Tampilkan postingan dengan label soulmate. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label soulmate. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 November 2010

Evergreen Love Songs

Sudah seminggu ini gw ‘riweuh’ (B. Sunda = sibuk) membantu sahabat gw Alvin merancang dan menyiapkan sebuah surprise party, untuk merayakan ulang tahun pacarnya, Viona. Mulai dari pemilihan cafe, pesan kue tart, ngundang teman-teman, format acara, dan tentu saja plus jadi fotografer amatiran juga he he he...

Dan kemaren malam terlaksanalah sudah surprise party itu. Semua acara berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Seneng juga liat ekspresi wajah Viona yang campur aduk antara senang, kaget, bingung, terharu, dan bahagia. Bibirnya tersenyum tapi matanya berkaca-kaca, dan dipertengahan hingga akhir acara, dia nampak tertawa lepas. Tak ketinggalan, Alvin juga ngerasa puas dengan hasil jerih payah gw.

Yang hadir lumayan banyak mulai dari teman-teman dekat sampai dengan keluarga Viona dan keluarga Alvin, komplit. Dan diantara tamu-tamu dewasa terseliplah 1 orang brondonk cakep 17 tahun yang menarik perhatian gw, namanya Daniel (sayangnya dia pacar adik perempuan Viona he he he...). Sebetulnya gw sudah kenal sama Daniel lebaran kemarin, waktu kami sama-sama gabung wisata bareng Alvin dan keluarga Viona. Di sana gw jadi tau banyak hal tentang Daniel, termasuk tau kalo ternyata sejak umur 2 tahun dia sudah kehilangan figur ayah, karena ayahnya meninggal akibat sebuah kecelakaan lalulintas. Kulit putih, tinggi 178cm, cakep, pokoknya tipe gw bangetlah he he he... Gaydar gw sih menangkap signal (walau lemah), kalo Danie tuh ada kemungkinan PLU (people like us) juga. Even ternyata dia gay sekalipun, gw akan tetep memegang teguh prinsip gw, kalo gw ga akan pernah membuka diri sama orang-orang yang berasal dari lingkungan teman-teman straight gw. Hanya mengagumi, hanya memuji he he he...

Eh, kok ceritanya jadi ngelantur ya? he he he... Back to the party. Setelah acara ultah dan makan-makan kelar. Kami semua berkaraoke ria (memanfaatkan fasilitas cafe he he he...). Walau CD lagu-lagunya terbatas dan didominasi sama lagu-lagu tembang kenangan alias jadul, ga ngurangin kegembiraan kami semua. Dan anak-anak mudanya sedikit tersegarkan dengan lagu-lagu baru dari CD-CD karaoke yang sengaja gw bawa dari rumah. Disana, jadilah gw sebagai ‘pemandu lagu’ dadakan he he he... Coz gw lumayan banyak tau soal lagu-lagu oldies dan juga masih suka update lagu-lagu baru.

Acara karaoke dibuka dengan lagu Mengenangmu – Kerispatih, yang dengan senang hati gw nyanyiin he he he... (setelah sebelumnya ga ada yang mau nyanyi duluan). Dan seperti biasanya setelah ada yang memulai barulah yang laen pada berani unjuk gigi (unjuk gigi? Emang giginya pada tonggos gt? he he he.. huft!) dan meluncurlah lagu demi lagu dibawah ini:
-Tonight I Celebrate My Love For You – Peabo Bryson And Roberta Flack
-Eternal Flame – The Bangles
-Tears In Heaven – Eric Clapton
-How Deep Is Your Love – The Bee Gees
-Love Story – Andy Williams
-Boulevard – Dan Byrd
-Smoke Get In Your Eyes – The Platters
-Goodbye – Air Supply
-Saving All My Love For You – Whitney Houston
-Right Here Waiting – Richard Marx
-Nothing’s gonna Change My Love For You – George Benson
-Hotel California – Eagles
-Speak Softly Love – Andy Williams
-I Just Called To Say I Love You – Stevie Wonder
-It Might Be You – Stephen Bishop
-Feelings – Morris Albert
-Trully – Lionel Richie
-Can’t Take My Eyes Off You – Frankie Valli
-When You Tell Me That You Love Me – Diana Ross
-Endles Love - Diana Ross and Lionel Richie
-My Way – Frank Sinatra
-You Needed Me – Boyzone
-L.O.V.E. – Nat King Cole
-Yesterday – The Beatles
-Paint My Love - MLTR
-Benang Biru – Megy Z (dangdut)
-Menunggu – Ridho Rhoma (dangdut lagi he he he...)
-Sumpah I Love You - Mahadewi
-Tapi Bukan Aku – Kerispatih
-Camelia – Irwansyah
-Biarkan Jatuh Cinta – ST12
-Pelan-Pelan Saja – Kotak
-Geisha – Jika Cinta Dia
-Hampa Hatiku – Ungu
-Matahariku – Agnes Monica
-Sepanjang Usia – Kerispatih
-Dll.

Itu Cuma sebagian lagu-lagu yang gw inget he he he... Btw, lagu Sepanjang Usia – Kerispatih dinyanyiin sama Daniel si brondonk cakep lho he he he (catatan yang ga penting ya? hi hi hi...). Dia nanyi sambil malu-malu dan minta bantuan gw wk wk wk... Btw, sayang banget gw ga nemuin CD lagu House For Sale, jadi gw ga bisa nyanyi sambil curcol dech wkwkwk... (baca postingan sebelumnya).

Dengan nyanyiin lagu-lagu lawas gw seakan-akan dibawa memasuki labirin masa lalu (padahal banyak lagu-lagu yang sudah ada jauh sebelum gw lahir he he he...). Lagu-lagu tembang kenangan seolah menjadi mesin waktu, untuk menembus ke dalam era musik puluhan tahun yang lalu.

Gw jadi inget, beberapa tahun yang lalu gw pernah iseng-iseng merekam suara gw sendiri menyanyikan lagu-lagu jadul. Lagu-lagu yang cukup gw sukai dan punya kenangan tersendiri. Gw sudah upload 3 buah lagu yang gw nyanyiin di Youtube lho. Lagu Angin Malam baru banget gw upload (ih niat banget ya? heu heu heu...). Jadi yang buat penasaran pengen tau suara gw atau yang lagi ga ada kerjaan, tinggal dengerin aja langsung. Yang mo ikutan nyanyi juga boleh kok, tuh udah gw tulis lengkap lirik lagunya. Tapi ga boleh protes ya, kalo hasilnya ga memuaskan he he he... Coz pada dasarnya emang suara gw biasa aja, ditambah ga diedit pula. Jadilah ini suara gw apa adanya he he he... PERINGATAN!!!: Jika setelah mendengar suara gw ada efek samping pusing-pusing, mual dan muntah-muntah itu diluar tanggung jawab gw wkwkwk...



FEELINGS
Original Song By Morris Albert / Written By Louis ‘Loulou’ Gaste

Feelings, nothing more than feelings,
trying to forget my feelings of love.
Teardrops rolling down on my face,
trying to forget my feelings of love.
Feelings, for all my life I'll feel it.
I wish I've never met you, girl; you'll never come again.
Feelings, wo-o-o feelings,
wo-o-o, feelings again in my arms.
Feelings, feelings like I've never lost you
and feelings like I've never have you again in my heart.
Feelings, for all my life I'll feel it.
I wish I've never met you, girl; you'll never come again.
Feelings, feelings like I've never lost you
and feelings like I've never have you again in my life.
Feelings, wo-o-o feelings,
wo-o-o, feelings again in my arms.
Feelings...(repeat & fade)



BIRU
Original Song By Vina Panduwinata / Written By Dodo Zakaria

Tiada pernah aku bahagia
Sebahagia kini oh kasih
Sepertinya 'ku bermimpi
Dan hampir tak percaya
Hadapi kenyataan ini

Belai manja serta kecup sayang
Kau curahkan penuh kepastian
Hingga mampu menghapuskan
Luka goresan cinta
Yang sekian lama sudah menyakitkan

Kau terangkan gelap mataku
Kau hilangkan resah hatiku
Kau hidupkan lagi cintaku
Yang t'lah beku dan membiru

Kini tetes air mata haru
Menghiasi janji yang terpadu
Tuhan jangan kau pisahkan
Apapun yang terjadi
'Ku ingin s'lalu dekat kekasihku



ANGIN MALAM
Original Song By Broery Marantika / Written By A. Rianto

Berhembus angin malam, mencekam
Menghempas membelai wajah ayu
Itulah kenangan yang terakhir denganmu

Ku dekati dirimu, kau diam
Tersungging senyuman di bibirmu
Itulah senyuman yang terakhir darimu

Diiring gemuruh angin
Meniup daun-daun
Alam yang jadi saksi
Kau serahkan jiwa raga

Angin tetap berhembus tak henti
Walaupun sampai akhir hidupku
oh, angin malam bawa daku kepadanya

Sekarang gw ngambil ancang-ancang buat lari... Kabuuuurr!!! sambil nutup muka takut ditimpukin tomat busuk he he he....

Conclusions:
Lagu kenangan bisa membuat kita senyum-senyum bahagia, membangkitkan semangat, atau malah bisa pula mengorek luka lama. Semua tergantung cara kita menyikapinya.

Selasa, 27 April 2010

My First Love

Pagi tadi gw terbangun, di luar sana terdengar sayup-sayup lagu First Love –Nikka Costa. lagu lawas yang masih enak untuk didengar... Lamunan gw menerawang jauh, menyusuri lorong waktu, mengarungi kenangan masa silam.

FIRST LOVE
Song by Nikka Costa

Everyone can see
There's a change in me
They all say I'm not the same
Kid I use to be

Don't go out and play
I just dream all day
They don't know what's wrong with me
And I'm too shy to say

It's my first love
What I'm dreaming on
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do

My first love
He thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could tell him what I'm feeling
'cause I'm feeling my first love

Mirror on the wall
Does he care at all
Does he ever notice me
Does he ever found

Tell me teddy bear
My love is so unfair
Will I ever found away
An answer to my pray
For my first love...


Lagu Nikka Costa ini, bener-bener ngegambarin perasaan remaja yang baru ngerasain artinya jatuh cinta. Tiap orang pasti pernah mengalami yang namanya cinta pertama alias cinta monyet. Tapi yang gw rasakan mungkin bukan cinta tapi hanya sekedar rasa suka. Atau mungkin lebih tepatnya gw ingin punya seseorang yang spesial, sama kaya temen-temen sebaya gw yang rata-rata sudah punya pacar.
Sebut saja namanya Lidya, seorang gadis remaja yang cantik, berhidung mancung dan bermata indah. Umurnya 2 tahun dibawah gw dan dia adik dari sahabat gw sendiri Marlon. Waktu itu gw baru mengjinjak kelas 2 SMA, dan dia Kelas 3 SMP. Gaya pacaran kami cukup unik, karena kami lebih saling mendukung dalam pendidikan. Ajaibnya ranking gw dan Lidya selalu sama. Mulai dari kisaran 5 besar, sampai masuk ranking 3 besar kami selalu sama.
Gw termasuk remaja yang alim dan taat beragama. Jadi walaupun pacaran, gw dan Lidya ga pernah melampaui batas. Paling banter, hanya berpegangan tangan. Itu pun sambil malu-malu kucing. Entah karena malu atau karena ga doyan he he he...
Waktu itu gw sering ngerasain pacaran dengan Lidya itu jadi beban buat gw. Seolah-olah gw harus melakukan kewajiban yang sebenernya gw sendiri ga suka. Apel malam minggu, antar jemput, nemenin dia belajar, jalan-jalan dll. gw lebih suka main dengan teman-teman cowok. Malah gw sering memprioritaskan sahabat-sahabat gw daripada Lidya. Ujung-ujungnya Lidya ngambek, ngerasa dicuekin.
Tapi hubungan kami yang bahasa sundanya: ‘awet rajet’ (awet tapi belangsak he he he...) berjalan sampai 4 tahun. Hubungan kami diakhiri dengan perpisahan secara baik-baik dan kami tetap bersahabat. Jujur, waktu itu gw masih sayang sama Lidya.
Setelah hampir 1 tahun gw dan Lidya sama-sama menjomblo, lalu gw dan Lidya, masing-masing punya pacar lagi. Gw dengan Andrea, mantan murid sekolah minggu gw. Dan Lidya dengan Handoko, masih teman gw juga.
Tapi Andrea terlalu possessive, gw ga nyaman jalan sama dia. Dia ga terima kalo gw lebih ngutamain sahabat-sahabat gw (ya iya lah... he he he...). Dan dia sering cemburu melihat gw dan Lidya masih bersahabat. Hubungan gw dan Andrea hanya bertahan kurang dari 1 tahun, lalu gw memutuskan hubungan dengan dia.
Perjalanan percintaan gw dengan lawan jenis yang berikutnya ga pernah lebih dari 6 bulan. Jadian-bubar... jadian-bubar... jadian-bubar... gw kesannya seperti playboy cap jenggot kambing he he he... padahal sebenernya gw sedang dalam pencarian ‘cinta sejati’ gw, yang akhirnya gw sadari ga akan pernah gw temukan dalam sosok perempuan. Tapi gw keukeuh ‘denial’, gw mencari dan terus mencari. Sampai akhirnya gw lelah dan menyerah.
Dari sekian perempuan yang pernah mengisi hati gw, hanya Lidya yang meninggalkan kesan terdalam. Terlalu indah untuk dilupakan, tapi terlalu pedih untuk dikenang...
Selepas kuliah gw bekerja di salah satu bank swasta. Gw masih inget betul, waktu itu tanggal 17 September, jarum jam belum beranjak ke angka 9. Ada telpon buat gw yang ngabarin tentang sebuah kejadian tragis. Lidya dan Ibunya ditemukan terbunuh di rumahnya, dengan luka tusukan di sekujur tubuhnya. Mereka memang hidup berdua, setelah Marlon memutuskan menetap di Bali untuk belajar melukis, dan Marco adik Lidya tinggal dengan istrinya. Ayah Lidya memang sudah lama ga pernah pulang, dia lebih suka tinggal dengan isteri mudanya.
Pembunuh Lidya dan ibunya ternyata adalah tetangganya sendiri. Dia bermaksud mencuri dengan membobol atap rumah, tapi sialnya dia ketahuan. Entah karena panik, takut atau malu, dia nekat menghabisi 2 nyawa itu sekaligus.
Kejadian itu sangat membekas dihati gw. Masih tergambar jelas di benak gw, jasad Lidya dan ibunya terbujur kaku di dalam 2 peti jenazah di rumah duka. Tangisan pilu keluarga, kerabat dan sahabat mengiringi pemakaman Lidya dan ibunya. Mereka dikuburkan secara berdampingan.
3 tahun setelah kematiannya, Lidya sering menghampiri gw dalam mimpi-mimpi gw. hadir tidak dalam sosok yang menakutkan. Dalam mimpi-mimpi itu, Gw dan Lidya hanya ngobrol biasa... atau kadang dia cuma melintas di depan gw. Gw termasuk orang yang jarang bermimpi saat tidur. Tapi seminggu itu, dia hadir hampir setiap malam. Gw merasa ada sesuatu yang janggal, Lidya seolah sedang mengirimkan pesan khusus buat gw. Gw tersentak, gw baru sadar, hari itu tanggal 17 Maret, hari ulang tahunnya Lidya. Pagi itu gw bergegas pergi ke makam Lidya. Di jalan gw bertemu dengan Gunawan, sahabat gw dan Lidya yang mau berkunjung ke rumah gw.
“Farrel, mau kemana?” tanyanya.
“Mau ke makam Lidya” jawab gw.
“Lho kok aneh ya?, gw sekarang justru mau ngajak loe ke sana”. Katanya keheranan.
“Seminggu ini gw mimpi tentang Lidya terus...” sahut gw singkat.
“Oooohh... kok sama...” Gunanwan menggumam.
Gw dan Gunawan bergegas ke makam Lidya. Disana gw mendapati kuburan Lidya yang indah itu, tidak terawat. Dipenuhi rumput liar dan dedaunan kering. Gw dan Gunawan tanpa banyak bicara membersihkan kedua makam ibu dan anak itu. Ah... menyedihkan sekali... Lidya, i still care about you...
Sejak kepergian Lidya sampai sekarang, gw ga pernah berpacaran lagi dengan seorang perempuan. Dan sampai umur segini gw belum menikah juga. Orang-orang berpendapat kalo gw patah hati, karena cinta sejati gw dibawa mati. Tapi bukan itu penyebab yang sebenarnya... Karena setelah dari makam Lidya, gw memutuskan untuk menjadi diri sendiri. Membuka lembaran baru kehidupan percintaan gw. Dan menerima dengan ikhlas sisi ke-gay-an gw. My first love, but not my true love...


Conclusions:
Makna hidup dan penemuan jati diri, seringkali harus kita raih setelah mengarungi samudera problema. Riak... gelombang... bahkan badai... semakin menempa ketangguhan kita.

Sabtu, 15 Agustus 2009

I Hate Wedding Party

Sudah sejak beberapa tahun yang lalu gw enggan, atau tepatnya males datang ke undangan pesta pernikahan. Kalo bukan sodara atau sahabat deket gw yang ngundang, bisa dipastikan gw ga akan datang. Bukan karena benci sama yang ngundang. Bukan pula iri, karena gw ga bisa menggelar pesta yang sama. Tapi banyak hal yang bikin gw ga comfort terjebak dalam hiruk pikuk keramaian sebuah resepsi pernikahan.

Rongrongan orang-orang dengan berondongan pertanyaan-pertanyaan: Kapan kawin…??! Kapan nyusul…??? Pacarnya mana…!!? Lho kok sendirian aja…!!?!? Dan sejuta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bikin kuping gw terbakar dan hati gw mau meledak.
Pertanyaan-pertanyaan itu banyak versinya, ada yang disampaikan:
- dengan lembut penuh empati sebagai bentuk perhatian,
- dengan dingin tanpa ekspresi,
- dengan gurauan garing dan basa basi yang bener-bener sudah basi,
- dengan pertanyaan menyudutkan
- dengan tatapan penuh curiga,
- dengan senyum melecehkan,
- dengan tertawa puas melihat nasib gw
- dan ekspresi-ekspresi lainnya.

Arrrgghhhh!!!! @#*..!!%#@&^..!!! Hati kecil gw pengen berteriak!!! Kenapa ngurusin masalah gw!!!? Kenapa turut campur urusan pribadi gw!?! Apa kalian sudah kekurangan kerjaan…??? Tapi tak ada yang keluar dari mulut gw. Yang keluar dari mulut gw hanyalah senyum (senyuman palsu uhuk uhukk!!!… guk guk guk… he he he…).

Kalo diperhatikan, ternyata orang-orang yang suka mengeluarkan pertanyaan usil itu adalah orang yang sama. Setelah dikerucutkan, gw menemukan satu orang yang paling usil dan menjengkelkan gw. Dia seorang pria berumur 48 tahun, profesinya guru, kadang jadi MC, dia menikah di usia hampir 40 tahun, dan gaya bicaranya kemayu (alias ngondek banget tapi sok berakting macho). Sebut saja namanya Bang Hendrik. Secara selintas dan dari dulu juga gw tahu kalo dia itu banci fuiihhhh!!! Tiap ketemu, pasti pertanyaannya sama: tapi diulang lagi, diulang lagi… lagi, lagi, lagi… gw sampai bosan, eneg, mual, pengen muntah, gatal-gatal, ketombean, bibir pecah-pecah wakakkakakak…. (kok ga nyambung ya? xi xi xi…).

Suatu hari, di sebuah resepsi pernikahan dia beraksi lagi dengan pertanyaan yang sama;
“Eh ada Farreeeeelll…” dengan suara ramah yang dibuat-buat dan tentu saja dengan nada bancinya yang original hi hi hi….
“Iya Bang” jawab gw dingin.
“Kapan dong nyusul…? Kok betah sendirian aja?” dia mulai melontarkan pertanyaan usilnya.
“Saya mah ga laku Bang” gw menjawab acuh tak acuh sambil menikmati zupa-zupa.
“Masa ganteng-ganteng gini ga laku?” sambil nyengir kuda, tambah menyebalkan.
“Kapan atuh, bikin resepsi kaya gini. Biar saya yang jadi MC-nya, tar dikasih harga special lho…”. Sambungnya.

Anjrit… selera makan gw langsung ilang, dada gw sesak seakan ditindih 5 karung beras. Emosi gw meluap, hampir meledak. Tapi gw berusaha tetep tenang.
“Sorry ya Bang. Apa maksud abang tiap ketemu nanyanya itu-itu aja?... apa abang ga ada kerjaan lain, selain ngasih pertanyaan-pertanyaan tolol kaya gitu? apa mulut abang ga bisa berenti ngusilin saya!!?” nada bicara gw dingin, tapi tegas.
“ehmmhh… bu bukan begitu Farreeeel...” dia tergagap, nyali Bang Hendrik keliatan ciut.
“Terus maunya apa!!? Kenapa ga ngurus urusan sendiri aja?!! Apa karena saya tidak menikah berarti hidup saya tidak bahagia!!!? Denger ya, kehidupan abang yang sudah menikah, belum tentu lebih bahagia dari saya!!! Omongan gw semakin tajam tapi kena sasaran.
“Apa karena saya ga nikah, terus dianggap aneh, dan bisa jadiin bahan olok-olokkan!!?? Lanjut gw, nada bicara gw semakin meninggi.
“Maksud saya Cuma ngasih perhatian saja, kok…” dia membela diri.
“Ah sudahlah!!!… saya ga butuh!!, saya bisa menghandle urusan saya sendiri!!!”.
“emmhhh… emmmhh….” Dia hanya bisa menggumam. Karena kaget dengan reaksi gw, sate ayam di piring kecil yang ada di tangannya sampai terjatuh. Sepertinya dia tidak siap menerima serangan balik dari gw he he he… Lagian gw ga akan pake MC segaring loe kale ha ha ha…(kata gw dalam hati).
Gw berlalu dari hadapan dia dengan senyum lebar dan perasaan puas.

Sejak saat itu dia ga pernah usil lagi. Kalo pun berpapasan di sebuah acara resepsi pernikahan, paling dia hanya say hello aja, ga lebih. Atau kalo gw melihat dia dari kejauhan gw sengaja langsung menghindar.

Di lain waktu, gw ketemu Bang Hendrik lagi. Bukan di pesta pernikahan tapi di Bumi Baru II, sebuah Rumah Duka di Jalan Holis, tempat menyemayamkan jenazah. Waktu itu gw datang melayat nenek teman gw yang meninggal.
Waktu berpapasan dengan Bang Hendrik di dekat peti jenazah, gw melontarkan pertanyaan usil:
“Kapan nyusul neh?” gw bicara dengan volume rendah, sambil mata gw melirik peti jenazah.
“Hush!!...” Bang Hendrik kaget menerima pertanyaan gw. Dia pucat, mencoba berusaha tersenyum tapi hambar.
“Kenapa Bang? Belom siap ya!?? bisik gw, sambil dalam hati tertawa puas.

Aduh ternyata si abang ini parno kalo berurusan dengan orang mati ha ha ha… Sekali lagi perasaan gw diliputi rasa puas, karena bisa membalas mulut usil dia he he he…


Conclusions:
Jangan mentang-mentang sudah merasa “normal” karena bisa menikahi perempuan, lantas merasa berhak dengan seenaknya mengobok-obok masalah pribadi orang lain. Banci mah tetep banci aja, bang. Ga bisa disembunyiin, sekalipun loe berlindung di balik lembaga pernikahan he he he…

Kamis, 16 Juli 2009

Saksi Bisu Yang Diam Terbungkam

Malam minggu… Pada Suatu ketika… Setahun kemaren. Gw lagi kegatelan chatting dan nyambung dengan seorang brondong cute, yang bernama Darren. Waktu itu Darren belum genap berumur 17 tahun dan masih duduk di kelas III, di salah satu SMA Negeri yang cukup ternama di Kota Bandung. Setelah chat cukup lama dan menemukan kecocokan, akhirnya kami sepakat untuk ketemu. Tapi yang jadi persoalan adalah, dia lagi sama temannya. Ughhh damn!!! Alamat berantakan neh acara ketemuan kali ini!!! padahal jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

Ini sepenggal percakapan chatting gw dan Darren.
“Gimana neh? Emangnya temen kamu mau dikemanain?” tanya gw.
“Nyantai aja Bang. Temen aku mah orangnya asyik kok, ga rese. Lagian kita bisa pake tempat kost dia” jawabnya, enteng.
“Gila aja! Emangnya kita mau threesum?” lanjut gw.
“Kenapa ga?” tantang Darren.

Gw sampai -kata untuk menjawab. Hmmmhhh… anak-anak sekarang emang udah canggih dalam urusan esek esek neh he he he…
“Hmmmhhh… gimana ya?” gw jadi bingung.
“Nyantai aja ya Bang… Gpp kok.” rayunya.
“Ya udah kita ketemu dimana neh?” tanya gw.
“Di Dago aja, di depan hotel X”
“ Oke” gw setuju.

Jarum jam tangan yang melingkar di tangan kiri gw, sudah menunjukan hampir pukul 01.30 WIB, memang terlalu pagi untuk ketemuan. Tapi mau gimana lagi, udah terlanjur janji uy.
Tak memerlukan waktu yang lama gw menunggu di depan hotel X, gw melihat 2 orang brondong keluar dari sebuah gang di seberang hotel X. Secara sekilas juga gw udah bisa menilai, yang satu oke, yang satunya lagi… YGD (ya gitu dech he he he…).
“Hi, Bang Farrel ya?” Darren menyapa sambil tersenyum.
“Iya…” Sahut gw. Lalu kami bersalaman.
“Ini temen aku.” Darren memperkenalkan temannya
“Leon.” Dia memperkenalkan diri.
“Farrel.” Sahut gw. Sambil saling berjabat tangan.
“Eh sekarang kita mau kemana nih?” tanya gw.
“Kita nyari makan aja ya, Bang.” Pinta Darren.
“Ayo.” Gw setuju.

Kami berboncengan bertiga. Kami sepakat untuk makan di Gampoeng Aceh Dago. Kami makan sambil tetap ngobrol ngalor ngidul.
“udah kenyang?” tanya gw.
“Iya, udah. Aku makannya ga banyak kok” Jawab Darren sambil tersenyum.
“Kalo aku porsi makannya banyak, Bang. Malah aku mah ga kuat nahan laper, jadinya ngemil mulu ha ha ha…” Sahut Leon.
Ya iya lah, secara… Keliatan banget kalo dia itu tukang makan dan molor he he he… Liat aja, body-nya montok kaya kudanil lagi hamil xi xi xi…

Setelah beres makan, gw nganterin brondong-brondong itu pulang ke kostan Leon.
“Aku langsung pulang ya…” sahut gw.
“Kok, pulang?” Tanya Darren manja.
“Tidur disini aja, lagian udah terlalu pagi lho.” Lanjutnya.
“Iya, Bang. Gpp kok, nyantai aja” Leon nimbrung.

Akhirnya gw memutuskan untuk tidur di tempat kost Leon. Kami ngobrol sampai mata kami bener-bener ngantuk. Darren tidur menghadap tembok, gw di tengah, Leon di sebelah gw. Tak begitu lama tak terdengar lagi suara-suara obrolan… Hening menyergap, sunyi menyelinap. Rupanya Leon sudah nyenyak. Darren tidur membelakangi gw. Sementara, kantuk tak kunjung menghampiri gw.

Gw mencoba memeluk Darren dari belakang. Dalam beberapa detik ga ada reaksi. 1,2,3,…7,8,9.. Ga sampai hitungan ke sepuluh. Darren membalikkan badannya, dan membalas pelukan gw. Lalu dia melumat bibir gw, dan gw membalas ciumannya dengan bernafsu. Sesaat kemudian, badan kami sudah sama-sama polos. Kami terus dan terus… terbawa arus liar libido kami. Kami larut dalam gelora nafsu. Kami tak terhentikan saling memberi kenikmatan.

Gw dan Darren ga peduli keberadaan Leon. Gw tau banget, Leon sebenernya ga tidur. Dia terbangun mendengar desahan-desahan nafas gw dan Darren. Sesekali terlihat dia menyaksikan aksi kami, lewat cermin yang ada dihadapannya. Ah, peduli setan!!! he he he… Yang penting asyiiiiiikkk wakakakakaka….
Adzan subuh berkumandang, terdengar sayup bersahut-sahutan di kejauhan.
“Bang, udah subuh neh, orang-orang udah pada bangun... Lagian ga enak sama Leon…” Bisik Darren.
“Ohh… Ya udah, kita lanjutkan kapan-kapan aja....” Kata gw.
Lalu kami menghentikan aksi kami... Yup, gw harus menghormati keinginan Darren.
Darren dan gw kembali ke posisi semula. Dia berbalik ke tembok lagi. Dan gw berjuang agar mata gw bisa terpejam. Sementara Leon, ah… gw ga peduli he he he…

Tapi, keadaan itu ga berlangsung lama… gw merasakan ada hembusan nafas tersenggal-senggal di tengkuk gw. Kemudian gw merasa ada tangan yang memeluk gw dari belakang. Ah Darren… Dia menyerang gw, dan pertempuran pun berlanjut he he he…
“Bukannya ….” bisik gw di telinga Darren. Gw sengaja menggantung kalimat gw.
Darren hanya tersenyum nakal, dia menghentikan ocehan gw dengan ciuman panasnya… dia menyumpal mulut gw dengan bibir hangatnya… Kami sudah bener-bener kehilangan kendali.

Gw dan Darren ga peduli dengan tatapan mata Leon yang mengintip aksi kami lewat cermin.
Hari masih gelap. Pagi itu hasrat kami tepuaskan. Tuntas sudah pertempuran kami.
“Leon, punya tissu ga?” bisik gw di telinga Leon.

Leon mengambilkan tissu buat gw dan Darren dengan malas-malasan. Lalau Leon menyodorkan sekotak tissu untuk kami membersihkan diri…

Thanks Leon, Sorry ya gw ga ngajak-ngajak… (bisik gw dalam hati he he he…).
Pertemuan gw dan Darren, ga berhenti sampai disitu. Kami masih saling berhubungan baik sampai sekarang.

Conclusions:
Seringkali logika dan libido ga berbanding lurus… Logika akan kehilangan fungsinya, jika libido sudah pegang kendali… Tapi gw ga menyesalinya. Alias NO REGRETS!!! he he he…

Rabu, 01 Juli 2009

Tertangkap Basah

Bandung, 19 Desember 2003
Seperti biasanya setiap weekend gw nginap di tempat kost Troy, my first love. Mulai Sabtu siang sampai hari minggu malam gw menemani Troy. Kami selalu menghabiskan waktu bersama dengan bermesraan sepanjang hari, sepanjang waktu… Sering kami menghabiskan hari tanpa keluar kamar. Berdua saja tanpa pakaian… Hanya cinta dan kehangatan yang menyelimuti tubuh polos kami. Mulai petang, hingga rembang tengah hari kami bergumul dalam lautan asmara. Tanpa rasa jenuh ataupun bosan, kami saling menyemai cinta dalam indahnya hari-hari kami… (wuiiihhh romantis amat neh he he he…).

Gw inget hari itu, Sabtu siang pukul 11.00. Gw dan Troy lagi ngobrol berdua sambil melepas kangen, maklum gw dan Troy ga bisa ketemu tiap hari. Tapi ada yang bikin kemesraan kami terganggu dan tertunda. Penyebabnya adalah kedatangan sahabat Troy, namanya Daniel. Daniel nimbrung dan ngobrol bareng dengan kami. Yup, gw dan Troy ga bebas lagi neh… coz ga mungkin kami bermesraan di depan Daniel, selain risih tentu saja karena Daniel straight, dan dia ga tau kalo gw dan Troy punya hubungan khusus.
Waktu berjalan terus. Ga ada tanda-tanda Daniel mau pamit pulang… hmmmhhh sungguh menjengkelkan. Tapi kami ga bisa berbuat apa-apa, selain harus sabar menunggu kepulangan Daniel. Jam menunjukkan pukul 16.00, tapi Daniel masih tetep asyik merecoki kami. Kekecewaan nampak dari raut wajah Troy, dia kesal karena Daniel ga pergi-pergi dari hadapan kami.

Pukul 22.00 Daniel masih belom pulang juga. Sudah banyak topik obrolan yang kami bahas, sudah banyak makanan yang sudah Daniel habiskan. Tapi tetap dia ga pulang-pulang. Ujung-ujungnya dia bilang:
“Troy, malam ini gw tidur disini ya?”
Busyet!! Bakalan hancur acara gw dan Troy malam ini, gw menggumam dalam hati.
“Wah kayanya ga bisa, Daniel. Sekarang kan lagi ada Farrel, mau tidur dimana? Kasur gw kan kecil”. Sahut Troy.
“Ah, nyantai aja… gw tidur di lantai juga gpp kok”. Daniel keukeuh.
“Mendingan loe tidur ke kostan loe aja, lagian ga jauh juga kan?” Troy mencoba bermuslihat.
“Ga ah males, udah malam”.
“Hmmmhhhh…”. Troy hanya bisa menggumam, kehabisan akal.

Akhirnya malam itu kami bertiga ngobrol sampai tengah malam. Mungkin karena kehilangan kesabarannya, akhirnya Troy beranjak pergi.
“Gw mau ngerjain tugas di luar…” Gumamnya, dengan malas. Troy keluar kamar sambil membawa setumpuk buku. Gw ngerti banget, Troy kesal harus menahan hasrat kami yang tertunda.

Pukul 02.15, Daniel sudah nyenyak dalam buaian mimpi. Gw keluar kamar, menghampiri Troy yang sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Gw mendekat lalu duduk di sofa beludru coklat disebelah Troy. Troy tersenyum menyambut kedatangan gw.
“Masih bete ya?” gw menggoda.
“Udah ga kok”. Dia sudah cooling down.
“Beneran…?” tanya gw, usil.
“Iyaaaa..!!” mata Troy mendelik sambil mencubit perut gw.
Lalu kami berciuman, melepas rasa kangen yang sudah tertunda sejak siang tadi. Gw melumat bibir merah mudanya. Troy tak kalah garang.
“Udah ah… takut ketahuan orang”. Sahut gw.
“Ga bakalan! semua pasti udah pada tidur kok. Nyantai aja”. Troy ga peduli.
Ciuman kami makin panas.
Nafas kami tersenggal-senggal, seakan berlomba-lomba dengan degup jantung kami yang makin kencang. Troy makin tak terkendali, dia mulai meraih ritzleting celana gw.
“Jangan kebablasan Troy…” Sahut gw mengingatkan.
“Tenang aja ga ada siapa-siapa kok”. Troy mengerling nakal.

Akhirnya gw pasrah waktu Troy memelorotkan celana gw sampai lutut. Gw rebah di sofa beludru coklat. Troy dengan bernafsu, melumat organ vital gw. Terus dan terus dia mengoral gw… seakan-akan dia ga ingin menyia-nyiakan setiap detik yang berlalu. Tiba-tiba kami dikejutkan sesosok cewek yang berdiri tertegun, dia nampak shock melihat apa yang terjadi dihadapannya.

Gw dan Troy tak kalah kagetnya. Yang cepat tersadar dari situasi ini adalah cewek itu,. Dia segera berlalu dengan langkah cepat menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan bunyi berdebum. Gw segera memakai celana gw. Wajah Troy masih terlihat pucat, ga siap rahasianya terbongkar. Cewek itu kemudian keluar dari kamar mandi, berlari kecil menuju kamarnya lagi. Dia bertingkah seolah-olah tidak melihat kejadian apa-apa. Dia berlalu tanpa melihat ke arah kami.

Cewek itu adalah Astrid, penghuni ruangan di sebelah kamar Troy, sekaligus teman kuliah Troy. Gw sudah lama tau, kalo Astrid itu naksir berat sama Troy. Astrid sering terlihat berusaha mencuri perhatian Troy, dengan berbagai cara. Dan sekarang? Dia sangat shock memergoki cowok idolanya ternyata seorang gay. Sorry, Astrid… Loe mencintai orang yang salah.

Conclusions:
Jadi inget lagu Meggy Z: Terlanjur basah… ya sudah mandi sekali… wakakakaka... Gw malu, tapi mau gimana lagi? Ga ada yang perlu disesali, coz waktu ga mungkin diputar kembali. Let’s be gone be by gone! Yang jelas gw bakal lebih berhati-hati memilih tempat untuk bermesraan he he he…

Senin, 22 Juni 2009

Setengah Hati

Akhir 2004, pertamakali gw ketemu dan mengenal Tezar. Hmmmhhh… biasalah perkenalan klasik kaum gay. Yup! dari chatting. Gw dan Tezar sama-sama chatting di daerah Buahbatu-Bandung, tapi beda warnet. Setelah ada kecocokan kami janjian untuk langsung ketemu malam itu.

Malam sudah larut… (kaya gula diseduh air aja ya he he he…). Jarum jam tangan gw menunjukkan pukul 11.18. hmmmhhh memang sudah terlalu malam untuk ketemuan. Gw menunggu, ditempat yang kami janjikan sambil duduk di jok sepeda motor kesayangan gw. Setelah 10 menit nunggu, dari jauh terlihat sesosok tubuh tinggi berbalut pakaian serba hitam (loe pikir yang datang ninja ya? he he he…). Akhirnya sosok itu mendekat, dan terlihatlah seorang pemuda tampan berpostur sedang. Gw mengulurkan tangan, sambil memperkenalkan diri:
“Farrel.”
“Tezar.” Sahutnya mantap.
“Lama nunggunya ya?” tanyanya.
“Lumayanlah…” jawab gw.
“Ngobrolnya jangan disini ya, ga enak dilihat orang” sahut Tezar
“Sekarang sudah malam, kita mau kemana gitu?” tanya gw.
“Gimana kalo ke kost-an aku aja?” Tezar menawarkan.
“Oke”. Jawab gw.

Gw dan Tezar berboncengan menuju kost-an Tezar di daerah Jl. Logam, lumayan agak jauh dari pusat kota.
Setelah di kost-an Tezar kami ngobrol ngalor ngidul. Menceritakan tentang latar belakang dan kegiatan kami sehari-hari. Dari obrolan itu, gw jadi tau kalo ternyata Tezar adalah seorang model. Gw juga sempet melihat koleksi beberapa majalah remaja milik Tezar, dengan cover bergambar Tezar. Malam itu aku menginap di tempat kost Tezar. Sudah bisa ditebak, malam itu kami ngapain kan? he he he…

Dari awal pertemuan itu, secara rutin dan terus menerus terjadi pertemuan-pertemuan berikutnya.
Secara fisik Tezar itu cakep, sifatnya juga baik, ramah, dan perhatian. Tapi anehnya gw ga punya perasaan cinta sedikitpun sama dia. Padahal dia sudah beberapa kali ngomong, kalo dia jatuh cinta sama gw. Pada dasarnya gw emang typical orang yang ga mudah jatuh cinta. Gw memerlukan proses dan waktu untuk mencintai seseorang. Gw hanya bilang sama Tezar, untuk saat ini gw ga bisa janji apa-apa, kita jalani dulu aja apa adanya. Gw ga mau terpaksa, dipaksa, atau pun memaksakan diri untuk jatuh cinta sama seseorang. Gw juga ga mau menjalin suatu hubungan hanya karena perasaan ‘kasihan’.

Peribahasa mengatakan: “cinta itu tumbuh karena sering bertemu” yang dalam Bahasa Jerman-nya : “witing trisno jalaran soko kulino” he he he… Tapi anehnya, tetap saja gw ga menemukan juga chemistry hubungan gw dengan Tezar. Sebenernya gw kasihan sama Tezar. Tapi gw ga mau pura-pura. Gw ga mau terjebak dalam cinta semu.

Suatu hari, setelah berkeliling mengantarkan Tezar menemui clientnya di daerah kompleks TKI III. Gw dan Tezar mampir di sebuah rumah makan. Setelah menghajar ayam goreng dan kroni kroninya he he he… Tezar membuka obrolan.
“Farrel, ga kerasa ya kita udah kenal hampir 3 bulan”.
“O ya? masa sih?” tanya gw.
“Iya, aku inget banget lho semua detail pertemuan kita”. Sambung Tezar.
“Hmmmhhhh… O ya?” tanya gw lagi.
“Dari tadi O ya, o ya mulu… Oya Koya kali!!”
“Yeee… itu mah Uya Kuya atuh”. Kami pun tertawa.
Lalu Tezar mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya.
“Ini buat kamu Farrel… sengaja aku tulis sendiri khusus buat kamu.”

Gw menerima lipatan kertas itu…
“Ini lyric lagu yang ngegambarin perasaan gw saat ini…” Lanjut Tezar sambil tertunduk. Kelihatan banget kalo dia lagi menahan perasaan yang sedang berkecamuk di hatinya.
Lalu gw membuka lipatan kertas itu, Gw melihat rangkaian kata-kata yang ditulis dengan tinta hijau. Lalu gw membacanya.

SETENGAH HATI
Song By ADA Band

Tertegun ku memandangmu
Saat kau tinggalkanku menangis
Bodohnya ku mengharapmu
Jelas sudah tak kau pedulikan cintaku

Mestinya telah kusadari
Betapa perih cinta tanpa balasmu
Harusnya tak ku paksakan
Bila akhirnya kan melukaiku

Mungkin ku tak akan bisa
Jadikan dirimu
Kekasih yang seutuhnya mencinta
Namun kurelakan diri
Jika hanya setengah hati
Kau sejukkan jiwa ini

Ku hanya terus berharap
Satu hari kau mampu sadari
Tiada yang pernah mengerti
Sepertiku setulus hati mencintamu


With Love... Tezar

Rupanya lyric lagu dari Ada Band.
“Andai saja, kamu bisa mencintai aku… walau cuma dengan setengah hati kamu. Aku rela, dan pasti aku akan sangat bahagia, Farrel.” Suara Tezar tergetar. Dia memalingkan mukanya sambil menggigit bibirnya.
“Ehhmmmm…” Lidah gw kelu. Sumpah! gw ga tau harus ngomong apa.
“Ga perlu kamu jawab Farrel… Aku sudah tau jawabannya… Aku sudah tau perasaan kamu...”. Tezar tersenyum pahit.

Gw hanya menelan ludah, semua kata-kata gw tercekat di tenggorokan gw. Gw jadi merasa sangat berdosa sudah menggantung perasaan orang lain. Tapi gw ga berdaya.
Sejak itu, secara perlahan gw mulai mengurangi pertemuan gw dengan Tezar. Sampai akhirnya gw bener-bener lose contact dengan Tezar. Tapi secarik kertas bertuliskan lyric lagu ‘Setengah Hati’ itu masih gw simpan sampai sekarang… sampai kapan pun…

Malam minggu, 2 Mei 2009 di Amnesia. Ada seorang pemuda yang datang menghampiri gw.
“Hi, Farrel… masih ingat aku?” sapanya.
Mata gw melirik, dan terkunci pada sosok itu. Tezar.
“Eh Tezar… ya pasti ingetlah…” jawab gw yakin.
“Kamu masih cakep, masih sama kaya dulu”.
“Ah kamu bisa aja, aku udah tambah tua, Tezar…” jawab gw.

Lalu Gw dan Tezar larut dalam obrolan, ga peduli musik yang menghentak-hentak di sekeliling gw . Khayal gw seakan terbang lagi alam kenangan hampir 5 tahun yang lalu.
Ga banyak yang berubah dalam diri Tezar. Masih cakep, masih baik, masih ramah. Dia masih sama. Sama seperti perasaan gw padanya. Ga ada yang berubah.

Conclusions:
Biarkan cinta itu mengalir. Biarkan dia menemukan muaranya. Jangan pernah mencoba untuk memaksakan cinta. Karena cinta itu ikhlas tak menuntut balas…

Minggu, 14 Juni 2009

Memberi Suara Pada Yang Bisu

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Sabtu, 13 Juni 2009

Kucing Terselubung

Akhir-akhir ini gw males dan jenuh chatting di channel #gxx, MIRC… selain orangnya itu-itu aja, orang-orangnya sering menyebalkan, sex oriented atau malah money oriented, jual diri di dunia maya weeekkks!!! Swear!!!… ada yang terang-terangan pasang tarif ada juga yang terselubung… hmmmhh… Memang sih ga semuanya yang chat di #gxx kaya gitu… Tapi tetep gw lebih suka chat di YM, Skype atau FB aja.

Malam itu gw lagi iseng chat di channel #gxx, seperti biasa gw langsung tertarik dengan nickname yang ‘eyecathing’ buat penyuka brondong kaya gw, bdg-first_time. Gw langsung membuka percakapan:
nickname_gw : “hi”
bdg-first_time :”hi 2”
bdg-first_time :”asl plz”

nickname_gw :”32/170/65
nickname_gw : “u”
bdg-first_time : “20/172/58”
bdg-first_time :nama/dmn?

nickname_gw : ……… di ……. (rahasia he he he…)
nickname_gw : “u”
bdg-first_time : “adit/dago” (di chatting banyak banget yang namanya Adit ya? he he he…).
nickname_gw : “beneran nih first time? belom pengalaman sama sekali?”
bdg-first_time : “iya beneran kok”
Dan bla bla bla…percakapan yang panjang dan standar dalam dunia chatting. Dari percakapan itu, gw dapat informasi kalo dia itu ngakunya: model, kuliah di bandung, B (first time kok tau kalo dirinya bot? he he he…) , dan lain sebagainya. Tak lupa kita pun trade pic. Kalo di lihat wajah sih ga terlalu istimewa… tapi lumayan bin biasa ajalah he he he…

Percakapan pun belanjut lebih panjang lagi…
bdg-first_time : “ketemuan aja yuk?”
nickname_gw : “ayo aja”
nickname_gw : “dimana?”
bdg-first_time : “simpang dago”
nickname_gw : “oke”
nickname_gw : “emang kita mau kemana dan ngapain?”
bdg-first_time : “ke kostan aku aja”
nickname_gw : “siiip”
nickname_gw : “tapi beneran kamu mau ‘nyoba’ untuk pertama kali sama gw?”
bdg-first_time : “ya tergantung”
nickname_gw : “tergantung apanya neh?”
bdg-first_time : “tergantung yang kamu kasih”
nickname_gw : “maksudnya… duit?”
bdg-first_time : “masa gitu aja ga ngerti”
nickname_gw : “ooohhh…”
nickname_gw : “berapa gitu?”
bdg-first_time : “500rb”
nickname_gw : “hmmmhhh…”
bdg-first_time: “ya udah 300rb aja”
nickname_gw : “sorry, gw ga biasa beli sex”
bdg-first_time : “kenapa?”
nickname_gw : “lagian yang merasakan enaknya juga bareng-bareng, bukan gw doang”
bdg-first_time : “keliatan kok dari tampang kamu juga, loe tuh suka yang gratisan”
nickname_gw : “maksudnya?”
bdg-first_time : “tampang loe tampang orang miskin” (mulai menghina)
nickname_gw : “o ya?”
nickname_gw : “gw lebih menyukai hubungan yang memakai perasaan dibandingkan transaksi sex doang”
bdg-first_time : “bilang aja ga mampu bayar!!!” (makin kurang ajar)
bdg-first_time : “orang miskin mau enaknya doang!!!”
nickname_gw : “kl gw mau, gw bisa bayar lebih dari yang loe minta, tapi gw ga sudi!!!”
bdg-first_time : “kalo miskin, ngaku aja miskin… kasian dech loe!!!” (makin melecehkan)
nickname_gw : “yang pengen dibayar tuh siapa? Jadi yang miskin itu siapa? secara logika juga loe dong yang jual diri!!!” (emosi gw terpancing)
bdg-first_time : “enak aja”
nickname_gw : “LOE TUH YANG MISKIN, GA PUNYA KERJAAN, MAKANYA LOE JADI PELACUR!!!
nickname_gw : “DARI FOTO-FOTO LOE JUGA GW TAU DARI KALANGAN MANA LOE BERASAL!!!”

Setelah itu dia diam, ga mampu berkata-kata lagi. Gw tau dia masih online tapi ga mampu membalas kata-kata gw yang tajam kena sasaran. Wuiiiihhh Yes !!! Yes!!! Yes!!! Rasain loe!!! Ha ha ha…


Conclusions:
Ah ternyata kucing. Ngakunya kucing anggora, padahal cuma kucing kampung, budukan lagi he he he… mendingan masukin ke karung aja trus bantingin ke tembok wakakakakaka… meoooookkkk!!!

Sabtu, 30 Mei 2009

Do You Really Love Me?

Menemukan seorang soulmate yang bisa sepikir, sejalan dan satu visi dengan kita, adalah impian semua orang. Kita berharap pasangan kita adalah seorang yang sempurna, secara fisik, karakter, attitude, maupun financial. Tapi apa yang kita inginkan seringkali ga sesuai dengan kenyataan. Bahkan bisa jauuuuuh banget…
Kalo kita telusuri, ga ada tuh pasangan yang bener-bener ‘cocok’. Yang ada ada hanyalah ‘mencocokan’ diri. Kecocokan itu bukan ‘dicari’ tapi ‘dihasilkan’, dari adaptasi dan toleransi.

Pada awal-awal pacaran, mungkin semuanya terasa indah. Karena masing-masing masih belum memperlihatkan karakter aslinya. Beda pendapat, gesekkan, dan pertengkaran adalah bumbu pacaran. Tapi yakinlah, lewat semua itu kita bisa tau apa yang pasangan kita mau.
Sepenggal kisah masa lalu… kisah kasih gw sama seseorang. Dia sering tanya sama gw, “kenapa kamu sayang sama aku?’. Pertanyaan yang sederhana! Tapi jawabannya ga sesederhana kedengarannya.

Kalo gw jawab karena kamu cakep, tar kalo sudah tua dan jelek udah ga sayang lagi dong? Kalo gw jawab karena kamu baik, tar kalo suatu saat dia lagi bad mood dan nyebelin, gw ga sayang lagi dong? Ah memang sulit menjawabnya… tapi gw yakin sama perasaan gw sendiri kalo gw tuh sayang, bahkan sayang banget sama dia. Lalu dengan mantap gw menjawab “I Love You Just The Way You Are” . Aku mencintai kamu apa adanya... Dia tersenyum sambil matanya berkaca-kaca…

Dalam menjalin hubungan, sudah sepatutnya kita mencintai pasangan kita dengan tulus. Kita harus mencintai dia “apa adanya” bukan karena “ada apanya” he he he… Yup, kita harus mencintai pasangan kita secara satu paket. Bukan hanya mau menerima segala kelebihannya, tapi kita juga harus mau menerima semua kekurangannya.

Orang bijak berkata: cinta sejati itu tidak butuh alasan. Kalo cinta itu dilandasi oleh alasan-alasan karena dia cakep, kaya, baik dan lain-lain… percayalah, itu bukanlah cinta sejati.
“Mencintailah bukan dengan KARENA”. Aku mencintaimu KARENA kamu…. (isi dengan kelebihan-kelebihan pasangan kita), tetapi “Mencintailah dengan WALAUPUN” . Aku mencintai WALAUPUN kamu…. (isi dengan kekurangan-kekurangan pasangan kita). Kalo kita bisa mencapai fase ini, maka kita sedang menuju cinta yang sejati. Seperti lagunya Once, yang berjudul Kucinta Kau Apa Adanya: Aku mau mendampingi dirimu… Aku mau cintai kekuranganmu… selalu bersedia bahagiakanmu… Apapun terjadi, kujanjikan aku ada… (so sweet…)
Jadi saat pasangan kita bertanya “Do You Really Love Me?” tak perlu ragu, katakanlah “I Do Love You!”

Conclusion:
Cinta bukanlah sekedar kata-kata indah. Cinta tanpa pengaktualisasian adalah omong kosong.