Sudah seminggu ini gw ‘riweuh’ (B. Sunda = sibuk) membantu sahabat gw Alvin merancang dan menyiapkan sebuah surprise party, untuk merayakan ulang tahun pacarnya, Viona. Mulai dari pemilihan cafe, pesan kue tart, ngundang teman-teman, format acara, dan tentu saja plus jadi fotografer amatiran juga he he he...
Dan kemaren malam terlaksanalah sudah surprise party itu. Semua acara berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Seneng juga liat ekspresi wajah Viona yang campur aduk antara senang, kaget, bingung, terharu, dan bahagia. Bibirnya tersenyum tapi matanya berkaca-kaca, dan dipertengahan hingga akhir acara, dia nampak tertawa lepas. Tak ketinggalan, Alvin juga ngerasa puas dengan hasil jerih payah gw.
Yang hadir lumayan banyak mulai dari teman-teman dekat sampai dengan keluarga Viona dan keluarga Alvin, komplit. Dan diantara tamu-tamu dewasa terseliplah 1 orang brondonk cakep 17 tahun yang menarik perhatian gw, namanya Daniel (sayangnya dia pacar adik perempuan Viona he he he...). Sebetulnya gw sudah kenal sama Daniel lebaran kemarin, waktu kami sama-sama gabung wisata bareng Alvin dan keluarga Viona. Di sana gw jadi tau banyak hal tentang Daniel, termasuk tau kalo ternyata sejak umur 2 tahun dia sudah kehilangan figur ayah, karena ayahnya meninggal akibat sebuah kecelakaan lalulintas. Kulit putih, tinggi 178cm, cakep, pokoknya tipe gw bangetlah he he he... Gaydar gw sih menangkap signal (walau lemah), kalo Danie tuh ada kemungkinan PLU (people like us) juga. Even ternyata dia gay sekalipun, gw akan tetep memegang teguh prinsip gw, kalo gw ga akan pernah membuka diri sama orang-orang yang berasal dari lingkungan teman-teman straight gw. Hanya mengagumi, hanya memuji he he he...
Eh, kok ceritanya jadi ngelantur ya? he he he... Back to the party. Setelah acara ultah dan makan-makan kelar. Kami semua berkaraoke ria (memanfaatkan fasilitas cafe he he he...). Walau CD lagu-lagunya terbatas dan didominasi sama lagu-lagu tembang kenangan alias jadul, ga ngurangin kegembiraan kami semua. Dan anak-anak mudanya sedikit tersegarkan dengan lagu-lagu baru dari CD-CD karaoke yang sengaja gw bawa dari rumah. Disana, jadilah gw sebagai ‘pemandu lagu’ dadakan he he he... Coz gw lumayan banyak tau soal lagu-lagu oldies dan juga masih suka update lagu-lagu baru.
Acara karaoke dibuka dengan lagu Mengenangmu – Kerispatih, yang dengan senang hati gw nyanyiin he he he... (setelah sebelumnya ga ada yang mau nyanyi duluan). Dan seperti biasanya setelah ada yang memulai barulah yang laen pada berani unjuk gigi (unjuk gigi? Emang giginya pada tonggos gt? he he he.. huft!) dan meluncurlah lagu demi lagu dibawah ini:
-Tonight I Celebrate My Love For You – Peabo Bryson And Roberta Flack
-Eternal Flame – The Bangles
-Tears In Heaven – Eric Clapton
-How Deep Is Your Love – The Bee Gees
-Love Story – Andy Williams
-Boulevard – Dan Byrd
-Smoke Get In Your Eyes – The Platters
-Goodbye – Air Supply
-Saving All My Love For You – Whitney Houston
-Right Here Waiting – Richard Marx
-Nothing’s gonna Change My Love For You – George Benson
-Hotel California – Eagles
-Speak Softly Love – Andy Williams
-I Just Called To Say I Love You – Stevie Wonder
-It Might Be You – Stephen Bishop
-Feelings – Morris Albert
-Trully – Lionel Richie
-Can’t Take My Eyes Off You – Frankie Valli
-When You Tell Me That You Love Me – Diana Ross
-Endles Love - Diana Ross and Lionel Richie
-My Way – Frank Sinatra
-You Needed Me – Boyzone
-L.O.V.E. – Nat King Cole
-Yesterday – The Beatles
-Paint My Love - MLTR
-Benang Biru – Megy Z (dangdut)
-Menunggu – Ridho Rhoma (dangdut lagi he he he...)
-Sumpah I Love You - Mahadewi
-Tapi Bukan Aku – Kerispatih
-Camelia – Irwansyah
-Biarkan Jatuh Cinta – ST12
-Pelan-Pelan Saja – Kotak
-Geisha – Jika Cinta Dia
-Hampa Hatiku – Ungu
-Matahariku – Agnes Monica
-Sepanjang Usia – Kerispatih
-Dll.
Itu Cuma sebagian lagu-lagu yang gw inget he he he... Btw, lagu Sepanjang Usia – Kerispatih dinyanyiin sama Daniel si brondonk cakep lho he he he (catatan yang ga penting ya? hi hi hi...). Dia nanyi sambil malu-malu dan minta bantuan gw wk wk wk... Btw, sayang banget gw ga nemuin CD lagu House For Sale, jadi gw ga bisa nyanyi sambil curcol dech wkwkwk... (baca postingan sebelumnya).
Dengan nyanyiin lagu-lagu lawas gw seakan-akan dibawa memasuki labirin masa lalu (padahal banyak lagu-lagu yang sudah ada jauh sebelum gw lahir he he he...). Lagu-lagu tembang kenangan seolah menjadi mesin waktu, untuk menembus ke dalam era musik puluhan tahun yang lalu.
Gw jadi inget, beberapa tahun yang lalu gw pernah iseng-iseng merekam suara gw sendiri menyanyikan lagu-lagu jadul. Lagu-lagu yang cukup gw sukai dan punya kenangan tersendiri. Gw sudah upload 3 buah lagu yang gw nyanyiin di Youtube lho. Lagu Angin Malam baru banget gw upload (ih niat banget ya? heu heu heu...). Jadi yang buat penasaran pengen tau suara gw atau yang lagi ga ada kerjaan, tinggal dengerin aja langsung. Yang mo ikutan nyanyi juga boleh kok, tuh udah gw tulis lengkap lirik lagunya. Tapi ga boleh protes ya, kalo hasilnya ga memuaskan he he he... Coz pada dasarnya emang suara gw biasa aja, ditambah ga diedit pula. Jadilah ini suara gw apa adanya he he he... PERINGATAN!!!: Jika setelah mendengar suara gw ada efek samping pusing-pusing, mual dan muntah-muntah itu diluar tanggung jawab gw wkwkwk...
FEELINGS
Original Song By Morris Albert / Written By Louis ‘Loulou’ Gaste
Feelings, nothing more than feelings,
trying to forget my feelings of love.
Teardrops rolling down on my face,
trying to forget my feelings of love.
Feelings, for all my life I'll feel it.
I wish I've never met you, girl; you'll never come again.
Feelings, wo-o-o feelings,
wo-o-o, feelings again in my arms.
Feelings, feelings like I've never lost you
and feelings like I've never have you again in my heart.
Feelings, for all my life I'll feel it.
I wish I've never met you, girl; you'll never come again.
Feelings, feelings like I've never lost you
and feelings like I've never have you again in my life.
Feelings, wo-o-o feelings,
wo-o-o, feelings again in my arms.
Feelings...(repeat & fade)
BIRU
Original Song By Vina Panduwinata / Written By Dodo Zakaria
Tiada pernah aku bahagia
Sebahagia kini oh kasih
Sepertinya 'ku bermimpi
Dan hampir tak percaya
Hadapi kenyataan ini
Belai manja serta kecup sayang
Kau curahkan penuh kepastian
Hingga mampu menghapuskan
Luka goresan cinta
Yang sekian lama sudah menyakitkan
Kau terangkan gelap mataku
Kau hilangkan resah hatiku
Kau hidupkan lagi cintaku
Yang t'lah beku dan membiru
Kini tetes air mata haru
Menghiasi janji yang terpadu
Tuhan jangan kau pisahkan
Apapun yang terjadi
'Ku ingin s'lalu dekat kekasihku
ANGIN MALAM
Original Song By Broery Marantika / Written By A. Rianto
Berhembus angin malam, mencekam
Menghempas membelai wajah ayu
Itulah kenangan yang terakhir denganmu
Ku dekati dirimu, kau diam
Tersungging senyuman di bibirmu
Itulah senyuman yang terakhir darimu
Diiring gemuruh angin
Meniup daun-daun
Alam yang jadi saksi
Kau serahkan jiwa raga
Angin tetap berhembus tak henti
Walaupun sampai akhir hidupku
oh, angin malam bawa daku kepadanya
Sekarang gw ngambil ancang-ancang buat lari... Kabuuuurr!!! sambil nutup muka takut ditimpukin tomat busuk he he he....
Conclusions:
Lagu kenangan bisa membuat kita senyum-senyum bahagia, membangkitkan semangat, atau malah bisa pula mengorek luka lama. Semua tergantung cara kita menyikapinya.
Tampilkan postingan dengan label pesta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesta. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 November 2010
Evergreen Love Songs
Sabtu, 15 Agustus 2009
I Hate Wedding Party
Sudah sejak beberapa tahun yang lalu gw enggan, atau tepatnya males datang ke undangan pesta pernikahan. Kalo bukan sodara atau sahabat deket gw yang ngundang, bisa dipastikan gw ga akan datang. Bukan karena benci sama yang ngundang. Bukan pula iri, karena gw ga bisa menggelar pesta yang sama. Tapi banyak hal yang bikin gw ga comfort terjebak dalam hiruk pikuk keramaian sebuah resepsi pernikahan.
Rongrongan orang-orang dengan berondongan pertanyaan-pertanyaan: Kapan kawin…??! Kapan nyusul…??? Pacarnya mana…!!? Lho kok sendirian aja…!!?!? Dan sejuta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bikin kuping gw terbakar dan hati gw mau meledak.
Pertanyaan-pertanyaan itu banyak versinya, ada yang disampaikan:
- dengan lembut penuh empati sebagai bentuk perhatian,
- dengan dingin tanpa ekspresi,
- dengan gurauan garing dan basa basi yang bener-bener sudah basi,
- dengan pertanyaan menyudutkan
- dengan tatapan penuh curiga,
- dengan senyum melecehkan,
- dengan tertawa puas melihat nasib gw
- dan ekspresi-ekspresi lainnya.
Arrrgghhhh!!!! @#*..!!%#@&^..!!! Hati kecil gw pengen berteriak!!! Kenapa ngurusin masalah gw!!!? Kenapa turut campur urusan pribadi gw!?! Apa kalian sudah kekurangan kerjaan…??? Tapi tak ada yang keluar dari mulut gw. Yang keluar dari mulut gw hanyalah senyum (senyuman palsu uhuk uhukk!!!… guk guk guk… he he he…).
Kalo diperhatikan, ternyata orang-orang yang suka mengeluarkan pertanyaan usil itu adalah orang yang sama. Setelah dikerucutkan, gw menemukan satu orang yang paling usil dan menjengkelkan gw. Dia seorang pria berumur 48 tahun, profesinya guru, kadang jadi MC, dia menikah di usia hampir 40 tahun, dan gaya bicaranya kemayu (alias ngondek banget tapi sok berakting macho). Sebut saja namanya Bang Hendrik. Secara selintas dan dari dulu juga gw tahu kalo dia itu banci fuiihhhh!!! Tiap ketemu, pasti pertanyaannya sama: tapi diulang lagi, diulang lagi… lagi, lagi, lagi… gw sampai bosan, eneg, mual, pengen muntah, gatal-gatal, ketombean, bibir pecah-pecah wakakkakakak…. (kok ga nyambung ya? xi xi xi…).
Suatu hari, di sebuah resepsi pernikahan dia beraksi lagi dengan pertanyaan yang sama;
“Eh ada Farreeeeelll…” dengan suara ramah yang dibuat-buat dan tentu saja dengan nada bancinya yang original hi hi hi….
“Iya Bang” jawab gw dingin.
“Kapan dong nyusul…? Kok betah sendirian aja?” dia mulai melontarkan pertanyaan usilnya.
“Saya mah ga laku Bang” gw menjawab acuh tak acuh sambil menikmati zupa-zupa.
“Masa ganteng-ganteng gini ga laku?” sambil nyengir kuda, tambah menyebalkan.
“Kapan atuh, bikin resepsi kaya gini. Biar saya yang jadi MC-nya, tar dikasih harga special lho…”. Sambungnya.
Anjrit… selera makan gw langsung ilang, dada gw sesak seakan ditindih 5 karung beras. Emosi gw meluap, hampir meledak. Tapi gw berusaha tetep tenang.
“Sorry ya Bang. Apa maksud abang tiap ketemu nanyanya itu-itu aja?... apa abang ga ada kerjaan lain, selain ngasih pertanyaan-pertanyaan tolol kaya gitu? apa mulut abang ga bisa berenti ngusilin saya!!?” nada bicara gw dingin, tapi tegas.
“ehmmhh… bu bukan begitu Farreeeel...” dia tergagap, nyali Bang Hendrik keliatan ciut.
“Terus maunya apa!!? Kenapa ga ngurus urusan sendiri aja?!! Apa karena saya tidak menikah berarti hidup saya tidak bahagia!!!? Denger ya, kehidupan abang yang sudah menikah, belum tentu lebih bahagia dari saya!!! Omongan gw semakin tajam tapi kena sasaran.
“Apa karena saya ga nikah, terus dianggap aneh, dan bisa jadiin bahan olok-olokkan!!?? Lanjut gw, nada bicara gw semakin meninggi.
“Maksud saya Cuma ngasih perhatian saja, kok…” dia membela diri.
“Ah sudahlah!!!… saya ga butuh!!, saya bisa menghandle urusan saya sendiri!!!”.
“emmhhh… emmmhh….” Dia hanya bisa menggumam. Karena kaget dengan reaksi gw, sate ayam di piring kecil yang ada di tangannya sampai terjatuh. Sepertinya dia tidak siap menerima serangan balik dari gw he he he… Lagian gw ga akan pake MC segaring loe kale ha ha ha…(kata gw dalam hati).
Gw berlalu dari hadapan dia dengan senyum lebar dan perasaan puas.
Sejak saat itu dia ga pernah usil lagi. Kalo pun berpapasan di sebuah acara resepsi pernikahan, paling dia hanya say hello aja, ga lebih. Atau kalo gw melihat dia dari kejauhan gw sengaja langsung menghindar.
Di lain waktu, gw ketemu Bang Hendrik lagi. Bukan di pesta pernikahan tapi di Bumi Baru II, sebuah Rumah Duka di Jalan Holis, tempat menyemayamkan jenazah. Waktu itu gw datang melayat nenek teman gw yang meninggal.
Waktu berpapasan dengan Bang Hendrik di dekat peti jenazah, gw melontarkan pertanyaan usil:
“Kapan nyusul neh?” gw bicara dengan volume rendah, sambil mata gw melirik peti jenazah.
“Hush!!...” Bang Hendrik kaget menerima pertanyaan gw. Dia pucat, mencoba berusaha tersenyum tapi hambar.
“Kenapa Bang? Belom siap ya!?? bisik gw, sambil dalam hati tertawa puas.
Aduh ternyata si abang ini parno kalo berurusan dengan orang mati ha ha ha… Sekali lagi perasaan gw diliputi rasa puas, karena bisa membalas mulut usil dia he he he…
Conclusions:
Jangan mentang-mentang sudah merasa “normal” karena bisa menikahi perempuan, lantas merasa berhak dengan seenaknya mengobok-obok masalah pribadi orang lain. Banci mah tetep banci aja, bang. Ga bisa disembunyiin, sekalipun loe berlindung di balik lembaga pernikahan he he he…
Rongrongan orang-orang dengan berondongan pertanyaan-pertanyaan: Kapan kawin…??! Kapan nyusul…??? Pacarnya mana…!!? Lho kok sendirian aja…!!?!? Dan sejuta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bikin kuping gw terbakar dan hati gw mau meledak.
Pertanyaan-pertanyaan itu banyak versinya, ada yang disampaikan:
- dengan lembut penuh empati sebagai bentuk perhatian,
- dengan dingin tanpa ekspresi,
- dengan gurauan garing dan basa basi yang bener-bener sudah basi,
- dengan pertanyaan menyudutkan
- dengan tatapan penuh curiga,
- dengan senyum melecehkan,
- dengan tertawa puas melihat nasib gw
- dan ekspresi-ekspresi lainnya.
Arrrgghhhh!!!! @#*..!!%#@&^..!!! Hati kecil gw pengen berteriak!!! Kenapa ngurusin masalah gw!!!? Kenapa turut campur urusan pribadi gw!?! Apa kalian sudah kekurangan kerjaan…??? Tapi tak ada yang keluar dari mulut gw. Yang keluar dari mulut gw hanyalah senyum (senyuman palsu uhuk uhukk!!!… guk guk guk… he he he…).
Kalo diperhatikan, ternyata orang-orang yang suka mengeluarkan pertanyaan usil itu adalah orang yang sama. Setelah dikerucutkan, gw menemukan satu orang yang paling usil dan menjengkelkan gw. Dia seorang pria berumur 48 tahun, profesinya guru, kadang jadi MC, dia menikah di usia hampir 40 tahun, dan gaya bicaranya kemayu (alias ngondek banget tapi sok berakting macho). Sebut saja namanya Bang Hendrik. Secara selintas dan dari dulu juga gw tahu kalo dia itu banci fuiihhhh!!! Tiap ketemu, pasti pertanyaannya sama: tapi diulang lagi, diulang lagi… lagi, lagi, lagi… gw sampai bosan, eneg, mual, pengen muntah, gatal-gatal, ketombean, bibir pecah-pecah wakakkakakak…. (kok ga nyambung ya? xi xi xi…).
Suatu hari, di sebuah resepsi pernikahan dia beraksi lagi dengan pertanyaan yang sama;
“Eh ada Farreeeeelll…” dengan suara ramah yang dibuat-buat dan tentu saja dengan nada bancinya yang original hi hi hi….
“Iya Bang” jawab gw dingin.
“Kapan dong nyusul…? Kok betah sendirian aja?” dia mulai melontarkan pertanyaan usilnya.
“Saya mah ga laku Bang” gw menjawab acuh tak acuh sambil menikmati zupa-zupa.
“Masa ganteng-ganteng gini ga laku?” sambil nyengir kuda, tambah menyebalkan.
“Kapan atuh, bikin resepsi kaya gini. Biar saya yang jadi MC-nya, tar dikasih harga special lho…”. Sambungnya.
Anjrit… selera makan gw langsung ilang, dada gw sesak seakan ditindih 5 karung beras. Emosi gw meluap, hampir meledak. Tapi gw berusaha tetep tenang.
“Sorry ya Bang. Apa maksud abang tiap ketemu nanyanya itu-itu aja?... apa abang ga ada kerjaan lain, selain ngasih pertanyaan-pertanyaan tolol kaya gitu? apa mulut abang ga bisa berenti ngusilin saya!!?” nada bicara gw dingin, tapi tegas.
“ehmmhh… bu bukan begitu Farreeeel...” dia tergagap, nyali Bang Hendrik keliatan ciut.
“Terus maunya apa!!? Kenapa ga ngurus urusan sendiri aja?!! Apa karena saya tidak menikah berarti hidup saya tidak bahagia!!!? Denger ya, kehidupan abang yang sudah menikah, belum tentu lebih bahagia dari saya!!! Omongan gw semakin tajam tapi kena sasaran.
“Apa karena saya ga nikah, terus dianggap aneh, dan bisa jadiin bahan olok-olokkan!!?? Lanjut gw, nada bicara gw semakin meninggi.
“Maksud saya Cuma ngasih perhatian saja, kok…” dia membela diri.
“Ah sudahlah!!!… saya ga butuh!!, saya bisa menghandle urusan saya sendiri!!!”.
“emmhhh… emmmhh….” Dia hanya bisa menggumam. Karena kaget dengan reaksi gw, sate ayam di piring kecil yang ada di tangannya sampai terjatuh. Sepertinya dia tidak siap menerima serangan balik dari gw he he he… Lagian gw ga akan pake MC segaring loe kale ha ha ha…(kata gw dalam hati).
Gw berlalu dari hadapan dia dengan senyum lebar dan perasaan puas.
Sejak saat itu dia ga pernah usil lagi. Kalo pun berpapasan di sebuah acara resepsi pernikahan, paling dia hanya say hello aja, ga lebih. Atau kalo gw melihat dia dari kejauhan gw sengaja langsung menghindar.
Di lain waktu, gw ketemu Bang Hendrik lagi. Bukan di pesta pernikahan tapi di Bumi Baru II, sebuah Rumah Duka di Jalan Holis, tempat menyemayamkan jenazah. Waktu itu gw datang melayat nenek teman gw yang meninggal.
Waktu berpapasan dengan Bang Hendrik di dekat peti jenazah, gw melontarkan pertanyaan usil:
“Kapan nyusul neh?” gw bicara dengan volume rendah, sambil mata gw melirik peti jenazah.
“Hush!!...” Bang Hendrik kaget menerima pertanyaan gw. Dia pucat, mencoba berusaha tersenyum tapi hambar.
“Kenapa Bang? Belom siap ya!?? bisik gw, sambil dalam hati tertawa puas.
Aduh ternyata si abang ini parno kalo berurusan dengan orang mati ha ha ha… Sekali lagi perasaan gw diliputi rasa puas, karena bisa membalas mulut usil dia he he he…
Conclusions:
Jangan mentang-mentang sudah merasa “normal” karena bisa menikahi perempuan, lantas merasa berhak dengan seenaknya mengobok-obok masalah pribadi orang lain. Banci mah tetep banci aja, bang. Ga bisa disembunyiin, sekalipun loe berlindung di balik lembaga pernikahan he he he…
Label:
binan,
blog,
cerita,
cinta,
curhat,
gay,
homoseksual,
kisah,
percaya diri,
pernikahan,
persahabatan,
pesta,
realita,
sejati,
sejenis,
soulmate
Langganan:
Postingan (Atom)