Tampilkan postingan dengan label mama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Agustus 2011

Justin

Sudah hampir  tiga jam aku duduk sendiri di kantin sekolah, ditemani segelas es teh manis buatan Bu Darmi. Kupandangi butiran embun di bagian luar gelas es teh manisku  yang masih utuh karena belum kureguk sedikitpun. Anak-anak berseragam putih abu  yang sedari tadi ramai berlalu-lalang dan menimbulkan suara hiruk pikuk, kini mulai lengang, karena sudah 3 jam yang lalu bell tanda bubar sekolah menjerit-jerit memekakan  telinga. Sesekali masih terlihat pengurus OSIS melintas di luar sana. Mereka tengah sibuk mempersiapkan acara pentas musik di sekolahku.
            
           Pikiranku menerawang jauh ke masa laluku. Empat tahun yang lalu. Ya, empat tahun yang lalu. Masih segar tergambar di mataku.  Masih terekam jelas di memory otakku. Hari itu adalah hari terakhir aku merasakan kebahagiaan. Karena  hari itu keceriaanku seakan direnggut paksa oleh kepergian Papaku.

Kalau kematian yang memisahkan kami, mungkin aku masih bisa terima, dan perasaanku tidak akan tercabik-cabik seperti ini. Yang membuatku geram adalah karena Papa pergi meninggalkan aku dan Mamaku demi seorang perempuan muda yang bernama Tante Miranda. Aku kesal, benci, jijik terhadap mantan sekretaris Papaku itu, karena ia telah merampas kebahagiaan keluarga kami. Terlebih aku benci pada Papaku yang tidak becus mempertahankan kesetiaan cintanya pada Mamaku.
           
           Sebagai anak tunggal, aku terbiasa mendapat curahan perhatian dan kasih sayang yang penuh dari kedua orangtuaku. Dan sejak saat itu aku harus mulai membiasakan diri hidup seadanya berdua dengan Mamaku yang terpaksa menjadi single parent. Waktu itu aku masih duduk di kelas dua SMP. Saat itu aku masih memerlukan perhatian, kasih sayang, dan  biaya yang tidak sedikit untuk mengongkosi sekolahku. Tapi apa mau dikata, Papaku kabur dari tanggung jawab demi mengejar kesenangannya sendiri. Dasar egois!!!
            
          Aku tak pernah habis pikir, kenapa semua itu bisa terjadi pada Papaku yang sangat alim dan aktif dalam pelayanan di gereja. Sejak saat itu, perasaan banggaku pada Papa telah berubah menjadi kebencian yang merasuk di hatiku dan menjalar  sampai ke dalam sum-sum terdalam dari tulang-tulangku.
           
       Yang tidak pernah ku mengerti, mengapa Mama hanya berdiam diri saja dicampakkan oleh Papku. Tidak ada sumpah serapah dari mulutnya. Tidak ada gugatan cerai darinya. Apakah karena Mama terlalu cinta sama Papa sehingga ia tidak mau melakukan semua itu ? Mama adalah wanita tersabar dan berhati lembut  yang pernah kulihat. Ia selalu menasehatiku : Jangan takut !, kita masih punya  Tuhan Yesus yang mengashi kita.
“Belum pulang, nak Rio?”
Suara alto Bu Darmi membangunkanku dari lamunan.
“Ya Bu, lagi suntuk nih.”
“Sudah sore lho, hampir jam 5. Nanti ibu nak Rio kuatir karena anaknya nggak pulang-pulang.”
“Mmmhh… Kantinnya mau ditutup ya Bu?”
“Ya sih… tapi nggak apa-apa kalau nak Rio masih betah duduk-duduk di sini.”
Kasihan Bu Darmi yang jadi korban. Gara-gara aku melamun memikirkan masalah-masalahku di kantinnya, ia jadi telat pulang.
Pandangan Bu Darmi beralih kepada es teh manisku yang kini sudah tidak dingin lagi.
“Minumnya mau diganti nak Rio ?”
“Makasih. Nggak usah Bu, saya sudah mau pulang kok.”
                                                                    
                                                                ******

             Walau aku sudah bertengger di punggung sepeda motorku yang melaju kencang, tapi bayangan masa laluku masih terus berkecamuk di otakku.
           
          Kutelusuri jalanan tanpa tujuan yang pasti. Aku berputar-putar dengan sepeda motorku menjelajahi Kota Bandung yang kini mulai diterangi oleh kerlip lampu-lampu kota, karena hari sudah beranjak senja. Aku nggak ngerti… Aku nggak tahu… Akan  kemana aku???  Aku nggak ingin pulang. Aku ingin menjauh dari masalah-masalah yang menjeratku.
           
          Saat kulihat komunitas anak punk yang berkeliaran di sekitar Jl. RE Martadinata lengkap dengan atribut dandanan mereka, aku merasa iri. Mereka bisa bebas mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kemauan mereka dengan cara mereka sendiri. Aku cemburu dengan kebebasan mereka. Tuhan, aku ingin bebas!!!
           
         Tanpa kusadari aku dibawa oleh sepeda motorku menelusuri kelokan-kelokan Jl. Setiabudi . Gila! Mau kemana aku? Mau ke Lembang? Malam-malam begini? Sendirian? Ah… aku sudah tidak peduli lagi. Pokoknya aku harus jauh dari rumah!

"Senyap Dalam Nyenyak"
( foto lama hasil jepretan gw dari balkon rumah )
            
          Jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kiriku bercicit riang. Rupanya sudah jam 8 malam. Kuhampiri sebuah kios, lalu kupesan  jagung bakar dan teh panas untuk sekedar mengganjal perutku yang mulai bernyanyi dengan nada-nada fals tidak beraturan.
            
          Aku teringat masa-masa sulit sepeninggal Papaku. Mama harus berjuang memeras keringat untuk bisa menghidupiku, karena Papa sudah tidak peduli pada  kondisi ekonomi kami yang morat-marit. Mama memang wanita pekerja keras yang tak kenal kata menyerah. Ia membuka warung nasi kecil-kecilan demi menyambung hidup kami berdua. Berkat Kasih Tuhan Yesus dan  kerja keras Mama, akhirnya warung nasi kami kini telah berubah menjadi sebuah rumah makan yang lumayan besar.

Kesuksesan usaha Mama tidak didapat semudah mengedipkan mata ataupun membalikkan telapak tangan. Mama harus ekstra menguras tenaga dan pikiran. Mama harus bangun saat pagi buta dan baru bisa tidur setelah larut malam. Kadang aku melihat Mama meneteskan air mata saat ia sendiri di kamarnya. Bila melihat Mama menangis seperti itu, hatiku terasa perih seperti diiris-iris. Lamunanku buyar dikagetkan oleh bunyi Handphoneku. Oh… rupanya Mama mencariku karena aku nggak pulang-pulang. Sudah lebih dari duabelas kali ia menelponku, tapi tak kuangkat. Kumatikan Handphone-ku. Maaf Ma, aku lagi ingin sendiri. Aku nggak ingin pulang. 

Deru suara knalpot kendaraan yang melintas dan pasangan muda-mudi  yang tertawa ceria menikmati malam minggu mereka di Lembang, sedikitpun tak menggangguku. Hatiku galau. Hatiku gundah. Hatiku tetap sunyi. Aku ingin teriak. Aku ingin berontak.

Papa. Papa. Papa. Itulah yang menjadi sumber kekacauan hidupku. Hukuman seberat apapun yang ia terima, tak akan mampu menghapus amarah yang bergejolak di dadaku. Termasuk ketika mobilnya terperosok ke dalam jurang tiga bulan yang lalu. Tante Miranda mengalami pendarahan di otak dan meninggal dalam perjalanan menuju ke  rumah sakit. Papaku mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya. Trauma hebat pada tulang belakang menyebabkan ia lumpuh. Kejadian itu memang pantas ia terima. Ini karma Pa!!! Emosiku terus bergejolak.
Satu-satunya yang luput dari kecelakaan itu adalah anak Papaku dari Tante Miranda yang baru berumur 3 tahun. Adik tiriku!!?? Hah!!! Aku benci anak itu!!!
            
         Aku tidak menghadiri upacara pemakaman Tante Miranda. Aku juga tidak mau menengok Papaku yang kini duduk di kursi roda. Dan aku tak mau melihat adik tiriku. Tak mau dan tak akan pernah!!!
           
          Hanya Mama yang selalu telaten menjenguk Papaku dan anak laki-lakinya. Mereka  tinggal di rumah kontrakan, ditemani seorang baby sitter. Mama tidak mampu mengubah pendirianku yang tak mau bertemu lagi dengan Papaku sejak empat tahun yang lalu. Mama sering menasehatiku agar aku mau memaafkan Papaku. Aku sudah muak. Luka di bathinku sudah parah bernanah. Aku tidak mau melihat Papaku lagi, karena bagiku Papa sudah mati.
           
Lamunanku sampai ke titik puncaknya pada kejadian tadi pagi sebelum aku berangkat sekolah.
“Rio, nanti sore Papamu pulang.”
Mamaku berkata lembut.
“Papa? Kenapa mesti pulang!?!  ‘Kan Rio sudah bilang sama Mama, kalau Rio tuh sudah tidak mau melihat Papa lagi.”
Jawabku acuh tak acuh.
“Kasihan Papamu nggak ada yang ngurus. Lagian sekarang adikmu juga sudah nggak ada yang ngasuh, karena Papamu sudah nggak mampu membayar baby sitter."
 “Adik?  Adik dari Hongkong?!?”
Sahutku sinis.
“Sekarang keadaan Papamu lagi susah, Rio. Ia sekarang sudah nggak bisa kerja lagi.”
“Giliran susah sama kita! Giliran senang lari sama wanita lain!!!
Aku berkata dengan geram.
“Rio!!! Mama nggak pernah ngajarin kamu kurang ajar!!!" Bentak mamaku. Baru kali ini aku dibentak oleh Mamaku. Dan lagi-lagi penyebabnya adalah Papaku.
“Lagian Mama mau membawa Papa  pulang nggak  kompromi dulu sama Rio!!!”
Nada suaraku makin meninggi.
“Mama sudah lupa bagaimana Papa nelantarin hidup kita? Mama juga  sudah lupa bagimana Papa nyakitin hati kita demi bersenang-senang dengan isteri mudanya?” Lanjutku.
“Kejadian itu sudah berlalu, Rio. Mama sudah lama memaafkan  Papamu.”
Bibir Mama bergetar menahan emosi.
“Pokoknya Rio nggak akan pulang  kalau nanti melihat Papa ada di rumah ini!!!
          
          Aku bergegas pergi sambil meraih tas ranselku. Aku berlari pergi sambil meninggalkan suara berdebum keras dari pintu yang kubanting. Kutancap gas sepeda motorku kuat-kuat. Knalpot sepeda motorku meraung-raung seakan turut memprovokasi kemarahanku. Hanya kepulan asap putih yang tertinggal di pekarangan rumahku. Sementara dari dalam rumah, sayup-sayup kudengar suara Mama yang memanggil-manggil namaku.

         Lama juga aku terpekur di kios jagung bakar itu. Untungnya pedagang jagung bakar itu tidak mengusirku yang duduk terlalu lama di kiosnya. Sudah hampir jam 11 malam. Aku beranjak pergi. Sekarang keadaanku kembali sama dengan 6 jam yang lalu. Mengendarai sepeda motorku tanpa tujuan yang jelas.
           
           Tuhan, mengapa semua ini terjadi? mengapa masalah ini datang di saat kehidupanku mulai tenang? Ah, aku tak habis pikir. Aku protes kepada Tuhan.
            
          Aku melintas di Jl. Merdeka  yang keadaannya sudah sepi. Laju sepeda motorku tertahan oleh lampu merah. Aku melihat beberapa anak jalanan yang masih berkeliaran dengan baju kumalnya. Kasihan mereka harus berjuang sendiri untuk mencari makan. Sementara di pojok trotoar dekat bak sampah, aku melihat seorang bapak berperawakan kurus tidur meringkuk melawan dinginnya malam dengan selembar kertas koran. Kehidupan ini memang kejam, pikirku. Mereka kekurangan didekat tempat orang-orang menghamburkan uang. Mereka kelaparan diantara deretan rumah makan siap saji. Sungguh ironis.
            
          Kuputuskan untuk menginap di tempat kost sahabatku Daniel. Saat kuketuk pintu kamarnya, tanpa menunggu lama ia langsung membukakan pintu. Rupanya ia baru selesai mengerjakan PR Bahasa Inggris.
“Elo dari mana malam-malam begini? Masih pake seragam pula.”
“Abis keluyuran. Gua lagi Bete nih!”
Sahutku asal.
“Butuh tatih tayang…?”
Candanya sambil nyengir kuda.
            
          Aku hanya terdiam dengan roman muka dingin. Daniel buru-buru mengubah sikapnya. Ia menyadari kalau aku  lagi sungguh-sungguh. Daniel memang sahabat yang tahu betul karakterku. Walau aku sudah bersahabat lama dengan Daniel, aku tidak pernah menceritakan masalah keluargaku padanya. Aku selalu menutup rapat-rapat masalah ini.  Karena masalah ini adalah aib bagiku. Cukup lama Daniel mendengarkan ceritaku. Daniel yang sedari tadi tidak banyak bicara dan hanya sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia berkata:
“Gua bisa ngerti kalo elo marah. Gua juga bisa faham kalo elo susah maafin  bokap elo. Tapi yang jadi masalah, elo nggak berhak jadi hakim atas perbuatan bokap elo.”
“What’s mean?”
“Kita nggak berhak menjatuhkan vonis benar atau salah sama orang lain.”
“Termasuk sama bokap gua yang jelas-jelas sudah mengacaukan keluarga gua?”
“Yap! Hanya Tuhan yang berhak menghakimi perbuatan manusia. Karena Tuhan menilai perbuatan manusia tanpa melibatkan emosi, dendam dan sakit hati.”
            
          Aku berpikir, mungkin juga aku telah memvonis Papaku bersalah karena aku dendam padanya, karena ia lebih memperhatikan isteri muda dan anak laki-lakinya dari pada aku dan Mamaku. Aku dendam karena Tante Miranda dan anaknya telah merampas kasih sayang dan perhatian Papaku yang seharusnya menjadi hakku.
“Jadi menurut elo, gua yang salah?”
Tanyaku.
“Dalam hal ini, nggak ada yang sepenuhnya salah, dan nggak ada yang sepenuhnya benar.”
“Maksud elo?”
“Elo ada sisi benarnya tapi juga ada sisi salahnya.”
“Termasuk bokap gua ?”
“Exactly !”
“Lantas,  gua harus gimana?”
“Menerima semua kejadian ini dengan tulus sebagai jalan yang sudah Tuhan rancangkan bagi hidup elo.”
          
          Aku heran kenapa kata-kata Daniel terasa sejuk dan bisa membukakan mata hatiku. Padahal selama ini biasanya  kalau kami bertemu paling-paling cuma bercanda. Ah, aku mengerti. Mungkin inilah yang disebut dengan jalan Tuhan yang sering tak terselami pikiran manusia.
“Menurut elo apa yang harus gua perbuat sama anak Tante Miranda?”
“Adik elo, maksudnya?”
“Unfortunately yes. Ya… adik tiri gua.”
“Adik, ya adik. Jangan diembel-embeli lagi. Karena bagaimanapun juga dia adik elo, walau lain ibu.”
“Jadi?”
“Sayangi dia sepenuh hati, seperti elo nyayangin diri elo sendiri. Karena dalam hal ini adik elo nggak salah, dan dia nggak ngerti apa yang terjadi.”
            
          Aku merasa jadi orang paling egois sedunia.  Aku orang yang aktif pelayanan di gereja, tapi tidak bisa memaafkan Papaku. Bagaimana mungkin aku bisa mengampuni orang lain kalau aku sendiri tidak bisa mengampuni Papaku. Bagaimana mungkin aku bisa mengasihi orang lain kalau aku  nggak bisa mengasihi adikku sendiri, yang jelas-jelas masih sedarah denganku.
“Elo benar, Niel.”
Nafasku tertahan.
“So, sekarang elo mau gimana?”
“Gua mau pulang. Tapi…..”
“Apa lagi?”
“Gua malu…..”
“Ngapain harus malu? Jangan pernah malu untuk memulai sesuatu hal yang baik. Nggak ada kata terlambat untuk berubah.”

                                                                  ******

         Hari masih pagi saat kupijakkan kaki turun dari sepeda motor di pekarangan rumahku. Aroma bau tanah tercium hidungku, pertanda Mama belum lama menyiram tanaman kesayangannya.
“Kak Rio!!!”

          Aku berpaling kearah datangnya suara. Rupanya suara itu datangnya dari mulut seorang anak kecil.  Anak kecil yang bermata bulat, berkulit putih dan berambut ikal  kecoklatan. Aku yakin dia itu Justin adikku. Tapi dari mana ia tahu aku ini kakaknya?   Mungkin Papa atau Mamaku yang bercerita padanya tentang aku, sambil memperlihatkan foto-fotoku.

Aku tidak pernah bertemu dengan Justin tapi aku merasa tidak asing melihatnya. Demikian juga Justin, ia juga sepertinya tidak takut melihat aku, orang yang tidak pernah kenal dengannya. Mungkinkah ini yang dinamakan ikatan bathin persaudaraan kami?

Aku merasa jadi orang paling munafik kalau aku nggak bisa sayang pada anak selucu dia. Aku yakin semua orang yang melihatnya, pasti akan suka padanya.

Kuhampiri dia. Kubelai rambutnya. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Senyuman yang mengandung makna, makna yang tak pernah bisa  kuungkapkan dengan kata-kata. Sesaat mataku nanar oleh suasana haru. Kupeluk dia erat-erat sambil berkata dalam hati: "Justin, maafkan kakak...".

                                                                
                                                                  TAMAT


Catatan: Cerpen ini gw tulis lebih dari 15 tahun yang lalu. Filenya ga sengaja gw temukan ada di komputer yang udah lama jadi penghuni gudang. Komputer itu kemarin dikeluarkan lagi dengan maksud  untuk dicek terlebih dahulu sebelum diberikan buat sodara. Naskahnya sengaja tidak diedit lagi, semuanya masih sama dan apa adanya...

Conclusion:
Berhentilah menyalahkan orang lain dan takdir Tuhan. Cobalah untuk memahami dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Hidup dengan cinta akan jauh lebih bermakna dibandingkan dengan hidup menyimpan amarah dan dendam... 
                     

Sabtu, 02 April 2011

Kembar

Sebenernya gw sudah kenal lama sama Ricky, mungkin lebih dari 3 tahun yang lalu. Tapi kami lebih akrab chatting via YM aja. Ricky seorang pemuda keturunan Chinese berumur 24 tahun. Selama 3 tahun kenal di dunia maya, tapi gw baru sekali ketemuan dengan dia dan.... tidak terjadi apa-apa diantara kami he he he... (pasti dech yang baca udah pada mikir ngerez wkwkwk...). Yupz,  gw dan Ricky cuma ngobrol-ngobrol ngalor ngidul di mess tempat dia kerja, yang waktu itu kebetulan sepi banget coz penghuninya lagi pada mudik. Waktu itu Ricky keliatan ‘pengen’ sih he he he... Tapi gw ga nafsu wkwkwk... secara fisik dia ga jelek sih, mungkin bukan type gw aja kali ya.  Singkat  cerita, jadilah kami teman akrab di dunia maya saja. Gw tau kegiatan dia apa aja, termasuk waktu tahun kemarin dia memutuskan berhenti kerja dan melanjutkan study-nya di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung.

Sebetulnya dia jarang online di YM. Ga kaya gw, yang: Siang malam ku selalu, menatap layar terpaku, untuk online... online... online... online.... (lho kok malah nyanyi? he he he...). Minggu kemaren gw ketemua chat lagi sama dia di YM. Nih, sengaja gw copas petikan obrolannya.

Ricky: Malem ko
Farrel: Malam...
Ricky: Apa kabar ko?
Farrel: Baek. Km?
Ricky: Biasa aja, ko. Koko lagi apa?
Farrel: Lagi ngebalesin e-mail, sambil iseng chatting he he he...
Farrel: Btw, koko kaya pernah liat km di Festival Citylink, Bener kamu bukan ya?
Ricky: Mungkin sih, soalnya aku juga lumayan sering belanja ke Festival Citylink, kan deket kalo dari rumah aku mah.
Ricky: Waktu itu koko liat aku sama siapa?
Farrel: Lagi sama cowok pri. Hayoooo kamu lagi ketemuan ya? ha ha ha...
Ricky: Emang kapan gitu koko liat aku di Festival Citylink-nya?
Farrel: Hari minggu, kalo ga salah 2 minggu yang lalu, waktu ada ‘International Cat Festival’
Ricky: Oh... yang 2 minggu kemaren itu mah, kayanya koko ketemu sama adik aku dech.
Farrel: Swear, yang koko lihat beneran kamu kok!
Ricky: Ssssssttt... yang ketemu sama koko itu adik aku sama temannya ko, kami kembar lho...
Farrel: Wkwkwkwk...bisa aja. masa sih?
Ricky: Ah koko... ga percaya ya? swear, dia kembaran aku ko, namanya Ricko.
Ricky: Aku inget banget, hari itu mah aku nganter mama ke rumah sodara.
Farrel: Hmmmhhh...
Ricky: Kenap ako? bingung ya???
Farrel: Maksudnya yang kemaren ketemu sama koko itu teh bukan kamu?
Ricky: Iya ko, kalo aku sih yang ketemuan sama koko waktu di mess.
Ricky: Kembaran aku mirip aku ya? he he he...
Farrel: Owh... btw, kembaran kamu binan jg?
Ricky: Iya ko, kan kembar identik. Jadi pasti sama lah...
Farrel: Ow ow ow...
Farrel: Trus kamu pernah .... sm dia? Wkwkwkwk...
Ricky: Ga lah ko...
Farrel: Pantesan waktu ketemu di, Festival Citylink kko dan dia saling ketemu pandang tapi dia cuek-cuek aja.
Ricky: Jadi Koko sama Ricko sempet saling pandang ya ko?
Farrel: Iya lah.... Btw, kalian saling terbuka soal orientasi sex kalian sejak kapan?
Ricky: Kayaknya sejak SMA gitu deh,  pas sama-sama tau ga suka cewek.
Farrel: Oic...

Ternyata setelah kenal sekian lama, malam itu gw baru tau kalo Ricky itu punya kembaran namanya Ricko...

Orang-orang kembar, seringkali menarik perhatian kita. Mungkin karena kemiripian dan keunikannya. Waktu SMP gw punya temen kembar, 2 pasang malah. Yang satu pasang cowok Dena dan Deny, trus yang satunya pasangan kembar cewek Ella dan Elly. Gw 2 tahun sekelas sama Ella Nurlaela, tapi gw baru nyadar  kalo dia punya kembaran namanya Elly Nurlaeli, waktu gw dan temen-temen sekelas latihan kabaret di rumahnya Elly... Mereka mirip banget, gw sampe ga bisa ngebedain mereka he he he...

Btw, saudara kandung gw ada yang terlahir kembar juga lho, yaitu kakak-kakak perempuan gw, yang sayangnya tak berumur panjang (mereka meninggal selagi masih bayi).

Lain Ricky dan Ricko, lain pula dengan sahabat gw Daffa. Daffa juga mempunyai kembaran, namanya Daffy. Tapi uniknya even mereka kembar, sifat mereka jauuuuuuhhhh banget!!! yang satu lembut, koleksi boneka, fashionista, terobsesi film-film barbie, dan suka main masak-masakan he he he... sementara yang satunya lagi keras, cuek, laki banget, dan suka berantem. Pokoknya mereka beda banget lah, baik cara berpakaian maupun tingkah laku. Sekarang Daffy sudah punya istri dan seorang anak, sementara Daffa masih pacaran dengan cowok he he he... Ya gitu dech, bukan hanya berbeda secara fisik dan sifat, mereka juga sering ga akur. Yang gw tau mereka sering berantem karena beda pendapat. Gw ga heran sih mereka jadi pasangan kembar yang ga kompak, coz mereka bukan kembar identik.

Di Bandung ada pasangan kembar binan yang cukup terkenal dikalangan PLU lho. Sebut saja nama mereka Nando dan Nandy.  Banyak gosip beredar tentang mereka. Selain dua-duanya ganteng,  mereka juga sangat kompak. Bahkan saking kompaknya, mereka sering bareng-bareng mencari 1 cowok buat dinikmatin bersama... Yupz!! 3sum just for fun.  Menurut gw sih unik banget. Gw jadi inget film bokep G yang pemainnya kembar 3 wuiiiiihhhh...

Beberapa minggu yang lalu gw ketemuan dengan anak Jakarta, yang kebetulan lagi di Bandung. Sebut saja namanya Astra, dia ngebet banget pengen ketemu sama gw.  Katanya sih mumpung dia belom balik ke Jakarta. Gw  menemui Astra di sebuah tempat kost di daerah C. Sebuah kamar kost yang rapi, wangi dan girly banget. Dimana-mana terpampang foto-foto seorang gadis cantik dengan aneka pose mutakhir bak seorang model.

“Ini kostan siapa? Kostan pacar kamu ya?” kata gw sambil celingak-celinguk melihat suasana kamar (Gw nanya gitu coz Astra ngakunya seorang bisex).
“Hmmhhh... bukan kok, ini kostan temen aku.”

Di kostan itu gw dan Astra.... krik... krik... krik... taralala..!!! trilili...!!! cuma ngobrol doang ha ha ha... (pasti pada mikir ngerez lagi kan? jiakakakakak... Ga ada yang terjadi selain ngobrol dan ngemil bareng. Astra yang di foto sama aslinya beda banget!!! Sebenernya garis-garis cakepnya masih ada sih, tapi pipinya banyak jerawat dan lubang-lubang bekas jerawat. Itu yang bikin gw ilfeel he he he... Ga tau kenapa, gw cuma suka sama brondonk berpipi mulus dan licin, coz nyaman buat dicium dan dielus-elus he he he...

Seteleh ngobrol ngalor ngidul, sampailah gw dan Astra pada satu obrolan...

“Orang tua kakak, tau ga kalo kakak itu gay?” tanya Astra.
“Ga lah! sebenernya buat aku sih ga terlalu masalah kalo keluarga aku tau, aku itu gay. Tapi buat apa? Aku takut  kalo keterusterangan aku itu akan membuat mereka kecewa dan terluka.” jawab gw.
“Oh... emang kakak berapa bersodara gitu? Trus yang laen udah pada nikah?” tanya Astra menelisik.
“Empat. 2 kakak, 1 adik. Semuanya udah pada Married, kecuali aku.” Jawab gw, menjelaskan.
“Kalo kamu?” gw balik nanya sama Astra.
“Dua bersodara, kak. Aku punya 1 kakak perempuan, namanya Astri. Dan kamar ini tempat kost-nya kakak aku.” sahut Astra.
“O ya? trus orang tua kamu tau kalo kamu itu gay?” tanya gw lagi.
“Aku bener-bener takut kalo orang tua aku tau, kak. Mereka pasti kecewa banget. Punya dua anak, dan dua-duanya ‘belok’....” kata Astra dengan nada suara lebih rendah, sambil menghela nafas.
“Hmmmmh maksudnya?  Kakak kamuitu lesbi...?” tanya gw penasaran, dan dengan nada bicara berhati-hati.
“Iya... Dia lesbi. Sebenernya Aku dan Astri kembar, kak....”
“Wow amazing!!” gw takjub.
“Mungkin roh aku dan Astri ketuker kali ya, kak? Astri meskipun tampilannya cantik dan  cewek banget, tapi dia orangnya pemberani dan nekat. Dulu di sekolah, malah aku yang sering dilindungi Astri dari gangguan temen-temen aku yang nakal... Astri-lah yang selalu berantem buat aku...” Sahut Astra sambil cengengesan.

Wah-wah... Dalam dua minggu, dii bulan maret 2011, gw mengetahui dua teman lagi dengan keunikan mereka sebagai pasangan kembar pencinta sejenis. What a wonderful world!?!...

Conclusions:
Gay yang terlahir sebagai kembar, mungkin punya keuntungan tersendiri. Coz bisa saling berbagi cerita, saling mendukung dan saling menguatkan tanpa malu dan takut,  karena mereka sehati, sepikir dan sejiwa...

Kamis, 11 November 2010

House For Sale

Gw ga inget, entah kapan gw pertama kali mendengar lagu ‘House For Sale’. Tapi lagu ini sangat akrab di telinga dan memory gw. Dilantunkan oleh sebuah Grup Band jadul asal Belanda, yang namanya cukup bikin merinding, Lucifer!! Yupz, dalam Bible, Lucifer adalah nama Malaikat kegelapan, malaikat pemberontak yang berubah menjadi cikal bakal iblis. Tapi apalah arti sebuah nama? Yang penting lagunya enak didengar he he he... Warna suara vocalisnya: Margriet Eshuijs, cocok banget membawakan lagu ini. House For Sale, sebuah lagu lama yang masih enak untuk didengar, ‘oldies never dies’...

HOUSE FOR SALE
Song by Lucifer

The sound went up one rainy morning
Just a couple of hours after dawn
Mrs. Hadley Peapped drew her curtains
Wondering what was going on

The neighbor sat over coffee cups
That nice young couple is breaking up

And in the living room the linen and the crystals
Set all packed-up and set to go
I tell myself once more I would be here in spring
To see my roses glow

And all the things you tried to fix
The roof still leaks, the door still sticks

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share

I know you've always loved that painting
From that tinny little shop in Spain
Remember how we found it when we've ducked in
From that sudden summer rain

But I think I'll keep the silver tray
My mother gave us on our wedding day

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share

House for sale
You can read it on the sign
House for sale, oho
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share


Sudah lama rumah itu terbengkalai dan kosong. Rerumputan liar tumbuh tak beraturan dihalaman. Debu menebal dimana-mana dan sarang laba-laba berjuntaian di tiap sudut ruangan. Lebih dari 3 tahun rumah itu ditinggalkan kami. Rumah tempat dimana gw dan sodara-sodara gw dibesarkan. Rumah tempat keluarga kami berlindung dari sengatan matahari, dari dinginnya angin malam, dan dari derasnya air hujan. Rumah tempat keluarga kami bernaung, bercanda, menangis, dan tertawa bersama.
Lebih dari 4 dasawarsa rumah itu menjadi milik keluarga kami. Dan sudah 3 kali mengalami renovasi. Semenjak menikah papa dan mama menempati rumah itu, rumah keluarga kami.

Di tanah seluas 240 meter persegi, rumah itu dibangun. Dulu sekali, waktu gw masih kecil, gw masih inget banget, di pekarangan rumah gw terdapat 2 batang pohon kelapa, 1 pohon nangka, 1 pohon pete, 1 pohon jambu air, 1 pohon belimbing, dan aneka bunga warna-warni, dengan tanaman daun mangkokan sebagai pagar hidup. Tak heran kalo suasana di rumah kami sejuk dan rimbun. Karena usia dan alasan-alasan lainnya, pohon-pohon itu satu per satu ditebang, dan terakhir hanya menyisakan pohon nangka (konon pohon nangka itu ditanam oleh papa persis sewaktu gw lahir).

Rumah itu memang ga terlalu luas, hanya 1 lantai dan memiliki 1 kamar utama dan 4 kamar anak-anak. Tapi kami merasa nyaman tinggal disana.

Sedari kecil gw senang memelihara binatang, dan rumah kami itu sangat memungkinkan gw untuk memelihara binatang-binatang kesayangan gw. Ayam, burung parkit, gelatik, kutilang, merpati, kelinci, marmut, kura-kura, ikan hias dan anjing pernah gw miliki. Tapi dari semua itu hanya ikan hias dan anjing yang paling sering gw pelihara. Sudah 7 ekor anjing yang menghangatkan suasana keluarga kami. Ticky, Della, Jenny, Bella, Bonny, Shiro, dan Scrappy itulah nama anjing-anjing gw. Mereka silih berganti menjadi hewan kesayangan gw. Di rumah, gw hanya diijinkan memelihara 1 ekor anjing saja. Dipelihara mulai dari kecil sampai tua dan mati, lalu diganti dengan anjing lainnya.



Sudah 2 tahun yang lalu, rumah kami dipasangi plang “Rumah Ini Akan Dijual”. Tapi belum juga ada pembeli yang cocok. Kini, setelah hampir 4 tahun Papa meninggal, kami sekeluarga memutuskan untuk menjual rumah itu kepada tetangga kami. Dengan pertimbangan: daripada rusak terbengkalai karena akhir-akhir ini makin sering terendam banjir, akhirnya dengan berat hati kami melepas rumah kami itu ke tangan orang lain. Segala proserdur jual beli dan urusan tetek bengek lainnya sudah kami bereskan. Proses akad jual beli rumah kami pun sudah tuntas.

Beberapa minggu yang lalu, untuk terakhir kalinya gw memasuki rumah itu. Gw mengambil benda-benda milik keluarga gw yang masih tersisa di rumah itu. Ada rasa sesak di dada. Sedih, haru, membuncah bersama sejuta kenangan yang berseliweran di otak gw. Hmmmhhh... Kini rumah itu sudah bukan milik kami lagi...

Lagu ‘House For Sale’, kembali mengalun dari laptop gw menambah suasana hati gw semakin biru dan sendu. Selamat tinggal rumahku tercinta...

Conclusions:
Ada yang pergi, ada yang kembali. Ada yang hilang, ada yang ditemukan. Benda boleh rusak dan lenyap. Tapi, selama gw masih ada, kenangan itu akan tetap terpelihara.

Jumat, 03 September 2010

Tragedi Menjelang Lebaran

Bulan Ramadhan tiga tahun yang lalu kisah ini terjadi... Kegiatan rutin harian gw waktu itu adalah mengelola cafe milik keluarga yang letaknya sekitar 32 Km dari Bandung. Setiap harinya gw pergi pagi, pulang larut malam menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi.

Cafe yang baru seumur jagung itu setiap harinya dipadati pengunjung, maklumlah di daerah itu belum ada cafe yang menawarkan konsep seperti cafe yang keluarga gw kelola. Apalagi disaat waktu berbuka puasa di Bulan Ramadhan, karyawan yang berjumlah 35 orang, seringkali kewalahan melayani pesanan pelanggan. Hingga seluruh anggota keluarga gw pun harus ikut turun tangan membantu melayani pelanggan.

3 hari menjelang idul fitri 2007, waktu hampir pukul 11.00 malam ketika gw dalam perjalanan pulang ke Bandung, melintasi jalanan basah sisa-sisa guyuran hujan tadi sore. Dalam keremangan cahaya lampu jalanan dan lalu lintas yang lengang gw meluncur dalam kecepatan stabil di 80 Km/jam. Tapi disebuah tikungan tajam dan licin, secara tiba-tiba sepeda motor gw seperti hilang kendali. Dan Braaaaakkkk!!!... secara tiba-tiba motor gw terjatuh diiringin tubuh gw yang terguling-guling terpelanting di atas jalanan beraspal. Untunglah saat itu lalu-lintas sangat sepi, hingga ga terjadi kecelakaan beruntun. Gw lalu bangkit dibantu oleh beberapa orang penduduk di sekuitar situ. Sekujur tubuh gw dipenuhi luka parut dan memar. Perih dan nyeri menjalari setiap sudut tubuh gw.

“Mas, ban motornya kempes” Sahut salah seorang penolong gw.
“Oh iya, makasih...” jawab gw.

Jam tangan digital kesayangan gw entah terlempar kemana, gw hanya menemukan bagian kiri tali jam itu. Suasana yang temaram makin mempersulit gw mencari jam tangan gw. Rasa sakit membuat gw menyerah dan ga peduli lagi jam tangan gw hilang.
Kebetulan kios tukang tambal ban hanya beberapa meter dari lokasi kejadian, hingga gw ga usah terlalu bersusah payah mendorong sepeda motor gw untuk mencari-cari tukang tambal ban.

“Boss, bannya sobek. Harus diganti yang baru.” Kata tukang tambal ban.
“Ya sudah, ganti aja Mang.” Sahut gw acuh tak acuh.

Disaat gw menunggu tukang tambal ban memasang ban belakang motor gw, gw baru menyadari ada masalah di tulang selangka (clavicula) bagian kiri. Catat ya tulang selangka!! bukan tulang selangkangan!!! wkwkwkwk.... Tulang dibagian atas dada dan sejajar dengan bahu gw itu ternyata letaknya bergeser, tepatnya patah. Sambil duduk, gw mencoba sendiri mengembalikan posisi tulang selangka gw dengan cara mendorong memakai tangan kanan gw. Untunglah berhasil, even dengan rasa sakit yang lumayan menyiksa. Gw lalu menelpon Mario, BF gw (sekarang udah jadi mantan) ngasih tau kalo gw mengalami kecelakaan.

Setelah tukang tambal ban tuntas mengerjakan tugasnya, lalu gw pulang dengan mengendarai sepeda motor sendirian. Dengan hanya menggunakan sebelah tangan gw mengendalikan laju kendaraan, padahal perjalanan masih lumayan jauh, sekitar 18 Km lagi. Gw ga pulang ke rumah, tapi langusng ke UGD sebuah rumah sakit yang letaknya ga jauh dari rumah gw, seperti saran Mario.

Setelah di rumah sakit dan tubuh gw menggigil, barulah gw menelpon keluarga gw. Gw emang tipikal orang yang ga suka bikin panik dan merepotkan orang lain (termasuk keluarga). Mama gw aja baru tau kejadian itu, keesokan harinya.
Clavicula Bandage

Di rumah sakit, luka-luka gw dirawat dan dibersihkan. Kesimpulan dokter gw mengalami: clavicula fracture, alias tulang selangka gw patah karena trauma. Dari hasil foto rontgen, untunglah meskipun patah tulang selangka gw tidak mengalami dislokasi. Tentu saja gw ga bilang-bilang kalo sebelumnya gw sendiri yang telah mengembalikan posisi tulang selangka gw ke tempat semula he he he... Lalu gw dipasang ransel verband (clavicula bandage) dan gendongan penyangga lengan (arm sling). Menurut dokter, alat-alat itu harus gw pakai selama 2 bulan!! Sampai tulang selangka gw tersambung sempurna. Huh!! Menyebalkan.
Arm Sling

Bagai sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Selain mengalami patah tulang, disaat yang bersamaan gw terserang cacar ular (nanti gw akan cerita tentang penyakit cacar ular dalam postingan tersendiri), yang membuat badan gw demam berhari-hari.

Untuk sementara waktu, gw memutuskan tinggal di rumah Mama, biar ada yang merawat dan merhatiin gw. Menyedihkan memang, disaat lebaran gw justru terbaring lemah dan harus beristirahat total. Mario, bf gw sering mengunjungi, untuk memantau perkembangan kesehatan gw. Bahkan, dia sering menginap juga di rumah, untuk menemani gw. Dan lucunya, even gw dalam keadaan patah tulang, kegiatan hubungan seksual kami tetap berlanjut he he he.... Cuma gw emang lebih berhati-hati bergerak, tidak bisa terlalu heboh. Malah kadang gw cuma berbaring aja dan, Mario yang aktif.

Setelah 2 minggu, gw merasa bosan terbebat dan tersiksa rasa sakit. Gw desprate, karena jangankan untuk beraktvitas, untuk mandi pun ga bisa gw lakukan. Karena itulah, akhirnya gw menyerah dan bersedia waktu gw diajak teman-teman gw untuk berobat secara alternatif ke bengkel tulang di daerah Citapen.

Di sepanjang jalan di dareah Citapen ternyata bertebaran bengkel-bengkel patah tulang. Dan sampailah gw ke tempat praktek Abah K (sesuai rekomendasi kerabat teman gw yang pernah mengalami patah tulang). Menurut pengakuan Abah K, di Citapen dialah orang yang paling ahli menangani patah tulang, memakai ilmu warisan dari leluhurnya. Abah K dengan bangga bilang; profil dan keahlian dirinya pernah diliput dan disiarkan oleh beberapa televisi swasta.

Pengobatannya, ternyata melalui pijatan diiringi jampi-jampi. Semua property dari rumah sakit yang terpasang di tubuh gw, dia lepaskan. Dia mengurut dan memijit tangan dan tubuh gw. Dia menarik dan menghentakkan tangan gw. Kemudian dia menyuruh gw mengangkat tangan kiri gw, dan melakukan gerakan memutar. Ajaibnya gw ga merasa sakit sedikitpun, seolah-olah gw ga pernah mengalami patah tulang. Kemudian Abah K membebat badan gw, mulai dari lengan atas, bahu, dada dan punggung gw dengan perban bebat (elastic bandage). Dia menyuruh gw untuk datang lagi beberapa hari kemudian.
Elastic Bandage
Sesuai saran Abah K, gw pun datang lagi ke tempat prakteknya. Step-step pengobatannya hampir sama seperti waktu gw pertama kali datang. Dan gw ga merasa kesakitan. Yang membuat gw heran, mengapa sewaktu di tempat praktek Abah K, gw merasa semuanya baik-baik saja dan ga ada rasa sakit sedikitpun. Tapi setelah sampe di rumah gw merasakan kesakitan yang luar biasa. Setelah pengobatan yang ke-2 kali, gw memutuskan ga akan pernah balik lagi ke Abah K. Gw memakai kembali semua perlengkapan dari rumah sakit. Hampir 2 bulan gw memakai clavicula bandage dan arm sling, sesuai denagn saran dokter.

Akhirnya gw sembuh dan tulang selangka gw tersambung lagi, tapi sayang sambungannya tidak sempurna. Tulang selangka gw yang bagian kiri kl dipegang terasa sedikit menonjol di bahu gw. Entah apa penyebabnya kenapa tulang selangka gw tidak tersambung secara sempurna. Mungkin gara-gara malpraktek si Abah K, dukun tulang dari Citapen, atau karena gw bandel masih aktif ml sekalipun tulang gw masih belum tersambung sempurna he he he... Tapi gpp lah, bagaimana pun juga gw bersyukur sudah bisa sembuh kembali.

Setelah accident menjelang lebaran itu, sekalipun tulang gw sudah sembuh, tangan kiri gw jadi ga bisa mengankat beban yang terlalu berat.Yang tentu saja membuat gw ga bisa melanjutkan kegiatan fitness gw. Gw takut, kalo dipaksakan tar malah bisa mencelakakan gw. Ah sudahlah, ga ada yang perlu disesali. Gw yakin setiap kejadian pasti ada hikmahnya.

Conclusions:
Tuhan tidak pernah menjanjikan hari akan selalu panas, Tuhan juga tidak pernah menjanjikan hari akan selalu hujan. Tapi Dia berjanji akan memberi kekuatan, bila topan pencobaan melandamu.

Jumat, 20 Agustus 2010

Ivan

Ivan adalah seorang anak yang istimewa, dia hadir membawa keceriaan di dalam keluarga kecil yang sedang mengalami carut marut kemiskinan. Dia terlahir dari rahim seorang ibu yang sedang kurang sehat badannya, hingga sepanjang hidupnya Ivan ga pernah merasakan nikmatnya air susu dari ibu yang melahirkannya. Ivan terpaksa lahir sebelum waktunya karena ibunya terjatuh sewaktu mengandungnya dan mengalami pendarahan. Tapi untunglah nyawa ibu dan anak ini tertolong.

Ivan tumbuh tidak seperti balita pada umumnya. Dia sering sakit-sakitan, mungkin karena tidak mendapatkan ASI dan asupan gizinya yang kurang memadai.
Namun demikian Ivan tetaplah anak yang manis, tiap orang yang melihatnya pasti jatuh hati, ingin menggendong dan mencium pipinya.

Ibunya sangat menyayangi Ivan, karena sebelumnya ia telah kehilangan 2 puteri kembarnya yang meninggal karena sakit. Waktu itu anaknya hanya tinggal si sulung Max dan Ivan.

Kedekatan sang bunda dengan Ivan begitu dalam, Ibunya sangat menyayangi dia walau dalam keterbatasan ekonomi. Perhatian ibunya sepenuhnya tercurah buat anak kesayangannya, Ivan. Hanya sesekali Ivan ditinggal dan diasuh oleh tantenya, itu pun kalo keadaan sangat memaksa.

Suatu hari ivan menangis sangat keras, tidak seperti biasanya dia rewel dan susah dihentikan tangisnya. Berbagai cara telah dilakukan oleh ibunya, namun tak jua membuatnya berhenti menangis. Setelah hampir satu jam Ivan rewel akhirnya dia tertidur pulas, mungkin karena kecapean. Tak lama kemudian dia terbangun lagi karena buang air besar. Diiringi tangis, namun kini tangisnya tidak sekeras sebelumnya. Ketika ibunya mencebok dan mempersihkan pantatnya di kamar mandi, Ivan terdiam dan tubuhnya melunglai. Ivan meregang nyawa dalam pelukan bunda tersayang. Di umurnya yang baru 1 tahun 7 bulan Ivan meninggalkan orang-orang yang sangat menyayanginya. Jerit histeris dan tangisan pilu membahana di rumah keluarga kecil itu.

Akhirnya Ivan pun dimakamkan, berderet dengan makam kakak perempuan kembarnya. Sebelum dimakamkan, nenek tiri Ivan melakukan ritual memberi satu tanda noktah hitam di jasad Ivan.

Sepeninggal Ivan, sang ibu menjadi pemurung. Dia dilanda kesedihan yang berkepanjangan. Berbulan-bulan sang ibu menangisi kepergian putera kesayangannya. Sang ibu seperti kehilangan sebagian nyawa hidupnya, semangat hidupnya seperti terenggut oleh kematian putera kecilnya itu.

Beberapa tahun kemudian dia melahirkan anak perempuan, disusul 4 tahun kemudian lahirlah seorang anak laki-laki, yang diberi nama Farrel, itulah gw. Menurut mama, papa dan keluarga lainnya wajah gw mirip banget dengan Ivan. Hanya satu yang membedakannya, di tubuh gw ada anda lahir yang letaknya sama persis dengan noktah hitam yang yang dibubuhkan di jasad Ivan sebelum dia dimakamkan. Rupanya inilah maksud dari ritual nenek tiri gw itu, dia seperti memanggil kembali Ivan, yang menjelma di tubuh gw. Entahlah percaya atau tidak, tapi ini benar-benar terjadi dan gw mengalaminya sendiri.

Kelahiran gw, berangsur-angsur menyembuhkan luka mama atas meninggalkan Ivan. Luka bathin mama seperti terobati mendapatkan bayi yang wajahnya mirip dengan putera kesayangannya. Tak heran dari dulu sampai sekarang, mama memberikan perhatian lebih kepada gw. Gw jadi anak kesayangannya. Mungkin karena gw dan Ivan memiliki banyak kesamaan. Mama dan papa sering menceritakan kisah tentang Ivan kepada gw, tak heran gw merasa mempunyai kedekatan secara roh dengan Ivan.

Bulan Januari 1999, gw ikut tour ke Bali. Waktu di Tanah Lot, seorang perempuan setengah baya menghampiri gw. Perempuan chinese itu masih satu rombongan dengan gw. Setelah ngobrol ngalor ngidul, barulah gw tau ternyata dia adalah seorang Kwa Mia, ahli ramal tradisional china (sejenis paranormal). Paranormal itu, sebut saja namanya Tante Lisa. Lalu dia bicara dengan spontan.
“Kamu bukan anak ibu dan bapak kamu.” kata Tante Lisa.
”Maksud Tante?” Tanya gw penasaran.
”Secara fisik, kamu memang darah daging mereka, tapi kamu bukan anak mereka.” sahutnya.
Gw hanya bengong, ga ngerti apa yang dia bicarakan.
“Kamu berasal dari roh yang dipaksa untuk terlahir kembali untuk menggantikan kakak kamu. Dan tanda lahir itu buktinya.” Lanjutnya, sambil menunjuk tanda lahir gw.
Gw takjub, dan sulit mengeluarkan kata-kata. Dia mengetahui sejarah hidup gw, padahal gw ga pernah bercerita tentang hal ini sama orang lain. Apalagi sama Tante Lisa yang baru gw kenal dalam rombongan tour ini.
“Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja kok.” Sahut Tante Lisa.
“Terus apa yag harus saya lakukan, tante?” Tanya gw, meminta saran.
“Jalani saja hidup, sesuai panggilan jiwa kamu...” Jawab Tante Lisa sambil tersenyum menyimpan misteri.
“Farrel, Tante melihat kamu punya gift, semacam anugerah untuk melihat kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa depan.” Sambung Tante Lisa.
“Hmmmhh maksudnya bisa meramal, Tante?” tanya gw.
“Iya, kamu sering punya firasat tentang sesuatu yang akan terjadi kan? itulah bakat kamu. tapi kemampuan itu harus diasah, agar menemukan ketajamannya.” Tante Lisa menjelaskan.
“Kalo mau tau lebih banyak datang saja ke tempat tante.” Kemudian Tante Lisa memberikan selembar kartu nama.
Kartu nama itu masih gw, simpan. Tapi sampai sekarang gw ga pernah menemui Tante Lisa. Gw sendiri merasa takut, karena menurut agama yang gw anut: ramal adalah dosa besar, bahkan dosa itu mengikat sampai keturunan ke tujuh.

Meskipun gw ga peduli, namun gift meramal itu ga hilang begitu saja dari diri gw. Gw berkali-kali meramal teman-teman gw tentang yang bakal terjadi di hidupnya, dan semuanya tepat! Seringkali gw jg kaget dengan apa yang telah gw lakukan.

Suatu kali gw berkenalan dengan seorang perempuan, sebut saja namanya Merry. di mobil kami ngobrol basa-basi. Sampai ke titik dia bercerita tentang keluarganya.
“Sekarang gw hanya tinggal sama Mami dan Papi, kakak gw yang paling gede udah nikah dan tinggal di Jakarta....”
“Robert?” gw memotong pembicaraan Merry. Wajah Merry memancarkan keheranan.
“Tau dari mana kakak paling gede gw namanya Robert?” tanyanya.
“Ga ngerti, gw iseng aja asal sebut he he he...” Kata gw sambil tersenyum.
“Ah loe bohong, pasti loe bisa baca pikiran gw. kita kan baru kenal?” Merry penasaran.
“Hmmhhmm... coba siapa nama kakak gw yang kedua?” Merry bertanya.
“Siapa ya?... Huruf awalnya ‘J’....” jawab gw. Mata Merry terbelalak.
“Truuuusss...?" Merry minta gw melanjutkan kaliamat gw yang menggantung.
“Huruf akhirnya ‘Y’.” Lanjut gw.
“Ayo dong lanjutin, jawab yang komplit.” Merry makin excited.
“Jeffry!!!” jawab gw mantap.
“Gila!!! Kok tepat banget sih?” Merry terhenyak.

Gw sendiri sering merasa takjub dengan apa yang telah gw ucapkan, semuanya bener-bener diluar kendali otak gw. Namun satu hal yang pasti, gw ga bisa dipaksakan untuk meramal, semuanya harus terjadi begitu saja (semacam menunggu ilham yang melintas). Mungkin karena gw tidak serius melatih ketajamannya. Jadi semuanya harus terjadi secara natural.

Gw pernah mencoba belajar sendiri seni meramal dengan kartu tarot. Gw sengaja membeli buku-buku tarot sebagai referensi, dan tentu saja gw juga memiliki beberapa set kartu tarot. Tapi bagaimanapun juga gw merasa kalo melalui kartu tarot ramalannya masih terasa samar-samar, beda kalo gw meramal dengan berdasarkan ilham yang melintas. Semuanya lebih terang dan jelas. Dulu, kalo mood meramal gw lagi bagus, gw kadang-kadang suka iseng chatting di MIRC, dengan nickname bdg-fortune-teller, untuk meramal binan yang lagi chatting he he he...

Gw seringkali bisa ngeramalin nasib orang lain, tapi anehnya gw ga bisa membaca nasib gw sendiri. Gw ga bisa tau apa yang akan terjadi di kehidupan gw, huh menyebalkan he he he... Tapi gw malah menikmatinya, karena setiap hari adalah misteri buat gw.

Sampai saat ini gw masih ga ngerti adanya keterkaitan antara gw, Ivan dan bakat meramal gw. Tapi yang terpenting, gw mensyukuri kehadiran gw di dunia ini yang pernah menjadi penyembuh luka bathin mama gw tersayang. I love you Mom... I love you Ivan...

Conclusions:
Kita harus belajar mensyukuri keadaan diri kita apa adanya. Karena dengan bersyukur artinya kita telah belajar ikhlas menerima takdir pemberian Yang Maha Kuasa.

Sabtu, 19 Juni 2010

Ketulusan Hati Mama

Jika ada orang yang bertanya, siapakah orang terpenting dalam hidup gw. Gw akan langsung menjawab dengan mantap: Mama!! Mama gw adalah sosok perempuan sederhana, tabah, berhati lembut, tapi tegar. Masalah demi masalah dihadapinya dengan keikhlasan dan keteguhan hati. Di usianya yg sudah beranjak senja, masih tergores sisa-sisa kecantikan masa mudanya.

Mama berasal dari keluarga menengah di kota S di Jawa Barat. Terlahir sebagai anak bungsu dari 9 bersaudara. Di usianya yang belum genap 2 tahun, ibunya (nenek gw) meninggal dunia. Sepeninggal ibunya, Mama dibesarkan oleh bapak bersama ibu tirinya. Dari istri barunya, kakek gw tidak mendapat keturunan, maka tidak heran kalo nenek tiri gw sangat menyayangi mama gw.

Menginjak usia 8 tahun mama diadopsi oleh keluarga Belanda yang tinggal di sebuah rumah di Jl. Menado, Bandung. Pasangan bule Meneeer & Mefrou Hengky sangat menyayangi mama gw. Dari didikan orangtua angkatnya, mama tumbuh menjadi sosok perempuan yang mandiri.
Menginjak usia 14 tahun, kedua orangtua angkat mama, harus meninggalkan Indonesia dan kembali ke negeri leluhurnya. Mama tidak ikut dibawa ke Belanda, karena keluarga dan kerabat tidak mengijinkan mama diboyong ke negeri kincir angin itu.

Akhirnya mama tinggal dengan kakak perempuan tertuanya di Bandung. Mama bertugas mengasuh keponakan-keponakannya, yang jumlahnya banyak sekali (kakaknya mama hampir tiap tahun melahirkan, bahkan ada anaknya yang lahir di tahun yang sama). Usia antara mama dan keponakan yang tertua, hanya terpaut beberapa tahun, maka tak heran sering terjadi konflik dan pertengkaran khas anak-anak. Apapun masalahnya: benar atau salah, berujung dengan mama yang harus mengalah.

Setiap harinya mama melakukan perkerjaan rumah tangga dan merawat keponakan-keponakannya. Hal itu dilakukan selama bertahun-tahun.

Mama menikah dengan seorang pemuda, teman sekelasnya waktu sekolah. Dari pernikahannya lahirlah kakak laki-laki pertama gw, Max. Kemudian disusul kelahiran 2 bayi kembar perempuan, yang sayang umurnya tidak bertahan lama. Berikutnya mama melahirkan seorang anak laki-laki, namanya Ivan, mama sangat menyayangi dia, tapi Ivan pun harus meninggal di usianya yang baru menginjak 1 tahun 7 bulan. Konon wajah Ivan mirip banget dengan gw (nanti akan gw ceritakan secara khusus, kisah kemiripian antara Ivan dan gw).

Keterpurukan ekonomi yang berimbas pada bangkrutnya perusahaan tempat papa bekerja. PHK besar-besaran terjadi, dan papa adalah salah satu korbannya. Keluarga kecil yang awalnya hidup sederhana makin terjepit krisis. Kemiskinan dan masalah keuangan yang tak kunjung usai membuat mama nekad kembali ke kota asalnya S, meninggalkan papa. Mama pergi membawa Max, padahal dia tengah berbadan dua. Papa menyusulnya beberapa bulan kemudian, setelah anak perempuannya lahir.

Mereka pun menetap di kota S, dan tinggal di rumah almarhum orang tuanya, yang sudah dikuasai dan ditempati oleh keluarga kakak perempuan kedua mama, sebut saja namanya Tante Anna.
Setiap harinya mama dan papa bekerja membantu keluarga Tante Anna membuat kue-kue dan makanan lainnya untuk dijual. Banyak sekali jenis kue yang dibuat dari subuh sampai sore. Sore hari bukan berarti pekerjaan itu selesai, karena sore hari sampai larut malam, papa dan mama harus bekerja lagi berjualan martabak di alun-alun kota S. Bertahun-tahun mama bertahan, membanting tulang memeras tenaga.

Sudah tak terhitung lagi seberapa banyak cucuran keringat dan air mata yang tertumpah. Menyedihkan sekali, kerja keras mama dan papa hanya dihargai oleh 2 piring nasi sehari. Jangankan gaji, uang sakupun tak pernah ada. Bener-bener jadi jongos gratisan!! Sampai meninggalpun papah masih menyimpan rasa kecewa dan sakit hati itu. Lain halnya dengan mama gw, dia dengan ikhlas menerima semua itu sebagai jalan hidup yang sudah digariskan Tuhan.

Tante Anna ternyata tidak sekedar licik, tapi juga serakah. Rumah dan tanah warisan peninggalan kakek-nenek gw juga dijualnya tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya. Uangnya dia kuasai, saudara-saudaranya yang lain sekalipun pembagiannya tidak rata tapi masih mendapat bagian. Tapi mama gw tak pernah mendapatkan sepeserpun apa yang seharusnya menjadi haknya, karena sudah di telan bulat-bulat oleh saudara kandungnya sendiri. Tapi sekali lagi mama tetap ikhlas.

Papa dan mama sepakat meninggalkan kota S dan kembali ke rumah, di daerah Bandung Selatan. Selepas dari Kota S, mama mencoba berjualan makanan dan papa bekerja di adik iparnya, Om Budiman. Setiap harinya papa bekerja melelehkan dan mencetak lilin. Ribuan bahkan mungkin jutaan batang lilin telah dia hasilkan. Tapi selama berbulan-bulan itu papa tidak pernah mendapat gaji. Sekali lagi papa diperas tenaganya dan dimanfaatkan orang. Yang lebih menyakitkan adalah karena orang-orang licik itu adalah saudaranya sendiri, yang seharusnya memberi pertolongan.

Sampai suatu hari ketika persediaan beras dirumah habis. Papa menyuruh mama untuk meminjam beras ke rumah adiknya, karena papa tahu kalo adiknya baru saja membeli sekarung beras. Tapi sesampainya mama di rumah Om dan Tante Budiman, bukannya pinjaman beras yang didapat tapi hanya hinaan dan kata-kata yang merendahkan. Mama pulang dengan rasa sesak didada menahan tangis. Sesampai di rumah, mama tak kuasa menahan air matanya menetes. Mulai saat itu papa bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah adiknya lagi.

Akhirnya papa mendapatkan pekerjaan lagi, dan secara berangsur-angsur keadaan ekonomi keluarga membaik. Kemudian lahirlah gw dan beberapa tahun kemudian disusul dengan kelahiran adik perempuan gw. Bertahun-tahun papa bekerja keras dan membuahkan hasil. Keadaan sebaliknya terjadi pada keluarga adik perempuan papa. Om Budiman bangkrut. Rumah dan semua harta bendanya ludes akibat kegemarannya berjudi. Berkali-kali papa memberi modal tapi tak pernah membuahkan hasil. Akhirnya papa dan mama menyuruh keluarga Om Budiman untuk numpang di rumah kami. Keluarga kami yang tadinya beranggotakan 6 orang (2 orangtua dan 4 anak), kini harus berbagi tempat dengan 7 orang lagi (Om dan Tante Budiman berama 5 anaknya). Ruang keluarga kalo malam tiba berubah fungsi jadi tempat tidur mereka. Lebih dari 5 tahun keluarga Om Budiman menumpang di rumah kecil kami. Tapi yang membuat gw geram, Om Budiman sehari-hari kerjanya cuma makan dan tidur (pengangguran seumur hidup, bahkan sampai dia meninggal!!!). Malah dia sering menyebalkan karena suka menyuruh-nyuruh gw untuk membeli rokok, memijit badannya dan pekerjaan lainnya yang seharusnya dia kerjakan sendiri. Privacy keluarga kami makin terasa terganggu, kami sering merasa ga enak hati.

Papa kemudian menyewakan rumah buat keluarga adiknya dan mensupport uang bulanan, hingga anak-anak keluarga Om Budiman punya pekerjaan. Dengan mata dan kepala gw sendiri, gw melihat kemurnian hati mama. Dia masih mau menolong keluarga Budiman yang dulu pernah mendzoliminya. Demikian juga terhadap keluarga Tante Anna, mama tak pernah menyimpan dendam. Gw sampai heran, terbuat dari apakah hati mama? Hatinya terlalu murni, bahkan jika dibandingkan dengan emas sekalipun. Ketulusannya telah teruji oleh sang waktu.

Sekarang sepeninggal papa dan semua anak-anaknya dewasa. Tak ada yang berubah dari mama. Dia tetap menyayangi kami, seperti dia menyayangi kami sewaktu kecil. Dia tidak pernah menuntut apa-apa. Dia tidak pernah meminta, yang ada di kamusnya hanya ada kata ‘memberi’. Memberikan cintanya setulus hati. Bahkan dia tidak pernah menyinggung-nyinggung soal kapan gw akan berumah tangga (saudara kandung gw semuanya sudah menikah).

Gw sangat yakin, sekalipun dia tahu keadaan gw yang sebenarnya, dia masih bisa dan mau menerima gw apa adanya. Tapi gw ga sanggup melihat hati mama terluka. Gw ga mau menorehkan luka di jiwanya... Gw hanya ingin membiarkan masalah ini hilang ditelan zaman dan berlalu ditelan waktu. I love you Mom!!!

Conclusions:

Ketulusan hati mungkin tidak selalu membuahkan penghormatan dari manusia. Tapi percayalah: ketulusan hati dapat memberi ketenangan dan kedamaian buat jiwa kita.