Tampilkan postingan dengan label pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pernikahan. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Februari 2013

Alone But Not Lonely



Tanggal 9 Februari 2013 kemaren, gw diajak teman-teman gw; Gunadi, Yuni, dan Vania untuk melihat perayaan Malam Tahun Baru Imlek di Vihara Satya Budhi/Kelenteng Hiap Tian Kiong yang terletak di Jl. Kelenteng No. 223 A, Bandung. Kelenteng ini merupakan  kelenteng pertama dan terbesar di Kota Bandung, didirikan ada tahun 1896.

Ini pengalaman pertama kali gw masuk ke kelenteng. Kalo ke Vihara sih pernah. Gw pernah berkunjung ke Vihara Vipasanna Graha didaerah Lembang, yang  arsitekturnya mirip dengan bangunan khas Thailand. O ya di masa orde baru semua kelenteng diharuskan berganti nama jadi Vihara, padahal jelas-jelas itu keduanya adalah tempat ibadah buat agama yang berbeda. Vihara untuk umat Budha, sementara Kelenteng tempat ibadah umat Kong Hu Chu. Kalo mau lebih jelas perbedaannya bisa baca disini.

Bangunan kelenteng Hiap Tian Kiong terbagi menjadi beberapa ruangan. Di setiap ruangan terdapat altar tempat disimpannya patung-parung para dewa. Ada juga tempat khusus diletakannya lilin-lilin merah yang tingginya sekitar 2 meter. Di setiap ruangan terlihat banyak orang sedang melakukan ritual sembahyang. Gw merasakan aura mistis, selain karena banyaknya patung-patung yang dipuja-puja, ruangan-ruangan itupun dipenuhi asap dupa yang menyesakkan.
Gw dan teman-teman tidak berlama-lama di Kelenteng itu, karena bermaksud melanjutkan safari Malam Tahun Baru Imlek itu ke Vihara Dharma Ramsi, yang terletak di Jl. Luna, Bandung.

Di perjalanan sewaktu Gunadi  menyetir, dia menerima telepon dari temannya, Teja (dia teman gw main badminton juga). Teja mengundang kami untuk mampir ke rumahnya. Kami pun mampir sebentar ke rumahnya. Di sana kami diperkenalkan kepada isterinya Teja yang bernama Cindy, dan ibu mertuanya. Di rumah Teja kami disuguhi aneka makanan, termasuk kue onde-onde tanpa isi (salah satu makanan khas Tahun Baru Imlek).

Ternyata mertua Teja adalah ahli Kwa Mia (cenayang versi budaya China). Tapi kok feeling gw ga yakin ya dengan kemampuannya? he he he... coz pertama ketemu aja udah salah nebak. Dia ngomong: “kalian yang berpacaran teh ya?” sambil menunjuk ke ara gw dan Yuni. Padahal jelas-jelas di situ ada Gunadi yang merupakan pacarnya Yuni he he he... Kesan pertama aja udah salah nebak, mana bisa gw percaya? wkwkwk....

Cindy adalah seorang perempuan berbody jumbo wkwkwk... maksudnya super bongsor alias genduuuut he he he... Dia perempuan berumur 30 tahun yang bersifat sangat supel dan ceria, hingga kami mudah akrab dengannya.  Dia bercerita kalo keahlian ibunya meramal diwariskan dari leluhurnya secara turun-temurun. Dia juga dengan bangganya bilang kalo kelak dia yang akan meneruskan keahlian ibunya itu. Tak lupa dibumbui dengan membanggakan kalo klien ibunya itu banyak orang-orang terkenal, mulai dari artis sampai menteri (sambil menyebutkan beberapa nama orang-orang terkenal yang pernah jadi kliennya itu). Gw jadi otomatis menilai kalo orang ini kayanya ga bisa jaga privacy kliennya dech. Makanya gw ga tertarik untuk berurusan dengan keluarga paranormal bocor ini. Kalo Vania sih keliatan tertarik tapi masih keliatan gengsi.

Setelah dari rumah Teja kami melanjutkan perjalanan ke Vihara Dharma Ramsi. Ternyata di Kelenteng itu suasananya jauh lebih ramai. Disana gw sempet motret beberapa bagian dari Kelenteng itu dengan menggunakan kamera HP. Beda dengan di Vihara Satya Budhi/Kelenteng Hiap Tian Kiong yang dilarang memotret. Di Vihara Dharma Ramsi, pengunjung diperbolehkan mengabadikan gambar dengan kamera. Jadi ga mengherankan kalo disana banyak fotografer berseliweran dengan kamera SLR-nya.

Gambar diambil dari homotography.blogspot.com

Malam Valentine’s day, Gunadi dan Yuni ngajakin gw untuk berkaraoke di salah satu mall di Bandung. Mereka menjemput gw, lalu di perjalanan Gunadi dan Yuni bilang kalo mereka juga mau jemput Teja dan Cindy untuk diajak karaoke. Buat gw sih ga masalah, coz lebih banyakan yang ikut akan lebih seru. Jadilah malam itu kami karaoke berlima: gw, Gunadi, Yuni, Teja, dan Cindy.

Sepanjang perjalanan pergi maupun pulang, Cindy ngoceh terus. Dia bilang kalo gw itu cocok sama Vania dan bla bla bla... padahal gw udah bilang dengan cukup jelas dan lugas kalo Vania itu bukan type gw. Mulutnya yang nyinyir ngomong, gw mau nunggu apa lagi? umur sudah lebih dari cukup tapi masih sendiri aja dan lain sebagainya. Gw hanya senyum-senyum aja coz nganggap itu hanya sebagai candaan aja. Tapi anehnya makin lama Cindy bukannya berhenti ngomong, tapi malah makin gencar menyerang gw dengan mempromosikan Vania itu gini gitu gini gitu... Sotoy bener ni orang, baru juga kenal udah ngomong soal bibit bebet bobot, tau gw jg kagak!!! Gw sudah hadapin dia mulai dengan ngomong halus, sampai nada bicara gw sedikit meninggi tapi dia tetap nyerocos terus seperti petasan banting. Dia makin semangat mengolok-olok gw,  karena teman-teman gw pada ketawa-ketawa. Dia seakan-akan ga ada ada energi tambahan untuk melecehkan gw dengan modus menjodohkan gw dan Vania. Akhirnya gw diemin aja. Gw malam itu pulang dengan sedikit kesal.

Jumat malam, tanggal 22 Februari 2013, sepulang dari badminton gw, Gunadi, Yuni, dan Axel mengisi perut di kedai Nasi Kuning di daerah Pasirkoja. Kami hampir selesai makan waktu ada sebuah sepeda motor parkir di dekat tempat duduk kami. Eh ternyata penumpangnya adalah pasangan suami isteri Teja dan Cindy. Jadilah mereka gabung ke meja kami.
Dan lagi-lagi si gembrot bermulut nyinyir mulai menggoda-goda gw, dengan sok menjodoh-jodohkan gw dan Vania.

"Nyari yang kaya gimana lagi sih loe?” “kata Cindy.
“Ya, nyari yang cocoklah sama selera gw.” jawab gw.
“Padahal dia pendidikannya bagus, dari keluarga baik-baik, karier bagus, punya rumah dan mobil...” sambungnya.
“Itu saja ga cukup, kan kudu ada chemistry dan rasa cinta...” sahut gw.
"Ah cinta mah bisa tumbuh nanti juga!!” kata Cindy
“Tapi gw maunya cintanya bukan nanti, tapi harus sekarang sebagai landasan pernikahan.” Kata gw, jelas.
“Emang apa alasannya loe ga suka sama si Vania?” tanya Cindy.
“Tidak cantik, gendut, dan umurnya lebih tua dari gw.” jawab gw asal.
“Soal mau cantik mah kan bisa dipoles, soal gendut bisa diet dan olahraga........”
“Tapi kalo umur lebih tua ga bisa dirubah kan???” gw memotong pembicaraan.
“Sekarang umur berapapun bisa hamil dan melahirkan dengan aman. Jadi ga ada masalah dong?” Cindy berargumen.
“Tapi gw maunya sama yang lebih muda dari gw. paham??” jawab gw lugas.
“Malah makin mesra lho kalo sama-sama cinta di usia senja!!! ha ha ha” kata-kata Cindy tajam menusuk, diakhiri dengan tawanya yang menyebalkan.
“Gw tantang, berani tarohan ga? menurut ramalan gw loe bakal jadi sama si Vania” tantang Cindy.
“Siapa takut?!!! gw yakin banget 1000% bakal menang!!!” jawab gw mantap (ya iyalah gw kan homo, mana bisa ramalan murahan gitu bisa menggoyahkan ke-gay-an gw he he he...).
Ingin rasanya gw menyumpal mulut si Cindy dengan kaos kaki gw, untuk menghentikan bacotnya, tapi gw masih bisa menguasai diri.
“Aalaaah... kalo loe sudah disodorin si Vania dalam keadaan telanjang mah, pasti bakal nafsu juga!!! ha ha ha....“ kata-katanya makin menyebalkan. Dia merasa diatas angin dan jadi pusat perhatian diantara kami. Dia seakan-akan tidak ada puas-puasnya mengolok-olok gw. Sementara teman-teman gw yang lain kebanyakan hanya diam dan sesekali tertawa.
“Gw ga akan horny liat cewek gembrot telanjang!!! Mana bisa gw nafsu kalo liat bentuknya aja kaya babi panggang ngangkang!!!" Gw sudah tidak bisa menahan emosi lagi. Sebenarnya Vania tidak terlalu gendut, dan kalimat itu aslinya ditujukan buat si gembrot Cindy. Mendengar kata-kata gw itu, dia tertegun. Mungkin dia shock dan tersindir. Teman-teman yang lain pun jadi terdiam...

Gw sudah males meladeni bacot si gembrot. Gw sangat tersinggung, karena status gw yang tidak menikah dijadikan bahan olok-olokan dan tertawaan. Apa haknya dia mencampuri urusan pribadi gw?? Baru juga kenal, sudah berani macam-macam.

Keesokan siangnya ada pesan masuk via whatsapp, ternyata dari Cindy (semua asli tanpa editan, kecuali memperjelas kata-kata yang disingkat).

Cindy:
“Farrel, jangan marah ya soal semalam. Gw kan cuma becanda doang soal jodoh-jodohan loe sama si Vania.”

Farrel:
“Mau ga marah gimana? Gw udah dijadikan bahan olok-olokan  kaya gitu sama loe. Buat loe lucu, buat gw najis.

Loe juga ga suka kan kalo kekurangan diri loe dijadiin becandaan sama orang lain? Kalo gw omongin sama si Vania tentang kejadian kemaren malam, gw yakin dia juga bakal tersinggung.”


Cindy:
“Gw juga begitu karena gw ikut-ikutan si Yuni aja, tar gw bilangin si Yuni juga dech supaya jangan main gitu-gituan”.

Farrel:
 “Ga juga, si Yuni ga pernah kaya gitu. Dia ngomong 1 kata, loe nyerocos ratusan kata.”


Cindy:
“Yee, gw dibalakin dia beberapa hari yang lalu bahas si Vania, tapi gw bermaksud serius dia sama loe. Kayanya dia juga ga suka sama loe tuh.”

Farrel:
 “Kalo orang sudah bilang ga suka, ya sudah tutup mulut. Gw jg ga ngerasa ke-geer-an. Mau suka atau kagak, ga ngaruh buat gw mah."

Cindy:
“Si Vania juga gitu kali...”

Farrel:
 “Iya, the point is: Jangan turut campur!!”

Cindy:
 “Yee, kemaren kan becandaan aja... kok nyolot sih?!!”

Farrel:
 “Gw ga suka cara becandaan loe. Makanya gw nyolot!!”

Cindy:
 “Baru dech gw punya temen yang seperti loe, loe jahat omongannya sama orang lain, tapi loe ga mau dibecandain. Pantesan aja temen loe terbatas. Dan begini dech ternyata, Sorry ya gw delete loe, karena gw juga ga suka sama loe!!!” Jadi sampai kapan pun loe mah bakalan sendiri!!!

Farrel:
 “Sudah salah ga nyadar-nyadar juga!!! Dasar Gembrot!!!”

Dan gw langsung memblokir dia dari Whatsapp.

Mungkin dia merasa ga puas, dia yang bilang mau ngehapus pertemanan, tapi keduluan diblock sama gw. Lalu dia kirim sms.

Cindy:
 “Loe jaga dech hidup loe!!! Jangan bisanya cuma berani di whatsapp. Datang kesini!!! Mau main pengacara?

Farrel:
“MALES!!!”

Cindy:
 “Makanya jadi laki jaga tuh!!! Jangan begitu, pantesan aja loe ga kawin-kawin dan temenan loe terbatas, jahatin orang pake mulut loe jago. Tapi ga tau becandaan!!! Aneh Loe.”

Farrel:
“Sia teu ngarasa aneh???  Tau loe apa yang  pernah si Teja bilang sama si Yuni?? Tanya aja sama si Yuni, gw mah cukup tau aja.

Udah ya, gw ga mau balas sms loe lagi.”

*Catatan 1: Sia teu ngarasa aneh = Loe ga ngerasa aneh??? ‘sia’ = kamu (B. Sunda kasar).
*Catatan 2: Teja pernah curhat sama Yuni, kalo dia sering masturbasi gara-gara kurang nafsu sama isterinya dan mau cari selingkuhan.

Dan setelah sms terakhir itu, Cindy menyerang gw dengan sms terus-menerus tapi gw cuekin. Gw udah males ngadepin orang kurang waras kaya gitu.

Cindy:
 “Loe bilang gw gembrot, gpp. Gw gembrot tapi udah kawin dan punya anak. Gw udah laku. Trus loe??”


Cindy:
 “Ya udah kalo ga suka, datang aja kesini, loe tau kan rumah gw? Atau mau main pengacara??? Tar gw kirim si Pak Priatna ke rumah loe.”

Cindy:
 “Loe siapa? Pake bilang sia segala?? Loe ga sekolah ya???”

Cindy:
 “Introspeksi dirilah!!!! Loe kan lebih tua dari kita semua, tapi sifat loe lebih kekanak-kanakan dari kita semua!!!!"
*Catatan: yang sebenarnya paling tua itu Vania, dia 2,5 tahun lebih tua dari gw.

Cindy:
 “Sorry ya, gw ga  mau punya temen yang ngomong pake sia!!! Kasar dan tidak makan sekolahan!!! Jangan balas sms ini lagi, gw ngeri punya kenalan tapi tidak berpendidikan dan tidak menyenangkan seperti loe!!!"

Hadoh, apa ga kebalik ya kata-kata itu sebenarnya lebih tepat kalo ditujukan buat dirinya sendiri? Kenal aja baru 2 minggu. Ketemunya juga baru 3 kali. Tau apa dia soal teman-teman gw?? pake bilang gw cuma punya teman dengan pergaulan terbatas. Tau apa dia soal pendidikan gw??? halloooo.... dan gw berani diadu kepintaran sama otaknya yang penuh lemak itu wkwkwk... Soal gw disumpahin ga bakal kawin-kawin? Kagak usah disumpahin juga gw mah emang ga akan kawin-kawin sama cewek. Puas??? wkwkwkwk....
Main pengacara?? Kagak perlulah, gw cukup punya nyali buat ngadepin seorang diri orang yang kaya gini mah!!!

Tapi gw tetap konsisten dengan omongan gw, kalo gw ga akan balas sms dia lagi. males ya menghadapi orang stress kaya gitu.  Biarkan anjing buduk menggonggong, selebritis tetap melenggang ha ha ha....

O ya, selagi gw menghadapi teror sms itu, gw juga sambil whatsapp-an jg sama Yuni. Yuni  mengirimkan foto-foto semua percakapan BBM dia dengan si Cindy. Disitu terlihat jelas si Cindy memang biang kerok. Sama Yuni menjelek-jelekkan gw dan Vania. Sementara sama gw, dia memfitnah Yuni yang ngomporin dia buat ngolok-ngolok gw.

Ngerasa ga akan enak hubungan pertemanan gw dengan Teja. Gw mengirim sms kepada Teja.

Farrel:
“Sorry ya, gw jadi ribut sama isteri loe gara-gara masalah kemaren malam. Dia sms terus-terusan menghina-hina gw. Tapi gw cuekin. Orangnya keras kepala ya. Emosi gw jadi terpancing. Sekali lagi sorry ya, kalo masalah ini bikin ga nyaman hubungan pertemanan kita. Gw yakin loe bisa lebih bijak melihat masalah ini.”

Teja:
“Istri gw emang sableng. Maklum ga punya bapak. Ga usah diladenin.”

Farrel:
“Ok thank’s ya.”

Teja:
“Tapi ga usah dibilangin, omongan gw ini sama Yuni, tar bisa diterusin sama isteri gw.”

Farrel:
“Siiiip...”

Wah, gw baru tau.  Ternyata si Teja termasuk golongan suami-suami takut isteri alias susis he he he...

Sore harinya sekitar pukul 16.00 WIB ada telepon masuk dari nomornya Teja. Waktu gw angkat, terdengar suara histeris di hp gw. Teriak-teriak tapi suaranya sedikit kurang jelas. Mungkin hp nya sengaja diloudspeaker. Tapi gw hafal, itu suara Cindy.

Cindy: “Ngapain loe lapor-lapor sama suami gw? Yang bermasalah kan loe sama gw!!!”

Farrel: “Biar loe diajarin etika sama suami loe!!!”

Cindy: “Kurang ajar!!! Sini loe kalo berani!!!”

Farrel: “Ogah!!! Loe yang bikin masalah. Gw yang kudu kesitu?? Males banget!!! Emang siapa loe???”

Cindy: “Bilang aja loe ga berani!!! Dasar banci loe!!!!”

Farrel: “Kalo gw banci, loe apaan dong??? Karung beras?!!??”

Dan hp pun terdengar dimatikan he he he....

Malam harinya gw, Yuni, Gunadi, Vania, dan Axel ngumpul di salah satu food market. Disana kami membahas tentang kejadian tadi siang. Dan ternyata Yuni sudah dihapus dari teman BBM oleh Cindy, gara-gara dianggap memihak gw (Yuni di-delete contact BBM Cindy dan Teja). Gunadi yang ga ada hubungannya dengan masalah ini pun turut kena delcon weeeksss... Kita-kita jadi penasaran dan nyuruh buka list contact BBM di BB-nyaVania. Dan ternyata dia juga sudah di delcon wkwkwkwk... Ada-ada saja ya.

Gw sengaja ga menghapus history chatting Whatsapp dan sms dari Cindy. Buat jaga-jaga aja, siapa tau kasus ini jadi panjang. Tapi feeling gw sih, dia cuma gertak sambal doang alias omong kosong.

Gw sampai terbawa emosi lho menuliskan kisah ini. Gw dapat hikmahnya dari kejadian ini: yaitu gw harus bisa lebih menguasai diri gw, jangan mudah terpancing.
Kalo bisa hindari berteman dengan orang biang cekcok dan stress kaya gitu lagi. Ya, intinya pilih-pilih teman itu wajib hukumnya he he he...

Conclusion:
Menjadi gay dan memilih untuk hidup sendiri memang harus punya energi ekstra. Karena di luar sana masih banyak orang yang berpikiran picik, dan tidak bisa menghargai pilihan hidup orang lain.

Jumat, 05 Agustus 2011

Justin

Sudah hampir  tiga jam aku duduk sendiri di kantin sekolah, ditemani segelas es teh manis buatan Bu Darmi. Kupandangi butiran embun di bagian luar gelas es teh manisku  yang masih utuh karena belum kureguk sedikitpun. Anak-anak berseragam putih abu  yang sedari tadi ramai berlalu-lalang dan menimbulkan suara hiruk pikuk, kini mulai lengang, karena sudah 3 jam yang lalu bell tanda bubar sekolah menjerit-jerit memekakan  telinga. Sesekali masih terlihat pengurus OSIS melintas di luar sana. Mereka tengah sibuk mempersiapkan acara pentas musik di sekolahku.
            
           Pikiranku menerawang jauh ke masa laluku. Empat tahun yang lalu. Ya, empat tahun yang lalu. Masih segar tergambar di mataku.  Masih terekam jelas di memory otakku. Hari itu adalah hari terakhir aku merasakan kebahagiaan. Karena  hari itu keceriaanku seakan direnggut paksa oleh kepergian Papaku.

Kalau kematian yang memisahkan kami, mungkin aku masih bisa terima, dan perasaanku tidak akan tercabik-cabik seperti ini. Yang membuatku geram adalah karena Papa pergi meninggalkan aku dan Mamaku demi seorang perempuan muda yang bernama Tante Miranda. Aku kesal, benci, jijik terhadap mantan sekretaris Papaku itu, karena ia telah merampas kebahagiaan keluarga kami. Terlebih aku benci pada Papaku yang tidak becus mempertahankan kesetiaan cintanya pada Mamaku.
           
           Sebagai anak tunggal, aku terbiasa mendapat curahan perhatian dan kasih sayang yang penuh dari kedua orangtuaku. Dan sejak saat itu aku harus mulai membiasakan diri hidup seadanya berdua dengan Mamaku yang terpaksa menjadi single parent. Waktu itu aku masih duduk di kelas dua SMP. Saat itu aku masih memerlukan perhatian, kasih sayang, dan  biaya yang tidak sedikit untuk mengongkosi sekolahku. Tapi apa mau dikata, Papaku kabur dari tanggung jawab demi mengejar kesenangannya sendiri. Dasar egois!!!
            
          Aku tak pernah habis pikir, kenapa semua itu bisa terjadi pada Papaku yang sangat alim dan aktif dalam pelayanan di gereja. Sejak saat itu, perasaan banggaku pada Papa telah berubah menjadi kebencian yang merasuk di hatiku dan menjalar  sampai ke dalam sum-sum terdalam dari tulang-tulangku.
           
       Yang tidak pernah ku mengerti, mengapa Mama hanya berdiam diri saja dicampakkan oleh Papku. Tidak ada sumpah serapah dari mulutnya. Tidak ada gugatan cerai darinya. Apakah karena Mama terlalu cinta sama Papa sehingga ia tidak mau melakukan semua itu ? Mama adalah wanita tersabar dan berhati lembut  yang pernah kulihat. Ia selalu menasehatiku : Jangan takut !, kita masih punya  Tuhan Yesus yang mengashi kita.
“Belum pulang, nak Rio?”
Suara alto Bu Darmi membangunkanku dari lamunan.
“Ya Bu, lagi suntuk nih.”
“Sudah sore lho, hampir jam 5. Nanti ibu nak Rio kuatir karena anaknya nggak pulang-pulang.”
“Mmmhh… Kantinnya mau ditutup ya Bu?”
“Ya sih… tapi nggak apa-apa kalau nak Rio masih betah duduk-duduk di sini.”
Kasihan Bu Darmi yang jadi korban. Gara-gara aku melamun memikirkan masalah-masalahku di kantinnya, ia jadi telat pulang.
Pandangan Bu Darmi beralih kepada es teh manisku yang kini sudah tidak dingin lagi.
“Minumnya mau diganti nak Rio ?”
“Makasih. Nggak usah Bu, saya sudah mau pulang kok.”
                                                                    
                                                                ******

             Walau aku sudah bertengger di punggung sepeda motorku yang melaju kencang, tapi bayangan masa laluku masih terus berkecamuk di otakku.
           
          Kutelusuri jalanan tanpa tujuan yang pasti. Aku berputar-putar dengan sepeda motorku menjelajahi Kota Bandung yang kini mulai diterangi oleh kerlip lampu-lampu kota, karena hari sudah beranjak senja. Aku nggak ngerti… Aku nggak tahu… Akan  kemana aku???  Aku nggak ingin pulang. Aku ingin menjauh dari masalah-masalah yang menjeratku.
           
          Saat kulihat komunitas anak punk yang berkeliaran di sekitar Jl. RE Martadinata lengkap dengan atribut dandanan mereka, aku merasa iri. Mereka bisa bebas mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kemauan mereka dengan cara mereka sendiri. Aku cemburu dengan kebebasan mereka. Tuhan, aku ingin bebas!!!
           
         Tanpa kusadari aku dibawa oleh sepeda motorku menelusuri kelokan-kelokan Jl. Setiabudi . Gila! Mau kemana aku? Mau ke Lembang? Malam-malam begini? Sendirian? Ah… aku sudah tidak peduli lagi. Pokoknya aku harus jauh dari rumah!

"Senyap Dalam Nyenyak"
( foto lama hasil jepretan gw dari balkon rumah )
            
          Jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kiriku bercicit riang. Rupanya sudah jam 8 malam. Kuhampiri sebuah kios, lalu kupesan  jagung bakar dan teh panas untuk sekedar mengganjal perutku yang mulai bernyanyi dengan nada-nada fals tidak beraturan.
            
          Aku teringat masa-masa sulit sepeninggal Papaku. Mama harus berjuang memeras keringat untuk bisa menghidupiku, karena Papa sudah tidak peduli pada  kondisi ekonomi kami yang morat-marit. Mama memang wanita pekerja keras yang tak kenal kata menyerah. Ia membuka warung nasi kecil-kecilan demi menyambung hidup kami berdua. Berkat Kasih Tuhan Yesus dan  kerja keras Mama, akhirnya warung nasi kami kini telah berubah menjadi sebuah rumah makan yang lumayan besar.

Kesuksesan usaha Mama tidak didapat semudah mengedipkan mata ataupun membalikkan telapak tangan. Mama harus ekstra menguras tenaga dan pikiran. Mama harus bangun saat pagi buta dan baru bisa tidur setelah larut malam. Kadang aku melihat Mama meneteskan air mata saat ia sendiri di kamarnya. Bila melihat Mama menangis seperti itu, hatiku terasa perih seperti diiris-iris. Lamunanku buyar dikagetkan oleh bunyi Handphoneku. Oh… rupanya Mama mencariku karena aku nggak pulang-pulang. Sudah lebih dari duabelas kali ia menelponku, tapi tak kuangkat. Kumatikan Handphone-ku. Maaf Ma, aku lagi ingin sendiri. Aku nggak ingin pulang. 

Deru suara knalpot kendaraan yang melintas dan pasangan muda-mudi  yang tertawa ceria menikmati malam minggu mereka di Lembang, sedikitpun tak menggangguku. Hatiku galau. Hatiku gundah. Hatiku tetap sunyi. Aku ingin teriak. Aku ingin berontak.

Papa. Papa. Papa. Itulah yang menjadi sumber kekacauan hidupku. Hukuman seberat apapun yang ia terima, tak akan mampu menghapus amarah yang bergejolak di dadaku. Termasuk ketika mobilnya terperosok ke dalam jurang tiga bulan yang lalu. Tante Miranda mengalami pendarahan di otak dan meninggal dalam perjalanan menuju ke  rumah sakit. Papaku mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya. Trauma hebat pada tulang belakang menyebabkan ia lumpuh. Kejadian itu memang pantas ia terima. Ini karma Pa!!! Emosiku terus bergejolak.
Satu-satunya yang luput dari kecelakaan itu adalah anak Papaku dari Tante Miranda yang baru berumur 3 tahun. Adik tiriku!!?? Hah!!! Aku benci anak itu!!!
            
         Aku tidak menghadiri upacara pemakaman Tante Miranda. Aku juga tidak mau menengok Papaku yang kini duduk di kursi roda. Dan aku tak mau melihat adik tiriku. Tak mau dan tak akan pernah!!!
           
          Hanya Mama yang selalu telaten menjenguk Papaku dan anak laki-lakinya. Mereka  tinggal di rumah kontrakan, ditemani seorang baby sitter. Mama tidak mampu mengubah pendirianku yang tak mau bertemu lagi dengan Papaku sejak empat tahun yang lalu. Mama sering menasehatiku agar aku mau memaafkan Papaku. Aku sudah muak. Luka di bathinku sudah parah bernanah. Aku tidak mau melihat Papaku lagi, karena bagiku Papa sudah mati.
           
Lamunanku sampai ke titik puncaknya pada kejadian tadi pagi sebelum aku berangkat sekolah.
“Rio, nanti sore Papamu pulang.”
Mamaku berkata lembut.
“Papa? Kenapa mesti pulang!?!  ‘Kan Rio sudah bilang sama Mama, kalau Rio tuh sudah tidak mau melihat Papa lagi.”
Jawabku acuh tak acuh.
“Kasihan Papamu nggak ada yang ngurus. Lagian sekarang adikmu juga sudah nggak ada yang ngasuh, karena Papamu sudah nggak mampu membayar baby sitter."
 “Adik?  Adik dari Hongkong?!?”
Sahutku sinis.
“Sekarang keadaan Papamu lagi susah, Rio. Ia sekarang sudah nggak bisa kerja lagi.”
“Giliran susah sama kita! Giliran senang lari sama wanita lain!!!
Aku berkata dengan geram.
“Rio!!! Mama nggak pernah ngajarin kamu kurang ajar!!!" Bentak mamaku. Baru kali ini aku dibentak oleh Mamaku. Dan lagi-lagi penyebabnya adalah Papaku.
“Lagian Mama mau membawa Papa  pulang nggak  kompromi dulu sama Rio!!!”
Nada suaraku makin meninggi.
“Mama sudah lupa bagaimana Papa nelantarin hidup kita? Mama juga  sudah lupa bagimana Papa nyakitin hati kita demi bersenang-senang dengan isteri mudanya?” Lanjutku.
“Kejadian itu sudah berlalu, Rio. Mama sudah lama memaafkan  Papamu.”
Bibir Mama bergetar menahan emosi.
“Pokoknya Rio nggak akan pulang  kalau nanti melihat Papa ada di rumah ini!!!
          
          Aku bergegas pergi sambil meraih tas ranselku. Aku berlari pergi sambil meninggalkan suara berdebum keras dari pintu yang kubanting. Kutancap gas sepeda motorku kuat-kuat. Knalpot sepeda motorku meraung-raung seakan turut memprovokasi kemarahanku. Hanya kepulan asap putih yang tertinggal di pekarangan rumahku. Sementara dari dalam rumah, sayup-sayup kudengar suara Mama yang memanggil-manggil namaku.

         Lama juga aku terpekur di kios jagung bakar itu. Untungnya pedagang jagung bakar itu tidak mengusirku yang duduk terlalu lama di kiosnya. Sudah hampir jam 11 malam. Aku beranjak pergi. Sekarang keadaanku kembali sama dengan 6 jam yang lalu. Mengendarai sepeda motorku tanpa tujuan yang jelas.
           
           Tuhan, mengapa semua ini terjadi? mengapa masalah ini datang di saat kehidupanku mulai tenang? Ah, aku tak habis pikir. Aku protes kepada Tuhan.
            
          Aku melintas di Jl. Merdeka  yang keadaannya sudah sepi. Laju sepeda motorku tertahan oleh lampu merah. Aku melihat beberapa anak jalanan yang masih berkeliaran dengan baju kumalnya. Kasihan mereka harus berjuang sendiri untuk mencari makan. Sementara di pojok trotoar dekat bak sampah, aku melihat seorang bapak berperawakan kurus tidur meringkuk melawan dinginnya malam dengan selembar kertas koran. Kehidupan ini memang kejam, pikirku. Mereka kekurangan didekat tempat orang-orang menghamburkan uang. Mereka kelaparan diantara deretan rumah makan siap saji. Sungguh ironis.
            
          Kuputuskan untuk menginap di tempat kost sahabatku Daniel. Saat kuketuk pintu kamarnya, tanpa menunggu lama ia langsung membukakan pintu. Rupanya ia baru selesai mengerjakan PR Bahasa Inggris.
“Elo dari mana malam-malam begini? Masih pake seragam pula.”
“Abis keluyuran. Gua lagi Bete nih!”
Sahutku asal.
“Butuh tatih tayang…?”
Candanya sambil nyengir kuda.
            
          Aku hanya terdiam dengan roman muka dingin. Daniel buru-buru mengubah sikapnya. Ia menyadari kalau aku  lagi sungguh-sungguh. Daniel memang sahabat yang tahu betul karakterku. Walau aku sudah bersahabat lama dengan Daniel, aku tidak pernah menceritakan masalah keluargaku padanya. Aku selalu menutup rapat-rapat masalah ini.  Karena masalah ini adalah aib bagiku. Cukup lama Daniel mendengarkan ceritaku. Daniel yang sedari tadi tidak banyak bicara dan hanya sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia berkata:
“Gua bisa ngerti kalo elo marah. Gua juga bisa faham kalo elo susah maafin  bokap elo. Tapi yang jadi masalah, elo nggak berhak jadi hakim atas perbuatan bokap elo.”
“What’s mean?”
“Kita nggak berhak menjatuhkan vonis benar atau salah sama orang lain.”
“Termasuk sama bokap gua yang jelas-jelas sudah mengacaukan keluarga gua?”
“Yap! Hanya Tuhan yang berhak menghakimi perbuatan manusia. Karena Tuhan menilai perbuatan manusia tanpa melibatkan emosi, dendam dan sakit hati.”
            
          Aku berpikir, mungkin juga aku telah memvonis Papaku bersalah karena aku dendam padanya, karena ia lebih memperhatikan isteri muda dan anak laki-lakinya dari pada aku dan Mamaku. Aku dendam karena Tante Miranda dan anaknya telah merampas kasih sayang dan perhatian Papaku yang seharusnya menjadi hakku.
“Jadi menurut elo, gua yang salah?”
Tanyaku.
“Dalam hal ini, nggak ada yang sepenuhnya salah, dan nggak ada yang sepenuhnya benar.”
“Maksud elo?”
“Elo ada sisi benarnya tapi juga ada sisi salahnya.”
“Termasuk bokap gua ?”
“Exactly !”
“Lantas,  gua harus gimana?”
“Menerima semua kejadian ini dengan tulus sebagai jalan yang sudah Tuhan rancangkan bagi hidup elo.”
          
          Aku heran kenapa kata-kata Daniel terasa sejuk dan bisa membukakan mata hatiku. Padahal selama ini biasanya  kalau kami bertemu paling-paling cuma bercanda. Ah, aku mengerti. Mungkin inilah yang disebut dengan jalan Tuhan yang sering tak terselami pikiran manusia.
“Menurut elo apa yang harus gua perbuat sama anak Tante Miranda?”
“Adik elo, maksudnya?”
“Unfortunately yes. Ya… adik tiri gua.”
“Adik, ya adik. Jangan diembel-embeli lagi. Karena bagaimanapun juga dia adik elo, walau lain ibu.”
“Jadi?”
“Sayangi dia sepenuh hati, seperti elo nyayangin diri elo sendiri. Karena dalam hal ini adik elo nggak salah, dan dia nggak ngerti apa yang terjadi.”
            
          Aku merasa jadi orang paling egois sedunia.  Aku orang yang aktif pelayanan di gereja, tapi tidak bisa memaafkan Papaku. Bagaimana mungkin aku bisa mengampuni orang lain kalau aku sendiri tidak bisa mengampuni Papaku. Bagaimana mungkin aku bisa mengasihi orang lain kalau aku  nggak bisa mengasihi adikku sendiri, yang jelas-jelas masih sedarah denganku.
“Elo benar, Niel.”
Nafasku tertahan.
“So, sekarang elo mau gimana?”
“Gua mau pulang. Tapi…..”
“Apa lagi?”
“Gua malu…..”
“Ngapain harus malu? Jangan pernah malu untuk memulai sesuatu hal yang baik. Nggak ada kata terlambat untuk berubah.”

                                                                  ******

         Hari masih pagi saat kupijakkan kaki turun dari sepeda motor di pekarangan rumahku. Aroma bau tanah tercium hidungku, pertanda Mama belum lama menyiram tanaman kesayangannya.
“Kak Rio!!!”

          Aku berpaling kearah datangnya suara. Rupanya suara itu datangnya dari mulut seorang anak kecil.  Anak kecil yang bermata bulat, berkulit putih dan berambut ikal  kecoklatan. Aku yakin dia itu Justin adikku. Tapi dari mana ia tahu aku ini kakaknya?   Mungkin Papa atau Mamaku yang bercerita padanya tentang aku, sambil memperlihatkan foto-fotoku.

Aku tidak pernah bertemu dengan Justin tapi aku merasa tidak asing melihatnya. Demikian juga Justin, ia juga sepertinya tidak takut melihat aku, orang yang tidak pernah kenal dengannya. Mungkinkah ini yang dinamakan ikatan bathin persaudaraan kami?

Aku merasa jadi orang paling munafik kalau aku nggak bisa sayang pada anak selucu dia. Aku yakin semua orang yang melihatnya, pasti akan suka padanya.

Kuhampiri dia. Kubelai rambutnya. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Senyuman yang mengandung makna, makna yang tak pernah bisa  kuungkapkan dengan kata-kata. Sesaat mataku nanar oleh suasana haru. Kupeluk dia erat-erat sambil berkata dalam hati: "Justin, maafkan kakak...".

                                                                
                                                                  TAMAT


Catatan: Cerpen ini gw tulis lebih dari 15 tahun yang lalu. Filenya ga sengaja gw temukan ada di komputer yang udah lama jadi penghuni gudang. Komputer itu kemarin dikeluarkan lagi dengan maksud  untuk dicek terlebih dahulu sebelum diberikan buat sodara. Naskahnya sengaja tidak diedit lagi, semuanya masih sama dan apa adanya...

Conclusion:
Berhentilah menyalahkan orang lain dan takdir Tuhan. Cobalah untuk memahami dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Hidup dengan cinta akan jauh lebih bermakna dibandingkan dengan hidup menyimpan amarah dan dendam... 
                     

Sabtu, 02 April 2011

Kembar

Sebenernya gw sudah kenal lama sama Ricky, mungkin lebih dari 3 tahun yang lalu. Tapi kami lebih akrab chatting via YM aja. Ricky seorang pemuda keturunan Chinese berumur 24 tahun. Selama 3 tahun kenal di dunia maya, tapi gw baru sekali ketemuan dengan dia dan.... tidak terjadi apa-apa diantara kami he he he... (pasti dech yang baca udah pada mikir ngerez wkwkwk...). Yupz,  gw dan Ricky cuma ngobrol-ngobrol ngalor ngidul di mess tempat dia kerja, yang waktu itu kebetulan sepi banget coz penghuninya lagi pada mudik. Waktu itu Ricky keliatan ‘pengen’ sih he he he... Tapi gw ga nafsu wkwkwk... secara fisik dia ga jelek sih, mungkin bukan type gw aja kali ya.  Singkat  cerita, jadilah kami teman akrab di dunia maya saja. Gw tau kegiatan dia apa aja, termasuk waktu tahun kemarin dia memutuskan berhenti kerja dan melanjutkan study-nya di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung.

Sebetulnya dia jarang online di YM. Ga kaya gw, yang: Siang malam ku selalu, menatap layar terpaku, untuk online... online... online... online.... (lho kok malah nyanyi? he he he...). Minggu kemaren gw ketemua chat lagi sama dia di YM. Nih, sengaja gw copas petikan obrolannya.

Ricky: Malem ko
Farrel: Malam...
Ricky: Apa kabar ko?
Farrel: Baek. Km?
Ricky: Biasa aja, ko. Koko lagi apa?
Farrel: Lagi ngebalesin e-mail, sambil iseng chatting he he he...
Farrel: Btw, koko kaya pernah liat km di Festival Citylink, Bener kamu bukan ya?
Ricky: Mungkin sih, soalnya aku juga lumayan sering belanja ke Festival Citylink, kan deket kalo dari rumah aku mah.
Ricky: Waktu itu koko liat aku sama siapa?
Farrel: Lagi sama cowok pri. Hayoooo kamu lagi ketemuan ya? ha ha ha...
Ricky: Emang kapan gitu koko liat aku di Festival Citylink-nya?
Farrel: Hari minggu, kalo ga salah 2 minggu yang lalu, waktu ada ‘International Cat Festival’
Ricky: Oh... yang 2 minggu kemaren itu mah, kayanya koko ketemu sama adik aku dech.
Farrel: Swear, yang koko lihat beneran kamu kok!
Ricky: Ssssssttt... yang ketemu sama koko itu adik aku sama temannya ko, kami kembar lho...
Farrel: Wkwkwkwk...bisa aja. masa sih?
Ricky: Ah koko... ga percaya ya? swear, dia kembaran aku ko, namanya Ricko.
Ricky: Aku inget banget, hari itu mah aku nganter mama ke rumah sodara.
Farrel: Hmmmhhh...
Ricky: Kenap ako? bingung ya???
Farrel: Maksudnya yang kemaren ketemu sama koko itu teh bukan kamu?
Ricky: Iya ko, kalo aku sih yang ketemuan sama koko waktu di mess.
Ricky: Kembaran aku mirip aku ya? he he he...
Farrel: Owh... btw, kembaran kamu binan jg?
Ricky: Iya ko, kan kembar identik. Jadi pasti sama lah...
Farrel: Ow ow ow...
Farrel: Trus kamu pernah .... sm dia? Wkwkwkwk...
Ricky: Ga lah ko...
Farrel: Pantesan waktu ketemu di, Festival Citylink kko dan dia saling ketemu pandang tapi dia cuek-cuek aja.
Ricky: Jadi Koko sama Ricko sempet saling pandang ya ko?
Farrel: Iya lah.... Btw, kalian saling terbuka soal orientasi sex kalian sejak kapan?
Ricky: Kayaknya sejak SMA gitu deh,  pas sama-sama tau ga suka cewek.
Farrel: Oic...

Ternyata setelah kenal sekian lama, malam itu gw baru tau kalo Ricky itu punya kembaran namanya Ricko...

Orang-orang kembar, seringkali menarik perhatian kita. Mungkin karena kemiripian dan keunikannya. Waktu SMP gw punya temen kembar, 2 pasang malah. Yang satu pasang cowok Dena dan Deny, trus yang satunya pasangan kembar cewek Ella dan Elly. Gw 2 tahun sekelas sama Ella Nurlaela, tapi gw baru nyadar  kalo dia punya kembaran namanya Elly Nurlaeli, waktu gw dan temen-temen sekelas latihan kabaret di rumahnya Elly... Mereka mirip banget, gw sampe ga bisa ngebedain mereka he he he...

Btw, saudara kandung gw ada yang terlahir kembar juga lho, yaitu kakak-kakak perempuan gw, yang sayangnya tak berumur panjang (mereka meninggal selagi masih bayi).

Lain Ricky dan Ricko, lain pula dengan sahabat gw Daffa. Daffa juga mempunyai kembaran, namanya Daffy. Tapi uniknya even mereka kembar, sifat mereka jauuuuuuhhhh banget!!! yang satu lembut, koleksi boneka, fashionista, terobsesi film-film barbie, dan suka main masak-masakan he he he... sementara yang satunya lagi keras, cuek, laki banget, dan suka berantem. Pokoknya mereka beda banget lah, baik cara berpakaian maupun tingkah laku. Sekarang Daffy sudah punya istri dan seorang anak, sementara Daffa masih pacaran dengan cowok he he he... Ya gitu dech, bukan hanya berbeda secara fisik dan sifat, mereka juga sering ga akur. Yang gw tau mereka sering berantem karena beda pendapat. Gw ga heran sih mereka jadi pasangan kembar yang ga kompak, coz mereka bukan kembar identik.

Di Bandung ada pasangan kembar binan yang cukup terkenal dikalangan PLU lho. Sebut saja nama mereka Nando dan Nandy.  Banyak gosip beredar tentang mereka. Selain dua-duanya ganteng,  mereka juga sangat kompak. Bahkan saking kompaknya, mereka sering bareng-bareng mencari 1 cowok buat dinikmatin bersama... Yupz!! 3sum just for fun.  Menurut gw sih unik banget. Gw jadi inget film bokep G yang pemainnya kembar 3 wuiiiiihhhh...

Beberapa minggu yang lalu gw ketemuan dengan anak Jakarta, yang kebetulan lagi di Bandung. Sebut saja namanya Astra, dia ngebet banget pengen ketemu sama gw.  Katanya sih mumpung dia belom balik ke Jakarta. Gw  menemui Astra di sebuah tempat kost di daerah C. Sebuah kamar kost yang rapi, wangi dan girly banget. Dimana-mana terpampang foto-foto seorang gadis cantik dengan aneka pose mutakhir bak seorang model.

“Ini kostan siapa? Kostan pacar kamu ya?” kata gw sambil celingak-celinguk melihat suasana kamar (Gw nanya gitu coz Astra ngakunya seorang bisex).
“Hmmhhh... bukan kok, ini kostan temen aku.”

Di kostan itu gw dan Astra.... krik... krik... krik... taralala..!!! trilili...!!! cuma ngobrol doang ha ha ha... (pasti pada mikir ngerez lagi kan? jiakakakakak... Ga ada yang terjadi selain ngobrol dan ngemil bareng. Astra yang di foto sama aslinya beda banget!!! Sebenernya garis-garis cakepnya masih ada sih, tapi pipinya banyak jerawat dan lubang-lubang bekas jerawat. Itu yang bikin gw ilfeel he he he... Ga tau kenapa, gw cuma suka sama brondonk berpipi mulus dan licin, coz nyaman buat dicium dan dielus-elus he he he...

Seteleh ngobrol ngalor ngidul, sampailah gw dan Astra pada satu obrolan...

“Orang tua kakak, tau ga kalo kakak itu gay?” tanya Astra.
“Ga lah! sebenernya buat aku sih ga terlalu masalah kalo keluarga aku tau, aku itu gay. Tapi buat apa? Aku takut  kalo keterusterangan aku itu akan membuat mereka kecewa dan terluka.” jawab gw.
“Oh... emang kakak berapa bersodara gitu? Trus yang laen udah pada nikah?” tanya Astra menelisik.
“Empat. 2 kakak, 1 adik. Semuanya udah pada Married, kecuali aku.” Jawab gw, menjelaskan.
“Kalo kamu?” gw balik nanya sama Astra.
“Dua bersodara, kak. Aku punya 1 kakak perempuan, namanya Astri. Dan kamar ini tempat kost-nya kakak aku.” sahut Astra.
“O ya? trus orang tua kamu tau kalo kamu itu gay?” tanya gw lagi.
“Aku bener-bener takut kalo orang tua aku tau, kak. Mereka pasti kecewa banget. Punya dua anak, dan dua-duanya ‘belok’....” kata Astra dengan nada suara lebih rendah, sambil menghela nafas.
“Hmmmmh maksudnya?  Kakak kamuitu lesbi...?” tanya gw penasaran, dan dengan nada bicara berhati-hati.
“Iya... Dia lesbi. Sebenernya Aku dan Astri kembar, kak....”
“Wow amazing!!” gw takjub.
“Mungkin roh aku dan Astri ketuker kali ya, kak? Astri meskipun tampilannya cantik dan  cewek banget, tapi dia orangnya pemberani dan nekat. Dulu di sekolah, malah aku yang sering dilindungi Astri dari gangguan temen-temen aku yang nakal... Astri-lah yang selalu berantem buat aku...” Sahut Astra sambil cengengesan.

Wah-wah... Dalam dua minggu, dii bulan maret 2011, gw mengetahui dua teman lagi dengan keunikan mereka sebagai pasangan kembar pencinta sejenis. What a wonderful world!?!...

Conclusions:
Gay yang terlahir sebagai kembar, mungkin punya keuntungan tersendiri. Coz bisa saling berbagi cerita, saling mendukung dan saling menguatkan tanpa malu dan takut,  karena mereka sehati, sepikir dan sejiwa...