Jumat, 19 Juni 2009
Suara Malaikat VS Suara Mak Lampir
Musik ga pernah bisa lepas dan jauh dari hidup gw. Even gw ga mahir memainkan alat musik, tapi sense of music gw sangat tajam. Telinga gw sangat peka terhadap nada. Makanya sejak jaman jebot, gw sudah jadi vokalis band. Baik yang amatiran alias gratisan, maupun yang seriusan dan pasang tarif . Eiittsss jangan mikir yang ngerez ya soal pasang tarif? he he he… walau ga bagus-bagus banget gw wedding singer lho he he he….
Ga tau sejak kapan, kepekaan terhadap nada ini gw miliki. Kayanya bawaan dari orok dech. Atau entah karena seringnya gw mendengarkan musik. Dulu, waktu gw les vocal di salah satu, studio musik milik musisi terkenal. Gw dapet nilai tertinggi untuk feeling dan hearing (aduh, maaf jadi sombong neh he he he… jangan protes ya… wakakaka). Mungkin gara-gara talenta ini juga, yang membuat gw pernah dipercaya jadi juri lomba menyanyi anak-anak dan remaja di beberapa event yang lumayan besar di Bandung.
Karaoke adalah kegiatan yang sometimes gw lakukan untuk mengisi waktu. Ga sering-sering banget kok. Ya kalo pas ada waktu luang dan ada teman yang mengajak aja, baru gw karaoke. Daffa dan Ronald adalah teman berkaraoke yang bisa bikin suasana fun. Suara Daffa yang keriting, sekeriting rambut orang nigeria hi hi hi… Pokoknya jenis suaranya dangdut bangetz dech…Kalo Daffa nyanyiin lagu pop juga tetep aja kedengeran cengkok dangdutnya he he he…. Tapi timbre suara Daffa sangat empuk dan enak ditelinga alias merdu lho (Hayo! Daffa jangan GR ya…!!! he he he…). Bersama Daffa gw sering diskusi dan tuker informasi soal musik.
Daffa pernah ngajak temannya karaoke bareng sama gank kami. Namanya Diandra. Suaranya ga kalah keren sama suara Daffa. Cengkoknya juga ga kalah keriting dari Daffa he he he… (maklum dia pernah jadi finalis salah satu kontestan lomba nyanyi dangdut di salah satu televisi swasta nasional).
Postur tubuh Diandra tinggi menjulang, dengan bentuk tulang rahang kotak. Hmmmhh… menurut mitos, katanya kalo orang yang bentuk tulang rahangnya kotak suaranya pasti bagus. Dari pengamatan gw juga banyak penyanyi yang bertulang rahang kotak, suaranya bagus-bagus. Sebut saja: Erni Johan, Dian Pisesha, Nia Daniaty, Benyamin S., Baby Joel, Ermy Kulit, Margie Siegers, Fadly Vokalis Padi, Judika, Rhoma Irama, Ridho Rhoma, Koes Hendratmo, Nining Meida, Sule he he he… Pokoknya banyaklah… Semuanya rata-rata bersuara emas.
Setelah menilai suara Diandra, gw ngomongin soal ‘fenomena’ ini sama Daffa, dan dia setuju banget dengan mitos ini. Malah dia menambah panjang daftar artis-artis berahang kotak yang bersuara indah. Hmmmhhh… Mitos yang sempurna karena didukung oleh fakta yang meyakinkan.
Hari Senin, tanggal 15 Juni kemaren. Ronald pulang ke Bandung, katanya dia ga betah tinggal di Jakarta. Dalam rangka merayakan ultah Raymond, pacarnya Daffa, sekalian menyambut kepulangan Ronald. Daffa mengajak kami berkumpul untuk karaoke bareng di NAV Dago. Kami sepakat untuk berkumpul di tempat kost Raymond dulu, sebelum berangkat bareng ke NAV Dago. Pukul 23.00 kami sudah berada di ruangan medium karaoke NAV Dago. Kami semuanya bertujuh: Gw, Ronald, Daffa, Raymond, Bobby, Andika, dan Zaky (temen Andika dari Jakarta, yang baru kami kenal malam itu). Kami duduk berderet dari kiri ke kanan: Bobby, Ronald, Gw, Zaky, Andika, Daffa, dan Raymond. Hmmmmhhh… Sejak dari tempat kost gw melihat kalo Zaky itu berahang kotak. Pasti suaranya baguslah… kata gw dalam hati. Apalagi dia duduk di bagian tengah kursi ruangan karaoke, pasti dia sudah terbiasa berkaraoke.
Lagu demi lagu kami lalap habis. Akhirnya tiba giliran Zaky menyanyi lagu Agnes monica, Teruskanlah… Dia mulai menyanyi… Aduh!!! Gubrakkk… Kuping gw serasa dikagetkan suara klakson oplet si Mandra ha ha ha… Ternyata suara Zaky jauuuuuh dari bagus weeekkkksss… dari awal sampai akhir ga ada satu not pun yang masuk ke nada lagu aslinya alias fals banget.
Pada lagu-lagu awal dia menyanyi, kami hanya berpura-pura ngobrol, atau hanya saling mengerling dan berusaha ga mempedulikan suara Zaky yang kaya kaleng kerupuk dibanting he he he… Oh my God!!! Rupanya dia fans berat Agnes Monica, karena dia terus menerus menyanyikan lagu-lagu Agnes Monica. Waduh kasian banget Agnes Monica lagunya jadi ancur gini weeekkkksss…
Tibalah, Zaky menyanyikan lagu “Bukan Milikmu Lagi” dengan makin liar tak terkendali!!! Kuping kami makin panas… kami sudah ga tahan lagi menahan tawa… dan secara serempak kami ngakak sejadi-jadinya wakakaka…. Bukan maksud menghina, tapi sumpah!!! Beneran kami ga tahan untuk tidak tertawa. Mendengar kami tertawa, Zaky memencet tombol stop, dia menghentikan “lagu andalannya” he he he…
Thx God!!!. Zaky ga mau menyanyi lagi, sampai acara karaoke kami berakhir pukul 01.00.
Maafkan kami Zaky, Bukan maksud kami mentertawakan kamu… Abis suara kamu bikin geli sih ha ha ha…
Selesai karaoke, kami makan seafood di Jalan Gardujati. Di warung tenda itulah gw baru punya kesempatan ngobrol dengan Daffa.
Gw berbisik di telinga Daffa: “Ternyata teori rahang kotak salah ya…”.
Daffa hanya tertawa dan bilang: “Ya eyalaaaaahhh!!!” ha ha ha…
Conclusions:
Ternyata banyak orang yang ga sadar kalo suaranya buruk… sama kaya orang yang ga sadar kalo dia punya masalah: bau ketek, bau mulut, atau bau jempol, sampai ada orang yang bilang dan menyadarkannya he he he…
Label:
binan,
blog,
cerita,
homoseksual,
homosexual,
karaoke,
kisah,
menyanyi,
persahabatan,
sejenis
Minggu, 14 Juni 2009
Memberi Suara Pada Yang Bisu
Ringkasan ini tidak tersedia. Harap
klik di sini untuk melihat postingan.
Sabtu, 13 Juni 2009
Kucing Terselubung
Akhir-akhir ini gw males dan jenuh chatting di channel #gxx, MIRC… selain orangnya itu-itu aja, orang-orangnya sering menyebalkan, sex oriented atau malah money oriented, jual diri di dunia maya weeekkks!!! Swear!!!… ada yang terang-terangan pasang tarif ada juga yang terselubung… hmmmhh… Memang sih ga semuanya yang chat di #gxx kaya gitu… Tapi tetep gw lebih suka chat di YM, Skype atau FB aja.
Malam itu gw lagi iseng chat di channel #gxx, seperti biasa gw langsung tertarik dengan nickname yang ‘eyecathing’ buat penyuka brondong kaya gw, bdg-first_time. Gw langsung membuka percakapan:
nickname_gw : “hi”
bdg-first_time :”hi 2”
bdg-first_time :”asl plz”
nickname_gw :”32/170/65
nickname_gw : “u”
bdg-first_time : “20/172/58”
bdg-first_time :nama/dmn?
nickname_gw : ……… di ……. (rahasia he he he…)
nickname_gw : “u”
bdg-first_time : “adit/dago” (di chatting banyak banget yang namanya Adit ya? he he he…).
nickname_gw : “beneran nih first time? belom pengalaman sama sekali?”
bdg-first_time : “iya beneran kok”
Dan bla bla bla…percakapan yang panjang dan standar dalam dunia chatting. Dari percakapan itu, gw dapat informasi kalo dia itu ngakunya: model, kuliah di bandung, B (first time kok tau kalo dirinya bot? he he he…) , dan lain sebagainya. Tak lupa kita pun trade pic. Kalo di lihat wajah sih ga terlalu istimewa… tapi lumayan bin biasa ajalah he he he…
Percakapan pun belanjut lebih panjang lagi…
bdg-first_time : “ketemuan aja yuk?”
nickname_gw : “ayo aja”
nickname_gw : “dimana?”
bdg-first_time : “simpang dago”
nickname_gw : “oke”
nickname_gw : “emang kita mau kemana dan ngapain?”
bdg-first_time : “ke kostan aku aja”
nickname_gw : “siiip”
nickname_gw : “tapi beneran kamu mau ‘nyoba’ untuk pertama kali sama gw?”
bdg-first_time : “ya tergantung”
nickname_gw : “tergantung apanya neh?”
bdg-first_time : “tergantung yang kamu kasih”
nickname_gw : “maksudnya… duit?”
bdg-first_time : “masa gitu aja ga ngerti”
nickname_gw : “ooohhh…”
nickname_gw : “berapa gitu?”
bdg-first_time : “500rb”
nickname_gw : “hmmmhhh…”
bdg-first_time: “ya udah 300rb aja”
nickname_gw : “sorry, gw ga biasa beli sex”
bdg-first_time : “kenapa?”
nickname_gw : “lagian yang merasakan enaknya juga bareng-bareng, bukan gw doang”
bdg-first_time : “keliatan kok dari tampang kamu juga, loe tuh suka yang gratisan”
nickname_gw : “maksudnya?”
bdg-first_time : “tampang loe tampang orang miskin” (mulai menghina)
nickname_gw : “o ya?”
nickname_gw : “gw lebih menyukai hubungan yang memakai perasaan dibandingkan transaksi sex doang”
bdg-first_time : “bilang aja ga mampu bayar!!!” (makin kurang ajar)
bdg-first_time : “orang miskin mau enaknya doang!!!”
nickname_gw : “kl gw mau, gw bisa bayar lebih dari yang loe minta, tapi gw ga sudi!!!”
bdg-first_time : “kalo miskin, ngaku aja miskin… kasian dech loe!!!” (makin melecehkan)
nickname_gw : “yang pengen dibayar tuh siapa? Jadi yang miskin itu siapa? secara logika juga loe dong yang jual diri!!!” (emosi gw terpancing)
bdg-first_time : “enak aja”
nickname_gw : “LOE TUH YANG MISKIN, GA PUNYA KERJAAN, MAKANYA LOE JADI PELACUR!!!
nickname_gw : “DARI FOTO-FOTO LOE JUGA GW TAU DARI KALANGAN MANA LOE BERASAL!!!”
Setelah itu dia diam, ga mampu berkata-kata lagi. Gw tau dia masih online tapi ga mampu membalas kata-kata gw yang tajam kena sasaran. Wuiiiihhh Yes !!! Yes!!! Yes!!! Rasain loe!!! Ha ha ha…
Conclusions:
Ah ternyata kucing. Ngakunya kucing anggora, padahal cuma kucing kampung, budukan lagi he he he… mendingan masukin ke karung aja trus bantingin ke tembok wakakakakaka… meoooookkkk!!!
Malam itu gw lagi iseng chat di channel #gxx, seperti biasa gw langsung tertarik dengan nickname yang ‘eyecathing’ buat penyuka brondong kaya gw, bdg-first_time. Gw langsung membuka percakapan:
nickname_gw : “hi”
bdg-first_time :”hi 2”
bdg-first_time :”asl plz”
nickname_gw :”32/170/65
nickname_gw : “u”
bdg-first_time : “20/172/58”
bdg-first_time :nama/dmn?
nickname_gw : ……… di ……. (rahasia he he he…)
nickname_gw : “u”
bdg-first_time : “adit/dago” (di chatting banyak banget yang namanya Adit ya? he he he…).
nickname_gw : “beneran nih first time? belom pengalaman sama sekali?”
bdg-first_time : “iya beneran kok”
Dan bla bla bla…percakapan yang panjang dan standar dalam dunia chatting. Dari percakapan itu, gw dapat informasi kalo dia itu ngakunya: model, kuliah di bandung, B (first time kok tau kalo dirinya bot? he he he…) , dan lain sebagainya. Tak lupa kita pun trade pic. Kalo di lihat wajah sih ga terlalu istimewa… tapi lumayan bin biasa ajalah he he he…
Percakapan pun belanjut lebih panjang lagi…
bdg-first_time : “ketemuan aja yuk?”
nickname_gw : “ayo aja”
nickname_gw : “dimana?”
bdg-first_time : “simpang dago”
nickname_gw : “oke”
nickname_gw : “emang kita mau kemana dan ngapain?”
bdg-first_time : “ke kostan aku aja”
nickname_gw : “siiip”
nickname_gw : “tapi beneran kamu mau ‘nyoba’ untuk pertama kali sama gw?”
bdg-first_time : “ya tergantung”
nickname_gw : “tergantung apanya neh?”
bdg-first_time : “tergantung yang kamu kasih”
nickname_gw : “maksudnya… duit?”
bdg-first_time : “masa gitu aja ga ngerti”
nickname_gw : “ooohhh…”
nickname_gw : “berapa gitu?”
bdg-first_time : “500rb”
nickname_gw : “hmmmhhh…”
bdg-first_time: “ya udah 300rb aja”
nickname_gw : “sorry, gw ga biasa beli sex”
bdg-first_time : “kenapa?”
nickname_gw : “lagian yang merasakan enaknya juga bareng-bareng, bukan gw doang”
bdg-first_time : “keliatan kok dari tampang kamu juga, loe tuh suka yang gratisan”
nickname_gw : “maksudnya?”
bdg-first_time : “tampang loe tampang orang miskin” (mulai menghina)
nickname_gw : “o ya?”
nickname_gw : “gw lebih menyukai hubungan yang memakai perasaan dibandingkan transaksi sex doang”
bdg-first_time : “bilang aja ga mampu bayar!!!” (makin kurang ajar)
bdg-first_time : “orang miskin mau enaknya doang!!!”
nickname_gw : “kl gw mau, gw bisa bayar lebih dari yang loe minta, tapi gw ga sudi!!!”
bdg-first_time : “kalo miskin, ngaku aja miskin… kasian dech loe!!!” (makin melecehkan)
nickname_gw : “yang pengen dibayar tuh siapa? Jadi yang miskin itu siapa? secara logika juga loe dong yang jual diri!!!” (emosi gw terpancing)
bdg-first_time : “enak aja”
nickname_gw : “LOE TUH YANG MISKIN, GA PUNYA KERJAAN, MAKANYA LOE JADI PELACUR!!!
nickname_gw : “DARI FOTO-FOTO LOE JUGA GW TAU DARI KALANGAN MANA LOE BERASAL!!!”
Setelah itu dia diam, ga mampu berkata-kata lagi. Gw tau dia masih online tapi ga mampu membalas kata-kata gw yang tajam kena sasaran. Wuiiiihhh Yes !!! Yes!!! Yes!!! Rasain loe!!! Ha ha ha…
Conclusions:
Ah ternyata kucing. Ngakunya kucing anggora, padahal cuma kucing kampung, budukan lagi he he he… mendingan masukin ke karung aja trus bantingin ke tembok wakakakakaka… meoooookkkk!!!
Label:
binan,
cerita,
chatting,
cinta,
gay,
homoseksual,
homosexual,
kisah,
persahabatan,
sejati,
sejenis,
soulmate
I Really Miss You Ronald
Perjalanan panjang persahabatan antara gw dan Ronald: sangat unik, complicated, tapi tulus, dan hangat. Mungkin buat orang awam hubungan persahabatan kami adalah persahabatan yang ‘aneh’, maklum umur antara gw dan Ronald terpaut sangat jauh. Ronald adalah salah satu sahabat terbaik yang gw temukan di dunia gay (selain Daffa). Ronald itu orangnya cute, ramah, murah senyum, supel, rame kalo ngomong, manja, cuex, easy going, sangat memperhatikan penampilan, kadang suka ga inget sama janji (gubrax!!!), miss telat he he he…
Hmmmhhhh banyak hal yang terjadi antara gw dengan Ronald. Ya, 4 tahun bukanlah waktu yang singkat buat saling mengenal. Gw sudah sangat hafal gelagat dan kebiasaan dia. Ga ada yang bisa dia sembunyikan dari gw tentang dirinya. Mungkin karena gw sudah sangat mengenal karakter dia (ditambah info-info dari informan terpercaya gw, Daffa he he he…).
Ronald anaknya asyik buat diajak jalan, karaoke, nongkrong, berenang, nonton film, wisata kuliner malam-malam, clubbing, dan begadang di warnet (even di rumah gw ada internet, tapi tetep aja ga bisa nolak ajakan Ronald he he he…).
Jarak rumah kami yang agak berdekatan membuat gw bisa sering jalan bareng dengan dia. Bukan hanya jalan di mall aja, kami pun suka bertualang jalan ke hutan, gunung dan objek wisata lainnya. Sekedar mencari udara segar dan foto-foto. Ya, Ronald sering jadi ‘model’ amatiran gw yang punya hobby fotografi he he he... Kalo di depan kamera dia ga pernah mati gaya, luwes, mudah diarahkan untuk bergaya, dan tentu saja fotogenic.
Ronald (dan Daffa he he he…) adalah orang yang meruntuhkan prinsip gw, yang ga suka dan ga pernah clubbing. Dia berhasil meyakinkan gw untuk mencoba dan akhirnya jadi suka he he he… Tapi akhirnya gw jadi menyesal… kenapa ga dari dulu ya tau clubbing? wakakakaka… Kenturan tubuh Ronald menari mengikuti dentuman irama musik, kadang membuat gw iri. Coz badan gw kalo dance kaku banget kaya robot weeeekkkkss!!!
Kehidupan asmara Ronald rupanya sering ga sesuai dengan harapannya. Cepat jatuh cinta, cepat punya pacar tapi cepat putus juga he he he… Ah.. maklum namanya juga brondong, masih mencari jati diri.
Sabtu 2 Mei 2009, adalah kepulangan Daffa dari Bali. Malamnya Ronald mengajak Gw dan Daffa clubbing di Amnesia. Katanya ini adalah clubbing bareng-bareng yang terakhir karena dia mau kerja di Jakarta. Sekalipun Daffa masih cape, tapi demi sahabat, dia maksain ikut juga. Jadilah malam itu kami clubbing dan have fun bareng.
Hari Senin, adalah hari keberangkatan Ronald ke Jakarta. Gw masih inget coz gw yang nganter dia ke tempat travel yang akan dia tumpangi. Ya jam 6 sore, gw antar dia… gw menemani dia sampai keberangkatannya jam 6.30. Dia bilang “aku sedih dan berat ninggalin Bandung dan teman-teman…” (suaranya serak, sedikit menahan tangis…hhmmm..). Dan mobil pun melaju membawa Ronald dari tatapan mata gw…
Ah, dasar Ronald…!!! Sabtu depannya, ternyata dia udah balik lagi dari Jakarta. Dia sengaja datang cuma untuk ngajak clubbing lagi ha ha ha… Dan keesokkan harinya dia balik lagi ke Jakarta… weleh weleh…
Sejak itu gw dan Ronald ga penah ketemu lagi, hanya sesekali telepon… Gw bener-bener kehilangan dia… Kangen candaannya, kangen jalan bareng, kangen karaoke bareng… hmmmmhhh…. I really miss you, Ronald…
Conclusions:
Benar kata orang bijak: Kita baru menyadari kalau kita memiliki seseorang yang berharga, setelah kita kehilangan orang tersebut… uhuk uhuk…
Hmmmhhhh banyak hal yang terjadi antara gw dengan Ronald. Ya, 4 tahun bukanlah waktu yang singkat buat saling mengenal. Gw sudah sangat hafal gelagat dan kebiasaan dia. Ga ada yang bisa dia sembunyikan dari gw tentang dirinya. Mungkin karena gw sudah sangat mengenal karakter dia (ditambah info-info dari informan terpercaya gw, Daffa he he he…).
Ronald anaknya asyik buat diajak jalan, karaoke, nongkrong, berenang, nonton film, wisata kuliner malam-malam, clubbing, dan begadang di warnet (even di rumah gw ada internet, tapi tetep aja ga bisa nolak ajakan Ronald he he he…).
Jarak rumah kami yang agak berdekatan membuat gw bisa sering jalan bareng dengan dia. Bukan hanya jalan di mall aja, kami pun suka bertualang jalan ke hutan, gunung dan objek wisata lainnya. Sekedar mencari udara segar dan foto-foto. Ya, Ronald sering jadi ‘model’ amatiran gw yang punya hobby fotografi he he he... Kalo di depan kamera dia ga pernah mati gaya, luwes, mudah diarahkan untuk bergaya, dan tentu saja fotogenic.
Ronald (dan Daffa he he he…) adalah orang yang meruntuhkan prinsip gw, yang ga suka dan ga pernah clubbing. Dia berhasil meyakinkan gw untuk mencoba dan akhirnya jadi suka he he he… Tapi akhirnya gw jadi menyesal… kenapa ga dari dulu ya tau clubbing? wakakakaka… Kenturan tubuh Ronald menari mengikuti dentuman irama musik, kadang membuat gw iri. Coz badan gw kalo dance kaku banget kaya robot weeeekkkkss!!!
Kehidupan asmara Ronald rupanya sering ga sesuai dengan harapannya. Cepat jatuh cinta, cepat punya pacar tapi cepat putus juga he he he… Ah.. maklum namanya juga brondong, masih mencari jati diri.
Sabtu 2 Mei 2009, adalah kepulangan Daffa dari Bali. Malamnya Ronald mengajak Gw dan Daffa clubbing di Amnesia. Katanya ini adalah clubbing bareng-bareng yang terakhir karena dia mau kerja di Jakarta. Sekalipun Daffa masih cape, tapi demi sahabat, dia maksain ikut juga. Jadilah malam itu kami clubbing dan have fun bareng.
Hari Senin, adalah hari keberangkatan Ronald ke Jakarta. Gw masih inget coz gw yang nganter dia ke tempat travel yang akan dia tumpangi. Ya jam 6 sore, gw antar dia… gw menemani dia sampai keberangkatannya jam 6.30. Dia bilang “aku sedih dan berat ninggalin Bandung dan teman-teman…” (suaranya serak, sedikit menahan tangis…hhmmm..). Dan mobil pun melaju membawa Ronald dari tatapan mata gw…
Ah, dasar Ronald…!!! Sabtu depannya, ternyata dia udah balik lagi dari Jakarta. Dia sengaja datang cuma untuk ngajak clubbing lagi ha ha ha… Dan keesokkan harinya dia balik lagi ke Jakarta… weleh weleh…
Sejak itu gw dan Ronald ga penah ketemu lagi, hanya sesekali telepon… Gw bener-bener kehilangan dia… Kangen candaannya, kangen jalan bareng, kangen karaoke bareng… hmmmmhhh…. I really miss you, Ronald…
Conclusions:
Benar kata orang bijak: Kita baru menyadari kalau kita memiliki seseorang yang berharga, setelah kita kehilangan orang tersebut… uhuk uhuk…
Label:
binan,
cerita,
cinta,
gay,
homoseksual,
kisah,
persahabatan,
sejati,
sejenis
Sabtu, 30 Mei 2009
Teenage Passions
Menjadi seorang gay bukanlah cita-cita gw, bahkan pada awal-awal gw menyadari ada yg ‘beda’ dengan orientasi seksual gw, gw menganggapnya sebagai mimpi buruk!!!. Gw pernah mengalami fase merasa abnormal, sedih, tertolak, kotor, menjijikan, pendosa, calon penghuni neraka dll tentang keadaan gw. Gw merasa hidup gw ga ada artinya, karena gw terlahir ‘beda’. Gw sempet menyalahkan Tuhan… Mengapa dia menciptakan gw seperti ini?
Gw terlahir sebagai anak lagi-laki, anak ke-3 dari 4 bersaudara. Masa kecil gw sama seperti kebanyakan anak-anak lainnya.Gw dibesarkan dalam keluarga sederhana, tapi penuh dengan cinta. Gw ga ngerasa kekurangan kasih sayang baik dari mamah maupun papah. Secara fisik maupun tingkah laku, gw ngerasa ga ada yang aneh. Sampai sekarang pun banyak temen gay gw yang bilang, kalo fisik dan prilaku gw tuh ga nunjukkin tanda-tanda kalo gw adalah seorang gay (yang gay aja sering terkecoh, apalagi yang normal? he he he…).
Masa-masa pubertas adalah titik awal gw menyadari kalo gw adalah gay. Karena saat itu gw lebih suka bermain dan memperhatikan teman cowok dibandingkan dengan teman cewek. Bahkan dalam mimpi basahpun yang muncul bukan cewek… Cuma ada cowok, cowok dan cowok!
Waktu itu umur gw baru menginjak 13 tahun. Sejak kecil gw memang seneng banget yang namanya olah raga. Entah itu berenang, bulutangkis, ataupun lari pagi. Di daerah gw, minggu pagi adalah harinya orang untuk lari pagi. Sepanjang jalan raya biasanya dipenuhi dengan orang-orang lari pagi. Hampir tiap minggu gw lari pagi sama sahabat kecil gw, yang juga merupakan tetangga gw. Sebut saja namanya Bayu. Bayu adalah sahabat yang baik dan menyenangkan. Kulit Bayu hitam manis, namun tak mengurangi ketampanannya. Darah jawa yang mengalir dari kedua orangtuanya, hanya terlihat dari fisik luarnya saja. Secara karakter dan tata bahasa, dia Sunda banget, maklum dia lahir dan dibesarkan di Bandung.
Suatu hari gw ngajak Bayu menginap di rumahku, agar keesokan harinya kami bisa lari pagi bersama. Dan jadilah Bayu menginap malam itu di rumahku untuk pertama kalinya.
Malam semakin larut… setelah kami lelah ngobrol ngalor ngidul. Akhirnya Bayu terlelap di samping gw. Rupanya Bayu kelelahan, maklum tadi siang dia mengikuti ekskul sepakbola di sekolahnya. Anehnya malam itu mata gw seolah sulit terpejam. Rasa kantuk gw seolah terbang entah kemana. 1 jam… 2 jam… hmmm… mata ini tak juga mau terpejam. Padahal jam sudah menunjukan hampir pukul 02.30 WIB. Ada debar aneh di berdetak di dada gw. Gw memandangi Bayu yang tengah tertidur lelap. Gairah muda gw muncul. Tanpa bisa dicegah, tangan gw dengan gemetar mendarat di dadanya. Gw hanya memeluk dia dan dia diam saja. Gw mencoba mencium pipinya… hmmmhhh gejolak birahi gw semakin tak terkendali. Untunglah Bayu tetap tertidur lelap. Keberanian gw semakin muncul. Tangan kanan gw dengan perlahan, mulai turun dari dadanya menuju bagian perut. Mengusap-usap tubuh Bayu. Tangan gw tak berhenti di perutnya… terus menuju ke bagian bawah perutnya… aku memegang tonjolan yang ada di celana pendeknya. Ooohh.. rupanya dia tidak memakai celana dalam. Dia hanya memakai celana basket yang terbuat dari bahan kaos. Gw mencoba menurunkan celana basketnya biru donkernya… terlihat kemaluannya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Gw semakin bergairah. Kemaluannya yang tadinya layu, setelah gw memegangnya mulai mengembang. Yup.. menegang dan memanjang… ohhh gw semakin excited. Itulah pengalaman pertama kali gw memegang kemaluan orang lain.
Bayu, sedikit mengerang, mungkin sedikit terusik dengan ulah gw. Gw segera menutup celana dia. Namun kembali dia tertidur dengan nyenyak. Gw membuka lagi celana basketnya. Kemaluannya masih terlihat tegang. Entah ide dari mana, karena waktu itu gw belum pernah menonton film porno. Gw menciumi kemaluan Bayu, kemudian menjilatinya dan mengulumnya… Hmmmhhh nafas gw semakin tersenggal-senggal. Gw meng-oral kemaluan Bayu sambil memelorotkan celana pendek gw sendiri. Akhirnya gw mengocok kemaluan gw sendiri sampai terjadi ejakulasi.
Gw hanya mengelap ceceran sperma gw dan memakai celana gw lagi. Lalu gw kembali meng-oral kemaluan Bayu, bahkan lebih liar dari sebelumnya. Gw seperti kesetanan! Mungkin karena terstimulasi lidah gw, akhirnya Bayu menggelinjang, dan menggelepar. Dia ejakulasi!!!… Waduh gimana nih??? dengan sigap gw menutup celananya dan pura-pura tertidur sambil memeluk guling. Bayu terbangun, gw masih pura-pura tertidur lelap sambil merasakan debar jantung gw sendiri yang berdegup semakin kencang. Sumpah, gw takut banget ketahuan!
Kemudian Bayu turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, rupanya dia membersihkan ceceran spermanya. Dia kembali lagi ke tempat tidur, dan dengan cepat tertidur kembali. Ahhh untunglah… sepertinya Bayu tidak menyadari apa yang telah gw lakukan… Mungkin dia berpendapat kalo dia cuma mengalami mimpi basah.
Pukul 05.00 pagi Bayu membangunkan gw, dia mengajak gw siap-siap untuk lari pagi.
Sebenarnya gw ngerasa canggung melihat Bayu. Gw ngerasa berdosa terhadapnya. Tp anehnya gw tak melihat ada kejanggalan dari tingkah laku Bayu. Dia biasa saja, tak ada yang berubah. Mungkinkah dia tidak tahu apa yang sudah terjadi? Dan kamipun lari pagi bersama pagi itu.
Itulah pengalaman pertama gw merasakan kontak fisik dengan seorang laki-laki (yang sedang teridur he he he…). Namun kejadian serupa tak berakhir disitu. Hal itu terulang lagi dan lagi dengan Bayu. Dan tetap saja dia tidak menyadarinya. Dan kemudian ada ‘Bayu-Bayu’ lainnya yang jadi korban gw he he he… Syukurnya aksi gw ga pernah ketahuan. Atau, entah mereka pura-pura tidak tahu??? Whatever…
Conclusions:
Kayanya kejadian kaya gini adalah kejadian klasik kaum gay ya? coz gw denger, beberapa teman gay gw juga punya pengalaman yang sama dengan gw. Fuiihhh… gay oh gay…
Gw terlahir sebagai anak lagi-laki, anak ke-3 dari 4 bersaudara. Masa kecil gw sama seperti kebanyakan anak-anak lainnya.Gw dibesarkan dalam keluarga sederhana, tapi penuh dengan cinta. Gw ga ngerasa kekurangan kasih sayang baik dari mamah maupun papah. Secara fisik maupun tingkah laku, gw ngerasa ga ada yang aneh. Sampai sekarang pun banyak temen gay gw yang bilang, kalo fisik dan prilaku gw tuh ga nunjukkin tanda-tanda kalo gw adalah seorang gay (yang gay aja sering terkecoh, apalagi yang normal? he he he…).
Masa-masa pubertas adalah titik awal gw menyadari kalo gw adalah gay. Karena saat itu gw lebih suka bermain dan memperhatikan teman cowok dibandingkan dengan teman cewek. Bahkan dalam mimpi basahpun yang muncul bukan cewek… Cuma ada cowok, cowok dan cowok!
Waktu itu umur gw baru menginjak 13 tahun. Sejak kecil gw memang seneng banget yang namanya olah raga. Entah itu berenang, bulutangkis, ataupun lari pagi. Di daerah gw, minggu pagi adalah harinya orang untuk lari pagi. Sepanjang jalan raya biasanya dipenuhi dengan orang-orang lari pagi. Hampir tiap minggu gw lari pagi sama sahabat kecil gw, yang juga merupakan tetangga gw. Sebut saja namanya Bayu. Bayu adalah sahabat yang baik dan menyenangkan. Kulit Bayu hitam manis, namun tak mengurangi ketampanannya. Darah jawa yang mengalir dari kedua orangtuanya, hanya terlihat dari fisik luarnya saja. Secara karakter dan tata bahasa, dia Sunda banget, maklum dia lahir dan dibesarkan di Bandung.
Suatu hari gw ngajak Bayu menginap di rumahku, agar keesokan harinya kami bisa lari pagi bersama. Dan jadilah Bayu menginap malam itu di rumahku untuk pertama kalinya.
Malam semakin larut… setelah kami lelah ngobrol ngalor ngidul. Akhirnya Bayu terlelap di samping gw. Rupanya Bayu kelelahan, maklum tadi siang dia mengikuti ekskul sepakbola di sekolahnya. Anehnya malam itu mata gw seolah sulit terpejam. Rasa kantuk gw seolah terbang entah kemana. 1 jam… 2 jam… hmmm… mata ini tak juga mau terpejam. Padahal jam sudah menunjukan hampir pukul 02.30 WIB. Ada debar aneh di berdetak di dada gw. Gw memandangi Bayu yang tengah tertidur lelap. Gairah muda gw muncul. Tanpa bisa dicegah, tangan gw dengan gemetar mendarat di dadanya. Gw hanya memeluk dia dan dia diam saja. Gw mencoba mencium pipinya… hmmmhhh gejolak birahi gw semakin tak terkendali. Untunglah Bayu tetap tertidur lelap. Keberanian gw semakin muncul. Tangan kanan gw dengan perlahan, mulai turun dari dadanya menuju bagian perut. Mengusap-usap tubuh Bayu. Tangan gw tak berhenti di perutnya… terus menuju ke bagian bawah perutnya… aku memegang tonjolan yang ada di celana pendeknya. Ooohh.. rupanya dia tidak memakai celana dalam. Dia hanya memakai celana basket yang terbuat dari bahan kaos. Gw mencoba menurunkan celana basketnya biru donkernya… terlihat kemaluannya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Gw semakin bergairah. Kemaluannya yang tadinya layu, setelah gw memegangnya mulai mengembang. Yup.. menegang dan memanjang… ohhh gw semakin excited. Itulah pengalaman pertama kali gw memegang kemaluan orang lain.
Bayu, sedikit mengerang, mungkin sedikit terusik dengan ulah gw. Gw segera menutup celana dia. Namun kembali dia tertidur dengan nyenyak. Gw membuka lagi celana basketnya. Kemaluannya masih terlihat tegang. Entah ide dari mana, karena waktu itu gw belum pernah menonton film porno. Gw menciumi kemaluan Bayu, kemudian menjilatinya dan mengulumnya… Hmmmhhh nafas gw semakin tersenggal-senggal. Gw meng-oral kemaluan Bayu sambil memelorotkan celana pendek gw sendiri. Akhirnya gw mengocok kemaluan gw sendiri sampai terjadi ejakulasi.
Gw hanya mengelap ceceran sperma gw dan memakai celana gw lagi. Lalu gw kembali meng-oral kemaluan Bayu, bahkan lebih liar dari sebelumnya. Gw seperti kesetanan! Mungkin karena terstimulasi lidah gw, akhirnya Bayu menggelinjang, dan menggelepar. Dia ejakulasi!!!… Waduh gimana nih??? dengan sigap gw menutup celananya dan pura-pura tertidur sambil memeluk guling. Bayu terbangun, gw masih pura-pura tertidur lelap sambil merasakan debar jantung gw sendiri yang berdegup semakin kencang. Sumpah, gw takut banget ketahuan!
Kemudian Bayu turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, rupanya dia membersihkan ceceran spermanya. Dia kembali lagi ke tempat tidur, dan dengan cepat tertidur kembali. Ahhh untunglah… sepertinya Bayu tidak menyadari apa yang telah gw lakukan… Mungkin dia berpendapat kalo dia cuma mengalami mimpi basah.
Pukul 05.00 pagi Bayu membangunkan gw, dia mengajak gw siap-siap untuk lari pagi.
Sebenarnya gw ngerasa canggung melihat Bayu. Gw ngerasa berdosa terhadapnya. Tp anehnya gw tak melihat ada kejanggalan dari tingkah laku Bayu. Dia biasa saja, tak ada yang berubah. Mungkinkah dia tidak tahu apa yang sudah terjadi? Dan kamipun lari pagi bersama pagi itu.
Itulah pengalaman pertama gw merasakan kontak fisik dengan seorang laki-laki (yang sedang teridur he he he…). Namun kejadian serupa tak berakhir disitu. Hal itu terulang lagi dan lagi dengan Bayu. Dan tetap saja dia tidak menyadarinya. Dan kemudian ada ‘Bayu-Bayu’ lainnya yang jadi korban gw he he he… Syukurnya aksi gw ga pernah ketahuan. Atau, entah mereka pura-pura tidak tahu??? Whatever…
Conclusions:
Kayanya kejadian kaya gini adalah kejadian klasik kaum gay ya? coz gw denger, beberapa teman gay gw juga punya pengalaman yang sama dengan gw. Fuiihhh… gay oh gay…
Do You Really Love Me?
Menemukan seorang soulmate yang bisa sepikir, sejalan dan satu visi dengan kita, adalah impian semua orang. Kita berharap pasangan kita adalah seorang yang sempurna, secara fisik, karakter, attitude, maupun financial. Tapi apa yang kita inginkan seringkali ga sesuai dengan kenyataan. Bahkan bisa jauuuuuh banget…
Kalo kita telusuri, ga ada tuh pasangan yang bener-bener ‘cocok’. Yang ada ada hanyalah ‘mencocokan’ diri. Kecocokan itu bukan ‘dicari’ tapi ‘dihasilkan’, dari adaptasi dan toleransi.
Pada awal-awal pacaran, mungkin semuanya terasa indah. Karena masing-masing masih belum memperlihatkan karakter aslinya. Beda pendapat, gesekkan, dan pertengkaran adalah bumbu pacaran. Tapi yakinlah, lewat semua itu kita bisa tau apa yang pasangan kita mau.
Sepenggal kisah masa lalu… kisah kasih gw sama seseorang. Dia sering tanya sama gw, “kenapa kamu sayang sama aku?’. Pertanyaan yang sederhana! Tapi jawabannya ga sesederhana kedengarannya.
Kalo gw jawab karena kamu cakep, tar kalo sudah tua dan jelek udah ga sayang lagi dong? Kalo gw jawab karena kamu baik, tar kalo suatu saat dia lagi bad mood dan nyebelin, gw ga sayang lagi dong? Ah memang sulit menjawabnya… tapi gw yakin sama perasaan gw sendiri kalo gw tuh sayang, bahkan sayang banget sama dia. Lalu dengan mantap gw menjawab “I Love You Just The Way You Are” . Aku mencintai kamu apa adanya... Dia tersenyum sambil matanya berkaca-kaca…
Dalam menjalin hubungan, sudah sepatutnya kita mencintai pasangan kita dengan tulus. Kita harus mencintai dia “apa adanya” bukan karena “ada apanya” he he he… Yup, kita harus mencintai pasangan kita secara satu paket. Bukan hanya mau menerima segala kelebihannya, tapi kita juga harus mau menerima semua kekurangannya.
Orang bijak berkata: cinta sejati itu tidak butuh alasan. Kalo cinta itu dilandasi oleh alasan-alasan karena dia cakep, kaya, baik dan lain-lain… percayalah, itu bukanlah cinta sejati.
“Mencintailah bukan dengan KARENA”. Aku mencintaimu KARENA kamu…. (isi dengan kelebihan-kelebihan pasangan kita), tetapi “Mencintailah dengan WALAUPUN” . Aku mencintai WALAUPUN kamu…. (isi dengan kekurangan-kekurangan pasangan kita). Kalo kita bisa mencapai fase ini, maka kita sedang menuju cinta yang sejati. Seperti lagunya Once, yang berjudul Kucinta Kau Apa Adanya: Aku mau mendampingi dirimu… Aku mau cintai kekuranganmu… selalu bersedia bahagiakanmu… Apapun terjadi, kujanjikan aku ada… (so sweet…)
Jadi saat pasangan kita bertanya “Do You Really Love Me?” tak perlu ragu, katakanlah “I Do Love You!”
Conclusion:
Cinta bukanlah sekedar kata-kata indah. Cinta tanpa pengaktualisasian adalah omong kosong.
Kalo kita telusuri, ga ada tuh pasangan yang bener-bener ‘cocok’. Yang ada ada hanyalah ‘mencocokan’ diri. Kecocokan itu bukan ‘dicari’ tapi ‘dihasilkan’, dari adaptasi dan toleransi.
Pada awal-awal pacaran, mungkin semuanya terasa indah. Karena masing-masing masih belum memperlihatkan karakter aslinya. Beda pendapat, gesekkan, dan pertengkaran adalah bumbu pacaran. Tapi yakinlah, lewat semua itu kita bisa tau apa yang pasangan kita mau.
Sepenggal kisah masa lalu… kisah kasih gw sama seseorang. Dia sering tanya sama gw, “kenapa kamu sayang sama aku?’. Pertanyaan yang sederhana! Tapi jawabannya ga sesederhana kedengarannya.
Kalo gw jawab karena kamu cakep, tar kalo sudah tua dan jelek udah ga sayang lagi dong? Kalo gw jawab karena kamu baik, tar kalo suatu saat dia lagi bad mood dan nyebelin, gw ga sayang lagi dong? Ah memang sulit menjawabnya… tapi gw yakin sama perasaan gw sendiri kalo gw tuh sayang, bahkan sayang banget sama dia. Lalu dengan mantap gw menjawab “I Love You Just The Way You Are” . Aku mencintai kamu apa adanya... Dia tersenyum sambil matanya berkaca-kaca…
Dalam menjalin hubungan, sudah sepatutnya kita mencintai pasangan kita dengan tulus. Kita harus mencintai dia “apa adanya” bukan karena “ada apanya” he he he… Yup, kita harus mencintai pasangan kita secara satu paket. Bukan hanya mau menerima segala kelebihannya, tapi kita juga harus mau menerima semua kekurangannya.
Orang bijak berkata: cinta sejati itu tidak butuh alasan. Kalo cinta itu dilandasi oleh alasan-alasan karena dia cakep, kaya, baik dan lain-lain… percayalah, itu bukanlah cinta sejati.
“Mencintailah bukan dengan KARENA”. Aku mencintaimu KARENA kamu…. (isi dengan kelebihan-kelebihan pasangan kita), tetapi “Mencintailah dengan WALAUPUN” . Aku mencintai WALAUPUN kamu…. (isi dengan kekurangan-kekurangan pasangan kita). Kalo kita bisa mencapai fase ini, maka kita sedang menuju cinta yang sejati. Seperti lagunya Once, yang berjudul Kucinta Kau Apa Adanya: Aku mau mendampingi dirimu… Aku mau cintai kekuranganmu… selalu bersedia bahagiakanmu… Apapun terjadi, kujanjikan aku ada… (so sweet…)
Jadi saat pasangan kita bertanya “Do You Really Love Me?” tak perlu ragu, katakanlah “I Do Love You!”
Conclusion:
Cinta bukanlah sekedar kata-kata indah. Cinta tanpa pengaktualisasian adalah omong kosong.
Senin, 04 Mei 2009
Persahabatan Bagai Kepompong...
Buat gw Daffa adalah sahabat terbaik gw di dunia gay. Orangnya bawel, sensi, mudah emosi jiwa, jutek, kadang agak selfish, shopaholic, celetukannya bisa bikin kuping merah (yg ini mah kayanya ketularan dari gw dech he he he…). Tapi dia orangnya care bgt, enak diajak ngomong, bisa bikin suasana jd rame, solider, kadang bijak kadang gila he he he.., pinter padu padan baju, parno sama yang horor-horor (gw suka sengaja bikin dia makin parno he he he…), barbie maniac, jago bikin kue, suaranya keren (apalagi kl udah nyanyi lagu dangdut hmmmm… pokoknya ga ada lawan dech). Kayanya kalo gw disuruh nyeritain tentang kepribadian dia yang ‘ajaib’ itu, ga akan habis dalam 7 hari 7 malam dech he he he…
Sudah hampir 5 tahun gw sahabatan sama dia, banyak pengalaman gila yang kami lalui bersama, termasuk pasang surut hubungan kami. Secara fisik kami ga terlalu sering ketemu. Mungkin karena jarak yang memisahkan kami, gw di ujung sini sementara dia nun jauuuuuh di sana he he he… Tapi itu bukan patokan untuk mengukur seberapa dalam kualitas relationships kami.
Daffa berasal dari keluarga yang agamis, tapi dia orangnya open minded dan ga fanatik. Dia sunda muslim dan gw chinese nasrani, tapi hal itu ga pernah jadi kendala dalam persahabatan kami. Karena kami ga suka mempermasalahkan hal-hal yg berbau sara... tapi suka ilfeel sama yang berbau ketek atau bau jempol mah hi hi hi… (gubrakkk… apa hubungannya ya?).
Salah satu yang unik tentang Daffa adalah, dia terlahir sebagai anak kembar. Yup, dia punya kembaran, namanya Daffi. Secara fisik sih mirip tapi beda style. Adiknya cowok banget, sementara Daffa princess banget he he he… Suaranya juga mirip lho, kalo lewat telpon gw sering dibuat bingung ngebedain antara suara Daffa dan Daffi. Mereka kembar, tapi mereka ga kompak dalam hal orientasi seks he he he.... Yang satu suka cewek cantik, sementara yang lainnya suka cowok ganteng he he he... O iya, tepat sebulan kemarin, adiknya menikahi seorang gadis. Sebelum menikah, adiknya dengan hati-hati mengajak Daffa bicara;
“Daffa… hmm ..hhmm ad…ada yang mau gw omongin…” terbata-bata.
“Apaan sih?!! ngomong aja!!…” Sahut Daffa (dengan intonasi jutek ibu tiri he he he…).
“Sebenernya, gw ga enak ngomongnya nih…” sambung adiknya.
“Ya,dibikin enak aja atuh!!” masih dengan nada jutek.
“ehhmmhh… gini.. ehmmm giniiii…”
“Aduh ribet amat sich? To the point aja lah!” Daffa kehilangan kesabaran.
“Gw mau… mau minta ijin sama loe… bulan depan gw mau married. Sebagai adik, gw ga enak kalo harus melangkahi loe sebagai kakak…” Lanjut Daffi.
“Aduh gitu aja repot!!! Nikah ya nikah aja!!! Sok rariwueh maneh mah!!!” kata Daffa dengan enteng.
“Iya, gw ga enak aja harus ngeduluin loe nikah. Tapi, kalo nunggu-nunggu loe juga kayanya bakal kelamaan, karena sampai sekarang loe belom keliatan punya cewek....”
(ya eyaaaa laaahhh sampai lebaran lutung juga ga akan punya cewek, coz ga nyari-nyari cewek sih hi hi hi…).
“Stop, stop, stooop!! Gw udah ngerti kelanjutannya… ga usah ngebahas yang ga penting!!. Intinya loe minta ijin gw nikah kan? Ya udah nikah sana…” Daffa memotong pembicaraan.
Kembali ke masalah tentang persahabatan kami. Sebenernya awal persahabatan kami, sangat klise sih. Diawali dengan chatting dan akhirnya ketemuan di depan salah satu LPK di jalan Pasirkaliki Bandung. Lalu gw ajak dia berenang di salah satu kolam renang yang terletak di jalan Setiabudi. Pulangnya gw dan Daffa nekat ke lembang padahal hari sudah malam, cuma sekedar buat makan Ayam Brebes doang trus balik lagi.
Kami brerdua naik motor padahal dia ga pake jaket. Mulai dari situ hubungan dan komunikasi kami terjalin dengan baik. Pada awalnya Daffa ada ‘perasaan’ sm gw. Tapi entah kenapa, gw ngerasa kalo gw dan Daffa lebih baik bersahabat aja, tanpa dibumbui dengan cerita asmara.
Bersama berjalannya waktu, akhirnya kami masing-masing punya BF. Tapi hal itu tak mengurangi intensitas hubungan persahabatan kami. Jangan salah sangka dulu ya, hubungan kami murni persahataban bukan TTM –an atau pun selingkuhan.
O, ya seperti yang gw ceritakan di blog postingan sebelumnya, gw juga punya sahabat brondong yang bernama Ronald. Kronologisnya, gw ketemu sama Daffa dulu, baru beberapa bulan kemudian gw ketemu sama Ronald. Secara terpisah, gw bersahabat dengan Daffa, dan gw juga bersahabat dengan Ronald. Setelah sekian lama, gw bersahabat dengan mereka masing-masing. Akhirnya gw mempertemukan Daffa dan Ronald.
Sungguh aneh bin ajaib, pada awal pertemuan mereka, mereka sama-sama saling tidak interest. Saling jutek-jutekan. Tapi sekarang mereka bisa bersahabat. Malah lengket banget, bagai permen karet nempel di sandal jepit he he he… Jadilah kami 3 sahabat. Kami sahabatan bertiga bukan dengan maksud meniru, apa lagi mau menyaingi: 3 Diva, AB Three, RSD, Trio Libels, Trio Kwek Kwek, Molucas, Lex’s Trio (idiiiih jadul pisan he he he…), Bimbo (makin jadul he he he..) atau pun Trio Macan lho ha ha ha… Tapi bener-bener nge-flow aja.
Pesahabatan sejati itu ga afdol kalo ga melewati ujian. Seperti emas, akan muncul kemurniannya setelah dibakar dan ditempa. Persahabatan kami juga mengalami pasang surut. Mengalami berbagai masalah dan gesekkan. Mulai dari miss understanding, tersinggung perkataan pedas, bercanda yang berebihan, marah-marahan dll. Tapi setelah mengalami semua kejadian itu, justru kami makin melihat ‘kilau’ persahabatan kami.
Pernah suatu ketika, Daffa punya sahabat lain dan membentuk Gank Biwir Bahe (B. Sunda: Bibir Tumpah, karena ketuanya berbibir seksi he he he…). Daffa sepertinya asyik dengan dunia barunya, dan lupa dengan persahabatan kami. Gw dan Ronald bener-bener merasa kehilangan dia. Hubungan kami dan Daffa saat itu bener-bener lagi diuji. Komunikasi yang tidak lancar, membuat hubungan kami makin buruk.
Ternyata persahabatan Daffa dengan Gank Biwir Bahe ga berlangsung lama. Dia mulai ga nyaman dengan teman-teman barunya itu. Dia menyadari persahabatan dengan Gank Biwir Bahe adalah cuma persahabatan yang semu. Dia kembali lagi kepada kami dan menyadari kalo kamilah sahabat sejati, yang mau menerima dia apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Seperti lyric lagu sindentosca mengatakan: persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Yup, semua akan indah pada waktunya. Buat Daffa dan Ronald, from the bottom of my heart: Thank’s sudah mau jadi sahabat yang mewarnai hidup gw… I Love U All…
Conclusion:
Terkadang kita terpukau dengan indahnya kilau warna pelangi, tanpa menyadari bahwa pelangi hanyalah bias semu. Karena pemilik cahaya sejati adalah matahari. Jadi bijaklah dalam memilih sahabat.
Sudah hampir 5 tahun gw sahabatan sama dia, banyak pengalaman gila yang kami lalui bersama, termasuk pasang surut hubungan kami. Secara fisik kami ga terlalu sering ketemu. Mungkin karena jarak yang memisahkan kami, gw di ujung sini sementara dia nun jauuuuuh di sana he he he… Tapi itu bukan patokan untuk mengukur seberapa dalam kualitas relationships kami.
Daffa berasal dari keluarga yang agamis, tapi dia orangnya open minded dan ga fanatik. Dia sunda muslim dan gw chinese nasrani, tapi hal itu ga pernah jadi kendala dalam persahabatan kami. Karena kami ga suka mempermasalahkan hal-hal yg berbau sara... tapi suka ilfeel sama yang berbau ketek atau bau jempol mah hi hi hi… (gubrakkk… apa hubungannya ya?).
Salah satu yang unik tentang Daffa adalah, dia terlahir sebagai anak kembar. Yup, dia punya kembaran, namanya Daffi. Secara fisik sih mirip tapi beda style. Adiknya cowok banget, sementara Daffa princess banget he he he… Suaranya juga mirip lho, kalo lewat telpon gw sering dibuat bingung ngebedain antara suara Daffa dan Daffi. Mereka kembar, tapi mereka ga kompak dalam hal orientasi seks he he he.... Yang satu suka cewek cantik, sementara yang lainnya suka cowok ganteng he he he... O iya, tepat sebulan kemarin, adiknya menikahi seorang gadis. Sebelum menikah, adiknya dengan hati-hati mengajak Daffa bicara;
“Daffa… hmm ..hhmm ad…ada yang mau gw omongin…” terbata-bata.
“Apaan sih?!! ngomong aja!!…” Sahut Daffa (dengan intonasi jutek ibu tiri he he he…).
“Sebenernya, gw ga enak ngomongnya nih…” sambung adiknya.
“Ya,dibikin enak aja atuh!!” masih dengan nada jutek.
“ehhmmhh… gini.. ehmmm giniiii…”
“Aduh ribet amat sich? To the point aja lah!” Daffa kehilangan kesabaran.
“Gw mau… mau minta ijin sama loe… bulan depan gw mau married. Sebagai adik, gw ga enak kalo harus melangkahi loe sebagai kakak…” Lanjut Daffi.
“Aduh gitu aja repot!!! Nikah ya nikah aja!!! Sok rariwueh maneh mah!!!” kata Daffa dengan enteng.
“Iya, gw ga enak aja harus ngeduluin loe nikah. Tapi, kalo nunggu-nunggu loe juga kayanya bakal kelamaan, karena sampai sekarang loe belom keliatan punya cewek....”
(ya eyaaaa laaahhh sampai lebaran lutung juga ga akan punya cewek, coz ga nyari-nyari cewek sih hi hi hi…).
“Stop, stop, stooop!! Gw udah ngerti kelanjutannya… ga usah ngebahas yang ga penting!!. Intinya loe minta ijin gw nikah kan? Ya udah nikah sana…” Daffa memotong pembicaraan.
Kembali ke masalah tentang persahabatan kami. Sebenernya awal persahabatan kami, sangat klise sih. Diawali dengan chatting dan akhirnya ketemuan di depan salah satu LPK di jalan Pasirkaliki Bandung. Lalu gw ajak dia berenang di salah satu kolam renang yang terletak di jalan Setiabudi. Pulangnya gw dan Daffa nekat ke lembang padahal hari sudah malam, cuma sekedar buat makan Ayam Brebes doang trus balik lagi.
Kami brerdua naik motor padahal dia ga pake jaket. Mulai dari situ hubungan dan komunikasi kami terjalin dengan baik. Pada awalnya Daffa ada ‘perasaan’ sm gw. Tapi entah kenapa, gw ngerasa kalo gw dan Daffa lebih baik bersahabat aja, tanpa dibumbui dengan cerita asmara.
Bersama berjalannya waktu, akhirnya kami masing-masing punya BF. Tapi hal itu tak mengurangi intensitas hubungan persahabatan kami. Jangan salah sangka dulu ya, hubungan kami murni persahataban bukan TTM –an atau pun selingkuhan.
O, ya seperti yang gw ceritakan di blog postingan sebelumnya, gw juga punya sahabat brondong yang bernama Ronald. Kronologisnya, gw ketemu sama Daffa dulu, baru beberapa bulan kemudian gw ketemu sama Ronald. Secara terpisah, gw bersahabat dengan Daffa, dan gw juga bersahabat dengan Ronald. Setelah sekian lama, gw bersahabat dengan mereka masing-masing. Akhirnya gw mempertemukan Daffa dan Ronald.
Sungguh aneh bin ajaib, pada awal pertemuan mereka, mereka sama-sama saling tidak interest. Saling jutek-jutekan. Tapi sekarang mereka bisa bersahabat. Malah lengket banget, bagai permen karet nempel di sandal jepit he he he… Jadilah kami 3 sahabat. Kami sahabatan bertiga bukan dengan maksud meniru, apa lagi mau menyaingi: 3 Diva, AB Three, RSD, Trio Libels, Trio Kwek Kwek, Molucas, Lex’s Trio (idiiiih jadul pisan he he he…), Bimbo (makin jadul he he he..) atau pun Trio Macan lho ha ha ha… Tapi bener-bener nge-flow aja.
Pesahabatan sejati itu ga afdol kalo ga melewati ujian. Seperti emas, akan muncul kemurniannya setelah dibakar dan ditempa. Persahabatan kami juga mengalami pasang surut. Mengalami berbagai masalah dan gesekkan. Mulai dari miss understanding, tersinggung perkataan pedas, bercanda yang berebihan, marah-marahan dll. Tapi setelah mengalami semua kejadian itu, justru kami makin melihat ‘kilau’ persahabatan kami.
Pernah suatu ketika, Daffa punya sahabat lain dan membentuk Gank Biwir Bahe (B. Sunda: Bibir Tumpah, karena ketuanya berbibir seksi he he he…). Daffa sepertinya asyik dengan dunia barunya, dan lupa dengan persahabatan kami. Gw dan Ronald bener-bener merasa kehilangan dia. Hubungan kami dan Daffa saat itu bener-bener lagi diuji. Komunikasi yang tidak lancar, membuat hubungan kami makin buruk.
Ternyata persahabatan Daffa dengan Gank Biwir Bahe ga berlangsung lama. Dia mulai ga nyaman dengan teman-teman barunya itu. Dia menyadari persahabatan dengan Gank Biwir Bahe adalah cuma persahabatan yang semu. Dia kembali lagi kepada kami dan menyadari kalo kamilah sahabat sejati, yang mau menerima dia apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Seperti lyric lagu sindentosca mengatakan: persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Yup, semua akan indah pada waktunya. Buat Daffa dan Ronald, from the bottom of my heart: Thank’s sudah mau jadi sahabat yang mewarnai hidup gw… I Love U All…
Conclusion:
Terkadang kita terpukau dengan indahnya kilau warna pelangi, tanpa menyadari bahwa pelangi hanyalah bias semu. Karena pemilik cahaya sejati adalah matahari. Jadi bijaklah dalam memilih sahabat.
Label:
cerita,
gay,
homoseksual,
kisah,
persahabatan
Langganan:
Postingan (Atom)