Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

Makhluk-Makhluk Kecil Di Sekitar Kompleks Rumah


Pagi-pagi sebelum panas matahari terasa terik menyengat, gw jalan-jalan di sekitar kompleks perumahan tempat gw tinggal dengan menenteng kamera. Kompleks perumahan tempat  gw tinggal memang berkonsep cluster, dan isinya kurang dari 50 rumah. Diantara rumah-rumah yang berderet masih terdapat beberapa kavling tanah kosong. Tanah-tanah kosong itu di penuhi ilalang dan aneka tanaman liar. Menurut penduduk asli yang tinggal di luar kompleks; konon kompleks perumahan ini merupakan bekas kebun yang luas. Gw dan keluarga gw sendiri baru menempati kompleks ini sekitar 7 tahunan yang lalu.

Kebetulan tepat di depan rumah gw, ada 4  kavling tanah kosong (2 didepan, 2 dibelakangnya) yang tanahnya masing kosong belum berdiri bangunan. Jadi kami bisa menikmati pemandangan dengan leluasa.

Pagi itu gw emang berniat mengabadikan hewan-hewan kecil yang hidup di kavling-kavling kosong kompleks perumahan, melalui jepretan kamera. Walau letaknya di pusat Kota Bandung, gw merasa takjub aja coz di seputar kompleks masih hidup aneka serangga, burung, reptil, dll. Yang konon mereka hanya mau hidup di area yang udaranya masih bersih.

Capung 1
Capung 2
Capung 3
Capung 4
Capung 5
Tiap pagi kicauan burung masih terdengar merdu. Bukan hanya burung pipit atau burung gereja tapi ada jenis-jenis burung lainnya, seperti burung kutilang dan sepasang burung perkutut (entah penghuni asli atau cuma burung yang kabur dari pemiliknya). Di siang dan sore dan kadang malam hari sering terdengar suara burung Kedasih/ atau Wiwik Kelabu, yang dalam B. Sunda disebut: Manuk Uncuing, Sit Uncuing, atau Sirit Uncuing (dalam B. Sunda Sirit =  penis lho he he he... apa hubungannya ya? wkwkwk... ). Menurut mitos bila burung ini berbunyi  merupakan pertanda ada orang yang meninggal.Ya iyalah burung Kedasih/Wiwik Kelabu atau Sirit Uncuing (ups!) itu bakal sering bunyi coz rumah gw kan deket sama sebuah Rumah Sakit yang cukup besar,  jadi ga heran kalo sering ada yang mati he he he... Burung Kedasih atau Wiwik Kelabu itu bentuknya kecil tapi suaranya nyaring, melengking menyayat hati, bahkan kadang menyeramkan dan bikin bulu kuduk merinding.

Burung Kedasih atau Wiwik Kelabu
Foto diambil dari Alamendah's Blog
Di malam hari kami masih sering terlihat kunang-kunang beterbangan dengan kerlap-kerlip cahaya yang berpendar di tubuhnya. Ini merupakan kejadian langka buat orang-orang yang tinggal di perkotaan. Tapi syukurnya gw masih bisa sering-sering menikmatiknya. Diluar sana suara jangkrik kadang masih terdengar merdu dan menjadi pengantar gw memasuki alam mimpi.

Ini serangga atau monster kecil?
Ini serangga atau monster kecil? part II he he he...
 Mungkin karena didepan rumah kami ada tanah kosong yang dipenuhi semak belukar, jadi bukan hal yang aneh lagi kalo sesekali halaman rumah gw dikunjungi kodok, kadal, bekicot, tikus, kaki seribu, katak pohon dll. Bahkan seekor ular pernah menyelinap masuk ke dalam rumah, dan terpaksa gw bantai di dapur  he he he... Mungkin terdengar agak aneh sih di tengah Kota Bandung masih terdapat hewan-hewan yang biasanya cuma di temui di sawah atau tanah lapang.

Kupu-kupu hinggap di tanaman babadotan
Kupu-kupu menghisap nektar
Kupu-kupu merentangkan sayapnya
Kalo memperhatikan tanaman liar di kavling kosong beserta dengan penghuninya gw jadi inget pelajaran biologi tentang komunitas waktu masih SD he he he...

Sebagai catatan:  memotret kupu-kupu di alam terbuka jauh lebih sulit dan butuh kesabaran ekstra tinggi (jadi mendingan motret kupu-kupu mah di taman kupu-kupu aja he he he...). Apa lagi kupu-kupu yang berukuran kecil, mereka jarang sekali hinggap, kalo pun sesekali hinggap hanya sesaat saja.

Kupu-kupu kuning yang kecil 1
Kupu-kupu kuning yang kecil 2
Kupu-kupu kuning yang kecil 3 
Sebenarnya masih banyak sih hewan lainnya tapi tidak terpotret; seperti belalang, katak pohon, burung-burung dll. Tapi dari sebagian kecil foto-foto gw cukup bisa menggambarkan suasana kompleks tempat gw tinggal. Udara yang bersih, tidak bising, dan masih banyaknya hewan liar yang hidup di dalamnya.  Semua elemen itu bagi gw seperti surga yang tersembunyi di tengah keramaian dan hiruk-pikuk Kota Bandung. Tapi entah sampai kapan gw bisa menikmatinya. Mungkin setelah di 4 kavling kosong itu berdiri rumah-rumah, nampaknya gw harus merelakan keindahan alami itu berlalu...

Anak kadal
Tanaman liar 1
Tanaman liar 2
Tanaman liar 3 
Btw, Ada beberapa orang yang komplain; kok blog gw isinya jadi tentang ‘Flora dan Fauna’ ya? he he he... Tenang aja, gw ga akan lupa kok konsep awal gw bikin blog ini buat apa. Saat ini gw, cuma ingin menulis apa yang ingin gw tulis aja. Sssttt... ini juga merupakan salah satu pengalaman hidup gw kan? he he he...

Conclusion:
Tak perlu pergi jauh-jauh untuk membuat kita kagum betapa sempurna ciptaanNya. Lihat sekitar kita, dan belajarlah menjadi bijak. Harmony keindahan alam akan tetap terjaga jika kita tetap peduli.

Jumat, 03 Februari 2012

Kebun Binatang Bandung, Riwayatmu Kini


Ini lanjutan dari perjalanan gw ke Car Free Day Dago, tanggal 29 Januari 2012 kemaren… Selagi gw menyusuri Jl. Ganeca menuju tempat parkir motor. Terbersit dalam benak gw, kenapa ga lanjut ke Kebun Binatang aja ya? coz tempatnya cukup dekat, dari parkiran tinggal lurus dikit sampe dech di Kebun Binatang  di Jl. Taman Sari, Bandung.

Gerbang Kebun Binatang Bandung
Tidak ada antrian panjang waktu gw beli tiket masuk, seharga Rp 20.000,- itu. Mungkin karena masih agak pagi. Waktu itu jam di HP gw baru menunjukkan pukul 09:30 WIB. Gw melalui gerbang pemeriksaan tiket, lalu masuk ke area Kebun Binatang. Udara segar langsung menyeruak. Kedatangan gw seolah-olah disambut oleh semilir angin sejuk dan suara gemerisik dedaunan dari pohon-pohon yang tinggi dan rimbun.

Pemandangan waktu memasuki Kebun Binatang Bandung
Salah satu sudut Kebun Binatang Bandung
Atmosfir itu seakan membawa gw kepada kenangan masa kecil. Saat piknik (aduh bahasanya jadul banget ya? wkwkwk…) atau bertamasya bareng keluarga. Papa, Mama, kakak-kakak dan adik gw. Setelah sekian puluh tahun, Kebun Binatang Bandung memang ga berubah banyak kok. Makanya suasananya bikin nostalgia ke masa kecil gw sangat berasa.

Biasanya kalo pergi ke Kebun Binatang, Mama selalu menyiapkan perbekalan; entah itu nasi timbel lengkap dengan lauk pauknya (ayam goreng, tahu, tempe, sambal dan lalapan), atau hanya sekedar bawa lontong isi daging atau oncom dilengkapi dengan rempeyek kacang. Semuanya buatan Mama sendiri. Bawa bekal dari rumah selain lebih sehat, juga lebih hemat dan mengenyangkan, begitulah kata Mama he he he… dasar ya ibu-ibu mah selalu pake prinsip ekonomi wkwkwk… Tak lupa kami selalu bawa tikar dari rumah. Padahal mah disana juga banyak yang menyewakan tikar, tapi mama bilang: "sewanya mahal" he he he…

Jalan-jalan sambil menikmati udara segar
Salah satu sudut Kebun Binatang Bandung
Area favorit makan bareng dengan menggelar tikar
Kebun Binatang Bandung yang katanya didirikan pada tahun 1930 itu, nampak lumayan masih terjaga soal kebesihannya. Tapi sayang koleksi hewannya tidak selengkap dulu. Contohnya Jerapah sudah tidak ada lagi karena mati. Konon jerapah itu tewas gara-gara banyak kantung plastik di dalam perutnya yang tidak dapat dicerna, kabarnya sih kantong plastik itu beratnya 6 KG lho. Makanya kalo ke Kebun Binatang, usahakan buang sampah pada tempatnya, kalo tidak nanti bisa terbawa angin dan masuk ke kandang dan ada kemungkinan dimakan oleh hewan-hewan itu. Sebaiknya kita juga jangan memberi makanan pada hewan-hewan itu coz bisa saja makanan yang kita berikan bisa membahayakan mereka. Gw juga lihat babirusanya udah tampak tua dan kurus banget.

Penempatan beberapa kandang hewan sekarang sudah ada yang sedikit berubah. Tapi kandang gajah, beruang, orang utan, dan beberapa hewan lain masih tetap sama. Begitu juga danau buatan yang ditengah-tengahnya ada pulau rimbun yang dihuni oleh beberapa ekor Owa Jawa, masih tetap sama. Di danau itu kita bisa berperahu atau naik sepeda air berbentuk angsa berwarna-warni.

Berperahu dan naik sepeda air mengelilingi danau buatan
Area kandang reptil
Area kandang binatang buas
Memotret hewan yang tidak memakai kerangkeng jauh lebih menarik, karena hasilnya bisa lebih natural. Makanya gw agak males motret hewan yang ditempatkan di dalam kurungan besi. Terutama burung-burungan, padahal gw suka banget segala jenis ‘burung’ (lho?)  he he he…. O ya, binatang buas seperti harimau, singa, dan macan tutul sekarang bagian bawah kandangnya menggunakan fiberglass. Jadi kerangkengnya tidak mengganggu pemandangan waktu dipotret. Sedikit buram sih tapi lebih baik lah.

Owa Jawa
Rusa Jawa
Orangutan
Burung Kasuari
Buaya Muara
Komodo
Beruang Grizzly
Singa
Banteng
Beruang Madu
Burung Nuri
Babirusa
Untuk mengisi perut, di dalam Kebun Binatang Bandung, sekarang ada restoran ayam goreng siap saji (saingan ayam goreng si kakek tua). Selain itu ada juga area foodcourt  yang menjual aneka makanan.

Area yang lumayan luas dan kontur tanahnya yang naik turun, dengan pepohonan yang rimbun membuat kita yang jalan-jalan sedikit ngos-ngosan he he he… Tapi tetap seru kok. Sambil jalan-jalan, menikmati udara segar, melihat koleksi hewan, tanpa disadari sambil berolahraga pula.

Ada juga area kandang hewan yang mengeluarkan bau tidak enak, yang merusak kesegaran udara disana. Seperti kandang kalong, kambing, dan burung-burung buas. Tapi ga apa-apalah tinggal tutup hidung aja kalo lewat ke area itu he he he…

Di Kebun Binatang Bandung juga tersedia hewan tunggangan seperti gajah dan unta. Kalo mau naik kuda sih banyak tersedia di sepanjang Jl. Ganeca.

Delman di Jl. Ganeca
Buat yang membawa anak-anak, tersedia area bermain. Didalamnya terdapat ayunan, perosotan, jungkit-jungkitan, komidi putar mini, dan lain-lain. Semuanya tersedia gratis.

Ada beberapa toilet yang tersedia di area Kebun Binatang Bandung. Tapi ada satu toilet, yang menurut gw unik. Yaitu toilet yang letaknya tidak jauh dari gerbang masuk. Disana toiletnya cukup bersih, tapi tiap orang yang masuk kok melepas sandal dan sepatu ya? Gw sih sebelumnya melenggang masuk dengan alas kaki gw, dan gw baru nyadar setelah keluar dari toilet itu he he he… O ya toilet itu bukan toilet mushola lho, makanya gw agak heran.

Satu lagi yang unik dari Kebun Binatang Bandung. Disana ada seorang pengemis perempuan tua yang tidak punya kaki sama sekali. Seingat gw, waktu kecil pengemis itu selalu tampak disana. Bahkan menurut Mama gw, sewaktu dia masih gadis,  pengemis tanpa kaki itu pun sudah eksis di Kebun Binatang Bandung. Sungguh sosok yang setia dengan profesinya he he he…

Pengemis tanpa kaki
Waktu gw kesana, di panggung lagi ada pertunjukkan pencak silat anak-anak. Mulai dari TK hingga SMP. Seru dan lucu juga melihat gerakan-gerakan mereka yang diiringi alunan kendang, terompet, dan gong sebagai penyemangat dan pengatur ritmik. Tapi menjelang puncak acara hujan turun cukup deras, sehingga para penontonnya bubar he he he... 

Atraksi pencak silat
Makin siang, pengunjung Kebun Binatang makin penuh. Memang didominasi oleh orangtua yang membawa anak-anaknya. Tapi tak sedikit juga pasangan muda-mudi yang turut mengunjungi Kebun Binatang Bandung. Waktu gw keluar dari area Kebun Binatang, nampak banyak mobil pengunjung terparkir disepanjang Jl. Taman Sari. Kebun Binatang Bandung memang ramainya cuma di hari Minggu. Kalo hari-hari biasa, pengunjungnya hanya sedikit.

Bonbin, maskot Kebun Binatang Bandung
Di seberang sungai tampak bangunan Cihampelas Walk
Lalulintas padat merayap di Jl. Tamansari
Deretan mobil terparkir di sepanjang Jl. Tamansari
Bagi sebagian orang, main ke Kebun Binatang mungkin dianggap kampungan, bikin malu atau kekanak-kanakan. Tapi gw mah cuex aja, ga pake gengsi-gengsian… Setidaknya disana gw bisa sedikit bernostalgia menikmati potongan sejarah masa kecil gw. So, siapa lagi yang mau mengikuti jejak gw bernostagia di Kebun Binatang? he he he…


Conclusion:
Kebun Binatang Bandung, mungkin tempat wisata yang sudah tidak sepopuler dulu. Karena tergerus oleh kehadiran mall-mall dan tempat-tempat wisata baru. Tapi masih sangat representatif sebagai sarana anak-anak untuk belajar mencintai lingkungan hidup, sambil menikmati kesegaran udaranya.

Jumat, 05 Agustus 2011

Justin

Sudah hampir  tiga jam aku duduk sendiri di kantin sekolah, ditemani segelas es teh manis buatan Bu Darmi. Kupandangi butiran embun di bagian luar gelas es teh manisku  yang masih utuh karena belum kureguk sedikitpun. Anak-anak berseragam putih abu  yang sedari tadi ramai berlalu-lalang dan menimbulkan suara hiruk pikuk, kini mulai lengang, karena sudah 3 jam yang lalu bell tanda bubar sekolah menjerit-jerit memekakan  telinga. Sesekali masih terlihat pengurus OSIS melintas di luar sana. Mereka tengah sibuk mempersiapkan acara pentas musik di sekolahku.
            
           Pikiranku menerawang jauh ke masa laluku. Empat tahun yang lalu. Ya, empat tahun yang lalu. Masih segar tergambar di mataku.  Masih terekam jelas di memory otakku. Hari itu adalah hari terakhir aku merasakan kebahagiaan. Karena  hari itu keceriaanku seakan direnggut paksa oleh kepergian Papaku.

Kalau kematian yang memisahkan kami, mungkin aku masih bisa terima, dan perasaanku tidak akan tercabik-cabik seperti ini. Yang membuatku geram adalah karena Papa pergi meninggalkan aku dan Mamaku demi seorang perempuan muda yang bernama Tante Miranda. Aku kesal, benci, jijik terhadap mantan sekretaris Papaku itu, karena ia telah merampas kebahagiaan keluarga kami. Terlebih aku benci pada Papaku yang tidak becus mempertahankan kesetiaan cintanya pada Mamaku.
           
           Sebagai anak tunggal, aku terbiasa mendapat curahan perhatian dan kasih sayang yang penuh dari kedua orangtuaku. Dan sejak saat itu aku harus mulai membiasakan diri hidup seadanya berdua dengan Mamaku yang terpaksa menjadi single parent. Waktu itu aku masih duduk di kelas dua SMP. Saat itu aku masih memerlukan perhatian, kasih sayang, dan  biaya yang tidak sedikit untuk mengongkosi sekolahku. Tapi apa mau dikata, Papaku kabur dari tanggung jawab demi mengejar kesenangannya sendiri. Dasar egois!!!
            
          Aku tak pernah habis pikir, kenapa semua itu bisa terjadi pada Papaku yang sangat alim dan aktif dalam pelayanan di gereja. Sejak saat itu, perasaan banggaku pada Papa telah berubah menjadi kebencian yang merasuk di hatiku dan menjalar  sampai ke dalam sum-sum terdalam dari tulang-tulangku.
           
       Yang tidak pernah ku mengerti, mengapa Mama hanya berdiam diri saja dicampakkan oleh Papku. Tidak ada sumpah serapah dari mulutnya. Tidak ada gugatan cerai darinya. Apakah karena Mama terlalu cinta sama Papa sehingga ia tidak mau melakukan semua itu ? Mama adalah wanita tersabar dan berhati lembut  yang pernah kulihat. Ia selalu menasehatiku : Jangan takut !, kita masih punya  Tuhan Yesus yang mengashi kita.
“Belum pulang, nak Rio?”
Suara alto Bu Darmi membangunkanku dari lamunan.
“Ya Bu, lagi suntuk nih.”
“Sudah sore lho, hampir jam 5. Nanti ibu nak Rio kuatir karena anaknya nggak pulang-pulang.”
“Mmmhh… Kantinnya mau ditutup ya Bu?”
“Ya sih… tapi nggak apa-apa kalau nak Rio masih betah duduk-duduk di sini.”
Kasihan Bu Darmi yang jadi korban. Gara-gara aku melamun memikirkan masalah-masalahku di kantinnya, ia jadi telat pulang.
Pandangan Bu Darmi beralih kepada es teh manisku yang kini sudah tidak dingin lagi.
“Minumnya mau diganti nak Rio ?”
“Makasih. Nggak usah Bu, saya sudah mau pulang kok.”
                                                                    
                                                                ******

             Walau aku sudah bertengger di punggung sepeda motorku yang melaju kencang, tapi bayangan masa laluku masih terus berkecamuk di otakku.
           
          Kutelusuri jalanan tanpa tujuan yang pasti. Aku berputar-putar dengan sepeda motorku menjelajahi Kota Bandung yang kini mulai diterangi oleh kerlip lampu-lampu kota, karena hari sudah beranjak senja. Aku nggak ngerti… Aku nggak tahu… Akan  kemana aku???  Aku nggak ingin pulang. Aku ingin menjauh dari masalah-masalah yang menjeratku.
           
          Saat kulihat komunitas anak punk yang berkeliaran di sekitar Jl. RE Martadinata lengkap dengan atribut dandanan mereka, aku merasa iri. Mereka bisa bebas mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kemauan mereka dengan cara mereka sendiri. Aku cemburu dengan kebebasan mereka. Tuhan, aku ingin bebas!!!
           
         Tanpa kusadari aku dibawa oleh sepeda motorku menelusuri kelokan-kelokan Jl. Setiabudi . Gila! Mau kemana aku? Mau ke Lembang? Malam-malam begini? Sendirian? Ah… aku sudah tidak peduli lagi. Pokoknya aku harus jauh dari rumah!

"Senyap Dalam Nyenyak"
( foto lama hasil jepretan gw dari balkon rumah )
            
          Jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kiriku bercicit riang. Rupanya sudah jam 8 malam. Kuhampiri sebuah kios, lalu kupesan  jagung bakar dan teh panas untuk sekedar mengganjal perutku yang mulai bernyanyi dengan nada-nada fals tidak beraturan.
            
          Aku teringat masa-masa sulit sepeninggal Papaku. Mama harus berjuang memeras keringat untuk bisa menghidupiku, karena Papa sudah tidak peduli pada  kondisi ekonomi kami yang morat-marit. Mama memang wanita pekerja keras yang tak kenal kata menyerah. Ia membuka warung nasi kecil-kecilan demi menyambung hidup kami berdua. Berkat Kasih Tuhan Yesus dan  kerja keras Mama, akhirnya warung nasi kami kini telah berubah menjadi sebuah rumah makan yang lumayan besar.

Kesuksesan usaha Mama tidak didapat semudah mengedipkan mata ataupun membalikkan telapak tangan. Mama harus ekstra menguras tenaga dan pikiran. Mama harus bangun saat pagi buta dan baru bisa tidur setelah larut malam. Kadang aku melihat Mama meneteskan air mata saat ia sendiri di kamarnya. Bila melihat Mama menangis seperti itu, hatiku terasa perih seperti diiris-iris. Lamunanku buyar dikagetkan oleh bunyi Handphoneku. Oh… rupanya Mama mencariku karena aku nggak pulang-pulang. Sudah lebih dari duabelas kali ia menelponku, tapi tak kuangkat. Kumatikan Handphone-ku. Maaf Ma, aku lagi ingin sendiri. Aku nggak ingin pulang. 

Deru suara knalpot kendaraan yang melintas dan pasangan muda-mudi  yang tertawa ceria menikmati malam minggu mereka di Lembang, sedikitpun tak menggangguku. Hatiku galau. Hatiku gundah. Hatiku tetap sunyi. Aku ingin teriak. Aku ingin berontak.

Papa. Papa. Papa. Itulah yang menjadi sumber kekacauan hidupku. Hukuman seberat apapun yang ia terima, tak akan mampu menghapus amarah yang bergejolak di dadaku. Termasuk ketika mobilnya terperosok ke dalam jurang tiga bulan yang lalu. Tante Miranda mengalami pendarahan di otak dan meninggal dalam perjalanan menuju ke  rumah sakit. Papaku mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya. Trauma hebat pada tulang belakang menyebabkan ia lumpuh. Kejadian itu memang pantas ia terima. Ini karma Pa!!! Emosiku terus bergejolak.
Satu-satunya yang luput dari kecelakaan itu adalah anak Papaku dari Tante Miranda yang baru berumur 3 tahun. Adik tiriku!!?? Hah!!! Aku benci anak itu!!!
            
         Aku tidak menghadiri upacara pemakaman Tante Miranda. Aku juga tidak mau menengok Papaku yang kini duduk di kursi roda. Dan aku tak mau melihat adik tiriku. Tak mau dan tak akan pernah!!!
           
          Hanya Mama yang selalu telaten menjenguk Papaku dan anak laki-lakinya. Mereka  tinggal di rumah kontrakan, ditemani seorang baby sitter. Mama tidak mampu mengubah pendirianku yang tak mau bertemu lagi dengan Papaku sejak empat tahun yang lalu. Mama sering menasehatiku agar aku mau memaafkan Papaku. Aku sudah muak. Luka di bathinku sudah parah bernanah. Aku tidak mau melihat Papaku lagi, karena bagiku Papa sudah mati.
           
Lamunanku sampai ke titik puncaknya pada kejadian tadi pagi sebelum aku berangkat sekolah.
“Rio, nanti sore Papamu pulang.”
Mamaku berkata lembut.
“Papa? Kenapa mesti pulang!?!  ‘Kan Rio sudah bilang sama Mama, kalau Rio tuh sudah tidak mau melihat Papa lagi.”
Jawabku acuh tak acuh.
“Kasihan Papamu nggak ada yang ngurus. Lagian sekarang adikmu juga sudah nggak ada yang ngasuh, karena Papamu sudah nggak mampu membayar baby sitter."
 “Adik?  Adik dari Hongkong?!?”
Sahutku sinis.
“Sekarang keadaan Papamu lagi susah, Rio. Ia sekarang sudah nggak bisa kerja lagi.”
“Giliran susah sama kita! Giliran senang lari sama wanita lain!!!
Aku berkata dengan geram.
“Rio!!! Mama nggak pernah ngajarin kamu kurang ajar!!!" Bentak mamaku. Baru kali ini aku dibentak oleh Mamaku. Dan lagi-lagi penyebabnya adalah Papaku.
“Lagian Mama mau membawa Papa  pulang nggak  kompromi dulu sama Rio!!!”
Nada suaraku makin meninggi.
“Mama sudah lupa bagaimana Papa nelantarin hidup kita? Mama juga  sudah lupa bagimana Papa nyakitin hati kita demi bersenang-senang dengan isteri mudanya?” Lanjutku.
“Kejadian itu sudah berlalu, Rio. Mama sudah lama memaafkan  Papamu.”
Bibir Mama bergetar menahan emosi.
“Pokoknya Rio nggak akan pulang  kalau nanti melihat Papa ada di rumah ini!!!
          
          Aku bergegas pergi sambil meraih tas ranselku. Aku berlari pergi sambil meninggalkan suara berdebum keras dari pintu yang kubanting. Kutancap gas sepeda motorku kuat-kuat. Knalpot sepeda motorku meraung-raung seakan turut memprovokasi kemarahanku. Hanya kepulan asap putih yang tertinggal di pekarangan rumahku. Sementara dari dalam rumah, sayup-sayup kudengar suara Mama yang memanggil-manggil namaku.

         Lama juga aku terpekur di kios jagung bakar itu. Untungnya pedagang jagung bakar itu tidak mengusirku yang duduk terlalu lama di kiosnya. Sudah hampir jam 11 malam. Aku beranjak pergi. Sekarang keadaanku kembali sama dengan 6 jam yang lalu. Mengendarai sepeda motorku tanpa tujuan yang jelas.
           
           Tuhan, mengapa semua ini terjadi? mengapa masalah ini datang di saat kehidupanku mulai tenang? Ah, aku tak habis pikir. Aku protes kepada Tuhan.
            
          Aku melintas di Jl. Merdeka  yang keadaannya sudah sepi. Laju sepeda motorku tertahan oleh lampu merah. Aku melihat beberapa anak jalanan yang masih berkeliaran dengan baju kumalnya. Kasihan mereka harus berjuang sendiri untuk mencari makan. Sementara di pojok trotoar dekat bak sampah, aku melihat seorang bapak berperawakan kurus tidur meringkuk melawan dinginnya malam dengan selembar kertas koran. Kehidupan ini memang kejam, pikirku. Mereka kekurangan didekat tempat orang-orang menghamburkan uang. Mereka kelaparan diantara deretan rumah makan siap saji. Sungguh ironis.
            
          Kuputuskan untuk menginap di tempat kost sahabatku Daniel. Saat kuketuk pintu kamarnya, tanpa menunggu lama ia langsung membukakan pintu. Rupanya ia baru selesai mengerjakan PR Bahasa Inggris.
“Elo dari mana malam-malam begini? Masih pake seragam pula.”
“Abis keluyuran. Gua lagi Bete nih!”
Sahutku asal.
“Butuh tatih tayang…?”
Candanya sambil nyengir kuda.
            
          Aku hanya terdiam dengan roman muka dingin. Daniel buru-buru mengubah sikapnya. Ia menyadari kalau aku  lagi sungguh-sungguh. Daniel memang sahabat yang tahu betul karakterku. Walau aku sudah bersahabat lama dengan Daniel, aku tidak pernah menceritakan masalah keluargaku padanya. Aku selalu menutup rapat-rapat masalah ini.  Karena masalah ini adalah aib bagiku. Cukup lama Daniel mendengarkan ceritaku. Daniel yang sedari tadi tidak banyak bicara dan hanya sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia berkata:
“Gua bisa ngerti kalo elo marah. Gua juga bisa faham kalo elo susah maafin  bokap elo. Tapi yang jadi masalah, elo nggak berhak jadi hakim atas perbuatan bokap elo.”
“What’s mean?”
“Kita nggak berhak menjatuhkan vonis benar atau salah sama orang lain.”
“Termasuk sama bokap gua yang jelas-jelas sudah mengacaukan keluarga gua?”
“Yap! Hanya Tuhan yang berhak menghakimi perbuatan manusia. Karena Tuhan menilai perbuatan manusia tanpa melibatkan emosi, dendam dan sakit hati.”
            
          Aku berpikir, mungkin juga aku telah memvonis Papaku bersalah karena aku dendam padanya, karena ia lebih memperhatikan isteri muda dan anak laki-lakinya dari pada aku dan Mamaku. Aku dendam karena Tante Miranda dan anaknya telah merampas kasih sayang dan perhatian Papaku yang seharusnya menjadi hakku.
“Jadi menurut elo, gua yang salah?”
Tanyaku.
“Dalam hal ini, nggak ada yang sepenuhnya salah, dan nggak ada yang sepenuhnya benar.”
“Maksud elo?”
“Elo ada sisi benarnya tapi juga ada sisi salahnya.”
“Termasuk bokap gua ?”
“Exactly !”
“Lantas,  gua harus gimana?”
“Menerima semua kejadian ini dengan tulus sebagai jalan yang sudah Tuhan rancangkan bagi hidup elo.”
          
          Aku heran kenapa kata-kata Daniel terasa sejuk dan bisa membukakan mata hatiku. Padahal selama ini biasanya  kalau kami bertemu paling-paling cuma bercanda. Ah, aku mengerti. Mungkin inilah yang disebut dengan jalan Tuhan yang sering tak terselami pikiran manusia.
“Menurut elo apa yang harus gua perbuat sama anak Tante Miranda?”
“Adik elo, maksudnya?”
“Unfortunately yes. Ya… adik tiri gua.”
“Adik, ya adik. Jangan diembel-embeli lagi. Karena bagaimanapun juga dia adik elo, walau lain ibu.”
“Jadi?”
“Sayangi dia sepenuh hati, seperti elo nyayangin diri elo sendiri. Karena dalam hal ini adik elo nggak salah, dan dia nggak ngerti apa yang terjadi.”
            
          Aku merasa jadi orang paling egois sedunia.  Aku orang yang aktif pelayanan di gereja, tapi tidak bisa memaafkan Papaku. Bagaimana mungkin aku bisa mengampuni orang lain kalau aku sendiri tidak bisa mengampuni Papaku. Bagaimana mungkin aku bisa mengasihi orang lain kalau aku  nggak bisa mengasihi adikku sendiri, yang jelas-jelas masih sedarah denganku.
“Elo benar, Niel.”
Nafasku tertahan.
“So, sekarang elo mau gimana?”
“Gua mau pulang. Tapi…..”
“Apa lagi?”
“Gua malu…..”
“Ngapain harus malu? Jangan pernah malu untuk memulai sesuatu hal yang baik. Nggak ada kata terlambat untuk berubah.”

                                                                  ******

         Hari masih pagi saat kupijakkan kaki turun dari sepeda motor di pekarangan rumahku. Aroma bau tanah tercium hidungku, pertanda Mama belum lama menyiram tanaman kesayangannya.
“Kak Rio!!!”

          Aku berpaling kearah datangnya suara. Rupanya suara itu datangnya dari mulut seorang anak kecil.  Anak kecil yang bermata bulat, berkulit putih dan berambut ikal  kecoklatan. Aku yakin dia itu Justin adikku. Tapi dari mana ia tahu aku ini kakaknya?   Mungkin Papa atau Mamaku yang bercerita padanya tentang aku, sambil memperlihatkan foto-fotoku.

Aku tidak pernah bertemu dengan Justin tapi aku merasa tidak asing melihatnya. Demikian juga Justin, ia juga sepertinya tidak takut melihat aku, orang yang tidak pernah kenal dengannya. Mungkinkah ini yang dinamakan ikatan bathin persaudaraan kami?

Aku merasa jadi orang paling munafik kalau aku nggak bisa sayang pada anak selucu dia. Aku yakin semua orang yang melihatnya, pasti akan suka padanya.

Kuhampiri dia. Kubelai rambutnya. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Senyuman yang mengandung makna, makna yang tak pernah bisa  kuungkapkan dengan kata-kata. Sesaat mataku nanar oleh suasana haru. Kupeluk dia erat-erat sambil berkata dalam hati: "Justin, maafkan kakak...".

                                                                
                                                                  TAMAT


Catatan: Cerpen ini gw tulis lebih dari 15 tahun yang lalu. Filenya ga sengaja gw temukan ada di komputer yang udah lama jadi penghuni gudang. Komputer itu kemarin dikeluarkan lagi dengan maksud  untuk dicek terlebih dahulu sebelum diberikan buat sodara. Naskahnya sengaja tidak diedit lagi, semuanya masih sama dan apa adanya...

Conclusion:
Berhentilah menyalahkan orang lain dan takdir Tuhan. Cobalah untuk memahami dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Hidup dengan cinta akan jauh lebih bermakna dibandingkan dengan hidup menyimpan amarah dan dendam... 
                     

Sabtu, 02 April 2011

Kembar

Sebenernya gw sudah kenal lama sama Ricky, mungkin lebih dari 3 tahun yang lalu. Tapi kami lebih akrab chatting via YM aja. Ricky seorang pemuda keturunan Chinese berumur 24 tahun. Selama 3 tahun kenal di dunia maya, tapi gw baru sekali ketemuan dengan dia dan.... tidak terjadi apa-apa diantara kami he he he... (pasti dech yang baca udah pada mikir ngerez wkwkwk...). Yupz,  gw dan Ricky cuma ngobrol-ngobrol ngalor ngidul di mess tempat dia kerja, yang waktu itu kebetulan sepi banget coz penghuninya lagi pada mudik. Waktu itu Ricky keliatan ‘pengen’ sih he he he... Tapi gw ga nafsu wkwkwk... secara fisik dia ga jelek sih, mungkin bukan type gw aja kali ya.  Singkat  cerita, jadilah kami teman akrab di dunia maya saja. Gw tau kegiatan dia apa aja, termasuk waktu tahun kemarin dia memutuskan berhenti kerja dan melanjutkan study-nya di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung.

Sebetulnya dia jarang online di YM. Ga kaya gw, yang: Siang malam ku selalu, menatap layar terpaku, untuk online... online... online... online.... (lho kok malah nyanyi? he he he...). Minggu kemaren gw ketemua chat lagi sama dia di YM. Nih, sengaja gw copas petikan obrolannya.

Ricky: Malem ko
Farrel: Malam...
Ricky: Apa kabar ko?
Farrel: Baek. Km?
Ricky: Biasa aja, ko. Koko lagi apa?
Farrel: Lagi ngebalesin e-mail, sambil iseng chatting he he he...
Farrel: Btw, koko kaya pernah liat km di Festival Citylink, Bener kamu bukan ya?
Ricky: Mungkin sih, soalnya aku juga lumayan sering belanja ke Festival Citylink, kan deket kalo dari rumah aku mah.
Ricky: Waktu itu koko liat aku sama siapa?
Farrel: Lagi sama cowok pri. Hayoooo kamu lagi ketemuan ya? ha ha ha...
Ricky: Emang kapan gitu koko liat aku di Festival Citylink-nya?
Farrel: Hari minggu, kalo ga salah 2 minggu yang lalu, waktu ada ‘International Cat Festival’
Ricky: Oh... yang 2 minggu kemaren itu mah, kayanya koko ketemu sama adik aku dech.
Farrel: Swear, yang koko lihat beneran kamu kok!
Ricky: Ssssssttt... yang ketemu sama koko itu adik aku sama temannya ko, kami kembar lho...
Farrel: Wkwkwkwk...bisa aja. masa sih?
Ricky: Ah koko... ga percaya ya? swear, dia kembaran aku ko, namanya Ricko.
Ricky: Aku inget banget, hari itu mah aku nganter mama ke rumah sodara.
Farrel: Hmmmhhh...
Ricky: Kenap ako? bingung ya???
Farrel: Maksudnya yang kemaren ketemu sama koko itu teh bukan kamu?
Ricky: Iya ko, kalo aku sih yang ketemuan sama koko waktu di mess.
Ricky: Kembaran aku mirip aku ya? he he he...
Farrel: Owh... btw, kembaran kamu binan jg?
Ricky: Iya ko, kan kembar identik. Jadi pasti sama lah...
Farrel: Ow ow ow...
Farrel: Trus kamu pernah .... sm dia? Wkwkwkwk...
Ricky: Ga lah ko...
Farrel: Pantesan waktu ketemu di, Festival Citylink kko dan dia saling ketemu pandang tapi dia cuek-cuek aja.
Ricky: Jadi Koko sama Ricko sempet saling pandang ya ko?
Farrel: Iya lah.... Btw, kalian saling terbuka soal orientasi sex kalian sejak kapan?
Ricky: Kayaknya sejak SMA gitu deh,  pas sama-sama tau ga suka cewek.
Farrel: Oic...

Ternyata setelah kenal sekian lama, malam itu gw baru tau kalo Ricky itu punya kembaran namanya Ricko...

Orang-orang kembar, seringkali menarik perhatian kita. Mungkin karena kemiripian dan keunikannya. Waktu SMP gw punya temen kembar, 2 pasang malah. Yang satu pasang cowok Dena dan Deny, trus yang satunya pasangan kembar cewek Ella dan Elly. Gw 2 tahun sekelas sama Ella Nurlaela, tapi gw baru nyadar  kalo dia punya kembaran namanya Elly Nurlaeli, waktu gw dan temen-temen sekelas latihan kabaret di rumahnya Elly... Mereka mirip banget, gw sampe ga bisa ngebedain mereka he he he...

Btw, saudara kandung gw ada yang terlahir kembar juga lho, yaitu kakak-kakak perempuan gw, yang sayangnya tak berumur panjang (mereka meninggal selagi masih bayi).

Lain Ricky dan Ricko, lain pula dengan sahabat gw Daffa. Daffa juga mempunyai kembaran, namanya Daffy. Tapi uniknya even mereka kembar, sifat mereka jauuuuuuhhhh banget!!! yang satu lembut, koleksi boneka, fashionista, terobsesi film-film barbie, dan suka main masak-masakan he he he... sementara yang satunya lagi keras, cuek, laki banget, dan suka berantem. Pokoknya mereka beda banget lah, baik cara berpakaian maupun tingkah laku. Sekarang Daffy sudah punya istri dan seorang anak, sementara Daffa masih pacaran dengan cowok he he he... Ya gitu dech, bukan hanya berbeda secara fisik dan sifat, mereka juga sering ga akur. Yang gw tau mereka sering berantem karena beda pendapat. Gw ga heran sih mereka jadi pasangan kembar yang ga kompak, coz mereka bukan kembar identik.

Di Bandung ada pasangan kembar binan yang cukup terkenal dikalangan PLU lho. Sebut saja nama mereka Nando dan Nandy.  Banyak gosip beredar tentang mereka. Selain dua-duanya ganteng,  mereka juga sangat kompak. Bahkan saking kompaknya, mereka sering bareng-bareng mencari 1 cowok buat dinikmatin bersama... Yupz!! 3sum just for fun.  Menurut gw sih unik banget. Gw jadi inget film bokep G yang pemainnya kembar 3 wuiiiiihhhh...

Beberapa minggu yang lalu gw ketemuan dengan anak Jakarta, yang kebetulan lagi di Bandung. Sebut saja namanya Astra, dia ngebet banget pengen ketemu sama gw.  Katanya sih mumpung dia belom balik ke Jakarta. Gw  menemui Astra di sebuah tempat kost di daerah C. Sebuah kamar kost yang rapi, wangi dan girly banget. Dimana-mana terpampang foto-foto seorang gadis cantik dengan aneka pose mutakhir bak seorang model.

“Ini kostan siapa? Kostan pacar kamu ya?” kata gw sambil celingak-celinguk melihat suasana kamar (Gw nanya gitu coz Astra ngakunya seorang bisex).
“Hmmhhh... bukan kok, ini kostan temen aku.”

Di kostan itu gw dan Astra.... krik... krik... krik... taralala..!!! trilili...!!! cuma ngobrol doang ha ha ha... (pasti pada mikir ngerez lagi kan? jiakakakakak... Ga ada yang terjadi selain ngobrol dan ngemil bareng. Astra yang di foto sama aslinya beda banget!!! Sebenernya garis-garis cakepnya masih ada sih, tapi pipinya banyak jerawat dan lubang-lubang bekas jerawat. Itu yang bikin gw ilfeel he he he... Ga tau kenapa, gw cuma suka sama brondonk berpipi mulus dan licin, coz nyaman buat dicium dan dielus-elus he he he...

Seteleh ngobrol ngalor ngidul, sampailah gw dan Astra pada satu obrolan...

“Orang tua kakak, tau ga kalo kakak itu gay?” tanya Astra.
“Ga lah! sebenernya buat aku sih ga terlalu masalah kalo keluarga aku tau, aku itu gay. Tapi buat apa? Aku takut  kalo keterusterangan aku itu akan membuat mereka kecewa dan terluka.” jawab gw.
“Oh... emang kakak berapa bersodara gitu? Trus yang laen udah pada nikah?” tanya Astra menelisik.
“Empat. 2 kakak, 1 adik. Semuanya udah pada Married, kecuali aku.” Jawab gw, menjelaskan.
“Kalo kamu?” gw balik nanya sama Astra.
“Dua bersodara, kak. Aku punya 1 kakak perempuan, namanya Astri. Dan kamar ini tempat kost-nya kakak aku.” sahut Astra.
“O ya? trus orang tua kamu tau kalo kamu itu gay?” tanya gw lagi.
“Aku bener-bener takut kalo orang tua aku tau, kak. Mereka pasti kecewa banget. Punya dua anak, dan dua-duanya ‘belok’....” kata Astra dengan nada suara lebih rendah, sambil menghela nafas.
“Hmmmmh maksudnya?  Kakak kamuitu lesbi...?” tanya gw penasaran, dan dengan nada bicara berhati-hati.
“Iya... Dia lesbi. Sebenernya Aku dan Astri kembar, kak....”
“Wow amazing!!” gw takjub.
“Mungkin roh aku dan Astri ketuker kali ya, kak? Astri meskipun tampilannya cantik dan  cewek banget, tapi dia orangnya pemberani dan nekat. Dulu di sekolah, malah aku yang sering dilindungi Astri dari gangguan temen-temen aku yang nakal... Astri-lah yang selalu berantem buat aku...” Sahut Astra sambil cengengesan.

Wah-wah... Dalam dua minggu, dii bulan maret 2011, gw mengetahui dua teman lagi dengan keunikan mereka sebagai pasangan kembar pencinta sejenis. What a wonderful world!?!...

Conclusions:
Gay yang terlahir sebagai kembar, mungkin punya keuntungan tersendiri. Coz bisa saling berbagi cerita, saling mendukung dan saling menguatkan tanpa malu dan takut,  karena mereka sehati, sepikir dan sejiwa...