Tampilkan postingan dengan label nostalgia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nostalgia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juli 2013

Nostalgia SMA



NOSTALGIA SMA 
Written by Dadang S. Manaf
Song by Paramitha Rusady

Kau bercanda lucunya
Yang lain pun tertawa
Seakan saja
Cerita dan canda kita
Tiada habisnya
 

Ada yang saling cinta
Bermesra di sekolah
Selalu berdua
Berjalan di sela-sela
Rumput sekolah kita
Oh indahnya....


Nostalgia SMA kita
Indah lucu banyak cerita
Masa-masa remaja ceria
Masa paling indah
Nostalgia SMA kita
Takkan hilang begitu saja
Walau kini kita berdua
Menyusuri cinta...


Kemaren malam gw iseng liat-liat video clip jadul di youtube, ketemulah lagu ini. Waktu mendengar lagu yang dinyanyikan Paramitha Rusady ini, gw seakan terbawa kembali kepada kenangan-kenangan lama sewaktu gw masih jadi siswa berseragam putih abu. Gw tau banget lagu ini, karena dulu sering dinyanyikan berulang-ulang oleh kakak cowok gw yang lagi belajar main gitar.

Benar kata orang kalo masa-masa SMA itu merupakan moment terbaik dan kenangan tak terlupakan. Kenapa bisa begitu? Mungkin karena di usia itu kita untuk pertamakalinya merasa menjadi orang gede dan mengenal rasa cinta. Berbeda dengan anak jaman sekarang yang udah mengenal pacaran di usia SD, atau bahkan pengalaman pertama melakukan ML di masa SMP.. wuiiihhhh.... Kalo gw mah boro-boro tau ML, melakukan onani aja merasa berdosaaaaaaa bangeeeet ha ha ha... (polos banget ya gw? wkwkwk...).

Setelah gw lulus dari sebuah SMP Negeri, gw melanjutkan ke sebuah SMA Negeri di daerah Kabupaten Bandung. Gw sebetulnya ogah bersekolah di situ. Sekalipun itu adalah sekolah favorit di kota tempat tinggal gw, coz gw pengennya sekolah di kodya Bandung. Tapi apa boleh buat, keputusan bokap ga bisa dibantah.. huh!!.
Secara prestasi akademik, gw ga terlalu istimewa-istimewa banget. Tapi ga bego-bego banget juga sih he he he...  Ya, kalo soal ranking mah gw selalu bisa masuk 5 besar, kok.

Karena letak sekolahnya berada dipinggiran, kami menyebutnya sebagai sekolah disko alias sekolah di sisi kota he he he... Sekolah gw emang di daerah pedesaan yang udaranya masih segar dan dekat dengan area persawahan. Untuk mencapai sekolah, setiap harinya gw harus berjalan kaki sekitar 500 M, kemudian dilanjutkan dengan naik delman. Saking seringnya gw naik delman, gw jadi kenal dengan para kusirnya. Dan gw pun dapat ilmu mengendalikan delman dari mereka. Beberapa kali gw pernah mencoba mengendarai delman lho he he he...
Caranya gampang kok:
1. Menghentakan kedua tali kekang untuk menyuruh kuda mulai maju dan berlari.
2. Kasih cambukkan untuk membuatknya berlari lebih kencang.
3. Menarik-narik tali kekang kanan berulang-ulang tapi pelan untuk membelokkan ke arah kanan.
4. Menarik-narik tali kekang kiri berulang-ulang tapi pelan untuk membelokkan delman ke arah kiri.
5. Menarik kedua tali kekang secara bersamaan dan bertenaga untuk menghentikan laju delman.

Simple kan? begitulah panduan singkat mengendalikan delman he he he... tak lupa bunyikan klakson tradisionalnya yang bunyinya sangat khas dan nyaring: ‘ting tong’.

Selain naik delman, kadang-kadang gw juga naik becak. Tarifnya 3 kali lipat dari ongkos naik delman. Untuk becak, gw punya langganan tetap. Dari kejauhan dia selalu melambai-lambaikan tangannya, kearah gw untuk menawarkan jasanya. Dia sangat bertenaga, sehingga laju becaknya jauh lebih cepat dari becak-becak lainnya. Abang becak itu masih muda, ramah, badannya berotot dan lumayan tampan he he he... Tapi yang bikin dia nampak hot adalah, dia selalu pakai celana super pendek, semacam hotpant (celana jeans yang sengaja dipotong pendek) he he he... Celana pendeknya itu mengekspose pahanya yang kekar berotot dan menonjolkan gundukan isi celana dalamnya ha ha ha...

Di kelas II dan III gw bersahabat dengan teman sebangku, sebut saja namanya Nurdin. Anaknya lucu, kulitnya sawomatang, badannya kekar, sedikit pendek tapi berpaha besar dan bokongnya berisi he he he... (dia hobby banget main sepak bola). Sekalipun dia berasal dari keluarga orang kaya dan muslim yang taat, tapi dia sangat toleran dengan gw yang punya kepercayaan yang berbeda dengannya.

Sejak bersahabat dengan Nurdin, gw jadi jarang naik delman, coz tiap hari gw diantar jemput oleh Nurdin. Perginya gw menunggu dia di tempat terminal delman, tapi pulangnya gw diantar sampai ke rumah. Sepulang sekolah gw sering menghabiskan waktu di rumah Nurdin yang luas banget tapi sepiiiii... Ngobrol, ngerjain PR, main nintendo dll. Begitu juga, Nurdin sering main ke rumah gw. Dia sangat care sama gw, setelah main dari rumahnya pasti dia mengantar gw pulang. Ppadahal gw sering menolaknya karena merasa sungkan. Dia selalu ingat dan memberikan kado waktu gw berulangtahun, begitupun juga gw. Kalo dipikir-pikir sekarang, kayanya agak ganjil ya kalo hubungan cowok seakrab/semesra itu? he he he...   

Dia juga ga segan-segan bertelanjang di depan mata gw, waktu dia berganti pakaian. Sekalipun badannya pendek tapi burungnya cukup menggoda, dengan bulu-bulunya yang sudah sangat lebat he he he... Gw kadang memalingkan muka, antara malu sendiri dan takut horny ha ha ha...

Kami emang tumbuh bersama, begitupun waktu kami mulai mengenal cinta pertama. Dia berpacaran dengan tetangganya yang bernama Mutiara dan gw berpacaran dengan lydia. Tapi Nurdin seringkali lebih mengutamakan gw dibandingkan pacarnya. Secara waktu juga Nurdin lebih sering bersama dengan gw dibandingkan dengan pacarnya.

Setelah lulus SMA, Nurdin diterima di UGM sementara gw kuliah di salah satu PTS di Bandung. Perpisahanpun tak terelakkan. Tapi tiap kali libur panjang, Nurdin pasti menyempatkan berkunjung ke rumah gw. Sampai kami sama-sama lulus kuliah dia masih suka berkunjung ke rumah gw. Karena kesibukkan pekerjaan dan lain sebagainya, lama-kelamaan kami tidak berhubungan lagi.

Beberapa tahun lalu gw ketemu lagi dengan Nurdin di sebuah resepsi undangan pernikahan. Dia sudah menggandeng seorang perempuan, yaitu istrinya, tapi mereka belum punya anak.
Begitulah hubungan gw dengan Nurdin yang sangat gw nikmati sekalipun cuma sebagai sahabat... sangat... dekat... sekali... ha ha ha...


O ya, Nurdin lahir di bulan yang sama dengan gw tapi dia satu tahun lebih tua dari gw (dia lahir tanggal 5 dan gw tanggal 18).Hari ini tanggal 5 Juli, adalah hari ulang tahunnya Nurdin. “Selamat ulang tahun, sobat. Mungkin kamu ga akan pernah baca kisah yang aku tulis ini. Tapi percayalah, aku akan selalu mengingat kamu sebagai sahabat terbaik aku.”


Di sekolah itu gw juga jadi tau beberapa karakter teman yang berbeda-beda. Ada Agus Barkah yang ga pernah pake celana dalam. Burungnya suka keliatan gundal gandul. Malah sering nampak jembutnya nongol waktu ritzleting celananya rusak dan melorot terus ha ha ha...

Ada lagi teman yang menurut gw sih cenderung eksentrik, sebut saja namanya Chaidir. Waktu upacara bendera dia bertugas membacakan doa, tapi dia malah bedoa dengan cara berpuisi. Kami sampai-sampai kami semua dibuat ngakak terpingkal-pingkal he he he... Chaidir termasuk anak yang cerdas, sekalipun anak seorang tukang becak. Kadang pemikirannya beberapa langkah di depan kami. Ibu Hariani, seorang guru biologi yang masih sangat muda, sempat dibuat salah tingkah waktu Chaidir bertanya: “Apa bedanya organisme dengan orgasme??” he he he... padahal waktu itu kita masih kelas I. Gw mah boro-boro tau apa orgasme, masalah seks aja masih ngeblank ha ha ha... Di kelas III Chaidir dikeluarkan dari sekolah karena tertangkap sebagai salah satu gerombolan perampok. Beritanya pun sangat menghebohkan, karena dimuat di koran-koran.

Aisyah adalah salah satu teman perempuan di kelas gw yang termasuk paling alim. Rumah Aisyah letaknya tidak jauh dari sekolah gw. Dia berkerudung dan sikapnya sangat santun. Dia berpacaran dengan kakak kelas gw yang aktif di ekskul kepramukaan. Namanya Ridwan, orangnya alim juga. Suatu hari bapaknya Aisyah ngamuk sambil mengacung-ngacungkan golok mengusir Aisyah dari rumahnya, karena dia hamil diluar nikah. Mungkin bapaknya Aisyah merasa tercoreng nama baiknya oleh kelakuan anaknya sendiri. Padahal dia adalah seorang kepala sekolah sebuah SMP. Kejadian ini cukup menggemparkan sekolah gw.

Masih inget dengan teman gw Syarief? Ya dia adalah teman gw yang super ngondek dan suka dijadikan objek pemuas sex teman-teman paling bandel di kelas. Dia dengan sukarela dan bahagia mengoral penis para preman kelas he he he...  Kisah lengkapnya pernah gw tulis di Sejumput Kisah Indah Masa Kecil.

Di kelas III ada guru Bahasa Inggris yang galak banget, sebut saja namanya Ibu Aprilia. Ibu guru berkerudung ini sebenarnya cantik dan bermata bening tapi juteknya minta ampuuuun. Dia sangat tegas dan ga ada kata ampun. Aturannya ga bisa dibantah. Masuk kelas tidak boleh terlambat sekalipun cuma 1 menit, kalo terlambat tidak akan diperbolehkan masuk.  Begitulah karakter guru perempuan yang masih lajang, kadang suka berlagak galak.

Perlakuan galak itu rupanya tidak berlaku sama gw. Gw diperlakukan sangat baik oleh dia. Sampai-sampai teman-teman sekelas menggosipkan kalo Ibu Aprilia itu naksir berat sama gw.  Ibu Aprilia emang ga segan-segan meminta tolong sama gw untuk memeriksa hasil ulangan teman-teman sekelas gw, atau menyuruh hal-hal lainnya; seperti memfotocopy-kan ktp-nya yang fotonya belum berjilbab (dia wanti-wanti jangan sampai orang lain melihat fotonya). Beberapa kali dia memberi gw sebatang coklat, sebagai tanda terimakasih he he he...

Perlakuan yang sangat jomplang antara kepada gw dan teman-teman gw sangat terlihat jelas. Waktu gw dan beberapa teman gw datang terlambat. Padahal mata pelajaran Bahasa Inggris sudah berlangsung lebih dari 10 menit yang lalu. Setelah kami mengetuk pintu kelas, kami pun diinterogasi.
“Kenapa kamu terlambat, Azis?” tanyanya.
“Tadi ga ada kendaraan, bu. Delman ga ada, becak juga ga ada...” Jawab Azis dengan suara sedikit bergetar ketakutan.
“Kenapa kamu tidak pergi lebih awal??, sana keluar!!!” Ibu Aprilia mengusir Azis.
“Ronny, alasan kamu apa?” lanjut Ibu Aprilia.
“Tadi ada buku yang ketinggalan, jadi saya harus pulang lagi ke rumah, bu.” Jawab Ronny.
“Makanya jangan ceroboh! Hukuman buat yang ceroboh, silahkan belajar di luar kelas!!” kata Ibu Aprilia tegas.
“Trus, kenapa kamu terlambat Farrel?” tanya Ibu Aprilia dengan nada yang lebih rendah.
“Hmmm... Maaf bu, tadi saya bangunnya kesiangan...”. jawab gw asal-asalan sambil senyum dan pasang muka innocence.
“Nah, itu baru alasan yang logis. Duduk sana di bangku kamu...” sahut Ibu Aprilia dengan lantang. Sontak keputusan Ibu Aprilia itu disambut tepuk tangan dan suara sangat riuh teman-teman sekelas. Sumpah!! Gw  maluuuuu bangeeeet... diperlakukan istimewa kaya gitu ha ha ha...
“Diaaam!!! Kita lanjutkan pelajaran, buka halaman 42!!!” hardik Ibu Aprilia.

Guru sejarah gw, namanya Pak Darsono. Dia adalah salah satu guru yang kalo gw inget suka bikin gw ketawa-ketawa sendiri. Perawakannya tinggi cungkring, berambut ikal dan berjanggut. Yang lucu dari dia adalah gaya dia waktu mengendarai sepeda motornya. Gayanya sangat khas, yaitu kaki kanannya ngangkang selebar-lebarnya. Sementara kaki kirinya posisinya merapat ke tengah. Gw suka bercanda khayalan tingkat tinggi dengan teman-teman gw, waktu  liat Pak Darsono lagi ngebut dengan sepeda motornya: “Coba kalo lagi ngebut gitu kaki kanannya nyangkut di tiang listrik, dia bisa muter-muter ditempat sampe maghrib kali ya? ha ha ha...”.

Ada seorang guru pria yang digosipkan para siswa sebagai penyuka sesama jenis. Sebut saja namanya Pak Kohar. Perawakannya gemuk, kulitnya hitam, berkacamata, dan berkumis tebal. Indikasinya terlihat kalo dia lebih memperhatikan murid cowok, sementara murid-murid cewek dicuekin. Apalagi sama siswa yang termasuk berwajah tampan, pasti dia memperlakukannya sangat baik. Waktu mengajar dia sering duduk di meja siswa yang disukainya. Di tiap kelas, dia mempunyai murid kesayangan. O ya, anak laki-laki Pak Kohar adalah salah satu teman sekelas gw juga. Tapi Pak Kohar sering memperlakukan dia dengan kasar dan galak.

Segala kisah pahit-manis di masa-masa SMA,  kini tinggal menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang tak terlupakan... Seumur hidup gw.  Selamanya...

Conclusion:
Sebuah rangkaian kenangan indah yang membekas dihati, kadang bisa menjadi hiburan tersendiri. Karena bisa membuat kita tersenyum lepas tatkala mengingatnya, untuk sekedar bernostalgia.

Jumat, 03 Februari 2012

Kebun Binatang Bandung, Riwayatmu Kini


Ini lanjutan dari perjalanan gw ke Car Free Day Dago, tanggal 29 Januari 2012 kemaren… Selagi gw menyusuri Jl. Ganeca menuju tempat parkir motor. Terbersit dalam benak gw, kenapa ga lanjut ke Kebun Binatang aja ya? coz tempatnya cukup dekat, dari parkiran tinggal lurus dikit sampe dech di Kebun Binatang  di Jl. Taman Sari, Bandung.

Gerbang Kebun Binatang Bandung
Tidak ada antrian panjang waktu gw beli tiket masuk, seharga Rp 20.000,- itu. Mungkin karena masih agak pagi. Waktu itu jam di HP gw baru menunjukkan pukul 09:30 WIB. Gw melalui gerbang pemeriksaan tiket, lalu masuk ke area Kebun Binatang. Udara segar langsung menyeruak. Kedatangan gw seolah-olah disambut oleh semilir angin sejuk dan suara gemerisik dedaunan dari pohon-pohon yang tinggi dan rimbun.

Pemandangan waktu memasuki Kebun Binatang Bandung
Salah satu sudut Kebun Binatang Bandung
Atmosfir itu seakan membawa gw kepada kenangan masa kecil. Saat piknik (aduh bahasanya jadul banget ya? wkwkwk…) atau bertamasya bareng keluarga. Papa, Mama, kakak-kakak dan adik gw. Setelah sekian puluh tahun, Kebun Binatang Bandung memang ga berubah banyak kok. Makanya suasananya bikin nostalgia ke masa kecil gw sangat berasa.

Biasanya kalo pergi ke Kebun Binatang, Mama selalu menyiapkan perbekalan; entah itu nasi timbel lengkap dengan lauk pauknya (ayam goreng, tahu, tempe, sambal dan lalapan), atau hanya sekedar bawa lontong isi daging atau oncom dilengkapi dengan rempeyek kacang. Semuanya buatan Mama sendiri. Bawa bekal dari rumah selain lebih sehat, juga lebih hemat dan mengenyangkan, begitulah kata Mama he he he… dasar ya ibu-ibu mah selalu pake prinsip ekonomi wkwkwk… Tak lupa kami selalu bawa tikar dari rumah. Padahal mah disana juga banyak yang menyewakan tikar, tapi mama bilang: "sewanya mahal" he he he…

Jalan-jalan sambil menikmati udara segar
Salah satu sudut Kebun Binatang Bandung
Area favorit makan bareng dengan menggelar tikar
Kebun Binatang Bandung yang katanya didirikan pada tahun 1930 itu, nampak lumayan masih terjaga soal kebesihannya. Tapi sayang koleksi hewannya tidak selengkap dulu. Contohnya Jerapah sudah tidak ada lagi karena mati. Konon jerapah itu tewas gara-gara banyak kantung plastik di dalam perutnya yang tidak dapat dicerna, kabarnya sih kantong plastik itu beratnya 6 KG lho. Makanya kalo ke Kebun Binatang, usahakan buang sampah pada tempatnya, kalo tidak nanti bisa terbawa angin dan masuk ke kandang dan ada kemungkinan dimakan oleh hewan-hewan itu. Sebaiknya kita juga jangan memberi makanan pada hewan-hewan itu coz bisa saja makanan yang kita berikan bisa membahayakan mereka. Gw juga lihat babirusanya udah tampak tua dan kurus banget.

Penempatan beberapa kandang hewan sekarang sudah ada yang sedikit berubah. Tapi kandang gajah, beruang, orang utan, dan beberapa hewan lain masih tetap sama. Begitu juga danau buatan yang ditengah-tengahnya ada pulau rimbun yang dihuni oleh beberapa ekor Owa Jawa, masih tetap sama. Di danau itu kita bisa berperahu atau naik sepeda air berbentuk angsa berwarna-warni.

Berperahu dan naik sepeda air mengelilingi danau buatan
Area kandang reptil
Area kandang binatang buas
Memotret hewan yang tidak memakai kerangkeng jauh lebih menarik, karena hasilnya bisa lebih natural. Makanya gw agak males motret hewan yang ditempatkan di dalam kurungan besi. Terutama burung-burungan, padahal gw suka banget segala jenis ‘burung’ (lho?)  he he he…. O ya, binatang buas seperti harimau, singa, dan macan tutul sekarang bagian bawah kandangnya menggunakan fiberglass. Jadi kerangkengnya tidak mengganggu pemandangan waktu dipotret. Sedikit buram sih tapi lebih baik lah.

Owa Jawa
Rusa Jawa
Orangutan
Burung Kasuari
Buaya Muara
Komodo
Beruang Grizzly
Singa
Banteng
Beruang Madu
Burung Nuri
Babirusa
Untuk mengisi perut, di dalam Kebun Binatang Bandung, sekarang ada restoran ayam goreng siap saji (saingan ayam goreng si kakek tua). Selain itu ada juga area foodcourt  yang menjual aneka makanan.

Area yang lumayan luas dan kontur tanahnya yang naik turun, dengan pepohonan yang rimbun membuat kita yang jalan-jalan sedikit ngos-ngosan he he he… Tapi tetap seru kok. Sambil jalan-jalan, menikmati udara segar, melihat koleksi hewan, tanpa disadari sambil berolahraga pula.

Ada juga area kandang hewan yang mengeluarkan bau tidak enak, yang merusak kesegaran udara disana. Seperti kandang kalong, kambing, dan burung-burung buas. Tapi ga apa-apalah tinggal tutup hidung aja kalo lewat ke area itu he he he…

Di Kebun Binatang Bandung juga tersedia hewan tunggangan seperti gajah dan unta. Kalo mau naik kuda sih banyak tersedia di sepanjang Jl. Ganeca.

Delman di Jl. Ganeca
Buat yang membawa anak-anak, tersedia area bermain. Didalamnya terdapat ayunan, perosotan, jungkit-jungkitan, komidi putar mini, dan lain-lain. Semuanya tersedia gratis.

Ada beberapa toilet yang tersedia di area Kebun Binatang Bandung. Tapi ada satu toilet, yang menurut gw unik. Yaitu toilet yang letaknya tidak jauh dari gerbang masuk. Disana toiletnya cukup bersih, tapi tiap orang yang masuk kok melepas sandal dan sepatu ya? Gw sih sebelumnya melenggang masuk dengan alas kaki gw, dan gw baru nyadar setelah keluar dari toilet itu he he he… O ya toilet itu bukan toilet mushola lho, makanya gw agak heran.

Satu lagi yang unik dari Kebun Binatang Bandung. Disana ada seorang pengemis perempuan tua yang tidak punya kaki sama sekali. Seingat gw, waktu kecil pengemis itu selalu tampak disana. Bahkan menurut Mama gw, sewaktu dia masih gadis,  pengemis tanpa kaki itu pun sudah eksis di Kebun Binatang Bandung. Sungguh sosok yang setia dengan profesinya he he he…

Pengemis tanpa kaki
Waktu gw kesana, di panggung lagi ada pertunjukkan pencak silat anak-anak. Mulai dari TK hingga SMP. Seru dan lucu juga melihat gerakan-gerakan mereka yang diiringi alunan kendang, terompet, dan gong sebagai penyemangat dan pengatur ritmik. Tapi menjelang puncak acara hujan turun cukup deras, sehingga para penontonnya bubar he he he... 

Atraksi pencak silat
Makin siang, pengunjung Kebun Binatang makin penuh. Memang didominasi oleh orangtua yang membawa anak-anaknya. Tapi tak sedikit juga pasangan muda-mudi yang turut mengunjungi Kebun Binatang Bandung. Waktu gw keluar dari area Kebun Binatang, nampak banyak mobil pengunjung terparkir disepanjang Jl. Taman Sari. Kebun Binatang Bandung memang ramainya cuma di hari Minggu. Kalo hari-hari biasa, pengunjungnya hanya sedikit.

Bonbin, maskot Kebun Binatang Bandung
Di seberang sungai tampak bangunan Cihampelas Walk
Lalulintas padat merayap di Jl. Tamansari
Deretan mobil terparkir di sepanjang Jl. Tamansari
Bagi sebagian orang, main ke Kebun Binatang mungkin dianggap kampungan, bikin malu atau kekanak-kanakan. Tapi gw mah cuex aja, ga pake gengsi-gengsian… Setidaknya disana gw bisa sedikit bernostalgia menikmati potongan sejarah masa kecil gw. So, siapa lagi yang mau mengikuti jejak gw bernostagia di Kebun Binatang? he he he…


Conclusion:
Kebun Binatang Bandung, mungkin tempat wisata yang sudah tidak sepopuler dulu. Karena tergerus oleh kehadiran mall-mall dan tempat-tempat wisata baru. Tapi masih sangat representatif sebagai sarana anak-anak untuk belajar mencintai lingkungan hidup, sambil menikmati kesegaran udaranya.

Minggu, 04 Desember 2011

Ngelayap Ke Saung Angklung Udjo


Siapa sih yang ga tau Udjo Ngalagena? Dia adalah salah satu seniman besar Indonesia, yang namanya sudah terkenal ke mancanegara. Almarhum Udjo Ngalagena atau lebih akrab dengan sebutan Mang Udjo adalah maestro angklung Indonesia. Dia belajar angklung bernada diatonis (do, re, mi, fa so, la, si, do) langsung dari sang pencipta angkung diatonis Bapak Daeng Soetigna. O ya, perlu diketahui kalo sebenernya alat musik angklung itu sudah ada sejak dulu dan merupakan warisan budaya secara turun-temurun. Namun angklung yang asli masih berlaras pelog dan salendro.

Udjo Ngalagena

Mang Udjo adalah seniman serba bisa, itu ga mengherankan karena dia belajar seni dan budaya langsung dari para ahlinya. Seperti Gamelan, dia belajar dari Raden Machjar Angga Koesoemadinata. Belajar main kecapi dan lagu-lagu daerah dari Mang Koko. Dan seperti gw sebut diatas, Mang Udjo belajar angklung dari Daeng Soetigna.

Sungguh membanggakan saat tanggal 16 November 2011 di Nairobi, Kenya, angklung disahkan menjadi warisan budaya tak benda asli Indonesia oleh UNESCO. Mengetahui keputusan UNESCO itu, kita bisa bernafas lega dan Mang Udjo pun nampaknya bisa tersenyum dalam tidur panjangnya.

1 Desember 2011 kemaren, gw nganter Mario, ngambil kameranya yang baru selesai diservice di BeMall Jl. Naripan - Bandung. Setelah keluar dari BeMall, dia ngajak gw lanjut untuk nyari cindera mata khas Bandung buat teman-temannya di luar negeri sana. Tapi dia masih bingung mau kemana dan beli apa. Secara spontan gw usul, gimana kalo  ke Saung Angklung Udjo  aja? Dan dia langsung setuju.

Saung Angklung Udjo atau SAU, letaknya emang agak jauh dari pusat kota Bandung. Lokasi SAU sendiri berada di Jl. Padasuka No. 118, Bandung, tidak begitu jauh dari Pusat Perbelanjaan dan Bisnis Surapati Core.

Ini adalah kali ke-2 gw berkunjung ke SAU. Suasana yang asri dan teduh langsung terlihat waktu gw memasuki area parkirnya yang lumayan luas. Disana nampak rumpun-rumpun pohon bambu yang menjulang tinggi. Dedaunannya mengeluarkan bunyi gemerisik setiap kali ditiup hembusan angin. Keindahan suatu suara alam yang sudah langka gw dapatkan dalam keseharian…

Parkir Di Bawah Rindangnya Rumpun Bambu

Rumpun Bambu

Area Parkir SAU

Memasuki galeri cindera mata SAU, kita langsung di suguhi pilihan aneka kerajinan tangan khas Jawa Barat. Saking banyaknya, gw sendiri sampai bingung he he he…
Berikut ini sebagian dari yang gw ingat;
1.Aneka Angklung dengan berbagai ukuran, mulai dari yang dibuat jadi kalung sampai alat musik benerannya.

Bros Angklung Mini

Seperangkat Angklung

Angklung & Aneka Cinderamata

2. Aneka Wayang dalam berbagai karakter, bentuk, ukuran, dan fungsinya.

Aneka Karakter Wayang 

5 Cepot, Bisa Dibikin Boysband wkwkwk...

Cepot, Dawala, & Gareng

Cepot Diantara Gareng Dan Buta (Raksasa)

Wayang Rama & Shinta Yang Eksklusif

Wayang Buat Gantungan Di Mobil

Ballpoin Wayang

Gantungan Kunci Kepala Wayang

3. Aneka Accessories seperti kalung, gelang dll, dari berbagai macam bahan dan bentuk.

Aneka Gelang Kayu 

Aneka Kalung

4. Aneka benda berbahan kain batik.

Kain Batik

Tas Batik

5. Aneka pajangan dengan berbagai macam model.

Topeng Batik

Miniatur Sepeda Onthel

6. Aneka mainan anak-anak tradisional, kaya: pepeletokan, panggal (gangsing), tik-tok dll.

Mainan Tradisionil Tik-Tok

7. Aneka T-shirt juga ada disana.
Dan masih banyak yang lainnya.

Aneka Cindera Mata

O ya di dalam galeri, pengunjung dihibur oleh 2 orang yang berkolaborasi memadukan gitar dan angklung, menyuguhkan lagu-lagu Evergreen Love Song (tapi kadang terselip lagu-lagu terkini kok).

Kolaborasi Gitar dan Angklung

Setiap harinya di Bale Karesmen (semacam aula), tiap petang digelar pertunjukkan seni, yang terdiri dari:
Pentas Wayang Golek, upacara Helaran, tari-tarian tradisional, Angklung orkestra, musik Arumba dan lain-lain. Yang unik dari SAU adalah, menjadikan kalung berbentuk angklung mini sebagai tanda tiket masuk.

Buat pengunjung yang perutnya lapar, di Warung SAU tersedia aneka makanan tradisionil khas Sunda. Bagi tamu luar kota yang ingin bermalam pun tersedia Guest House. Pokoknya mah di SAU komplit plit plit pliiiiit… he he he...

Karena pergi dadakan, gw hanya bisa mengabadikan foto-fotonya lewat kamera hp. Jadi ya maaf kalo hasilnya alakadarnya he he he…

Ah nampaknya akan lebih puas kalo kalian sendiri yang langsung berkunjung kesana.

Conclusion:
Kesenian tradisionil mempresentasikan keluhuran budaya bangsa, Kalo bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi?