Tampilkan postingan dengan label mandi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mandi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juni 2012

The Mysterious Boy, Faris...


Semua PLU tau kalo sekolah pariwisata itu mahasiswanya identik dengan gay, even ga semuanya lho. Ada beberapa sekolah tinggi ilmu pariwisata di Bandung yang cukup terkenal, mulai dari yang negeri sampai yang swasta. Dan sudah jadi rahasia umum, kalo sekolah pariwisata yang ada di daerah Setia Budi – Bandung, dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa yang sebagian besarnya termasuk kategori good looking.
Karena itu, sudah barang tentu  sangat sayang kalo gw lewatkan begitu saja.‘Pengalaman’ gw dengan anak pariwisata boleh dibilang lumayan banyak juga lho he he he... Dan ini salah satu kisahnya...

Dari sekian mahasiswa pariwisata yang pernah gw kenal, salah satunya adalah Faris. Awal perkenalannya, suatu hari di kwartal pertama tahun 2011 dia mengirim message di akun Planet***** gw. Dari profilenya gw membaca kalo dia baru berumur 19 tahun. Dan rupanya dia hanya memasang 1 foto saja di profile Planet*****nya. Tapi dari satu foto itu gw bisa menilai, Faris anaknya termasuk handsome, maklum dia blasteran Padang, Arab dan Belanda. Diawali dengan saling kirim message, dan saling tuker ID yahoo messenger. Perkenalan antara gw dan Faris pun makin intens.

Satu hal yang agak janggal, dia ga pernah mau kasih nomor hp, akun fb dan memperlihatkan foto-foto dia yang lainnya. Dia bilang masih discreet, dan gw menghargai keputusannya. Buat gw sih ga terlalu jadi masalah selama apa yang dia omongin dan foto yang dia pajang itu bukan palsu.

Janjian untuk ketemu pun berkali-kali dibuat dan batal, entah itu gara-gara kemaleman, hujan, dia banyak tugas, gw berhalangan dan lain sebagainya. Dan suatu malam, akhirnya pertemuan itu pun terjadi. Sabtu malam pukul 21:00 WIB, sesuai dengan kesepakatan gw datang ke tempat kost-nya Faris. Sebuah tempat kost yang cukup bagus di kawasan Karang Setra. Design bangunannya mirip sebuah Villa. Sepanjang perjalanan (setelah memasuki kompleks) ke tempat kostnya, gw dipandu Faris melalui YM. Sampai akhirnya gw tiba di tempat parkir kost-an, dan gw melihat seseorang mengintip dari balik tirai sebuah kaca jendela di lantai 2. Kemudian masuk message di YM gw; “Tunggu ya kak, aku turun sekarang.”dan gw jawab: “OK”.

Sesosok pemuda berkaus singlet Hings putih, dengan tinggi 178 dan dengan berat badan ideal, menghampiri gw.
“Hai, Kak...!!!" kata Faris sambil mengulurkan tangannya, dan kami saling bersalaman.
“Kita masuk aja, yuk.” Lanjut Faris.

Gw berjalan mengikuti langkah Faris menyusuri ruang tamu, lorong dan tangga menuju lantai 2. Tempat kostnya memang unik, dengan interior dan lantainya didominasi oleh kayu. Kamar kost Faris cukup luas, dilengkapi dengan sebuah kamar mandi di dalamnya. Penataan furniturenya simple tapi rapih dan elegan. Seperangkat home theater bercokol di  Tapi yang mencuri perhatian gw adalah sebuah kamera SLR Canon model baru tersimpan di lemari kaca, dengan 3 jenis lensa kamera yang berjejer di sebelahnya. Owh, rupanya gw dan Faris punya hobby yang sama.

Di dalam kamar kami ngobrol ngalor ngidul. Obrolan kami santai dan akrab nampak seperti orang yang sudah kenal lama. Even ga cerewet tapi terlihat kalo Faris antusias menyimak obrolan kami. Menurut gw, Faris termasuk sosok yang  sempurna. Hidungnya yang mancung, giginya yang putih, bersih dan rapi, bermata coklat, dan warna kulitnya yang sawo matang. Sungguh kombinasi yang unik dari ras melayu, timur tengah, dan eropa.

Foto diambil dari: http://homotography.blogspot.com

Setelah sekian lama larut dalam obrolan, dan gw hampir menghabiskan segelas cappuchino racikan Faris. Faris kemudian bilang;
“Kak, aku mandi dulu ya. Bentar kok.”
“Iya.” Jawab gw singkat dan memberinya sebuah senyuman (orang-orang yang pernah melihat senyuman gw baik dari foto maupun melihat langsung. Rata-rata bilang kalo senyuman gw itu senyuman manis tapi nakal... huft!).

Terdengar gemericik air dari shower di kamar mandi tak berpintu itu. Faris asyik membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi yang hanya dibatasi oleh tirai berbahan polyvinylchloride motif garis-garis berwarna broken white. 
Sambil menunggu Faris mandi, gw memainkan remote control mengeksplorasi channel-channel tv cable, di layar tv plasma milik Faris.

Tak berapa lama kemudian Faris muncul dengan handuk putih melilit di pinggangnya. Badannya masih terlihat basah oleh butiran-butiran air, begitu juga dengan rambutnya, masih basah dan meneteskan air. Faris menghadap cermin yang ada di samping kiri gw. Posisinya kami saling berhadapan tapi tidak frontal. Kemudian Faris melepas handuknya, dan dengan handuk itu ia mengeringkan tubuhnya... Ups!!! Dia bertelanjang bulat dihadapan gw. Sesekali gw mencuri-curi pandang melihat tubuh polosnya itu, dan tentu saja termasuk melihat benda pribadi Faris yang menggelantung dengan indahnya. Benda itu nampak ranum, sexy, dan menggairahkan...  Dia melirik dan tersenyum. Jantung gw berdegup makin kencang, menyaksikan pemandangan indah itu he he he...

Lalu gw mendekat ke Faris. Meraih handuk yang ada ditangannya, lalu gw membantu mengeringkan setiap tetes air yang ada di kulit sawo matangnya dengan usapan handuk putih itu. Setiap bagian tubuh itu gw telusuri, tak ada yang terlewatkan. Hingga tubuh Faris benar-benar kering dan ada ada bagian tubuh milik Faris yang mengencang. Tanpa bicara, tanpa ada bahasa verbal... yang ada hanya bahasa gejolak naluri 2 lelaki... kami larut dalam sebuah pergumulan yang panas. Dinginnya udara malam yang sedari tadi menggigit di kulit kami, kini terkalahkan oleh panasnya gairah membara gw dan Faris. Butiran air di tubuh Faris yang sudah mengering, kini berganti menjadi butiran-butiran keringat, begitupun juga dengan tubuh gw,  kini nampak mengkilat oleh tetesan peluh... (ga perlu gw ceritain detailnya ya ha ha ha...).

Jujur, Faris adalah salah satu brondonk yang termasuk pandai dalam permainan di atas ranjang. Ditambah dia punya sex appeal yang kuat. Sungguh kombinasi yang sempurna!!

Setelah permainan usai, dia menyandarkan tubuh polosnya di dalam dekapan tangan gw. Memegang erat lengan gw sambil matanya terpejam, mungkin dia kelelahan. Diiringi obrolan ringan yang membuat kami bisa tersenyum atau bahkan sesekali tertawa terbahak-bahak.

 Lebih dari setengah jam kemudian, baru gw dan Faris membilas tubuh kami di kamar mandi. Gw yang selesai berbilas duluan, keluar dari kamar mandi. Sementara Faris masih asyik membersihkan diri (maklum yang jadi bott kan lebih ribet dalam urusan bersih-bersih he he he...).

Selagi gw mengeringkan diri, mata gw melihat jaket almamater milik Faris yang tergantung di hanger. Di jaket almamater itu terlihat sebuah emblem nama yang bertuliskan ‘Faris Akbar Koendraad’ (ini bukan nama sebenarnya yang tertulis di emblem itu lho...he he he... sengaja gw rahasiakan).

Sewaktu gw mau berpakaian, dan cuma celana dalam yang baru melekat di tubuh gw. Gw merasakan sebuah dekapan erat dari belakang. Rupanya Faris yang memeluk gw... Tangan Faris menelusuri tubuh gw dari belakang. Kemudian dia melepaskan dan melemparkan jauh-jauh celana dalam gw. Dasar nakal!!! he he he.... Gw membalikkan tubuh gw ke arah dia. Kini kami saling bertatapan dan sama-sama tersenyum. Tanpa kata-kata kami bisa saling membaca bahasa tubuh, tapi kami tau apa yang sama-sama kami inginkan lagi malam itu he he he... Ronde kedua pun terjadi, yang tak kalah hebatnya dari ronde pertama he he he...

Setelah saling mengenal dan ketemu, bukan berarti kemisteriusan Faris sudah tidak ada lagi. Dia masih tetap tidak memberitahukan nomor hp-nya. Dan gw tidak mau ambil pusing, toh gw dan Faris masih bisa berkomunikasi via YM (memang sih YM Faris tidak selalu aktif, tapi tidak masalah. Yang penting kami masih bisa saling berhubungan).

Tapi bukan gw dong namanya, kalo gw ga bisa melacak FB Faris. Berbekal nama yang tertera di emblem yang nempel di jas almamater Faris, gw bisa menemukan FB resmi Faris. Di FB itu gw melihat banyak foto Faris  dengan background pemandangan manca negara (Singapore, Thailand, Malaysia, China, Australia, New Zealand, Canada, Amerika, Perancis, Jerman, Inggris, Belanda, Italy, Swiss, dll). Rupanya dia punya hobby traveling. Dari FB itu juga gw bisa tau rupanya Faris seorang aktivis, dan menjadi ‘duta ************’ di kampusnya.
Dari komunikasi via YM, gw juga jadi tau kalo Faris sering pulang malam karena kesibukkan di kampusnya.

Faris sosok yang kadang bisa membuat gw tertantang berbuat nekat he hehe... Ketemuan jam 3 pagi pernah gw jabanin (padahal kostan Faris melewati Jl. Bungur, yang menurut gw salah satu jalan yang termasuk paling seram di Bandung, dengan kanan kiri di pohon besar, sunyi, temaram, dan kadang berkabut). Loncat pagar kostan yang sudah digembok juga pernah gw lakukan he he he...

Pertemuan demi pertemuan kami terus jalani, dengan waktu yang benar-benar acak dan tak terduga. Sampai saat ini, buat gw dia masih tetap seorang yang misterius. Entahlah apa yang dia sembunyikan. Sampai sekarang pun gw masih belum tau nomor hp-nya. Gw bukan tipe pemaksa, jadi ya dibawa enjoy aja. Toh gw dan dia juga ga ada ikatan apa-apa. Hubungan kami cuma berdasarkan suka sama suka.

Dua  hari lalu, waktu gw browsing tentang male model photography, gw ketemu sebuah  website yang berisi galery hasil karya seorang fotografer. Seorang fotografer profesional yang karya-karyanya sangat bagus, dari segi originalitas thema, nilai seni, pose, lighting dan tekhnik-tekhnik fotografi lainnya. Galery-nya memuat foto-foto cowok keren topless dengan lekuk tubuhnya seperti pahatan patung pualamYunani. Kalo pun ada model yang perutnya tidak sixpack, tapi pasti wajahnya ganteng berkarakter. Dan... taraaaaa... salah seorang model di galery foto-foto keren itu adalah Faris!!! Makanya gw jadi terinspirasi menuliskan postingan tentang dia.

Sudah lama juga gw dan Faris ga saling ketemu. Faris tetap menjadi sosok misterius. Dibilang tidak ada, tapi nyata. Dibilang ada, tapi dia seperti ilusi... Faris oh Faris... The Mysterious Boy...

Conclusion:
Setiap orang berhak merahasiakan jati dirinya. Mau comming out, mau open minded, mau discreet, atau bahkan mau denial... Semua terserah diri masing-masing.

Jumat, 03 September 2010

Tragedi Menjelang Lebaran

Bulan Ramadhan tiga tahun yang lalu kisah ini terjadi... Kegiatan rutin harian gw waktu itu adalah mengelola cafe milik keluarga yang letaknya sekitar 32 Km dari Bandung. Setiap harinya gw pergi pagi, pulang larut malam menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi.

Cafe yang baru seumur jagung itu setiap harinya dipadati pengunjung, maklumlah di daerah itu belum ada cafe yang menawarkan konsep seperti cafe yang keluarga gw kelola. Apalagi disaat waktu berbuka puasa di Bulan Ramadhan, karyawan yang berjumlah 35 orang, seringkali kewalahan melayani pesanan pelanggan. Hingga seluruh anggota keluarga gw pun harus ikut turun tangan membantu melayani pelanggan.

3 hari menjelang idul fitri 2007, waktu hampir pukul 11.00 malam ketika gw dalam perjalanan pulang ke Bandung, melintasi jalanan basah sisa-sisa guyuran hujan tadi sore. Dalam keremangan cahaya lampu jalanan dan lalu lintas yang lengang gw meluncur dalam kecepatan stabil di 80 Km/jam. Tapi disebuah tikungan tajam dan licin, secara tiba-tiba sepeda motor gw seperti hilang kendali. Dan Braaaaakkkk!!!... secara tiba-tiba motor gw terjatuh diiringin tubuh gw yang terguling-guling terpelanting di atas jalanan beraspal. Untunglah saat itu lalu-lintas sangat sepi, hingga ga terjadi kecelakaan beruntun. Gw lalu bangkit dibantu oleh beberapa orang penduduk di sekuitar situ. Sekujur tubuh gw dipenuhi luka parut dan memar. Perih dan nyeri menjalari setiap sudut tubuh gw.

“Mas, ban motornya kempes” Sahut salah seorang penolong gw.
“Oh iya, makasih...” jawab gw.

Jam tangan digital kesayangan gw entah terlempar kemana, gw hanya menemukan bagian kiri tali jam itu. Suasana yang temaram makin mempersulit gw mencari jam tangan gw. Rasa sakit membuat gw menyerah dan ga peduli lagi jam tangan gw hilang.
Kebetulan kios tukang tambal ban hanya beberapa meter dari lokasi kejadian, hingga gw ga usah terlalu bersusah payah mendorong sepeda motor gw untuk mencari-cari tukang tambal ban.

“Boss, bannya sobek. Harus diganti yang baru.” Kata tukang tambal ban.
“Ya sudah, ganti aja Mang.” Sahut gw acuh tak acuh.

Disaat gw menunggu tukang tambal ban memasang ban belakang motor gw, gw baru menyadari ada masalah di tulang selangka (clavicula) bagian kiri. Catat ya tulang selangka!! bukan tulang selangkangan!!! wkwkwkwk.... Tulang dibagian atas dada dan sejajar dengan bahu gw itu ternyata letaknya bergeser, tepatnya patah. Sambil duduk, gw mencoba sendiri mengembalikan posisi tulang selangka gw dengan cara mendorong memakai tangan kanan gw. Untunglah berhasil, even dengan rasa sakit yang lumayan menyiksa. Gw lalu menelpon Mario, BF gw (sekarang udah jadi mantan) ngasih tau kalo gw mengalami kecelakaan.

Setelah tukang tambal ban tuntas mengerjakan tugasnya, lalu gw pulang dengan mengendarai sepeda motor sendirian. Dengan hanya menggunakan sebelah tangan gw mengendalikan laju kendaraan, padahal perjalanan masih lumayan jauh, sekitar 18 Km lagi. Gw ga pulang ke rumah, tapi langusng ke UGD sebuah rumah sakit yang letaknya ga jauh dari rumah gw, seperti saran Mario.

Setelah di rumah sakit dan tubuh gw menggigil, barulah gw menelpon keluarga gw. Gw emang tipikal orang yang ga suka bikin panik dan merepotkan orang lain (termasuk keluarga). Mama gw aja baru tau kejadian itu, keesokan harinya.
Clavicula Bandage

Di rumah sakit, luka-luka gw dirawat dan dibersihkan. Kesimpulan dokter gw mengalami: clavicula fracture, alias tulang selangka gw patah karena trauma. Dari hasil foto rontgen, untunglah meskipun patah tulang selangka gw tidak mengalami dislokasi. Tentu saja gw ga bilang-bilang kalo sebelumnya gw sendiri yang telah mengembalikan posisi tulang selangka gw ke tempat semula he he he... Lalu gw dipasang ransel verband (clavicula bandage) dan gendongan penyangga lengan (arm sling). Menurut dokter, alat-alat itu harus gw pakai selama 2 bulan!! Sampai tulang selangka gw tersambung sempurna. Huh!! Menyebalkan.
Arm Sling

Bagai sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Selain mengalami patah tulang, disaat yang bersamaan gw terserang cacar ular (nanti gw akan cerita tentang penyakit cacar ular dalam postingan tersendiri), yang membuat badan gw demam berhari-hari.

Untuk sementara waktu, gw memutuskan tinggal di rumah Mama, biar ada yang merawat dan merhatiin gw. Menyedihkan memang, disaat lebaran gw justru terbaring lemah dan harus beristirahat total. Mario, bf gw sering mengunjungi, untuk memantau perkembangan kesehatan gw. Bahkan, dia sering menginap juga di rumah, untuk menemani gw. Dan lucunya, even gw dalam keadaan patah tulang, kegiatan hubungan seksual kami tetap berlanjut he he he.... Cuma gw emang lebih berhati-hati bergerak, tidak bisa terlalu heboh. Malah kadang gw cuma berbaring aja dan, Mario yang aktif.

Setelah 2 minggu, gw merasa bosan terbebat dan tersiksa rasa sakit. Gw desprate, karena jangankan untuk beraktvitas, untuk mandi pun ga bisa gw lakukan. Karena itulah, akhirnya gw menyerah dan bersedia waktu gw diajak teman-teman gw untuk berobat secara alternatif ke bengkel tulang di daerah Citapen.

Di sepanjang jalan di dareah Citapen ternyata bertebaran bengkel-bengkel patah tulang. Dan sampailah gw ke tempat praktek Abah K (sesuai rekomendasi kerabat teman gw yang pernah mengalami patah tulang). Menurut pengakuan Abah K, di Citapen dialah orang yang paling ahli menangani patah tulang, memakai ilmu warisan dari leluhurnya. Abah K dengan bangga bilang; profil dan keahlian dirinya pernah diliput dan disiarkan oleh beberapa televisi swasta.

Pengobatannya, ternyata melalui pijatan diiringi jampi-jampi. Semua property dari rumah sakit yang terpasang di tubuh gw, dia lepaskan. Dia mengurut dan memijit tangan dan tubuh gw. Dia menarik dan menghentakkan tangan gw. Kemudian dia menyuruh gw mengangkat tangan kiri gw, dan melakukan gerakan memutar. Ajaibnya gw ga merasa sakit sedikitpun, seolah-olah gw ga pernah mengalami patah tulang. Kemudian Abah K membebat badan gw, mulai dari lengan atas, bahu, dada dan punggung gw dengan perban bebat (elastic bandage). Dia menyuruh gw untuk datang lagi beberapa hari kemudian.
Elastic Bandage
Sesuai saran Abah K, gw pun datang lagi ke tempat prakteknya. Step-step pengobatannya hampir sama seperti waktu gw pertama kali datang. Dan gw ga merasa kesakitan. Yang membuat gw heran, mengapa sewaktu di tempat praktek Abah K, gw merasa semuanya baik-baik saja dan ga ada rasa sakit sedikitpun. Tapi setelah sampe di rumah gw merasakan kesakitan yang luar biasa. Setelah pengobatan yang ke-2 kali, gw memutuskan ga akan pernah balik lagi ke Abah K. Gw memakai kembali semua perlengkapan dari rumah sakit. Hampir 2 bulan gw memakai clavicula bandage dan arm sling, sesuai denagn saran dokter.

Akhirnya gw sembuh dan tulang selangka gw tersambung lagi, tapi sayang sambungannya tidak sempurna. Tulang selangka gw yang bagian kiri kl dipegang terasa sedikit menonjol di bahu gw. Entah apa penyebabnya kenapa tulang selangka gw tidak tersambung secara sempurna. Mungkin gara-gara malpraktek si Abah K, dukun tulang dari Citapen, atau karena gw bandel masih aktif ml sekalipun tulang gw masih belum tersambung sempurna he he he... Tapi gpp lah, bagaimana pun juga gw bersyukur sudah bisa sembuh kembali.

Setelah accident menjelang lebaran itu, sekalipun tulang gw sudah sembuh, tangan kiri gw jadi ga bisa mengankat beban yang terlalu berat.Yang tentu saja membuat gw ga bisa melanjutkan kegiatan fitness gw. Gw takut, kalo dipaksakan tar malah bisa mencelakakan gw. Ah sudahlah, ga ada yang perlu disesali. Gw yakin setiap kejadian pasti ada hikmahnya.

Conclusions:
Tuhan tidak pernah menjanjikan hari akan selalu panas, Tuhan juga tidak pernah menjanjikan hari akan selalu hujan. Tapi Dia berjanji akan memberi kekuatan, bila topan pencobaan melandamu.

Minggu, 16 Mei 2010

Me And The River

Dalam catatan sejarah, sungai tidak bisa dipisahkan dari peradaban manusia. Sungai sering dianggap sebagai salah satu sumber kehidupan. Begitu juga dalam kehidupan gw, sungai punya catatan dan kenangan tersendiri di benak gw.
Gw dibesarkan di daerah kota kabupaten yg dialiri sungai. Sejak kecil gw sangat akrab dengan sungai, seringkali gw harus sembunyi-sembunyi, untuk bermain atau sesekali berenang di sungai. Coz kalo ortu gw tau, pasti gw akan dimarahi habis-habisan. Buat gw sungai mengandung unsur magis dan erotis.
Magis: karena gw sering merasakan suatu misteri tersembunyi di tiap alirannya, apa lagi kl ada gedebok pisang bekas tempat memandikan mayat yang sengaja dihanyutkan... pasti bikin bulu kuduk gw merinding (even gw ga percaya keberadaan dunia gituan).
Erotis: karena sewaktu kecil gw sering sengaja main di sungai hanya untuk cuci mata, melihat tubuh-tubuh pria telanjang yang tengah asyik membersihkan tubuhnya alias mandi. Masih tergambar jelas dalam ingatan gw tubuh-tubuh telanjang penambang pasir, tukang becak, kuli bangunan dan bapak-bapak tetangga gw. Otot-ototnya terpahat indah menghiasi tubuh mereka yang berkulit gelap. Suatu pahatan alami akibat pekerjaan berat yang selalu mereka jalani... wuiiiihhh... Gw selalu merinding dan jantung gw bedegup kencang saat mencuri-curi pandang melihat benda-benda bergelantungan indah di selangkangan pria-pria jantan itu he he he...

Waktu kelas 6 SD, gw ikut camping bersama teman-teman cowok padepokan bela diri, tempat gw biasa berlatih. Kami berkemah di tepian sungai berarus deras dan berbatu-batu. Kegiatan mandi dan cuci sudah pasti dilakukan di sungai itu. Dan lagi-lagi gw dengan ‘terpaksa’ (lho? he he he... ) harus menikmati pemandangan indah tubuh cowok-cowok telanjang dengan kemaluan yang baru ditumbuhi bulu-bulu halus. Tapi tak sedikit juga yang bulunya sudah lebat, terutama kakak-kakak senior. Bahkan para pelatih kami pun dengan sukarela mandi berbugil ria he he he...
Seorang senior yang umurnya 5 tahun diatas gw, sebut saja namanya Yusuf. Dia mencuri perhatian gw karena tubuhnya atletis, dadanya bidang, perutnya sixpack, berkulit gelap, dan Mr P nya yg berukuran big size dihiasi bulu-bulu yang lebat (seingat gw waktu itu ukurannya diatas rata-rata punya kami semua).
Yusuf orangnya baik, berasal dari keluarga sederhana. Bapak dan semua kakak laki-lakinya berprofesi sebagai tukang becak dan sesekali jd kuli pikul (profesi ini pulalah yang sekarang jadi pekerjaan Yusuf sehari-hari). Keluarganya memang kurang mementingkan pendidikan formal. PendidikanYusuf hanya terhenti di kelas 3 SD.
Tapi diluar itu semua, Yusuf punya pesona tersendiri di mata gw. Dia sosok pria jantan yang sempurna secara fisik. Warna kulit Yusuf paling gelap diantara kami semua, sementara warna kulit gw adalah yang paling terang (karena gw keturunan chinese).
Waktu gw dan beberapa teman gw dapat giliran tugas mencuci peralatan makan di pinggiran sungai, Yusuf menghampiri gw sambil tersenyum.
“Wah rajin euy, padahal di rumah mah ga pernah nyuci kan?” Yusuf membuka obrolan.
“Hmmm... iya sih...Kak. tapi gpp kok” sahut gw sambil tersenyum.
“Farrel, kamu tidur ditenda berapa?” tanyanya.
“Tenda 3, Kak.” Jawab gw.
“Wah sama tuh, ya sudah tar tidurnya disebelah kakak aja, ya.” dia menyahut.
“Iya, Kak” jawab gw singkat, padahal dalam hati gw bersorak kegirangan he he he...
Setelah menghabiskan waktu seharian dengan berbagai kegiatan, tibalah waktunya kami untuk beristirahat. Gw melongok ke dalam tenda dan melihat sudah ada 7 orang didalamnya, termasuk Yusuf yang sedang memakai kain sarung.
“ Sini Farrel, Kakak sudah siapin tempat buat kamu.” Sahutnya.
“Iya, Kak.” Jawab gw.
“Kakak tidur di pinggir tenda, kamu disebelah kakak ya. Biar ga kedinginan kena angin dari luar.”
“Wah, Kak Yusuf baik banget.” Kata gw polos. Dia hanya tersenyum menampakan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi.
Gw membaringkan diri disebelah Yusuf. Gw hanya memakai sweater dan celana panjang berbahan fleece untuk melindungi diri dari dinginnya angin malam. Setelah puluhan menit berlalu, mata gw ga bisa terpejam juga. Hawa dingin menusuk sampai ke tulang. Sialnya, gw lupa tidak membawa selimut dari rumah. Di luar sana terdengar suara arus sungai yang deras di kegelapan malam.
“Ga bisa tidur ya?” bisik Yusuf di telinga gw. Dia memelankan suaranya agar teman-teman yg sedang terlelap tidak terganggu.
“Iya, Kak...” jawab gw sambil berbisik juga.
“Kenapa? Kedinginan ya?” tanyanya.
Dan gw hanya mengangguk.
“Sini kakak peluk, biar hangat” Lalu Yusuf memeluk tubuh kecil gw dari belakang, tanpa menunggu persetujuan dari gw. Tubuh gw dihangatkan pelukan tubuh Yusuf yang kekar.
Walaupun tubuh gw sudah nyaman dan hangat, tapi gw ga bisa tidur juga. Pikiran gw melayang dan jantung gw berdegup kencang. Sementara Yusuf sudah tertidur pulas. Gw merasakan, benda pribadi Yusuf mengeras di pinggang gw... ohhh... besar dan tegang... benda milik Yusuf menonjol dari balik kain sarungnya, terasa hangat menempel di tubuh gw. Gw memberanikan diri memegang burungnya. Ternyata dia hanya memakai sarung tanpa celana dalam.... wuiiiiihhh... (kesempatan neh wkwkwk...) Gw berbalik, dan tidur menyamping berhadap-hadapan dengan Yusuf. Yusuf terbangun sesaat, dan kembali memeluk gw. Lalu gw membalas pelukannya... Tubuh gw menggigil...
“Masih kedinginan ya...?” suara Yusuf mendesis, dengan mata setengah terpejam. Antara di dunia nyata dan mimpi.
Lagi-lagi gw hanya mengangguk.
“masuk aja ke dalam sarung kakak...” Ucapnya lirih.
Gw pun masuk ke dalam kain sarung Yusuf. Kemudian gw dan Yusuf berpelukan lagi. Dan kini benda milik Yusuf itu menempel ditubuh gw tanpa terhalang apa-apa lagi.
Setelah Yusuf tertidur lelap, gw memberanikan diri menyentuh benda milik pribadinya. Terasa keras, berurat, hangat, dan ujungnya basah. I love this moments!!! Sepanjang malam sampai pagi menjelang, tangan gw ga pernah lepas menggenggam benda itu. Benda hitam, besar, tegang, dan berbulu lebat. Benda yang menunjukkan kejantanan Yusuf...
Yusuf mungkin hanya menganggap gw seorang bocah kecil yang polos dan ga ngerti apa-apa... syukurlah... huft.

Conclusions:

Tanpa disadari, tanpa direncanakan... semua terjadi begitu saja. Hanya naluri yang berbicara... naluri homo... he he he... Kemesuman itu terjadi bukan hanya karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan... Waspadalah!! Waspadalah!!! (Bang Napi mode on qiqiqi...).

Selasa, 11 Mei 2010

The Candidate

Medio tahun 2004, Gw iseng-iseng ikut audisi peserta kuis The Candidate, sebuah acara kuis kerjasama Disnakertrans dengan Metrotv. Audisi digelar di Kantor Disnakertrans Jl. Soekarno Hatta – Bandung.
Jam baru menunjukan pukul 10.00 pagi, tapi antrian calon peserta audisi sudah sangat panjang, meliuk-liuk seperti ular. Sebenernya gw males banget yang namanya ngantri, apalagi matahari lagi teri-teriknya. Tapi setelah ngelihat spanduk dan umbul-umbul yang besar-besar dan bertebaran dimana-mana, membuat gw bertekad menguatkan hati untuk tetap ikutan audisi. Ya, itung-itung cari pengalaman dan nambah wawasan. Sejak dulu gw emang penggila tontonan kuis di tv.
Peserta audisi sangat membeludak, banyak banget, kayanya sih ribuan jumlahnya. Hmmmhhh... mungkin mereka tergiur dengan hadiah-hadiah spektakuler seperti yang dijanjikan pada iklannya yang dimuat di beberapa surat kabar.
Sistem penyaringan dilakukan beberapa hari dalam 4 tahap: Psikotest, Test pengetahuan umum dan Bahasa Inggris, interview, dan unjuk bakat. Setiap kegiatan selalu diabadikan oleh kameraman dan fotografer-fotografer.
Tiap peserta yang lolos dari tahap yang satu, maju ke test tahap berikutnya. Di setiap tahap banyak peserta audisi yang berguguran tereliminasi, dan harus pulang dengan rasa kecewa. Dari 3 hari proses penyaringan itu, terpilihlah 100 peserta. Syukurnya gw termasuk diantara ke-seratus peserta yang lolos itu.
150 calon peserta kuis yang lolos, diwajibkan ikut karantina di sebuah villa di Lembang. Kegiatan selama 3 hari itu dipadati dengan berbagai acara; pembekalan materi, simulasi kuis, outbond, dll. Pokoknya 3 hari itu cukup melelahkan. Dan lagi-lagi setiap kegiatan itu selalu diabadikan oleh kameraman & fotografer.
Waktu istirahat sangat sempit, sementara kamar mandi hanya sedikit, membuat peserta dengan terpaksa (gw malah seneng banget he he he...) harus mandi bareng untuk menghemat waktu. Sejak awal audisi gw sudah ngincer seorang brondong tampan berkulit putih bersih, sebut saja namanya Rizal (yang menurut radar gw, dia gay jg). Kebetulan sore itu, waktunya buat mandi kamipun udah mulai ngantri.
“Zal, mandi bareng gw aja ya...” sahut gw.
“Ga ah, gw ga biasa mandi bareng.” Jawabnya.
“Gpp lah kita kan sama-sama laki-laki, cuex aja.” Kata gw (sambil harap-harap cemas... krik...krik...krik).
“Aduh ttttapi aku maluu...” jawabnya ragu.
“Ya udah, kalo gitu gw yang mandi duluan aja ya.” Sedikit ngasih sugesti dengan nada mengancam.
“Aduh jangan dong... gw juga kan pengen cepet-cepet mandi...”
“Trus...?”
“Ya udah kita mandi bareng...”
“Yes!! Yes!! Yes!! (tereak gw dalam hati. Lumayan mata gw bisa belanja he he he...).
Setelah berdua di dalam kamar mandi, tampak dia ragu-ragu membuka seluruh bajunya. Dia sepertinya enggan melepas celana dalamnya...
“Buka aja semua, kalo celana dalamnya basah malah tar ga ada ganti” kata gw.
“Iya, ini jg tinggal satu yang laen udah basah semua”. Sahutnya.
“Makanya buka aja...” lanjut gw, sambil dengan cuex, gw buka semua pakaian gw sampai ga ada sehelai benangpun yang tersisa di tubuh gw.
Melihat gw cuex, Rizal pun dengan mantap membuka celana dalamnya. Dan terlihatlah pemandangan yang gw tunggu-tunggu he he he...
Dari luar pintu kamar mandi terdengar ketukan, oh ternyata si Hamid minta ikutan masuk buat mandi bareng. Dan jadilah kami mandi bertiga...
“Wah, yang bakal jd istri loe pasti dech puas sama ‘barang loe” sahut Hamid sambil ngelirik bagian ‘private area’ gw.
“Istri? Gw kagak doyan cewek bro!!!” (tapi hanya terucap didalam hati wkwkwwk...).
Waktu gw mau ngambil handuk di gantungan, gw ngelihat celana dalam warna putih milik Rizal menggantung.
“Rizal, kok celana dalam loe ada darahnya?” tanya gw
“O ya...? mungkin ambeien gw lagi kambuh...” jawabnya, terlihat malu-malu.
Wew... ambeien? Atau gara-gara....he he he... (curigeisien mode on).
Kegiatan berlanjut terus, dan mulai keliatanlah orang-orang ambisius yang ingin menonjolkan diri dan menunjukkan kecerdasannya. Kami diperintahkan panitia untuk membuat kelompok yang terdiri dari 10 orang. Gw pun berkeliling mencari calon rekan kelompok gw, yang gw anggap bisa solid. Gw menghampiri Dimas, fresh graduated institut gajah duduk yang nampak cerdas.
“Dimas, gw ikut kelompok sama loe ya” gw menawarkan diri.
“Sorry, udah penuh. Kelompok gw semuanya temen-temen seangkatan gw uy” jawabnya, singkat tapi cukup menusuk hati.
Gw berlalu dan menghampiri Fabian, lulusan salah satu universitas negeri di Bandung. Dia selalu kritis dan menonjolkan kecerdasannya. Tapi gw juga mendapat penolakan masuk ke dalam kelompoknya.
Penolakan-demi penolakan gw terima. Akhirnya dengan terpaksa gw membentuk kelompok dengan orang-orang yang tertolak dari kelompok-kelompok elite dan exclusive itu. Kelompok gw hanya kelompok orang-orang sederhana. Gw pun dipilih jadi ketua oleh anggota kelompok. Gw selalu memotivasi anggota kelompok gw, supaya jangan berkecil hati menjadi kelompok terbuang.
2 minggu kemudian tibalah waktunya shooting kuis. Lokasi shooting dilakukan di salah satu mall di Bandung.
Panggung elegan dengan tata lampu keren siap kami jajal. Ga ketinggalan 5 kameramen dengan kameranya masing-masing siap merekam setiap detail acara kuis. 4 kamera untuk mengambil gambar dari depan, dan 1 kamera jib untuk mengambil gambar dari atas. Shooting kuis dibagi menjadi 3 kloter (untuk 3 episode). Kloter pertama terdiri dari 5 kelompok: 4 kelompok elite (fresh graduate dan eksmud yang tampak smart), dan 1 kelompok underdog, yaitu kelompok gw (yang anggotanya kebanyakan hanya lulusan SMA).
Kuis dipandu oleh sepasang host, yang cewek pembaca berita TVRI Bandung, yang cowok entah dari mana asalnya, yang jelas gw yakin banget dia binan sejati qiqiqi...
Ga bermaksud sombong, atau niru-niru tokoh Lintang di Laskar Pelangi he he he.... Tapi ini kenyataan. Gw membabat habis semua pertanyaan yang diajukan ke kelompok gw, maupun pertanyaan lemparan yang ga mampu dijawab oleh kelompok lainnya. Malam itu memang malamnya gw. Gw ga ngasih kesempatan sama orang lain, baik dari kelompok lain maupun dari kelompok gw sendiri. Gw dominan dan berusaha membabat habis semua pertanyaan. Tiap menjawab pertanyaan dengan benar gw berhak mengeluarkan peserta lain dari arena kuis. Setelah menyingkirkan kelompok lain, gw juga harus survive dengan menyingkirkan saingan dari kelompok gw sendiri (yang ga begitu tangguh he he he...). Hobby membaca ternyata sangat membantu gw buat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Pengetahuan umum, musik, bahasa, sejarah, politik, ekonomi, geografi kebudayaan, dll jadi modal gw menaklukan kuis itu. Finaly, malam itu gw yang jadi juaranya dan berhak mendapat hadiah yang dijanjikan.
Setelah shooting kloter pertama selesai, diluar sana nampak wajah orang-orang ambisius yang kecewa. Dimas, Fabian dan lain-lain.
“Ga nyangka, ternyata wawasan loe luar biasa...” Sahut Dimas, memuji dengan ga rela.
Gw hanya tersenyum (dalam hati ingin rasanya tertawa ngakak penuh kepuasan).
“Bener, bro! Gila, kok bisa sih loe hampir tau segala hal?” Fabian menimpali.
“Mungkin Cuma kebetulan aja” jawab gw ringan.
“Makanya, jangan suka nyepelein orang” sambung gw (yang tentu saja cuma dalam hati he he he...).
Malam itu gw banyak menerima ucapan selamat dari peserta-peserta lain. Hati gw sangat melambung, dengan rasa puas dan bangga.
Gw, langsung cabut. Gw ga mengikuti proses shooting yang kloter-kloter berikutnya. Malam itu gw pulang naek angkutan umum.
Hampir 1 jam gw di angkutan umum, dan hampir sampai juga di rumah... Tiba-tiba hp gw mencicit (kok kaya tikus ya? qiqiqi...). ternyata ada sms:
“Polisi menggerebek lokasi shooting, karena ga ada ijin. Panitianya ditangkap dan ditahan, dengan pasal penipuan, mencatut nama Metrotv tanpa ijin.”
Buat meyakinkan, gw telpon Artina, juara ke-2 di kloter pertama, yang masih mengikuti jalannya shooting. Dan dari dia gw dapat kepastian kalo kabar itu ternyata benar. Artina dijadikan saksi, dan harus memberikan keterangan di kantor polisi. Untunglah gw langsung pulang jadi ga usah repot-repot bikin kesaksian di kantor polisi.
Gw langsung lemes... Bad ending!!! Tapi gpp, setidaknya gw sudah bisa membuktikan bahwa gw mampu menjadi juara kuis, even cuma kuis penipuan hiks hiks hiks....
Kasus ini diberitakan di media cetak dan elektronik. Ternyata bukan hanya pihak Metrotv yang menuntut. Panitia kuis jadi-jadian itu ternyata dituntut juga oleh: biro konsultasi psikologi (yang melakukan penyaringan lewat psikotest), kelompok penyedia fasilitas outbond, para sponsor, perusahaan catering, dll. Panitia itu ternyata telah menunggak banyak utang dan melakukan penipuan ke berbagai pihak.
Yang membuat gw heran, kok bisa ya pihak disnakertrans terlibat dalam penipuan ini? Penipunya yang lihai? atau pihak disnakertrans-nya yang.......? whatever!!!

Conclusions:
Hidup adalah perjalanan yang ga selalu manis untuk direguk. Kita harus bijak dan mampu memetik pelajaran berharga dari setiap kegagalan.