sms. Mario ga percaya kalo Daffa itu memang sahabat gw, dia menyangka kalo semua gay pasti selalu melibatkan unsur sex dalam setiap bentuk hubungannya, even itu persahabatan. Diluar sepengatahuan Mario, gw masih suka berhubungan dengan Daffa via YM, sms, telpon bahkan ketemuan. Daffa sangat mendukung hubungan gw dengan Mario, begitupun juga gw sangat mendukung hubungan Mario dengan pacarnya. Gw dan Daffa sering saling curhat, mengenai kisah asmara kami.
Kalo lagi jalan-jalan bareng di mall, Mario selalu wanti-wanti agar mata gw jangan belanja he he he... Tiap kali ada brondonk berpapasan dengan kami, pasti dia langsung memegang tangan gw, seakan-akan dia ingin menunjukkan kalo gw itu miliknya.
Pernah suatu kali, kasus ‘pegangan tangan’ itu berbuntut panjang. Coz pas mario memegang tangan gw ternyata di mall itu ada 2 pasang mata yang memperhatikan gerak gerik kami. Yupz, mereka yang melihat kami bergandengan tangan itu adalah kakak laki-laki Mario dan pacarnya. Insiden itu berubah menjadi mimpi buruk!!! Mario diinterogasi oleh Mama dan kakak-kakaknya. Dia didesak untuk mengaku tentang orientasi seksualnya. Mario akhirnya mengaku kalo dia seorang gay. Diiringi dengan derai air mata dan tangisan pilu seluruh anggota keluarga, Mario mengungkapkan rahasia terbesar dalam hidupnya. Pengakuan itu melukai hati Keluarganya juga Mario. Namun apa hendak dikata, itulah kenyataan hidup. Sekalipun pahit dan getir, harus bisa dengan lapang dada mereka hadapi. Mario hanya meminta kepada Mama dan kakak-kakaknya agar rahasia dirinya tidak diceritakan kepada Papanya.
Keluarga Mario, adalah keluarga yang mengutamakan pendidikan, kedua orangtua dan kakak-kakaknya semua lulusan S-2 (Papanya malah lulusan S-3). Mereka bisa menerima dan mengerti ‘perbedaan’ yang Mario miliki. Mereka hanya meminta Mario agar jangan kebablasan dan tetap berusaha untuk bisa kembali ke jalan yang ‘benar’.
Sejak kejadian itu, gw ga bisa dengan leluasa ke rumah Mario lagi. Padahal sebelumnya gw bisa kapan aja berkunjung dan bermalam di rumah Mario, bahkan bisa berkomunikasi dengan orangtua dan kakak-kakaknya, kalo kebetulan berpapasan. Gw diblacklist!! Mulai saat itu hanya Mario yang kerap berkunjung ke rumah gw. Mario merasa nyaman dengan sambutan dari keluarga gw.
Pada awalnya pengawasan keluarganya terhadap Mario lebih diperketat. Mario selalu dikontrol keberadaannya via telpon, bahkan hp Mario sering diperiksa secara diam-diam oleh keluarganya, untuk dibaca setiap sms yang masuk maupun keluar. Tapi lama kelamaan akhirnya semua bisa berjalan secara normal kembali. Gw dan Mario secara sembunyi-sembunyi masih tetap bisa berpacaran sekalipun ‘tanpa restu’ dari keluarganya hihihi...
Sejak berhubungan dengan gw, Mario banyak mengalami perubahan. Mario yang awalnya anak rumahan dan manja, berubah menjadi anak yang menyukai petualangan dan menikmati keindahan pemandangan alam. Gw sering mengajak dia untuk menjelajahi keindahan alam. Banyak banget tempat-tempat yang sempat kami jelajahi bedua; gunung, kawah, hutan, perkampungan, perkebunan, sawah, sungai, air terjun, danau, pantai, empang (he he he...), dll sudah kami jelajahi bersama. Mario yang penakut juga berubah menjadi lebih pemberani.
Lebih dari 5 tahun gw dan Mario berpacaran. Banyak peristiwa yang mewarnai hubungan kami. Suka dan duka, tawa dan air mata kami hadapi bersama. Mario sangat mengenal gw, begitupun juga gw sangat mengenal Mario. Kami berdua sama-sama keras kepala, maka tak jarang kami saling beradu argumen. Pertengkaran kecil sampai petengkaran besar, riak kecil sampai badai, bahkan putus sambung juga pernah kami lalui... Sampai akhirnya 7 bulan yang lalu, kami berdua memutuskan untuk hanya berteman saja.
5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal yang terlalu indah untuk dilupakan... Tapi apa mau dikata, keputusan sudah diambil. Kami lebih enjoy dengan status hubungan kami yang sekarang. Tidak ada lagi pertengkaran dan tidak ada lagi cemburu. Jujur, kami masih sering bertemu, bahkan masih sering melakukan ‘kontak fisik’ he he he... entah apa namanya: HTS (hubungan tanpa status)?, TTM (teman tapi ml he he he...)?, atau HUTAPEA (hubungan tanpa perasaan apa-apa)?
Mungkin bagi sebagian orang bentuk hubungan kami ini aneh bin ajaib. Tapi sudahlah, kami ga peduli pendapat orang lain, karena cuma kami berdua yang paling tahu dan paling mengerti apa yang telah, sedang, dan akan kami jalani... Toh kami juga punya kesepakatan kalo hubungan kami akan benar-benar berhenti, disaat salah satu atau masing-masing dari kami telah menemukan pasangan yang lebih tepat.
Conclusions:
Kita baru bisa memiliki cinta yang besar, disaat kita sanggup dan ikhlas melihat orang yang kita cintai lebih berbahagia dengan pilihan hidupnya. Cinta oh cinta... terkadang memang complicated!! huft!!!
Tampilkan postingan dengan label sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejati. Tampilkan semua postingan
Jumat, 01 Oktober 2010
Love Comes In Mysterious Ways
Selasa, 07 September 2010
Herpes Zoster
Sisi lain tragedi menjelang Lebaran 2007.... Selain mengalami patah tulang selangka, Penderitaan gw ternyata ga cuma sampe disitu saja. 2 hari kemudian karena kondisi gw drop, gw terjangkit cacar ular atau herpes zoster. Penyakit yang timbul ketika kondisi kesehatan tubuh menurun drastis. Herpes jenis ini, tidak sama dengan herpes simplex (penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin). Herpes zoster penyebabnya adalah virus varicella zoster, yang sama dengan virus penyebab cacar air. Jadi setiap orang yang pernah mengalami cacar air, kalo kondisi tubuhnya menurun tajam, sangat mungkin terjangkit cacar ular atau herpes zoster.
Awalnya gw nyangka rasa perih dan panas di badan gw karena lecet-lecet akibat kecelakaan yang gw alami, tapi rasa perih itu berubah menjadi memerah dan kemudian menjadi seperti luka bakar, menggelembung berisi cairan (seperti kena knalpot motor). Trus dibarengi dengan demam pula.
Gw baru bisa memeriksakan diri ke dokter setelah lebaran hari ke-2 (karena saat lebaran semua dokter pada tutup). Gw berobat ke dokter Rachmat, dan gw mendapat obat 3 jenis pil dan salep acyclovir. Gw sudah meminum obat dan memakai salep tapi luka di badan gw malah bertambah. 2 hari kemudian gw memutuskan untuk ke dokter specialis kulit, dr. Dewi.
“Wah, kenapa telat berobat?” tanya dokter Dewi.
“Udah berobat kok bu, ke dokter Rachmat, tapi ga ada perubahan.” Jawab gw.
“Emang dikasih obat apa sama dokter Rachmat?” dokter Dewi bertanya lagi.
“Dikasih ini, dok.” Sahut gw sambil menunjukkan obat-obatan yang gw dapatkan dari dokter Rachmat.
“Ya gimana mau sembuh, kamu ga dikasih obat oralnya...” kata dokter Dewi.
“Karena pengobatannya terlambat, mungkin lukanya akan meninggalkan bekas lho.” Lanjut dokter Dewi.
“Ya udah gpp dok, yang penting cepet sembuh ajalah.” Jawab gw.
Lalu gw mendapatkan obat oral, salep dan cairan kompres. setelah beberapa hari dan sekali lagi kontrol. Cacar ular gw pun sembuh, tapi meninggalkan bekas luka di bagian perut gw, sama seperti yang dikatakan dokter Dewi.
Pertengahan Bulan Juni kemaren, gw merasakan panas dan perih di bagian belakang leher gw. dalam tempo satu hari kemudian lukanya menggelembung berisi cairan. Mirip banget dengan gejala yang gw alami waktu kena cacar ular. Gw langsung ke dokter specialis kulit, dr. Anita.
“Ini bukan herpes zoster, kamu dermatitis alergica” Sahut dokter Anita.
“Saya kira herpes dok, karena gejalanya mirip waktu 3 tahun yang lalu saya kena herpes zoster.” Kata gw.
“Kalo pernah kena herpes zoster ga akan kena lagi. Sama kalo kita pernah kena cacar air, kita ga akan kena cacar air lagi.” dokter Anita menjelaskan.
“Kemarin-kemarin kamu makan apa gitu?” lanjut dokter Anita.
“Makan udang sama kepiting, dok. Tapi biasanya sih ga alergi, paling banter juga Cuma gatal-gatal dan bentol-bentol doang, dok. Lagian kejadiannya juga jarang banget.” Jawab gw.
“Tingkat keparahan alergi, sangat bergantung sama seberapa banyak seafood yang kamu makan dan seberapa fit kondisi badan kamu.” Dokter Anita melanjutkan penjelasannya.
“Gimana caranya supaya saya tidak kena alergi lagi?” tanya gw.
“Hindari penyebab alergi, jangan makan seafood!” jawab dokter Anita.
“Wah padahal saya doyan banget dok he he he... Boleh ga dok, kalo sesekali saya pengen seafood, sebelum makan seafood saya minum obat anti alergi kaya incidal?” sahut gw.
“Boleh-boleh aja, tapi ga menjamin alergi itu ga akan muncul sama sekali. Masih mungkin muncul, tapi ga akan terlalu parah.” Papar dokter Anita.
Ah syukurlah ternyata sesekali gw masih boleh menyantap salah satu makanan kesukaan gw he he he... (even gw harus belajar membatasinya). Dalam 3 hari sakit di leher gw sembuh total dan ga meninggalkan bekas sama sekali.
Awal bulan Juli 2010, gw ketemu lagi diYM dengan Jerry, seorang mahasiswa kedokteran, semester 5. Sebenernya gw sudah lama kenal, dan sering chatting dengan Jerry di Yahoo messenger. Tapi baru memutuskan untuk ketemu, setelah chatting malam itu.
Jerry : Aku jadi makin penasaran nih sama kakak, pengen ketemu.
Farrel: Kalo mau ketemu ya ayo aja. Emang mau ngapain gitu?
Jerry : Ya ketemu aja, ngobrol-ngobrol, sharing.
Jerry : Tapi, kalo aku ga suka ga usah ml gpp kan?
Farrel: Ya gpp lah, emang kalo setiap ketemuan harus diakhiri dengan ml? Kalo kamu ga suka tar kamu kan tinggal bilang.
Jerry : Takut ga enak lah kak.
Farrel: Gini aja, kalo kamu ga suka, kamu tinggal duduk jauh-jauh aja dari aku. Aku juga akan ngerti kok.
Jerry : Siiiiipp...
Farrel: Ya udah, mau ketemuan dimana gitu?
Jerry : Di rumah kakak aja, bisa ga?
Farrel: Boleh aja, kebetulan besok di rumah ga ada siapa-siapa
Jerry : O.K. dech sampe besok ya...
Keeseokan harinya sesuai janjinya, Jerry datang ke rumah gw dengan mengendarai mobilnya. Jerry ternyata lebih cakep aslinya dibanding dengan pic yang dia berikan waktu chatting. Chinese, bermata sipit, berkulit putih, berambut lurus dan hitam. Satu hal lagi, dia chinese tapi cut he he he... dari cara dia bicara dan sinar matanya gw tau dia orangnya smart.
Setelah larut dalam obrolan panjang lebar di kamar gw, gw sering menangkap mata Jerry sesekali menatap tajam sama gw. Tapi gw menahan diri, gw takut kalo dia ga suka sama gw. Gengsi gw sangat tinggi. Kalo gw menyerang duluan trus ditolak, mau ditaruh dimana neh muka? he he he...
“Kak aku sangat suka kissing... hmmhhh... boleh ga aku mencium kakak?” sahut Jerry.
Gw hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju...
Lalu dia mendekat kearah gw, kami berciuman, saling melumat bibir, memainkan lidah kami... ciuman kami makin lama makin panas. Gw dan Jerry sangat menikmati setiap detik debaran di dada serta lumatan demi lumatan bibir dan lidah kami...
Berciuman... tertawa... ciuman lagi... saling lempar senyum... ciuman lagi... dan seterusnya.... berulang dan berulang... terus berulang terus...
Dalam 4 jam lebih kami saling bergumul, Gw dan Jerry masing-masing mengalami 2 kali orgasme. Dan tak terhitung berapa kali kami berciuman. Mulai dari kecupan sampai dengan ciuman berdurasi panjang dan panas menggelora. Selama 4 jam itu gw dan Jerry bermesraan diatas tempat tidur dalam keadaan polos, tanpa sehelai benangpun. Kami sangat menikmati moment-moment itu.
“Jujur kak, aku sangat menikmati permainan tadi. Kakak good kisser.” Sahut Jerry sambil tersenyum dan kembali melumat bibir gw.
Setelah kami usai melampiaskan hasrat kami berdua. Dan masih saling berpelukan.
“Kalo di perut itu luka bekas apa kak?” tanya Jerry.
“Cacar ular.” Jawab gw.
“Cacar ular?” Jerry mengulang kalimat gw tapi dengan intonasi kalimat pertanyaan.
“Iya nama lainnya herpes zoster, tapi bukan herpes penyakit kelamin lho...” jawab gw.
Jerry dan gw tersenyum.
Kemudian Jerry pamit pulang, gw mengantarkan dia sampai mobilnya lenyap dari pandangan di tikungan jalan.
Seminggu kemudian gw ketemu Jerry lagi di Yahoo Messenger. Berikut ini potongan percakapan kami.
Farrel : Hi, kemana aja?
Jerry : Ada kok kak, ga kemana-kemana...
Farrel: Emang kamu ngapain aja gitu?
Jerry : Dari kemaren maen terus sama temen-temen. Mumpung libur kuliah ha ha ha...
Jerry : Udah lama aku ga balik ke dunia ini
Farrel: Lagi asyik di dunia nyata ya? he he he...
Jerry : Ha ha ha...
Farrel: Kirain udah berubah jadi jutek & sombong...
Jerry : Ha ha ha...
Jerry : Enggak lah
Jerry : Dasar!
Jerry : Ha ha ha...
Farrel :Ga kapok kan ketemu sama kakak?
Jerry : Hmmm gimana yah...
Jerry : Ha ha ha
Jerry: Sebenernya, jujur iya.
Farrel:Wadoh!! Beneran??
Jerry: Aku rada kuatir juga euy sama herpes nya kakak
Jerry: Sorry banget...
Farrel: Herpes zoster kan ga akan nuler!!!
Jerry : Hmmm...
Farrel: Kamu pasti jauh lebih tau lah....
Jerry: Takut nya sih nuler.
Jerry : Soalnya itu kayanya herpes yg ke genital juga.
Jerry :Yang nulernya terutama dari sperma.
Farrel: Ga mungkinlah, kata dokter specialis kulit, ini bukan herpes genital dan sama sekali ga nuler.
Jerry : Berarti nularnya lewat apa dong?
Jerry :Wah jujur lebih nyeremin lagi kl gini...
Farrel: Kan aku udah bilang, ga nuler!!
Jerry: But still, bikin ngeri.
Farrel :Hmmm...
Farrel: Lagian waktu kakak kena herpes jg, kakak lagi punya bf lebih dr 2 tahun, ga pernah ml sama yang lain. Mantan bf kakak aja ga kena, padahal sering bersentuhan.
Jerry : Hmmm...
Jerry : Kadang-kadang onset-nya penyakit tuh ga langsung, kak.
Jerry : Ada yang bertaon-taon tunggu imun turun dll.
Jerry : Sorry bgt bukannya gimana... aku cuma cari ati-ati aja dech kayanya.
Farrel: Kalo pun ini penyakit kelamin, besar kemungkinan, kamu udah tertular dong?
Farrel: Ok gpp, kakak ga akan maksain. percuma ngomong panjang lebar jg. Kalo ujung-ujungnya km ga percaya juga
Farrel:Kakak juga bukan orang bodoh kok.
Jerry : Hmmm??
Farrel: Ada herpes genitalis ada yg bukan!
Jerry : O.K.
Farrel: Bagaimanapun juga, thx udah mau kenal sm kakak...
Jerry: sama-sama...
Lalu gw memberi link tentang herpes zooster
Farrel: Coba kamu buka link1 dan link2
Jerry : O.K thx for d’link
Beberapa saat kemudian....
Jerry: Iya aku salah...
Jerry : Ternyata bukan Herpes Simplex 2
Farrel: Dan perlu dicatat, kakak pernah dapat kesimpulan dari 2 dokter specialis kulit, kata mereka herpes zoster ga akan kambuh lagi.
Jerry: Oh great then
Jerry: He he he...
Ah... Kenapa juga ya namanya kudu sama-sama Herpes? Herpes Zoster dan Herpes Simplex!!! jadi bikin orang-orang salah ngerti dech!!
Masalah sudah clear!! Case closed! Dan cerita pun berlanjut... heu heu heu...
Conclusions:
Merasa lebih pintar dan merasa lebih tau, terkadang bisa menunjukkan betapa terbatasnya pengetahuan yang dimiliki seseorang. Lebih baik disangka bodoh, daripada disangka pinter he he he...
Awalnya gw nyangka rasa perih dan panas di badan gw karena lecet-lecet akibat kecelakaan yang gw alami, tapi rasa perih itu berubah menjadi memerah dan kemudian menjadi seperti luka bakar, menggelembung berisi cairan (seperti kena knalpot motor). Trus dibarengi dengan demam pula.
Gw baru bisa memeriksakan diri ke dokter setelah lebaran hari ke-2 (karena saat lebaran semua dokter pada tutup). Gw berobat ke dokter Rachmat, dan gw mendapat obat 3 jenis pil dan salep acyclovir. Gw sudah meminum obat dan memakai salep tapi luka di badan gw malah bertambah. 2 hari kemudian gw memutuskan untuk ke dokter specialis kulit, dr. Dewi.
“Wah, kenapa telat berobat?” tanya dokter Dewi.
“Udah berobat kok bu, ke dokter Rachmat, tapi ga ada perubahan.” Jawab gw.
“Emang dikasih obat apa sama dokter Rachmat?” dokter Dewi bertanya lagi.
“Dikasih ini, dok.” Sahut gw sambil menunjukkan obat-obatan yang gw dapatkan dari dokter Rachmat.
“Ya gimana mau sembuh, kamu ga dikasih obat oralnya...” kata dokter Dewi.
“Karena pengobatannya terlambat, mungkin lukanya akan meninggalkan bekas lho.” Lanjut dokter Dewi.
“Ya udah gpp dok, yang penting cepet sembuh ajalah.” Jawab gw.
Lalu gw mendapatkan obat oral, salep dan cairan kompres. setelah beberapa hari dan sekali lagi kontrol. Cacar ular gw pun sembuh, tapi meninggalkan bekas luka di bagian perut gw, sama seperti yang dikatakan dokter Dewi.
Pertengahan Bulan Juni kemaren, gw merasakan panas dan perih di bagian belakang leher gw. dalam tempo satu hari kemudian lukanya menggelembung berisi cairan. Mirip banget dengan gejala yang gw alami waktu kena cacar ular. Gw langsung ke dokter specialis kulit, dr. Anita.
“Ini bukan herpes zoster, kamu dermatitis alergica” Sahut dokter Anita.
“Saya kira herpes dok, karena gejalanya mirip waktu 3 tahun yang lalu saya kena herpes zoster.” Kata gw.
“Kalo pernah kena herpes zoster ga akan kena lagi. Sama kalo kita pernah kena cacar air, kita ga akan kena cacar air lagi.” dokter Anita menjelaskan.
“Kemarin-kemarin kamu makan apa gitu?” lanjut dokter Anita.
“Makan udang sama kepiting, dok. Tapi biasanya sih ga alergi, paling banter juga Cuma gatal-gatal dan bentol-bentol doang, dok. Lagian kejadiannya juga jarang banget.” Jawab gw.
“Tingkat keparahan alergi, sangat bergantung sama seberapa banyak seafood yang kamu makan dan seberapa fit kondisi badan kamu.” Dokter Anita melanjutkan penjelasannya.
“Gimana caranya supaya saya tidak kena alergi lagi?” tanya gw.
“Hindari penyebab alergi, jangan makan seafood!” jawab dokter Anita.
“Wah padahal saya doyan banget dok he he he... Boleh ga dok, kalo sesekali saya pengen seafood, sebelum makan seafood saya minum obat anti alergi kaya incidal?” sahut gw.
“Boleh-boleh aja, tapi ga menjamin alergi itu ga akan muncul sama sekali. Masih mungkin muncul, tapi ga akan terlalu parah.” Papar dokter Anita.
Ah syukurlah ternyata sesekali gw masih boleh menyantap salah satu makanan kesukaan gw he he he... (even gw harus belajar membatasinya). Dalam 3 hari sakit di leher gw sembuh total dan ga meninggalkan bekas sama sekali.
Awal bulan Juli 2010, gw ketemu lagi diYM dengan Jerry, seorang mahasiswa kedokteran, semester 5. Sebenernya gw sudah lama kenal, dan sering chatting dengan Jerry di Yahoo messenger. Tapi baru memutuskan untuk ketemu, setelah chatting malam itu.
Jerry : Aku jadi makin penasaran nih sama kakak, pengen ketemu.
Farrel: Kalo mau ketemu ya ayo aja. Emang mau ngapain gitu?
Jerry : Ya ketemu aja, ngobrol-ngobrol, sharing.
Jerry : Tapi, kalo aku ga suka ga usah ml gpp kan?
Farrel: Ya gpp lah, emang kalo setiap ketemuan harus diakhiri dengan ml? Kalo kamu ga suka tar kamu kan tinggal bilang.
Jerry : Takut ga enak lah kak.
Farrel: Gini aja, kalo kamu ga suka, kamu tinggal duduk jauh-jauh aja dari aku. Aku juga akan ngerti kok.
Jerry : Siiiiipp...
Farrel: Ya udah, mau ketemuan dimana gitu?
Jerry : Di rumah kakak aja, bisa ga?
Farrel: Boleh aja, kebetulan besok di rumah ga ada siapa-siapa
Jerry : O.K. dech sampe besok ya...
Keeseokan harinya sesuai janjinya, Jerry datang ke rumah gw dengan mengendarai mobilnya. Jerry ternyata lebih cakep aslinya dibanding dengan pic yang dia berikan waktu chatting. Chinese, bermata sipit, berkulit putih, berambut lurus dan hitam. Satu hal lagi, dia chinese tapi cut he he he... dari cara dia bicara dan sinar matanya gw tau dia orangnya smart.
Setelah larut dalam obrolan panjang lebar di kamar gw, gw sering menangkap mata Jerry sesekali menatap tajam sama gw. Tapi gw menahan diri, gw takut kalo dia ga suka sama gw. Gengsi gw sangat tinggi. Kalo gw menyerang duluan trus ditolak, mau ditaruh dimana neh muka? he he he...
“Kak aku sangat suka kissing... hmmhhh... boleh ga aku mencium kakak?” sahut Jerry.
Gw hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju...
Lalu dia mendekat kearah gw, kami berciuman, saling melumat bibir, memainkan lidah kami... ciuman kami makin lama makin panas. Gw dan Jerry sangat menikmati setiap detik debaran di dada serta lumatan demi lumatan bibir dan lidah kami...
Berciuman... tertawa... ciuman lagi... saling lempar senyum... ciuman lagi... dan seterusnya.... berulang dan berulang... terus berulang terus...
Dalam 4 jam lebih kami saling bergumul, Gw dan Jerry masing-masing mengalami 2 kali orgasme. Dan tak terhitung berapa kali kami berciuman. Mulai dari kecupan sampai dengan ciuman berdurasi panjang dan panas menggelora. Selama 4 jam itu gw dan Jerry bermesraan diatas tempat tidur dalam keadaan polos, tanpa sehelai benangpun. Kami sangat menikmati moment-moment itu.
“Jujur kak, aku sangat menikmati permainan tadi. Kakak good kisser.” Sahut Jerry sambil tersenyum dan kembali melumat bibir gw.
Setelah kami usai melampiaskan hasrat kami berdua. Dan masih saling berpelukan.
“Kalo di perut itu luka bekas apa kak?” tanya Jerry.
“Cacar ular.” Jawab gw.
“Cacar ular?” Jerry mengulang kalimat gw tapi dengan intonasi kalimat pertanyaan.
“Iya nama lainnya herpes zoster, tapi bukan herpes penyakit kelamin lho...” jawab gw.
Jerry dan gw tersenyum.
Kemudian Jerry pamit pulang, gw mengantarkan dia sampai mobilnya lenyap dari pandangan di tikungan jalan.
Seminggu kemudian gw ketemu Jerry lagi di Yahoo Messenger. Berikut ini potongan percakapan kami.
Farrel : Hi, kemana aja?
Jerry : Ada kok kak, ga kemana-kemana...
Farrel: Emang kamu ngapain aja gitu?
Jerry : Dari kemaren maen terus sama temen-temen. Mumpung libur kuliah ha ha ha...
Jerry : Udah lama aku ga balik ke dunia ini
Farrel: Lagi asyik di dunia nyata ya? he he he...
Jerry : Ha ha ha...
Farrel: Kirain udah berubah jadi jutek & sombong...
Jerry : Ha ha ha...
Jerry : Enggak lah
Jerry : Dasar!
Jerry : Ha ha ha...
Farrel :Ga kapok kan ketemu sama kakak?
Jerry : Hmmm gimana yah...
Jerry : Ha ha ha
Jerry: Sebenernya, jujur iya.
Farrel:Wadoh!! Beneran??
Jerry: Aku rada kuatir juga euy sama herpes nya kakak
Jerry: Sorry banget...
Farrel: Herpes zoster kan ga akan nuler!!!
Jerry : Hmmm...
Farrel: Kamu pasti jauh lebih tau lah....
Jerry: Takut nya sih nuler.
Jerry : Soalnya itu kayanya herpes yg ke genital juga.
Jerry :Yang nulernya terutama dari sperma.
Farrel: Ga mungkinlah, kata dokter specialis kulit, ini bukan herpes genital dan sama sekali ga nuler.
Jerry : Berarti nularnya lewat apa dong?
Jerry :Wah jujur lebih nyeremin lagi kl gini...
Farrel: Kan aku udah bilang, ga nuler!!
Jerry: But still, bikin ngeri.
Farrel :Hmmm...
Farrel: Lagian waktu kakak kena herpes jg, kakak lagi punya bf lebih dr 2 tahun, ga pernah ml sama yang lain. Mantan bf kakak aja ga kena, padahal sering bersentuhan.
Jerry : Hmmm...
Jerry : Kadang-kadang onset-nya penyakit tuh ga langsung, kak.
Jerry : Ada yang bertaon-taon tunggu imun turun dll.
Jerry : Sorry bgt bukannya gimana... aku cuma cari ati-ati aja dech kayanya.
Farrel: Kalo pun ini penyakit kelamin, besar kemungkinan, kamu udah tertular dong?
Farrel: Ok gpp, kakak ga akan maksain. percuma ngomong panjang lebar jg. Kalo ujung-ujungnya km ga percaya juga
Farrel:Kakak juga bukan orang bodoh kok.
Jerry : Hmmm??
Farrel: Ada herpes genitalis ada yg bukan!
Jerry : O.K.
Farrel: Bagaimanapun juga, thx udah mau kenal sm kakak...
Jerry: sama-sama...
Lalu gw memberi link tentang herpes zooster
Farrel: Coba kamu buka link1 dan link2
Jerry : O.K thx for d’link
Beberapa saat kemudian....
Jerry: Iya aku salah...
Jerry : Ternyata bukan Herpes Simplex 2
Farrel: Dan perlu dicatat, kakak pernah dapat kesimpulan dari 2 dokter specialis kulit, kata mereka herpes zoster ga akan kambuh lagi.
Jerry: Oh great then
Jerry: He he he...
Ah... Kenapa juga ya namanya kudu sama-sama Herpes? Herpes Zoster dan Herpes Simplex!!! jadi bikin orang-orang salah ngerti dech!!
Masalah sudah clear!! Case closed! Dan cerita pun berlanjut... heu heu heu...
Conclusions:
Merasa lebih pintar dan merasa lebih tau, terkadang bisa menunjukkan betapa terbatasnya pengetahuan yang dimiliki seseorang. Lebih baik disangka bodoh, daripada disangka pinter he he he...
Label:
binan,
cacar ular,
cerita,
chatting,
ciuman,
curhat,
dokter,
herpes simplex,
herpes zoster,
homoseksual,
kedokteran,
kisah,
mahasiswa,
sejati
Minggu, 25 Juli 2010
Sakit Hati Berbuah Penemuan Jati Diri
Ringkasan ini tidak tersedia. Harap
klik di sini untuk melihat postingan.
Label:
binan,
blog,
cerita,
chatting,
curhat,
gay,
hati,
homoseksual,
homosexual,
ibu,
kisah,
mama,
masa kecil,
percaya diri,
persahabatan,
realita,
religi. agama,
sejati,
sejenis,
tertangkap
Sabtu, 19 Juni 2010
Ketulusan Hati Mama
Jika ada orang yang bertanya, siapakah orang terpenting dalam hidup gw. Gw akan langsung menjawab dengan mantap: Mama!! Mama gw adalah sosok perempuan sederhana, tabah, berhati lembut, tapi tegar. Masalah demi masalah dihadapinya dengan keikhlasan dan keteguhan hati. Di usianya yg sudah beranjak senja, masih tergores sisa-sisa kecantikan masa mudanya.
Mama berasal dari keluarga menengah di kota S di Jawa Barat. Terlahir sebagai anak bungsu dari 9 bersaudara. Di usianya yang belum genap 2 tahun, ibunya (nenek gw) meninggal dunia. Sepeninggal ibunya, Mama dibesarkan oleh bapak bersama ibu tirinya. Dari istri barunya, kakek gw tidak mendapat keturunan, maka tidak heran kalo nenek tiri gw sangat menyayangi mama gw.
Menginjak usia 8 tahun mama diadopsi oleh keluarga Belanda yang tinggal di sebuah rumah di Jl. Menado, Bandung. Pasangan bule Meneeer & Mefrou Hengky sangat menyayangi mama gw. Dari didikan orangtua angkatnya, mama tumbuh menjadi sosok perempuan yang mandiri.
Menginjak usia 14 tahun, kedua orangtua angkat mama, harus meninggalkan Indonesia dan kembali ke negeri leluhurnya. Mama tidak ikut dibawa ke Belanda, karena keluarga dan kerabat tidak mengijinkan mama diboyong ke negeri kincir angin itu.
Akhirnya mama tinggal dengan kakak perempuan tertuanya di Bandung. Mama bertugas mengasuh keponakan-keponakannya, yang jumlahnya banyak sekali (kakaknya mama hampir tiap tahun melahirkan, bahkan ada anaknya yang lahir di tahun yang sama). Usia antara mama dan keponakan yang tertua, hanya terpaut beberapa tahun, maka tak heran sering terjadi konflik dan pertengkaran khas anak-anak. Apapun masalahnya: benar atau salah, berujung dengan mama yang harus mengalah.
Setiap harinya mama melakukan perkerjaan rumah tangga dan merawat keponakan-keponakannya. Hal itu dilakukan selama bertahun-tahun.
Mama menikah dengan seorang pemuda, teman sekelasnya waktu sekolah. Dari pernikahannya lahirlah kakak laki-laki pertama gw, Max. Kemudian disusul kelahiran 2 bayi kembar perempuan, yang sayang umurnya tidak bertahan lama. Berikutnya mama melahirkan seorang anak laki-laki, namanya Ivan, mama sangat menyayangi dia, tapi Ivan pun harus meninggal di usianya yang baru menginjak 1 tahun 7 bulan. Konon wajah Ivan mirip banget dengan gw (nanti akan gw ceritakan secara khusus, kisah kemiripian antara Ivan dan gw).
Keterpurukan ekonomi yang berimbas pada bangkrutnya perusahaan tempat papa bekerja. PHK besar-besaran terjadi, dan papa adalah salah satu korbannya. Keluarga kecil yang awalnya hidup sederhana makin terjepit krisis. Kemiskinan dan masalah keuangan yang tak kunjung usai membuat mama nekad kembali ke kota asalnya S, meninggalkan papa. Mama pergi membawa Max, padahal dia tengah berbadan dua. Papa menyusulnya beberapa bulan kemudian, setelah anak perempuannya lahir.
Mereka pun menetap di kota S, dan tinggal di rumah almarhum orang tuanya, yang sudah dikuasai dan ditempati oleh keluarga kakak perempuan kedua mama, sebut saja namanya Tante Anna.
Setiap harinya mama dan papa bekerja membantu keluarga Tante Anna membuat kue-kue dan makanan lainnya untuk dijual. Banyak sekali jenis kue yang dibuat dari subuh sampai sore. Sore hari bukan berarti pekerjaan itu selesai, karena sore hari sampai larut malam, papa dan mama harus bekerja lagi berjualan martabak di alun-alun kota S. Bertahun-tahun mama bertahan, membanting tulang memeras tenaga.
Sudah tak terhitung lagi seberapa banyak cucuran keringat dan air mata yang tertumpah. Menyedihkan sekali, kerja keras mama dan papa hanya dihargai oleh 2 piring nasi sehari. Jangankan gaji, uang sakupun tak pernah ada. Bener-bener jadi jongos gratisan!! Sampai meninggalpun papah masih menyimpan rasa kecewa dan sakit hati itu. Lain halnya dengan mama gw, dia dengan ikhlas menerima semua itu sebagai jalan hidup yang sudah digariskan Tuhan.
Tante Anna ternyata tidak sekedar licik, tapi juga serakah. Rumah dan tanah warisan peninggalan kakek-nenek gw juga dijualnya tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya. Uangnya dia kuasai, saudara-saudaranya yang lain sekalipun pembagiannya tidak rata tapi masih mendapat bagian. Tapi mama gw tak pernah mendapatkan sepeserpun apa yang seharusnya menjadi haknya, karena sudah di telan bulat-bulat oleh saudara kandungnya sendiri. Tapi sekali lagi mama tetap ikhlas.
Papa dan mama sepakat meninggalkan kota S dan kembali ke rumah, di daerah Bandung Selatan. Selepas dari Kota S, mama mencoba berjualan makanan dan papa bekerja di adik iparnya, Om Budiman. Setiap harinya papa bekerja melelehkan dan mencetak lilin. Ribuan bahkan mungkin jutaan batang lilin telah dia hasilkan. Tapi selama berbulan-bulan itu papa tidak pernah mendapat gaji. Sekali lagi papa diperas tenaganya dan dimanfaatkan orang. Yang lebih menyakitkan adalah karena orang-orang licik itu adalah saudaranya sendiri, yang seharusnya memberi pertolongan.
Sampai suatu hari ketika persediaan beras dirumah habis. Papa menyuruh mama untuk meminjam beras ke rumah adiknya, karena papa tahu kalo adiknya baru saja membeli sekarung beras. Tapi sesampainya mama di rumah Om dan Tante Budiman, bukannya pinjaman beras yang didapat tapi hanya hinaan dan kata-kata yang merendahkan. Mama pulang dengan rasa sesak didada menahan tangis. Sesampai di rumah, mama tak kuasa menahan air matanya menetes. Mulai saat itu papa bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah adiknya lagi.
Akhirnya papa mendapatkan pekerjaan lagi, dan secara berangsur-angsur keadaan ekonomi keluarga membaik. Kemudian lahirlah gw dan beberapa tahun kemudian disusul dengan kelahiran adik perempuan gw. Bertahun-tahun papa bekerja keras dan membuahkan hasil. Keadaan sebaliknya terjadi pada keluarga adik perempuan papa. Om Budiman bangkrut. Rumah dan semua harta bendanya ludes akibat kegemarannya berjudi. Berkali-kali papa memberi modal tapi tak pernah membuahkan hasil. Akhirnya papa dan mama menyuruh keluarga Om Budiman untuk numpang di rumah kami. Keluarga kami yang tadinya beranggotakan 6 orang (2 orangtua dan 4 anak), kini harus berbagi tempat dengan 7 orang lagi (Om dan Tante Budiman berama 5 anaknya). Ruang keluarga kalo malam tiba berubah fungsi jadi tempat tidur mereka. Lebih dari 5 tahun keluarga Om Budiman menumpang di rumah kecil kami. Tapi yang membuat gw geram, Om Budiman sehari-hari kerjanya cuma makan dan tidur (pengangguran seumur hidup, bahkan sampai dia meninggal!!!). Malah dia sering menyebalkan karena suka menyuruh-nyuruh gw untuk membeli rokok, memijit badannya dan pekerjaan lainnya yang seharusnya dia kerjakan sendiri. Privacy keluarga kami makin terasa terganggu, kami sering merasa ga enak hati.
Papa kemudian menyewakan rumah buat keluarga adiknya dan mensupport uang bulanan, hingga anak-anak keluarga Om Budiman punya pekerjaan. Dengan mata dan kepala gw sendiri, gw melihat kemurnian hati mama. Dia masih mau menolong keluarga Budiman yang dulu pernah mendzoliminya. Demikian juga terhadap keluarga Tante Anna, mama tak pernah menyimpan dendam. Gw sampai heran, terbuat dari apakah hati mama? Hatinya terlalu murni, bahkan jika dibandingkan dengan emas sekalipun. Ketulusannya telah teruji oleh sang waktu.
Sekarang sepeninggal papa dan semua anak-anaknya dewasa. Tak ada yang berubah dari mama. Dia tetap menyayangi kami, seperti dia menyayangi kami sewaktu kecil. Dia tidak pernah menuntut apa-apa. Dia tidak pernah meminta, yang ada di kamusnya hanya ada kata ‘memberi’. Memberikan cintanya setulus hati. Bahkan dia tidak pernah menyinggung-nyinggung soal kapan gw akan berumah tangga (saudara kandung gw semuanya sudah menikah).
Gw sangat yakin, sekalipun dia tahu keadaan gw yang sebenarnya, dia masih bisa dan mau menerima gw apa adanya. Tapi gw ga sanggup melihat hati mama terluka. Gw ga mau menorehkan luka di jiwanya... Gw hanya ingin membiarkan masalah ini hilang ditelan zaman dan berlalu ditelan waktu. I love you Mom!!!
Conclusions:
Ketulusan hati mungkin tidak selalu membuahkan penghormatan dari manusia. Tapi percayalah: ketulusan hati dapat memberi ketenangan dan kedamaian buat jiwa kita.
Mama berasal dari keluarga menengah di kota S di Jawa Barat. Terlahir sebagai anak bungsu dari 9 bersaudara. Di usianya yang belum genap 2 tahun, ibunya (nenek gw) meninggal dunia. Sepeninggal ibunya, Mama dibesarkan oleh bapak bersama ibu tirinya. Dari istri barunya, kakek gw tidak mendapat keturunan, maka tidak heran kalo nenek tiri gw sangat menyayangi mama gw.
Menginjak usia 8 tahun mama diadopsi oleh keluarga Belanda yang tinggal di sebuah rumah di Jl. Menado, Bandung. Pasangan bule Meneeer & Mefrou Hengky sangat menyayangi mama gw. Dari didikan orangtua angkatnya, mama tumbuh menjadi sosok perempuan yang mandiri.
Menginjak usia 14 tahun, kedua orangtua angkat mama, harus meninggalkan Indonesia dan kembali ke negeri leluhurnya. Mama tidak ikut dibawa ke Belanda, karena keluarga dan kerabat tidak mengijinkan mama diboyong ke negeri kincir angin itu.
Akhirnya mama tinggal dengan kakak perempuan tertuanya di Bandung. Mama bertugas mengasuh keponakan-keponakannya, yang jumlahnya banyak sekali (kakaknya mama hampir tiap tahun melahirkan, bahkan ada anaknya yang lahir di tahun yang sama). Usia antara mama dan keponakan yang tertua, hanya terpaut beberapa tahun, maka tak heran sering terjadi konflik dan pertengkaran khas anak-anak. Apapun masalahnya: benar atau salah, berujung dengan mama yang harus mengalah.
Setiap harinya mama melakukan perkerjaan rumah tangga dan merawat keponakan-keponakannya. Hal itu dilakukan selama bertahun-tahun.
Mama menikah dengan seorang pemuda, teman sekelasnya waktu sekolah. Dari pernikahannya lahirlah kakak laki-laki pertama gw, Max. Kemudian disusul kelahiran 2 bayi kembar perempuan, yang sayang umurnya tidak bertahan lama. Berikutnya mama melahirkan seorang anak laki-laki, namanya Ivan, mama sangat menyayangi dia, tapi Ivan pun harus meninggal di usianya yang baru menginjak 1 tahun 7 bulan. Konon wajah Ivan mirip banget dengan gw (nanti akan gw ceritakan secara khusus, kisah kemiripian antara Ivan dan gw).
Keterpurukan ekonomi yang berimbas pada bangkrutnya perusahaan tempat papa bekerja. PHK besar-besaran terjadi, dan papa adalah salah satu korbannya. Keluarga kecil yang awalnya hidup sederhana makin terjepit krisis. Kemiskinan dan masalah keuangan yang tak kunjung usai membuat mama nekad kembali ke kota asalnya S, meninggalkan papa. Mama pergi membawa Max, padahal dia tengah berbadan dua. Papa menyusulnya beberapa bulan kemudian, setelah anak perempuannya lahir.
Mereka pun menetap di kota S, dan tinggal di rumah almarhum orang tuanya, yang sudah dikuasai dan ditempati oleh keluarga kakak perempuan kedua mama, sebut saja namanya Tante Anna.
Setiap harinya mama dan papa bekerja membantu keluarga Tante Anna membuat kue-kue dan makanan lainnya untuk dijual. Banyak sekali jenis kue yang dibuat dari subuh sampai sore. Sore hari bukan berarti pekerjaan itu selesai, karena sore hari sampai larut malam, papa dan mama harus bekerja lagi berjualan martabak di alun-alun kota S. Bertahun-tahun mama bertahan, membanting tulang memeras tenaga.
Sudah tak terhitung lagi seberapa banyak cucuran keringat dan air mata yang tertumpah. Menyedihkan sekali, kerja keras mama dan papa hanya dihargai oleh 2 piring nasi sehari. Jangankan gaji, uang sakupun tak pernah ada. Bener-bener jadi jongos gratisan!! Sampai meninggalpun papah masih menyimpan rasa kecewa dan sakit hati itu. Lain halnya dengan mama gw, dia dengan ikhlas menerima semua itu sebagai jalan hidup yang sudah digariskan Tuhan.
Tante Anna ternyata tidak sekedar licik, tapi juga serakah. Rumah dan tanah warisan peninggalan kakek-nenek gw juga dijualnya tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya. Uangnya dia kuasai, saudara-saudaranya yang lain sekalipun pembagiannya tidak rata tapi masih mendapat bagian. Tapi mama gw tak pernah mendapatkan sepeserpun apa yang seharusnya menjadi haknya, karena sudah di telan bulat-bulat oleh saudara kandungnya sendiri. Tapi sekali lagi mama tetap ikhlas.
Papa dan mama sepakat meninggalkan kota S dan kembali ke rumah, di daerah Bandung Selatan. Selepas dari Kota S, mama mencoba berjualan makanan dan papa bekerja di adik iparnya, Om Budiman. Setiap harinya papa bekerja melelehkan dan mencetak lilin. Ribuan bahkan mungkin jutaan batang lilin telah dia hasilkan. Tapi selama berbulan-bulan itu papa tidak pernah mendapat gaji. Sekali lagi papa diperas tenaganya dan dimanfaatkan orang. Yang lebih menyakitkan adalah karena orang-orang licik itu adalah saudaranya sendiri, yang seharusnya memberi pertolongan.
Sampai suatu hari ketika persediaan beras dirumah habis. Papa menyuruh mama untuk meminjam beras ke rumah adiknya, karena papa tahu kalo adiknya baru saja membeli sekarung beras. Tapi sesampainya mama di rumah Om dan Tante Budiman, bukannya pinjaman beras yang didapat tapi hanya hinaan dan kata-kata yang merendahkan. Mama pulang dengan rasa sesak didada menahan tangis. Sesampai di rumah, mama tak kuasa menahan air matanya menetes. Mulai saat itu papa bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah adiknya lagi.
Akhirnya papa mendapatkan pekerjaan lagi, dan secara berangsur-angsur keadaan ekonomi keluarga membaik. Kemudian lahirlah gw dan beberapa tahun kemudian disusul dengan kelahiran adik perempuan gw. Bertahun-tahun papa bekerja keras dan membuahkan hasil. Keadaan sebaliknya terjadi pada keluarga adik perempuan papa. Om Budiman bangkrut. Rumah dan semua harta bendanya ludes akibat kegemarannya berjudi. Berkali-kali papa memberi modal tapi tak pernah membuahkan hasil. Akhirnya papa dan mama menyuruh keluarga Om Budiman untuk numpang di rumah kami. Keluarga kami yang tadinya beranggotakan 6 orang (2 orangtua dan 4 anak), kini harus berbagi tempat dengan 7 orang lagi (Om dan Tante Budiman berama 5 anaknya). Ruang keluarga kalo malam tiba berubah fungsi jadi tempat tidur mereka. Lebih dari 5 tahun keluarga Om Budiman menumpang di rumah kecil kami. Tapi yang membuat gw geram, Om Budiman sehari-hari kerjanya cuma makan dan tidur (pengangguran seumur hidup, bahkan sampai dia meninggal!!!). Malah dia sering menyebalkan karena suka menyuruh-nyuruh gw untuk membeli rokok, memijit badannya dan pekerjaan lainnya yang seharusnya dia kerjakan sendiri. Privacy keluarga kami makin terasa terganggu, kami sering merasa ga enak hati.
Papa kemudian menyewakan rumah buat keluarga adiknya dan mensupport uang bulanan, hingga anak-anak keluarga Om Budiman punya pekerjaan. Dengan mata dan kepala gw sendiri, gw melihat kemurnian hati mama. Dia masih mau menolong keluarga Budiman yang dulu pernah mendzoliminya. Demikian juga terhadap keluarga Tante Anna, mama tak pernah menyimpan dendam. Gw sampai heran, terbuat dari apakah hati mama? Hatinya terlalu murni, bahkan jika dibandingkan dengan emas sekalipun. Ketulusannya telah teruji oleh sang waktu.
Sekarang sepeninggal papa dan semua anak-anaknya dewasa. Tak ada yang berubah dari mama. Dia tetap menyayangi kami, seperti dia menyayangi kami sewaktu kecil. Dia tidak pernah menuntut apa-apa. Dia tidak pernah meminta, yang ada di kamusnya hanya ada kata ‘memberi’. Memberikan cintanya setulus hati. Bahkan dia tidak pernah menyinggung-nyinggung soal kapan gw akan berumah tangga (saudara kandung gw semuanya sudah menikah).
Gw sangat yakin, sekalipun dia tahu keadaan gw yang sebenarnya, dia masih bisa dan mau menerima gw apa adanya. Tapi gw ga sanggup melihat hati mama terluka. Gw ga mau menorehkan luka di jiwanya... Gw hanya ingin membiarkan masalah ini hilang ditelan zaman dan berlalu ditelan waktu. I love you Mom!!!
Conclusions:
Ketulusan hati mungkin tidak selalu membuahkan penghormatan dari manusia. Tapi percayalah: ketulusan hati dapat memberi ketenangan dan kedamaian buat jiwa kita.
Minggu, 16 Mei 2010
Me And The River
Dalam catatan sejarah, sungai tidak bisa dipisahkan dari peradaban manusia. Sungai sering dianggap sebagai salah satu sumber kehidupan. Begitu juga dalam kehidupan gw, sungai punya catatan dan kenangan tersendiri di benak gw.
Gw dibesarkan di daerah kota kabupaten yg dialiri sungai. Sejak kecil gw sangat akrab dengan sungai, seringkali gw harus sembunyi-sembunyi, untuk bermain atau sesekali berenang di sungai. Coz kalo ortu gw tau, pasti gw akan dimarahi habis-habisan. Buat gw sungai mengandung unsur magis dan erotis.
Magis: karena gw sering merasakan suatu misteri tersembunyi di tiap alirannya, apa lagi kl ada gedebok pisang bekas tempat memandikan mayat yang sengaja dihanyutkan... pasti bikin bulu kuduk gw merinding (even gw ga percaya keberadaan dunia gituan).
Erotis: karena sewaktu kecil gw sering sengaja main di sungai hanya untuk cuci mata, melihat tubuh-tubuh pria telanjang yang tengah asyik membersihkan tubuhnya alias mandi. Masih tergambar jelas dalam ingatan gw tubuh-tubuh telanjang penambang pasir, tukang becak, kuli bangunan dan bapak-bapak tetangga gw. Otot-ototnya terpahat indah menghiasi tubuh mereka yang berkulit gelap. Suatu pahatan alami akibat pekerjaan berat yang selalu mereka jalani... wuiiiihhh... Gw selalu merinding dan jantung gw bedegup kencang saat mencuri-curi pandang melihat benda-benda bergelantungan indah di selangkangan pria-pria jantan itu he he he...
Waktu kelas 6 SD, gw ikut camping bersama teman-teman cowok padepokan bela diri, tempat gw biasa berlatih. Kami berkemah di tepian sungai berarus deras dan berbatu-batu. Kegiatan mandi dan cuci sudah pasti dilakukan di sungai itu. Dan lagi-lagi gw dengan ‘terpaksa’ (lho? he he he... ) harus menikmati pemandangan indah tubuh cowok-cowok telanjang dengan kemaluan yang baru ditumbuhi bulu-bulu halus. Tapi tak sedikit juga yang bulunya sudah lebat, terutama kakak-kakak senior. Bahkan para pelatih kami pun dengan sukarela mandi berbugil ria he he he...
Seorang senior yang umurnya 5 tahun diatas gw, sebut saja namanya Yusuf. Dia mencuri perhatian gw karena tubuhnya atletis, dadanya bidang, perutnya sixpack, berkulit gelap, dan Mr P nya yg berukuran big size dihiasi bulu-bulu yang lebat (seingat gw waktu itu ukurannya diatas rata-rata punya kami semua).
Yusuf orangnya baik, berasal dari keluarga sederhana. Bapak dan semua kakak laki-lakinya berprofesi sebagai tukang becak dan sesekali jd kuli pikul (profesi ini pulalah yang sekarang jadi pekerjaan Yusuf sehari-hari). Keluarganya memang kurang mementingkan pendidikan formal. PendidikanYusuf hanya terhenti di kelas 3 SD.
Tapi diluar itu semua, Yusuf punya pesona tersendiri di mata gw. Dia sosok pria jantan yang sempurna secara fisik. Warna kulit Yusuf paling gelap diantara kami semua, sementara warna kulit gw adalah yang paling terang (karena gw keturunan chinese).
Waktu gw dan beberapa teman gw dapat giliran tugas mencuci peralatan makan di pinggiran sungai, Yusuf menghampiri gw sambil tersenyum.
“Wah rajin euy, padahal di rumah mah ga pernah nyuci kan?” Yusuf membuka obrolan.
“Hmmm... iya sih...Kak. tapi gpp kok” sahut gw sambil tersenyum.
“Farrel, kamu tidur ditenda berapa?” tanyanya.
“Tenda 3, Kak.” Jawab gw.
“Wah sama tuh, ya sudah tar tidurnya disebelah kakak aja, ya.” dia menyahut.
“Iya, Kak” jawab gw singkat, padahal dalam hati gw bersorak kegirangan he he he...
Setelah menghabiskan waktu seharian dengan berbagai kegiatan, tibalah waktunya kami untuk beristirahat. Gw melongok ke dalam tenda dan melihat sudah ada 7 orang didalamnya, termasuk Yusuf yang sedang memakai kain sarung.
“ Sini Farrel, Kakak sudah siapin tempat buat kamu.” Sahutnya.
“Iya, Kak.” Jawab gw.
“Kakak tidur di pinggir tenda, kamu disebelah kakak ya. Biar ga kedinginan kena angin dari luar.”
“Wah, Kak Yusuf baik banget.” Kata gw polos. Dia hanya tersenyum menampakan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi.
Gw membaringkan diri disebelah Yusuf. Gw hanya memakai sweater dan celana panjang berbahan fleece untuk melindungi diri dari dinginnya angin malam. Setelah puluhan menit berlalu, mata gw ga bisa terpejam juga. Hawa dingin menusuk sampai ke tulang. Sialnya, gw lupa tidak membawa selimut dari rumah. Di luar sana terdengar suara arus sungai yang deras di kegelapan malam.
“Ga bisa tidur ya?” bisik Yusuf di telinga gw. Dia memelankan suaranya agar teman-teman yg sedang terlelap tidak terganggu.
“Iya, Kak...” jawab gw sambil berbisik juga.
“Kenapa? Kedinginan ya?” tanyanya.
Dan gw hanya mengangguk.
“Sini kakak peluk, biar hangat” Lalu Yusuf memeluk tubuh kecil gw dari belakang, tanpa menunggu persetujuan dari gw. Tubuh gw dihangatkan pelukan tubuh Yusuf yang kekar.
Walaupun tubuh gw sudah nyaman dan hangat, tapi gw ga bisa tidur juga. Pikiran gw melayang dan jantung gw berdegup kencang. Sementara Yusuf sudah tertidur pulas. Gw merasakan, benda pribadi Yusuf mengeras di pinggang gw... ohhh... besar dan tegang... benda milik Yusuf menonjol dari balik kain sarungnya, terasa hangat menempel di tubuh gw. Gw memberanikan diri memegang burungnya. Ternyata dia hanya memakai sarung tanpa celana dalam.... wuiiiiihhh... (kesempatan neh wkwkwk...) Gw berbalik, dan tidur menyamping berhadap-hadapan dengan Yusuf. Yusuf terbangun sesaat, dan kembali memeluk gw. Lalu gw membalas pelukannya... Tubuh gw menggigil...
“Masih kedinginan ya...?” suara Yusuf mendesis, dengan mata setengah terpejam. Antara di dunia nyata dan mimpi.
Lagi-lagi gw hanya mengangguk.
“masuk aja ke dalam sarung kakak...” Ucapnya lirih.
Gw pun masuk ke dalam kain sarung Yusuf. Kemudian gw dan Yusuf berpelukan lagi. Dan kini benda milik Yusuf itu menempel ditubuh gw tanpa terhalang apa-apa lagi.
Setelah Yusuf tertidur lelap, gw memberanikan diri menyentuh benda milik pribadinya. Terasa keras, berurat, hangat, dan ujungnya basah. I love this moments!!! Sepanjang malam sampai pagi menjelang, tangan gw ga pernah lepas menggenggam benda itu. Benda hitam, besar, tegang, dan berbulu lebat. Benda yang menunjukkan kejantanan Yusuf...
Yusuf mungkin hanya menganggap gw seorang bocah kecil yang polos dan ga ngerti apa-apa... syukurlah... huft.
Conclusions:
Tanpa disadari, tanpa direncanakan... semua terjadi begitu saja. Hanya naluri yang berbicara... naluri homo... he he he... Kemesuman itu terjadi bukan hanya karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan... Waspadalah!! Waspadalah!!! (Bang Napi mode on qiqiqi...).
Gw dibesarkan di daerah kota kabupaten yg dialiri sungai. Sejak kecil gw sangat akrab dengan sungai, seringkali gw harus sembunyi-sembunyi, untuk bermain atau sesekali berenang di sungai. Coz kalo ortu gw tau, pasti gw akan dimarahi habis-habisan. Buat gw sungai mengandung unsur magis dan erotis.
Magis: karena gw sering merasakan suatu misteri tersembunyi di tiap alirannya, apa lagi kl ada gedebok pisang bekas tempat memandikan mayat yang sengaja dihanyutkan... pasti bikin bulu kuduk gw merinding (even gw ga percaya keberadaan dunia gituan).
Erotis: karena sewaktu kecil gw sering sengaja main di sungai hanya untuk cuci mata, melihat tubuh-tubuh pria telanjang yang tengah asyik membersihkan tubuhnya alias mandi. Masih tergambar jelas dalam ingatan gw tubuh-tubuh telanjang penambang pasir, tukang becak, kuli bangunan dan bapak-bapak tetangga gw. Otot-ototnya terpahat indah menghiasi tubuh mereka yang berkulit gelap. Suatu pahatan alami akibat pekerjaan berat yang selalu mereka jalani... wuiiiihhh... Gw selalu merinding dan jantung gw bedegup kencang saat mencuri-curi pandang melihat benda-benda bergelantungan indah di selangkangan pria-pria jantan itu he he he...
Waktu kelas 6 SD, gw ikut camping bersama teman-teman cowok padepokan bela diri, tempat gw biasa berlatih. Kami berkemah di tepian sungai berarus deras dan berbatu-batu. Kegiatan mandi dan cuci sudah pasti dilakukan di sungai itu. Dan lagi-lagi gw dengan ‘terpaksa’ (lho? he he he... ) harus menikmati pemandangan indah tubuh cowok-cowok telanjang dengan kemaluan yang baru ditumbuhi bulu-bulu halus. Tapi tak sedikit juga yang bulunya sudah lebat, terutama kakak-kakak senior. Bahkan para pelatih kami pun dengan sukarela mandi berbugil ria he he he...
Seorang senior yang umurnya 5 tahun diatas gw, sebut saja namanya Yusuf. Dia mencuri perhatian gw karena tubuhnya atletis, dadanya bidang, perutnya sixpack, berkulit gelap, dan Mr P nya yg berukuran big size dihiasi bulu-bulu yang lebat (seingat gw waktu itu ukurannya diatas rata-rata punya kami semua).
Yusuf orangnya baik, berasal dari keluarga sederhana. Bapak dan semua kakak laki-lakinya berprofesi sebagai tukang becak dan sesekali jd kuli pikul (profesi ini pulalah yang sekarang jadi pekerjaan Yusuf sehari-hari). Keluarganya memang kurang mementingkan pendidikan formal. PendidikanYusuf hanya terhenti di kelas 3 SD.
Tapi diluar itu semua, Yusuf punya pesona tersendiri di mata gw. Dia sosok pria jantan yang sempurna secara fisik. Warna kulit Yusuf paling gelap diantara kami semua, sementara warna kulit gw adalah yang paling terang (karena gw keturunan chinese).
Waktu gw dan beberapa teman gw dapat giliran tugas mencuci peralatan makan di pinggiran sungai, Yusuf menghampiri gw sambil tersenyum.
“Wah rajin euy, padahal di rumah mah ga pernah nyuci kan?” Yusuf membuka obrolan.
“Hmmm... iya sih...Kak. tapi gpp kok” sahut gw sambil tersenyum.
“Farrel, kamu tidur ditenda berapa?” tanyanya.
“Tenda 3, Kak.” Jawab gw.
“Wah sama tuh, ya sudah tar tidurnya disebelah kakak aja, ya.” dia menyahut.
“Iya, Kak” jawab gw singkat, padahal dalam hati gw bersorak kegirangan he he he...
Setelah menghabiskan waktu seharian dengan berbagai kegiatan, tibalah waktunya kami untuk beristirahat. Gw melongok ke dalam tenda dan melihat sudah ada 7 orang didalamnya, termasuk Yusuf yang sedang memakai kain sarung.
“ Sini Farrel, Kakak sudah siapin tempat buat kamu.” Sahutnya.
“Iya, Kak.” Jawab gw.
“Kakak tidur di pinggir tenda, kamu disebelah kakak ya. Biar ga kedinginan kena angin dari luar.”
“Wah, Kak Yusuf baik banget.” Kata gw polos. Dia hanya tersenyum menampakan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi.
Gw membaringkan diri disebelah Yusuf. Gw hanya memakai sweater dan celana panjang berbahan fleece untuk melindungi diri dari dinginnya angin malam. Setelah puluhan menit berlalu, mata gw ga bisa terpejam juga. Hawa dingin menusuk sampai ke tulang. Sialnya, gw lupa tidak membawa selimut dari rumah. Di luar sana terdengar suara arus sungai yang deras di kegelapan malam.
“Ga bisa tidur ya?” bisik Yusuf di telinga gw. Dia memelankan suaranya agar teman-teman yg sedang terlelap tidak terganggu.
“Iya, Kak...” jawab gw sambil berbisik juga.
“Kenapa? Kedinginan ya?” tanyanya.
Dan gw hanya mengangguk.
“Sini kakak peluk, biar hangat” Lalu Yusuf memeluk tubuh kecil gw dari belakang, tanpa menunggu persetujuan dari gw. Tubuh gw dihangatkan pelukan tubuh Yusuf yang kekar.
Walaupun tubuh gw sudah nyaman dan hangat, tapi gw ga bisa tidur juga. Pikiran gw melayang dan jantung gw berdegup kencang. Sementara Yusuf sudah tertidur pulas. Gw merasakan, benda pribadi Yusuf mengeras di pinggang gw... ohhh... besar dan tegang... benda milik Yusuf menonjol dari balik kain sarungnya, terasa hangat menempel di tubuh gw. Gw memberanikan diri memegang burungnya. Ternyata dia hanya memakai sarung tanpa celana dalam.... wuiiiiihhh... (kesempatan neh wkwkwk...) Gw berbalik, dan tidur menyamping berhadap-hadapan dengan Yusuf. Yusuf terbangun sesaat, dan kembali memeluk gw. Lalu gw membalas pelukannya... Tubuh gw menggigil...
“Masih kedinginan ya...?” suara Yusuf mendesis, dengan mata setengah terpejam. Antara di dunia nyata dan mimpi.
Lagi-lagi gw hanya mengangguk.
“masuk aja ke dalam sarung kakak...” Ucapnya lirih.
Gw pun masuk ke dalam kain sarung Yusuf. Kemudian gw dan Yusuf berpelukan lagi. Dan kini benda milik Yusuf itu menempel ditubuh gw tanpa terhalang apa-apa lagi.
Setelah Yusuf tertidur lelap, gw memberanikan diri menyentuh benda milik pribadinya. Terasa keras, berurat, hangat, dan ujungnya basah. I love this moments!!! Sepanjang malam sampai pagi menjelang, tangan gw ga pernah lepas menggenggam benda itu. Benda hitam, besar, tegang, dan berbulu lebat. Benda yang menunjukkan kejantanan Yusuf...
Yusuf mungkin hanya menganggap gw seorang bocah kecil yang polos dan ga ngerti apa-apa... syukurlah... huft.
Conclusions:
Tanpa disadari, tanpa direncanakan... semua terjadi begitu saja. Hanya naluri yang berbicara... naluri homo... he he he... Kemesuman itu terjadi bukan hanya karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan... Waspadalah!! Waspadalah!!! (Bang Napi mode on qiqiqi...).
Selasa, 27 April 2010
My First Love
Pagi tadi gw terbangun, di luar sana terdengar sayup-sayup lagu First Love –Nikka Costa. lagu lawas yang masih enak untuk didengar... Lamunan gw menerawang jauh, menyusuri lorong waktu, mengarungi kenangan masa silam.
FIRST LOVE
Song by Nikka Costa
Everyone can see
There's a change in me
They all say I'm not the same
Kid I use to be
Don't go out and play
I just dream all day
They don't know what's wrong with me
And I'm too shy to say
It's my first love
What I'm dreaming on
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My first love
He thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could tell him what I'm feeling
'cause I'm feeling my first love
Mirror on the wall
Does he care at all
Does he ever notice me
Does he ever found
Tell me teddy bear
My love is so unfair
Will I ever found away
An answer to my pray
For my first love...
Lagu Nikka Costa ini, bener-bener ngegambarin perasaan remaja yang baru ngerasain artinya jatuh cinta. Tiap orang pasti pernah mengalami yang namanya cinta pertama alias cinta monyet. Tapi yang gw rasakan mungkin bukan cinta tapi hanya sekedar rasa suka. Atau mungkin lebih tepatnya gw ingin punya seseorang yang spesial, sama kaya temen-temen sebaya gw yang rata-rata sudah punya pacar.
Sebut saja namanya Lidya, seorang gadis remaja yang cantik, berhidung mancung dan bermata indah. Umurnya 2 tahun dibawah gw dan dia adik dari sahabat gw sendiri Marlon. Waktu itu gw baru mengjinjak kelas 2 SMA, dan dia Kelas 3 SMP. Gaya pacaran kami cukup unik, karena kami lebih saling mendukung dalam pendidikan. Ajaibnya ranking gw dan Lidya selalu sama. Mulai dari kisaran 5 besar, sampai masuk ranking 3 besar kami selalu sama.
Gw termasuk remaja yang alim dan taat beragama. Jadi walaupun pacaran, gw dan Lidya ga pernah melampaui batas. Paling banter, hanya berpegangan tangan. Itu pun sambil malu-malu kucing. Entah karena malu atau karena ga doyan he he he...
Waktu itu gw sering ngerasain pacaran dengan Lidya itu jadi beban buat gw. Seolah-olah gw harus melakukan kewajiban yang sebenernya gw sendiri ga suka. Apel malam minggu, antar jemput, nemenin dia belajar, jalan-jalan dll. gw lebih suka main dengan teman-teman cowok. Malah gw sering memprioritaskan sahabat-sahabat gw daripada Lidya. Ujung-ujungnya Lidya ngambek, ngerasa dicuekin.
Tapi hubungan kami yang bahasa sundanya: ‘awet rajet’ (awet tapi belangsak he he he...) berjalan sampai 4 tahun. Hubungan kami diakhiri dengan perpisahan secara baik-baik dan kami tetap bersahabat. Jujur, waktu itu gw masih sayang sama Lidya.
Setelah hampir 1 tahun gw dan Lidya sama-sama menjomblo, lalu gw dan Lidya, masing-masing punya pacar lagi. Gw dengan Andrea, mantan murid sekolah minggu gw. Dan Lidya dengan Handoko, masih teman gw juga.
Tapi Andrea terlalu possessive, gw ga nyaman jalan sama dia. Dia ga terima kalo gw lebih ngutamain sahabat-sahabat gw (ya iya lah... he he he...). Dan dia sering cemburu melihat gw dan Lidya masih bersahabat. Hubungan gw dan Andrea hanya bertahan kurang dari 1 tahun, lalu gw memutuskan hubungan dengan dia.
Perjalanan percintaan gw dengan lawan jenis yang berikutnya ga pernah lebih dari 6 bulan. Jadian-bubar... jadian-bubar... jadian-bubar... gw kesannya seperti playboy cap jenggot kambing he he he... padahal sebenernya gw sedang dalam pencarian ‘cinta sejati’ gw, yang akhirnya gw sadari ga akan pernah gw temukan dalam sosok perempuan. Tapi gw keukeuh ‘denial’, gw mencari dan terus mencari. Sampai akhirnya gw lelah dan menyerah.
Dari sekian perempuan yang pernah mengisi hati gw, hanya Lidya yang meninggalkan kesan terdalam. Terlalu indah untuk dilupakan, tapi terlalu pedih untuk dikenang...
Selepas kuliah gw bekerja di salah satu bank swasta. Gw masih inget betul, waktu itu tanggal 17 September, jarum jam belum beranjak ke angka 9. Ada telpon buat gw yang ngabarin tentang sebuah kejadian tragis. Lidya dan Ibunya ditemukan terbunuh di rumahnya, dengan luka tusukan di sekujur tubuhnya. Mereka memang hidup berdua, setelah Marlon memutuskan menetap di Bali untuk belajar melukis, dan Marco adik Lidya tinggal dengan istrinya. Ayah Lidya memang sudah lama ga pernah pulang, dia lebih suka tinggal dengan isteri mudanya.
Pembunuh Lidya dan ibunya ternyata adalah tetangganya sendiri. Dia bermaksud mencuri dengan membobol atap rumah, tapi sialnya dia ketahuan. Entah karena panik, takut atau malu, dia nekat menghabisi 2 nyawa itu sekaligus.
Kejadian itu sangat membekas dihati gw. Masih tergambar jelas di benak gw, jasad Lidya dan ibunya terbujur kaku di dalam 2 peti jenazah di rumah duka. Tangisan pilu keluarga, kerabat dan sahabat mengiringi pemakaman Lidya dan ibunya. Mereka dikuburkan secara berdampingan.
3 tahun setelah kematiannya, Lidya sering menghampiri gw dalam mimpi-mimpi gw. hadir tidak dalam sosok yang menakutkan. Dalam mimpi-mimpi itu, Gw dan Lidya hanya ngobrol biasa... atau kadang dia cuma melintas di depan gw. Gw termasuk orang yang jarang bermimpi saat tidur. Tapi seminggu itu, dia hadir hampir setiap malam. Gw merasa ada sesuatu yang janggal, Lidya seolah sedang mengirimkan pesan khusus buat gw. Gw tersentak, gw baru sadar, hari itu tanggal 17 Maret, hari ulang tahunnya Lidya. Pagi itu gw bergegas pergi ke makam Lidya. Di jalan gw bertemu dengan Gunawan, sahabat gw dan Lidya yang mau berkunjung ke rumah gw.
“Farrel, mau kemana?” tanyanya.
“Mau ke makam Lidya” jawab gw.
“Lho kok aneh ya?, gw sekarang justru mau ngajak loe ke sana”. Katanya keheranan.
“Seminggu ini gw mimpi tentang Lidya terus...” sahut gw singkat.
“Oooohh... kok sama...” Gunanwan menggumam.
Gw dan Gunawan bergegas ke makam Lidya. Disana gw mendapati kuburan Lidya yang indah itu, tidak terawat. Dipenuhi rumput liar dan dedaunan kering. Gw dan Gunawan tanpa banyak bicara membersihkan kedua makam ibu dan anak itu. Ah... menyedihkan sekali... Lidya, i still care about you...
Sejak kepergian Lidya sampai sekarang, gw ga pernah berpacaran lagi dengan seorang perempuan. Dan sampai umur segini gw belum menikah juga. Orang-orang berpendapat kalo gw patah hati, karena cinta sejati gw dibawa mati. Tapi bukan itu penyebab yang sebenarnya... Karena setelah dari makam Lidya, gw memutuskan untuk menjadi diri sendiri. Membuka lembaran baru kehidupan percintaan gw. Dan menerima dengan ikhlas sisi ke-gay-an gw. My first love, but not my true love...
Conclusions:
Makna hidup dan penemuan jati diri, seringkali harus kita raih setelah mengarungi samudera problema. Riak... gelombang... bahkan badai... semakin menempa ketangguhan kita.
FIRST LOVE
Song by Nikka Costa
Everyone can see
There's a change in me
They all say I'm not the same
Kid I use to be
Don't go out and play
I just dream all day
They don't know what's wrong with me
And I'm too shy to say
It's my first love
What I'm dreaming on
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My first love
He thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could tell him what I'm feeling
'cause I'm feeling my first love
Mirror on the wall
Does he care at all
Does he ever notice me
Does he ever found
Tell me teddy bear
My love is so unfair
Will I ever found away
An answer to my pray
For my first love...
Lagu Nikka Costa ini, bener-bener ngegambarin perasaan remaja yang baru ngerasain artinya jatuh cinta. Tiap orang pasti pernah mengalami yang namanya cinta pertama alias cinta monyet. Tapi yang gw rasakan mungkin bukan cinta tapi hanya sekedar rasa suka. Atau mungkin lebih tepatnya gw ingin punya seseorang yang spesial, sama kaya temen-temen sebaya gw yang rata-rata sudah punya pacar.
Sebut saja namanya Lidya, seorang gadis remaja yang cantik, berhidung mancung dan bermata indah. Umurnya 2 tahun dibawah gw dan dia adik dari sahabat gw sendiri Marlon. Waktu itu gw baru mengjinjak kelas 2 SMA, dan dia Kelas 3 SMP. Gaya pacaran kami cukup unik, karena kami lebih saling mendukung dalam pendidikan. Ajaibnya ranking gw dan Lidya selalu sama. Mulai dari kisaran 5 besar, sampai masuk ranking 3 besar kami selalu sama.
Gw termasuk remaja yang alim dan taat beragama. Jadi walaupun pacaran, gw dan Lidya ga pernah melampaui batas. Paling banter, hanya berpegangan tangan. Itu pun sambil malu-malu kucing. Entah karena malu atau karena ga doyan he he he...
Waktu itu gw sering ngerasain pacaran dengan Lidya itu jadi beban buat gw. Seolah-olah gw harus melakukan kewajiban yang sebenernya gw sendiri ga suka. Apel malam minggu, antar jemput, nemenin dia belajar, jalan-jalan dll. gw lebih suka main dengan teman-teman cowok. Malah gw sering memprioritaskan sahabat-sahabat gw daripada Lidya. Ujung-ujungnya Lidya ngambek, ngerasa dicuekin.
Tapi hubungan kami yang bahasa sundanya: ‘awet rajet’ (awet tapi belangsak he he he...) berjalan sampai 4 tahun. Hubungan kami diakhiri dengan perpisahan secara baik-baik dan kami tetap bersahabat. Jujur, waktu itu gw masih sayang sama Lidya.
Setelah hampir 1 tahun gw dan Lidya sama-sama menjomblo, lalu gw dan Lidya, masing-masing punya pacar lagi. Gw dengan Andrea, mantan murid sekolah minggu gw. Dan Lidya dengan Handoko, masih teman gw juga.
Tapi Andrea terlalu possessive, gw ga nyaman jalan sama dia. Dia ga terima kalo gw lebih ngutamain sahabat-sahabat gw (ya iya lah... he he he...). Dan dia sering cemburu melihat gw dan Lidya masih bersahabat. Hubungan gw dan Andrea hanya bertahan kurang dari 1 tahun, lalu gw memutuskan hubungan dengan dia.
Perjalanan percintaan gw dengan lawan jenis yang berikutnya ga pernah lebih dari 6 bulan. Jadian-bubar... jadian-bubar... jadian-bubar... gw kesannya seperti playboy cap jenggot kambing he he he... padahal sebenernya gw sedang dalam pencarian ‘cinta sejati’ gw, yang akhirnya gw sadari ga akan pernah gw temukan dalam sosok perempuan. Tapi gw keukeuh ‘denial’, gw mencari dan terus mencari. Sampai akhirnya gw lelah dan menyerah.
Dari sekian perempuan yang pernah mengisi hati gw, hanya Lidya yang meninggalkan kesan terdalam. Terlalu indah untuk dilupakan, tapi terlalu pedih untuk dikenang...
Selepas kuliah gw bekerja di salah satu bank swasta. Gw masih inget betul, waktu itu tanggal 17 September, jarum jam belum beranjak ke angka 9. Ada telpon buat gw yang ngabarin tentang sebuah kejadian tragis. Lidya dan Ibunya ditemukan terbunuh di rumahnya, dengan luka tusukan di sekujur tubuhnya. Mereka memang hidup berdua, setelah Marlon memutuskan menetap di Bali untuk belajar melukis, dan Marco adik Lidya tinggal dengan istrinya. Ayah Lidya memang sudah lama ga pernah pulang, dia lebih suka tinggal dengan isteri mudanya.
Pembunuh Lidya dan ibunya ternyata adalah tetangganya sendiri. Dia bermaksud mencuri dengan membobol atap rumah, tapi sialnya dia ketahuan. Entah karena panik, takut atau malu, dia nekat menghabisi 2 nyawa itu sekaligus.
Kejadian itu sangat membekas dihati gw. Masih tergambar jelas di benak gw, jasad Lidya dan ibunya terbujur kaku di dalam 2 peti jenazah di rumah duka. Tangisan pilu keluarga, kerabat dan sahabat mengiringi pemakaman Lidya dan ibunya. Mereka dikuburkan secara berdampingan.
3 tahun setelah kematiannya, Lidya sering menghampiri gw dalam mimpi-mimpi gw. hadir tidak dalam sosok yang menakutkan. Dalam mimpi-mimpi itu, Gw dan Lidya hanya ngobrol biasa... atau kadang dia cuma melintas di depan gw. Gw termasuk orang yang jarang bermimpi saat tidur. Tapi seminggu itu, dia hadir hampir setiap malam. Gw merasa ada sesuatu yang janggal, Lidya seolah sedang mengirimkan pesan khusus buat gw. Gw tersentak, gw baru sadar, hari itu tanggal 17 Maret, hari ulang tahunnya Lidya. Pagi itu gw bergegas pergi ke makam Lidya. Di jalan gw bertemu dengan Gunawan, sahabat gw dan Lidya yang mau berkunjung ke rumah gw.
“Farrel, mau kemana?” tanyanya.
“Mau ke makam Lidya” jawab gw.
“Lho kok aneh ya?, gw sekarang justru mau ngajak loe ke sana”. Katanya keheranan.
“Seminggu ini gw mimpi tentang Lidya terus...” sahut gw singkat.
“Oooohh... kok sama...” Gunanwan menggumam.
Gw dan Gunawan bergegas ke makam Lidya. Disana gw mendapati kuburan Lidya yang indah itu, tidak terawat. Dipenuhi rumput liar dan dedaunan kering. Gw dan Gunawan tanpa banyak bicara membersihkan kedua makam ibu dan anak itu. Ah... menyedihkan sekali... Lidya, i still care about you...
Sejak kepergian Lidya sampai sekarang, gw ga pernah berpacaran lagi dengan seorang perempuan. Dan sampai umur segini gw belum menikah juga. Orang-orang berpendapat kalo gw patah hati, karena cinta sejati gw dibawa mati. Tapi bukan itu penyebab yang sebenarnya... Karena setelah dari makam Lidya, gw memutuskan untuk menjadi diri sendiri. Membuka lembaran baru kehidupan percintaan gw. Dan menerima dengan ikhlas sisi ke-gay-an gw. My first love, but not my true love...
Conclusions:
Makna hidup dan penemuan jati diri, seringkali harus kita raih setelah mengarungi samudera problema. Riak... gelombang... bahkan badai... semakin menempa ketangguhan kita.
Label:
binan,
blog,
cerita,
cinta,
curhat,
homoseksual,
kematian,
kisah,
pernikahan,
persahabatan,
sejati,
sejenis,
soulmate
Jumat, 13 November 2009
Duka Di Rumah Duka
Kemaren malam, gerimis kembali membasahi Kota Bandung. Akhir-akhir ini udara malam di Bandung terasa lebih sejuk. Tiap malam udara dingin terasa menusuk sampai ke tulang. Gw lagi males kemana-mana. Selain cuaca lagi ga bersahabat, ditambah gw juga lagi flu. Gw hanya diam di kamar, meringkuk didalam hangatnya selimut, sambil memutar lagu-lagu Kahitna jadul yang melow.
Jam dinding di kamar gw baru mau beranjak ke angka pukul 20.00 WIB, terlalu siang memang buat gw tidur. Coz gw ga bisa tidur dibawah pukul 24.00, entah karena insomnia atau cuma kebiasaan…
Hp gw menjerit-jerit… O ternyata telpon dari temen gw, Alvin.
“Farrel, loe dah tau belom?” itulah Alvin kalo ngomong tanpa basa-basi ba bi bu langsung straight to the point.
“Ada apa gitu?” gw balik nanya.
“Nathan, meninggal…” suara Alvin tercekat.
“What!!? Kapan?!” gw agak tersentak ngedenger kabar itu.
“Gw juga baru tau, penyebabnya juga gw ga tau. Kita ke rumah Duka Nana Rohana bareng yuk… Tar jam 9 gw jemput loe. ”
Setelah meng-iya-kan, gw menutup Hp gw.
Lamunan gw seakan terbawa kembali ke alam kenangan belasan tahun yang lalu. Nathan adalah salah satu temen gw. Anaknya pendiam tapi ramah. Kulitnya putih mulus, rambut lurus hitam legam, dengan deretan gigi yang putih dan rapi… ketampanan khas oriental. Di perkumpulan kami, Nathan yang paling ga bisa apa-apa dalam dunia olahraga dan sering jadi korban kejailan temen-temen gw.
Sesuai janji, Alvin datang menjemput ke rumah gw. Alvin, sahabat (sekaligus temen berantem he he he…) gw sejak SMP. Temen-temen gw yang laen bilang kalo gw dan Alvin tuh soulmate sejati… weeeekkkkssss najis bangedh he he he… Alvin emang cakep, tapi gw ga hobby ngegarap gadun he he he… lagian kami udah temenan lama banget. Dia yang selalu gigih dan ga pernah nyerah nyari calon isteri. Dia pernah ditinggal kawin sama 2 mantan pacarnya, 1 kali batal menikah, dan telah berkenalan dengan ratusan cewek (sering menilai cewek banyak kekurangannya, kurang ini dan itu). Dia orangnya gokil, pecicilan, ga mau kalah, suka mau tau urusan orang, tapi ga gw pungkiri dia orangnya solider. Gw yakin banget dia bukan straight sejati. Waktu kelas 2 dan kelas 3 SMP, gw selalu sebangku dengan Alvin. Di kelas dia sering nyuri-nyuri kesempatan mencoba mengusap-usap paha gw … wew…Brrrrrrr…. Gw sering marah, tapi dia melakukannya lagi, lagi dan lagi… bahkan kadang jari tangannya mencoba masuk ke selangkangan gw lewat celah celana pendek biru gw. Dan tonjokkan tangan gw yang mendarat di lengan atasnya, ga mampu menghentikan aksi ‘bejat’ Alvin qiqiqi… Dulu sih gw masih bego, ga ngerti apa-apa. Waktu itu gw hanya ngira dia lagi jail aja. Tapi sekarang, gw ngerti apa yang sebenernya terjadi. Mungkin waktu itu dia lagi horny he he he…
Gw tau, sekarang dia sedang berkamuflase. Lagian gw juga ga peduli selama dia ga nyampurin urusan pribadi gw. Ga ada untungnya juga saling membuka diri. Jadilah kami 2 sahabat homo yang sama-sama ragu apakah sahabatnya homo atau bukan? Qiqiqi…
Tiba di rumah duka, aura kesedihan terasa banget. Dekorasi kain berwarna biru langit berpadu putih, dominan menghiasi dinding ruangan. Rangkaian bunga lily, mawar, dan Chrisant yang serba putih menghiasi setiap sudut altar tempat peti jenazah disemayamkan. Dekorasi dengan 6 pilar dan puluhan cahaya dari lilin putih, terlihat sangat elegan dan berkelas. Tapi aura duka tetap terasa…
Di dalam ruangan gw ketemu teman-teman SMP gw, Joshua dan Hendrik, yang datang membawa anaknya. Kami langsung mengambil tempat duduk disudut ruangan.
“Kirain bawa cewek, ini mah malah datang sama yang ini ini lagi…emang ga bosen?” ledek Joshua kepada Gw dan Alvin.
“Emang loe datang sama siapa?” Alvin langsung balik nanya.
“Sama, mami dan adik gw” jawab Joshua.
“Ah sama aja, loe juga masih jomblo sejati kan? Sesama jomblo dilarang saling mendzolimi!!!” sahut gw. Diiringi suara ketawa kami, yang sedikit ditahan, agar ga terlalu kedenger orang banyak.
“Iya tuh, emang kalian masih nunggu apa lagi? Gw aja udah punya anak 2. Ayo cepet-cepet nikah, 2012 kiamat lho” Hendrik menimpali.
“Mau Ki Amat, mau Ki Daus, mau, Ki Manteb, mau Ki Joko Bego kagak ngaruh!!! he he he…” sahut gw.
“Iya ya, kalo belom ada jodohnya mau bilang apa?” Sambung Joshua.
Gw curiga, Joshua jg gay..hahaaay!!! (kok gw curiga mulu ya? gaydar kali ya? he he he…) Setau gw dia ga pernah pacaran sama cewek. Dia orangnya handsome, berkulit putih, berhidung mancung, dengan badan kekar tapi ga terlalu tinggi. Dia pemain band, dan sering ngiringin gw nyanyi dengan permaian keyboardnya.
Di sekeliling ruangan di rumah duka gw melihat ‘penampakan’… hiiiiyyyy jangan syerem dulu ah!! Bukan penampakan hantu, tapi penampakan aura gay he he he… swear!! lebih dari 5 orang ke detect sm radar gw xixixi….
Kembali lagi ke kisah kematian Nathan. Di rumah duka gw jadi tau penyebab kematian Nathan. Awalnya dia menderita sariawan di bawah lidah yang ga kunjung sembuh. Dan dia ga terlalu mempedulikannya. Tapi lama-lama rasa sakitnya menjalar ke rahang. Setelah diperiksa, menurut diagnosis dokter Nathan kena kanker. Lalu rahangnya dioperasi. Tapi ga sampai 2 bulan, ternyata kankernya sudah menjalar ke kelenjar getah bening. Dan dalam waktu yang sangat singkat menjalar menggerogoti paru-parunya. Usaha pengobatan sudah dilakukan sampai ke singapura, tapi takdir memang susah ditebak. Tuhan punya kehendak lain. Nathan harus ‘pulang’ lebih awal…
Pernikahan yang sudah disiapkan dengan pacarnya, hanya tinggal rencana yang tak mungkin bisa terwujud. 3 kali diundur: April 2009, Oktober 2009, dan Januari 2010. Pada akhirnya hanya menyisakan duka dan luka, buat keluarga dan calon istrinya.
Nathan walaupun pendiam, tapi punya sisi nakal. Menurut cerita temen gw yang dulu sering jalan bareng sama Nathan. Dulu dia sering ‘membooking’ waria di sekitar Jl. Sumatra… (sisi nakal atau sisi gay?). Hanya sekedar untuk di-blowjob didalam mobilnya. Waduh gw aja yang gay kagak pernah ‘main’ dengan waria (dan ga kepikiran buat nyoba qiqiqi…).
Rintik hujan masih menyisakan tetes-tetes di dedaunan… Gw kembali lagi sendiri di kamar, dalam kehangatan selimut, tapi tanpa alunan lagu melow Kahitna. Selamat jalan sobat!!! Semoga kamu tenang di alam sana…
Conclusions:
Gay oh gay… ternyata bertebaran di mana-mana, bahkan terselip di antara sahabat-sahabat terdekat gw. Gw ga nge-judge lho, coz gw sendiri ga terlalu yakin, apakah beberapa sahabat gw itu GAY atau HOMO qiqiqi… gubrax!!!
Jam dinding di kamar gw baru mau beranjak ke angka pukul 20.00 WIB, terlalu siang memang buat gw tidur. Coz gw ga bisa tidur dibawah pukul 24.00, entah karena insomnia atau cuma kebiasaan…
Hp gw menjerit-jerit… O ternyata telpon dari temen gw, Alvin.
“Farrel, loe dah tau belom?” itulah Alvin kalo ngomong tanpa basa-basi ba bi bu langsung straight to the point.
“Ada apa gitu?” gw balik nanya.
“Nathan, meninggal…” suara Alvin tercekat.
“What!!? Kapan?!” gw agak tersentak ngedenger kabar itu.
“Gw juga baru tau, penyebabnya juga gw ga tau. Kita ke rumah Duka Nana Rohana bareng yuk… Tar jam 9 gw jemput loe. ”
Setelah meng-iya-kan, gw menutup Hp gw.
Lamunan gw seakan terbawa kembali ke alam kenangan belasan tahun yang lalu. Nathan adalah salah satu temen gw. Anaknya pendiam tapi ramah. Kulitnya putih mulus, rambut lurus hitam legam, dengan deretan gigi yang putih dan rapi… ketampanan khas oriental. Di perkumpulan kami, Nathan yang paling ga bisa apa-apa dalam dunia olahraga dan sering jadi korban kejailan temen-temen gw.
Sesuai janji, Alvin datang menjemput ke rumah gw. Alvin, sahabat (sekaligus temen berantem he he he…) gw sejak SMP. Temen-temen gw yang laen bilang kalo gw dan Alvin tuh soulmate sejati… weeeekkkkssss najis bangedh he he he… Alvin emang cakep, tapi gw ga hobby ngegarap gadun he he he… lagian kami udah temenan lama banget. Dia yang selalu gigih dan ga pernah nyerah nyari calon isteri. Dia pernah ditinggal kawin sama 2 mantan pacarnya, 1 kali batal menikah, dan telah berkenalan dengan ratusan cewek (sering menilai cewek banyak kekurangannya, kurang ini dan itu). Dia orangnya gokil, pecicilan, ga mau kalah, suka mau tau urusan orang, tapi ga gw pungkiri dia orangnya solider. Gw yakin banget dia bukan straight sejati. Waktu kelas 2 dan kelas 3 SMP, gw selalu sebangku dengan Alvin. Di kelas dia sering nyuri-nyuri kesempatan mencoba mengusap-usap paha gw … wew…Brrrrrrr…. Gw sering marah, tapi dia melakukannya lagi, lagi dan lagi… bahkan kadang jari tangannya mencoba masuk ke selangkangan gw lewat celah celana pendek biru gw. Dan tonjokkan tangan gw yang mendarat di lengan atasnya, ga mampu menghentikan aksi ‘bejat’ Alvin qiqiqi… Dulu sih gw masih bego, ga ngerti apa-apa. Waktu itu gw hanya ngira dia lagi jail aja. Tapi sekarang, gw ngerti apa yang sebenernya terjadi. Mungkin waktu itu dia lagi horny he he he…
Gw tau, sekarang dia sedang berkamuflase. Lagian gw juga ga peduli selama dia ga nyampurin urusan pribadi gw. Ga ada untungnya juga saling membuka diri. Jadilah kami 2 sahabat homo yang sama-sama ragu apakah sahabatnya homo atau bukan? Qiqiqi…
Tiba di rumah duka, aura kesedihan terasa banget. Dekorasi kain berwarna biru langit berpadu putih, dominan menghiasi dinding ruangan. Rangkaian bunga lily, mawar, dan Chrisant yang serba putih menghiasi setiap sudut altar tempat peti jenazah disemayamkan. Dekorasi dengan 6 pilar dan puluhan cahaya dari lilin putih, terlihat sangat elegan dan berkelas. Tapi aura duka tetap terasa…
Di dalam ruangan gw ketemu teman-teman SMP gw, Joshua dan Hendrik, yang datang membawa anaknya. Kami langsung mengambil tempat duduk disudut ruangan.
“Kirain bawa cewek, ini mah malah datang sama yang ini ini lagi…emang ga bosen?” ledek Joshua kepada Gw dan Alvin.
“Emang loe datang sama siapa?” Alvin langsung balik nanya.
“Sama, mami dan adik gw” jawab Joshua.
“Ah sama aja, loe juga masih jomblo sejati kan? Sesama jomblo dilarang saling mendzolimi!!!” sahut gw. Diiringi suara ketawa kami, yang sedikit ditahan, agar ga terlalu kedenger orang banyak.
“Iya tuh, emang kalian masih nunggu apa lagi? Gw aja udah punya anak 2. Ayo cepet-cepet nikah, 2012 kiamat lho” Hendrik menimpali.
“Mau Ki Amat, mau Ki Daus, mau, Ki Manteb, mau Ki Joko Bego kagak ngaruh!!! he he he…” sahut gw.
“Iya ya, kalo belom ada jodohnya mau bilang apa?” Sambung Joshua.
Gw curiga, Joshua jg gay..hahaaay!!! (kok gw curiga mulu ya? gaydar kali ya? he he he…) Setau gw dia ga pernah pacaran sama cewek. Dia orangnya handsome, berkulit putih, berhidung mancung, dengan badan kekar tapi ga terlalu tinggi. Dia pemain band, dan sering ngiringin gw nyanyi dengan permaian keyboardnya.
Di sekeliling ruangan di rumah duka gw melihat ‘penampakan’… hiiiiyyyy jangan syerem dulu ah!! Bukan penampakan hantu, tapi penampakan aura gay he he he… swear!! lebih dari 5 orang ke detect sm radar gw xixixi….
Kembali lagi ke kisah kematian Nathan. Di rumah duka gw jadi tau penyebab kematian Nathan. Awalnya dia menderita sariawan di bawah lidah yang ga kunjung sembuh. Dan dia ga terlalu mempedulikannya. Tapi lama-lama rasa sakitnya menjalar ke rahang. Setelah diperiksa, menurut diagnosis dokter Nathan kena kanker. Lalu rahangnya dioperasi. Tapi ga sampai 2 bulan, ternyata kankernya sudah menjalar ke kelenjar getah bening. Dan dalam waktu yang sangat singkat menjalar menggerogoti paru-parunya. Usaha pengobatan sudah dilakukan sampai ke singapura, tapi takdir memang susah ditebak. Tuhan punya kehendak lain. Nathan harus ‘pulang’ lebih awal…
Pernikahan yang sudah disiapkan dengan pacarnya, hanya tinggal rencana yang tak mungkin bisa terwujud. 3 kali diundur: April 2009, Oktober 2009, dan Januari 2010. Pada akhirnya hanya menyisakan duka dan luka, buat keluarga dan calon istrinya.
Nathan walaupun pendiam, tapi punya sisi nakal. Menurut cerita temen gw yang dulu sering jalan bareng sama Nathan. Dulu dia sering ‘membooking’ waria di sekitar Jl. Sumatra… (sisi nakal atau sisi gay?). Hanya sekedar untuk di-blowjob didalam mobilnya. Waduh gw aja yang gay kagak pernah ‘main’ dengan waria (dan ga kepikiran buat nyoba qiqiqi…).
Rintik hujan masih menyisakan tetes-tetes di dedaunan… Gw kembali lagi sendiri di kamar, dalam kehangatan selimut, tapi tanpa alunan lagu melow Kahitna. Selamat jalan sobat!!! Semoga kamu tenang di alam sana…
Conclusions:
Gay oh gay… ternyata bertebaran di mana-mana, bahkan terselip di antara sahabat-sahabat terdekat gw. Gw ga nge-judge lho, coz gw sendiri ga terlalu yakin, apakah beberapa sahabat gw itu GAY atau HOMO qiqiqi… gubrax!!!
Label:
binan,
blog,
cerita,
cinta,
curhat,
gay,
homoseksual,
kematian,
kisah,
pernikahan,
persahabatan,
realita,
rumah duka,
sejati,
sejenis
Selasa, 25 Agustus 2009
Sesal Untuk Evan
Sudah lebih dari 10 tahun yang lalu gw sangat dekat dengan dunia anak muda. Gw sendiri ga ngerti, kenapa kok bisa-bisanya gw bergaul dan akrab dengan orang-orang yang umurnya jauh dari gw. Entah karena gw bisa menyelami dunia mereka, entah karena gw seorang pendengar yang baik atas curhat-curhat mereka, entah karena gw sosok kakak yang bijak, atau mungkin karena gw penggemar daun muda? qi qi qi…
Dari sekian memory diotak gw, malam ini gw jadi teringat salah satu sosok anak muda yang pernah dekat sama gw, sebut saja namanya Evan. Waktu itu umurnya belum genap 17 tahun. Kedekatan gw dan Evan dalam arti hanya sebatas pertemanan, ga lebih. Dia ga pernah tau kl gw gay, dan gw juga ga pernah membahas hal itu dengan dia.
Evan adalah sosok anak yang sederhana, cerdas, tampan, pendiam, sopan dan sensitif. Dia sering cerita sama gw tentang pergumulan hidupnya. Juga tentang perasaannya menjadi orang yang terbuang dan tertolak, karena sejak bayi Evan sudah diadopsi oleh tantenya. Secara materi dia ga kekurangan, tapi hatinya hampa. Evan sangat kesepian, dia merindukan perhatian dan kehangatan keluarga.
Diantara teman-teman sebayanya yang sering berkumpul di rumah gw, dialah anak yang paling pendiam. Kalo teman-temannya asyik bercanda, paling dia hanya tersenyum simpul. Atau malah menyendiri di sudut ruangan.
Karena sikapnya yang terlalu tenang dan datar, terkadang gw jenuh menghadapinya. Bahkan beberapa kali gw menghindari kedatangannya. Mungkin gw bosan dengan keluh-kesahnya yang hanya berkutat di masalah itu-itu saja.
Dia sering bolos dari sekolahnya hanya untuk menemui gw, untuk menumpahkan kesedihannya, atau hanya sekedar meluapkan tangis di dada gw.
Gw sebenernya sayang sama dia, dan menganggapnya sebagai adik. Tapi gw lebih menyukai hubungan pertemanan yang fun, penuh canda tawa. Bukan hubungan yang diliputi kesenduan dan kesedihan.
Dia sering menginap di rumah gw, bahkan bisa berhari-hari. Mungkin itu yang membuat gw mati rasa, dan ga peka lagi akan kehadiran dan kebutuhan dia.
Kadang kalo gw lagi bad mood, gw bersembunyi menghindari kedatangannya.
Singkat cerita, sepeninggal papa angkatnya, keluarga angkatnya mengalami kemunduran secara financial dan jatuh pailit. Hal ini menyebabkan mereka terusir dari tempat tinggalnya. Mereka harus berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan yang ke rumah kontrakan yang lainnya. Keadaan ekonomi yang morat-marit, pada akhirnya memaksa keluarganya untuk pindah ke luar kota.
Walau dia sudah pindah ke luar kota, tapi sesekali dia masih datang menemui gw. Makin lama makin jarang, dan pada akhirnya dia ga pernah datang lagi sama sekali. Pada waktu itu, gw ngerasa terbebas dari rongrongan cerita sedihnya, dan dari celotehan tentang beban hidupnya. Anehnya, gw ga merasa kehilangan, dan dalam waktu singkat gw lupa sama dia.
Lima tahun kemudian gw mendapat kabar, kalo Evan mengalami depresi berat. Awalnya dia hanya sering diam dan menyendiri di tempat gelap. Kemudian dia suka mengamuk dan tak terkendali, dengan tindakan-tindakan yang membahayakan. Hal itu menyebabkan dia harus dimasukkan ke salah satu rumah sakit jiwa di Bandung.
Waktu gw menengoknya, dia sudah ga mengenali gw. Gw sendiri hampir-hampir ga mengenalinya lagi. Karena dia sudah sangat berbeda. Badannya kurus dan dipenuhi bekas luka. Sorot matanya kosong seperti ga ada kehidupan. Evan ga pernah menjawab waktu gw tegur, dia hanya asyik dengan dunianya. O my God!! Kenapa ini bisa terjadi?
Seandainya gw selalu ada di sampingnya, seandainya dulu gw peka akan kebutuhan jiwanya, seandainya dulu gw mau mendengar setiap keluh-kesahnya, seandainya dulu gw ga menghindarinya, seandainya waktu bisa diputar kembali dan sejuta seandainya-seandainya yang lain. Gw terpuruk dalam rasa sesal yang dalam, tapi ini ga mengubah keadaan. Evan tetap berkutat dalam depresi beratnya, dan sekarang mendapat stempel sebagai orang “gila”.
Ga terasa, sudah 5 tahun Evan menghuni rumah sakit jiwa, tanpa ada perkembangan yang berarti. Setelah gw amati, rupanya dalam silsilah keluarganya, ada beberapa yang mengalami depresi berat seperti Evan. Mungkin semacam penyakit keturunan. Karena 2 orang pamannya mengalami gangguan mental, 3 saudara sepupunya gila, dan 2 dari saudara kandungnya pun mengalami hal yang sama. Mungkin itulah yang menjadikan mental Evan rapuh dalam menghadapi tekanan hidup. Satu-satunya harapan gw, adalah hanya menunggu keajaiban Tangan Tuhan. Hanya Dia yang sanggup memulihkannya. Mengembalikan Evan kembali seperti yang dulu. Evan yang sederhana, cerdas, tampan, pendiam, sopan dan sensitif…
Conclusions:
Evan, bagaimanapun keadaan diri kamu… semua teman-temanmu masih menyayangi kamu. Kamu berharga dimata Tuhan…
Dari sekian memory diotak gw, malam ini gw jadi teringat salah satu sosok anak muda yang pernah dekat sama gw, sebut saja namanya Evan. Waktu itu umurnya belum genap 17 tahun. Kedekatan gw dan Evan dalam arti hanya sebatas pertemanan, ga lebih. Dia ga pernah tau kl gw gay, dan gw juga ga pernah membahas hal itu dengan dia.
Evan adalah sosok anak yang sederhana, cerdas, tampan, pendiam, sopan dan sensitif. Dia sering cerita sama gw tentang pergumulan hidupnya. Juga tentang perasaannya menjadi orang yang terbuang dan tertolak, karena sejak bayi Evan sudah diadopsi oleh tantenya. Secara materi dia ga kekurangan, tapi hatinya hampa. Evan sangat kesepian, dia merindukan perhatian dan kehangatan keluarga.
Diantara teman-teman sebayanya yang sering berkumpul di rumah gw, dialah anak yang paling pendiam. Kalo teman-temannya asyik bercanda, paling dia hanya tersenyum simpul. Atau malah menyendiri di sudut ruangan.
Karena sikapnya yang terlalu tenang dan datar, terkadang gw jenuh menghadapinya. Bahkan beberapa kali gw menghindari kedatangannya. Mungkin gw bosan dengan keluh-kesahnya yang hanya berkutat di masalah itu-itu saja.
Dia sering bolos dari sekolahnya hanya untuk menemui gw, untuk menumpahkan kesedihannya, atau hanya sekedar meluapkan tangis di dada gw.
Gw sebenernya sayang sama dia, dan menganggapnya sebagai adik. Tapi gw lebih menyukai hubungan pertemanan yang fun, penuh canda tawa. Bukan hubungan yang diliputi kesenduan dan kesedihan.
Dia sering menginap di rumah gw, bahkan bisa berhari-hari. Mungkin itu yang membuat gw mati rasa, dan ga peka lagi akan kehadiran dan kebutuhan dia.
Kadang kalo gw lagi bad mood, gw bersembunyi menghindari kedatangannya.
Singkat cerita, sepeninggal papa angkatnya, keluarga angkatnya mengalami kemunduran secara financial dan jatuh pailit. Hal ini menyebabkan mereka terusir dari tempat tinggalnya. Mereka harus berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan yang ke rumah kontrakan yang lainnya. Keadaan ekonomi yang morat-marit, pada akhirnya memaksa keluarganya untuk pindah ke luar kota.
Walau dia sudah pindah ke luar kota, tapi sesekali dia masih datang menemui gw. Makin lama makin jarang, dan pada akhirnya dia ga pernah datang lagi sama sekali. Pada waktu itu, gw ngerasa terbebas dari rongrongan cerita sedihnya, dan dari celotehan tentang beban hidupnya. Anehnya, gw ga merasa kehilangan, dan dalam waktu singkat gw lupa sama dia.
Lima tahun kemudian gw mendapat kabar, kalo Evan mengalami depresi berat. Awalnya dia hanya sering diam dan menyendiri di tempat gelap. Kemudian dia suka mengamuk dan tak terkendali, dengan tindakan-tindakan yang membahayakan. Hal itu menyebabkan dia harus dimasukkan ke salah satu rumah sakit jiwa di Bandung.
Waktu gw menengoknya, dia sudah ga mengenali gw. Gw sendiri hampir-hampir ga mengenalinya lagi. Karena dia sudah sangat berbeda. Badannya kurus dan dipenuhi bekas luka. Sorot matanya kosong seperti ga ada kehidupan. Evan ga pernah menjawab waktu gw tegur, dia hanya asyik dengan dunianya. O my God!! Kenapa ini bisa terjadi?
Seandainya gw selalu ada di sampingnya, seandainya dulu gw peka akan kebutuhan jiwanya, seandainya dulu gw mau mendengar setiap keluh-kesahnya, seandainya dulu gw ga menghindarinya, seandainya waktu bisa diputar kembali dan sejuta seandainya-seandainya yang lain. Gw terpuruk dalam rasa sesal yang dalam, tapi ini ga mengubah keadaan. Evan tetap berkutat dalam depresi beratnya, dan sekarang mendapat stempel sebagai orang “gila”.
Ga terasa, sudah 5 tahun Evan menghuni rumah sakit jiwa, tanpa ada perkembangan yang berarti. Setelah gw amati, rupanya dalam silsilah keluarganya, ada beberapa yang mengalami depresi berat seperti Evan. Mungkin semacam penyakit keturunan. Karena 2 orang pamannya mengalami gangguan mental, 3 saudara sepupunya gila, dan 2 dari saudara kandungnya pun mengalami hal yang sama. Mungkin itulah yang menjadikan mental Evan rapuh dalam menghadapi tekanan hidup. Satu-satunya harapan gw, adalah hanya menunggu keajaiban Tangan Tuhan. Hanya Dia yang sanggup memulihkannya. Mengembalikan Evan kembali seperti yang dulu. Evan yang sederhana, cerdas, tampan, pendiam, sopan dan sensitif…
Conclusions:
Evan, bagaimanapun keadaan diri kamu… semua teman-temanmu masih menyayangi kamu. Kamu berharga dimata Tuhan…
Label:
blog,
cerita,
cinta,
curhat,
gay,
homosexual,
kisah,
percaya diri,
persahabatan,
puber,
sejati
Sabtu, 15 Agustus 2009
I Hate Wedding Party
Sudah sejak beberapa tahun yang lalu gw enggan, atau tepatnya males datang ke undangan pesta pernikahan. Kalo bukan sodara atau sahabat deket gw yang ngundang, bisa dipastikan gw ga akan datang. Bukan karena benci sama yang ngundang. Bukan pula iri, karena gw ga bisa menggelar pesta yang sama. Tapi banyak hal yang bikin gw ga comfort terjebak dalam hiruk pikuk keramaian sebuah resepsi pernikahan.
Rongrongan orang-orang dengan berondongan pertanyaan-pertanyaan: Kapan kawin…??! Kapan nyusul…??? Pacarnya mana…!!? Lho kok sendirian aja…!!?!? Dan sejuta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bikin kuping gw terbakar dan hati gw mau meledak.
Pertanyaan-pertanyaan itu banyak versinya, ada yang disampaikan:
- dengan lembut penuh empati sebagai bentuk perhatian,
- dengan dingin tanpa ekspresi,
- dengan gurauan garing dan basa basi yang bener-bener sudah basi,
- dengan pertanyaan menyudutkan
- dengan tatapan penuh curiga,
- dengan senyum melecehkan,
- dengan tertawa puas melihat nasib gw
- dan ekspresi-ekspresi lainnya.
Arrrgghhhh!!!! @#*..!!%#@&^..!!! Hati kecil gw pengen berteriak!!! Kenapa ngurusin masalah gw!!!? Kenapa turut campur urusan pribadi gw!?! Apa kalian sudah kekurangan kerjaan…??? Tapi tak ada yang keluar dari mulut gw. Yang keluar dari mulut gw hanyalah senyum (senyuman palsu uhuk uhukk!!!… guk guk guk… he he he…).
Kalo diperhatikan, ternyata orang-orang yang suka mengeluarkan pertanyaan usil itu adalah orang yang sama. Setelah dikerucutkan, gw menemukan satu orang yang paling usil dan menjengkelkan gw. Dia seorang pria berumur 48 tahun, profesinya guru, kadang jadi MC, dia menikah di usia hampir 40 tahun, dan gaya bicaranya kemayu (alias ngondek banget tapi sok berakting macho). Sebut saja namanya Bang Hendrik. Secara selintas dan dari dulu juga gw tahu kalo dia itu banci fuiihhhh!!! Tiap ketemu, pasti pertanyaannya sama: tapi diulang lagi, diulang lagi… lagi, lagi, lagi… gw sampai bosan, eneg, mual, pengen muntah, gatal-gatal, ketombean, bibir pecah-pecah wakakkakakak…. (kok ga nyambung ya? xi xi xi…).
Suatu hari, di sebuah resepsi pernikahan dia beraksi lagi dengan pertanyaan yang sama;
“Eh ada Farreeeeelll…” dengan suara ramah yang dibuat-buat dan tentu saja dengan nada bancinya yang original hi hi hi….
“Iya Bang” jawab gw dingin.
“Kapan dong nyusul…? Kok betah sendirian aja?” dia mulai melontarkan pertanyaan usilnya.
“Saya mah ga laku Bang” gw menjawab acuh tak acuh sambil menikmati zupa-zupa.
“Masa ganteng-ganteng gini ga laku?” sambil nyengir kuda, tambah menyebalkan.
“Kapan atuh, bikin resepsi kaya gini. Biar saya yang jadi MC-nya, tar dikasih harga special lho…”. Sambungnya.
Anjrit… selera makan gw langsung ilang, dada gw sesak seakan ditindih 5 karung beras. Emosi gw meluap, hampir meledak. Tapi gw berusaha tetep tenang.
“Sorry ya Bang. Apa maksud abang tiap ketemu nanyanya itu-itu aja?... apa abang ga ada kerjaan lain, selain ngasih pertanyaan-pertanyaan tolol kaya gitu? apa mulut abang ga bisa berenti ngusilin saya!!?” nada bicara gw dingin, tapi tegas.
“ehmmhh… bu bukan begitu Farreeeel...” dia tergagap, nyali Bang Hendrik keliatan ciut.
“Terus maunya apa!!? Kenapa ga ngurus urusan sendiri aja?!! Apa karena saya tidak menikah berarti hidup saya tidak bahagia!!!? Denger ya, kehidupan abang yang sudah menikah, belum tentu lebih bahagia dari saya!!! Omongan gw semakin tajam tapi kena sasaran.
“Apa karena saya ga nikah, terus dianggap aneh, dan bisa jadiin bahan olok-olokkan!!?? Lanjut gw, nada bicara gw semakin meninggi.
“Maksud saya Cuma ngasih perhatian saja, kok…” dia membela diri.
“Ah sudahlah!!!… saya ga butuh!!, saya bisa menghandle urusan saya sendiri!!!”.
“emmhhh… emmmhh….” Dia hanya bisa menggumam. Karena kaget dengan reaksi gw, sate ayam di piring kecil yang ada di tangannya sampai terjatuh. Sepertinya dia tidak siap menerima serangan balik dari gw he he he… Lagian gw ga akan pake MC segaring loe kale ha ha ha…(kata gw dalam hati).
Gw berlalu dari hadapan dia dengan senyum lebar dan perasaan puas.
Sejak saat itu dia ga pernah usil lagi. Kalo pun berpapasan di sebuah acara resepsi pernikahan, paling dia hanya say hello aja, ga lebih. Atau kalo gw melihat dia dari kejauhan gw sengaja langsung menghindar.
Di lain waktu, gw ketemu Bang Hendrik lagi. Bukan di pesta pernikahan tapi di Bumi Baru II, sebuah Rumah Duka di Jalan Holis, tempat menyemayamkan jenazah. Waktu itu gw datang melayat nenek teman gw yang meninggal.
Waktu berpapasan dengan Bang Hendrik di dekat peti jenazah, gw melontarkan pertanyaan usil:
“Kapan nyusul neh?” gw bicara dengan volume rendah, sambil mata gw melirik peti jenazah.
“Hush!!...” Bang Hendrik kaget menerima pertanyaan gw. Dia pucat, mencoba berusaha tersenyum tapi hambar.
“Kenapa Bang? Belom siap ya!?? bisik gw, sambil dalam hati tertawa puas.
Aduh ternyata si abang ini parno kalo berurusan dengan orang mati ha ha ha… Sekali lagi perasaan gw diliputi rasa puas, karena bisa membalas mulut usil dia he he he…
Conclusions:
Jangan mentang-mentang sudah merasa “normal” karena bisa menikahi perempuan, lantas merasa berhak dengan seenaknya mengobok-obok masalah pribadi orang lain. Banci mah tetep banci aja, bang. Ga bisa disembunyiin, sekalipun loe berlindung di balik lembaga pernikahan he he he…
Rongrongan orang-orang dengan berondongan pertanyaan-pertanyaan: Kapan kawin…??! Kapan nyusul…??? Pacarnya mana…!!? Lho kok sendirian aja…!!?!? Dan sejuta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bikin kuping gw terbakar dan hati gw mau meledak.
Pertanyaan-pertanyaan itu banyak versinya, ada yang disampaikan:
- dengan lembut penuh empati sebagai bentuk perhatian,
- dengan dingin tanpa ekspresi,
- dengan gurauan garing dan basa basi yang bener-bener sudah basi,
- dengan pertanyaan menyudutkan
- dengan tatapan penuh curiga,
- dengan senyum melecehkan,
- dengan tertawa puas melihat nasib gw
- dan ekspresi-ekspresi lainnya.
Arrrgghhhh!!!! @#*..!!%#@&^..!!! Hati kecil gw pengen berteriak!!! Kenapa ngurusin masalah gw!!!? Kenapa turut campur urusan pribadi gw!?! Apa kalian sudah kekurangan kerjaan…??? Tapi tak ada yang keluar dari mulut gw. Yang keluar dari mulut gw hanyalah senyum (senyuman palsu uhuk uhukk!!!… guk guk guk… he he he…).
Kalo diperhatikan, ternyata orang-orang yang suka mengeluarkan pertanyaan usil itu adalah orang yang sama. Setelah dikerucutkan, gw menemukan satu orang yang paling usil dan menjengkelkan gw. Dia seorang pria berumur 48 tahun, profesinya guru, kadang jadi MC, dia menikah di usia hampir 40 tahun, dan gaya bicaranya kemayu (alias ngondek banget tapi sok berakting macho). Sebut saja namanya Bang Hendrik. Secara selintas dan dari dulu juga gw tahu kalo dia itu banci fuiihhhh!!! Tiap ketemu, pasti pertanyaannya sama: tapi diulang lagi, diulang lagi… lagi, lagi, lagi… gw sampai bosan, eneg, mual, pengen muntah, gatal-gatal, ketombean, bibir pecah-pecah wakakkakakak…. (kok ga nyambung ya? xi xi xi…).
Suatu hari, di sebuah resepsi pernikahan dia beraksi lagi dengan pertanyaan yang sama;
“Eh ada Farreeeeelll…” dengan suara ramah yang dibuat-buat dan tentu saja dengan nada bancinya yang original hi hi hi….
“Iya Bang” jawab gw dingin.
“Kapan dong nyusul…? Kok betah sendirian aja?” dia mulai melontarkan pertanyaan usilnya.
“Saya mah ga laku Bang” gw menjawab acuh tak acuh sambil menikmati zupa-zupa.
“Masa ganteng-ganteng gini ga laku?” sambil nyengir kuda, tambah menyebalkan.
“Kapan atuh, bikin resepsi kaya gini. Biar saya yang jadi MC-nya, tar dikasih harga special lho…”. Sambungnya.
Anjrit… selera makan gw langsung ilang, dada gw sesak seakan ditindih 5 karung beras. Emosi gw meluap, hampir meledak. Tapi gw berusaha tetep tenang.
“Sorry ya Bang. Apa maksud abang tiap ketemu nanyanya itu-itu aja?... apa abang ga ada kerjaan lain, selain ngasih pertanyaan-pertanyaan tolol kaya gitu? apa mulut abang ga bisa berenti ngusilin saya!!?” nada bicara gw dingin, tapi tegas.
“ehmmhh… bu bukan begitu Farreeeel...” dia tergagap, nyali Bang Hendrik keliatan ciut.
“Terus maunya apa!!? Kenapa ga ngurus urusan sendiri aja?!! Apa karena saya tidak menikah berarti hidup saya tidak bahagia!!!? Denger ya, kehidupan abang yang sudah menikah, belum tentu lebih bahagia dari saya!!! Omongan gw semakin tajam tapi kena sasaran.
“Apa karena saya ga nikah, terus dianggap aneh, dan bisa jadiin bahan olok-olokkan!!?? Lanjut gw, nada bicara gw semakin meninggi.
“Maksud saya Cuma ngasih perhatian saja, kok…” dia membela diri.
“Ah sudahlah!!!… saya ga butuh!!, saya bisa menghandle urusan saya sendiri!!!”.
“emmhhh… emmmhh….” Dia hanya bisa menggumam. Karena kaget dengan reaksi gw, sate ayam di piring kecil yang ada di tangannya sampai terjatuh. Sepertinya dia tidak siap menerima serangan balik dari gw he he he… Lagian gw ga akan pake MC segaring loe kale ha ha ha…(kata gw dalam hati).
Gw berlalu dari hadapan dia dengan senyum lebar dan perasaan puas.
Sejak saat itu dia ga pernah usil lagi. Kalo pun berpapasan di sebuah acara resepsi pernikahan, paling dia hanya say hello aja, ga lebih. Atau kalo gw melihat dia dari kejauhan gw sengaja langsung menghindar.
Di lain waktu, gw ketemu Bang Hendrik lagi. Bukan di pesta pernikahan tapi di Bumi Baru II, sebuah Rumah Duka di Jalan Holis, tempat menyemayamkan jenazah. Waktu itu gw datang melayat nenek teman gw yang meninggal.
Waktu berpapasan dengan Bang Hendrik di dekat peti jenazah, gw melontarkan pertanyaan usil:
“Kapan nyusul neh?” gw bicara dengan volume rendah, sambil mata gw melirik peti jenazah.
“Hush!!...” Bang Hendrik kaget menerima pertanyaan gw. Dia pucat, mencoba berusaha tersenyum tapi hambar.
“Kenapa Bang? Belom siap ya!?? bisik gw, sambil dalam hati tertawa puas.
Aduh ternyata si abang ini parno kalo berurusan dengan orang mati ha ha ha… Sekali lagi perasaan gw diliputi rasa puas, karena bisa membalas mulut usil dia he he he…
Conclusions:
Jangan mentang-mentang sudah merasa “normal” karena bisa menikahi perempuan, lantas merasa berhak dengan seenaknya mengobok-obok masalah pribadi orang lain. Banci mah tetep banci aja, bang. Ga bisa disembunyiin, sekalipun loe berlindung di balik lembaga pernikahan he he he…
Label:
binan,
blog,
cerita,
cinta,
curhat,
gay,
homoseksual,
kisah,
percaya diri,
pernikahan,
persahabatan,
pesta,
realita,
sejati,
sejenis,
soulmate
Jumat, 10 Juli 2009
Antara Religi Dan Realita
Sebelum gw mantap memasuki pintu gerbang dunia gay, gw adalah seorang yang lumayan religius. Gw sangat mengenal baik seluk beluk tentang agama yang gw anut sampai titik yang terdalam. Gw juga sangat faham hukum-hukum agama, dan tata cara ibadah yang baik. Ratusan buku tentang agama telah gw lalap, puluhan seminar keagamaan telah gw ikuti. Beberapa jabatan telah gw lakoni. Di tempat gw beribadah, gw termasuk dihormati karena gw adalah seorang aktivis dengan jam terbang gw cukup tinggi.
Namun tepatnya lebih dari 8 tahun yang lalu, sejak gw mengenal dunia gay, secara perlahan namun pasti gw mengalami degradasi keimanan. Aktivitas ibadah keagamaan gw makin menurun dan pada akhirnya berhenti sama sekali. Gw memutuskan buat cuti sementara he he he… Secara iman, gw sangat percaya keberadaan dan kekuasaan Tuhan, tapi disisi lain gw juga ga berdaya menahan gejolak hasrat ke-gay-an gw.
Gw selalu dihantui rasa bersalah setiap gw selesai memuaskan hasrat seks gw. Di satu sisi gw dituntut untuk hidup suci, tapi di sisi lain gw masih berkubang dalam lumpur dosa. Gw ga punya kuasa untuk lari dari kenyataan kalo gw seorang gay.
Dalam agama, kita hanya mengenal kata: Benar dan salah, pahala dan dosa, surga dan neraka, rewards and punishment. Agama juga hanya mengenal area hitam dan putih, ga ada yang namanya area abu-abu. Karena dosa dan kesucian tidak bisa berpadu, gelap dan terang ga mungkin menyatu. Kita ga bisa memilih hidup dalam dunia remang-remang… emangngya di tempat dugem? he he he….
Setahu gw, agama manapun menganggap homoseksual adalah dosa besar. Bahkan menurut agama yang gw anut, seorang pemburit (gay), tidak akan pernah bisa masuk kedalam kerajaan surga.
Antara religi dan homoseksual ga akan pernah ketemu ujungnya. Terdapat dinding tebal yang memisahkan keduanya. Ada jurang yang sangat dalam yang memisahkannya. Keduanya ga mungkin menyatu. Seperti air dan minyak, sampai lebaran simpanse pun tetap ga mungkin bisa disatukan he he he… Di luar negeri nun jauh di sana, ada orang-orang yang berusaha mencari pembenaran sendiri, dengan mendirikan tempat ibadah yang merestui kehidupan gay. Dan melegalkan perkawinan cinta sejenis. Tapi menurut gw, itu adalah perbuatan yang sia-sia. Untuk apa pembenaran dari manusia? Karena kebenaran yang sejati hanya milik Tuhan.
Pada satu titik. akhirnya gw mengambil keputusan untuk berhenti dulu dari aktivitas keagamaan. Gw ga mau terkekang menjadi seorang yang munafik. Gw merasa ga mungkin bisa menjalani kehidupan keduanya secara bersamaan. Dosa dan pahala ga diatur oleh hukum timbang menimbang (apalagi timbangan jengkol he he he…), dimana yang lebih berat itulah yang menjadi hasil akhir. Seperti peribahasa mengatakan: karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Begitu juga, segala usaha kita dalam rangka memperoleh pahala lewat ibadah, akan ternoda dan hancur oleh ‘nila setitik’ dosa homoseksual kita.
Setelah gw menghentikan aktivitas religi gw. Gw merasa menjadi orang yang baru. It’s the real me. Sekarang gw bener-bener merasa bebas dari belenggu rasa bersalah menjadi seorang gay.
Gw mengambil keputusan ini, bukan dengan maksud untuk euforia, berbuat semau gw menentang hukum Tuhan. Untuk sekarang ini gw hanya ingin menjalani kehidupan gay gw dengan tenang, tanpa rasa bersalah, tanpa dikejar-kejar rasa berdosa.
Gw yakin, suatu saat gw pasti menemukan titik jenuh. Dan disitulah saatnya gw untuk bertobat dan fokus untuk menebus dosa-dosa yang telah gw perbuat. Kemantapan dalam mengambil keputusan untuk bertobat harus bener-bener bulat. Kalo nanti Tuhan memberi gw kesempatan untuk bertobat. Gw pengen tobat yang bener-bener tobat, yang ga akan menengok kembali kearah belakang, tapi mantap menatap masa depan. Sekali lagi, TOBAT bukan TOMAT (tomat = tobat… kumat… tobat… kumat… tobat… kumat he he he…).
Hari minggu, 5 Juli 2009 kemaren. Gw nengok ibu teman gw, yang sedang dirawat di Rumah Sakit Immanuel, Bandung. Dia baru menjalani operasi pengangkatan batu empedu. Gw melihat ibu teman gw masih terkulai lemah dan kesadarannya belum bener-bener penuh, dia masih dalam pengaruh obat bius. Selain gw dan temen gw, disitu juga ada kakak temen gw.
“Ma, ini ada yang datang”. Kata temen gw ke ibunya.
“Tante, gimana? Udah baikan?”. Tanya gw.
Dia hanya tersenyum lemah, sambil menahan rasa sakit. Gw menyalami tangannya.
“Ma, tau ini siapa?”. Sahut temen gw, sambil menunjuk kearah gw.
“Farrel…”. Jawabnya, setelah berpikir beberapa saat.
Suasana hening... tanpa kata, tanpa suara.
“Farrel, tolong doain mama gw ya…” pinta temen gw.
Gw tersentak dalam hati, aduh!!! gw kan sudah lama ga pernah berdoa!!!… sudah lama gw ga pernah menghadap Tuhan. Gimana nih?... perasaan gw berkecamuk. Gw dikasih kehormatan untuk memimpin doa, tapi gw merasa ga enak hati melakukannya. Mungkin temen gw menyangka kalo gw masih sereligius kaya dulu. Tapi ah sudahlah…
Kata demi kata meluncur dari mulut gw, berbait-bait doa termohonkan. Ah…ternyata gw masih lancar dan fasih memanjatkan kalimat-kalimat doa… Setelah doa usai, gw melihat binar rasa terimakasih dari sorot mata temen gw dan kakaknya.
Lagi-lagi… gw kembali merasa jadi orang munafik…
Conclusions:
Doa yang tulus, sekalipun keluar dari mulut orang yang kotor. Gw sangat yakin, Tuhan pasti masih mau mendengarnya…
Namun tepatnya lebih dari 8 tahun yang lalu, sejak gw mengenal dunia gay, secara perlahan namun pasti gw mengalami degradasi keimanan. Aktivitas ibadah keagamaan gw makin menurun dan pada akhirnya berhenti sama sekali. Gw memutuskan buat cuti sementara he he he… Secara iman, gw sangat percaya keberadaan dan kekuasaan Tuhan, tapi disisi lain gw juga ga berdaya menahan gejolak hasrat ke-gay-an gw.
Gw selalu dihantui rasa bersalah setiap gw selesai memuaskan hasrat seks gw. Di satu sisi gw dituntut untuk hidup suci, tapi di sisi lain gw masih berkubang dalam lumpur dosa. Gw ga punya kuasa untuk lari dari kenyataan kalo gw seorang gay.
Dalam agama, kita hanya mengenal kata: Benar dan salah, pahala dan dosa, surga dan neraka, rewards and punishment. Agama juga hanya mengenal area hitam dan putih, ga ada yang namanya area abu-abu. Karena dosa dan kesucian tidak bisa berpadu, gelap dan terang ga mungkin menyatu. Kita ga bisa memilih hidup dalam dunia remang-remang… emangngya di tempat dugem? he he he….
Setahu gw, agama manapun menganggap homoseksual adalah dosa besar. Bahkan menurut agama yang gw anut, seorang pemburit (gay), tidak akan pernah bisa masuk kedalam kerajaan surga.
Antara religi dan homoseksual ga akan pernah ketemu ujungnya. Terdapat dinding tebal yang memisahkan keduanya. Ada jurang yang sangat dalam yang memisahkannya. Keduanya ga mungkin menyatu. Seperti air dan minyak, sampai lebaran simpanse pun tetap ga mungkin bisa disatukan he he he… Di luar negeri nun jauh di sana, ada orang-orang yang berusaha mencari pembenaran sendiri, dengan mendirikan tempat ibadah yang merestui kehidupan gay. Dan melegalkan perkawinan cinta sejenis. Tapi menurut gw, itu adalah perbuatan yang sia-sia. Untuk apa pembenaran dari manusia? Karena kebenaran yang sejati hanya milik Tuhan.
Pada satu titik. akhirnya gw mengambil keputusan untuk berhenti dulu dari aktivitas keagamaan. Gw ga mau terkekang menjadi seorang yang munafik. Gw merasa ga mungkin bisa menjalani kehidupan keduanya secara bersamaan. Dosa dan pahala ga diatur oleh hukum timbang menimbang (apalagi timbangan jengkol he he he…), dimana yang lebih berat itulah yang menjadi hasil akhir. Seperti peribahasa mengatakan: karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Begitu juga, segala usaha kita dalam rangka memperoleh pahala lewat ibadah, akan ternoda dan hancur oleh ‘nila setitik’ dosa homoseksual kita.
Setelah gw menghentikan aktivitas religi gw. Gw merasa menjadi orang yang baru. It’s the real me. Sekarang gw bener-bener merasa bebas dari belenggu rasa bersalah menjadi seorang gay.
Gw mengambil keputusan ini, bukan dengan maksud untuk euforia, berbuat semau gw menentang hukum Tuhan. Untuk sekarang ini gw hanya ingin menjalani kehidupan gay gw dengan tenang, tanpa rasa bersalah, tanpa dikejar-kejar rasa berdosa.
Gw yakin, suatu saat gw pasti menemukan titik jenuh. Dan disitulah saatnya gw untuk bertobat dan fokus untuk menebus dosa-dosa yang telah gw perbuat. Kemantapan dalam mengambil keputusan untuk bertobat harus bener-bener bulat. Kalo nanti Tuhan memberi gw kesempatan untuk bertobat. Gw pengen tobat yang bener-bener tobat, yang ga akan menengok kembali kearah belakang, tapi mantap menatap masa depan. Sekali lagi, TOBAT bukan TOMAT (tomat = tobat… kumat… tobat… kumat… tobat… kumat he he he…).
Hari minggu, 5 Juli 2009 kemaren. Gw nengok ibu teman gw, yang sedang dirawat di Rumah Sakit Immanuel, Bandung. Dia baru menjalani operasi pengangkatan batu empedu. Gw melihat ibu teman gw masih terkulai lemah dan kesadarannya belum bener-bener penuh, dia masih dalam pengaruh obat bius. Selain gw dan temen gw, disitu juga ada kakak temen gw.
“Ma, ini ada yang datang”. Kata temen gw ke ibunya.
“Tante, gimana? Udah baikan?”. Tanya gw.
Dia hanya tersenyum lemah, sambil menahan rasa sakit. Gw menyalami tangannya.
“Ma, tau ini siapa?”. Sahut temen gw, sambil menunjuk kearah gw.
“Farrel…”. Jawabnya, setelah berpikir beberapa saat.
Suasana hening... tanpa kata, tanpa suara.
“Farrel, tolong doain mama gw ya…” pinta temen gw.
Gw tersentak dalam hati, aduh!!! gw kan sudah lama ga pernah berdoa!!!… sudah lama gw ga pernah menghadap Tuhan. Gimana nih?... perasaan gw berkecamuk. Gw dikasih kehormatan untuk memimpin doa, tapi gw merasa ga enak hati melakukannya. Mungkin temen gw menyangka kalo gw masih sereligius kaya dulu. Tapi ah sudahlah…
Kata demi kata meluncur dari mulut gw, berbait-bait doa termohonkan. Ah…ternyata gw masih lancar dan fasih memanjatkan kalimat-kalimat doa… Setelah doa usai, gw melihat binar rasa terimakasih dari sorot mata temen gw dan kakaknya.
Lagi-lagi… gw kembali merasa jadi orang munafik…
Conclusions:
Doa yang tulus, sekalipun keluar dari mulut orang yang kotor. Gw sangat yakin, Tuhan pasti masih mau mendengarnya…
Label:
binan,
blog,
cerita,
cinta,
gay,
homoseksual,
kisah,
persahabatan,
realita,
religi. agama,
sejati,
sejenis
Rabu, 01 Juli 2009
Tertangkap Basah
Bandung, 19 Desember 2003
Seperti biasanya setiap weekend gw nginap di tempat kost Troy, my first love. Mulai Sabtu siang sampai hari minggu malam gw menemani Troy. Kami selalu menghabiskan waktu bersama dengan bermesraan sepanjang hari, sepanjang waktu… Sering kami menghabiskan hari tanpa keluar kamar. Berdua saja tanpa pakaian… Hanya cinta dan kehangatan yang menyelimuti tubuh polos kami. Mulai petang, hingga rembang tengah hari kami bergumul dalam lautan asmara. Tanpa rasa jenuh ataupun bosan, kami saling menyemai cinta dalam indahnya hari-hari kami… (wuiiihhh romantis amat neh he he he…).
Gw inget hari itu, Sabtu siang pukul 11.00. Gw dan Troy lagi ngobrol berdua sambil melepas kangen, maklum gw dan Troy ga bisa ketemu tiap hari. Tapi ada yang bikin kemesraan kami terganggu dan tertunda. Penyebabnya adalah kedatangan sahabat Troy, namanya Daniel. Daniel nimbrung dan ngobrol bareng dengan kami. Yup, gw dan Troy ga bebas lagi neh… coz ga mungkin kami bermesraan di depan Daniel, selain risih tentu saja karena Daniel straight, dan dia ga tau kalo gw dan Troy punya hubungan khusus.
Waktu berjalan terus. Ga ada tanda-tanda Daniel mau pamit pulang… hmmmhhh sungguh menjengkelkan. Tapi kami ga bisa berbuat apa-apa, selain harus sabar menunggu kepulangan Daniel. Jam menunjukkan pukul 16.00, tapi Daniel masih tetep asyik merecoki kami. Kekecewaan nampak dari raut wajah Troy, dia kesal karena Daniel ga pergi-pergi dari hadapan kami.
Pukul 22.00 Daniel masih belom pulang juga. Sudah banyak topik obrolan yang kami bahas, sudah banyak makanan yang sudah Daniel habiskan. Tapi tetap dia ga pulang-pulang. Ujung-ujungnya dia bilang:
“Troy, malam ini gw tidur disini ya?”
Busyet!! Bakalan hancur acara gw dan Troy malam ini, gw menggumam dalam hati.
“Wah kayanya ga bisa, Daniel. Sekarang kan lagi ada Farrel, mau tidur dimana? Kasur gw kan kecil”. Sahut Troy.
“Ah, nyantai aja… gw tidur di lantai juga gpp kok”. Daniel keukeuh.
“Mendingan loe tidur ke kostan loe aja, lagian ga jauh juga kan?” Troy mencoba bermuslihat.
“Ga ah males, udah malam”.
“Hmmmhhhh…”. Troy hanya bisa menggumam, kehabisan akal.
Akhirnya malam itu kami bertiga ngobrol sampai tengah malam. Mungkin karena kehilangan kesabarannya, akhirnya Troy beranjak pergi.
“Gw mau ngerjain tugas di luar…” Gumamnya, dengan malas. Troy keluar kamar sambil membawa setumpuk buku. Gw ngerti banget, Troy kesal harus menahan hasrat kami yang tertunda.
Pukul 02.15, Daniel sudah nyenyak dalam buaian mimpi. Gw keluar kamar, menghampiri Troy yang sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Gw mendekat lalu duduk di sofa beludru coklat disebelah Troy. Troy tersenyum menyambut kedatangan gw.
“Masih bete ya?” gw menggoda.
“Udah ga kok”. Dia sudah cooling down.
“Beneran…?” tanya gw, usil.
“Iyaaaa..!!” mata Troy mendelik sambil mencubit perut gw.
Lalu kami berciuman, melepas rasa kangen yang sudah tertunda sejak siang tadi. Gw melumat bibir merah mudanya. Troy tak kalah garang.
“Udah ah… takut ketahuan orang”. Sahut gw.
“Ga bakalan! semua pasti udah pada tidur kok. Nyantai aja”. Troy ga peduli.
Ciuman kami makin panas.
Nafas kami tersenggal-senggal, seakan berlomba-lomba dengan degup jantung kami yang makin kencang. Troy makin tak terkendali, dia mulai meraih ritzleting celana gw.
“Jangan kebablasan Troy…” Sahut gw mengingatkan.
“Tenang aja ga ada siapa-siapa kok”. Troy mengerling nakal.
Akhirnya gw pasrah waktu Troy memelorotkan celana gw sampai lutut. Gw rebah di sofa beludru coklat. Troy dengan bernafsu, melumat organ vital gw. Terus dan terus dia mengoral gw… seakan-akan dia ga ingin menyia-nyiakan setiap detik yang berlalu. Tiba-tiba kami dikejutkan sesosok cewek yang berdiri tertegun, dia nampak shock melihat apa yang terjadi dihadapannya.
Gw dan Troy tak kalah kagetnya. Yang cepat tersadar dari situasi ini adalah cewek itu,. Dia segera berlalu dengan langkah cepat menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan bunyi berdebum. Gw segera memakai celana gw. Wajah Troy masih terlihat pucat, ga siap rahasianya terbongkar. Cewek itu kemudian keluar dari kamar mandi, berlari kecil menuju kamarnya lagi. Dia bertingkah seolah-olah tidak melihat kejadian apa-apa. Dia berlalu tanpa melihat ke arah kami.
Cewek itu adalah Astrid, penghuni ruangan di sebelah kamar Troy, sekaligus teman kuliah Troy. Gw sudah lama tau, kalo Astrid itu naksir berat sama Troy. Astrid sering terlihat berusaha mencuri perhatian Troy, dengan berbagai cara. Dan sekarang? Dia sangat shock memergoki cowok idolanya ternyata seorang gay. Sorry, Astrid… Loe mencintai orang yang salah.
Conclusions:
Jadi inget lagu Meggy Z: Terlanjur basah… ya sudah mandi sekali… wakakakaka... Gw malu, tapi mau gimana lagi? Ga ada yang perlu disesali, coz waktu ga mungkin diputar kembali. Let’s be gone be by gone! Yang jelas gw bakal lebih berhati-hati memilih tempat untuk bermesraan he he he…
Seperti biasanya setiap weekend gw nginap di tempat kost Troy, my first love. Mulai Sabtu siang sampai hari minggu malam gw menemani Troy. Kami selalu menghabiskan waktu bersama dengan bermesraan sepanjang hari, sepanjang waktu… Sering kami menghabiskan hari tanpa keluar kamar. Berdua saja tanpa pakaian… Hanya cinta dan kehangatan yang menyelimuti tubuh polos kami. Mulai petang, hingga rembang tengah hari kami bergumul dalam lautan asmara. Tanpa rasa jenuh ataupun bosan, kami saling menyemai cinta dalam indahnya hari-hari kami… (wuiiihhh romantis amat neh he he he…).
Gw inget hari itu, Sabtu siang pukul 11.00. Gw dan Troy lagi ngobrol berdua sambil melepas kangen, maklum gw dan Troy ga bisa ketemu tiap hari. Tapi ada yang bikin kemesraan kami terganggu dan tertunda. Penyebabnya adalah kedatangan sahabat Troy, namanya Daniel. Daniel nimbrung dan ngobrol bareng dengan kami. Yup, gw dan Troy ga bebas lagi neh… coz ga mungkin kami bermesraan di depan Daniel, selain risih tentu saja karena Daniel straight, dan dia ga tau kalo gw dan Troy punya hubungan khusus.
Waktu berjalan terus. Ga ada tanda-tanda Daniel mau pamit pulang… hmmmhhh sungguh menjengkelkan. Tapi kami ga bisa berbuat apa-apa, selain harus sabar menunggu kepulangan Daniel. Jam menunjukkan pukul 16.00, tapi Daniel masih tetep asyik merecoki kami. Kekecewaan nampak dari raut wajah Troy, dia kesal karena Daniel ga pergi-pergi dari hadapan kami.
Pukul 22.00 Daniel masih belom pulang juga. Sudah banyak topik obrolan yang kami bahas, sudah banyak makanan yang sudah Daniel habiskan. Tapi tetap dia ga pulang-pulang. Ujung-ujungnya dia bilang:
“Troy, malam ini gw tidur disini ya?”
Busyet!! Bakalan hancur acara gw dan Troy malam ini, gw menggumam dalam hati.
“Wah kayanya ga bisa, Daniel. Sekarang kan lagi ada Farrel, mau tidur dimana? Kasur gw kan kecil”. Sahut Troy.
“Ah, nyantai aja… gw tidur di lantai juga gpp kok”. Daniel keukeuh.
“Mendingan loe tidur ke kostan loe aja, lagian ga jauh juga kan?” Troy mencoba bermuslihat.
“Ga ah males, udah malam”.
“Hmmmhhhh…”. Troy hanya bisa menggumam, kehabisan akal.
Akhirnya malam itu kami bertiga ngobrol sampai tengah malam. Mungkin karena kehilangan kesabarannya, akhirnya Troy beranjak pergi.
“Gw mau ngerjain tugas di luar…” Gumamnya, dengan malas. Troy keluar kamar sambil membawa setumpuk buku. Gw ngerti banget, Troy kesal harus menahan hasrat kami yang tertunda.
Pukul 02.15, Daniel sudah nyenyak dalam buaian mimpi. Gw keluar kamar, menghampiri Troy yang sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Gw mendekat lalu duduk di sofa beludru coklat disebelah Troy. Troy tersenyum menyambut kedatangan gw.
“Masih bete ya?” gw menggoda.
“Udah ga kok”. Dia sudah cooling down.
“Beneran…?” tanya gw, usil.
“Iyaaaa..!!” mata Troy mendelik sambil mencubit perut gw.
Lalu kami berciuman, melepas rasa kangen yang sudah tertunda sejak siang tadi. Gw melumat bibir merah mudanya. Troy tak kalah garang.
“Udah ah… takut ketahuan orang”. Sahut gw.
“Ga bakalan! semua pasti udah pada tidur kok. Nyantai aja”. Troy ga peduli.
Ciuman kami makin panas.
Nafas kami tersenggal-senggal, seakan berlomba-lomba dengan degup jantung kami yang makin kencang. Troy makin tak terkendali, dia mulai meraih ritzleting celana gw.
“Jangan kebablasan Troy…” Sahut gw mengingatkan.
“Tenang aja ga ada siapa-siapa kok”. Troy mengerling nakal.
Akhirnya gw pasrah waktu Troy memelorotkan celana gw sampai lutut. Gw rebah di sofa beludru coklat. Troy dengan bernafsu, melumat organ vital gw. Terus dan terus dia mengoral gw… seakan-akan dia ga ingin menyia-nyiakan setiap detik yang berlalu. Tiba-tiba kami dikejutkan sesosok cewek yang berdiri tertegun, dia nampak shock melihat apa yang terjadi dihadapannya.
Gw dan Troy tak kalah kagetnya. Yang cepat tersadar dari situasi ini adalah cewek itu,. Dia segera berlalu dengan langkah cepat menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan bunyi berdebum. Gw segera memakai celana gw. Wajah Troy masih terlihat pucat, ga siap rahasianya terbongkar. Cewek itu kemudian keluar dari kamar mandi, berlari kecil menuju kamarnya lagi. Dia bertingkah seolah-olah tidak melihat kejadian apa-apa. Dia berlalu tanpa melihat ke arah kami.
Cewek itu adalah Astrid, penghuni ruangan di sebelah kamar Troy, sekaligus teman kuliah Troy. Gw sudah lama tau, kalo Astrid itu naksir berat sama Troy. Astrid sering terlihat berusaha mencuri perhatian Troy, dengan berbagai cara. Dan sekarang? Dia sangat shock memergoki cowok idolanya ternyata seorang gay. Sorry, Astrid… Loe mencintai orang yang salah.
Conclusions:
Jadi inget lagu Meggy Z: Terlanjur basah… ya sudah mandi sekali… wakakakaka... Gw malu, tapi mau gimana lagi? Ga ada yang perlu disesali, coz waktu ga mungkin diputar kembali. Let’s be gone be by gone! Yang jelas gw bakal lebih berhati-hati memilih tempat untuk bermesraan he he he…
Senin, 22 Juni 2009
Setengah Hati
Akhir 2004, pertamakali gw ketemu dan mengenal Tezar. Hmmmhhh… biasalah perkenalan klasik kaum gay. Yup! dari chatting. Gw dan Tezar sama-sama chatting di daerah Buahbatu-Bandung, tapi beda warnet. Setelah ada kecocokan kami janjian untuk langsung ketemu malam itu.
Malam sudah larut… (kaya gula diseduh air aja ya he he he…). Jarum jam tangan gw menunjukkan pukul 11.18. hmmmhhh memang sudah terlalu malam untuk ketemuan. Gw menunggu, ditempat yang kami janjikan sambil duduk di jok sepeda motor kesayangan gw. Setelah 10 menit nunggu, dari jauh terlihat sesosok tubuh tinggi berbalut pakaian serba hitam (loe pikir yang datang ninja ya? he he he…). Akhirnya sosok itu mendekat, dan terlihatlah seorang pemuda tampan berpostur sedang. Gw mengulurkan tangan, sambil memperkenalkan diri:
“Farrel.”
“Tezar.” Sahutnya mantap.
“Lama nunggunya ya?” tanyanya.
“Lumayanlah…” jawab gw.
“Ngobrolnya jangan disini ya, ga enak dilihat orang” sahut Tezar
“Sekarang sudah malam, kita mau kemana gitu?” tanya gw.
“Gimana kalo ke kost-an aku aja?” Tezar menawarkan.
“Oke”. Jawab gw.
Gw dan Tezar berboncengan menuju kost-an Tezar di daerah Jl. Logam, lumayan agak jauh dari pusat kota.
Setelah di kost-an Tezar kami ngobrol ngalor ngidul. Menceritakan tentang latar belakang dan kegiatan kami sehari-hari. Dari obrolan itu, gw jadi tau kalo ternyata Tezar adalah seorang model. Gw juga sempet melihat koleksi beberapa majalah remaja milik Tezar, dengan cover bergambar Tezar. Malam itu aku menginap di tempat kost Tezar. Sudah bisa ditebak, malam itu kami ngapain kan? he he he…
Dari awal pertemuan itu, secara rutin dan terus menerus terjadi pertemuan-pertemuan berikutnya.
Secara fisik Tezar itu cakep, sifatnya juga baik, ramah, dan perhatian. Tapi anehnya gw ga punya perasaan cinta sedikitpun sama dia. Padahal dia sudah beberapa kali ngomong, kalo dia jatuh cinta sama gw. Pada dasarnya gw emang typical orang yang ga mudah jatuh cinta. Gw memerlukan proses dan waktu untuk mencintai seseorang. Gw hanya bilang sama Tezar, untuk saat ini gw ga bisa janji apa-apa, kita jalani dulu aja apa adanya. Gw ga mau terpaksa, dipaksa, atau pun memaksakan diri untuk jatuh cinta sama seseorang. Gw juga ga mau menjalin suatu hubungan hanya karena perasaan ‘kasihan’.
Peribahasa mengatakan: “cinta itu tumbuh karena sering bertemu” yang dalam Bahasa Jerman-nya : “witing trisno jalaran soko kulino” he he he… Tapi anehnya, tetap saja gw ga menemukan juga chemistry hubungan gw dengan Tezar. Sebenernya gw kasihan sama Tezar. Tapi gw ga mau pura-pura. Gw ga mau terjebak dalam cinta semu.
Suatu hari, setelah berkeliling mengantarkan Tezar menemui clientnya di daerah kompleks TKI III. Gw dan Tezar mampir di sebuah rumah makan. Setelah menghajar ayam goreng dan kroni kroninya he he he… Tezar membuka obrolan.
“Farrel, ga kerasa ya kita udah kenal hampir 3 bulan”.
“O ya? masa sih?” tanya gw.
“Iya, aku inget banget lho semua detail pertemuan kita”. Sambung Tezar.
“Hmmmhhhh… O ya?” tanya gw lagi.
“Dari tadi O ya, o ya mulu… Oya Koya kali!!”
“Yeee… itu mah Uya Kuya atuh”. Kami pun tertawa.
Lalu Tezar mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya.
“Ini buat kamu Farrel… sengaja aku tulis sendiri khusus buat kamu.”
Gw menerima lipatan kertas itu…
“Ini lyric lagu yang ngegambarin perasaan gw saat ini…” Lanjut Tezar sambil tertunduk. Kelihatan banget kalo dia lagi menahan perasaan yang sedang berkecamuk di hatinya.
Lalu gw membuka lipatan kertas itu, Gw melihat rangkaian kata-kata yang ditulis dengan tinta hijau. Lalu gw membacanya.
SETENGAH HATI
Song By ADA Band
Tertegun ku memandangmu
Saat kau tinggalkanku menangis
Bodohnya ku mengharapmu
Jelas sudah tak kau pedulikan cintaku
Mestinya telah kusadari
Betapa perih cinta tanpa balasmu
Harusnya tak ku paksakan
Bila akhirnya kan melukaiku
Mungkin ku tak akan bisa
Jadikan dirimu
Kekasih yang seutuhnya mencinta
Namun kurelakan diri
Jika hanya setengah hati
Kau sejukkan jiwa ini
Ku hanya terus berharap
Satu hari kau mampu sadari
Tiada yang pernah mengerti
Sepertiku setulus hati mencintamu
With Love... Tezar
Rupanya lyric lagu dari Ada Band.
“Andai saja, kamu bisa mencintai aku… walau cuma dengan setengah hati kamu. Aku rela, dan pasti aku akan sangat bahagia, Farrel.” Suara Tezar tergetar. Dia memalingkan mukanya sambil menggigit bibirnya.
“Ehhmmmm…” Lidah gw kelu. Sumpah! gw ga tau harus ngomong apa.
“Ga perlu kamu jawab Farrel… Aku sudah tau jawabannya… Aku sudah tau perasaan kamu...”. Tezar tersenyum pahit.
Gw hanya menelan ludah, semua kata-kata gw tercekat di tenggorokan gw. Gw jadi merasa sangat berdosa sudah menggantung perasaan orang lain. Tapi gw ga berdaya.
Sejak itu, secara perlahan gw mulai mengurangi pertemuan gw dengan Tezar. Sampai akhirnya gw bener-bener lose contact dengan Tezar. Tapi secarik kertas bertuliskan lyric lagu ‘Setengah Hati’ itu masih gw simpan sampai sekarang… sampai kapan pun…
Malam minggu, 2 Mei 2009 di Amnesia. Ada seorang pemuda yang datang menghampiri gw.
“Hi, Farrel… masih ingat aku?” sapanya.
Mata gw melirik, dan terkunci pada sosok itu. Tezar.
“Eh Tezar… ya pasti ingetlah…” jawab gw yakin.
“Kamu masih cakep, masih sama kaya dulu”.
“Ah kamu bisa aja, aku udah tambah tua, Tezar…” jawab gw.
Lalu Gw dan Tezar larut dalam obrolan, ga peduli musik yang menghentak-hentak di sekeliling gw . Khayal gw seakan terbang lagi alam kenangan hampir 5 tahun yang lalu.
Ga banyak yang berubah dalam diri Tezar. Masih cakep, masih baik, masih ramah. Dia masih sama. Sama seperti perasaan gw padanya. Ga ada yang berubah.
Conclusions:
Biarkan cinta itu mengalir. Biarkan dia menemukan muaranya. Jangan pernah mencoba untuk memaksakan cinta. Karena cinta itu ikhlas tak menuntut balas…
Malam sudah larut… (kaya gula diseduh air aja ya he he he…). Jarum jam tangan gw menunjukkan pukul 11.18. hmmmhhh memang sudah terlalu malam untuk ketemuan. Gw menunggu, ditempat yang kami janjikan sambil duduk di jok sepeda motor kesayangan gw. Setelah 10 menit nunggu, dari jauh terlihat sesosok tubuh tinggi berbalut pakaian serba hitam (loe pikir yang datang ninja ya? he he he…). Akhirnya sosok itu mendekat, dan terlihatlah seorang pemuda tampan berpostur sedang. Gw mengulurkan tangan, sambil memperkenalkan diri:
“Farrel.”
“Tezar.” Sahutnya mantap.
“Lama nunggunya ya?” tanyanya.
“Lumayanlah…” jawab gw.
“Ngobrolnya jangan disini ya, ga enak dilihat orang” sahut Tezar
“Sekarang sudah malam, kita mau kemana gitu?” tanya gw.
“Gimana kalo ke kost-an aku aja?” Tezar menawarkan.
“Oke”. Jawab gw.
Gw dan Tezar berboncengan menuju kost-an Tezar di daerah Jl. Logam, lumayan agak jauh dari pusat kota.
Setelah di kost-an Tezar kami ngobrol ngalor ngidul. Menceritakan tentang latar belakang dan kegiatan kami sehari-hari. Dari obrolan itu, gw jadi tau kalo ternyata Tezar adalah seorang model. Gw juga sempet melihat koleksi beberapa majalah remaja milik Tezar, dengan cover bergambar Tezar. Malam itu aku menginap di tempat kost Tezar. Sudah bisa ditebak, malam itu kami ngapain kan? he he he…
Dari awal pertemuan itu, secara rutin dan terus menerus terjadi pertemuan-pertemuan berikutnya.
Secara fisik Tezar itu cakep, sifatnya juga baik, ramah, dan perhatian. Tapi anehnya gw ga punya perasaan cinta sedikitpun sama dia. Padahal dia sudah beberapa kali ngomong, kalo dia jatuh cinta sama gw. Pada dasarnya gw emang typical orang yang ga mudah jatuh cinta. Gw memerlukan proses dan waktu untuk mencintai seseorang. Gw hanya bilang sama Tezar, untuk saat ini gw ga bisa janji apa-apa, kita jalani dulu aja apa adanya. Gw ga mau terpaksa, dipaksa, atau pun memaksakan diri untuk jatuh cinta sama seseorang. Gw juga ga mau menjalin suatu hubungan hanya karena perasaan ‘kasihan’.
Peribahasa mengatakan: “cinta itu tumbuh karena sering bertemu” yang dalam Bahasa Jerman-nya : “witing trisno jalaran soko kulino” he he he… Tapi anehnya, tetap saja gw ga menemukan juga chemistry hubungan gw dengan Tezar. Sebenernya gw kasihan sama Tezar. Tapi gw ga mau pura-pura. Gw ga mau terjebak dalam cinta semu.
Suatu hari, setelah berkeliling mengantarkan Tezar menemui clientnya di daerah kompleks TKI III. Gw dan Tezar mampir di sebuah rumah makan. Setelah menghajar ayam goreng dan kroni kroninya he he he… Tezar membuka obrolan.
“Farrel, ga kerasa ya kita udah kenal hampir 3 bulan”.
“O ya? masa sih?” tanya gw.
“Iya, aku inget banget lho semua detail pertemuan kita”. Sambung Tezar.
“Hmmmhhhh… O ya?” tanya gw lagi.
“Dari tadi O ya, o ya mulu… Oya Koya kali!!”
“Yeee… itu mah Uya Kuya atuh”. Kami pun tertawa.
Lalu Tezar mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya.
“Ini buat kamu Farrel… sengaja aku tulis sendiri khusus buat kamu.”
Gw menerima lipatan kertas itu…
“Ini lyric lagu yang ngegambarin perasaan gw saat ini…” Lanjut Tezar sambil tertunduk. Kelihatan banget kalo dia lagi menahan perasaan yang sedang berkecamuk di hatinya.
Lalu gw membuka lipatan kertas itu, Gw melihat rangkaian kata-kata yang ditulis dengan tinta hijau. Lalu gw membacanya.
SETENGAH HATI
Song By ADA Band
Tertegun ku memandangmu
Saat kau tinggalkanku menangis
Bodohnya ku mengharapmu
Jelas sudah tak kau pedulikan cintaku
Mestinya telah kusadari
Betapa perih cinta tanpa balasmu
Harusnya tak ku paksakan
Bila akhirnya kan melukaiku
Mungkin ku tak akan bisa
Jadikan dirimu
Kekasih yang seutuhnya mencinta
Namun kurelakan diri
Jika hanya setengah hati
Kau sejukkan jiwa ini
Ku hanya terus berharap
Satu hari kau mampu sadari
Tiada yang pernah mengerti
Sepertiku setulus hati mencintamu
With Love... Tezar
Rupanya lyric lagu dari Ada Band.
“Andai saja, kamu bisa mencintai aku… walau cuma dengan setengah hati kamu. Aku rela, dan pasti aku akan sangat bahagia, Farrel.” Suara Tezar tergetar. Dia memalingkan mukanya sambil menggigit bibirnya.
“Ehhmmmm…” Lidah gw kelu. Sumpah! gw ga tau harus ngomong apa.
“Ga perlu kamu jawab Farrel… Aku sudah tau jawabannya… Aku sudah tau perasaan kamu...”. Tezar tersenyum pahit.
Gw hanya menelan ludah, semua kata-kata gw tercekat di tenggorokan gw. Gw jadi merasa sangat berdosa sudah menggantung perasaan orang lain. Tapi gw ga berdaya.
Sejak itu, secara perlahan gw mulai mengurangi pertemuan gw dengan Tezar. Sampai akhirnya gw bener-bener lose contact dengan Tezar. Tapi secarik kertas bertuliskan lyric lagu ‘Setengah Hati’ itu masih gw simpan sampai sekarang… sampai kapan pun…
Malam minggu, 2 Mei 2009 di Amnesia. Ada seorang pemuda yang datang menghampiri gw.
“Hi, Farrel… masih ingat aku?” sapanya.
Mata gw melirik, dan terkunci pada sosok itu. Tezar.
“Eh Tezar… ya pasti ingetlah…” jawab gw yakin.
“Kamu masih cakep, masih sama kaya dulu”.
“Ah kamu bisa aja, aku udah tambah tua, Tezar…” jawab gw.
Lalu Gw dan Tezar larut dalam obrolan, ga peduli musik yang menghentak-hentak di sekeliling gw . Khayal gw seakan terbang lagi alam kenangan hampir 5 tahun yang lalu.
Ga banyak yang berubah dalam diri Tezar. Masih cakep, masih baik, masih ramah. Dia masih sama. Sama seperti perasaan gw padanya. Ga ada yang berubah.
Conclusions:
Biarkan cinta itu mengalir. Biarkan dia menemukan muaranya. Jangan pernah mencoba untuk memaksakan cinta. Karena cinta itu ikhlas tak menuntut balas…
Minggu, 14 Juni 2009
Memberi Suara Pada Yang Bisu
Ringkasan ini tidak tersedia. Harap
klik di sini untuk melihat postingan.
Sabtu, 13 Juni 2009
Kucing Terselubung
Akhir-akhir ini gw males dan jenuh chatting di channel #gxx, MIRC… selain orangnya itu-itu aja, orang-orangnya sering menyebalkan, sex oriented atau malah money oriented, jual diri di dunia maya weeekkks!!! Swear!!!… ada yang terang-terangan pasang tarif ada juga yang terselubung… hmmmhh… Memang sih ga semuanya yang chat di #gxx kaya gitu… Tapi tetep gw lebih suka chat di YM, Skype atau FB aja.
Malam itu gw lagi iseng chat di channel #gxx, seperti biasa gw langsung tertarik dengan nickname yang ‘eyecathing’ buat penyuka brondong kaya gw, bdg-first_time. Gw langsung membuka percakapan:
nickname_gw : “hi”
bdg-first_time :”hi 2”
bdg-first_time :”asl plz”
nickname_gw :”32/170/65
nickname_gw : “u”
bdg-first_time : “20/172/58”
bdg-first_time :nama/dmn?
nickname_gw : ……… di ……. (rahasia he he he…)
nickname_gw : “u”
bdg-first_time : “adit/dago” (di chatting banyak banget yang namanya Adit ya? he he he…).
nickname_gw : “beneran nih first time? belom pengalaman sama sekali?”
bdg-first_time : “iya beneran kok”
Dan bla bla bla…percakapan yang panjang dan standar dalam dunia chatting. Dari percakapan itu, gw dapat informasi kalo dia itu ngakunya: model, kuliah di bandung, B (first time kok tau kalo dirinya bot? he he he…) , dan lain sebagainya. Tak lupa kita pun trade pic. Kalo di lihat wajah sih ga terlalu istimewa… tapi lumayan bin biasa ajalah he he he…
Percakapan pun belanjut lebih panjang lagi…
bdg-first_time : “ketemuan aja yuk?”
nickname_gw : “ayo aja”
nickname_gw : “dimana?”
bdg-first_time : “simpang dago”
nickname_gw : “oke”
nickname_gw : “emang kita mau kemana dan ngapain?”
bdg-first_time : “ke kostan aku aja”
nickname_gw : “siiip”
nickname_gw : “tapi beneran kamu mau ‘nyoba’ untuk pertama kali sama gw?”
bdg-first_time : “ya tergantung”
nickname_gw : “tergantung apanya neh?”
bdg-first_time : “tergantung yang kamu kasih”
nickname_gw : “maksudnya… duit?”
bdg-first_time : “masa gitu aja ga ngerti”
nickname_gw : “ooohhh…”
nickname_gw : “berapa gitu?”
bdg-first_time : “500rb”
nickname_gw : “hmmmhhh…”
bdg-first_time: “ya udah 300rb aja”
nickname_gw : “sorry, gw ga biasa beli sex”
bdg-first_time : “kenapa?”
nickname_gw : “lagian yang merasakan enaknya juga bareng-bareng, bukan gw doang”
bdg-first_time : “keliatan kok dari tampang kamu juga, loe tuh suka yang gratisan”
nickname_gw : “maksudnya?”
bdg-first_time : “tampang loe tampang orang miskin” (mulai menghina)
nickname_gw : “o ya?”
nickname_gw : “gw lebih menyukai hubungan yang memakai perasaan dibandingkan transaksi sex doang”
bdg-first_time : “bilang aja ga mampu bayar!!!” (makin kurang ajar)
bdg-first_time : “orang miskin mau enaknya doang!!!”
nickname_gw : “kl gw mau, gw bisa bayar lebih dari yang loe minta, tapi gw ga sudi!!!”
bdg-first_time : “kalo miskin, ngaku aja miskin… kasian dech loe!!!” (makin melecehkan)
nickname_gw : “yang pengen dibayar tuh siapa? Jadi yang miskin itu siapa? secara logika juga loe dong yang jual diri!!!” (emosi gw terpancing)
bdg-first_time : “enak aja”
nickname_gw : “LOE TUH YANG MISKIN, GA PUNYA KERJAAN, MAKANYA LOE JADI PELACUR!!!
nickname_gw : “DARI FOTO-FOTO LOE JUGA GW TAU DARI KALANGAN MANA LOE BERASAL!!!”
Setelah itu dia diam, ga mampu berkata-kata lagi. Gw tau dia masih online tapi ga mampu membalas kata-kata gw yang tajam kena sasaran. Wuiiiihhh Yes !!! Yes!!! Yes!!! Rasain loe!!! Ha ha ha…
Conclusions:
Ah ternyata kucing. Ngakunya kucing anggora, padahal cuma kucing kampung, budukan lagi he he he… mendingan masukin ke karung aja trus bantingin ke tembok wakakakakaka… meoooookkkk!!!
Malam itu gw lagi iseng chat di channel #gxx, seperti biasa gw langsung tertarik dengan nickname yang ‘eyecathing’ buat penyuka brondong kaya gw, bdg-first_time. Gw langsung membuka percakapan:
nickname_gw : “hi”
bdg-first_time :”hi 2”
bdg-first_time :”asl plz”
nickname_gw :”32/170/65
nickname_gw : “u”
bdg-first_time : “20/172/58”
bdg-first_time :nama/dmn?
nickname_gw : ……… di ……. (rahasia he he he…)
nickname_gw : “u”
bdg-first_time : “adit/dago” (di chatting banyak banget yang namanya Adit ya? he he he…).
nickname_gw : “beneran nih first time? belom pengalaman sama sekali?”
bdg-first_time : “iya beneran kok”
Dan bla bla bla…percakapan yang panjang dan standar dalam dunia chatting. Dari percakapan itu, gw dapat informasi kalo dia itu ngakunya: model, kuliah di bandung, B (first time kok tau kalo dirinya bot? he he he…) , dan lain sebagainya. Tak lupa kita pun trade pic. Kalo di lihat wajah sih ga terlalu istimewa… tapi lumayan bin biasa ajalah he he he…
Percakapan pun belanjut lebih panjang lagi…
bdg-first_time : “ketemuan aja yuk?”
nickname_gw : “ayo aja”
nickname_gw : “dimana?”
bdg-first_time : “simpang dago”
nickname_gw : “oke”
nickname_gw : “emang kita mau kemana dan ngapain?”
bdg-first_time : “ke kostan aku aja”
nickname_gw : “siiip”
nickname_gw : “tapi beneran kamu mau ‘nyoba’ untuk pertama kali sama gw?”
bdg-first_time : “ya tergantung”
nickname_gw : “tergantung apanya neh?”
bdg-first_time : “tergantung yang kamu kasih”
nickname_gw : “maksudnya… duit?”
bdg-first_time : “masa gitu aja ga ngerti”
nickname_gw : “ooohhh…”
nickname_gw : “berapa gitu?”
bdg-first_time : “500rb”
nickname_gw : “hmmmhhh…”
bdg-first_time: “ya udah 300rb aja”
nickname_gw : “sorry, gw ga biasa beli sex”
bdg-first_time : “kenapa?”
nickname_gw : “lagian yang merasakan enaknya juga bareng-bareng, bukan gw doang”
bdg-first_time : “keliatan kok dari tampang kamu juga, loe tuh suka yang gratisan”
nickname_gw : “maksudnya?”
bdg-first_time : “tampang loe tampang orang miskin” (mulai menghina)
nickname_gw : “o ya?”
nickname_gw : “gw lebih menyukai hubungan yang memakai perasaan dibandingkan transaksi sex doang”
bdg-first_time : “bilang aja ga mampu bayar!!!” (makin kurang ajar)
bdg-first_time : “orang miskin mau enaknya doang!!!”
nickname_gw : “kl gw mau, gw bisa bayar lebih dari yang loe minta, tapi gw ga sudi!!!”
bdg-first_time : “kalo miskin, ngaku aja miskin… kasian dech loe!!!” (makin melecehkan)
nickname_gw : “yang pengen dibayar tuh siapa? Jadi yang miskin itu siapa? secara logika juga loe dong yang jual diri!!!” (emosi gw terpancing)
bdg-first_time : “enak aja”
nickname_gw : “LOE TUH YANG MISKIN, GA PUNYA KERJAAN, MAKANYA LOE JADI PELACUR!!!
nickname_gw : “DARI FOTO-FOTO LOE JUGA GW TAU DARI KALANGAN MANA LOE BERASAL!!!”
Setelah itu dia diam, ga mampu berkata-kata lagi. Gw tau dia masih online tapi ga mampu membalas kata-kata gw yang tajam kena sasaran. Wuiiiihhh Yes !!! Yes!!! Yes!!! Rasain loe!!! Ha ha ha…
Conclusions:
Ah ternyata kucing. Ngakunya kucing anggora, padahal cuma kucing kampung, budukan lagi he he he… mendingan masukin ke karung aja trus bantingin ke tembok wakakakakaka… meoooookkkk!!!
Label:
binan,
cerita,
chatting,
cinta,
gay,
homoseksual,
homosexual,
kisah,
persahabatan,
sejati,
sejenis,
soulmate
I Really Miss You Ronald
Perjalanan panjang persahabatan antara gw dan Ronald: sangat unik, complicated, tapi tulus, dan hangat. Mungkin buat orang awam hubungan persahabatan kami adalah persahabatan yang ‘aneh’, maklum umur antara gw dan Ronald terpaut sangat jauh. Ronald adalah salah satu sahabat terbaik yang gw temukan di dunia gay (selain Daffa). Ronald itu orangnya cute, ramah, murah senyum, supel, rame kalo ngomong, manja, cuex, easy going, sangat memperhatikan penampilan, kadang suka ga inget sama janji (gubrax!!!), miss telat he he he…
Hmmmhhhh banyak hal yang terjadi antara gw dengan Ronald. Ya, 4 tahun bukanlah waktu yang singkat buat saling mengenal. Gw sudah sangat hafal gelagat dan kebiasaan dia. Ga ada yang bisa dia sembunyikan dari gw tentang dirinya. Mungkin karena gw sudah sangat mengenal karakter dia (ditambah info-info dari informan terpercaya gw, Daffa he he he…).
Ronald anaknya asyik buat diajak jalan, karaoke, nongkrong, berenang, nonton film, wisata kuliner malam-malam, clubbing, dan begadang di warnet (even di rumah gw ada internet, tapi tetep aja ga bisa nolak ajakan Ronald he he he…).
Jarak rumah kami yang agak berdekatan membuat gw bisa sering jalan bareng dengan dia. Bukan hanya jalan di mall aja, kami pun suka bertualang jalan ke hutan, gunung dan objek wisata lainnya. Sekedar mencari udara segar dan foto-foto. Ya, Ronald sering jadi ‘model’ amatiran gw yang punya hobby fotografi he he he... Kalo di depan kamera dia ga pernah mati gaya, luwes, mudah diarahkan untuk bergaya, dan tentu saja fotogenic.
Ronald (dan Daffa he he he…) adalah orang yang meruntuhkan prinsip gw, yang ga suka dan ga pernah clubbing. Dia berhasil meyakinkan gw untuk mencoba dan akhirnya jadi suka he he he… Tapi akhirnya gw jadi menyesal… kenapa ga dari dulu ya tau clubbing? wakakakaka… Kenturan tubuh Ronald menari mengikuti dentuman irama musik, kadang membuat gw iri. Coz badan gw kalo dance kaku banget kaya robot weeeekkkkss!!!
Kehidupan asmara Ronald rupanya sering ga sesuai dengan harapannya. Cepat jatuh cinta, cepat punya pacar tapi cepat putus juga he he he… Ah.. maklum namanya juga brondong, masih mencari jati diri.
Sabtu 2 Mei 2009, adalah kepulangan Daffa dari Bali. Malamnya Ronald mengajak Gw dan Daffa clubbing di Amnesia. Katanya ini adalah clubbing bareng-bareng yang terakhir karena dia mau kerja di Jakarta. Sekalipun Daffa masih cape, tapi demi sahabat, dia maksain ikut juga. Jadilah malam itu kami clubbing dan have fun bareng.
Hari Senin, adalah hari keberangkatan Ronald ke Jakarta. Gw masih inget coz gw yang nganter dia ke tempat travel yang akan dia tumpangi. Ya jam 6 sore, gw antar dia… gw menemani dia sampai keberangkatannya jam 6.30. Dia bilang “aku sedih dan berat ninggalin Bandung dan teman-teman…” (suaranya serak, sedikit menahan tangis…hhmmm..). Dan mobil pun melaju membawa Ronald dari tatapan mata gw…
Ah, dasar Ronald…!!! Sabtu depannya, ternyata dia udah balik lagi dari Jakarta. Dia sengaja datang cuma untuk ngajak clubbing lagi ha ha ha… Dan keesokkan harinya dia balik lagi ke Jakarta… weleh weleh…
Sejak itu gw dan Ronald ga penah ketemu lagi, hanya sesekali telepon… Gw bener-bener kehilangan dia… Kangen candaannya, kangen jalan bareng, kangen karaoke bareng… hmmmmhhh…. I really miss you, Ronald…
Conclusions:
Benar kata orang bijak: Kita baru menyadari kalau kita memiliki seseorang yang berharga, setelah kita kehilangan orang tersebut… uhuk uhuk…
Hmmmhhhh banyak hal yang terjadi antara gw dengan Ronald. Ya, 4 tahun bukanlah waktu yang singkat buat saling mengenal. Gw sudah sangat hafal gelagat dan kebiasaan dia. Ga ada yang bisa dia sembunyikan dari gw tentang dirinya. Mungkin karena gw sudah sangat mengenal karakter dia (ditambah info-info dari informan terpercaya gw, Daffa he he he…).
Ronald anaknya asyik buat diajak jalan, karaoke, nongkrong, berenang, nonton film, wisata kuliner malam-malam, clubbing, dan begadang di warnet (even di rumah gw ada internet, tapi tetep aja ga bisa nolak ajakan Ronald he he he…).
Jarak rumah kami yang agak berdekatan membuat gw bisa sering jalan bareng dengan dia. Bukan hanya jalan di mall aja, kami pun suka bertualang jalan ke hutan, gunung dan objek wisata lainnya. Sekedar mencari udara segar dan foto-foto. Ya, Ronald sering jadi ‘model’ amatiran gw yang punya hobby fotografi he he he... Kalo di depan kamera dia ga pernah mati gaya, luwes, mudah diarahkan untuk bergaya, dan tentu saja fotogenic.
Ronald (dan Daffa he he he…) adalah orang yang meruntuhkan prinsip gw, yang ga suka dan ga pernah clubbing. Dia berhasil meyakinkan gw untuk mencoba dan akhirnya jadi suka he he he… Tapi akhirnya gw jadi menyesal… kenapa ga dari dulu ya tau clubbing? wakakakaka… Kenturan tubuh Ronald menari mengikuti dentuman irama musik, kadang membuat gw iri. Coz badan gw kalo dance kaku banget kaya robot weeeekkkkss!!!
Kehidupan asmara Ronald rupanya sering ga sesuai dengan harapannya. Cepat jatuh cinta, cepat punya pacar tapi cepat putus juga he he he… Ah.. maklum namanya juga brondong, masih mencari jati diri.
Sabtu 2 Mei 2009, adalah kepulangan Daffa dari Bali. Malamnya Ronald mengajak Gw dan Daffa clubbing di Amnesia. Katanya ini adalah clubbing bareng-bareng yang terakhir karena dia mau kerja di Jakarta. Sekalipun Daffa masih cape, tapi demi sahabat, dia maksain ikut juga. Jadilah malam itu kami clubbing dan have fun bareng.
Hari Senin, adalah hari keberangkatan Ronald ke Jakarta. Gw masih inget coz gw yang nganter dia ke tempat travel yang akan dia tumpangi. Ya jam 6 sore, gw antar dia… gw menemani dia sampai keberangkatannya jam 6.30. Dia bilang “aku sedih dan berat ninggalin Bandung dan teman-teman…” (suaranya serak, sedikit menahan tangis…hhmmm..). Dan mobil pun melaju membawa Ronald dari tatapan mata gw…
Ah, dasar Ronald…!!! Sabtu depannya, ternyata dia udah balik lagi dari Jakarta. Dia sengaja datang cuma untuk ngajak clubbing lagi ha ha ha… Dan keesokkan harinya dia balik lagi ke Jakarta… weleh weleh…
Sejak itu gw dan Ronald ga penah ketemu lagi, hanya sesekali telepon… Gw bener-bener kehilangan dia… Kangen candaannya, kangen jalan bareng, kangen karaoke bareng… hmmmmhhh…. I really miss you, Ronald…
Conclusions:
Benar kata orang bijak: Kita baru menyadari kalau kita memiliki seseorang yang berharga, setelah kita kehilangan orang tersebut… uhuk uhuk…
Label:
binan,
cerita,
cinta,
gay,
homoseksual,
kisah,
persahabatan,
sejati,
sejenis
Langganan:
Postingan (Atom)